Showing posts with label Artikel Buddhist. Show all posts
Showing posts with label Artikel Buddhist. Show all posts

Friday, February 3, 2012

Bpk. Hemartha : Kasih orang tua sepanjang Jaman

| Friday, February 3, 2012 | 0 comments

Kebaktian Umum Jumat, 25 September 2009
Protokol : Wawah S.
Lilin Altar : Ibu Empang
Dhammapada : Ibu Lilayani ( Gatha 159 & 160 )
Dhammadesana : Bpk. Hemartha Viryajaya
Penulis : Tommy ( Facebook )

Hari jumat ini adalah hari pertama kebaktian umum setelah libur panjang libur lebaran 1430 H / 2009. Umat yang datang ke Vihara Surya Adhi Guna pun menjadi lebih sedikit dari biasanya. Banyak alas duduk yang terlihat kosong.

Pada kesempatan kali ini, Bpk Hemartha yang merupakan Ketua MBI Rengasdengklok bersedia untuk memberikan Dhammadesana pada kebaktian kali ini.

“ Pada kesempatan Dhammadesana kali ini saya akan memberikan Dhamma dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Yang tidak melulu terpaku pada text book. Karena penyampaian Dhamma dengan bahasa sehari-hari pastilah akan lebih mudah dimengerti ketimbang teori-teori yang menggunakan kata-kata mutiara. ” Ucap Bpk. Hemartha pada awal Dhammadesananya.

Bpk. Hemartha mengutip kata-kata Dhammapada yang disampaikan oleh Ibu Lilayani yakni disampaikan sebelum Dhammadesananya dimulai,
“ Diri kita adalah pelindung diri kita sendiri, tapi diri kita sungguh sulit untuk dikendalikan. ” Dari kata-kata yang dikutip oleh Dhammapada tersebut memang seperti itulah yang terjadi pada kenyataan hidup. Banyak orang sepertinya lebih mudah untuk mengendalikan orang lain, tapi sungguh sangat sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Dalam hal pengendalian diri, sebagai anak dan orang tua saja mungkin akan sangat sering terjadi bentrokan pendapat, pola pikir dan tindakan. Tapi yang namanya orang tua, kasih sayangnya tidak terbatas pada anak-anaknya. Apapun yang diperbuat oleh anak-anaknya, pastilah orang tua tetap menyayangi anak-anaknya. Seperti kata pepatah: “ Kasih orang tua sepanjang jaman, kasih saudara sepanjang galah ”. Dari ungkapan tersebut, sungguh besar kasih orang tua kepada anak-anaknya. Dan sebaliknya, anak-anak sudah seharusnya berbakti pada orang tuanya. Banyak orang mencari tempat pemujaan, tempat berlindung ke tempat-tempat yang jauh. Tapi sesungguhnya MUTIARA , ladang untuk berbuat baik, berada sangat dekat dengan kita. Yakni orang tua kita sendiri. Berbakti pada orang tua ketika orang tua kita masih hidup, adalah berkah utama.
Perbuatan baik atau pun perbuatan buruk yang kita lakukan pastilah akan berbuah sesuai dengan yang kita perbuat. Apabila kita selalu berbakti pada orang tua, sudah pasti kita akan berkumpul dengan orang-orang yang berbakti juga. Mendapatkan anak yang berbakti. Semoga perbuatan baik inilah yang terus dilakukan untuk kehidupan yang lebih baik.
Demikian Uraian Dhammadesana yang disampaikan oleh Bpk. Hemartha.
Lalu Bpk. Hemartha melanjutkan dengan pemberitahuan mengenai TOUR Khatina yang diadakan oleh Vihara Surya Adhi Guna untuk umat Vihara. Rencana para umat akan TOUR untuk mengikuti Khatina Puja di Panti Semedi Balerejo di Dekat Blitar. Acara ini diadakan oleh YM Bhante Uttamo Mahathera. Para umat sangat antusias untuk mengikuti Tour ini. Terlihat dari 40 bangku yang disediakan panitia sudah habis dari beberapa minggu yang lalu. Sehingga panitia terpaksa menyediakan 23 bangku tambahan menggunakan Bis kecil untuk umat tambahan. 23 bangku tersebut pun sudah habis terhitung hari ini. Jumat, 25 September 2009. Jadwalnya para rombongan Tour akan berangkat pada pukul 06.00 Pagi pada hari Jumat 9 Oktober 2009 langsung menuju Blitar Jawa Timur. Rencana Tour akan berlanjut ke Vihara Tuban, Gunung Kawi, dan ke Jembaran SURAMADU yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura.

Sekian Ringkasan Kebaktian ini.
Semoga Bermanfaat.

Readmore..

Tuesday, January 31, 2012

Romo Rajiman : Persatuan dalam kelompok

| Tuesday, January 31, 2012 | 0 comments

Selamat Datang di Blog Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok
Blog ini kami persembahkan untuk teman-teman kami yang rindu akan suasana Vihara, teman-teman yang berminat belajar Dhamma, dan berbagi pengalaman spiritual. Blog ini juga kami dedikasikan sebagai jembatan para umat Vihara Surya Adhi Guna yang tidak dapat datang ke Vihara, kami menyediakan liputan, ringkasan kebaktian, foto-foto dan video setiap aktivitas yang up to date.
Semoga bermanfaat.

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Tidak ada by Ajahn Chah | Kelahiran dan Kematian

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

 Kumpulan Kata2 Bijak Y.A.  Ajahn Chah mengenai Kelahiran dan Kematian:
 
1. Latihan yang baik adalah : bertanya kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh, “Mengapa saya dilahirkan?” Tanyakan diri Anda sendiri dengan pertanyaan ini pada pagi hari,siang hari, dan malam hari....... setiap hari. 

2. Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini? 

3. Anda akan berpikir bahwa : orang mengerti apa yg akan terjadi jika hidup di dalam kandungan seseorang? Betapa tidak nyaman! Bayangkan saja, bila diam di dalam gubuk hanya sehari saja, rasanya sudah sulit. Kunci semua pintu dan jendela, Anda sudah merasa tertekan. Jadi bagaimana rasanya tinggal di dalam kandungan seseorang, selama sembilan bulan? Tapi Anda tetap mau dilahirkan kembali! Anda tahu ketidak-nyamannya dalam kandungan, dan Anda masih mau menempelkan kepala di sana, untuk menaruh leher Anda di dalam jerat itu sekali lagi. 

4. Mengapa kita dilahirkan? Kita dilahirkan agar kita tidak akan dilahirkan kembali. 

5. Ketika seseorang tidak mengerti tentang kematian, hidup dapat menjadi sangat membingungkan. 

6. Sang Buddha memberitahukan muridnya, Ananda, untuk melihat ketidak-kekalan, untuk melihat kematian dalam setiap nafas. Kita harus memahami kematian; kita harus mati agar dapat hidup. Apa artinya ini? Mati adalah jalan menuju akhir dari semua keraguan, semua pertanyaan kita, dan ada di sini dengan kenyataan saat ini. Anda tidak akan pernah mati besok. Anda harus mati sekarang. Dapatkah Anda melakukannya? Bila Anda dapat melakukannya, Anda akan tahu kedamaian tanpa pertanyaan lagi.


7. Kematian itu sedekat nafas kita. 

8. Kalau Anda telah terlatih dengan benar, Anda tidak akan merasa ketakutan ketika jatuh sakit, juga tidak sedih jika seseorang meninggal. Ketika Anda pergi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan, tanamkan di dalam pikiran jika Anda menjadi lebih sehat, itu bagus; dan jika Anda meninggal, itu juga bagus. Saya menjamin Anda, bahwa bila dokter berkata kepada saya, bahwa saya mengidap kanker dan akan mati beberapa bulan lagi, saya akan mengingatkan dokter itu, “Hati-hati, karena kematian juga akan datang menjemputmu. Ini hanya masalah siapa yang pergi duluan dan siapa yang pergi belakangan.” Dokter tidak dapat menyembuhkan kematian dan tidak dapat mencegah kematian. Hanya Buddha yang dapat disebut dokter, jadi kenapa tidak pergi dan menggunakan obat dari Buddha? 

9. Jika Anda takut sakit, jika Anda takut mati, sebaiknya Anda merenungkan : dari mana mereka berasal. Dari mana mereka datang? Mereka muncul dari kelahiran. Jadi jangan sedih bila seseorang meninggal. Itu adalah hal yang alami, dan penderitaanya dalam kehidupan ini berakhir. Jika Anda mau bersedih, bersedihlah pada saat orang dilahirkan: “Oh tidak, mereka datang lagi. Mereka akan menderita dan mati lagi!” 

10. “Dia yang mengetahui” dengan jelas tahu bahwa semua keadaan yang berkondisi adalah tidak kekal. Jadi “Dia yang mengetahui” tidak akan menjadi senang atau sedih, karena tidak mengikuti perubahan kondisi. Untuk menjadi senang, adalah untuk dilahirkan; untuk menjadi kesal, adalah untuk mati. Setelah mati, kita lahir kembali; setelah dilahirkan, kita mati lagi. Kelahiran dan kematian dari satu momen ke momen berikutnya adalah putaran roda samsara yang tidak pernah berakhir.

Readmore..

Pak Gondo Sucipto (in memoriam)

| | 0 comments

Pak Gondo Sucipto
(in memoriam)
Upa. Dayananda TG.
“Aku berlindung pada Buddha, Ingat selalu takkan lupa……….” Dengan suara baritonnya yang khas, pak Gondo yang biasa saya panggil mpek (pak De ), bersenandung sambil mencukur rambut saya. Sejak umur 5 tahun, sampai saya SMA. beliau selalu mencukur rambut para putranya termasuk saya, seorang keponakannya. Dan karena sekolah SD saya dekat dengan rumah beliau, seusai sekolah, saya selalu ke rumah beliau, sampai menunggu ayah saya menjemput sepulang kerja.

Begitu sering beliau bersenandung lagu Aku berlindung, sampai suatu ketika saya iseng bertanya : “Mpek, apa tidak ada lagu lain selain Aku berlindung?” dan dengan enteng beliau menjawab : “Bagi mpek, tidak ada lagu yang lebih bagus daripada lagu Aku berlindung pada Buddha”.

Pada saat yang lain, kalau sedang mencukur, petuah yang selalu diberikan adalah : “Nanti kalau ada kesempatan, belajarlah meditasi, mpek tidak mendapat kesempatan untuk belajar meditasi pada seorang yang betul betul memahami meditasi, semua belajar sendiri, coba coba sendiri tabrak sana tabrak sini”.
“Kamu ingat ingat ya, untuk bermeditasi, perhatikan napas masuk dan napas keluar itu saja dulu, nanti akan kelihatan pikiranmu itu rame sendiri, nah teruskan perhatian pada napas masuk dan keluar, sampai pikiran rame itu reda dan sepi sendiri”. Sebagai anak kecil, tanpa paham sedikitpun saya hanya mendengarkan selintas, tapi karena sering diulang ulang, lama lama jadi hapal dan teringat terus.

