Saturday, January 7, 2012

Nasihat Bijak seorang IBU

| Saturday, January 7, 2012 | 0 comments

Pada suatu masa, putra dari Raja Brahmadatta memerintah dengan bijaksana di Benares, India bagian utara. Sebelumnya raja dari Kosala mengadakan peperangan, membunuh raja Benares, dan menjadikan permaisuri sebagai istrinya.

Sementara itu, putra dari permaisuri melarikan diri dengan diam-diam melalui terowongan bawah tanah. Di daerah pinggiran ia bahkan membangun pasukan tentara yang besar dan mengepung kota. Ia mengirimkan pesan kepada Raja Kosala, sang pembunuh ayahnya dan suami baru ibunya. Ia mengatakan padanya agar menyerahkan kerajaan itu atau berperang di medan pertempuran. 

Ibu pangeran, permaisuri dari Benares, mendengar ancaman ini dari anaknya. Ia merupakan orang yang baik dan murah hati, seorang wanita yang selalu mencegah terjadinya kekerasan, penderitaan, dan pembunuhan. Jadi ia mengirimkan sebuah pesan bagi anaknya "Tidak perlu mengambil resiko dalam pertempuran. Lebih bijak bila kamu menutup seluruh pintu masuk ke dalam kota. Pada akhirnya kekurangan makanan, air , kayu bakar akan menjatuhkan mental penduduk. Kemudian mereka akan menyerahkan kota ini padamu tanpa bertempur".

Pangeran memutuskan untuk mengikuti nasihat ibunya yang bijak. Bala tentaranya memblokir kota selama tujuh hari tujuh malam. Lalu penduduk kota menangkap raja mereka yang lalim, memenggal kepalanya, dan mempersembahkannya kepada sang pangeran. Pangeran memasuki kota dengan kemenangan besar dan menjadi raja baru Benares

Readmore..

Maccha Jataka

| | 1 comments

Kisah ini diceritakan oleh Bhagava ketika berdiam di Jetavana mengenai seorang bhikkhu yang tergoda oleh mantan istrinya.

Dalam kesempatan itu Bhagava berkata, "Bhikkhu apakah benar seperti yan telah telah tergoda oleh keinginan duniawi?".
"benar Bhante".
"oleh siapa?"

"Bhante, mantan istri saya terasa halus untuk disentuh, saya tidak dapat melupakannya!". kemudian Bhagava berkata, "Bhikkhu, wanita itu pernah menimbulkan penderitaan bagi anda. karena dialah anda mendapatkan kesulitan di masa lampau dan pada saat itu saya menyelamatkan anda". setelah berkata demikian Beliau menceritakan kisah di masa yang lampau. 

pada suatu saat ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir ebagai pendeta pribadi keluarga raja. Pada suatu hari beberapa orang nelayan sedang menebarkan jala mereka di sungai. Pada waktu itu seekor ikan besar sedang hilir mudik bemesraan dengan istrinya. Ikan betina itu mencium bau bahaya adanya jala yang sedang ditebarkan itu, kemudian dia melingkar dan melepaskan diri. Tetapi suaminya yang buta karena dikuasai nafsu berenang masuk kedalam lubang jaring. Para nelayan mengangkat ikan itu yang berada dalam jala mereka. mereka menarik jala dan melemparkan ikan itu keluar. mereka tidak langsung membunuhnya tetapi terlebih dahulu melemparkannya ke atas tanah. "kita akan memasaknya di atas bara api untuk santapan kita", kata mereka. selanjutnya mereka segara bekerja menyiapkan api dan meraut sebatang kyu untuk memanggang ikan itu. ikan itu meratapi dirinya dan berseru,"bukan karena bara api yang menakutkan atau tongkat yang menyakitkanatau pula penderitaan lainnya yang menyakitkan saya. Tetapi karena pikiran yang tertekn akan istri saya yang menjadikan saya tidak bahagia, ia pasti yakin bahwa saya telah bersama dengan wanita lain". Ikan itu mengulangi syair berikut: "Bukan dingin, panas, atau jala yang menyakitkan. Tetapi akan ketakutan akan istri saya tersayang yang akan berpikir, wanita kesayangan yang lain telah melarikan suamiku pergi.

