Showing posts with label Kisah Mahakassapa. Show all posts
Showing posts with label Kisah Mahakassapa. Show all posts

Thursday, February 2, 2012

Tommy : Belajar bersikap positif dengan penilaian orang lain

| Thursday, February 2, 2012 | 0 comments

Kebaktian Remaja, Sabtu 26 September 2009
Protokol : Meylianawati Dewi
Dhammapada : Nanda Devi Nur
Penulis : Tommy

Kebaktian kali ini saya mendapatkan giliran untuk mengisi ceramah atau sharing Dhamma. Berbicara di depan umum tidak sulit, tapi berceramah di depan umum bagi saya bukanlah hal yang mudah. Dengan pengetahuan & pengalaman yang saya miliki sekarang, saya merasa belum siap untuk berbagi untuk teman-teman seDhamma. Maka dari itu, saya mengajak para umat remaja yang hadir pada kebaktian kali ini untuk berinteraksi dengan teman-teman yang lain.
Pada awal bulan yang lalu Grace Chandra mengajak para umat untuk menilai karakteristik diri sendiri. Untuk melengkapi apa yang sudah dilakukan pada awal bulan September lalu, pada akhir bulan ini saya mengajak setiap umat untuk bersedia dinilai karakteristiknya oleh orang lain. Para umat saya minta untuk duduk melingkar. Ada 24 orang yang hadir pada kebaktian malam hari ini. Salah satu dari mereka, secara bergantian duduk di tengah – tengah lingkaran untuk diberi penilaian tentang sifat-sifat positif & negative oleh teman-teman lainnya pada selembar kertas. Sehingga setiap anak akan membawa pulang 23 lembar kertas yang berisi penilai sifatnya dari teman-teman yang hadir ke vihara. Tapi tentu, teman-temannya tidak menuliskan namanya dikertas tersebut.
Beberapa orang telihat antusias untuk memberi penilaian pada teman-temannya. Mungkin orang yang antusias ini mempunya unek-unek yang ingin disampaikan pada temannya tersebut.
Maksud saya mengajak para umat untuk melakukan kegiatan ini adalah agar para remaja bisa belajar mendengarkan apa yang orang lain sarankan. Mungkin penilaian orang lain terhadap sifat jelek kita mungkin begitu menyakitkan, tapi apabila memang sesuai dengan kenyataan, dan memang perlu kita ubah, kita harus berterimakasih pada orang tersebut.
Mungkin juga ada orang lain yang menilai kita BAIK, bahkan lebih baik dari kenyataan. Penilaian itu pun harus disikapi secara positif. Apabila kita memang belum seperti itu, kita harus mewujudkan penilaian tersebut apabila membawa manfaat yang baik bagi kehidupan kita.
Tapi mungkin juga orang menilai kita yang NEGATIF. Apabila kita memang tidak seperti itu, kita tidak perlu pusing, tidak perlu kesal dan terus memikirkan apa kata orang tersebut.
Satu cerita penutup yang saya sampaikan pada para umat mengenai cerita Seorang ayah dan anak yang berjalan-jalan keliling kota dengan membawa seekor kuda. Diawal perjalanan, sang anak yang masih muda mempersilahkan ayahnya untuk menaiki kuda, sedangkan sang anak berjalan menuntun kuda yang dinaiki ayahnya. Beberapa meter meraka berjalan, mereka bertemu dengan teman dari sang anak. Lalu teman sang anak itu berkata, “ Wah.. Tega amat seh ayah mu! Masa anaknya disuruh jalan, sedangkan ayahnya enak-enakan naik kuda. ”. Mendengar apa yang diucapkan oleh teman sang anak, sang ayah segera meminta anaknya yang menaiki kuda dan ia yang sekarang menuntun kuda. Lalu mereka melanjutkan kembali perjalanan keliling kota. Dipersimpangan jalan, mereka bertemu dengan teman sang ayah. Lalu teman dari sang ayah tersebut berkata, “ Wah kebangetan..! masa anaknya masih muda, tega membiarkan ayahnya yang sudah tua berjalan.” Mendengar hal itu, sang anak berpikir kalau begitu lebih baik mereka berdua saja yang menaiki kuda tersebut. Sang ayah tidak lelah, begitu pun sang anak. Akhirnya mereka setuju untuk sama-sama menaiki kuda tersebut. Tidak berapa jauh setelah mereka melanjutkan perjalanan, orang-orang di sekitarnya berkata : “ Kasian banget itu kuda, ditaiki oleh 2 orang . Tega benerrrr..!! ”. Lagi-lagi mendengar hal ini sang ayah berkata “ Kalau begitu kita tuntun saja kuda ini. Kita berdua jalan kaki saja sambil berkeliling kota. ” Karena mendengar kritikan dari orang lain, sang anak pun menyetujui apa kata ayahnya. Dan mereka berdua pun berjalan kaki keliling kota menuntun kuda tersebut. Sesampai dirumah, mereka sangat kelelahan karena berjalan keliling kota. Lalu ibu dari sang anak berkata, “ Kalian berdua sungguh bodoh..!! bawa kuda, tapi kok malah dituntun! Bukannya ditaiki. ”

Dari cerita ini, kita memang harus bisa mendengarkan saran dari orang lain. Tapi harus dibarengi dengan kebijaksanaan. Banyak orang, banyak saran, dan yang pasti banyak pemikiran. Kita yang melakukan, kita harus bijaksana. Semoga Bermanfaat.

Tambahan :

Ada pengumuman
Sdri. Nanda Devi Nur: Minggu depan hari sabtu tanggal 3 Oktober 2009 para umat remaja yang berminat untuk berdana kathina diminta untuk membawa makanan ringan dan perlengkapan Bhikkhu seperti : ( Sabun, Odol, handuk, Shampoo dll ) untuk dibuatkan parsel gabungan untuk dipersembahkan pada dana kathina tanggal 16 Oktober 2009.
Sdri. Grace Chandra :
-Hari selasa, 29 September 2009 ada rapat Buletin edisi kathina pukul 19.00
-Hari Rabu, 30 September 2009 ada belajar adobe photoshop pukul 19.00

Readmore..

Sunday, January 29, 2012

Pembacaan paritta malam kembang

| Sunday, January 29, 2012 | 0 comments

Kebhaktian Remaja, 12 September 2009
Protokol : Mellisa Rosia
Pembacaan Dhammapada : Irwin Viryajaya dan Sidhi Agustiana Taniman
Penyalaan Lilin Altar : Indrawan Setiono
Penulis : Grace Chandra

Namo Buddhaya..,

Malam ini kebhaktian remaja tidak diisi seperti biasanya karena malam ini kebhaktian tidak diisi Dhammadesana. Kami hanya melakukan pembacaan paritta seperti biasa, lalu bermeditasi dan dilanjutkan dengan berbagai pengumuman singkat.. Hal ini dilakukan karena pada pukul 8 malam akan diadakan pembacaan paritta persembahyangan malam kembang almarhumah Ibu Yo Cin Nio yang merupakan salah satu umat Vihara Surya Adhi Guna dan merupakan nenek tercinta dari saudari Yessica F. S.
Tepat pukul jam 7.45 malam, kami berangkat ke rumah duka besama-sama dengan berjalan kaki karena letak rumah duka tidak jauh dari vihara kami. Pembacaan paritta pun dilakukan tepat pukul 8 malam dengan dipimpin oleh Romo Pannajayo. Saat akan dimulai pembacan paritta, saya melihat sungguh banyak umat yang hadir untuk membacakan paritta untuk almarhumah. Almarhumah merupakan sosok yang baik dan tekun dalam menjalankan dhamma, tak heran sungguh banyak kerabat dan kenalan yang merasa kehilangan Beliau.
Pada saat prosesi persembahyang berlangsung, saya sempat merenung bahwa kehidupan ini sungguh tak pasti akan tetapi kematian sungguh pasti. Oleh karena itu kita harus menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi kematian yang menanti kita. Tak ada bekal yang lebih baik selain “KARMA BAIK” dalam menghadapi kematian. Dengan setumpuk karma baik yang kita miliki maka kita dapat menjalani kehidupan selanjutnya dengan lebih baik. Karma baik yang telah kita lakukan bukan saja dapat dilihat hasilnya pada kehidupan yang akan datang tetapi pada kehidupan saat ini juga.
Saya teringat pada masa hidupnya almarhumah Ibu Yo Cin Nio merupakan sosok yang mengamalkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari dengan begitu disiplinnya. Di saat sakit saja, Beliau tetap bersemangat datang ke Vihara untuk mendengarkan Dhamma. Oleh sebab itu disaat meninggal, beliau meninggal dengan tenang di hari yang sungguh baik yaitu pada tanggal 09 bulan 09 tahun 2009 jam 9 lewat. Kejadian ini tak dipungkiri terjadi disebabkan oleh karma baik yang beliau lakukan dalam masa hidupnya. Karma baik tak mungkin dapat hilang dan dicuri oleh siapa pun. Karma baik akan melindungi dan menyertai diri kita sendiri saat kematian menjemput.
Semoga dengan ulasan sekilas mengenai persembahyangan ini, kita dapat merenung tentang kematian. Renungilah bahwa hidup sungguh singkat dan kematian tak disangka sudah berada di depan kita. Semoga dengan perenungan ini membuat kita selalu tersadar dalam menjalani kehidupan ini. Semoga kita semakin terpacu untuk menjalankan Dhamma dalam kehidupan sehari. Semoga kita selalu memupuk dan memupuk karma baik sebanyak-banyaknya.
Saddhu…! Sadhu…! Sadhu…!