Pada saat lain lagi, beliau berkata : “ Jangan bosan bermedtitasi, memang tidak ada pekerjaan yang lebih membosankan dari duduk diam seperti patung dan memperhatikan napas sendiri, terus tekun melakukan, karena manfaatnya besar sekali bagi dirimu sendiri”

Ketika saya SMP, dan sudah dibelikan sepeda oleh ayah saya, maka mulai jarang ke rumah beliau, hanya kadang kadang datang untuk pangkas rambut, suatu ketika saya pangkas rambut di tukang pangkas dekat rumah, dan waktu saya mau kembali pangkas rambut ke rumah beliau, dengan gusar beliau berkata : “Jangan cukur rambut sama orang lain, mpek masih hidup dan masih kuat, kecuali terpaksa baru boleh. Jangan biarkan sembarang orang pegang pegang kepalamu, mengerti?”. Jadi sampai saya kuliah di luar kota, barulah berhenti pangkas rambut dengan beliau.

Salah satu kisah yang sering beliau ceritakan adalah : “Mpek adalah orang yang ndugal (Bengal dan nakal). Setiap ada orang yang mempromosikan agama apapun, selalu mpek goda sampai dia jengkel. Dari sekian banyak teman mpek di kota Rembang, ada beberapa yang tertarik dengan agama Buddha, dan banyak bercerita, cerita yang menurut mpek, masuk akal. Dan yang mengubah mpek untuk mulai bermeditasi adalah pada waktu tahun 1953, ada perayaan Waisak yang pertama di Borobudur. Mpek saat itu sedang tugas belanja di Rembang, dan diajak oleh teman mpek seorang pengusaha di Rembang untuk ikut menghadiri Waisak tersebut”

Dan dengan mata berkaca kaca, beliau melanjutkan :”Itulah acara Waisak yang paling hebat, yang pernah mpek alami, dan tidak bisa dilupakan, memang hanya beberapa ratus orang yang hadir, dimalam bulan purnama, dengan kelap kelip lilin, sungguh pengalaman luarbiasa, dan setelah baca mantra yang mpek tidak bisa dan tidak mengerti, pemimpin upacara (mpek baru tahu belakangan, namanya The Boan An, dan belakangan menjadi Bhikkhu Ashin Jinaarakkhita), secara singkat menjelaskan cara bermeditasi, kemudian semua mulai bermeditasi bersama. Inilah saat yang mengubah mpek, suasana menjadi begitu hening, mpek mengikuti petunjuk yang diberikan mulai bermeditasi untuk pertama kalinya, dan mendapatkan ketenangan yang luar biasa yang belum pernah mpek rasakan sebelumnya. Sejak saat itu, mpek mulai berlatih meditasi”.

“Mpek tidak punya kesempatan untuk belajar dibawah bimbingan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, berlatih sendiri, hanya dari tanya teman dan baca baca buku yang dipinjamkan oleh teman mpek, tapi mpek yang dulu berangasan, gampang marah, suka berburu, mulai berubah, menjadi lebih bisa mengendalikan diri, dan meninggalkan hobby berburu karena bisa memahami penderitaan mahluk yang lain. Pengalaman yang membuat mpek berhenti total dari hobby berburu adalah pada suatu ketika teman mpek menembak seekor kera, sampai jatuh, dan itu ternyata induk kera dengan seekor anaknya yang masih bayi. Induk kera yang jatuh itu ternyata belum mati, dan dengan susah payah dia naik lagi ke pohon, meletakkan anaknya di ranting pohon, dan akhirnya karena tidak kuat lagi, dia jatuh dan mati. Sejak itu mpek berhenti total dari berburu, punya hak apa kita merampas kebahagiaan mahluk lain?”
Pernah satu kali ketika libur panjang sekolah, saya masih SMA saat itu, saya diajak beliau berlibur ke kota Rembang, kota kelahiran ibu saya. Di kota tersebut, kami mengunjungi sebuah kelenteng, yang juga merupakan tempat kremasi, ketika itu dikota saya belum ada krematorium, sehingga bila ada yang meninggal dan ingin di kremasi harus dibawa ke Jakarta atau Semarang. Dengan semangat beliau memeriksa krematorium yang masih menggunakan arang, dan komentarnya dengan logat Jawa yang medok : “Nih kamu lihat, kalau mpek sudah mati, yang namanya badan ini sudah rusak dan tidak berguna, jangan repot repot, blusuke (bhs Jawa artinya dimasukkan atau dijebloskan) saja ke lubang ini, uruk dengan arang dan nyalakan apinya, biarkan habis jadi abu, sudah beres”. Dan Pandangan beliau mengenai kremasi seperti ini (pada waktu itu masih belum umum) sering digoda oleh putra putrinya yang sebagian besar bukan Buddhis, antara lain : “Lha pi (papi/ayah maksudnya) apa ndak kepanasan di panggang seperti itu?” Dengan sengit beliau menjawab : “Apanya yang panas, wong sudah jadi bangke, bangke kan tidak bisa merasa. Sudah, pokoknya nanti kalau papi mati, jangan neko-neko, bakar saja beres”.

Menjelang saya berangkat kuliah ke luar kota, mpek secara khusus datang ke rumah saya dengan menaiki sepeda tuanya, dan pesan beliau adalah : “Begitu kamu sampai di kota Bandung, cari kesempatan untuk pergi ke jalan Dago, disitu ada Vihara tempat Bhikkhu Ashin Jinarakkhita tinggal, kamu minta di bimbing beliau untuk ber meditasi, ingat ya di jalan Dago, jangan sia siakan kesempatan untuk belajar meditasi dari beliau, mpek tidak memiliki kesempatan untuk dibimbing beliau”. Saat menjelang beliau pulang, masih sekali lagi diulangi : “ke vihara di jalan Dago ya, temui Bhikkhu Ashin Jinarakkhita”.
Setelah beberapa bulan di Bandung, akhirnya saya mencari cari vihara di jalan Dago, dan berlatih meditasi disitu, dibimbing oleh seorang bhikkhu (bhante DharmaSuryabumi), karena bhikkhu Ashin Jinarakkhita tinggal di Pacet, Cipanas.

