Showing posts with label Buddha dharma. Show all posts
Showing posts with label Buddha dharma. Show all posts

Thursday, February 2, 2012

Tommy : Belajar bersikap positif dengan penilaian orang lain

| Thursday, February 2, 2012 | 0 comments

Kebaktian Remaja, Sabtu 26 September 2009
Protokol : Meylianawati Dewi
Dhammapada : Nanda Devi Nur
Penulis : Tommy

Kebaktian kali ini saya mendapatkan giliran untuk mengisi ceramah atau sharing Dhamma. Berbicara di depan umum tidak sulit, tapi berceramah di depan umum bagi saya bukanlah hal yang mudah. Dengan pengetahuan & pengalaman yang saya miliki sekarang, saya merasa belum siap untuk berbagi untuk teman-teman seDhamma. Maka dari itu, saya mengajak para umat remaja yang hadir pada kebaktian kali ini untuk berinteraksi dengan teman-teman yang lain.
Pada awal bulan yang lalu Grace Chandra mengajak para umat untuk menilai karakteristik diri sendiri. Untuk melengkapi apa yang sudah dilakukan pada awal bulan September lalu, pada akhir bulan ini saya mengajak setiap umat untuk bersedia dinilai karakteristiknya oleh orang lain. Para umat saya minta untuk duduk melingkar. Ada 24 orang yang hadir pada kebaktian malam hari ini. Salah satu dari mereka, secara bergantian duduk di tengah – tengah lingkaran untuk diberi penilaian tentang sifat-sifat positif & negative oleh teman-teman lainnya pada selembar kertas. Sehingga setiap anak akan membawa pulang 23 lembar kertas yang berisi penilai sifatnya dari teman-teman yang hadir ke vihara. Tapi tentu, teman-temannya tidak menuliskan namanya dikertas tersebut.
Beberapa orang telihat antusias untuk memberi penilaian pada teman-temannya. Mungkin orang yang antusias ini mempunya unek-unek yang ingin disampaikan pada temannya tersebut.
Maksud saya mengajak para umat untuk melakukan kegiatan ini adalah agar para remaja bisa belajar mendengarkan apa yang orang lain sarankan. Mungkin penilaian orang lain terhadap sifat jelek kita mungkin begitu menyakitkan, tapi apabila memang sesuai dengan kenyataan, dan memang perlu kita ubah, kita harus berterimakasih pada orang tersebut.
Mungkin juga ada orang lain yang menilai kita BAIK, bahkan lebih baik dari kenyataan. Penilaian itu pun harus disikapi secara positif. Apabila kita memang belum seperti itu, kita harus mewujudkan penilaian tersebut apabila membawa manfaat yang baik bagi kehidupan kita.
Tapi mungkin juga orang menilai kita yang NEGATIF. Apabila kita memang tidak seperti itu, kita tidak perlu pusing, tidak perlu kesal dan terus memikirkan apa kata orang tersebut.
Satu cerita penutup yang saya sampaikan pada para umat mengenai cerita Seorang ayah dan anak yang berjalan-jalan keliling kota dengan membawa seekor kuda. Diawal perjalanan, sang anak yang masih muda mempersilahkan ayahnya untuk menaiki kuda, sedangkan sang anak berjalan menuntun kuda yang dinaiki ayahnya. Beberapa meter meraka berjalan, mereka bertemu dengan teman dari sang anak. Lalu teman sang anak itu berkata, “ Wah.. Tega amat seh ayah mu! Masa anaknya disuruh jalan, sedangkan ayahnya enak-enakan naik kuda. ”. Mendengar apa yang diucapkan oleh teman sang anak, sang ayah segera meminta anaknya yang menaiki kuda dan ia yang sekarang menuntun kuda. Lalu mereka melanjutkan kembali perjalanan keliling kota. Dipersimpangan jalan, mereka bertemu dengan teman sang ayah. Lalu teman dari sang ayah tersebut berkata, “ Wah kebangetan..! masa anaknya masih muda, tega membiarkan ayahnya yang sudah tua berjalan.” Mendengar hal itu, sang anak berpikir kalau begitu lebih baik mereka berdua saja yang menaiki kuda tersebut. Sang ayah tidak lelah, begitu pun sang anak. Akhirnya mereka setuju untuk sama-sama menaiki kuda tersebut. Tidak berapa jauh setelah mereka melanjutkan perjalanan, orang-orang di sekitarnya berkata : “ Kasian banget itu kuda, ditaiki oleh 2 orang . Tega benerrrr..!! ”. Lagi-lagi mendengar hal ini sang ayah berkata “ Kalau begitu kita tuntun saja kuda ini. Kita berdua jalan kaki saja sambil berkeliling kota. ” Karena mendengar kritikan dari orang lain, sang anak pun menyetujui apa kata ayahnya. Dan mereka berdua pun berjalan kaki keliling kota menuntun kuda tersebut. Sesampai dirumah, mereka sangat kelelahan karena berjalan keliling kota. Lalu ibu dari sang anak berkata, “ Kalian berdua sungguh bodoh..!! bawa kuda, tapi kok malah dituntun! Bukannya ditaiki. ”