Kemudan seorang pendeta menghampiri tepi sungai bersama dengan pelayannya untuk mandi. Pada saat itu ia telah mengerti bahasa kaun binatang. Selanjutnya, ia mendengar ratapan ikan itu, ia berpikir, "Ikan ini meratap karena dikuasai nafsu. bila ia mati dalam keadaan yang tidak baik, maka ia tidak dapat melepaskan diri dari kelahiran di alam niraya (neraka). Saya akan menyelamatkanya. "maka pendeta itu mendtangi para nelayan dan berkata, saudara nelayan, bukankah anda menyiapkan ikan-ikan itu untuk kamisetiap hari?" Apa yang anda katakan tuan?" tanya para nelayan heran. "Saya mohon kepada kalian untuk memberikan ikan itu dan kami akan menggantinya dengan uang ini". "Kami serahkan ikan ini kepada anda tuan:. jawab para nelayan kemudian.

Dengan membawa ikan itu dalam kedua tangannya, Bodhisatta duduk di tepi sungai dan berkata, "sahabatku ikan, bila saya tidak melihat anda hari ini anda pasti menemui kematian. Lihatlah masa depan dan jangan tunduk dalam keinginan nafsu". Setelah mengucapkan penjelasan ini, Bodhisatta melepakan ikan tersebut ke dalam airkemudian masuk ke dalam kota.

Pelajaran Dhamma yang diberikan Bhagava berakhir. Di akhir pembicaraan itu bhikkhu yang dikuasai nafsu mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Bhagava juga mennjukkan hubungan dan menjelaskan kelahiran kembali dan berkata "mantan istri anda adalah ikan betina dimasa lampau. Bhikkhu yang dikuasai nafsu adalah ikan jantan. Saya sendiri adalah pendeta pribadi keluarga raja".
sumber: majalah dhammacakka no.20/tahun VI/2000

Readmore..

Perang

| | 0 comments

Perang
Chuang
Bila saya mencoba mengingat-ingat kembali sejarah kehidupan saya dari sejak mula hingga sekarang ini, saya dapat menyimpulkan bahwa sampai sejauh ini tidak ada satu pun masa ketka saya tidak menemukan kata “Perang” tidak diucapkan.

Di awal tahun 70-an dan juga sepanjang tahun itu, ketka saya masih sangat sangat kecil, terjadi perang Vietnam antara tentara kaum kapitalis versus kaum komunis. Kemudian, di era 80-an, ketika saya masih kanak-kanak, dunia mengalami perang yang lama dan berlarut-larut antara dua negara bertetangga: Irak vs Iran dan juga perang “abadi” antara Palestina vs Israel. Selanjutnya, pada tahun 90-an, saat mata saya mulai terbuka dan mengerti sedikit banyak apa yang telah terjadi, kita menyaksikan secara langsung perang teluk antara AS dan sekutunya melawan Irak yang dianggap sebaga seorang anak nakal yang harus dihukum.

Dan kini di sini, di awal abad ke-21 yang kita harapkan menjadi abad yang damai, yang tak rusuh dan berdarah-darah lagi seperti abad-abad lampau, para pecinta damai kembali dibuat bersedih hati dengan terjadinya tragedi kemanusiaan pada tanggal 11 September 2001, ketika beribu-ribu nyawa dikorbankan atas nama kebencian dan dendam amarah.

Pendek kata, hampir sepanjang hidup saya hingga saat ini, tak pernah sekalipun saya menemukan apa yang kita semua sebut sebagai “Perdamaian Dunia” yang sebenar-benarnya. Sampai saat ini, Ia barulah berwujud sebuah mitos, sebuah mantra takhayul yang diucapkan berulang-ulang di atas mimbar kaum politikus dunia, meluncur manis dari bibir indah ratu kecantikan, tercetak kosong di atas lembar koran-koran, dan mendengung ribut dari pembicaraan para utopis kesiangan.

Saya tak hendak menjadi seorang pesimis yang muram, juga seorang yang sinis. Saya hanya ingin mengatakan bahwa, jika kita mencari damai dari dunia ini, seperti yang telah saya tulis diatas, sejauh ini hal itu sangat tidak mungkin karena sejarah dunia telah menunjukkan pada kita bahwa perang adalah hal yang biasa terjadi setiap saat, terutama di masa modern ini ketka dunia tak lagi cukup bagi setiap manusia serakah. Kekerasan tampaknya telah menjadi sebuah bahasa universal yang dipakai untuk mengatasi kekerasan lainnya, dengan hasil berupa kekerasan yang lebih keras lagi.

Memang untuk berharap akan perdamaian dunia, akan putusnya rantai dendam dan kekerasan yang selama ini kita alami dan saksikan itu boleh-boleh saja dan mungkin juga baik. Karena harapanlah yang membuat kita tetap dapat bertahan dan hidup.