Pada waktu bertemu mpek saat liburan kuliah, saat saya menceritakan bahwa saya berlatih meditasi, beliau dengan bersemangat berkata : “Kamu beruntung bisa berlatih dengan dibimbing. Ayo ceritakan, bagaimana petunjuk bhikkhu, supaya mpek bisa berlatih dengan benar”. Setelah saya menyampaikan apa yang diberikan, dan menjawab berbagai pertanyaan beliau. Dengan mata berkaca kaca beliau berkata : “Mungkin pada kehidupan mendatang, mpek baru bisa berlatih Vipassana dengan dibimbing oleh bhikkhu yang mumpuni, tapi tidak sia-sia mpek selalu menasehati kamu untuk belajar ber meditasi”.

Dilain kesempatan, saat bertemu dengan mpek, beliau bertanya : “Masih ingat nggak, kamu waktu kecil, mpek suruh ikut dengan kakak mu yang lain untuk berlatih silat, kamu tidak mau?” Saya tidak ingat lagi, cuma ingat saya merasa tidak suka saja untuk berlatih silat. Mpek meneruskan :”Ingat ngga apa yang kamu katakan waktu itu? “ Tentu saja saya sudah lupa. Sambil tersenyum mpek berkata : “Waktu mpek memaksa kamu –umurmu baru 6 tahunan – untuk ikut latihan silat, kamu bilang, ‘aku tidak suka belajar ilmu memukul dan mengalahkan orang lain, kalau ada, aku mau belajar ilmu supaya orang tidak ingin memukul aku’. Lha ya ndak ada ilmu seperti itu, yang mpek ingat ada pelajaran meditasi yang kalau dilatih dengan baik, membuat orangnya disukai oleh orang lain, bahkan hewan dan mahluk yang lain, cuma mpek tidak bisa menjelaskan . Tapi sejak itu mpek tidak paksa kamu untuk silat, dan lebih banyak cerita mengenai meditasi”.

Mungkin mpek pernah mendengar dari temannya mengenai Metta Bhavana, tetapi karena tidak ada yang membimbing, setahu saya, mpek selalu tekun melatih meditasi dengan objek pernapasan.
Sampai menjelang akhir hayat beliau, beliau benar benar disiplin bermeditasi dari jam 4 pagi sampai jam 5 pagi setiap hari, di taman kecil dibelakang rumah beliau, dan kalau hari hujan, beliau duduk bermeditasi di teras taman.

Pada tahun 1980 beliau meninggalkan dunia ini dan pindah ke alam lain yang tentunya lebih baik.
Semoga benih benih kebaikan yang beliau tanamkan, berbuah dan memberikan manfaat untuk waktu yang lama. Sadhu, sadhu, sadhu.
Ditulis untuk mengenang jasa jasa baik dari
Alm Bp. Gondo Sucipto,
Oleh Upa. Dayananda TG.

Readmore..

Bodhisatta Menjadi Sang Buddha

| | 0 comments

– Menjalani pertapaan –
Setelah menjadi petapa, Bodhisatta tinggal di hutan mangga yang disebut Anupiya tidak jauh dari Sungai Anomã selama 7 hari pertama, dan kemudian Ia pergi menuju ke Rajagaha, ibukota Kerajaan Magadha. Di Rajagaha, Ia menolak tawaran Raja Bimbisara yang akan memberikan separuh kekuasaannya setelah mengetahui identitas Bodhisatta.

Setelah itu, Ia melanjutkan perjalanan dengan menuruni Bukit Pandava dan menuju ke Kota Vesali, tempat seorang guru agama yang ternama, Alara Kalama yang tinggal bersama para siswanya. Di sana Bodhisatta bergabung dan menjadi siswa dari Alara Kalama.

Dalam waktu singkat karena memiliki kepandaian yang luar biasa, Bodhisatta telah mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Alara Kalama bahkan mencapai pencapaian yang sama dengan guru-Nya itu. Namun setelah merenungkan sifat dan manfaat dari pencapaian-Nya ini, Ia menyimpulkan bahwa ajaran yang Ia praktikkan tersebut tidaklah membawa pada Pembebasan Sejati. Oleh karena itu Ia mohon pamit kepada guru-Nya untuk melanjutkan pencariannya atas jawaban terhadap persoalan hidup dan mati, usia tua, dan penyakit, yang senantiasa dipikirkan-Nya.

Kemudian Bodhisatta meninggalkan Vesali dan berjalan menuju Negeri Magadha. Ia menyeberangi Sungai Mahi, dan sejenak kemudian sampai di sebuah pertapaan lain di tepi sungai itu. Pertapaan itu dipimpin oleh seorang guru agama yang sangat dihormati. Bernama Uddaka Ramaputta (Uddaka, putra Rama). Kemudian Bodhisatta pun bergabung dan menjadi siswa dari Uddaka Ramaputta. Dalam waktu yang singkat pula, Ia mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Uddaka Ramaputta bahkan melampauinya. Namun, Bodhisatta segera mengetahui bahwa pencapaian-Nya itu bukanlah apa yang Ia cari. Karena tidak puas dengan pencapaian-Nya itu. Ia meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta . 

– Praktik pertapaan yang keras –
Setelah meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta, Petapa Gotama menuju ke Senanigama (kota niaga Senani) di Hutan Uruvela. Ketika disanalah Petapa Gotama bertemu dengan 5 orang petapa (pancavaggiya) yang terdiri dari Kondanna, Vappa, Mahanama, Assaji dan Bhaddiya.