Readmore..

Tuesday, January 17, 2012

SILAVIMAMSA – JATAKA NO. 330

| Tuesday, January 17, 2012 | 1 comments

“Kekuatan yang ada di bumi,” dan seterusnya. – Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Maha Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang brahmana yang pernah membuktikan kebaikannya. Dua kisah yang hampir sama telah disebutkan sebelumnya1. Dalam hal ini Bodhisattva lahir dalam keluarga brahmana di Kerajaan Benares.

Dalam membuktikan kebaikannya sepanjang waktu tiga hari dia mengambil sebuah koin dari tempat harta karun. Sekelompok orang memberikan informasi bahwa dia adalah seorang pencuri, dan ketika akan dibawa kepada Sang Raja, dia berkata :

Kekuatan di bumi tiada bandingnya,
Kebaikan mempunyai sesuatu yang sangat menakjubkan :
Memperoleh berkah dari angkasa,
Ular-ular yang mematikan menghindari semua kejahatan.

Setelah selesai mengucapkan kebaikan yang tertuang dalam syair pertama, dia memperoleh pengampunan dari Sang Raja dan hidup menjadi seorang pertapa. Pada saat itu seekor elang menyahut sepotong daging dari tempat penjual daging dan menukik tajam ke udara. Burung-burung lain mengitarinya dan menabraknya dengan cakar, paruh dan kuku-kukunya. Karena tidak mampu untuk menahan rasa sakitnya ia melepaskan daging tersebut. Kemudian burung lain menangkapnya. Hal tersebut seperti mengkondisikan keaadaan penekanan agar daging yang dibawanya jatuh. Kemudian burung yang lain memperebutkannya, dan siapa saja yang akan mendapatkan daging akan dikejar oleh burung-burung lain bahkan sampai mati, dan barang siapa yang melepaskan daging tersebut akan terbebas. Bodhisatta memahami keadaan ini, “nafsu-nafsu yang ada pada diri kita seperti sepotong daging. Barang siapa yang melekat padanya akan menderita, dan barang siapa yang tidak melekat padanya akan memperoleh perdamamian.” 

Dan dia menguncarkan bait syair yang kedua :
Ketika elang hendak memakan daging,
Burung-burung mematuknya hingga terluka
Ketika ia terpaksa melepaskan dagingnya,
Kemudian mereka tidak menyerangnya kembali.

Readmore..

Monday, January 16, 2012

4 hal untuk merubah pola hidup kita

| Monday, January 16, 2012 | 1 comments

Protokol : Romo Pannajayo
Pembaca Dhammapada : Ibu Encun Sukanta (Gatha 176 dan 177)
Dhammadesana : Y. M. Bhante Suddhasano
penulis: Grace Chandra

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhasa (3x)
Namo Sang Yang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya…!

Saat ini orang sibuk membicarakan masalah kiamat 2012. Isu seperti ini sebenarnya mengingatkan kita untuk segera mungkin memupuk kebajikan. Kita harus semakin bersemangat memanfaatkan apa yang kita miliki untuk berbuat baik.

Hidup dengan selalu membina diri agar selalu menjadi manusia yang lebih mulia sangatlah sulit. Malam ini Y. M. Bhante memberikan dhammadesana tentang empat hal yang harus kita lakukan untuk merubah pola hidup kita. Keempat hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mencegah hal-hal buruk yang belum ada diri kita
Contohnya yaitu jika diri kita yang bukan tipe suka marah-marah jangan sampai berubah menjadi suka marah-marah. Kita harus menjauhkan diri hal-hal yang buruk. Hal ini dapat dicapai dengan meditasi dan fangshen. Meditasi membuat diri kita selalu sadar dan mawas diri sehingga jika ada hal-hal buruk yang mendatangi diri kita maka kita akan tersadar untuk segera menjauhinya, Sedangkan fangshen membuat diri kita akan dipenuhi oleh cinta kasih sehingga kita dapat terbebas dari rasa memmbenci. Fangshen juga membuat diri kita selalu terlindung oleh kebajikan yang kita perbuat. Semakin banyak kita menolong orang maka akan semakin banyak kita terlindung oleh kebajikan.

Readmore..

Jawaban Atas Siapakah Sang Buddha?

| | 0 comments

Pada suatu waktu seorang pertapa bernama Dona, memperhatikan tanda-tanda dari bekas jejak Sang Buddha, menghampiri Beliau dan bertanya pada Beliau : 

“ Yang Mulia tentunya Deva ?“ ¹
“ Tentu saja bukan, pertapa, saya bukan Deva,” Jawab Sang Buddha.
“ Lalu Yang Mulia tentu Gandhaba ?” ²
“ Tentu saja bukan, pertapa, saya bukan Gandhabha.”
“ Lalu Yakkha ?” ³
“ Tentu saja bukan, pertapa, bukan Yakkha.”
“ Lalu Yang Mulia tentu seorang Manusia “
“ Tentu saja bukan, pertapa, saya bukan seorang manusia.”
“ Lalu kepada siapa Yang Mulia berdoa ?”
Sang Buddha menjawab bahwa Beliau telah menghancurkan kekotoran-kekotoran dari kondisi kelahiran kembali seperti Deva, Gandhabha, Yakkha atau seorang manusia dan menambahkan :
“ Seperti sekuntum bunga teratai, yang cantik dan elok.
Tidak menjadi kotor karena air.
Saya tidak menjadi kotor karena air,
Oleh karena itu, pertapa, saya seorang Buddha “
( Anguttara Nikaya ii, hal 37 )

Sang Buddha tidak menyatakan sebagai Titisan (Avatara) dari dewa Hindu : Vishnu, yang sebagaimana bhagavadgita menyanyikannya dengan sangat menarik, dilahirkan berulang kali dalam masa yang berbeda untukk melindungi orang yang berbudi, menghancurkan yang jahar, dan menetapkan Dhamma (Kebenaran).

Menurut Sang Buddha tidak terhitung banyaknya para Dewa dan kelompok makhluk yang tunduk pada kelahiran dan kematian; tetapi tidak ada satupun Dewa tertinggipun yang mengatur nasib-nasib manusia dan mempunyai kekuatan hebat untuk muncul di dunia pada jarak waktu yang berbeda, menggunakan bentuk manusia sebagai suatu sarana. ?

Foot note :
1. Deva : Suatu makhluk dewa yang bertempat tinggal di tempat yang amat menyenangkan.
2. Gandhabha : Pemusik Surgawi.
3. Yakkha : Seorang Setan.
4. Walaupun guru-guru Hindu, dengan tujuan menarik kedalam agama Hindu untuk memperbanyak pengikut-pengikut Agama buddha, telah dengan tidak adil menyebut Sang Buddha sebagai Titisan Dewa ( Avatara ), suatu gagasan yang Beliau tidak akui pada masanya.

Readmore..

MAKATAKKA JATAKA No. 173

| | 0 comments

(68) “Ayah lihatlah, seorang pengikut yang tua dan miskin dst.  Kisah ini dikisahkan oleh sang maha guru di jetavana tentang sesuatu pemahat intinya akan berkenaan denga  keahlian adalah dalam buku XIV .
Disini sang maha guru berkata “ wahai para siswa tidak hanya sekali ini saja memiliki pengikut seorang penjahat, pada masa lampau ketika ia terlahir menjadi seekor kera dia mengunakan siasat untuk memanaskan suasana “. Kemudian dia mengisahkan kisah yang telah lampau pada suatu masa ketika brahmadata memerintah di  banares Bodhisattva lahir di keluarga brahmana di desa kali ketika ia menginjak dewasa dia menerima pendidikan di  Yakasila dan ia  mengunakan pendidikan tersebut untuk mengarahkan hidupnya.

