Showing posts with label tipitaka. Show all posts
Showing posts with label tipitaka. Show all posts

Monday, February 6, 2012

Janganlah pernah merasa takut jika mengingat akan kematian

| Monday, February 6, 2012 | 0 comments

Selamat Datang di Blog Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok
Blog ini kami persembahkan untuk teman-teman kami yang rindu akan suasana Vihara, teman-teman yang berminat belajar Dhamma, dan berbagi pengalaman spiritual. Blog ini juga kami dedikasikan sebagai jembatan para umat Vihara Surya Adhi Guna yang tidak dapat datang ke Vihara, kami menyediakan liputan, ringkasan kebaktian, foto-foto dan video setiap aktivitas yang up to date.
Semoga bermanfaat.

Readmore..

Sunday, February 5, 2012

Romo Pannajayo : Hiri & Ottapa

| Sunday, February 5, 2012 | 0 comments

Kebaktian Umum, Jumat 23 Oktober 2009
Pemimpin kebaktian : Uu Dharmawan
Dhammadesana : Romo Pannajayo
Penulis : Tommy

Hari ini adalah minggu ke 4 kebaktian umum bulan Oktober. Suasana Hari Raya Kathina masih terasa begitu pekat tatkala setiap Vihara di Kabupaten Karawang dan sekitarnya masing-masing mengadakan perayaan Kathina. Pada kebaktian malam hari ini Romo Pannajayo membahas mengenai Hiri dan Ottapa. Yakni malu dan takut untuk berbuat jahat. Pada prinsipnya Hiri dan Ottapa ini bisa timbul pada bathin masing-masing orang dengan dilandasi pengetahuan yang benar tentang sebab dan akibat perbuatan yang kita lakukan. Setelah kita mempunyai pengetahuan tentang sebab dan akibat dari perbuatan yang kita lakukan, akan timbul pemikiran untuk malu berbuat yang tidak baik dan juga akan takut akan akibat dari perbuatan yang kita lakukan.

Dengan mengetahui sebab dan akibat perbuatan yang kita lakukan, kita pastilah akan berpikir dua kali untuk melakukan perbuatan yang kurang sesuai menurut Dhamma. Dengan mengalami sendiri sebab dan akibat perbuatan yang tidak baik, kita sudah tentu akan memahami maksud dari Hiri dan Ottapa.

Hiri dan Ottapa bisa juga timbul dari lingkungan sekitar kita yang mendorong kita untuk malu dan takut berbuat jahat. Apabila orang tua kita adalah orang yang mempunyai nama baik, kita dengan sendirinya akan berusaha untuk menghindari perbuatan yang dapat merusak nama baik orang tua kita. Apabila sanak saudara kita rajin menolong orang lain, dengan sendirinya pula, kita akan memiliki kebiasaan menolong orang lain.

2 hal ini perlu kira terus ingat, Hiri dan Ottapa. Malu untuk berbuat jahat, takut akan hasil dari perbuatan yang kita lakukan. Demikian ringkasan Dhammadesana Romo Pannajayo yang disampaikan, Semoga Bermanfaat

Readmore..

Bpk. Hemartha : Perjuangan dan Proses

| | 0 comments

Protokol : Romo pannajayo
Lilin ALtar : Bp.hasan
Dhammapada : Ibu Vina
Dhammadesana : Bp.Hemartha
Penulis : Yessica F.S. & Nanda Devi Nur

Pada hari jumat ini malam yang berbahagia untuk kita semua.
seperti yang kita tahu pada setiap hari jumat minggu ketiga kita kedatangan bhikku sanggha dari vihara Dhammacakkha jaya jakarta, tetapi pada malam hari ini bhante berhalangan hadir karena dikhawatirkan macet karena arus mudik. Walau pun demikian umat Vihara Surya Adhi Guna tetap bersemangat untuk datang datang ke vihara, walau pun memang tidak sebanyak seperti minggu-minggu sebelumnya, ini mungkin karena banyaknya kesibukan karena beberapa hari lagi akan lebaran. Dalam kesempatan ini, Bapak Hemartha yang diberikan kesempatan untuk mengisi dhammadesana. Beliau menjelaskan mengenai perjuangan dan proses dalam hidup ini. Di dalam agama buddha terutama di Vihara Surya Adhi Guna pasti ada yang namanya organisasi seperti ketua dan sejajarnya. Baik dalam kebaktian sekolah minggu (GABI), Remaja, maupun kebaktian ini tidak lepas dari sebuah kepengurusan, mulai dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, dan lain-lain yang berkecimpung ini seyogyanya kita ikut berperan aktif dalam sebuah kepengurusan. Jika kita terlibat dalam suatu organisasi kita mau tidak mau akan berusaha untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan dan pelayanan untuk banyak orang. Dalam pengertian kepengurusan tidak penting tertulis jabatan-jabatannya tapi yang penting adalah bagaimana kita dapat selalu mengembangkan Buddha dhamma dengan baik dan melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat untuk diri kita dan semua orang.
Kita tidak akan tahu berapa lama kita hidup di dunia ini, sadarilah hidup ini tidak kekal. Kadang kita di atas, suatu saat bisa saja berada di bawah. Oleh karna itu banyak-banyak lah untuk melakukan sesuatu hal yang terbaik! baik bagi diri sendiri dan juga orang banyak. "Saya pernah melihat dhammadesana dari samanera Abhasaro yang tidak lain kita kenal adalah saudara Mirad. Di dalam dhammadesanya itu diputarkan sebuah video. Didalam video itu digambarkan seorang ibu yang sedang melahirkan, lalu bayinya yang masih merah tersebut pun meluncur di udara berproses menjadi remaja, berproses lagi menjadi dewasa, lalu tua dan kemudian masuk ke dalam liang kubur. Begitu cepatnya kehdupan kita ini. Namun ketika kita renungkan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, sepertinya baru saja kemarin. Mengingatkan kita kalau kehidupan itu hanya sekejap mata.
lalu Bpk. Hemartha bercerita kalau dulu beliau sering melakukan latihan meditasi. "Yang saya alami pada saat saya masih sering melakukan meditasi, ketika tidur pun nyenyak tidak ada gangguan apapun. Kita pun sering kali mengalami kesusahan pada saat meditasi. Dalam tahap belajar kita bisa melakukan tahap yang lebih mudah dahulu seperti menyadari keluar masuknya udara".Yang jelas, untuk melakukan perbuatan baik banyak sekali hambatannya dan halanganya, secara jujur untuk bisa datang ke vihara pun kita masih merasa sukar apalagi ketika kita dalam keadaan tidak sehat pasti kita akan menjadi malas untuk berangkat ke vihara. Tetapi biasanya untuk berbuat sesuatu yang tidak baik terasa begitu mudah dan gampang unuk dilakukan.
Berbahagialah ibu-bapak serta saudara-saudari yang masih sempat datang ke vihara. Kehidupan kita sendiri ini tergantung pada karma sekarang dan karma yang masa lampau, dan kehidupan kita nanti juga ditentukan oleh perbuatan kita yang sekarang. Alam kehidupan berumah tangga kita tidak terbebas dari sila-sila yang harus kita jalan kan untuk melatih diri agar menjadi lebih baik oleh karna itu jalankan sila dengan sebaik-baiknya.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia...
Sadhu 3x

Readmore..

Friday, February 3, 2012

Bpk. Hemartha : Kasih orang tua sepanjang Jaman

| Friday, February 3, 2012 | 0 comments

Kebaktian Umum Jumat, 25 September 2009
Protokol : Wawah S.
Lilin Altar : Ibu Empang
Dhammapada : Ibu Lilayani ( Gatha 159 & 160 )
Dhammadesana : Bpk. Hemartha Viryajaya
Penulis : Tommy ( Facebook )

Hari jumat ini adalah hari pertama kebaktian umum setelah libur panjang libur lebaran 1430 H / 2009. Umat yang datang ke Vihara Surya Adhi Guna pun menjadi lebih sedikit dari biasanya. Banyak alas duduk yang terlihat kosong.

Pada kesempatan kali ini, Bpk Hemartha yang merupakan Ketua MBI Rengasdengklok bersedia untuk memberikan Dhammadesana pada kebaktian kali ini.

“ Pada kesempatan Dhammadesana kali ini saya akan memberikan Dhamma dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Yang tidak melulu terpaku pada text book. Karena penyampaian Dhamma dengan bahasa sehari-hari pastilah akan lebih mudah dimengerti ketimbang teori-teori yang menggunakan kata-kata mutiara. ” Ucap Bpk. Hemartha pada awal Dhammadesananya.

Bpk. Hemartha mengutip kata-kata Dhammapada yang disampaikan oleh Ibu Lilayani yakni disampaikan sebelum Dhammadesananya dimulai,
“ Diri kita adalah pelindung diri kita sendiri, tapi diri kita sungguh sulit untuk dikendalikan. ” Dari kata-kata yang dikutip oleh Dhammapada tersebut memang seperti itulah yang terjadi pada kenyataan hidup. Banyak orang sepertinya lebih mudah untuk mengendalikan orang lain, tapi sungguh sangat sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Dalam hal pengendalian diri, sebagai anak dan orang tua saja mungkin akan sangat sering terjadi bentrokan pendapat, pola pikir dan tindakan. Tapi yang namanya orang tua, kasih sayangnya tidak terbatas pada anak-anaknya. Apapun yang diperbuat oleh anak-anaknya, pastilah orang tua tetap menyayangi anak-anaknya. Seperti kata pepatah: “ Kasih orang tua sepanjang jaman, kasih saudara sepanjang galah ”. Dari ungkapan tersebut, sungguh besar kasih orang tua kepada anak-anaknya. Dan sebaliknya, anak-anak sudah seharusnya berbakti pada orang tuanya. Banyak orang mencari tempat pemujaan, tempat berlindung ke tempat-tempat yang jauh. Tapi sesungguhnya MUTIARA , ladang untuk berbuat baik, berada sangat dekat dengan kita. Yakni orang tua kita sendiri. Berbakti pada orang tua ketika orang tua kita masih hidup, adalah berkah utama.
Perbuatan baik atau pun perbuatan buruk yang kita lakukan pastilah akan berbuah sesuai dengan yang kita perbuat. Apabila kita selalu berbakti pada orang tua, sudah pasti kita akan berkumpul dengan orang-orang yang berbakti juga. Mendapatkan anak yang berbakti. Semoga perbuatan baik inilah yang terus dilakukan untuk kehidupan yang lebih baik.
Demikian Uraian Dhammadesana yang disampaikan oleh Bpk. Hemartha.
Lalu Bpk. Hemartha melanjutkan dengan pemberitahuan mengenai TOUR Khatina yang diadakan oleh Vihara Surya Adhi Guna untuk umat Vihara. Rencana para umat akan TOUR untuk mengikuti Khatina Puja di Panti Semedi Balerejo di Dekat Blitar. Acara ini diadakan oleh YM Bhante Uttamo Mahathera. Para umat sangat antusias untuk mengikuti Tour ini. Terlihat dari 40 bangku yang disediakan panitia sudah habis dari beberapa minggu yang lalu. Sehingga panitia terpaksa menyediakan 23 bangku tambahan menggunakan Bis kecil untuk umat tambahan. 23 bangku tersebut pun sudah habis terhitung hari ini. Jumat, 25 September 2009. Jadwalnya para rombongan Tour akan berangkat pada pukul 06.00 Pagi pada hari Jumat 9 Oktober 2009 langsung menuju Blitar Jawa Timur. Rencana Tour akan berlanjut ke Vihara Tuban, Gunung Kawi, dan ke Jembaran SURAMADU yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura.

Sekian Ringkasan Kebaktian ini.
Semoga Bermanfaat.

Readmore..

Wednesday, February 1, 2012

Samanera Abhasaro : Dari terang menuju terang

| Wednesday, February 1, 2012 | 0 comments

Kebhaktian Remaja, 28 November 2009
Protokol : Meylianawati Dewi
Penyalaan Lilin Altar :
Pembacaan Dhammapada : Mira dan Nira
Penulis :
Sidhi Agustiana Taniman

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhasa …. (3 X)

Malam ini Dhammadesana kebhaktian remaja di Vihara SURYA ADI GUNA diisi oleh Samanera Abhassaro. Beliau membabarkan Dhamma dessana tentang pandangan salah. Pandangan salah terdiri atas tiga macam yaitu:
1. Pandangan yang menganggap semua perbuatan tidak ada akibatnya
Contoh: ketika kita digigit nyamuk kemudian kita memukul si nyamuk, dan nyamuk itu pun mati. Apabila kita beranggapan bahwa perbuatan tersebut tidak ada akibatnya adalah salah. Perbuatan membunuh seekor nyamuk tetap membuat kita akan menanggung karma buruk dari perbuatan yang telah kita lakukan tersebut.
2. Pandangan yang menganggap semua perbuatan tidak ada sebabnya atau menganggap suatu kejadian adalah tiba-tiba terjadi, atau telah ada yang mengatur.
Pandangan ini adalah salah, karena sebenarnyas semua hal yang terjadi ada sebab-seba yang mendukungnya. Contohnya, pada hari ini kita dapat Vihara antara lain karena kita mempunyai waktu luang, karena ingin berbuat baik, dan masih banyak lagi.
3. Pandangan yang menganggap semua perbuatan itu tidak ada sebab dan akibatnya.