Selama di Hutan Uruvela, Petapa Gotama menjalankan latihan tapa yang paling berat (dukkaracariya), yang sulit dipratikkan oleh orang biasa. Ia menyatakan tekad usaha kuat beruas empat yang dikenal sebagai padhana-viriya, sebagai berikut: “Biarlah hanya kulit-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya urat daging-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya tulang belulang-Ku yang tertinggal! Biarlah daging dan darah-Ku mengering!” Dengan tekad ini, Ia tak akan mundur sejenak pun, namun akan melakukan usaha sekuat tenaga dalam praktik itu.

Dalam praktik pertapaan yang keras tersebut, Petapa Gotama berlatih untuk mengurangi makan sedikit demi sedikit hingga tidak makan sama sekali. Karena melakukan hal tersebut, tubuh-Nya berangsur-angsur menjadi semakin kurus dan akhirnya hanya tinggal tulang belulang. Karena kurang makan, sendi-sendi dalam tubuh dan anggota tubuh-Nya menyembul seperti sendi rerumputan atau tanaman menjalar yang disebut asitika atau kala (Latin: Polygonum aviculare dan S. lacustris).

Enam tahun sudah Petapa Gotama menjalankan pertapaan yang keras dan tiba pada tahap kritis dimana Ia berada di ambang kematian. Hingga suatu hari ketika berjalan-jalan, Ia pingsan dan terjerembab karena tubuh-Nya dilanda panas yang tak tertahankan dan karena kurang makan berhari-hari. Ketika itu, seorang anak laki-lagi pengembala kebetulan lewat di tempat terjatuhnya Petapa Gotama. Setelah membangunkan Petapa Gotama, anak gembala itu menyuapkan air susu kambing bagi-Nya.
– Perenungan –
Pada suatu sore, Petapa Gotama merenungkan bahwa Ia telah pulih kembali dan merasa lebih segar setelah jatuh pingsan pada hari sebelumnya – berkat susu kambing yang diberikan oleh anak laki-laki gembala itu. Jika tidak demikian, pastilah Ia sudah mati. Tatkala merenung seperti itu, sekelompok gadis penyanyi yang tengah berjalan menuju kota berlalu di dekat tempat Ia bermeditasi. Seraya berjalan, mereka berdendang menyanyikan syair sebagai berikut: “Kalau tali gitar ditarik terlalu keras, talinya putus, lagunya hilang. Kalau ditarik terlalu kendor, ia tak dapat mengeluarkan suara. Suaranya tidak boleh terlalu rendah atau keras. Orang yang memainkannya yang harus pandai menimbang dan mengira.”

Mendengar nyanyian itu, pertapa Gotama mengangkat kepalanya dan memandang dengan heran kepada rombongan penari tersebut. Dalam hatinya ia berkata:

“Sungguh aneh keadaan di dunia ini bahwa seorang Bodhisatta (calon Buddha) mesti menerima pelajaran dari seorang penari. Karena bodoh, aku telah menarik demikian keras tali kehidupan, sehingga hampir-hampir saja putus. Memang seharusnya aku tidak boleh menarik tali itu terlalu keras atau terlalu kendor.”
Di dekat tempat itu tinggal pula seorang wanita muda kaya raya bernama Sujata. Sujata ingin membayar kaul kepada dewa pohon karena permohonannya supaya diberi seorang bayi laki-laki terkabul. Hari itu Sujata mengirim pelayannya ke hutan untuk membersihkan tempat di bawah pohon di mana ia ingin mempersembahkan makanan yang lezat-lezat kepada dewa pohon. la agak terkejut waktu pelayannya dengan tergesa-gesa kembali dan memberitahukan:”O, nyonya, dewa pohon itu sendiri telah datang dari kayangan untuk menerima langsung persembahan nyonya. Beliau sekarang duduk bermeditasi di bawah pohon. Alangkah beruntungnya bahwa dewa pohon berkenan untuk menerima sendiri persembahan nyonya.”
Sujata gembira sekali mendengar berita itu. Setelah makanan selesai dimasak, berangkatlah Sujata ke hutan. Sujata merasa kagum melihat dewa pohon dengan wajah yang agung sedang bermeditasi. la tidak tahu, bahwa orang yang dikira sebagai dewa pohon sebenarnya adalah pertapa Gotama. Dengan hati-hati makanan ditempatkan ke dalam mangkuk dan dengan hormat dipersembahkan kepada pertapa Gotama yang dikira Sujata adalah dewa pohon.
Pertapa Gotama menyambut persembahan itu. Setelah selesai makan, terjadilah percakapan antara pertapa Gotama dan Sujata seperti di bawah ini:
“Dengan maksud apakah engkau membawa makanan ini?”
“Tuanku yang terpuja, makanan yang telah aku persembahkan kepada Tuanku adalah cetusan rasa terima kasihku karena Tuanku telah meluluskan permohonanku agar dapat diberi seorang anak laki-laki.”
Kemudian pertapa Gotama menyingkap kain yang menutupi kepala bayi dan meletakkan tangannya didahinya sambil memberi berkah:
“Semoga berkah dan keberuntungan selalu menjadi milikmu. Semoga beban hidup akan engkau terima dengan ringan. Aku bukanlah dewa pohon, tetapi seorang putra raja yang telah enam tahun menjadi pertapa untuk mencari sinar terang yang dapat dipakai untuk memberi penerangan kepada manusia yang berada dalam kegelapan. Aku yakin dalam waktu dekat ini Aku akan berhasil memperoleh sinar terang tersebut. Dalam hal ini persembahan makananmu telah banyak membantu, karena sekarang badanku menjadi kuat dan segar kembali. Karena itu dengan persembahan ini engkau akan mendapat berkah yang sangat besar. Tetapi, adikku yang baik, coba katakan, apakah engkau sekarang bahagia, dan apakah penghidupan yang disertai cinta saja sudah memuaskan?”
“Tuanku yang terpuja, karena aku tidak menuntut banyak maka hatiku dengan mudah mendapatkan kepuasan. Sedikit tetesan air hujan sudah cukup untuk memenuhi mangkuk bunga Lily, meskipun belum cukup untuk membuat tanah menjadi basah. Aku sudah merasa bahagia memandang wajah suamiku yang sabar atau melihat senyum bayi ini. Setiap hari, dengan senang hati aku mengurus pekerjaan rumah tangga, memasak, memberi sajen kepada para dewata, menyambut suamiku pulang dari pekerjaan; apalagi sekarang dengan dilahirkannya seorang anak laki-laki yang menurut buku-buku suci akan membawa berkah kalau kelak kami meninggal dunia. Juga aku tahu bahwa kebaikan datang dari perbuatan baik dan kemalangan datang dari perbuatan jahat yang berlaku bagi semua orang dan pada setiap waktu, sebab buah yang manis muncul dari pohon yang baik dan buah yang pahit muncul dari pohon yang penuh racun. Apa yang harus ditakuti oleh orang yang berkelakuan baik kalau nanti tiba saatnya mesti mati?”