Istrinya pada saat itu melahirkan seorang putra dan ketika putranya mulai berlatih berjalan  sang istri tersebut  meningal, suaminya melakukan pemahkamannya dan ia berkata “ apa artinya bagiku sekarang ? saya dan anak saya akan hidup sebagai  petapa “  meninggalkan daerah nya dengan di iringgi air mata ia membawa anaknya keHimalayadan memandikannya sebagai praktisi keagamaan dan hidup serta tinggal di akar-akar pohon dan makan buah dari pohon yang ada di hutan.

Pada suatu hari sepanjang musim hujan ketika terjadi hujan lebat ia membakar tongkat untuk menghangatkan tubuh dan terbaring di tumpukan jerami dan di hangatkan oleh api dari hasilk pembakaran tongkat kemudian putranya duduk di samping sembari mengosok kakinya.
Pada saat itu ada seekor kera liar dalam keadaan mengigil kedinginan mendekati api yang dinyalakan oleh sang petapa “ sekarang”, pikirnya, “ seumpama saya datang ke sana secara lebih dekat mereka akan menjerit dan berkata ada kera ! sehingga akan mengusir saya kembali, saya sebaiknya tidak datang kesanamenghangatkan diri sendiri karena saya sudah mempunyai  dia menangis”.

“ Saya harus mendapatkan pakaian pertapa itu dan datang kesanadengan penyamaran “  maka dia mengambil pakaian dari petapa yang telah meninggal  mengumpulkannya dalam keranjang dia bergerak dengan cepat membuka pintu gubuk dengan membungkuknan badannya  di samping pohon palm.  Putra pertapa melihatnya dan berteriak pada ayahnya “ tidak mengetahuinya dia itu adalah kera “ di sini ada  pertapa dalam keadaan mengigil kedinginan datang kearah perapian “ (69) kemudian dia berkata pada bapaknya dengan bait syair pertama agar mengijinkan petapa yangmalangikut merasakan kehangatan api .
“ Ayah lihatlah ! ada seorang pertapa yangmalangyang berada di smaping pohon palm disana di sini kita memunyai satu gubug untuk tinggal maka ijinkan ia untuk tinggal bersama kita untuk berbagi rasa kepada kita.

Ketika bodhisattva mendengar hal itu dia segera pergi ke arah pintu untuk melihatnya, tetapi ketika ia melihat makhluk yang di sangka seorang pertapa  kemudia ia berkata oh … putraku manusia tidak mempunyai wajah seperti itu ia adalah seekor kera dan dia tidak harus berada bersama kita !. kemudian ia mengulangi syair bait ke dua “ dia akan mengotori tempat kita jika ia masuk ke dalam pintu maka ia seperti muka itu
-     mudah dikatakan
-     tidak baik dan tidak cocok bila dikandung dan dilahirkan dalam keluarga brahmana.
“ Bodhisattv mempunyai suatu pikira  ia menangis apa yang kau lakukan dan kau inginkan disana? “
Melemparinya dan  menuntutnya pergi sang kera meninggalkan pakaian pertapa dan tambahlah disanabeberapa pohon kemudian dia mengubur dirinya sendiri di hutan.
Kemudia Bodhisattva mengolah dan melatih untuk hal mulia sampai dia mencapai sifat-sifat brahma dan lahir di alam brahma .

Ketika sang maha guru mengakhiri cerita ini dia mengetahui tumimbal lahir “ laki-laki yang  licik itu adalah sang kera di atas rahula adalah sang anak adalah dari pertapa dan saya sendiri adalah petapa itu”.

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

Paradigma yang Berkembangan..

| Thursday, January 12, 2012 | 0 comments

Paradigma yang berkembang?
Kita sering membenarkan atau menyalahkan sesuatu dibangun dari paradigma-paradigma yang salah,sering kali kita terjebak dalam paradigma sekitar kita untuk "menghakimi" orang lain atas dasar keinginan kita sesaat dan juga atas dasar "lingkungan" sekitar kita..

Kita "menghakimi" seseorang,sebelum seseorang itu "sah" dinyatakan bersalah,kita selalu "senang" apabila melihat orang lain menderita,dan sering kali juga,kita tidak menyadari hal tersebut sudah berlangsung lama dalam "pikiran" kita..

Jika suatu media menyatakan si A adalah "diduga" menjadi menjadi tersangka pembunuhan,kita biasanya tidak mau tahu,dan hanya mengikuti pernyataan media,bahwa si A adalah tersangka,tanpa ba bi bu,kita langsung "menvonis" si A sebagai pembunuh,kita mengucilkan keluarga si A ,mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada keluarga si A,seakan-akan keluarga si A dan A adalah "kotoran" bagi diri kita,tetapi kita sendiri tidak pernah sadar,apakah kita lebih baik dari si A?

Jauh sebelum vonis pengadilan muncul,kita sudah memberikan "vonis" versi kita,paradigma sudah dibangun dan dikembangkan melalui "isu-isu" yang belum tentu benar isinya,kemudian isu-isu tersebut dibuat "seakan-akan" adalah hal yang benar dan disebarluaskan melalui dunia maya,atau mouth to mouth,bukan kah itu sangat menunjukan "kebodohan" kita dalam menanggapi suatu permasalahan yang didasari oleh sebuah paradigma ?

Sama seperti Umat Buddhisme saat ini,orang-orang yang layak dihormati,diteladani dan menjadi sumber dari Dhamma,malahan berbondong-bondong membangun paradigma disekitarnya tentang keberadan MMD sebagai sesuatu yang sesat,teroris atau yang berlawanan dengan Buddha Dhamma..
Atas dasar apa orang-orang seperti ini mengatakan hal yang tidak benar atau mungkin lebih tepat disebut "belum terbukti kebenarannya",mengapa hal yang "belum terbukti" kebenarannya disiarkan kepada banyak orang,bukankah itu lebih menunjukan "usaha" pemecahan antar kalangan Buddhisme?Walau disadari atau tidak disadari,saat ini hal yang dilakukan oleh mereka,hanya memecah belah umat Buddhisme menjadi 2 kubu,yang sekali lagi sama sekali tidak membawa manfaat apapun dalam perkembangan Buddha Dhamma di masa yang akan datang...

terlebih lagi,sampai saat ini tidak ada satu pun dari pihak penuduh[Saudara Butus,dkk] yang dapat berdiskusi dhamma secara baik dan santun,menggunakan kata-kata yang menyejukkan hati[bukan sindiran tentang personal,kata-kata kotor,kasar,keji berisi fitnahan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya] sehingga kita dapat mengambil kesimpulan,"Apakah benar paradigma yang sedang berkembang saat ini?" yang membingungkan saya sampai saat ini adalah tindakan-tindakan yang sama sekali tidak mencerminkan Buddhisme yang dilakukan oleh pihak penuduh,dimana pihak penuduh dalam posisi MENYALAHKAN bukan MENUNJUKAN KESALAHAN,sama sekali berbeda dengan cara diskusi Buddha pada zamanNya,dimana Buddha sering kali menempatkan dirinya dalam diskusi dhamma 2 arah,dan sering kali jika lawan diskusinya berpandangan salah,Buddha MENUNJUKKAN KESALAHANNYA bukan MENYALAHKANNYA!!!

Kalau seseorang tidak sanggup MENUNJUKKAN KESALAHANNYA ,bagaimana mungkin dia berhak untuk sekedar MENYALAHKAN?Saya merasa MENYALAHKAN seseorang atas ketidakmampuan diri sendiri dalam menjelaskan,adalah hal yang naif sekali!!!Itu sama dengan seseorang yang bodoh yang memaksakan kehendaknya sendiri,atas dasar pemuasaan hasrat keinginannya atau suatu sistem fanatik menggunakan nama Buddha,pelestarian Agama Buddha,mempertahankan Agama Buddha,itu adalah cara-cara kaum barbar,cara-cara kaum teroris yang fanatik,itu lebih menunjukan "sifat teroris" dalam Buddhisme dalam diri penuduh,daripada yang dituduh..