Setelah selesai menguraikan tentang pandangan salah, kemudian samanera Abhassaro membahas tentang EMPAT MACAM KEBAHAGIAAN yang terdiri atas:
1. Kebahagiaan yang timbul karena kita memiliki sesuatu.
Contohnya ketika kita memiliki HP baru atau kita mempunyai pacar baru maka kita akan merasakan kebahagiaan.
2. Kebahagiaan yang timbul karena kita dapat menikmati sesuatu yang kita miliki.
Contohnya ketila kita dapat menikmati aplikasi-aplikasi yang ada di Hp baru kita.
3. Kebahagian yang timbul karena kita tidak memiliki hutang.
Contohnya ketika kita membeli Hp baru, dan kita membelinya dengan kontan bukan dengan utang. Dengan membeli kontan (tanpa utanag) maka kita tidak akan merasa malu dan pusing-
4. Kebahagiaan tanpa cela.
Contohnya kebahagiaan yang timbul karena kita jalankan sila dengan benar.

Diakhir dhammadesana-Nya, Samanera memberika suatu empat perumpaan tentang alur kehidupan yang kita jalani, yaitu :
1. Dari gelap menuju gelap, maksudnya adalah seseorang yang memiliki kehidupan yang sudah buruk akan tetapi dalam kehidupannya ia malah melakukan perbuatan buruk. Akibat dari perbuatan buruknya ini maka dia akan menjauh dari terang dan menuju ke arah semakin gelap.
2. Dari gelap menuju terang, maksudnya adalah kehidupan seseorang yang memiliki kehidupan yang sudah buruk akan tetapi dalam kehidupannya ia melakukan perbuatan baik. Akibat dari perbuatan baiknya ini maka dia akan berjalandari arah gelap ke arah yang terang.
3. Dari terang menuju gelap, maksudnya adalah kehidupan seseorang yang memiliki kehidupan yang sangat baik akan tetapi dalam kehidupannya ia malah melakukan perbuatan buruk. Akibat dari perbuatan buruknya ini maka dia akan berjalan dari arah terang menuju ke arah yang gelap.
4. Dari terang menuju terang, maksudnya adalah kehidupan seseorang yang memiliki kehidupan yang sangat baik dan dalam kehidupannya ia pun melakukan perbuatan baik. Akibat dari perbuatan baiknya ini maka membuat dia akan berjalan dari arah terang menuju ke arah yang terang.

Samanera pun berpesan agar kami semua termasuk golongan manusia yang harus berjalan menuju ke arah terang. Lakukan perbuatan baik dan hindari perbuatan yang jahat. Demikianlah uraian ringkasan kebhaktian remaja, 28 November 2009. Semoga bermanfaat.
Sadhu...! Sadhu...! Sadhu...!

Readmore..

Romo Pannajayo : Lemah Lembut

| | 0 comments

Protokol: Antoni kho ( Facebook )
Penyala Lilin Altar:
Fellita Anjani (Facebook)
Pembaca Dhammapada: Mellisa Rosia (Facebook) dan Meylianawati Dewi ( Facebook )
Pengumuman1 : Grace Chandra ( Facebook )
-design jaket.
-Prosesi puja untuk Kahtina
Pengumuman2 : Sidhi Agustiana Taniman ( Facebook )
-untuk yang sekolah di Yos Sudarso Karawang dan sekolah swasta lainnya, jika ingin surat aktivitas harus rajin datang ke Vihara. Karena nanti akan di absen.
Dhammadesana : Romo Pannajayo
Penulis : Nadila (Facebook)

Pada malam yang berbahagia ini, adik-adik dapat hadir ke Vihara walaupun ini hari libur panjang dimana kebanyakan orang sudah pergi berlibur bersama keluarga. (pembuka).

Romo memulai ceramah Dhammanya dengan tema lemah lembut. Kita sebagai manusia yang terlahir sebagai makhluk yang harus bersosialisasi. Kita tidak bisa hidup tanpa mengandalkan orang lain. Kita membutuhkan semua orang. Maka dari itu, sikap kita terhadap orang lain harus lemah lembut. Jangan sampai kita berbicara kasar kalau kita membutuhkan orang lain.
Beberapa tahun yang lalu ada seorang teman saya yang mengatakan bahwa “saya tidak membutuhkan orang tua saya lagi!”. Pada saat itu, ia sedang bertengkar dengan orang tuanya. Akhirnya beliau pergi dari rumah. Setelah saya hubungi, ternyata ia ada di Jakarta. Di Jakarta ia bekerja dengan susah payah. Orang tua di rumah menanti anaknya untuk segera pulang. Saat itu saya bujuk ia untuk pulang. Akhirnya ia pulang bersama saya. Setelah sampai di rumah, ia meminta maaf pada orang tuanya. Dengan gembira Orang tuanya pun memaafkan anaknya. Setelah itu, ia dinikahkan orang tuanya. Kehidupannya menjadi membaik setelah bantuan dari orang tuanya. Sampai akhirnya ia bisa mandiri sendiri. Lalu saat ia bisa membiayai keluarganya sendiri, saya bertanya “kamu masih membutuhkan orang tua kamu tidak?”
Beliau menjawab “ ya, saya masih membutuhkan orang tua saya”.

Dari cerita tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa kita masih membutuhkn orang lain apalagi orang tua kita. Walaupun kita sudah mandiri, kita tetap membutuhkan orang tua kita untuk menyokong mereka. Seperti yang tertulis pada Manggala Sutta, Berbakti pada ayah dan ibu adalah berkah utama. Kalau kita tidak membutuhkan orang lain, siapa yang mau menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan? Maka dari itu, kita harus memperlakukan mereka dengan Lemah Lembut. Karena Lemah Lembut adalah salah satu modal untuk mencapai kebahagiaan tertinggi.

Semoga semua makluk hidup berbahagia.
Sadhu… sadhu… sadhu…

Readmore..

Tuesday, January 17, 2012

KALAYA-MUTTHI-JATAKA No. 176

| Tuesday, January 17, 2012 | 0 comments

“seekor monyet yang bodoh”. Kisah ini diceritakan Sang Bhagava di jetavana, mengenai raja di Kosala.
Pada suatu musim penghujan, kekecewaan terjadi di perbatasan. Pasukan yang ditempatkan disana, setelah dua atau tiga pertenpuran mereka gagal menaklukan musuh, mereka mengirimkan suatu pesan kepada raja menyangkut musim, menyangkut hujan ketika memulai petempuran, dan berkemah ditaman Jetavana. Kemudian raja mulai mempertimbangkanmusim ini tidak baik untuk suatu ekspedisi, tiap lubang dan cekungan penuh dengan air, jalan berat, aku akan pergi mengunjungi Sang Bhagava. Ia yakin akan bertanya “jauh kemana”, ketika saya bercerita kepadanya ia pasti akan menceritakan kepada dia. Itu adalah tidak hanya didalam hal-hal yang menyangut hidup masa depan yang master (kita/kami) melindungi aku, tapi ia melindungi hal yang mana kita sekarang melihat. Maka perjalananku adalah tidak berhasil bai, ia akan say’ adalah sustu waktu tidak baik untuk pergi, tuan “; tetapi jika aku adalah untuk berhasil baik, ia akan tidak katakan apapun. “maka kedalam taman yang ia datang memberi hormat Sang Bhagava, dan setelah sambuta master duduk pada satu sisi.

Readmore..

Monday, January 16, 2012

Sidhi : Kalyanamitta

| Monday, January 16, 2012 | 0 comments

Dhammadesana : Sidhi Agustiana Taniman
Dhammapada : Tommy
Penulis : Tommy

Boleh dibilang hari yang cukup istimewa pada kebaktian remaja kali ini. Kenapa? karena pada kebaktian kali ini, Sidhi A.T. yang merupakan Ketua dari PMV SAG 2009-2010 bersedia untuk mengisi Dhammadesana kali ini. Saya sendiri mengenal sosok Sidhi belum lama. Sekilas, Sidhi terlihat pendiam, malu-malu dan grogian. Tapi hari ini, pandangan saya tentang ketua PMV yang baru ini berubah. Walau cara berbicara yang dibawakannya tidak sebagus penceramah lainnya karena aksen pembicaraanya yang belum terbiasa, tapi saya sungguh kagum dengan sosok ketua PMV yang satu ini. Sama seperti halnya Yessica F.S. yang sebelum menjadi ketua PMV 2008-2009 agak pendiam, setelah menjadi ketua PMV, menjadi lebih aktif. Saya yakin, apabila terus dilatih, Sidhi pun akan bisa menjadi pembicara yang baik.
Isi dari Dhammadesana yang Sidhi bawakan sangat bagus, seperti berikut :

Kalyanamitta berasal dari kata Kalyana yang artinya teman dan Mitta yang artinya baik atau bagus. Jadi Kalyanamitta berarti teman yang baik atau bagus yang dapat menjadikan diri kita selalu waspada dalam menempuh kehidupan dunia dan setelah meninggal. Terdapat empat macam sahabat yang dipandang berhati tulus ( suhada ) : yaitu sahabat penolong ( upakaro mitto ), sahabat pada waktu senang dan susah ( samanasukha dukkhomitto ), sahabat yang memberi nasehat baik ( atthakhayamitto), dan sahabat yang bersimpati ( anukampakamitto ).

1. Ciri-ciri sahabat yang suka menolong ( Upakaromitto ) adalah :
1. Ia yang menjaga dirimu sewaktu lengah;
2. Ia yang menjaga dirimu sewaktu engkau lengah;
3. Ia yang menjaga dirimu sewaktu dalam ketakutan;
4. Ia memberi bantuan dua kali daripada yang engkau perlukan.
2. Ciri-ciri sahabat pada waktu senang dan susah ( Samanasukha dukhomitto )
1. Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu;
2. Ia menjaga rahasia-rahasia dirimu;
3. Ia tidak meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan;
4. Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu.
3. Ciri-ciri sahabat yang memberi nasehat baik ( Atthakhayamitto ) yaitu:

1. Ia mencegah dirimu berbuat jahat;
2. Ia menganjurkan dirimu untuk berbuat benar;
3. Ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar;
4. Ia menunjukan jalan ke surga.
4. Ciri-ciri sahabat yang bersimpati ( Anukampakamitto )

1. Ia tidak merasa gembira terhadap kesengsaraanmu;
2. Ia merasa senang atas kesejahteraanmu;
3. Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu;
4. Ia membenarkan orang lain memujimu.

Akalyanamitta ( Teman yang tidak baik )
Akalyanamitta artinya teman atau kawan yang tidak baik atau jahat yang berkeinginan untuk menjerumuskan diri kita sehingga mengalami penderitaan ( dukkha ). Terdapat empat orang yang harus dipandang sebagai musuh yang berpura-pura sebagai sahabat (amittamittapatirupapaka) yaitu : orang yang tamak ( Annadathuro ), orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat sesuatu ( Vaci paramo ), penjilat ( Annuppiyabhani ) dan kawan pemboros ( Apayasahayo ).

1. Ciri-ciri orang yang berpura-pura sebagai sahabat ( Annadathuharo ) yaitu:
1. Ia yang tamak;
2. Ia memberi sedikit dan meminta banyak;
3. Ia melakukan kewajibannya karena takut;
4. Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.

2. Ciri-ciri seorang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat sesuatu ( Vaci paramo ) yaitu:
1. Ia menyatakan bersahabat berkenaan dengan hal-hal yang lampau;
2. Ia yang menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang;
3. Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong;
4. Bila ada kesempatan untuk membantu, ia menyatakan tidak sanggup.
3. Ciri-ciri seorang penjilat ( Annupiyabhani ) yang berpura-pura sebagai sahabat yaitu:
1. Ia menyetujui hal-hal yang salah;
2. Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar;
3. Ia akan memuji dihadapanmu;
4. Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.
4. Ciri-ciri seorang pemboros ( Apayasahayo ) yang berpura-pura sebagai sahabat yaitu:
1. Ia menjadi kawanmu apabila enkau gemar minum minuman keras;
2. Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berkeliaran di jalan-jalan pada waktu yang tidak pantas;
3. Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan;
4. Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi.


Semoga bermanfaat.

Readmore..

MAKATAKKA JATAKA No. 173

| | 0 comments

(68) “Ayah lihatlah, seorang pengikut yang tua dan miskin dst.  Kisah ini dikisahkan oleh sang maha guru di jetavana tentang sesuatu pemahat intinya akan berkenaan denga  keahlian adalah dalam buku XIV .
Disini sang maha guru berkata “ wahai para siswa tidak hanya sekali ini saja memiliki pengikut seorang penjahat, pada masa lampau ketika ia terlahir menjadi seekor kera dia mengunakan siasat untuk memanaskan suasana “. Kemudian dia mengisahkan kisah yang telah lampau pada suatu masa ketika brahmadata memerintah di  banares Bodhisattva lahir di keluarga brahmana di desa kali ketika ia menginjak dewasa dia menerima pendidikan di  Yakasila dan ia  mengunakan pendidikan tersebut untuk mengarahkan hidupnya.

Istrinya pada saat itu melahirkan seorang putra dan ketika putranya mulai berlatih berjalan  sang istri tersebut  meningal, suaminya melakukan pemahkamannya dan ia berkata “ apa artinya bagiku sekarang ? saya dan anak saya akan hidup sebagai  petapa “  meninggalkan daerah nya dengan di iringgi air mata ia membawa anaknya keHimalayadan memandikannya sebagai praktisi keagamaan dan hidup serta tinggal di akar-akar pohon dan makan buah dari pohon yang ada di hutan.