Tetapi untuk benar-benar mewujudkan perdamaian dunia, pertama-tama kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Karena disinilah ia sebenarnya berada selama ini. Dan hal itu, kawan, adalah sesuatu yang sulit. Sebab dalam usaha menemukan kedamaian di dalam diri, kita harus memerangi diri ktia sendiri, musuh yang paling sulit untuk diperangi. Tetapi kemenangan yang kita peroleh, kedamaian itu, adalah sangat berharga dan pantas diperjuangkan. Oleh karenanya, saya kira, sesulit apa pun itu, menaklukkan diri sendiri demi kedamaian sejati jauh lebih penting dan berharga dan solusi paling ideal untuk menwujudkan perdamaian dunia.

Readmore..

Wiku Sadayana ~ Lukisan Dan Bingkainya

| | 0 comments

Wiku Sadayana ~ Lukisan Dan Bingkainya
Dayananda TG.
Siang itu, Wiku Sadayana sibuk membuat bingkai untuk sebuah lukisan bergambar Buddha yang berwajah asing dan bermata sipit. Setelah selesai memasang lukisan ke dalam bingkai, Wiku menggantung lukisan itu di dinding dibelakang Buddha rupang di Sanggar Pamujan.

Dan pada senja hari, seperti biasa Sanggar Pamujan dipenuhi oleh suara para cantrik yang menguncarkan tembang mantra suci mengagungkan Hyang Guru Buddha serta mengulang kembali janji bakti mereka untuk mengikuti ajaran hidup yang luhur dari Hyang Guru Buddha. Sanggar Pamujan yang diterangi kelap kelip dlupak minyak jarak, bercampur dengan bau harum dupa dan beraneka bunga segar yang terserak di meja tempat rupang Hyang Guru Buddha berada, membuat suasana menjadi terasa makin sakral.

Setelah penguncaran mantra suci selesai, mereka bersamadi bersama sama, Sanggar Pamujan yang sebelumnya dipenuhi oleh suara para cantrik bagaikan dengung para lebah mencari madu bunga, kini sunyi senyap sehingga suara berbagai serangga yang keluar senja hari terdengar jelas, hanya di seling sekali sekali oleh dengkung katak yang sibuk berpesta mencari makan.

Suara gong mengakhiri samadi bersama, dan dengan segera Sanggar Pamujan dipenuhi oleh gemersik baju para cantrik yang sedang mengubah letak kaki mereka yang pegal karena duduk tidak bergerak cukup lama. Citramatra yang malam itu memimpin, segera mengajak semua yang hadir untuk melimpahkan jasa jasa baik perbuatan mereka pada hari itu untuk kebahagiaan semua mahluk dan mengakhiri pembacaan tembang mantra malam itu dengan bersembah sujud pada Hyang Guru Buddha.
Para cantrik yang sejak tadi telah memperhatikan ada lukisan baru yang tergantung di dinding, sibuk berkata dan memberi komentar kepada rekan yang duduk disebelahnya. Sedangkan Citramatra, setelah merapihkan jubahnya, bersembah sujud kepada Wiku Sadayana sebagai tanda bahwa ia ingin bertanya.
Wiku Sadayana sambil bersenyum berkata : “Ada apa Citramatra?”

Citramatra menjawab : “Guru , darimanakah gambar tersebut, dan mengapa wajah Hyang Guru Buddha yang tergambar disitu berbeda dengan Rupang dari batu yang biasa kita ketahui?.”

Wiku Sadayana, berdiam sejenak, menunggu suara dari para cantrik mereda, dan baru kemudian menjawab : “Gambar ini aku dapat dari pemberian Saccawirya, sedangkan Saccawirya sendiri mendapatkan dari pedagang asing yang datang ke ibukota kerajaan untuk berdagang. Pedagang tersebut dirampok habis habisan, untunglah punggawa kerajaan dapat menangkap perampok tersebut dan menyerahkan perkaranya kepada Saccawirya yang menjabat sebagai Adhyaksa. Perampok tersebut dihukum berat sesuai dengan undang undang kerajaan yang mewajibkan warga kerajaan melindungi orang asing yang berdagang dengan jujur di kerajaan Wilwatikta ini; dan pada saat akan pulang kembali ke negerinya, pedagang tersebut memberikan lukisan ini kepada Saccawirya sebagai kenang kenangan. Pada 2 bulan purnama yang lalu, aku dan Citramatra pergi ke ibukota kerajaan untuk menghadiri upacara 1000 hari wafatnya Gusti Prabu yang lalu, dan tinggal di rumah Saccawirya. Saccawirya kemudian memberikan lukisan ini kepadaku”