Mendengar penjelasan Sujata maka pertapa Gotama menjawab:
“Kau sudah mengajar kepada orang yang seharusnya menjadi gurumu; dalam penjelasanmu yang sederhana itu terdapat sari dari kebajikan yang lebih nyata dari kebajikan yang tinggi; meskipun engkau tidak belajar apa-apa, namun engkau tahu jalan kebenaran dan menyebar keharumanmu ke semua pelosok. Sebagaimana engkau telah mendapat kepuasan, semoga aku pun akan mendapatkan apa yang aku cari. Aku, yang engkau pandang sebagai seorang dewa, minta didoakan supaya aku dapat berhasil melaksanakan cita-citaku.”

“Semoga Tuanku berhasil mencapai cita-cita Tuanku sebagaimana aku berhasil mencapai cita-citaku.”
Pertapa Gotama kemudian melanjutkan perjalanan dengan membawa mangkuk kosong. la menuju ke tepi sungai Neranjara dalam perjalanannya ke Gaya. Tiba di tepi sungai pertapa Gotama melempar mangkuknya ke tengah sungai sambil berkata: “Kalau memang waktunya sudah tiba mangkuk ini akan mengalir melawan arus dan bukannya mengikuti arus.”

Satu keajaiban terjadi karena mangkuk itu ternyata mengalir melawan arus.
– Pencapaian pencerahan sempurna –
Pertapa Gotama meneruskan perjalanannya dan pada sore hari tiba di Gaya. la memilih tempat untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi (latin: Ficus Religiosa), kemudian mempersiapkan tempat duduk di sebelah tiimur pohon itu dengan rumput kering yang diterima dari seorang pemotong rumput yang bernama Sotthiya. Di tempat itulah pertapa Gotama duduk bermeditasi dengan wajah menghadap ke timur dengan tekad yang bulat.

Selama bermeditasi itu, sang pertapa tidak terlepas dari godaan-godaan. Kekuatan kejahatan dan keburukan silih berganti mengancam serta mempermainkan dia. Namun semua itu tidak menggetarkan Sang Gotama.

Setelah mengalami pergulatan batin yang berat selama beberapa waktu, akhirnya Petapa Gotama berhasil menundukkan rasa ngeri, keinginan duniawi, niat buruk, dan kekejaman. Kemenangan-Nya atas pergulatan batin ditandai dengan berjajarnya bulan purnama yang tengah menyingsing di ufuk timur dengan bulatan merah matahari yang tengah terbenam di ufuk barat. Bodhisatta akhirnya mengetahui bahwa itulah saat yang tepat untuk meneruskan perjuangan-Nya mencapai Pencerahan Agung. Pada malam bulan purnama, bulan Vesak, 588 M, Bodhisatta tetap duduk tenang memusatkan perhatian-Nya.
Setelah Ia memasuki jhana pertama, kedua, ketiga dan keempat dalam meditasi-Nya, pikiran-Nya yang terkonsentrasi menjadi murni, cermelang, tanpa noda, tanpa cacat, mudah ditempa, mudah dikendalikan, serta tak tergoyahkan. Saat itu Ia mengarahkan pikiran-Nya dan mencapai tiga pengetahuan.
Pengetahuan pertama merupakan pengetahuan melihat dengan jelas dan rinci kelahiran-kelahiran-Nya yang terdahulu (pubbenivasanussati ñana). Hal ini terjadi pada waktu jaga pertama, yaitu antara jam 18.00 sampai 22.00.

Pengetahuan kedua merupakan pengetahuan melihat dengan jelas kematian dan tumimbal lahir kembali makhluk hidup (dibbacakkhu ñana). Ia melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali dalam kondisi rendah dan mulia, cantik dan buruk, mujur dan sial. Hal ini terjadi pada waktu jaga kedua, yaitu antara jam 22.00 sampai 02.00.

Pengetahuan ketiga merupakan pengetahuan akan penghancuran noda (asavakkhaya ñãna). Ia mengetahui secara langsung segala sesuatu sebagaimana adanya. Ia menyadari dan mencerap bahwa pikiran-Nya terbebas dari noda keinginan indrawi, noda kehidupan, dan noda kebodohan batin. Dan ketika Ia terbebas, muncullah pengetahuan bahwa Ia telah terbebas. Ia menyadari langsung bahwa kelahiran-Nya sudah dihancurkan; hidup suci sudah dijalankan; apa yang harus dilakukan sudah dilakukan; tiada lagi kelahiran kembali di alam mana pun juga. Hal ini terjadi pada waktu jaga ketiga, yaitu antara jam 02.00 sampai 04.00. Ia mengetahui bahwa “inilah penderitaan”, bahwa “inilah sumber penderitaan”, bahwa “inilah berakhirnya penderitaan”, dan bahwa “inilah jalan menuju akhirnya penderitaan”.