Pada suatu hari sepanjang musim hujan ketika terjadi hujan lebat ia membakar tongkat untuk menghangatkan tubuh dan terbaring di tumpukan jerami dan di hangatkan oleh api dari hasilk pembakaran tongkat kemudian putranya duduk di samping sembari mengosok kakinya.
Pada saat itu ada seekor kera liar dalam keadaan mengigil kedinginan mendekati api yang dinyalakan oleh sang petapa “ sekarang”, pikirnya, “ seumpama saya datang ke sana secara lebih dekat mereka akan menjerit dan berkata ada kera ! sehingga akan mengusir saya kembali, saya sebaiknya tidak datang kesanamenghangatkan diri sendiri karena saya sudah mempunyai  dia menangis”.

“ Saya harus mendapatkan pakaian pertapa itu dan datang kesanadengan penyamaran “  maka dia mengambil pakaian dari petapa yang telah meninggal  mengumpulkannya dalam keranjang dia bergerak dengan cepat membuka pintu gubuk dengan membungkuknan badannya  di samping pohon palm.  Putra pertapa melihatnya dan berteriak pada ayahnya “ tidak mengetahuinya dia itu adalah kera “ di sini ada  pertapa dalam keadaan mengigil kedinginan datang kearah perapian “ (69) kemudian dia berkata pada bapaknya dengan bait syair pertama agar mengijinkan petapa yangmalangikut merasakan kehangatan api .
“ Ayah lihatlah ! ada seorang pertapa yangmalangyang berada di smaping pohon palm disana di sini kita memunyai satu gubug untuk tinggal maka ijinkan ia untuk tinggal bersama kita untuk berbagi rasa kepada kita.

Ketika bodhisattva mendengar hal itu dia segera pergi ke arah pintu untuk melihatnya, tetapi ketika ia melihat makhluk yang di sangka seorang pertapa  kemudia ia berkata oh … putraku manusia tidak mempunyai wajah seperti itu ia adalah seekor kera dan dia tidak harus berada bersama kita !. kemudian ia mengulangi syair bait ke dua “ dia akan mengotori tempat kita jika ia masuk ke dalam pintu maka ia seperti muka itu
-     mudah dikatakan
-     tidak baik dan tidak cocok bila dikandung dan dilahirkan dalam keluarga brahmana.
“ Bodhisattv mempunyai suatu pikira  ia menangis apa yang kau lakukan dan kau inginkan disana? “
Melemparinya dan  menuntutnya pergi sang kera meninggalkan pakaian pertapa dan tambahlah disanabeberapa pohon kemudian dia mengubur dirinya sendiri di hutan.
Kemudia Bodhisattva mengolah dan melatih untuk hal mulia sampai dia mencapai sifat-sifat brahma dan lahir di alam brahma .

Ketika sang maha guru mengakhiri cerita ini dia mengetahui tumimbal lahir “ laki-laki yang  licik itu adalah sang kera di atas rahula adalah sang anak adalah dari pertapa dan saya sendiri adalah petapa itu”.

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

mengapa kita beragama buddha?

| Thursday, January 12, 2012 | 1 comments

apa itu Agama Buddha??
Agama Buddha adalah agama yang berasal dari india, agama ini ditemukan oleh petapa gotama yang telah mencapai pencerahan yang disebut buddha, sehingga agama ini dinamakan agama buddha sesuai dengan tingkat pencerahan ini. tingkat pencerahan ini bisa dicapai oleh semua orang yang tekun belajar dan mempraktekkan perbatan baik dan meditasi.

mungkin masih banyak orang yang belum mengenal agama buddha bertanya-tanya apakah inti ajarannya sama dengan milik saya?

Pada dasarnya semua orang ingin hidup bahagia kan?, oleh karena itu fungsi agama adalah menuntun umatnya untuk mencapai kebahagiaan, sekarang muncul pertanyaan agama mana yang tidak mengajarkan umatnya untuk mencapai kebahagiaan? Semua agama mengajarkan dan menganjurkan umatnya untuk berbuat baik agar memperoleh kebahagian seperti yang mereka harapkan tetapi mungkin jalan atau caranya saja yang berbeda dalam mencapainya.

kalau semua agama mengajarkan kebaikan lalu mengapa kita harus beragama I,K,H,B dll.? tentu semua itu tidak bisa kita paksakan, agama adalah kecocokan pribadi masing2, ibarat kita makan ada makanan yang hanya mengenyangkan tetapi rasanya kurang enak, ada yang tidak enak sama sekali dan tidak mengenyangkan,ada yang enak tetapi tidak mengenyangkan, dan ada yang enak porsinya pas sesuai dengan makanan sehat sehingga tidak mengenyangkan maupun kurang, dari semua porsi tersebut kita memilih yang mana? itulah agama unik bukan.

dibalik persamaan itu ada perbedaan antara agama buddha dengan yang lain yaitu jalan untuk mencapai kebahagiaan yang sudah jelas tertulis sebagai inti dari ajaran buddha yaitu
Tidak melakukan segala bentuk kejahatan
Menambah kebajikan
Mensucikan batin
Inilah ajara semua Buddha (dhammapada, XIV:183).
apabila dilihat dari inti ajarannya, jelas bahwa buddha mengajarkan kita untuk mentranformasi diri menjadi pribadi-pribadi yang baik, yang unggul, dan tercerahkan.

kalau orang ingin bahagia jangan hanya menunggu berkah turun tetapi bagaimana kita bisa mengkondisikan agar kebahagiaan itu bisa muncul. tindakan yang kita lakukan melalui pikiran maupun jasmani semuanya berawal dari pikiran. dalam agama buddha "pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. apabila dengan pikiran jahat seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani maka penderitaan akan mengikutinya, sebaliknya apabila dengan pikiran bersih seseorang berbicara atau berbuatdengan jaasmani maka kebahagiaan akan mengikuti pelakunya" (dhammapada, I:1-2). oleh karena itu untuk menghindari pikiran dari sifat2 destruktif kita perlu melatih pikiran kita dengan meditasi.

manfaat meditasi antara lain: dapat mencegah munculnya pikiran yang buruk, mengembangkan pikiran yang baik, membuat hidup lebih tenang, tidur bisa lelap dll. sebaiknya meditasi ini dilakukan secara rutin agar kita dapat merasakan hasil yang maksimal.

Readmore..

MOTIVASI

| | 0 comments

Menjalani Hidup Dengan Berani
Hidup ini dapat menjadi petualangan yang menantang atau tidak berarti sama sekali. Demikaian bunyi kata bijak dari seorang yang luar biasa dengan cacat buta dan tuli bernama Helen Keller. Apa yang dikatakan bener adanya. Berapa banyak dari kita selama ini takut untuk mencoba, takut untuk melangkah, takut untuk melakukan sesuatu yang menurut kita bahwa kalau itu tercapai akan membuat kita bahagia, membuat kita berhasil dan bangga? Kita sudah membayangkan dulu hal-hal yang belum tentu terjadi, yang akhirnya mematikan semua potensi, energi, keinginan,kepuasan dan kebesaran yang kita inginkan.

Membangun Hidup yang lebih baik di awali dari SIKAP

Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita menjadi lebih baik dari yang lain, padahal mereka tidak lebih baik dulunya dalam pendidikan atau status sosialnya bahkan miskin melarat? Bahkan dalam sebuah Negara pun sama. Mengapa ada Negara-negara yang miskin sumber daya alamnya tetapi mampu menjadi Negara maju? Kita bisa lihat contoh dari beberapa Negara seperti Singapura, Jepang, Korea dll. Mereka menjadi Negara maju meskipun tidak memiliki sumber daya alam. Apa yang membuat perbedaan semua itu? Itu adalah SIKAP. Benar, sikaplah yang membuat seseorang berbeda satu dengan yang lain, termasuk Negara. Bahkan seseorang yang memiliki bakat hebatpun belum tentu mencapai keberhasilan dalam hidupnya.Orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka memiliki sikap untuk tidak menerima apapun yang diberikan oleh nasib. Mereka mampu merespon setiap hal yang tidak baik yang terjadi dalam hidup nya untuk melakukan sesuatu agar mereka menjadi orang yang mereka inginkan. Sementara orang yang gagal menerima segala yang terjadi dengan mengatakan itulah nasib mereka, mereka pantas menerimanya.
Hidup Adalah Pilihan

Saudara-saudara se Dhamma, Pernahkah terlintas dalam pikiran kita mengapa kita melihat ada orang lain di sekeliling kita hidup berkecukupan dan lebih bahagia dari yang lain? Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita hidup dengan lebih mudah tanpa harus bersusah payah? Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita mendapatkan apa yang mereka inginkan sementara yang lain tidak? Kita memang hidup sesuai dengan karma yang kita warisi. Apapun yang sudah kita lakukan, itulah karma sebagai buahnya. Kita berhubungan dengan orang lain adalah akibat karma kita. Sayangnya kata ‘karma’ itu membuat kita akhirnya ‘berlindung’ di atas ketidakmampuan dan ketidakberdayaan kita. Kita dengan mudah menyerahkan nasib hidup kita karena memang sudah di gariskan seperti itu, karena karma nya sudah begitu.

Readmore..

Menaklukkan Dewa Brahma Baka

| | 0 comments

Duggaha ditthi bhujagena sudattha hattham Brahmam visudhi jutimiddhi bakabhidhanam Nanagadena vidhina jitava munindoTan tejasa bhavatu te jayamangalani

Bagaikan ular yang melilit pada lengan,Demikian pandangan salah dimiliki oleh Baka, Dewa Brahma yang memiliki sinar dan kekuatanRaja Para Bijaksana menaklukkannya dengan obat pengetahuanDengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna

Ketika Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Beliau mengetahui bahwa Dewa Brahma Baka, mempunyai pandangan yang salah. Ia berpendapat bahwa Brahma-loka (=Alam Brahma) adalah kekal, tetap untuk selama-lamanya, abadi, tidak berubah; selain di alam Brahma tidak ada penyelamatan atau pembebasan secara menyeluruh.

Di dalam kelahirannya yang terdahulu, Dewa Brahma Baka yang berlatih meditasi, terlahir kembali di Surga Vehapphala. Beliau berada di sana selama lima ratus kalpa 2), lalu terlahir kembali di Surga Subhakinna. Sesudah berada di sana selama enam puluh empat kalpa, ia terlahir kembali di Surga Abhassara, di sana ia berada selama delapan kalpa. Di Surga Abhassara inilah ia mempunyai pandangan salah. Ia lupa bahwa ia pindah dari Alam Brahma yang tertinggi dan terlahir di Alam Surga yang lebih rendah yaitu Surga Abhassara.

Sang Buddha mengetahui pandangan yang salah ini. Beliau lalu menghilang dari Vihara Jetavana dan muncul di Alam Brahma. Vasavatti Mara mengetahui maksud Sang Guru Agung ini; dan ia berniat untuk menghalangi, ia lalu pergi ke Alam Brahma yang sama.

Ketika Sang Buddha mulai berbicara dengan Dewa Brahma Baka, Mara menyela pembicaraan dengan mengatakan bahwa Dewa Brahma Baka amat bijaksana dan mempunyai kekuatan terhadap Dewa Brahma lainnya. Bahwa ialah yang menciptakan dunia ini, menciptakan Gunung Maha Meru (nama gunung tertinggi di dunia ini), dan menciptakan dunia-dunia lain; ia pula yang menentukan kasta atau tingkatan suatu mahluk; ia pula yang menciptakan bermacam-macam binatang.

Mara berkata kepada Sang Buddha :
"Tidak ada seorang pertapapun sebelum Kamu yang berpikir bahwa dunia ini tidak abadi. Dan sesudah mempelajari bahwa segala sesuatu itu tidak abadi, mereka langsung masuk ke neraka. Ada beberapa Dewa Brahma yang menyangkal hal ini, mereka menyatakan bahwa segala sesuatu adalah abadi, maka mereka terlahir kembali di Alam Brahma. Karena itu, lebih baik Kamu mengajarkan hal yang sama, seperti yang para Dewa Brahma lakukan. Saya memberiMu nasehat ini, kalau Kamu mengajarkan doktrin yang sama, maka Kamu akan memperoleh hadiah yang sama pula; tetapi kalau Kamu menyangkalnya maka Kamu akan hancur."

Tetapi Sang Buddha menjawab :
"Saya tahu siapa kamu ini. Kamu adalah Mara si Penggoda, janganlah kamu berpikir kamu dapat mengelabuiKu."

Kemudian Dewa Brahma Baka berkata bahwa Alam Brahma selalu ada, di mana tidak ada kehancuran ataupun kematian. Tidak ada perpindahan dari satu alam ke alam lain; segala sesuatunya selalu kekal, tetap, abadi, mutlak dan tidak berubah; selain di Alam Brahma tidak ada keselamatan. Dan banyak Para Buddha sebelum Buddha Gotama, kemanakah mereka lenyap? Tidak ada seorangpun yang dapat mengatakan mereka pergi kemana; dan akan lebih baik apabila Buddha Gotama merasa malu dengan doktrinNya, dan lebih baik menerima doktrin yang sama dengan para Dewa Brahma.
Tetapi Sang Buddha Gotama memperlihatkan kemampuanNya yang luar biasa kepada Dewa Brahma Baka, dengan menjelaskan tentang enam kelahiran Dewa Brahma Baka yang terdahulu, dimana Beliau sendiri menghilang tanpa diketahui berada di mana.