Dari cerita ini, kita memang harus bisa mendengarkan saran dari orang lain. Tapi harus dibarengi dengan kebijaksanaan. Banyak orang, banyak saran, dan yang pasti banyak pemikiran. Kita yang melakukan, kita harus bijaksana. Semoga Bermanfaat.

Tambahan :

Ada pengumuman
Sdri. Nanda Devi Nur: Minggu depan hari sabtu tanggal 3 Oktober 2009 para umat remaja yang berminat untuk berdana kathina diminta untuk membawa makanan ringan dan perlengkapan Bhikkhu seperti : ( Sabun, Odol, handuk, Shampoo dll ) untuk dibuatkan parsel gabungan untuk dipersembahkan pada dana kathina tanggal 16 Oktober 2009.
Sdri. Grace Chandra :
-Hari selasa, 29 September 2009 ada rapat Buletin edisi kathina pukul 19.00
-Hari Rabu, 30 September 2009 ada belajar adobe photoshop pukul 19.00

Readmore..

Tuesday, January 31, 2012

Romo Rajiman : Persatuan dalam kelompok

| Tuesday, January 31, 2012 | 0 comments

Selamat Datang di Blog Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok
Blog ini kami persembahkan untuk teman-teman kami yang rindu akan suasana Vihara, teman-teman yang berminat belajar Dhamma, dan berbagi pengalaman spiritual. Blog ini juga kami dedikasikan sebagai jembatan para umat Vihara Surya Adhi Guna yang tidak dapat datang ke Vihara, kami menyediakan liputan, ringkasan kebaktian, foto-foto dan video setiap aktivitas yang up to date.
Semoga bermanfaat.

Readmore..

Monday, January 30, 2012

Bpk Supriatno Penyuluh agama Buddha dari DEPAG KARAWANG

| Monday, January 30, 2012 | 0 comments

Vihara Surya Adhi Guna, Perahu Dhamma: Bpk Supriatno Penyuluh agama Buddha dari DEPAG KARAWANG#navbar-iframe { display:block }Selamat Hari Kathina, Ayo Berdana kepada Sangha..Vihara Surya Adhi Guna, Perahu DhammaHomeHistoriGaleriProfilDhammaEventsKomentarSelamat Datang di Blog Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok
Blog ini kami persembahkan untuk teman-teman kami yang rindu akan suasana Vihara, teman-teman yang berminat belajar Dhamma, dan berbagi pengalaman spiritual. Blog ini juga kami dedikasikan sebagai jembatan para umat Vihara Surya Adhi Guna yang tidak dapat datang ke Vihara, kami menyediakan liputan, ringkasan kebaktian, foto-foto dan video setiap aktivitas yang up to date.
Semoga bermanfaat.

Minggu, 03 Januari 2010Bpk Supriatno Penyuluh agama Buddha dari DEPAG KARAWANG.fullpost{display:inline;}




Kebhaktian Umum, 13 November 2009
Dhammadesana : Bpk Supriatno
Penyuluh agama Buddha dari DEPAG KARAWANG

Tema : Kerukunan Umat Beragama
Penulis : Romo Pannajayo


Namo Buddhaya…!
Bapak Supriatno dalam Dhammadessananya menguraikan beberapa poin yaitu:
- Di Depag Karawang, Bapak Supriatno selaku penyuluh agama Buddha diterima baik oleh pegawai yang lainnya. Mereka semua bersikap ramah dan baik karena umat Buddha di Karawang tidak pernah mebuat masalah/merugikan orang lain.
- Kita selaku umat Buddha perlu menunjukkan indentitas diri sebagai agama Buddha di dalam KTP. Hal ini dikarenakan seberapa besar jumlah umat dapat dijadikan sebagai patokan pertimbangan bagi pemerintah untuk memberikan anggaran bantuan keagamaan.
- Kehidupan toleransi beragama di Karawng cukup bagus dan umat Buddha di mana-mana diterima oleh umat lain. Hal ini dikarenaka dari jaman para Buddha dulu, agama Buddha tidak pernah melakukan kekerasan pada penganut agama dan kepercayaan lain.
- Sang Buddha sendiri pernah menekankan kepada siswanya untuk selalu menghormati guru/ajaran yang lain atau ajaran yang lama.
- Orang yang dapat menciptakan kerukunan adalah orang yang dapat memberi manfaat bagi keluarga dan masyarakat (lingkungan).