Setelah menyeruput Wedang Jahe hangat yang dihidangkan oleh seorang cantrik, Wiku Sadayana melanjutkan ceritanya : “Lukisan ini dibuat diatas lembar kertas, yang berbeda dengan lembar lontar yang biasa kita gunakan untuk mencatat mantra suci. Penduduk negeri asing ada yang mengetahui cara pembuatan kertas berukuran lebar, jauh lebih lebar dari lembar lontar, bahkan ada yang sampai 2 depa panjangnya, sehingga bisa digunakan untuk membuat lukisan seperti yang kalian lihat. Penduduk negeri asing tersebut, menurut Saccawirya, rata rata bermata sipit dan berkulit lebih cerah daripada kita penduduk Wilwatikta, mungkin lebih cerah dari warna kulit penduduk daerah Pasundan yang pernah bertikai dengan kerajaan Wilwatikta puluhan tahun yang lampau. Oleh karena itu, mereka melukiskan Hyang Guru Buddha sesuai dengan wajah yang mereka lihat sehari hari, yaitu seperti wajah mereka sendiri”.

Citrabala bertanya : “Guru, apakah diijinkan membuat gambar atau patung Hyang Guru Buddha yang berbeda beda wajahnya?”
Sambil tersenyum Wiku Sadayana menjawab : “Hyang Guru Buddha telah moksa mencapai Nirwana hampir 2000 tahun yang lampau, dan tidak ada seorangpun yang masih hidup saat ini yang pernah melihat wajah asli Hyang Guru Buddha , karena itu sangat wajar bila rupang ataupun lukisan Guru Buddha berbeda beda. Tetapi itu bukan masalah, karena kita pengikut atau yang menyatakan diri sebagai murid Hyang Guru Buddha, menghormati serta berterima kasih kepada Beliau atas ajaran Dharma yang beliau berikan, serta teladan keluhuran budi pekerti yang beliau tunjukkan selama beliau hidup.”
Citrabala melanjutkan bertanya : “Kalau begitu, bisakah setiap penyungging (pelukis) bebas melukiskan beliau semaunya sendiri? “

Wiku Sadayana :”Tentu saja tidak bisa bebas semaunya, apakah engkau lupa dalam salah satu lontar ada tertulis 32 ciri ciri tubuh bodhisatwa, sebelum beliau mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Hyang Buddha?”. Dengan melukiskan sebanyak mungkin ciri ciri tersebut kedalam lukisan, maka dapatlah seorang Penyungging membuat sebuah lukisan dengan menyebutnya inilah lukisan Hyang Guru Buddha. Selain itu juga tentunya lukisan Hyang Guru Buddha menggambarkan perilaku Beliau sehari hari, seperti bersamadi dengan wajah tersenyum, duduk membabarkan ajaran Dharma. Berdiri dengan sikap tangan memberikan berkah; tentunya sangat tidak tepat kalau menggambarkan Beliau sedang memegang tongkat pemukul atau tombak, atau naik kuda sambil mengacungkan pedang, karena perbuatan itu tidak pernah beliau lakukan”.

Citrabala dan para cantrik mengangguk menyetujui penjelasan Wiku Sadayana.
Dan kemudian Wiku Sadayana berkata : “Citramatra, dalam perjalanan pulang dari ibukota kerajaan ke padepokan ini, engkau pernah bertanya, mana yang lebih penting melakukan winaya (berbuat sesuai aturan Sila) atau melakukan upacara ritual yang megah mewah dengan persembahan sesaji yang berlimpah disertai menguncar tembang mantra berhari-hari? Engkau juga bertanya mengapa padepokan kita tidak pernah melakuan upacara ritual besar besaran?”
Citramatra menjawab : “Benar Guru, waktu itu Guru mengatakan setelah tiba di padepokan baru akan dijelaskan dihadapan para cantrik yang lain. Dan aku sudah lupa menanyakan kepada Guru”.
“Baiklah, sebelum aku menjelaskan hal ini, Citramatra dan cantrik-ku sekalian, kalian perhatikan baik baik lukisan yang sudah berbingkai yang tergantung di dinding.
Jawab pertanyaanku, jika lukisan itu tidak kuberi bingkai, bisakah kalian semua melihatnya dengan baik?”

Dengan cepat Citrabala menjawab : “Tidak bisa , guru, itu sama saja dengan wayang kulit tanpa gapit, akan lungkrah,(bhs Jawa: loyo), dan tidak mungkin dilihat dengan baik”
“Ah, Citrabala, bagus sekali perumpamaan mu dengan wayang kulit tanpa gapit, gambar ini pun akan lungkrah, tergulung bagian sudutnya , sehingga tidak enak dilihat”, tukas Wiku Sadayana, yang kemudian melanjutkan bertanya : “Seandainya aku membuat bingkai untuk lukisan tersebut dengan bingkai yang berukuran besar, misalnya selebar setengah jengkal, bagaimana pendapat kalian, apakah lukisan itu menjadi lebih serasi?”