Sang Buddha lalu menjelaskan :
Dalam salah satu kelahirannya, Dewa Brahma Baka adalah seorang pertapa yang bertempat tinggal di tepi sungai. Pada waktu itu, ada lima ratus orang pedagang datang dengan membawa keretanya ke tempat yang sama pula, mereka amat sopan dan ramah. Tidak lama kemudian, sapi jantan pertama yang menarik kereta, pulang kembali ke rumah dan diikuti sapi-sapi jantan lainnya. Keesokan paginya, para pedagang itu tidak mempunyai minyak, makanan ataupun air minum, mereka amat kelaparan dan kehausan. Mereka amat lemas, hanya berbaring saja dengan berpikir mereka akan mati di sana. Tetapi pertapa yang melihat mereka dalam kesulitan membawakan air minum, sehingga para pedagang itu selamat dari kematian.

Pada lain waktu, beberapa pencuri mencuri di suatu desa, mereka mengambil barang yang mereka sukai. Si Pertapa yang mengetahui perbuatan para pencuri itu, lalu menciptakan suara-suara dari barang-barang yang mereka curi itu, dalam lima tangga nada yang cukup keras, sehingga para pencuri itu terkejut dan membuang barang-barang yang mereka curi. Dengan ketakutan mereka melarikan diri, karena mengira raja datang.

Pada kesempatan lain, penduduk dari dua desa yang bersisian di tepi sebuah sungai setuju pergi bersama-sama naik sebuah kapal untuk berdagang. Kepergian mereka diketahui oleh Naga jahat yang berniat ingin menghancurkan mereka, tetapi pertapa yang mengetahui niat jahat Naga itu lalu menampakkan dirinya sebagai garuda raksasa. Garuda itu menakut-nakuti dan menyerang Naga jahat itu, sehingga Naga tersebut terbang ketakutan tanpa menyentuh para pedagang. Mereka selamat dari mara bahaya.

Karena tindakan-tindakannya yang penuh dengan cinta kasih kepada mahluk lain inilah, yang menyebabkan pertapa itu terlahir kembali di Alam Brahma.

Sang Buddha Gotama menunjukkan kemampuanNya yang luar biasa sebagai seorang Buddha dalam membabarkan Dhamma, menjelaskan tentang Empat Kesunyataan Mulia. Sehingga pada akhirnya pikiran dari seribu dewa di Alam Brahma terbebas dari kemelekatan dan pandangan keliru.

Dewa Brahma Baka mengakui bahwa apa yang Sang Buddha Gotama katakan adalah benar, dan mengakui pengetahuan Sang Guru Agung yang luar biasa, sehingga ia menyatakan diri berlindung kepada Sang Tri Ratna, demikian pula para Dewa Brahma lainnya. Sang Buddha lalu pulang kembali dari Alam Brahma ke Vihara Jetavana.

Keterangan :
1. Brahma : Dewa istimewa yaitu Dewa yang mempunyai Jhana
2. Kalpa : Umur satu masa dunia
sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=138&multi=T&hal=0

Readmore..

Mengenai Nibbana

| | 0 comments

(1) Ada kelompok Buddhis yang menyatakan bahwa Nibbana adalah pemusnahan diri, namun mereka juga menolak bahwa Sang Buddha mengajarkan " Kemusnahan diri ". Mereka mencoba menjelaskan kontradiksi ini dengan berkata : " Pemusnahan Diri hanya mungkin terjadi, bila ada pribadi yang akan dimusnahkan. Namun pada kebenaran akhir, tidak ada suatu yang disebut "Pribadi". Lalu, bagaimana mungkin Nibbana adalah " Pemusnahan Diri ", bila tidak ada pribadi yang akan musnah ?"
Dibalik permainan kata diatas, mereka juga tetap mengatakan Nibbana adalah kekosongan, dimana pribadi tidak ada lagi dalam bentuk apapun.

Banyak kesempatan bagi Sang buddha untuk dapat menyatakan bahwa mereka yang mencapai Nibbana telah hilang keberadaannya, tapi Beliau tidak pernah mengatakan demikian.
Sekali waktu, Upasiva bertanya kepada Sang Buddha :
Mereka yang telah pergi (ke Nibbana),
Apakah mereka musnah keberadaannya,
Atau mereka tetap tak lekang selamanya ?
Jelaskan pada saya, O, Guru bijaksana
Sebab Kaulah yang mengetahui sejelasnya.
Lalu, Sang Buddha menjawab :
Tak dapat dinilai mereka yang telah pergi.Yang oleh seseorang mungkin dikatakan sebagaiKetika semua fenomena telah tiada,Semua cara untuk menggambarkannya juga tiada.

(2) Sekali waktu, seorang pengembara bernama Vacchagota bertanya pada Sang Buddha, tentang keberadaan mereka yang telah mencapai Nibbana, mereka timbul ( dengan kata lain, tetap keberadaannya) atau tidak timbul ( dengan kata lain, hilang keberadaannya).
Sang Buddha menolak untuk memberi jawaban, dan menerangkan pada kita bahwa Beliau menolak, karena Nibbana adalah keadaan yang tak dapat diterangkan dengan kata-kata.
" Tapi, Gotama yang bijaksana, dimana timbulnya para siswa yang batinnya telah terbebaskan itu ?"
"Istilah 'Timbul' tidak dapat terpakai."
" Bila demikian, bagaimana kalau dikatakan "Tidak timbul".
" 'Tidak timbul', juga tidak terpakai."
" Bila demikian, apakah mereka 'Timbul dan juga tidak Timbul'?"
" 'Timbul dan juga tidak Timbul', juga tidak terpakai ".
" Bila demikian, mereka 'tidak timbul dan juga tidak tidak timbul' ?".
" 'Tidak timbul dan juga tidak 'tidak timbul', juga tidak terpakai."
" Dengan demikian, saya kehilangan jejak dalam hal ini, Gotama yang baik, saya bingung, dan kepuasan yang saya dapati pada pembahasan kita yang lalu, sekarang telah tiada lagi...."
" Kesadaran Tathagata terbebas dari pengungkapan-pengungkapan; dia begitu dalam, tak terukur, tak diketahui dalamnya seperti lautan.'timbul dan juga tidak timbul' tak terpakai,'tidak timbul dan juga tidak tidak timbul' juga tidak terpakai."

(3). Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seorang yang telah mencapai Nibbana, keberadaannya tidak ada lagi, adalah bahwa semua ciri-ciri yang dihubungkan dengan keberadaan- lahir, mati, jasmaniah, bergerak dalam ruang dan waktu, dan berperasaan sebagai suatu pribadi sendiri - tidak lagi dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan Nibbana.
Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seorang yang telah mencapai Nibbana, keberadaannya tidak musnah, adalah tepat seperti itu.
Dimensi Nibbana tak dapat digambarkan secara tepat dengan bahasa duniawi, pula keberadaan Nibbana tak dapat dibayangkan oleh pikiran duniawi.

(4). Walaupun sulit digambarkan, namun Sang Buddha memberi pada kita gambaran umum tentang keberadaan Nibbana. Dengan menggambarkan batin manusia, Sang Buddha berkata ;
namun dia ternodai oleh kekotoran batin Orang awam tidak menyadarinya, oleh karenanya mereka tidak menjaga batinnya. dan dapat dimurnikan dari kekotoran batin yang sebelumnya memang tidak ada. Siswa yang agung mengerti hal itu, oleh karenanya mereka menjaga batin mereka.
(Kalau kita melihat Sabda Sang buddha yang ini, maka sebenarnya terjemahan didalam Dhammapada XIV ; 183 yaitu : “Janganlah berbuat kejahatan, Perbanyaklah perbuatan baik, Sucikan hati dan pikiran , Inilah ajaran semua Buddha”, semestinya diterjemahkan sebagai Sucikan Batin....)

Dengan kata lain, batin adalah suci pada awalnya (pabhassaram idam cittam), kemudian dinodai kotoran batin yang sebenarnya adalah sesuatu yang asing bagi batin. Bila kotoran batin dibersihkan, maka batin kembali suci lagi. Sang Buddha bersabda :
Dimana tanah, air, api dan udara tak berpijak ? Dimanakah yang panjang dan pendek , kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa, akhirnya musnah?

Jawabnya adalah : Itu adalah kesadaran dari seorang Yang Agung – tak tertandai, tak terikat, dan bercahaya. Disana tak ada tempat tanah, air, api dan udara itu berpijak. Disana yang panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa akhirnya musnah. Bila kesadaran telah musnah, maka demikian pula semuanya itu. (Digha Nikaya I : 223)
Nibbana adalah “alam” dimana jasmaniah dan semua keberadaan berlawanan-pasang-panjang dan pendek, besar dan kecil, murni dan tidak murni- tidak ada lagi serta batin tak tertandai lagi (anidassanam), tak terikat(anatam) dan bercahaya(sabbo pabham). Bercirikan sebagai keadaan kekal (nibbanapadam accutam) dari kemurnian (suddhi), kebebasan (vimitti) dan kebahagiaan tertinggi (nibbanam paramam sukham).

(5). Sang Buddha juga memberitahu, bahwa Nibbana dicapai dalam dua tingkatan atau cara. Pertama, mereka yang mencapai Nibbana, dengan batin yang telah bebas, tapi karena jasmani-nya masih ada, maka dia masih menjadi obyek penderitaan jasmaniah. Ini disebut Nibbana dengan sisa dasar (saupadisesa nibbana). Lalu, setelah mereka mati, batin juga dibebaskan dari penderitaan jasmaniah dan seorang mencapai Nibbana sempurna. Ini disebut sebagai Nibbana tanpa sisa dasar (anupadisesa nibbana), atau sering pula disebut sebagai Nibbana Sempurna (parinibbana).
(6). Walau kita hanya dapat mengerti sepenuhnya keadaan Nibbana setelah kita mengalaminya sendiri, namun kita tetap dapat mengetahui keberadaan keadaan itu. Pertama, kita dapat menyimpulkan keberadaannya. Apabila ada dimensi disertai kelahiran, kematian, kekotoran batin dan kejadian, maka dapat disimpulkan bahwa ada dimensi tanpa itu. Naskah Buddhis kuno menyebutkan :

Disitu pasti pula ada Nibbana.Disitu pasti pula ada kebajikan.Keadaan”tak terlahir”, dengan demikian juga ada.


Kedua, kita dapat mengetahui adanya keadaan seperti Nibbana, karena Sang Buddha mencapainya, dan Beliau dengan tegas menjelaskan keberadaannya. Beliau bersabda : Ada sesuatu yang Tak Terlahirkan, Tak Terjadi, Tak Terbuat, Tak Tergabung. Bila tidak ada yang Tak Terlahirkan, Tak Terjadi, Tak Terbuat, Tak Tergabung, maka tidak akan ada jalan untuk bebas dari Terlahir, Terjadi, Terbuat dan Tergabung. Tetapi karena adanya Yang Tak Terlahir, Tak Terjadi, Tak Terbuat, Tak Tergabung, maka ada jalan untuk terbebas dari Terlahir,

Sekali lagi Beliau menegaskan keberadaannya, sebagai berikut : dimana tidak ada tanah, air, api dan udara, dimana tidak ada Lingkup ruang tak terbatas, Kesadaran Tak terbatas, Kehampaan, di bumi seberang ataupun keduanya, tidak ada matahari, tidak ada bulan, dimana tidak ada yang datang untuk dilahirkan,tidak ada yang pergi ke kematian, tidak ada yang terjatuh dan timbul. Inilah sebenarnya akhir penderitaan

(7). Dapatkah setiap orang mencapai kebahagiaan dan kebebasan Nibbana ? Bila dapat, apakah setiap orang pada akhirnya akan mencapainya?
Jawaban untuk hal yang pertama adalah jelas, yakni bahwa setiap orang dapat mencapai Nibbana, dan justeru Sang Buddha senantiasa mendorong setiap orang untuk menjadikan Nibbana tujuan hidupnya serta agar berupaya sekuatnya untuk mencapainya. Senandung para wanita yang telah mencapai Nibbana, terdengar lantang dan jelas, dalam menjawab pertanyaan ini.
Keadaan abadi ini telah banyak yang mencapainya,
Dan tetap dapat dicapai saat inipun,
bagi siapa yang menjalankannya sendiri,
Tapi tidak bagi yang tidak berusaha sekuatnya.
(Therigattha : 513)

Apakah setiap orang dapat mencapai Nibbana atau tidak? Jawaban dari pertanyaan ini tak dapat diramalkan, karena setiap orang mempunyai minat dan cita-cita masing-masing. Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma dan dengan segala macam cara, menganjurkan orang untuk melaksanakannya; namun tentu saja pelaksanaannya tergantung pada orang itu sendiri-sendiri.
“ Gotama Yang Baik, setelah diajar dan diarahkan oleh-Mu, apakah semua Siswa-Mu akan mencapai cita-cita murni itu, atau sebagian tidak akan berhasil?”
“ Sebagian akan mencapainya dan sebagian tidak.”
“Apa alasannya, Gotama Yang Baik? Apa penyebabnya ?”
“ Aku akan bertanya padamu, brahmin ; jawablah bila berkenan. Bagaimana pikiranmu? Apakah engkau mengetahui jalan ke Rajagaha?”
“ Ya, Gotama yang baik, saya mengetahuinya.”
“ Baik, andaikan seorang datang padamu, dan berkata bahwa dia ingin ke Rajagaha dan bertanya arahnya. lalu, engkau berkata : ‘ Jalan ini menuju ke Rajagaha; berjalanlah terus sampai ke suatu desa, berjalanlah terus sampai engkau tiba di pasar, lalu bila engkau berjalan terus, engkau akan sampai di Rajagaha dengan kebun-kebunnya yang indah, hutan-hutan yang indah, lapangan-lapangan yang indah dan kolam-kolam yang indah.