Buddha pernah berkata ajaranNya akan lenyap disebabkan oleh umatNya sendiri,memang benar sekali kata Buddha,karena sampai saat ini pun,sesama Buddhisme yang berjuang untuk melepaskan diri dari lingkaran samsara,malah sibuk menfitnah praktisi meditasi lainnya sebagai sesat,teroris,menggunakan isu-isu gay,dan lan sebagainya dan menganggap JMB8 sebagai sesuatu yang tidak sesat,MUTLAK BENAR,yang padahal hanya digengam sebagai KEMELEKATAN DIRI,EGO YANG BESAR dan KEANGKUHAN TAK TERTANDINGI..



Readmore..

Sati dan Meditasi Vipassana

| | 0 comments

Apabila seorang meditator mengamati emosi atau sensasi fisiknya,maka pada saat itu dia akan merasakan emosi dan sensasi fisiknya sekaligus..Sati bukanlah merupakan kesadaran intelektual,tetapi sati hanya semata-mata "kesadaran"[sering disebut perhatian murni,kesadaran murni,dan seterusnya,terserah Anda melabelinya sebagai apa..],kiasannya adalah "pikiran berhenti disini"

Sati memang bersifat objektif,tetapi bukan berati orang yang mengalami sati itu adalah robot,mumi,sati tidak dingin dan bukannya tanpa perasaan!!Sati adalah pengalaman yang sadar akan kehidupan,suatu pengamatan yang waspada dalam proses kehidupan yang terus berlangsung..

Sati melihat hal-hal sebagaimana adanya,sati juga melihat sifat segala fenomena secara mendalam..Mari kita mencoba untuk mendefinisikan sati itu secara terperinci..

Didalam sati,tidak ada dialog di dalam diri,karena sati bukan berpikir..Mereka yang bermeditasi mungkin harus bekerja keras selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun untuk menuju ke sana...Karena sudah sangat lama kita terbiasa terbelenggu dalam buah pikir,dan kebiasaan itu "kuat sekali bertahan"..
Bila ada Sati,Anda dapat melihat "diri anda yang terbelenggu didalam buah pikir",kesadaran seperti itu lah yang membuat Anda dapat "mundur"[tidak turut campur] dari proses berpikir untuk kemudian "terbebas darinya"..

Sati mempunyai rasa khasnya sendiri didalam kesadaran,Sati memiliki rasa yang ringan,jernih,dan penuh energi..Sebaliknya ,pikiran ini bersifat berat,merenung,dan memilih milih..Tetapi sekali lagi semua itu "hanya kata-kata",pengalaman Anda sendiri yang akan menunjukan "perbedaanya"..Mungkin saja Anda juga memiliki kata-kata sendiri,sehingga tulisan saya ini tidak ada artinya bagi Anda,Ingat lah bahwa prakteklah yang merupakan hal terpenting!!

Sati melihat segalanya sebagaimana adanya,tanpa adanya persepsi didalamnya,juga tidak ada penyelewengan apapun didalam Sati,Sati hanya merupakan perhatian murni yang hanya melihat pada apa yang muncul..Bertolak belakang dengan "pikiran" yang menempelkan hal-hal pada pengalaman kita,membebani kita dengan konsep,ide,opini,menenggelamkan kita kepada pusaran rencana,kecemasan,takut,delusi,ilusi,dan fantasi..

Tetapi bila ada Sati,Anda tidak memainkan permainan itu[pikiran yang melekat dan memberikan respon dengan berbagai emosi],Anda hanya melihat apa yang muncul persis seperti apa yang muncul di pikiran,kemudian Anda akan mengamati "ah ini...dan sekarang ini...ini...",itu lah kesederhanaan dari sati..
Sesungguhnya hanya Sati yang dapat memahami 3 sifat utama yang diajarkan oleh Buddha,yang merupakan kebenaran yang paling mendalam..3 sifat ini dikenal sebagai Anicca,Anatta dan Dukkha..Didalam Ajaran Buddha,ketiga sifat[kebenaran] ini tidak disajikan sebagai dogma yang menuntut pada imam yang buta..

Umat Buddhist sering merasa bahwa kebenaran ini bersifat universal,dan tampak jelas bagi siapapun yang sungguh-sungguh mau menyelidikinya..Satilah satu-satunya metode yang ada untuk menyelediki hal tersebut..

Sati melihat bahwa semua hal-hal yang terkondisi pada intinya bersifat sementara,setiap hal duniawi pada akhirnya memang tidak memuaskan,dan sebenarnya tidak ada "aku" / "jiwa"[atau terserah Anda mau melabelinya apa] yang tidak berubah atau yang kekal,yang ada hanyalah "proses-proses" belaka..
Sati sebenarnya melihat sifat setiap pemikiran/persepsi yang tidak kekal,ia melihat bahwa sifat segala sesuatu yang "dilihatnya" sebagai sesuatu yang hanya bersifat sementara dan berlalu[timbul dan tenggelam],ia juga melihat bahwa tidak ada gunanya melekati/memegang pada pertunjukan-pertunjukan[pengalaman] yang terus berlalu itu.

Kedamaian tidak dapat ditemukan dengan cara seperti itu,akhirnya setelah melihat kedua hal tersebut,sati melihat bahwa sifat dasar semua fenomena itu tanpa inti,ia melihat bagaimana kita secara acak memilih kumpulan persepsi tertentu,memisahkannya dari keseluruhan "arus pengalaman" ,dan kemudian mengkonsepkan "potongan-potongan itu" sebagai substansi yang terpisah dan bertahan..Sati akan melihat hal tersebut terjadi,tetapi ia tidak berpikir tentang hal-hal itu,melainkan hanya "melihat"nya secara langsung..

Masalahnya adalah sesungguhnya ketiga sifat dasar tersebut tidak benar-benar ada sebagai hal-hal yang terpisah,hal-hal itu hanya merupakan hasil usaha kita untuk melihat proses sederhana yang disebut sati ini..Kemudian kita mengungkapkannya melalui simbol-simbil,konsep,kata dari pikiran yang tidak cocok..
Sati adalah suatu proses,tetapi proses ini tidak terjadi secara bertahap,melainkan suatu proses menyeluruh yang muncul sebagai suatu "kesatuan",sati mengetahui hal-hal persis sebagaimana adanya tanpa penyelewengan..Walau Anda mengalami hal tersebut,tidak berati bahwa Anda serta merta akan mencapai pembebasan[bebas dari segala hal] sebagai hasil sati Anda yang pertama kali..Bagaimanapun sati ini harus dikembangkan menjadi "kesadaran penuh tanpa jeda"..

Sati merupakan pusat dari meditasi Vipassana dan inti dari segala proses itu.Sati merupakan tujuan meditasi dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut[sekali lagi,jari menunjuk ke bulan,bahwa jari itu bukanlah bulan!!!]..Jika orang-orang memperhatikan/mengamati apa yang benar-benar sedang terjadi didalam pikirannya sendiri akan mencapai "kewaspadaan tertinggi"[Appamadena]

Sati juga memiliki arti sebagai "mengingat",tetapi bukan kenangan dengan pengertian ide-ide dan gambaran masa lalu,melainkan merupakan proses mengetahui yang langsung,jernih dan tanpa kata/konsep,tentang apa sebenarnya sesuatu itu,dan apa yang bukan,mengenai apa yang benar dan apa yang tidak benar,tentang apa yang sedang kita lakukan dan bagaimana kita harus melakukannya..
Sati yang sudah berkembang secara penuh merupakan suatu keadaan tanpa adanya kemelekatan sama sekali terhadap apapun yang ada didunia ini,jika kita dapat "mempertahankan" keadaan ini,kita tidak lagi membutuhkan "alat" atau "cara" apapun untuk membebaskan diri kita dari rintangan-rintangan,kita dapat mencapai pembebasan dari semuanya..Sati tidak bersifat permukaan belaka,tetapi ia melihat secara mendalam,mengamati setiap hal yang paling mendalam,pengamatan ini membimbing menuju pada "kemutlakkan"[sama sekali tidak ada keraguan]

Sati tidak hanya menaklukkan rintangan-rintangan mental[yang ada tercatat dalam Tipitaka seperti nafsu keinginan,rasa malas,kesenangan seksual,kebencian,kegelisahan,dstnya],tetapi juga menelanjangi semua "rintangan" tersebut serta menghancurkannya..Hasilnya adalah pikiran ini tidak ternoda dan tidak goyah,sepenuhnya tidak terseret oleh pasang surutnya kehidupan ini..
Semoga kita selalu dapat memahami Dhamma ini!!