“Tidak mungkin serasi, eyang guru”, jawab salah seorang cantrik dan lanjutnya : “itu sama saja seperti sebuah wayang kulit yang bergapit sungu kerbau berukuran sebesar jempol kaki, tidak enak dilihat. Bingkai selebar setengah jengkal terlalu berlebih untuk ukuran lukisan seperti itu, sehingga tidak enak dilihat.”

Dengan gembira, Wiku Sadayana menjawab : “Bagus, bagus, kalian semua menjawab dengan baik, nah pertanyaan ku yang terakhir, jika bingkai lukisan itu aku beri hiasan ukiran yang indah, aku beri tambahan batu batu permata yang gilang gemilang dan mahal harganya, apakah itu akan memperindah lukisan tersebut?”

Kali ini Citramatra dengan sigap menjawab : “Guru, hiasan ukiran dan batu permata itu akan menenggelamkan keindahan lukisan, yang melihat lukisan akan bingung, perhatiannya akan terpecah, memperhatikan lukisan atau memperhatikan bingkai berhias permata; bingkai yang guru buat sederhana bentuknya, ukurannya pun serasi tidak terlalu tebal, juga tidak terlalu tipis, serasi dengan besar lukisan yang sedepa lebarnya.”.
“Bagaimana pendapat yang lainnya ?” tanya Wiku Sadayana.
“Kami sependapat dengan Citramatra, guru “, serempak para cantrik yang lain menjawab.
Setelah berdehem dehem membersihkan tenggorokannya, Wiku Sadayana berkata : “Nah, perhatikan baik baik yang akan aku katakan. Ajaran Dharma dari Hyang Guru Buddha berupa pengertian mengenai kehidupan dan cara membebaskan diri dari penderitaan yaitu mencapai Nirwana, selain itu juga banyak nasihat nasihat lain yang diberikan kepada pengikut Beliau waktu itu, yang bisa kalian baca di lontar, Ajaran Dharma itu adalah seperti gambar lukisan ini. Sedangkan winaya, atau berbagai pantangan dan tuntunan perilaku yang baik, sama seperti bingkai untuk memegang lukisan agar teguh, tidak kusut atau tergulung bagian ujungnya; sedangkan ukiran dan permata yang aku tanyakan tadi, adalah berbagai upacara ritual yang menjadi tradisi dari para pengikut serta murid Hyang Guru Buddha.
“Perhatian dan upaya yang berlebihan pada upacara ritual, dapat membuat kita semua melupakan ajaran Dharma; apalagi umat yang melihat, mereka akan lebih tertarik pada upacara ritual yang rumit dan megah dibandingkan mendengarkan wejangan Dharma yang disampaikan oleh orang yang mengerti Dharma ajaran Guru Buddha. Demikian juga perhatian yang berlebih pada Winaya serta aturan aturan, akan menyebabkan para murid kuatir bertindak melanggar Winaya, dan sibuk memperhatikan kesalahan sesama rekan, bukannya memanfaatkan waktu, pikiran dan tenaga mereka untuk menyelami dan melaksanakan Dharma untuk mensucikan batin dan pikiran mereka sendiri. Sebaliknya ada juga orang yang hanya mempelajari dan memperdebatkan ajaran Dharma dari Hyang Guru Buddha dan mengabaikan pelaksanaan Winaya dan aturan aturan yang diperlukan, serta mengabaikan upacara ritual untuk mengenang dan menghormati Hyang Guru Buddha; maka kita akan menjumpai orang yang ahli serta mengetahui banyak sekali ajaran Dharma, tanpa melaksanakannya dalam kehidupan sehari hari, orang ini tidak mengerti bahwa Winaya adalah sarana yang menjamin tegaknya Dharma; jika para murid berperilaku dengan melanggar Winaya, siapakah yang akan tertarik untuk mempelajari Dharma? Dan mungkinkah akan ada umat yang bersedia mendukung kehidupan para Wiku yang berperilaku tidak bermoral? Tidak akan ada! Jika terjadi maka hal ini merupakan tanda awal akan lenyapnya ajaran Dharma dari Hyang Guru Buddha pada daerah tersebut”.