Namun ,walau telah ditunjukkan dan diarahkan olehmu jalan itu, tapi orang tadi mengambil jalan lain yang menuju ke Barat. Dan, oleh karenanya dia tidak sampai ke Rajagaha. Lalu, andaikan seorang lagi datang padamu, dan dia juga berkeinginan ke Rajagaha, lalu karena dia mengikuti petunjukmu, maka akhirnya dia tiba dengan selamat. Jadi oleh karena ada Rajagaha, oleh karena ada jalan menuju kesana dan juga ada engkau sebagai peunjuk jalan, mengapa orang yang pertama tidak sampai, sedangkan orang yang satunya lagi sampai ke Rajagaha?”
“ Gotama yang baik, apa yang harus saya kerjakan dalam hal ini ? Saya tiada lain hanyalah seorang penunjuk jalan.”

“ Demikian pula, Brahmin; ada Nibbana, ada jalan menuju ke Nibbana, dan ada aku sebagai penunjuk jalan ke Nibbana. Tapi hanya sebagian siswa yang diajar dan diarahkan oleh-Ku yang mencapai Nibbana, sebagian lainnya tidak. Apa yang dapat aku perbuat dalam hal ini? Sang Tathagata hanyalah penunjuk jalan.”
(Majjhima Nikaya II ;5 )
Tapi satu hal yang pasti, siapapun yang mencapai Nibbana adalah sebagai hasil menjalankan ajaran Sang Buddha.

“ Bila, dengan pengertian penuh Gotama Yang Baik telah mengajarkan Dhamma pada Siswanya untuk pemurnian makhluk hidup, untuk mengatasi penyesalan dan keputusasaan, untuk mengakhiri kesedihan dan kemurungan, untuk mencapai tatacara-Nya, untuk mencapai Nibbana; lalu apakah seluruh dunia akan mencapainya, atau seperduanya, atau sepertiganya?”
Sampai disitu, Sang Buddha berdiam diri. Lalu Ananda berpikir:” Orang ini hendaknya jangan sampai berpikir bahwa Sang Buddha tidak dapat menjawab pertanyannya yang penting ini.”
Jadi Ananda berkata :” Saya akan memberitahu suatu perumpamaan.”
Bayangkan ada suatu kota dikelilingi oleh tembok dengan dasar pondasi yang sangat kuat, bermenara dan hanya berpintu gerbang hanya satu, pintu gerbang dijaga ketat, hanya orang yang dikenal diperbolehkan melewatinya dan orang asing tak diperbolehkan melewatinya. Lalu, ketika seseorang berjaga di sekeliling tembok, dia tidak menemukan satupun lobang yang dapat dilewati walau oleh seekor kucing pun. 

Dengan demikian dia tahu, bahwa semua makhluk, besar ataupun kecil, hanya dapat masuk ke kota atau keluar dari kota dengan melewati gerbang tersebut. Sama halnya dengan pertanyaanmu, tidaklah penting bagi Sang Buddha. Apa yang disabdakan Beliau adalah, bahwa : Siapapun yang telah terbebas, sedang terbebas ataupun akan terbebas dari dunia ini, dia akan terbebas dengan cara melepaskan kelima rintangan, melepaskan kesesatan batin yang melemahkan kebijaksanaan, dia akan tebebas dengan cara mengembangkan batin dalam empat dasar kesadaran, dan dengan mengembangkan tujuh unsur pencerahan.” (Anguttara Nikaya V : 194).


Setelah Sang Buddha mencapai Nibbana, Beliau “ mengajak” semua umat manusia untuk mengikuti Jalan agar umat manusia juga dapat menikmati kedamaian, kebahagiaan dan kebebasan. “Ajakan” beliau masih berlaku sampai saat ini.
Pintu-pintu ke Abadian telah terbuka,Marilah, mereka yang dapat mendengar,
Demikianlah adanya dan semoga bermanfaat.
Sadhu...Sadhu...Sadhu.
Sumber Tulisan: http://tanhadi.blogspot.com/2010/01/tentang-nibbana.html

Readmore..

Mengendalikan Perhatian & Pikiran

| | 0 comments

Mahatma Gandhi mengatakan :
"Manusia tidak dapat mengendalikan pikirannya semata-mata hanya dengan menulis,membaca ataupun melakukan percakapan-percakapan sepanjang hari". 

Lebih lanjut Gandhi juga mengatakan :
"Pikiran itu selalu bekeliaran, jangan biarkan indria turut berkeliaran dengannya. Indria yang berkeliaran bersama dengan pikiran yang mengikutinya akan mengakibatkan seseorang mengalami kekacauan. Tetapi indria yang terjaga suatu saat akan menjadikan pikiran terkendali".

Menurut Sang Buddha,
Pengendalian pikiran dapat dilakukan dengan cara : meningkatkan perhatian (Sati) dan pengertian (Sampajanna).

Perhatian dan pengertian adalah :
Dua unsur penting yang perlu diberlakukan secara bersamaan pada saat seseorang menerima suatu objek ataupun sensasi pikiran yang ada.

Sang Buddha menyatakan dalam Sabbasavasanvara Sutta, Majjhima Nikaya;
"Apabila seseorang memiliki perhatian/ kewaspadaan, maka segala jenis pikiran jahat yang belum muncul niscaya tidak akan muncul dan yang sudah muncul akan dapat dilenyapkan".

Dalam Vitakkasanthana Sutta, Majjhima Nikaya;
Sang Buddha menjelaskan 5 cara untuk mengendalikan pikiran dengan benar, yaitu: 1. Apabila timbul pikiran jahat (keserakahan, kebencian, atau/dan kebodohan batin) pada saat memperhatikan suatu objek tersebut dengan yang lain, yang disertai dengan kebajikan, ini dapat mengusir pikiran jahatnya, dan membuat batinnya menjadi terpusatkan/terkendali, ibarat tukang kayu yang mengganti pasak kasar dengan pasak halus.2. Apabila pikiran jahatnya tetap muncul walau telah mengganti objeknya dengan yang disertai kebajikan, ia hendaknya merenungkan bahaya dari pikiran jahat itu. Ini dapat mengusir ..., ibarat pemuda-pemudi yang suka berdandan merasa risih dan jijik terhadap bangkai ular atau binatang lain yang bergantung di lehernya.3. Apabila pikiran jahatnya tetap muncul meskipun telah merenungkan bahaya dari pikiran jahat, ia hendaknya tidak mengacuhkan pikiran jahat tersebut. Ini dapat mengusir ..., ibarat orang yang memiliki penglihatan yang dapat menutup matanya atau mengalihkan ke arah lain apabila tidak ingin melihat suatu bentuk.4. Apabila pikiran jahatnya tetap muncul kendati tidak mengacuhkannya, ia hendaknya memperhatikan dasar dan sebab pikiran (untuk mengetahui sebab kemunculannya). Ini dapat mengusir ... , ibarat orang yang berjalan cepat, berjalan lambat, berhenti, berdiri, duduk, berbaring, yang menghindari sikap badan yang sulit dan memilih sikap badan yang paling leluasa.5. Apabila pikiran jahatnya tetap muncul walau telah memperhatikan dasar dan sebab pikiran muncul, ia hendaknya dengan merapatkan gigi dan menekan lidah ke langir-langit mulut, menaklukkan, mengendalikan dan menguasai batinnya. Ini dapat mengusir ..., ibarat orang kuat yang menangkap dan mencekik orang lemah, menaklukkan, mengendalikan dan menguasainya.

Dengan melaksanakan petunjuk tersebut, seseorang dapat disebut ahli dalam bidang yang berkaitan dengan pengendalian pikiran. Ia dapat berpikir sesuai dengan yang diinginkannya dan dapat pula tidak berpikir terhadap sesuatu yang tidak ingin dipikirkannya. Na tam mata pita kayira, Anne vapi ca natakaSamma panihitam cittam, Seyyaso nam tato kare"Pikiran yang terarahkan secara benar,membuat seseorang menjadi muliadan memperoleh pahala kemajuan,melebihi apa yang dapat diberikan olehibu, ayah, atau sanak keluarga".

Readmore..

Paradigma yang Berkembangan..

| | 0 comments

Paradigma yang berkembang?
Kita sering membenarkan atau menyalahkan sesuatu dibangun dari paradigma-paradigma yang salah,sering kali kita terjebak dalam paradigma sekitar kita untuk "menghakimi" orang lain atas dasar keinginan kita sesaat dan juga atas dasar "lingkungan" sekitar kita..

Kita "menghakimi" seseorang,sebelum seseorang itu "sah" dinyatakan bersalah,kita selalu "senang" apabila melihat orang lain menderita,dan sering kali juga,kita tidak menyadari hal tersebut sudah berlangsung lama dalam "pikiran" kita..

Jika suatu media menyatakan si A adalah "diduga" menjadi menjadi tersangka pembunuhan,kita biasanya tidak mau tahu,dan hanya mengikuti pernyataan media,bahwa si A adalah tersangka,tanpa ba bi bu,kita langsung "menvonis" si A sebagai pembunuh,kita mengucilkan keluarga si A ,mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada keluarga si A,seakan-akan keluarga si A dan A adalah "kotoran" bagi diri kita,tetapi kita sendiri tidak pernah sadar,apakah kita lebih baik dari si A?

Jauh sebelum vonis pengadilan muncul,kita sudah memberikan "vonis" versi kita,paradigma sudah dibangun dan dikembangkan melalui "isu-isu" yang belum tentu benar isinya,kemudian isu-isu tersebut dibuat "seakan-akan" adalah hal yang benar dan disebarluaskan melalui dunia maya,atau mouth to mouth,bukan kah itu sangat menunjukan "kebodohan" kita dalam menanggapi suatu permasalahan yang didasari oleh sebuah paradigma ?

Sama seperti Umat Buddhisme saat ini,orang-orang yang layak dihormati,diteladani dan menjadi sumber dari Dhamma,malahan berbondong-bondong membangun paradigma disekitarnya tentang keberadan MMD sebagai sesuatu yang sesat,teroris atau yang berlawanan dengan Buddha Dhamma..
Atas dasar apa orang-orang seperti ini mengatakan hal yang tidak benar atau mungkin lebih tepat disebut "belum terbukti kebenarannya",mengapa hal yang "belum terbukti" kebenarannya disiarkan kepada banyak orang,bukankah itu lebih menunjukan "usaha" pemecahan antar kalangan Buddhisme?Walau disadari atau tidak disadari,saat ini hal yang dilakukan oleh mereka,hanya memecah belah umat Buddhisme menjadi 2 kubu,yang sekali lagi sama sekali tidak membawa manfaat apapun dalam perkembangan Buddha Dhamma di masa yang akan datang...

terlebih lagi,sampai saat ini tidak ada satu pun dari pihak penuduh[Saudara Butus,dkk] yang dapat berdiskusi dhamma secara baik dan santun,menggunakan kata-kata yang menyejukkan hati[bukan sindiran tentang personal,kata-kata kotor,kasar,keji berisi fitnahan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya] sehingga kita dapat mengambil kesimpulan,"Apakah benar paradigma yang sedang berkembang saat ini?" yang membingungkan saya sampai saat ini adalah tindakan-tindakan yang sama sekali tidak mencerminkan Buddhisme yang dilakukan oleh pihak penuduh,dimana pihak penuduh dalam posisi MENYALAHKAN bukan MENUNJUKAN KESALAHAN,sama sekali berbeda dengan cara diskusi Buddha pada zamanNya,dimana Buddha sering kali menempatkan dirinya dalam diskusi dhamma 2 arah,dan sering kali jika lawan diskusinya berpandangan salah,Buddha MENUNJUKKAN KESALAHANNYA bukan MENYALAHKANNYA!!!

Kalau seseorang tidak sanggup MENUNJUKKAN KESALAHANNYA ,bagaimana mungkin dia berhak untuk sekedar MENYALAHKAN?Saya merasa MENYALAHKAN seseorang atas ketidakmampuan diri sendiri dalam menjelaskan,adalah hal yang naif sekali!!!Itu sama dengan seseorang yang bodoh yang memaksakan kehendaknya sendiri,atas dasar pemuasaan hasrat keinginannya atau suatu sistem fanatik menggunakan nama Buddha,pelestarian Agama Buddha,mempertahankan Agama Buddha,itu adalah cara-cara kaum barbar,cara-cara kaum teroris yang fanatik,itu lebih menunjukan "sifat teroris" dalam Buddhisme dalam diri penuduh,daripada yang dituduh..

Buddha pernah berkata ajaranNya akan lenyap disebabkan oleh umatNya sendiri,memang benar sekali kata Buddha,karena sampai saat ini pun,sesama Buddhisme yang berjuang untuk melepaskan diri dari lingkaran samsara,malah sibuk menfitnah praktisi meditasi lainnya sebagai sesat,teroris,menggunakan isu-isu gay,dan lan sebagainya dan menganggap JMB8 sebagai sesuatu yang tidak sesat,MUTLAK BENAR,yang padahal hanya digengam sebagai KEMELEKATAN DIRI,EGO YANG BESAR dan KEANGKUHAN TAK TERTANDINGI..