Sadhu..Sadhu..Sadhu...
Sumber: Riky Liau

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Bodhisatta Menjadi Sang Buddha

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

– Menjalani pertapaan –
Setelah menjadi petapa, Bodhisatta tinggal di hutan mangga yang disebut Anupiya tidak jauh dari Sungai Anomã selama 7 hari pertama, dan kemudian Ia pergi menuju ke Rajagaha, ibukota Kerajaan Magadha. Di Rajagaha, Ia menolak tawaran Raja Bimbisara yang akan memberikan separuh kekuasaannya setelah mengetahui identitas Bodhisatta.

Setelah itu, Ia melanjutkan perjalanan dengan menuruni Bukit Pandava dan menuju ke Kota Vesali, tempat seorang guru agama yang ternama, Alara Kalama yang tinggal bersama para siswanya. Di sana Bodhisatta bergabung dan menjadi siswa dari Alara Kalama.

Dalam waktu singkat karena memiliki kepandaian yang luar biasa, Bodhisatta telah mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Alara Kalama bahkan mencapai pencapaian yang sama dengan guru-Nya itu. Namun setelah merenungkan sifat dan manfaat dari pencapaian-Nya ini, Ia menyimpulkan bahwa ajaran yang Ia praktikkan tersebut tidaklah membawa pada Pembebasan Sejati. Oleh karena itu Ia mohon pamit kepada guru-Nya untuk melanjutkan pencariannya atas jawaban terhadap persoalan hidup dan mati, usia tua, dan penyakit, yang senantiasa dipikirkan-Nya.

Kemudian Bodhisatta meninggalkan Vesali dan berjalan menuju Negeri Magadha. Ia menyeberangi Sungai Mahi, dan sejenak kemudian sampai di sebuah pertapaan lain di tepi sungai itu. Pertapaan itu dipimpin oleh seorang guru agama yang sangat dihormati. Bernama Uddaka Ramaputta (Uddaka, putra Rama). Kemudian Bodhisatta pun bergabung dan menjadi siswa dari Uddaka Ramaputta. Dalam waktu yang singkat pula, Ia mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Uddaka Ramaputta bahkan melampauinya. Namun, Bodhisatta segera mengetahui bahwa pencapaian-Nya itu bukanlah apa yang Ia cari. Karena tidak puas dengan pencapaian-Nya itu. Ia meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta . 

– Praktik pertapaan yang keras –
Setelah meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta, Petapa Gotama menuju ke Senanigama (kota niaga Senani) di Hutan Uruvela. Ketika disanalah Petapa Gotama bertemu dengan 5 orang petapa (pancavaggiya) yang terdiri dari Kondanna, Vappa, Mahanama, Assaji dan Bhaddiya.

Selama di Hutan Uruvela, Petapa Gotama menjalankan latihan tapa yang paling berat (dukkaracariya), yang sulit dipratikkan oleh orang biasa. Ia menyatakan tekad usaha kuat beruas empat yang dikenal sebagai padhana-viriya, sebagai berikut: “Biarlah hanya kulit-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya urat daging-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya tulang belulang-Ku yang tertinggal! Biarlah daging dan darah-Ku mengering!” Dengan tekad ini, Ia tak akan mundur sejenak pun, namun akan melakukan usaha sekuat tenaga dalam praktik itu.

Dalam praktik pertapaan yang keras tersebut, Petapa Gotama berlatih untuk mengurangi makan sedikit demi sedikit hingga tidak makan sama sekali. Karena melakukan hal tersebut, tubuh-Nya berangsur-angsur menjadi semakin kurus dan akhirnya hanya tinggal tulang belulang. Karena kurang makan, sendi-sendi dalam tubuh dan anggota tubuh-Nya menyembul seperti sendi rerumputan atau tanaman menjalar yang disebut asitika atau kala (Latin: Polygonum aviculare dan S. lacustris).

Enam tahun sudah Petapa Gotama menjalankan pertapaan yang keras dan tiba pada tahap kritis dimana Ia berada di ambang kematian. Hingga suatu hari ketika berjalan-jalan, Ia pingsan dan terjerembab karena tubuh-Nya dilanda panas yang tak tertahankan dan karena kurang makan berhari-hari. Ketika itu, seorang anak laki-lagi pengembala kebetulan lewat di tempat terjatuhnya Petapa Gotama. Setelah membangunkan Petapa Gotama, anak gembala itu menyuapkan air susu kambing bagi-Nya.
– Perenungan –
Pada suatu sore, Petapa Gotama merenungkan bahwa Ia telah pulih kembali dan merasa lebih segar setelah jatuh pingsan pada hari sebelumnya – berkat susu kambing yang diberikan oleh anak laki-laki gembala itu. Jika tidak demikian, pastilah Ia sudah mati. Tatkala merenung seperti itu, sekelompok gadis penyanyi yang tengah berjalan menuju kota berlalu di dekat tempat Ia bermeditasi. Seraya berjalan, mereka berdendang menyanyikan syair sebagai berikut: “Kalau tali gitar ditarik terlalu keras, talinya putus, lagunya hilang. Kalau ditarik terlalu kendor, ia tak dapat mengeluarkan suara. Suaranya tidak boleh terlalu rendah atau keras. Orang yang memainkannya yang harus pandai menimbang dan mengira.”

Mendengar nyanyian itu, pertapa Gotama mengangkat kepalanya dan memandang dengan heran kepada rombongan penari tersebut. Dalam hatinya ia berkata:

“Sungguh aneh keadaan di dunia ini bahwa seorang Bodhisatta (calon Buddha) mesti menerima pelajaran dari seorang penari. Karena bodoh, aku telah menarik demikian keras tali kehidupan, sehingga hampir-hampir saja putus. Memang seharusnya aku tidak boleh menarik tali itu terlalu keras atau terlalu kendor.”
Di dekat tempat itu tinggal pula seorang wanita muda kaya raya bernama Sujata. Sujata ingin membayar kaul kepada dewa pohon karena permohonannya supaya diberi seorang bayi laki-laki terkabul. Hari itu Sujata mengirim pelayannya ke hutan untuk membersihkan tempat di bawah pohon di mana ia ingin mempersembahkan makanan yang lezat-lezat kepada dewa pohon. la agak terkejut waktu pelayannya dengan tergesa-gesa kembali dan memberitahukan:”O, nyonya, dewa pohon itu sendiri telah datang dari kayangan untuk menerima langsung persembahan nyonya. Beliau sekarang duduk bermeditasi di bawah pohon. Alangkah beruntungnya bahwa dewa pohon berkenan untuk menerima sendiri persembahan nyonya.”
Sujata gembira sekali mendengar berita itu. Setelah makanan selesai dimasak, berangkatlah Sujata ke hutan. Sujata merasa kagum melihat dewa pohon dengan wajah yang agung sedang bermeditasi. la tidak tahu, bahwa orang yang dikira sebagai dewa pohon sebenarnya adalah pertapa Gotama. Dengan hati-hati makanan ditempatkan ke dalam mangkuk dan dengan hormat dipersembahkan kepada pertapa Gotama yang dikira Sujata adalah dewa pohon.
Pertapa Gotama menyambut persembahan itu. Setelah selesai makan, terjadilah percakapan antara pertapa Gotama dan Sujata seperti di bawah ini:
“Dengan maksud apakah engkau membawa makanan ini?”
“Tuanku yang terpuja, makanan yang telah aku persembahkan kepada Tuanku adalah cetusan rasa terima kasihku karena Tuanku telah meluluskan permohonanku agar dapat diberi seorang anak laki-laki.”
Kemudian pertapa Gotama menyingkap kain yang menutupi kepala bayi dan meletakkan tangannya didahinya sambil memberi berkah:
“Semoga berkah dan keberuntungan selalu menjadi milikmu. Semoga beban hidup akan engkau terima dengan ringan. Aku bukanlah dewa pohon, tetapi seorang putra raja yang telah enam tahun menjadi pertapa untuk mencari sinar terang yang dapat dipakai untuk memberi penerangan kepada manusia yang berada dalam kegelapan. Aku yakin dalam waktu dekat ini Aku akan berhasil memperoleh sinar terang tersebut. Dalam hal ini persembahan makananmu telah banyak membantu, karena sekarang badanku menjadi kuat dan segar kembali. Karena itu dengan persembahan ini engkau akan mendapat berkah yang sangat besar. Tetapi, adikku yang baik, coba katakan, apakah engkau sekarang bahagia, dan apakah penghidupan yang disertai cinta saja sudah memuaskan?”
“Tuanku yang terpuja, karena aku tidak menuntut banyak maka hatiku dengan mudah mendapatkan kepuasan. Sedikit tetesan air hujan sudah cukup untuk memenuhi mangkuk bunga Lily, meskipun belum cukup untuk membuat tanah menjadi basah. Aku sudah merasa bahagia memandang wajah suamiku yang sabar atau melihat senyum bayi ini. Setiap hari, dengan senang hati aku mengurus pekerjaan rumah tangga, memasak, memberi sajen kepada para dewata, menyambut suamiku pulang dari pekerjaan; apalagi sekarang dengan dilahirkannya seorang anak laki-laki yang menurut buku-buku suci akan membawa berkah kalau kelak kami meninggal dunia. Juga aku tahu bahwa kebaikan datang dari perbuatan baik dan kemalangan datang dari perbuatan jahat yang berlaku bagi semua orang dan pada setiap waktu, sebab buah yang manis muncul dari pohon yang baik dan buah yang pahit muncul dari pohon yang penuh racun. Apa yang harus ditakuti oleh orang yang berkelakuan baik kalau nanti tiba saatnya mesti mati?”