Dengan tercapainya Pengetahuan Sejati Ketiga maka Bodhisatta mencapai Arahatta-Magga, menjadi Yang Sadar (Buddha), Yang Terberkahi (Bhagava), Yang Tercerahkan Sempurna (Sammasambuddha). Seiring dengan Pencerahan-Nya, Buddha juga memperoleh penegtahuan sempurna tentang Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani).

Demikianlah menjelang fajar pada hari bulan purnama, Vesak 588 S.M, pada usia tiga puluh lima tahun, Bodhisatta mencapai Kemahatahuan dan menjadi Buddha dari tiga dunia dengan usaha-Nya sendiri.

Readmore..

Saturday, January 7, 2012

Nasihat Bijak seorang IBU

| Saturday, January 7, 2012 | 0 comments

Pada suatu masa, putra dari Raja Brahmadatta memerintah dengan bijaksana di Benares, India bagian utara. Sebelumnya raja dari Kosala mengadakan peperangan, membunuh raja Benares, dan menjadikan permaisuri sebagai istrinya.

Sementara itu, putra dari permaisuri melarikan diri dengan diam-diam melalui terowongan bawah tanah. Di daerah pinggiran ia bahkan membangun pasukan tentara yang besar dan mengepung kota. Ia mengirimkan pesan kepada Raja Kosala, sang pembunuh ayahnya dan suami baru ibunya. Ia mengatakan padanya agar menyerahkan kerajaan itu atau berperang di medan pertempuran. 

Ibu pangeran, permaisuri dari Benares, mendengar ancaman ini dari anaknya. Ia merupakan orang yang baik dan murah hati, seorang wanita yang selalu mencegah terjadinya kekerasan, penderitaan, dan pembunuhan. Jadi ia mengirimkan sebuah pesan bagi anaknya "Tidak perlu mengambil resiko dalam pertempuran. Lebih bijak bila kamu menutup seluruh pintu masuk ke dalam kota. Pada akhirnya kekurangan makanan, air , kayu bakar akan menjatuhkan mental penduduk. Kemudian mereka akan menyerahkan kota ini padamu tanpa bertempur".

Pangeran memutuskan untuk mengikuti nasihat ibunya yang bijak. Bala tentaranya memblokir kota selama tujuh hari tujuh malam. Lalu penduduk kota menangkap raja mereka yang lalim, memenggal kepalanya, dan mempersembahkannya kepada sang pangeran. Pangeran memasuki kota dengan kemenangan besar dan menjadi raja baru Benares

Readmore..

Maccha Jataka

| | 1 comments

Kisah ini diceritakan oleh Bhagava ketika berdiam di Jetavana mengenai seorang bhikkhu yang tergoda oleh mantan istrinya.

Dalam kesempatan itu Bhagava berkata, "Bhikkhu apakah benar seperti yan telah telah tergoda oleh keinginan duniawi?".
"benar Bhante".
"oleh siapa?"

"Bhante, mantan istri saya terasa halus untuk disentuh, saya tidak dapat melupakannya!". kemudian Bhagava berkata, "Bhikkhu, wanita itu pernah menimbulkan penderitaan bagi anda. karena dialah anda mendapatkan kesulitan di masa lampau dan pada saat itu saya menyelamatkan anda". setelah berkata demikian Beliau menceritakan kisah di masa yang lampau. 

pada suatu saat ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir ebagai pendeta pribadi keluarga raja. Pada suatu hari beberapa orang nelayan sedang menebarkan jala mereka di sungai. Pada waktu itu seekor ikan besar sedang hilir mudik bemesraan dengan istrinya. Ikan betina itu mencium bau bahaya adanya jala yang sedang ditebarkan itu, kemudian dia melingkar dan melepaskan diri. Tetapi suaminya yang buta karena dikuasai nafsu berenang masuk kedalam lubang jaring. Para nelayan mengangkat ikan itu yang berada dalam jala mereka. mereka menarik jala dan melemparkan ikan itu keluar. mereka tidak langsung membunuhnya tetapi terlebih dahulu melemparkannya ke atas tanah. "kita akan memasaknya di atas bara api untuk santapan kita", kata mereka. selanjutnya mereka segara bekerja menyiapkan api dan meraut sebatang kyu untuk memanggang ikan itu. ikan itu meratapi dirinya dan berseru,"bukan karena bara api yang menakutkan atau tongkat yang menyakitkanatau pula penderitaan lainnya yang menyakitkan saya. Tetapi karena pikiran yang tertekn akan istri saya yang menjadikan saya tidak bahagia, ia pasti yakin bahwa saya telah bersama dengan wanita lain". Ikan itu mengulangi syair berikut: "Bukan dingin, panas, atau jala yang menyakitkan. Tetapi akan ketakutan akan istri saya tersayang yang akan berpikir, wanita kesayangan yang lain telah melarikan suamiku pergi.