Readmore..

Still, Flowing Water

| | 0 comments

Oleh : Venerable Ajahn Chah

Sekarang, harap perhatikan, jangan biarkan pikiran anda berkeliaran mengejar hal-hal lain. Timbulkan suatu perasaan bahwa seakan-akan anda sekarang sedang duduk di pegunungan atau di tengah hutan, hanya anda seorang diri. Apa yang sedang duduk di sini sekarang? Ada tubuh dan pikiran, itu saja, hanya kedua hal ini saja. Semua yang ditampung di dalam bingkai yang sedang duduk di sini sekarang disebut “tubuh”. “Pikiran” adalah yang menyadari dan berpikir pada saat ini. Kedua hal ini disebut “nama” dan “rupa”. Nama merujuk kepada sesuatu yang tidak memiliki ”rupa”, atau bentuk. Semua bentuk-bentuk pikiran dan perasaan, atau keempat khanda batin dari perasaan, persepsi, kehendak dan kesadaran, adalah nama, mereka semua tidak berbentuk. Ketika mata melihat bentuk, bentuk tersebut disebut rupa, sedangkan kesadaran disebut nama. Bersama-sama mereka disebut nama dan rupa, atau secara sederhana disebut tubuh dan pikiran.

Memahami bahwa yang sedang duduk di sini pada saat ini adalah hanya tubuh dan pikiran saja. Tetapi kita dibingungkan oleh kedua hal ini. Jika anda menginginkan kedamaian, anda harus mengetahui kebenaran tentang mereka. Pikiran dalam kondisi saat ini masih tidak terlatih; ia kotor, tidak jernih. Ia masih belum murni. Kita harus melatih pikiran ini lebih jauh lagi melalui praktek meditasi.
Beberapa orang berpikir bahwa meditasi artinya duduk dengan suatu metode khusus, tetapi pada kenyatannya berdiri, duduk, berjalan dan berbaring, semuanya adalah kendaraan untuk berlatih meditasi. Anda dapat berlatih pada setiap saat. Samadhi secara harfiah berarti “pikiran yang kokoh”. Untuk mengembangkan samadhi, anda tidak perlu memaksa dan mengurung pikiran anda. Beberapa orang mencoba untuk mendapatkan kedamaian dengan cara duduk diam dan tidak membiarkan apa pun menganggu mereka, tetapi itu sama saja dengan menjadi orang mati. Latihan samadhi adalah untuk mengembangkan kebijaksanaan dan pemahaman.

Samadhi adalah pikiran yang kokoh, pikiran yang terpusat. Pada titik yang mana ia terpusat? Ia terpusat pada titik keseimbangan. Itulah titiknya. Tetapi orang berlatih meditasi dengan mencoba untuk mendiamkan pikiran mereka. Mereka bilang,”Saya mencoba duduk bermeditasi tetapi pikiran saya tidak mau diam bahkan untuk semenit saja. Pada suatu saat ia akan berkeliaran ke tempat yang satu, di saat yang lain ia pergi ke tempat lain… Bagaimana saya bisa membuatnya berhenti?” Anda tidak perlu menghentikannya, bukan itu intinya. Di mana ada gerakan, di situ pula pemahaman akan muncul. Orang-orang mengeluh, ”Ia melarikan diri dan saya menariknya kembali; lalu ia pergi lagi dan saya menariknya kembali sekali lagi..” Jadi, mereka hanya duduk di sana sambil menarik-lepas menarik-lepas berulang-ulang seperti ini.

Mereka mengira pikiran mereka berlarian ke segala tempat, tetapi sebenarnya ia hanya kelihatan seolah-olah berlarian ke sana ke mari. Sebagai contoh, perhatikanlah ruangan ini… “Oh, ia begitu besar!” kata anda… sebenarnya ia tidaklah besar sama sekali. Apakah ia terlihat besar atau tidak, itu tergantung dari persepsi anda terhadapnya. Pada kenyataannya, ruangan ini memiliki ukuran yang seperti apa adanya, tidak besar ataupun kecil, tetapi orang-orang selalu berkutat pada perasaan mereka di setiap saat.

Bermeditasi untuk menemukan kedamaian… Anda harus memahami apa kedamaian itu. Jika anda tidak memahaminya, anda tak akan bisa menemukannya. Sebagai contoh, misalkan hari ini anda membawa sebuah pulpen yang sangat mahal ke vihara. Sekarang misalkan, dalam perjalanan anda ke mari, anda meletakkan pulpen tersebut di kantong depan anda, tetapi selanjutnya anda mengeluarkannya dan meletakkannya di tempat lain, seperti di kantong belakang. Sekarang, bila anda mencari di kantong depan anda… Ia tidak ada di sana! Anda pun menjadi takut. Anda takut karena kesalahpahaman anda, anda tidak melihat kebenaran dari hal tersebut. Penderitaan adalah hasilnya. Apakah sedang berdiri, berjalan, datang dan pergi, anda tidak dapat berhenti mencemaskan pulpen anda yang hilang tersebut. Pemahaman anda yang salah menyebabkan anda menderita. Memahami secara salah menyebabkan penderitaan… “Memalukan! Saya baru saja membeli pulpen tersebut beberapa hari yang lalu dan sekarang ia hilang!”
Namun kemudian anda pun ingat, ”Oh, tentu saja! Ketika saya mandi, saya meletakkan pulpen tersebut di kantong belakang saya.” Segera setelah anda ingat, anda telah merasa lebih lega terlebih dahulu, tanpa perlu melihat pulpen itu. Anda lihat itu? Anda sudah bahagia terlebih dahulu, anda bisa berhenti mengkhawatirkan pulpen anda. Anda merasa yakin tentang pulpen anda sekarang. Sembari anda berjalan, anda mengarahkan tangan anda ke kantong belakang, dan itu dia. Pikiran anda telah menipu anda selama itu. Kekhawatiran muncul dari kebodohan anda. Kini, setelah melihat pulpen itu, anda telah melampaui keragu-raguan, kekhawatiran anda telah ditenangkan. Kedamaian jenis ini muncul dari penglihatan akan penyebab masalah, samudaya, penyebab dari penderitaan. Segera setelah anda ingat bahwa pulpen tersebut ada di kantong belakang anda, di sana ada nirodha, akhir dari penderitaan.
Jadi, anda harus merenungkan untuk menemukan kedamaian. Apa yang biasanya orang-orang maksudkan tentang kedamaian hanyalah menenangkan pikiran, bukan menenangkan kekotoran batin. Kekotoran batin hanya ditaklukkan untuk sementara, seperti rumput yang ditutupi dengan sebongkah batu. Dalam tiga atau empat hari, anda mengangkat batu tersebut dari rumput dan dalam waktu yang tidak lama, ia tumbuh lagi. Rumput itu tidak benar-benar mati, ia hanya ditekan saja. Sama halnya ketika sedang duduk bermeditasi: pikiran tenang tetapi kekotoran tidak benar-benar tenang. Oleh karena itu, samadhi bukanlah sesuatu yang pasti. Untuk menemukan kedamaian sejati, anda harus mengembangkan kebijaksanaan. Samadhi adalah salah satu jenis kedamaian, seperti batu yang menutupi rumput… dalam beberapa hari, anda membuang batu itu dan rumput pun tumbuh kembali. Ini hanyalah kedamaian yang sementara saja. Kedamaian dari kebijaksanaan adalah seperti meletakkan batu dan tidak mengangkatnya lagi, hanya membiarkannya seperti itu. Rumput tidak akan mungkin tumbuh kembali. Inilah kedamaian yang sejati, menenangkan kekotoran batin, kedamaian yang pasti yang muncul dari kebijaksanaan.
Kita berbicara tentang kebijaksanaan (panna) dan samadhi sebagai hal-hal yang terpisah, tetapi pada intinya mereka adalah satu dan sama. Kebijaksanaan adalah fungsi dinamis dari samadhi; samadhi adalah aspek pasif dari kebijaksanaan. Mereka muncul dari tempat yang sama tetapi menuju arah yang berbeda, fungsi yang berbeda, seperti buah mangga ini. Sebuah mangga hijau yang kecil akan tumbuh semakin besar dan semakin besar sampai ia masak. Ini semua adalah mangga yang sama, yang besar dan yang masak, semuanya mangga yang sama, tetapi kondisinya yang berubah. Di dalam praktek Dhamma, kondisi yang satu disebut samadhi, kondisi yang selanjutnya disebut panna, tetapi dalam kenyataannya sila, samadhi, dan panna adalah sama, seperti mangga.

Di dalam latihan kita, tidak perduli aspek apa yang anda tuju, anda harus selalu memulai dari pikiran. Tahukah anda apa pikiran itu? Seperti apa pikiran itu? Apakah pikiran itu? Di manakah ia?... Tidak ada yang tahu. Yang kita tahu adalah bahwa kita ingin pergi ke sana atau ke mari, kita ingin yang ini dan kita ingin yang itu, kita merasa baik atau kita merasa buruk… tetapi pikiran sendiri kelihatannya mustahil untuk diketahui. Apakah pikiran itu? Pikiran tidak memiliki bentuk. Yang menerima kesan-kesan, apakah baik dan buruk, kita menyebutnya “pikiran”. Ia seperti pemilik rumah. Pemilik tersebut tinggal menetap di rumah ketika tamu-tamu datang mengunjunginya. Dialah yang menerima tamu-tamu. Siapa yang menerima kesan-kesan indera? Apa yang ia amati? Siapa yang melepaskan kesan-kesan indera? Itulah yang kita sebut “pikiran”. Tetapi orang tidak bisa melihatnya, mereka memikirkan diri mereka sendiri di dalam lingkaran… “Apakah pikiran itu, apakah otak itu?” … Jangan menjadi bingung akan hal-hal ini. Apa yang menerima kesan-kesan? Beberapa kesan yang ia suka dan beberapa yang ia tidak suka… Siapakah itu? Adakah seseorang yang menyukai dan tidak menyukai? Tentu saja ada, tetapi anda tidak bisa melihatnya. Itulah yang kita sebut “pikiran”.

Di dalam latihan kita, tidaklah perlu untuk berbicara tentang samatha (konsentrasi) atau vipassana (pandangan terang), sebut saja dia latihan Dhamma, itu sudah cukup. Dan lakukanlah latihan ini dari pikiran anda sendiri. Apakah pikiran itu? Pikiran adalah yang menerima, atau yang sadar akan, kesan-kesan indera. Dengan beberapa kesan indera ada reaksi menyukai, dengan yang lain ada reaksi tidak menyukai. Penerima kesan-kesan tersebut menuntun kita menuju kebahagiaan dan penderitaan, benar dan salah. Tetapi ia tidak memiliki bentuk apa pun. Kita menganggapnya adalah sesuatu, tetapi sebenarnya ia hanyalah namadhamma. Apakah “kebaikan” memiliki bentuk? Bagaimana dengan kejahatan? Apakah kebahagiaan dan penderitaan memiliki bentuk? Anda tidak bisa menemukan mereka…. Apakah mereka bulat atau persegi, pendek atau panjang? Bisakah anda melihat mereka? Ini adalah namadhamma, mereka tidak bisa dibandingkan dengan benda-benda bermateri, mereka tak berbentuk… tetapi kita tahu bahwa mereka itu ada.

Oleh sebab itu dikatakan agar mulai berlatih dengan menenangkan pikiran. Tempatkan kesadaran di dalam pikiran. Jika pikiran sadar, ia akan damai. Beberapa orang tidak mengembangkan kesadaran, mereka hanya menginginkan kedamaian, sejenis keadaan yang kosong melompong. Jadi mereka tak pernah mempelajari apa pun. Jika kita tidak memiliki “yang mengetahui” ini, apa lagi yang bisa dijadikan dasar latihan kita?

Jika tidak ada yang panjang, maka tidak ada yang pendek, jika tidak ada yang benar maka tidak akan ada yang salah. Orang-orang di zaman sekarang belajar, mencari yang baik dan yang jahat. Tetapi yang melampaui baik dan jahat, sama sekali tidak mereka ketahui. Semua yang mereka ketahui hanyalah benar dan salah. “Saya hanya akan mengambil yang benar saja. Saya tidak ingin mengetahui yang salah. Kenapa harus?” Jika anda mencoba untuk mengambil hanya yang benar saja, dalam waktu singkat ia akan menjadi salah lagi. Yang benar menuntun kepada yang salah. Orang terus mencari-cari di antara yang benar dan yang salah, mereka tidak mencoba menemukan yang tidak benar maupun yang tidak salah. Mereka mempelajari tentang kebaikan dan kejahatan, mereka mencari keluhuran, tetapi mereka sama sekali tidak mengetahui yang melampaui baik dan jahat. Mereka belajar tentang panjang dan pendek, tetapi yang tidak panjang maupun tidak pendek, sama sekali tidak mereka ketahui.
Pisau ini memiliki mata pisau yang tajam, bagian yang tidak tajam, dan gagang. Bisakah anda mengangkat hanya mata pisau yang tajam saja? Bisakah anda mengangkat hanya bagian yang tidak tajam saja dari mata pisau itu, atau gagangnya saja? Gagang, bagian yang tak tajam dan mata pisau yang tajam, semuanya adalah bagian dari pisau yang sama: ketika anda mengambil pisau tersebut, anda mendapatkan ketiga bagian itu sekaligus.