Mendengar penjelasan Sujata maka pertapa Gotama menjawab:
“Kau sudah mengajar kepada orang yang seharusnya menjadi gurumu; dalam penjelasanmu yang sederhana itu terdapat sari dari kebajikan yang lebih nyata dari kebajikan yang tinggi; meskipun engkau tidak belajar apa-apa, namun engkau tahu jalan kebenaran dan menyebar keharumanmu ke semua pelosok. Sebagaimana engkau telah mendapat kepuasan, semoga aku pun akan mendapatkan apa yang aku cari. Aku, yang engkau pandang sebagai seorang dewa, minta didoakan supaya aku dapat berhasil melaksanakan cita-citaku.”

“Semoga Tuanku berhasil mencapai cita-cita Tuanku sebagaimana aku berhasil mencapai cita-citaku.”
Pertapa Gotama kemudian melanjutkan perjalanan dengan membawa mangkuk kosong. la menuju ke tepi sungai Neranjara dalam perjalanannya ke Gaya. Tiba di tepi sungai pertapa Gotama melempar mangkuknya ke tengah sungai sambil berkata: “Kalau memang waktunya sudah tiba mangkuk ini akan mengalir melawan arus dan bukannya mengikuti arus.”

Satu keajaiban terjadi karena mangkuk itu ternyata mengalir melawan arus.
– Pencapaian pencerahan sempurna –
Pertapa Gotama meneruskan perjalanannya dan pada sore hari tiba di Gaya. la memilih tempat untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi (latin: Ficus Religiosa), kemudian mempersiapkan tempat duduk di sebelah tiimur pohon itu dengan rumput kering yang diterima dari seorang pemotong rumput yang bernama Sotthiya. Di tempat itulah pertapa Gotama duduk bermeditasi dengan wajah menghadap ke timur dengan tekad yang bulat.

Selama bermeditasi itu, sang pertapa tidak terlepas dari godaan-godaan. Kekuatan kejahatan dan keburukan silih berganti mengancam serta mempermainkan dia. Namun semua itu tidak menggetarkan Sang Gotama.

Setelah mengalami pergulatan batin yang berat selama beberapa waktu, akhirnya Petapa Gotama berhasil menundukkan rasa ngeri, keinginan duniawi, niat buruk, dan kekejaman. Kemenangan-Nya atas pergulatan batin ditandai dengan berjajarnya bulan purnama yang tengah menyingsing di ufuk timur dengan bulatan merah matahari yang tengah terbenam di ufuk barat. Bodhisatta akhirnya mengetahui bahwa itulah saat yang tepat untuk meneruskan perjuangan-Nya mencapai Pencerahan Agung. Pada malam bulan purnama, bulan Vesak, 588 M, Bodhisatta tetap duduk tenang memusatkan perhatian-Nya.
Setelah Ia memasuki jhana pertama, kedua, ketiga dan keempat dalam meditasi-Nya, pikiran-Nya yang terkonsentrasi menjadi murni, cermelang, tanpa noda, tanpa cacat, mudah ditempa, mudah dikendalikan, serta tak tergoyahkan. Saat itu Ia mengarahkan pikiran-Nya dan mencapai tiga pengetahuan.
Pengetahuan pertama merupakan pengetahuan melihat dengan jelas dan rinci kelahiran-kelahiran-Nya yang terdahulu (pubbenivasanussati ñana). Hal ini terjadi pada waktu jaga pertama, yaitu antara jam 18.00 sampai 22.00.

Pengetahuan kedua merupakan pengetahuan melihat dengan jelas kematian dan tumimbal lahir kembali makhluk hidup (dibbacakkhu ñana). Ia melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali dalam kondisi rendah dan mulia, cantik dan buruk, mujur dan sial. Hal ini terjadi pada waktu jaga kedua, yaitu antara jam 22.00 sampai 02.00.

Pengetahuan ketiga merupakan pengetahuan akan penghancuran noda (asavakkhaya ñãna). Ia mengetahui secara langsung segala sesuatu sebagaimana adanya. Ia menyadari dan mencerap bahwa pikiran-Nya terbebas dari noda keinginan indrawi, noda kehidupan, dan noda kebodohan batin. Dan ketika Ia terbebas, muncullah pengetahuan bahwa Ia telah terbebas. Ia menyadari langsung bahwa kelahiran-Nya sudah dihancurkan; hidup suci sudah dijalankan; apa yang harus dilakukan sudah dilakukan; tiada lagi kelahiran kembali di alam mana pun juga. Hal ini terjadi pada waktu jaga ketiga, yaitu antara jam 02.00 sampai 04.00. Ia mengetahui bahwa “inilah penderitaan”, bahwa “inilah sumber penderitaan”, bahwa “inilah berakhirnya penderitaan”, dan bahwa “inilah jalan menuju akhirnya penderitaan”.

Dengan tercapainya Pengetahuan Sejati Ketiga maka Bodhisatta mencapai Arahatta-Magga, menjadi Yang Sadar (Buddha), Yang Terberkahi (Bhagava), Yang Tercerahkan Sempurna (Sammasambuddha). Seiring dengan Pencerahan-Nya, Buddha juga memperoleh penegtahuan sempurna tentang Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani).

Demikianlah menjelang fajar pada hari bulan purnama, Vesak 588 S.M, pada usia tiga puluh lima tahun, Bodhisatta mencapai Kemahatahuan dan menjadi Buddha dari tiga dunia dengan usaha-Nya sendiri.

Readmore..

Kisah Citta, Seorang Perumah Tangga

| | 0 comments

Citta, seorang perumah tangga, suatu hari berjumpa dengan Mahanama Thera, salah seorang dari lima bhikkhu pertama (pancavaggiya), yang sedang berpindapatta, dan mengundang thera tersebut ke rumahnya.

Di sana, ia mendanakan makanan kepada thera tersebut dan setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Mahanama Thera, Citta mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian, Citta membangun sebuah vihara di kebun mangganya. Di sana, ia memenuhi kebutuhan semua bhikkhu yang datang ke viharanya dan bhikkhu Sudhamma tinggal di tempat itu.
Suatu hari, dua orang murid utama Sang Buddha, Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Moggallana, datang ke vihara tersebut. Setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Y.A. Sariputta, Citta mencapai tingkat kesucian anagami.

Kemudian, ia mengundang dua murid utama sang Buddha tersebut ke rumahnya untuk menerima dana makan esok hari. Ia juga mengundang bhikkhu Sudhamma, tetapi beliau menolak dengan marah dan berkata, “Kamu mengundangku setelah mengundang dua bhikkhu tersebut.”

Citta mengulang kembali undangannya, tetapi undangan tersebut ditolak. Walaupun demikian bhikkhu Sudhamma pergi ke rumah Citta pagi-pagi keesokan harinya. Ketika dipersilahkan masuk, Sudhamma menolak dan berkata bahwa dia tidak akan duduk karena dia sedang berpindapatta.

Ketika dia melihat makanan yang didanakan kepada dua orang murid utama Sang Buddha, dia sangat iri dan tidak dapat menahan kemarahannya. Dia mencaci Citta dan berkata, “Aku tidak ingin tinggal lebih lama di viharamu!” dan meninggalkan rumah tersebut dengan penuh kemarahan.