Suasana dalam Sanggar Pamujan menjadi hening, sunyi senyap. Tidak biasa mereka mendengar petuah yang panjang lebar dari Wiku Sadayana yang biasanya hanya memberi petuah petuah singkat.
Akhirnya, Wiku Sadayana memecah keheningan : “Sama juga seperti lukisan yang berbingkai dengan ukuran serasi dan diberi hiasan sederhana. Kita memerlukan Winaya dan aturan aturan yang perlu dipatuhi tanpa berlebihan; kita juga memerlukan upacara ritual yang sederhana untuk menunjukkan rasa hormat dan terima kasih kita dengan tulus pada Hyang Guru Buddha yang telah mengajarkan Dharma bagi kesejahteraan sesama mahluk; dan kita juga perlu mempelajari dan menyelami Dharma untuk mensucikan batin serta pikiran kita hingga tercapainya Nirwana. Ketiga nya perlu diperhatikan tetapi harus seimbang tanpa berlebihan pada salah satu diantaranya.”

Citramatra kemudian berkata : “Guru, sebetulnya aku tadi ingin juga bertanya mengapa kita disini tidak pernah mengadakan upacara ritual yang megah seperti yang berlangsung di ibukota dan berbagai Sanggar Pamujan yang lain sehingga banyak sekali umat yang datang hadir, sekarang aku tahu, itu terlalu berlebihan.”

“Citramatra, bukanlah tujuan dari Hyang Guru Buddha membabarkan Dharma untuk mengumpulkan umat untuk menonton upacara ritual, tetapi Beliau bertujuan membebaskan manusia dari penderitaan melalui pelaksanaan Dharma yang telah Beliau ajarkan, sedangkan para Wiku yang berkelakuan baik bersesuaian dengan Winaya akan menarik hati para umat untuk mempelajari dan melaksanakan Dharma, sebaliknya, tontonan berupa upacara yang megah memang mendatangkan umat yang banyak, tetapi sebagian besar dari mereka hanya ingin menonton keramaian saja. Bahkan hal itu dapat menimbulkan pengertian yang salah dari umat, yang beranggapan bahwa dengan ikut serta pada upacara ritual sudah dapat membebaskan mereka dari penderitaan; timbulnya pandangan salah seperti ini perlu dihindari dengan mengadakan upacara ritual secukupnya saja”.

Dengan sikap yang tenang, Wiku Sadayana menatap ke para cantriknya dan kemudian berkata : “Kini sudah larut malam, kita semua perlu beristirahat, Citrabala, pimpinlah kita semua untuk memberikan sembah sujud pada Hyang Guru Buddha untuk mengakhiri pertemuan kita malam ini”
Tidak lama kemudian , padepokan tersebut diselimuti keheningan ketika para penghuninya telah lelap di pondok masing masing.

Readmore..

Wiku Sadayana ~ Menghadapi Bencana

| | 0 comments

Wiku Sadayana ~ Menghadapi Bencana
Upasaka Dayananda TG
Suatu siang yang sangat panas, upasaka Danaviriya salah seorang pengikut Wiku Sadayana datang dari kota ke padepokan tempat Wiku Sadayana tinggal. Dia membawa kain untuk diberikan kepada para murid Wiku Sadayana yang sudah membutuhkan pakaian.

Menjelang senja setelah istirahat dan mandi di pancuran yang dingin airnya, Danaviriya menuju ruang pamujan, dan disana telah berkumpul penghuni padepokan yang lain untuk memulai penguncaran mantra suci. Setelah mendapatkan tempat duduk yang sesuai, Danaviriya dengan sungguh sungguh mengikuti penguncaran mantra suci sampai selesai.

Seperti biasanya, para murid Wiku yang membutuhkan petunjuk, masih tetap berada diruang tersebut, sedangkan yang lainnya kembali ke pondok masing masing untuk bersemedi atau membaca lontar, atau beristirahat bagi yang sudah merasa lelah. Dan seorang murid membawa masuk seteko wedang jahe hangat dengan beberapa cangkir bambu, dan dibagikan kepada yang masih hadir disitu.

Danaviriya tetap berkumpul dengan beberapa murid lain dan setelah Wiku Sadayana mengetahui kehadirannya, dengan gembira Wiku Sadayana menyapa : “Damai dan sejahtera bagimu Danaviriya, ayo mari duduk disini, berapa malam kau akan bermalam disini Danaviriya?”. Danaviriya segera mendekat dan memberikan sembah sujudnya kepada Wiku yang telah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri, kemudian berkata : “Rahayu Guru, aku berniat menginap 2 malam disini”, setelah itu dia mundur dan mencari tempat duduk bersama sama dengan murid Wiku yang lain.

Seperti biasa para murid satu per satu menceritakan apa yang mereka lakukan dan menanyakan hal hal yang kurang jelas bagi perkembangan batin mereka. Selama pembicaraan itu, Wiku Sadayana sekali sekali melirik kepada Danaviriya yang tampaknya sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, dengan kening berkerut.