Dengan cara yang sama, jika anda mengambil yang bagus, maka yang buruk pasti mengikuti. Orang mencari kebaikan dan mencoba membuang yang jahat, tetapi mereka tidak mempelajari yang tidak baik maupun yang tidak jahat. Jika anda tidak mempelajari hal ini, maka tidak akan ada penyelesaian. Jika anda mengambil kebaikan, maka kejahatan akan mengikuti. Jika anda mengambil kebahagiaan, penderitaan pun mengikuti. Praktek kemelekatan terhadap kebaikan dan penolakan terhadap kejahatan adalah Dhamma anak-anak, seperti sebuah mainan. Tentu saja, itu tidak apa-apa, anda bisa mengambil hanya yang ini saja, tetapi jika anda menggenggam kebaikan, kejahatan pun akan mengikuti. Akhir dari jalan ini adalah kebingungan, ia tidaklah begitu bagus.

Ambil sebuah contoh sederhana. Anda memiliki anak – sekarang, anggap saja anda menginginkan untuk hanya menyayangi mereka saja dan tak pernah membenci mereka. Ini adalah pemikiran dari seseorang yang tidak mengetahui sifat alamiah manusia. Jika anda memegang erat pada cinta, kebencian akan mengikuti. Dengan cara yang sama, orang-orang memutuskan untuk belajar Dhamma guna mengembangkan kebijaksanaan, mempelajari yang baik dan yang jahat sedetil-detilnya. Sekarang, setelah mengetahui yang baik dan yang jahat, apa yang akan mereka lakukan? Mereka mencoba melekat pada kebaikan, dan kejahatan pun mengikuti. Mereka tidak mempelajari yang melampaui kebaikan dan kejahatan. Inilah yang seharusnya anda pelajari.

“Saya akan menjadi seperti ini,” “Saya akan menjadi seperti itu”… tetapi mereka tak pernah berkata “Saya tidak akan menjadi apa pun, karena tidak ada yang benar-benar merupakan “saya” di sana.” Yang ini tidak mereka pelajari. Semua yang mereka inginkan adalah kebaikan. Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka kehilangan kontrol diri di dalamnya. Jika hal-hal menjadi terlalu bagus, mereka akan mulai berkelakuan buruk, jadi orang-orang hanya mengayun ke kiri dan ke kanan seperti itu berulang-ulang.
Untuk menenangkan pikiran dan menjadi sadar terhadap yang mengamati kesan-kesan indera, kita harus memperhatikannya. Ikutilah “yang mengetahui.” Latihlah pikiran hingga ia menjadi murni. Sampai sejauh manakah kemurnian pikiran yang seharusnya anda latih ? Jika ia benar-benar murni, pikiran seharusnya melampaui kebaikan dan kejahatan, bahkan melampaui kemurnian. Ia telah selesai. Itulah saat di mana latihan telah selesai.

Apa yang orang-orang sebut sebagai duduk bermeditasi hanyalah jenis kedamaian yang sementara saja. Tetapi bahkan di dalam kedamaian seperti itu, terdapat pengalaman-pengalaman. Jika suatu pengalaman muncul, maka harus ada seseorang yang mengetahuinya, yang melihat ke dalamnya, mempertanyakan dan menyelidikinya. Jika pikiran hanya berada dalam keadaan kosong saja, maka itu tidaklah begitu berguna. Anda mungkin memperhatikan beberapa orang yang terlihat begitu tenang, dan berpikir mereka itu damai, tetapi kedamaian sejati bukan hanya pikiran yang damai saja. Ia bukan kedamaian yang berkata, “Semoga saya berbahagia dan tidak akan pernah mengalami penderitaan apa pun.” Dengan jenis kedamaian seperti ini, pada akhirnya bahkan pencapaian kebahagiaan pun akan menjadi tidak memuaskan. Penderitaan pun muncul. Hanya ketika anda bisa membuat pikiran anda melampaui kebahagiaan dan penderitaan sajalah maka anda akan menemukan kedamaian sejati. Itulah kedamaian sejati. Ini adalah topik yang tidak dipelajari kebanyakan orang, mereka tak pernah benar-benar memperhatikan hal yang satu ini.
Cara yang benar untuk melatih pikiran adalah dengan menjadikannya terang, untuk mengembangkan kebijaksanaan. Jangan berpikir bahwa melatih pikiran adalah hanya dengan duduk diam. Itu adalah batu yang menutupi rumput. Orang-orang dimabukkan olehnya. Mereka berpikir bahwa samadhi adalah duduk. Itu hanyalah salah satu kata untuk samadhi. Tetapi sebenarnya, jika pikiran memiliki samadhi, maka berjalan adalah samadhi, duduk adalah samadhi… samadhi di dalam posisi duduk, di dalam posisi berjalan, berdiri dan berbaring. Itu semua adalah latihan.

Beberapa orang mengeluh, “Saya tidak bisa bermeditasi, saya terlalu gelisah. Bilamana saya duduk, saya memikirkan ini dan itu… saya tak dapat melakukannya. Saya memiliki terlalu banyak kamma buruk. Saya seharusnya menghabiskan kamma buruk saya terlebih dahulu dan kemudian baru datang kembali dan mencoba bermeditasi.” Tentu, coba saja. Coba saja menghabiskan kamma buruk anda…
Beginilah caranya orang berpikir. Mengapa mereka berpikir seperti ini? Penghalang-penghalang ini adalah hal-hal yang harus kita pelajari. Bilamana kita duduk, pikiran segera pergi mengembara ke mana-mana. Kita mengikutinya dan mencoba membawanya kembali dan memperhatikannya sekali lagi… lalu ia akan pergi lagi. Inilah yang seharusnya anda pelajari. Kebanyakan orang tidak mau belajar dari alam… seperti murid sekolah yang bandel yang tidak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya. Mereka tidak ingin melihat perubahan pikirannya. Bagaimana anda akan mengembangkan kebijaksanaan? Kita harus hidup dengan perubahan seperti ini. Ketika kita tahu bahwa pikiran adalah seperti ini, terus berubah… ketika kita tahu bahwa ini adalah sifat alaminya, kita akan memahaminya. Kita harus tahu ketika pikiran sedang memikirkan yang baik dan yang buruk, berubah terus setiap saat, kita harus mengetahui hal-hal ini. Jika kita memahami hal ini, maka bahkan ketika kita sedang berpikir, kita bisa menjadi damai.

Sebagai contoh, misalnya di rumah anda memiliki seekor monyet peliharaan. Monyet tidak akan diam untuk waktu yang lama, mereka suka melompat ke sana ke mari dan memegang benda-benda. Begitulah monyet adanya. Sekarang, anda datang ke vihara dan melihat monyet di sini. Monyet ini juga tidak bisa diam, ia juga melompat ke sana ke mari. Tetapi ia tidak menganggu anda, bukan? Mengapa ia tidak mengganggu anda? Karena anda telah memelihara monyet sebelumnya, anda tahu sifat-sifat mereka. Jika anda mengetahui sifat-sifat seekor monyet saja, tidak perduli berapa banyak propinsi yang anda kunjungi, tidak perduli berapa banyak monyet yang anda lihat, anda tidak akan terganggu oleh mereka, bukan? Ini adalah seseorang yang memahami monyet.
Jika kita memahami monyet, maka kita tak akan menjadi monyet. Jika anda tidak memahami monyet, mungkin anda sendiri akan menjadi monyet! Mengertikah anda? Ketika anda melihatnya memegang ini dan itu, anda berteriak, “Hey!” Anda marah… “Monyet sialan itu!” Ini adalah seseorang yang tidak memahami monyet. Seseorang yang memahami monyet melihat bahwa monyet yang ada di rumah dan monyet yang ada di vihara adalah sama. Mengapa anda harus terganggu oleh mereka? Ketika anda melihat sifat-sifat monyet adalah seperti itu, itu sudah cukup, anda bisa menjadi damai.

Kedamaian adalah seperti ini. Kita harus mengetahui kesan-kesan indera. Beberapa kesan indera menyenangkan, beberapa lagi tidak menyenangkan, tetapi itu tidak penting. Itu urusan mereka. Seperti monyet, semua monyet adalah sama. Kita memahami kesan-kesan tersebut, pada saat-saat tertentu bisa disetujui, di saat-saat yang lain tidak – itu hanyalah sifat-sifat alami mereka. Kita seharusnya memahami mereka dan mengetahui cara untuk melepaskan mereka. Kesan-kesan indera itu tidak pasti. Mereka tidak kekal, tidak sempurna dan tidak ada pemiliknya. Segala sesuatu yang kita amati adalah seperti ini. Ketika mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran menerima kesan-kesan, kita mengetahui mereka, seperti memahami monyet. Lalu kita bisa menjadi damai.

Ketika kesan-kesan indera muncul, ketahui mereka. Mengapa anda mengejar mereka? Kesan-kesan indera itu tidak pasti. Di menit ini mereka berada pada jalur yang satu, di menit yang lain sudah berganti jalur. Keberadaan mereka tergantung pada perubahan. Dan kita semua di sini, juga ada karena tergantung pada perubahan. Nafas keluar, lalu ia harus masuk kembali. Ia harus mengalami perubahan ini. Cobalah untuk hanya menarik nafas saja, bisakah anda melakukan itu? Atau coba untuk hanya menghembuskan nafas saja tanpa menarik nafas… dapatkah anda melakukannya? Jika tidak ada perubahan seperti ini, berapa lama anda bisa hidup? Harus ada kedua-duanya, nafas masuk dan nafas keluar.

Kesan-kesan indera juga sama. Harus ada hal-hal seperti ini. Jika tidak ada kesan-kesan indera, maka anda tidak dapat mengembangkan kebijaksanaan. Jika tidak ada yang salah, maka tidak akan ada yang benar. Anda harus benar terlebih dahulu sebelum anda bisa melihat yang salah, dan anda harus memahami yang salah terlebih dahulu untuk menjadi benar. Beginilah segala sesuatu itu adanya.
Bagi murid yang benar-benar tekun, semakin banyak kesan-kesan indera, semakin bagus. Tetapi kebanyakan meditator melarikan diri dari kesan-kesan indera, mereka tidak mau berurusan dengannya. Ini seperti murid sekolah yang bandel yang tidak mau pergi ke sekolah, tidak mau mendengarkan gurunya. Kesan-kesan indera ini mengajari kita. Ketika kita mengetahui kesan-kesan indera, maka kita mempraktekkan Dhamma. Kedamaian di dalam kesan-kesan indera adalah seperti memahami monyet-monyet di sini. Ketika anda memahami monyet-monyet itu sehingga anda tidak lagi merasa terganggu oleh mereka.

Mempraktekkan Dhamma adalah seperti ini. Dhamma tidak berada jauh di sana, ia ada bersama kita. Dhamma bukanlah tentang malaikat-malaikat di langit atau apa pun yang menyerupai itu. Ia hanyalah tentang kita, tentang apa yang sedang kita kerjakan sekarang. Perhatikan diri anda sendiri. Kadang-kadang ada kebahagiaan, kadang-kadang penderitaan, kadang-kadang nyaman, kadang-kadang sakit, kadang-kadang cinta, kadang-kadang benci… ini adalah Dhamma. Anda melihatnya? Anda seharusnya mengetahui Dhamma ini, anda harus membaca pengalaman-pengalaman anda.

Anda harus mengetahui kesan-kesan indera sebelum anda dapat melepaskan mereka pergi. Ketika anda melihat bahwa kesan-kesan indera itu tidak kekal, maka anda tidak akan direpotkan oleh mereka. Begitu suatu kesan indera muncul, cukup katakan kepada diri anda sendiri, “Hmmm… ini bukan hal yang pasti.” Ketika suasana hati anda berubah… “Hmmm, tidak pasti.” Anda bisa berdamai dengan hal-hal ini, sama seperti melihat monyet dan tidak merasa terganggu olehnya. Jika anda mengetahui kebenaran dari kesan-kesan indera, itu artinya mengetahui Dhamma. Anda melepaskan kesan-kesan indera, menyadari bahwa mereka semua tidak pasti.

Apa yang kita sebut ketidakpastian di sini adalah Sang Buddha. Sang Buddha adalah Dhamma. Dhamma adalah karakteristik dari ketidakpastian. Siapa pun yang melihat ketidakpastian dari segala sesuatu, akan melihat realita yang tidak berubah dari mereka. Seperti itulah Dhamma adanya. Dan itu adalah Sang Buddha. Jika anda melihat Dhamma, anda melihat Sang Buddha, melihat Sang Buddha, anda melihat Dhamma. Jika anda mengetahui aniccam, ketidakpastian, anda akan melepaskan segala sesuatu dan tidak melekat pada mereka.