Dari sana, dia mengunjungi Sang Buddha dan melaporkan segala yang telah terjadi. Kepadanya, Sang Buddha berkata, “Kamu telah menghina seorang umat awam yang berdana dengan penuh keyakinan dan kemurahan hati. Kamu lebih baik kembali ke sana dan mengakui kesalahanmu.” Sudhamma melakukan apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, tetapi Citta tidak menghiraukan; maka dia kembali menghadap Sang Buddha untuk ke dua kalinya. Sang Buddha, mengetahui bahwa kesombongan Sudhamma telah berkurang pada waktu itu. Kemudian Beliau berkata, “Anakku, seorang bhikkhu yang baik seharusnya tidak terikat dengan berkata, “ini adalah viharaku, ini tempatku, dan ini adalah muridku,” dan sebagainya, dengan berpikir demikian keterikatan dan kesombongan akan bertambah.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 73 dan 74 berikut ini:

Seorang bhikkhu yang bodoh,
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin menonjol di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan ingin dihormati oleh semua keluarga.
“Biarlah umat awam dan para bhikkhu berpikir bahwa hal ini hanya dilakukan olehku,
dalam semua pekerjaan besar atau kecil mereka menunjuk diriku,”
demikianlah ambisi bhikkhu yang bodoh itu,
dan keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.

Setelah khotbah dhamma itu berakhir, Sudhamma pergi ke rumah Citta, dan pada saat itu mereka dapat berdamai. Dalam waktu tidak beberapa lama, Sudhamma mencapai tingkat kesucian arahat.
Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (73, 74)

Readmore..

Saturday, January 7, 2012

Wiku Sadayana ~ Lukisan Dan Bingkainya

| Saturday, January 7, 2012 | 0 comments

Wiku Sadayana ~ Lukisan Dan Bingkainya
Dayananda TG.
Siang itu, Wiku Sadayana sibuk membuat bingkai untuk sebuah lukisan bergambar Buddha yang berwajah asing dan bermata sipit. Setelah selesai memasang lukisan ke dalam bingkai, Wiku menggantung lukisan itu di dinding dibelakang Buddha rupang di Sanggar Pamujan.

Dan pada senja hari, seperti biasa Sanggar Pamujan dipenuhi oleh suara para cantrik yang menguncarkan tembang mantra suci mengagungkan Hyang Guru Buddha serta mengulang kembali janji bakti mereka untuk mengikuti ajaran hidup yang luhur dari Hyang Guru Buddha. Sanggar Pamujan yang diterangi kelap kelip dlupak minyak jarak, bercampur dengan bau harum dupa dan beraneka bunga segar yang terserak di meja tempat rupang Hyang Guru Buddha berada, membuat suasana menjadi terasa makin sakral.

Setelah penguncaran mantra suci selesai, mereka bersamadi bersama sama, Sanggar Pamujan yang sebelumnya dipenuhi oleh suara para cantrik bagaikan dengung para lebah mencari madu bunga, kini sunyi senyap sehingga suara berbagai serangga yang keluar senja hari terdengar jelas, hanya di seling sekali sekali oleh dengkung katak yang sibuk berpesta mencari makan.

Suara gong mengakhiri samadi bersama, dan dengan segera Sanggar Pamujan dipenuhi oleh gemersik baju para cantrik yang sedang mengubah letak kaki mereka yang pegal karena duduk tidak bergerak cukup lama. Citramatra yang malam itu memimpin, segera mengajak semua yang hadir untuk melimpahkan jasa jasa baik perbuatan mereka pada hari itu untuk kebahagiaan semua mahluk dan mengakhiri pembacaan tembang mantra malam itu dengan bersembah sujud pada Hyang Guru Buddha.
Para cantrik yang sejak tadi telah memperhatikan ada lukisan baru yang tergantung di dinding, sibuk berkata dan memberi komentar kepada rekan yang duduk disebelahnya. Sedangkan Citramatra, setelah merapihkan jubahnya, bersembah sujud kepada Wiku Sadayana sebagai tanda bahwa ia ingin bertanya.
Wiku Sadayana sambil bersenyum berkata : “Ada apa Citramatra?”

Citramatra menjawab : “Guru , darimanakah gambar tersebut, dan mengapa wajah Hyang Guru Buddha yang tergambar disitu berbeda dengan Rupang dari batu yang biasa kita ketahui?.”

Wiku Sadayana, berdiam sejenak, menunggu suara dari para cantrik mereda, dan baru kemudian menjawab : “Gambar ini aku dapat dari pemberian Saccawirya, sedangkan Saccawirya sendiri mendapatkan dari pedagang asing yang datang ke ibukota kerajaan untuk berdagang. Pedagang tersebut dirampok habis habisan, untunglah punggawa kerajaan dapat menangkap perampok tersebut dan menyerahkan perkaranya kepada Saccawirya yang menjabat sebagai Adhyaksa. Perampok tersebut dihukum berat sesuai dengan undang undang kerajaan yang mewajibkan warga kerajaan melindungi orang asing yang berdagang dengan jujur di kerajaan Wilwatikta ini; dan pada saat akan pulang kembali ke negerinya, pedagang tersebut memberikan lukisan ini kepada Saccawirya sebagai kenang kenangan. Pada 2 bulan purnama yang lalu, aku dan Citramatra pergi ke ibukota kerajaan untuk menghadiri upacara 1000 hari wafatnya Gusti Prabu yang lalu, dan tinggal di rumah Saccawirya. Saccawirya kemudian memberikan lukisan ini kepadaku”

Setelah menyeruput Wedang Jahe hangat yang dihidangkan oleh seorang cantrik, Wiku Sadayana melanjutkan ceritanya : “Lukisan ini dibuat diatas lembar kertas, yang berbeda dengan lembar lontar yang biasa kita gunakan untuk mencatat mantra suci. Penduduk negeri asing ada yang mengetahui cara pembuatan kertas berukuran lebar, jauh lebih lebar dari lembar lontar, bahkan ada yang sampai 2 depa panjangnya, sehingga bisa digunakan untuk membuat lukisan seperti yang kalian lihat. Penduduk negeri asing tersebut, menurut Saccawirya, rata rata bermata sipit dan berkulit lebih cerah daripada kita penduduk Wilwatikta, mungkin lebih cerah dari warna kulit penduduk daerah Pasundan yang pernah bertikai dengan kerajaan Wilwatikta puluhan tahun yang lampau. Oleh karena itu, mereka melukiskan Hyang Guru Buddha sesuai dengan wajah yang mereka lihat sehari hari, yaitu seperti wajah mereka sendiri”.

Citrabala bertanya : “Guru, apakah diijinkan membuat gambar atau patung Hyang Guru Buddha yang berbeda beda wajahnya?”
Sambil tersenyum Wiku Sadayana menjawab : “Hyang Guru Buddha telah moksa mencapai Nirwana hampir 2000 tahun yang lampau, dan tidak ada seorangpun yang masih hidup saat ini yang pernah melihat wajah asli Hyang Guru Buddha , karena itu sangat wajar bila rupang ataupun lukisan Guru Buddha berbeda beda. Tetapi itu bukan masalah, karena kita pengikut atau yang menyatakan diri sebagai murid Hyang Guru Buddha, menghormati serta berterima kasih kepada Beliau atas ajaran Dharma yang beliau berikan, serta teladan keluhuran budi pekerti yang beliau tunjukkan selama beliau hidup.”
Citrabala melanjutkan bertanya : “Kalau begitu, bisakah setiap penyungging (pelukis) bebas melukiskan beliau semaunya sendiri? “

Wiku Sadayana :”Tentu saja tidak bisa bebas semaunya, apakah engkau lupa dalam salah satu lontar ada tertulis 32 ciri ciri tubuh bodhisatwa, sebelum beliau mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Hyang Buddha?”. Dengan melukiskan sebanyak mungkin ciri ciri tersebut kedalam lukisan, maka dapatlah seorang Penyungging membuat sebuah lukisan dengan menyebutnya inilah lukisan Hyang Guru Buddha. Selain itu juga tentunya lukisan Hyang Guru Buddha menggambarkan perilaku Beliau sehari hari, seperti bersamadi dengan wajah tersenyum, duduk membabarkan ajaran Dharma. Berdiri dengan sikap tangan memberikan berkah; tentunya sangat tidak tepat kalau menggambarkan Beliau sedang memegang tongkat pemukul atau tombak, atau naik kuda sambil mengacungkan pedang, karena perbuatan itu tidak pernah beliau lakukan”.