Ketika perbincangan dengan para murid telah usai, Wiku Sadayana dengan senyum lebar menegur Danaviriya : “Danaviriya, ayo ini wedang jahenya diminum dulu, dan setelah itu ada berita menarik apa yang akan kau ceritakan kepada kami?”

Danaviriya tertegun sejenak, dan setelah meneguk wedang jahe yang sudah mulai dingin dia berkata : “Guru, sebetulnya tidak ada berita yang penting, namun aku gelisah memikirkan beberapa hal yang tampaknya kini sudah jauh berbeda dibandingkan dulu pada waktu aku masih kecil”
Wiku Sadayana : “ O, apa itu yang kini berbeda dibandingkan ketika masih kecil?”
“Mungkin ceritanya agak panjang guru, “ tukas Danaviriya.
“Tidak apa apa, toh kau bermalam disini, dan tidak ada kegiatan apa apa lagi selain beristirahat setelah ini, ayo ceritakan dengan santai”, jawab Wiku.

“Begini guru”, tutur Danaviriya. “Pada waktu aku masih kecil, ayahku sering memberikan nasehat dan contoh yang baik, seperti tepo-seliro, kita berusaha menghindari kata kata atau perbuatan yang menyakiti orang lain; bebasan , bertutur kata yang ramah dan menyejukkan ; tetapi sekarang ini sudah sangat berbeda, orang berbicara dengan kata kata yang kasar, yang dibalas lagi dengan kata kata yang kasar, berlaku semau maunya tidak memperdulikan perilakunya kurang menyenangkan bagi orang lain, misalnya sudah larut malam , masih saja menabuh gamelan keras keras; atau jika dulu, orang yang menunggang kuda sudah turun dari kuda sebelum masuk ke pekarangan rumah, sekarang sudah tidak begitu lagi. Sikap santun kepada orang yang lebih tua sudah berkurang, yang dikedepankan adalah harta, manusia diukur dari harta yang dimilikinya.”

“Andap asor, sifat rendah hati yang diajarkan sebagai budaya kita yang luhur sudah jarang terlihat, malahan menyombongkan pangkat kedudukan , yang kaya memamerkan kekayaannya walaupun kita tahu cara mendapatkan kekayaanya kurang jelas, tapi si kaya ini karena banyak menyumbang, dipuja puja oleh orang banyak; yang miskin berusaha mendapatkan lebih dari apa yang seharusnya, sedangkan yang pintar tidak segan segan menggunakan kepandaiannya untuk mengakali yang tidak waspada. Ayahku mengatakan bahwa orang yang beradab adalah orang yang mampu mengendalikan batinnya untuk tidak marah, dan aku dinasehati untuk melatih kesabaran, karena kesabaran adalah cara membina diri yang paling baik. Tetapi kenyataan sehari hari, aku melihat banyak orang menjadi marah hanya karena masalah kecil, mereka mudah tersinggung dan bukannya mampu menahan diri, malahan kemarahan dipertontonkan agar orang lain takut. Sehingga hampir tiap hari kita bisa mendengar terjadinya kemarahan, pertengkaran, penipuan, pemaksaan dan lain lain yang sudah tidak sesuai dengan tata krama luhur yang dulu selalu diajarkan oleh para sesepuh. Ini semua membuat hatiku risau, akan kemanakah kita-kita ini”

“Seiring dengan bencana kekeringan, banjir bandang, gunung yang meletus, longsor yang berulang ulang terjadi, banyak dibicarakan di kedai sebagai akibat dari ulah kita, para manusia yang serakah dan sudah kelewat batas melanggar tata krama, menyinggung hati para dewa karena petuahnya tidak diturut; namun yang berbicara seperti itu, perilakunya juga sama saja, tidak ada bedanya dengan yang lain, apakah benar semua ini hukuman dari para dewa bagi kita , Guru ?”

Senyap ruangan itu, semua yang hadir meresapi kata kata Danaviriya, dan meng-ia-kan dalam hati bahwa apa yang diungkapkan Danaviriya memang benar, telah terjadi dan bahkan tampaknya makin menjadi-jadi.