Anda bilang, “Jangan pecahkan gelas saya!” Bisakah anda mencegah sesuatu yang bisa pecah agar tidak pecah? Jika ia tidak pecah sekarang, ia akan pecah di masa mendatang. Jika anda tidak memecahkannya, orang lain akan melakukannya. Jika orang lain tidak memecahkannya, salah satu dari ayam-ayam itu akan melakukannya! Sang Buddha berkata agar kita menerima hal ini. Beliau menembus kebenaran dari hal-hal ini, dengan melihat bahwa gelas sudah pecah terlebih dahulu. Bilamana anda memakai gelas ini, anda seharusnya merenungkan bahwa ia sudah pecah terlebih dahulu. Dapatkah anda memahami ini? Pemahaman Sang Buddha adalah seperti ini. Beliau melihat gelas yang sudah pecah di dalam gelas yang masih utuh. Bilamana waktunya tiba, ia akan pecah. Kembangkanlah pemahaman seperti ini. Pergunakan gelas tersebut, jagalah ia, sampai pada suatu hari, ia lepas dari pegangan anda… “Jatuh!” … tak ada masalah. Mengapa tidak ada masalah? Karena anda telah melihatnya pecah sebelum ia pecah!

Tetapi biasanya orang-orang berkata, “Saya sangat menyukai gelas ini, semoga saja ia tak akan pernah pecah.” Selanjutnya, seekor anjing memecahkannya… “Saya akan membunuh anjing sialan itu!” Anda membenci anjing itu karena memecahkan gelas anda. Jika salah seorang dari anak-anak anda memecahkannya, anda akan membenci mereka juga. Mengapa demikian? Karena anda telah menyumbat diri anda sendiri, air tidak dapat mengalir. Anda telah membuat bendungan tanpa pintu air. Satu-satunya yang bisa dilakukan bendungan itu adalah jebol, benar kan ? Bila anda membuat bendungan, anda harus membuat pintu air juga. Ketika air naik terlalu tinggi, air bisa mengalir dengan aman. Bila sudah penuh, anda membuka pintu air. Anda harus membuat katup pengaman seperti ini. Ketidakkekalan adalah katup pengaman bagi Para Suci. Jika anda memiliki ”katup pengaman” ini, anda akan damai.

Berdiri, berjalan, duduk, berbaring, berlatihlah terus-menerus, pergunakan sati untuk mengawasi dan melindungi pikiran. Ini adalah samadhi dan kebijaksanaan. Keduanya adalah sama, tetapi mereka memiliki aspek yang berbeda.

Jika kita benar-benar melihat ketidakpastian dengan jelas, kita akan melihat kepastian. Kepastian tersebut adalah bahwa segala sesuatunya, mau tidak mau harus menempuh jalan ini, tidak ada jalan lain. Pahamkah anda? Dengan hanya mengetahui hal ini saja, anda bisa mengenal Sang Buddha, anda bisa memberi penghormatan yang layak kepada beliau.
Selama anda tidak membuang Sang Buddha, anda tidak akan menderita. Begitu anda membuang Sang Buddha, anda akan mengalami penderitaan. Begitu anda membuang perenungan terhadap ketidakkekalan, ketidaksempurnaan dan ketanpapemilikan, anda akan mendapatkan penderitaan.

Jika anda bisa mempraktekkan yang ini saja, itu sudah cukup; penderitaan tidak akan muncul, atau jika ia muncul anda dapat dengan mudah mengatasinya, dan ia akan menjadi faktor yang mencegah munculnya penderitaan di kemudian hari. Inilah akhir dari latihan kita, pada titik di mana penderitaan tak lagi muncul. Dan mengapa penderitaan tak lagi muncul? Karena kita telah mengatasi penyebab dari penderitaan, samudaya.
Sebagai contoh, jika gelas ini pecah, biasanya anda akan mengalami penderitaan. Kita tahu bahwa gelas ini akan menjadi penyebab penderitaan, jadi kita melenyapkan penyebabnya. Semua dhamma muncul dari suatu sebab. Mereka juga harus berakhir karena suatu sebab. Sekarang, jika ada penderitaan dikarenakan gelas ini, kita seharusnya melepaskan penyebabnya. Jika merenungkan sebelumnya bahwa gelas ini telah pecah terlebih dahulu, walaupun ketika ia tidak pecah, sebab-sebab tersebut telah berakhir. Ketika tidak ada sebab-sebab apa pun lagi, ketika penderitaan tidak lagi bisa muncul, ia telah berakhir. Inilah pengakhiran.

Anda tidak perlu melampaui titik ini, hanya ini saja sudah cukup. Renungkan ini di dalam pikiran anda. Pada dasarnya, anda seharusnya mengambil kelima aturan (note: Peraturan dasar moral untuk umat Buddha : menahan diri dari melakukan pembunuhan yang disengaja, pencurian, perzinahan, pendustaan dan memakai zat-zat yang menghilangkan kesadaran) sebagai acuan untuk bertingkah laku. Tidak perlu pergi mempelajari tipitaka, cukup pusatkan perhatian saja pada kelima aturan terlebih dahulu. Mula-mula anda akan melakukan kesalahan-kesalahan. Ketika anda menyadarinya, berhenti, kembali dan bangun serta jalankan lagi aturan-aturan anda. Mungkin anda akan tersesat dan melakukan kesalahan yang lain lagi. Ketika anda menyadarinya, bangunkan kembali diri anda.

Berlatih seperti ini, sati anda akan meningkat dan menjadi lebih konsisten, seperti air yang menetes dari ketel. Jika kita memiringkan ketel tersebut sedikit, tetesannya jatuh perlahan-lahan… plop!... plop!... plop!... Jika kita memiringkan sedikit lagi ketel tersebut, tetesannya menjadi semakin cepat… plop, plop, plop!!... Jika kita memiringkan ketel tersebut lebih jauh lagi, “plop” nya akan hilang dan air mengalir dengan teratur. Ke mana “plop-plop” tersebut pergi? Mereka tidak pergi ke mana-mana, mereka berubah menjadi aliran air yang teratur.

Kita harus membicarakan Dhamma seperti ini, dengan mempergunakan perumpamaan, karena Dhamma tidak memiliki bentuk. Apakah ia persegi atau berbentuk lingkaran? Anda tidak bisa menyebutnya. Satu-satunya cara untuk membicarakannya adalah dengan melalui perumpamaan seperti ini. Jangan berpikir bahwa Dhamma berada jauh dari anda. Ia berada tepat bersama anda, di sekeliling anda. Lihatlah… satu menit bahagia, kemudian sedih, lalu marah… semuanya adalah Dhamma. Lihat dan pahamilah. Apa pun yang menyebabkan penderitaan, anda seharusnya mengatasinya. Jika penderitaan masih ada di sana, lihat sekali lagi, anda masih belum melihatnya dengan jelas.

Jika anda bisa melihat dengan jelas, anda tak akan menderita, karena penyebabnya tidak akan berada di sana lagi. Jika penderitaan masih ada di sana, jika anda masih menahan penderitaan, itu artinya anda belum berada pada jalur yang benar. Di mana pun anda terjebak,
bilamana anda terlalu menderita, maka tepat di sanalah letak kesalahan anda. Bilamana anda begitu berbahagia, anda melayang-layang di awan… itu dia… salah lagi!

Jika anda berlatih seperti ini, anda akan memiliki sati di setiap saat, di setiap posisi tubuh. Dengan sati, perhatian penuh, dan sampajanna, kesadaran diri, anda akan mengetahui yang benar dan yang salah, kebahagiaan dan penderitaan. Dengan mengetahui hal-hal ini, anda akan tahu bagaimana cara menghadapi mereka.

Saya mengajar meditasi seperti ini. Bila tiba waktunya untuk duduk bermeditasi, maka duduklah, itu tidak salah. Anda seharusnya melatih ini juga. Tetapi meditasi bukan hanya duduk saja. Anda harus membiarkan pikiran anda untuk sepenuhnya mengalami berbagai hal, membiarkan mereka mengalir dan pelajari sifat alami mereka. Bagaimana seharusnya anda mempelajari mereka? Lihatlah mereka sebagai hal yang fana, tidak sempurna dan tidak ada pemiliknya. Semuanya tidak pasti. “Yang ini begitu indah, saya benar-benar harus memilikinya.” Itu bukan hal yang pasti. “Saya sama sekali tidak menyukai yang ini”… katakan pada diri anda sendiri, “Tidak pasti!” Benarkah ini? Tentu saja, tidak salah lagi. Tetapi mencoba menganggap segala sesuatu itu nyata… “Saya pasti akan mendapatkan benda ini”… Anda sudah keluar dari jalur. Jangan lakukan ini. Betapa pun besarnya rasa suka anda terhadap sesuatu, anda seharusnya merenungkan bahwa ia tidaklah pasti.

Beberapa jenis makanan kelihatannya begitu lezat, tetapi tetap saja anda seharusnya merenungkan bahwa ia bukanlah hal yang pasti. Ia mungkin kelihatannya begitu pasti, ia begitu lezat, tetapi tetap saja anda harus berkata pada diri anda sendiri, “Tidak pasti!” Jika anda ingin menguji apakah ia pasti atau tidak, cobalah menyantap makanan kesukaan anda setiap hari. Ya, setiap hari. Pada akhirnya anda akan mengeluh, “Ini tidak begitu lezat lagi.” Pada akhirnya anda akan berpikir, “Sebenarnya, saya lebih menyukai makanan yang itu.” Itu juga bukan hal yang pasti! Anda harus membiarkan segala sesuatu mengalir, sama seperti nafas masuk dan nafas keluar. Di sana harus ada kedua-duanya, nafas masuk dan nafas keluar, pernafasan bergantung pada perubahan. Segala sesuatu bergantung pada perubahan seperti ini.

Hal-hal ini ada bersama kita, bukan di tempat lain. Jika kita tidak lagi ragu-ragu, apakah sedang duduk, berdiri, berjalan, atau berbaring, kita akan senantiasa damai. Samadhi bukan hanya duduk saja. Beberapa orang duduk sampai mereka terbius. Mereka mungkin hampir sama seperti orang mati, mereka tidak bisa membedakan utara dan selatan. Jangan melakukannya dengan ekstrim. Jika anda merasa ngantuk maka berjalanlah, ganti posisi tubuh anda. Kembangkan kebijaksanaan. Jika anda benar-benar lelah, istirahatlah. Begitu anda bangun, segera lanjutkan latihan anda, jangan biarkan diri anda terbius. Anda harus berlatih seperti ini. Miliki pertimbangan, kebijaksanaan, kehati-hatian.

Mulailah berlatih untuk tubuh dan pikiran anda sendiri, melihat mereka sebagai hal yang tidak permanen. Segala sesuatu yang lain juga sama. Tanamkan hal ini di dalam pikiran ketika anda berpikir bahwa makanan itu begitu lezat… anda harus berkata pada diri anda sendiri, “Bukan hal yang pasti!” Anda harus menginjak-injaknya lebih dulu. Tetapi biasanya ia yang menginjak-injak anda setiap saat, bukan? Jika anda tidak menyukai sesuatu, anda akan menderita karenanya. Beginilah caranya mereka menginjak-injak kita. “Jika dia menyukai saya, saya pun menyukainya,” mereka menginjak-injak kita lagi. Anda tidak pernah memukulnya! Anda harus melihatnya seperti ini. Bilamana anda menyukai sesuatu, katakan saja pada diri anda sendiri, “Ini bukanlah hal yang pasti!” Anda harus melawan arus untuk melihat Dhamma.

Berlatihlah di dalam segala posisi tubuh. Berdiri, berjalan, duduk, berbaring… anda dapat mengalami kemarahan di dalam posisi apa pun, benar kan? Anda bisa marah ketika berjalan, ketika duduk, ketika berbaring. Anda bisa punya nafsu keinginan di dalam segala posisi tubuh. Jadi latihan kita harus mencakup seluruh posisi tubuh; berdiri, berjalan, duduk dan berbaring. Ia harus konsisten. Jangan hanya memamerkannya saja, lakukanlah dengan sungguh-sungguh.

Ketika duduk bermeditasi, beberapa kejadian mungkin muncul. Sebelum yang satu itu diatasi, yang lainnya berlomba-lomba untuk muncul. Bilamana hal-hal ini terjadi, katakan saja pada diri sendiri, “Tidak pasti, tidak pasti.” Injak saja ia sebelum ia memiliki kesempatan untuk menginjak anda.
Sekarang, ini adalah poin yang penting. Jika anda tahu bahwa segala sesuatu itu tidak kekal, semua pemikiran anda akan setahap demi setahap menjadi terbuka. Ketika anda merenungkan ketidakpastian dari segala sesuatu yang lewat, anda akan melihat bahwa segala sesuatunya menuju arah yang sama. Bilamana sesuatu muncul, satu-satunya yang perlu anda katakan adalah, “Oh, ada lagi!”
Pernahkah anda melihat air yang mengalir?... Pernahkah anda melihat air yang tenang?... Jika pikiran anda damai, ia akan menjadi seperti air tenang yang mengalir. Pernahkah anda melihat air tenang yang mengalir? Itu dia! Anda hanya pernah melihat air yang mengalir dan air yang tenang, bukan? Tetapi anda tidak pernah melihat air tenang yang mengalir. Tepat di sana, tepat di mana pikiran anda tidak bisa membawa anda, walaupun ia damai, anda bisa mengembangkan kebijaksanaan. Pikiran anda akan menjadi seperti air yang mengalir, namun ia juga tenang. Ia hampir seolah-olah tenang, namun ia mengalir. Jadi, saya menyebutnya “air tenang yang mengalir.” Kebijaksanaan bisa muncul di sini.


* Note : Ceramah ini diberikan di Wat Tham Saeng Phet, selama Masa Vassa tahun 1981.
* Dikutip dan diterjemahkan dari buku : “The Teachings Of Ajahn Chah”, sub judul : “Living Dhamma – Still, Flowing Water”

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com