Citrabala dan para cantrik mengangguk menyetujui penjelasan Wiku Sadayana.
Dan kemudian Wiku Sadayana berkata : “Citramatra, dalam perjalanan pulang dari ibukota kerajaan ke padepokan ini, engkau pernah bertanya, mana yang lebih penting melakukan winaya (berbuat sesuai aturan Sila) atau melakukan upacara ritual yang megah mewah dengan persembahan sesaji yang berlimpah disertai menguncar tembang mantra berhari-hari? Engkau juga bertanya mengapa padepokan kita tidak pernah melakuan upacara ritual besar besaran?”
Citramatra menjawab : “Benar Guru, waktu itu Guru mengatakan setelah tiba di padepokan baru akan dijelaskan dihadapan para cantrik yang lain. Dan aku sudah lupa menanyakan kepada Guru”.
“Baiklah, sebelum aku menjelaskan hal ini, Citramatra dan cantrik-ku sekalian, kalian perhatikan baik baik lukisan yang sudah berbingkai yang tergantung di dinding.
Jawab pertanyaanku, jika lukisan itu tidak kuberi bingkai, bisakah kalian semua melihatnya dengan baik?”

Dengan cepat Citrabala menjawab : “Tidak bisa , guru, itu sama saja dengan wayang kulit tanpa gapit, akan lungkrah,(bhs Jawa: loyo), dan tidak mungkin dilihat dengan baik”
“Ah, Citrabala, bagus sekali perumpamaan mu dengan wayang kulit tanpa gapit, gambar ini pun akan lungkrah, tergulung bagian sudutnya , sehingga tidak enak dilihat”, tukas Wiku Sadayana, yang kemudian melanjutkan bertanya : “Seandainya aku membuat bingkai untuk lukisan tersebut dengan bingkai yang berukuran besar, misalnya selebar setengah jengkal, bagaimana pendapat kalian, apakah lukisan itu menjadi lebih serasi?”

“Tidak mungkin serasi, eyang guru”, jawab salah seorang cantrik dan lanjutnya : “itu sama saja seperti sebuah wayang kulit yang bergapit sungu kerbau berukuran sebesar jempol kaki, tidak enak dilihat. Bingkai selebar setengah jengkal terlalu berlebih untuk ukuran lukisan seperti itu, sehingga tidak enak dilihat.”

Dengan gembira, Wiku Sadayana menjawab : “Bagus, bagus, kalian semua menjawab dengan baik, nah pertanyaan ku yang terakhir, jika bingkai lukisan itu aku beri hiasan ukiran yang indah, aku beri tambahan batu batu permata yang gilang gemilang dan mahal harganya, apakah itu akan memperindah lukisan tersebut?”

Kali ini Citramatra dengan sigap menjawab : “Guru, hiasan ukiran dan batu permata itu akan menenggelamkan keindahan lukisan, yang melihat lukisan akan bingung, perhatiannya akan terpecah, memperhatikan lukisan atau memperhatikan bingkai berhias permata; bingkai yang guru buat sederhana bentuknya, ukurannya pun serasi tidak terlalu tebal, juga tidak terlalu tipis, serasi dengan besar lukisan yang sedepa lebarnya.”.
“Bagaimana pendapat yang lainnya ?” tanya Wiku Sadayana.
“Kami sependapat dengan Citramatra, guru “, serempak para cantrik yang lain menjawab.
Setelah berdehem dehem membersihkan tenggorokannya, Wiku Sadayana berkata : “Nah, perhatikan baik baik yang akan aku katakan. Ajaran Dharma dari Hyang Guru Buddha berupa pengertian mengenai kehidupan dan cara membebaskan diri dari penderitaan yaitu mencapai Nirwana, selain itu juga banyak nasihat nasihat lain yang diberikan kepada pengikut Beliau waktu itu, yang bisa kalian baca di lontar, Ajaran Dharma itu adalah seperti gambar lukisan ini. Sedangkan winaya, atau berbagai pantangan dan tuntunan perilaku yang baik, sama seperti bingkai untuk memegang lukisan agar teguh, tidak kusut atau tergulung bagian ujungnya; sedangkan ukiran dan permata yang aku tanyakan tadi, adalah berbagai upacara ritual yang menjadi tradisi dari para pengikut serta murid Hyang Guru Buddha.
“Perhatian dan upaya yang berlebihan pada upacara ritual, dapat membuat kita semua melupakan ajaran Dharma; apalagi umat yang melihat, mereka akan lebih tertarik pada upacara ritual yang rumit dan megah dibandingkan mendengarkan wejangan Dharma yang disampaikan oleh orang yang mengerti Dharma ajaran Guru Buddha. Demikian juga perhatian yang berlebih pada Winaya serta aturan aturan, akan menyebabkan para murid kuatir bertindak melanggar Winaya, dan sibuk memperhatikan kesalahan sesama rekan, bukannya memanfaatkan waktu, pikiran dan tenaga mereka untuk menyelami dan melaksanakan Dharma untuk mensucikan batin dan pikiran mereka sendiri. Sebaliknya ada juga orang yang hanya mempelajari dan memperdebatkan ajaran Dharma dari Hyang Guru Buddha dan mengabaikan pelaksanaan Winaya dan aturan aturan yang diperlukan, serta mengabaikan upacara ritual untuk mengenang dan menghormati Hyang Guru Buddha; maka kita akan menjumpai orang yang ahli serta mengetahui banyak sekali ajaran Dharma, tanpa melaksanakannya dalam kehidupan sehari hari, orang ini tidak mengerti bahwa Winaya adalah sarana yang menjamin tegaknya Dharma; jika para murid berperilaku dengan melanggar Winaya, siapakah yang akan tertarik untuk mempelajari Dharma? Dan mungkinkah akan ada umat yang bersedia mendukung kehidupan para Wiku yang berperilaku tidak bermoral? Tidak akan ada! Jika terjadi maka hal ini merupakan tanda awal akan lenyapnya ajaran Dharma dari Hyang Guru Buddha pada daerah tersebut”.

Suasana dalam Sanggar Pamujan menjadi hening, sunyi senyap. Tidak biasa mereka mendengar petuah yang panjang lebar dari Wiku Sadayana yang biasanya hanya memberi petuah petuah singkat.
Akhirnya, Wiku Sadayana memecah keheningan : “Sama juga seperti lukisan yang berbingkai dengan ukuran serasi dan diberi hiasan sederhana. Kita memerlukan Winaya dan aturan aturan yang perlu dipatuhi tanpa berlebihan; kita juga memerlukan upacara ritual yang sederhana untuk menunjukkan rasa hormat dan terima kasih kita dengan tulus pada Hyang Guru Buddha yang telah mengajarkan Dharma bagi kesejahteraan sesama mahluk; dan kita juga perlu mempelajari dan menyelami Dharma untuk mensucikan batin serta pikiran kita hingga tercapainya Nirwana. Ketiga nya perlu diperhatikan tetapi harus seimbang tanpa berlebihan pada salah satu diantaranya.”

Citramatra kemudian berkata : “Guru, sebetulnya aku tadi ingin juga bertanya mengapa kita disini tidak pernah mengadakan upacara ritual yang megah seperti yang berlangsung di ibukota dan berbagai Sanggar Pamujan yang lain sehingga banyak sekali umat yang datang hadir, sekarang aku tahu, itu terlalu berlebihan.”

“Citramatra, bukanlah tujuan dari Hyang Guru Buddha membabarkan Dharma untuk mengumpulkan umat untuk menonton upacara ritual, tetapi Beliau bertujuan membebaskan manusia dari penderitaan melalui pelaksanaan Dharma yang telah Beliau ajarkan, sedangkan para Wiku yang berkelakuan baik bersesuaian dengan Winaya akan menarik hati para umat untuk mempelajari dan melaksanakan Dharma, sebaliknya, tontonan berupa upacara yang megah memang mendatangkan umat yang banyak, tetapi sebagian besar dari mereka hanya ingin menonton keramaian saja. Bahkan hal itu dapat menimbulkan pengertian yang salah dari umat, yang beranggapan bahwa dengan ikut serta pada upacara ritual sudah dapat membebaskan mereka dari penderitaan; timbulnya pandangan salah seperti ini perlu dihindari dengan mengadakan upacara ritual secukupnya saja”.

Dengan sikap yang tenang, Wiku Sadayana menatap ke para cantriknya dan kemudian berkata : “Kini sudah larut malam, kita semua perlu beristirahat, Citrabala, pimpinlah kita semua untuk memberikan sembah sujud pada Hyang Guru Buddha untuk mengakhiri pertemuan kita malam ini”
Tidak lama kemudian , padepokan tersebut diselimuti keheningan ketika para penghuninya telah lelap di pondok masing masing.

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com