“Danaviriya”, tukas Wiku Sadayana setelah merenung cukup lama; “Hyang Guru Buddha, pernah mengajarkan bahwa ada hukum alam yang bekerja sesuai dengan aturannya, dan ada hukum Karma yang bekerja sesuai aturannya juga. Bencana alam ada yang disebabkan karena ulah manusia, misalnya banjir dan kekeringan karena hutan sudah habis dibabat untuk membangun rumah dan kayu bakar, tetapi juga bisa karena memang hukum alam yang bekerja sendiri misalnya musim kemarau berkepanjangan yang menimbulkan kekeringan dimana mana atau hujan deras yang berlebihan sehingga terjadi banjir; atau gempa, atau gunung meletus. Jadi jangan semuanya disama ratakan sebagai akibat dari ulah manusia. Tetapi hal ini kadang kadang dimanfaatkan oleh orang cerdik yang sedang mencari pengikut, orang yang tidak mengerti, ditipunya, kejadian alam yang memang sudah waktunya terjadi, dianggap sebagai hukuman dari para dewa akibat dari ulah manusia yang tidak menghormati para dewa, dan orang orang yang tertipu ini lalu dianjurkan untuk lebih taat dan patuh lagi untuk melakukan upacara upacara pemujaan kepada dewa tertentu.

“Lalu kita harus bagaimana Guru?”, tanya Danaviriya.
Wiku Sadayana mengelus elus jenggotnya dan sambil tersenyum dia meneruskan :”Perlu kita pahami bahwa kita hanya bisa mengendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan kita, sedangkan pikiran , perkataan dan perbuatan orang lain, tidak bisa kita kendalikan, oleh karena itu Danaviriya dan muridku sekalian, berpikirlah dahulu sebelum berkata dan melakukan sesuatu, apakah hal itu bermanfaat bagimu dam bagi orang lain, jika bisa menyebabkan kemalangan , kerugian atau kesedihan kepada orang lain seperti juga kepada dirimu sendiri; maka perkataan atau perbuatan tersebut sebaiknya jangan dilakukan; sebaliknya jika baik bagimu dan juga bagi orang lain, maka perkataan dan perbuatan itu memang patut dilakukan.”

“O, Guru, indah sekali petuah Guru, dan selanjutnya bagaimana menyikapi bencana yang terus menerus terjadi?”, sahut Citramatra, murid paling senior dari Wiku Sadayana.

“Bencana yang terjadi karena hukum alam yang bekerja , tidak bisa kita cegah, tetapi bukan berarti kita pasrah saja, kita perlu selalu menimbang , selalu berpikir dengan bijaksana, misalnya, padepokan ini berada di lereng gunung yang curam tetapi aku tidak membangunnya ditempat yang ada kemungkinan terkena bencana longsor jika terjadi gempa, atau banjir. Aku memilih dilereng yang terlindung oleh lembah, sehingga jika bukit dibelakang ini longsor, maka longsoran tersebut akan masuk kedalam lembah yang cukup dalam tersebut, tidak langsung menghancurkan padepokan beserta penghuninya, selain itu juga bukankah kita semua sudah menanam banyak pohon yang berakar kuat dibelakang pondok ini dan diseberang lembah untuk mengurangi kemungkinan buruk dari longsor”

“Sebaliknya jika kita mengetahui bahwa penebangan pohon yang berlebihan dihutan di atas bukit itu dapat menjadi penyebab longsor saat gempa atau hujan, kita perlu berupaya merawatnya, seperti kukatakan tadi, dengan menanam pohon yang berakar kuat.. Jika kau Citrawirya menebang pohon untuk mendapatkan kayu untuk memperbaiki pondok, aku selalu menanyakan berulang ulang, apakah sudah menanam pohon pengganti, dan karena aku berulang kali menanyakan, kau kadang kadang jengkel dan menganggapku cerewet , bukankah demikian Citrawirya?”, tukas Wiku Sadayana sambil terkekeh-kekeh.

Dengan muka merah, Citrawirya menghaturkan sembah kepada Wiku Sadayana seraya berkata : “Mohon maaf guru, memang kadang kadang aku merasa jengkel, tapi sekarang setelah tahu mengapa harus menanam pohon pengganti, aku lebih paham, dan selanjutnya aku berusaha tidak jengkel lagi jika Guru menanyakan”

“Bagus, bagus Citrawirya, mungkin Gurumu waktu itu lupa menjelaskan mengapa perlu menanam pohon pengganti, selanjutnya dengan pemahaman ini, tentunya kau akan melakukan hal yang terbaik untuk mencegah dan melindungi padepokan ini dari bahaya longsor”.

“Baik Guru, akan aku perhatikan dan lakukan”, tukas Citrawirya.
“Nah, karena aku lihat beberapa dari kalian sudah mulai mengantuk, pembicaraan mengenai berkurangnya tata krama di masyarakan, akan kita bicarakan besok pagi saja, ayo kita habiskan wedang jahe masing masing, dan cangkirnya dibersihkan serta dikembalikan ke tempatnya”.

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com