Kemudan seorang pendeta menghampiri tepi sungai bersama dengan pelayannya untuk mandi. Pada saat itu ia telah mengerti bahasa kaun binatang. Selanjutnya, ia mendengar ratapan ikan itu, ia berpikir, "Ikan ini meratap karena dikuasai nafsu. bila ia mati dalam keadaan yang tidak baik, maka ia tidak dapat melepaskan diri dari kelahiran di alam niraya (neraka). Saya akan menyelamatkanya. "maka pendeta itu mendtangi para nelayan dan berkata, saudara nelayan, bukankah anda menyiapkan ikan-ikan itu untuk kamisetiap hari?" Apa yang anda katakan tuan?" tanya para nelayan heran. "Saya mohon kepada kalian untuk memberikan ikan itu dan kami akan menggantinya dengan uang ini". "Kami serahkan ikan ini kepada anda tuan:. jawab para nelayan kemudian.

Dengan membawa ikan itu dalam kedua tangannya, Bodhisatta duduk di tepi sungai dan berkata, "sahabatku ikan, bila saya tidak melihat anda hari ini anda pasti menemui kematian. Lihatlah masa depan dan jangan tunduk dalam keinginan nafsu". Setelah mengucapkan penjelasan ini, Bodhisatta melepakan ikan tersebut ke dalam airkemudian masuk ke dalam kota.

Pelajaran Dhamma yang diberikan Bhagava berakhir. Di akhir pembicaraan itu bhikkhu yang dikuasai nafsu mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Bhagava juga mennjukkan hubungan dan menjelaskan kelahiran kembali dan berkata "mantan istri anda adalah ikan betina dimasa lampau. Bhikkhu yang dikuasai nafsu adalah ikan jantan. Saya sendiri adalah pendeta pribadi keluarga raja".
sumber: majalah dhammacakka no.20/tahun VI/2000

Readmore..

Perang

| | 0 comments

Perang
Chuang
Bila saya mencoba mengingat-ingat kembali sejarah kehidupan saya dari sejak mula hingga sekarang ini, saya dapat menyimpulkan bahwa sampai sejauh ini tidak ada satu pun masa ketka saya tidak menemukan kata “Perang” tidak diucapkan.

Di awal tahun 70-an dan juga sepanjang tahun itu, ketka saya masih sangat sangat kecil, terjadi perang Vietnam antara tentara kaum kapitalis versus kaum komunis. Kemudian, di era 80-an, ketika saya masih kanak-kanak, dunia mengalami perang yang lama dan berlarut-larut antara dua negara bertetangga: Irak vs Iran dan juga perang “abadi” antara Palestina vs Israel. Selanjutnya, pada tahun 90-an, saat mata saya mulai terbuka dan mengerti sedikit banyak apa yang telah terjadi, kita menyaksikan secara langsung perang teluk antara AS dan sekutunya melawan Irak yang dianggap sebaga seorang anak nakal yang harus dihukum.

Dan kini di sini, di awal abad ke-21 yang kita harapkan menjadi abad yang damai, yang tak rusuh dan berdarah-darah lagi seperti abad-abad lampau, para pecinta damai kembali dibuat bersedih hati dengan terjadinya tragedi kemanusiaan pada tanggal 11 September 2001, ketika beribu-ribu nyawa dikorbankan atas nama kebencian dan dendam amarah.

Pendek kata, hampir sepanjang hidup saya hingga saat ini, tak pernah sekalipun saya menemukan apa yang kita semua sebut sebagai “Perdamaian Dunia” yang sebenar-benarnya. Sampai saat ini, Ia barulah berwujud sebuah mitos, sebuah mantra takhayul yang diucapkan berulang-ulang di atas mimbar kaum politikus dunia, meluncur manis dari bibir indah ratu kecantikan, tercetak kosong di atas lembar koran-koran, dan mendengung ribut dari pembicaraan para utopis kesiangan.

Saya tak hendak menjadi seorang pesimis yang muram, juga seorang yang sinis. Saya hanya ingin mengatakan bahwa, jika kita mencari damai dari dunia ini, seperti yang telah saya tulis diatas, sejauh ini hal itu sangat tidak mungkin karena sejarah dunia telah menunjukkan pada kita bahwa perang adalah hal yang biasa terjadi setiap saat, terutama di masa modern ini ketka dunia tak lagi cukup bagi setiap manusia serakah. Kekerasan tampaknya telah menjadi sebuah bahasa universal yang dipakai untuk mengatasi kekerasan lainnya, dengan hasil berupa kekerasan yang lebih keras lagi.

Memang untuk berharap akan perdamaian dunia, akan putusnya rantai dendam dan kekerasan yang selama ini kita alami dan saksikan itu boleh-boleh saja dan mungkin juga baik. Karena harapanlah yang membuat kita tetap dapat bertahan dan hidup.

Tetapi untuk benar-benar mewujudkan perdamaian dunia, pertama-tama kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Karena disinilah ia sebenarnya berada selama ini. Dan hal itu, kawan, adalah sesuatu yang sulit. Sebab dalam usaha menemukan kedamaian di dalam diri, kita harus memerangi diri ktia sendiri, musuh yang paling sulit untuk diperangi. Tetapi kemenangan yang kita peroleh, kedamaian itu, adalah sangat berharga dan pantas diperjuangkan. Oleh karenanya, saya kira, sesulit apa pun itu, menaklukkan diri sendiri demi kedamaian sejati jauh lebih penting dan berharga dan solusi paling ideal untuk menwujudkan perdamaian dunia.

Readmore..

Wednesday, November 9, 2011

Learning Buddhism

| Wednesday, November 9, 2011 | 0 comments

Buddhism is learning how to live. This is a very difficult task, and so it takes most of us most of our lives to learn. It is a never-ending process. Although when we are children, we imagine a world of adults, confident, knowing everything, capable, and all-powerful, we find ourselves as adults not knowing how we should lead our lives, and constantly making mistakes in what we do and in how we treat others and ourselves. We search for how we should live, and it is a shock when we discover that all the important decisions in our lives rest with us alone. In the end, there is no-one to tell us what to do but ourselves. So we are always trying to decide how we should act.

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com