Demikianlah ringkasan kebhaktian umum tanggal 13 November 2009, semoga bermanfaat.
Sadhu…! Sadhu…! Sadhu…!

0komentar: Poskan Komentar

Posting Lebih BaruPosting LamaBerandaLanggan:Poskan Komentar (Atom) Search ..Waisak Festival 2010Waisak Festival 2010Perayaan Waisaka Puja 2010Perayaan Waisaka puja Vihara Surya Adhi Guna akan diadakan pada hari Jumat tanggal 18 Juni 2010 pada pukul 18:00 Wib.
Acara akan dihadiri oleh Bhikkhu Sangha dari Sangha Agung Indonesia dan Pengurus Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Jawa Barat. Adapun pada perayaan kali ini sekaligus diadakan acara pelantikan para pengurus baru Majelis Buddhayana Indonesia cabang Rengasdengklok.
Catatan Kebaktian? 2010(8)? Januari(8)Air ParitaYessica F.S. : Timang-timang MamaAwal Tahun 2010Bapak Hemarta : Pentingnya KonsentrasiJanganlah pernah merasa takut jika mengingat akan ...Tahun baru 2009Bpk Supriatno Penyuluh agama Buddha dari DEPAG KA...Samanera Abhasaro : Dari terang menuju terang ?  2009(85) ?  Desember(3)Latih diri - studi meditasi aksi 2009Romo Rajiman : Persatuan dalam kelompok4 hal untuk merubah pola hidup kita ?  November(2)Bhante Upasammo : Sunguh sulit untuk mendengarkan ...Grace Chandra : English Buddhism ?  Oktober(6)Sidhi : KalyanamittaRomo Pannajayo : Hiri & OttapaPerayaan Hari Kathina 2009Yessica F.S. : Di Balik Kepribadian KitaRomo Pannajayo : Cara menjadi Agung dan BaikY. M. Bhante Adhiratano : Bekal yang kita tabung a... ?  September(8)Bpk. Hemartha : Kasih orang tua sepanjang JamanTommy : Belajar bersikap positif dengan penilaian ...Bpk. Hemartha : Perjuangan dan ProsesRomo Pannajayo : Lemah LembutPembacaan paritta malam kembangBapak Rajen : Dhamma Indah Pada awalnya, Indah Pad...Pelantikan Pengurus PMV 2009-2010Y. M. Bhante Athadiro : Hiduplah saat ini ?  Agustus(10)Grace Chandra : Personality PlusBapak Abeng : PatidanaBapak Rajiman : Hidup tidaklah pasti, tapi kematia...Romo Tanti Guna : Belajar berpola pikir BuddhisRomo Pannajayo : Keistimewaan Ajaran BuddhaGrace Chandra : kushala dhammaBhikkhu Sudassano : 4 Hal yang harus dilakukan unt...Sidhi : Ketua Terpilih PMV SAG 2009-2010Romo Pannajayo : KebahagiaanPemilihan KETUA PMV putaran pertama ?  Juli(10)Ayya Santini Talkshow : Bertemu Penderitaan, berte...Perayaan Asadha 2009 : YM Bhikkhu Sri Pannavaro Ma...Romo Pannajayo : 10 Racun kehidupanVihara Sepi : 20 Menit?.. Terasa Lama..Nyanagupta Shi Xue Zhi : Aplikasikanlah Buddha Dha...Samanera Abhasaro : PerubahanFery Karsilo : Nilai Moral & Asusila telah merosot...Yogi Gunawaro Diskusi : Pancasila BuddhisIvana M.K. : Semangat Biji TerataiY. M. Bhante Citavaro:Tujuan Luhur Umat Buddha ?  Juni(9)Yessica F.S. : DanaBpk. Indra Metta : Kebahagian pada kehidupan sehar...Games : Bermain sambil belajar ?  Mei(14) ?  April(11) ?  Maret(8) ?  Februari(3) ?  Januari(1)untuk menjelajahi blog ini dengan maksimal gunakan:
firefox dan flash player
Semoga Semua Makhluk Berbahagia

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

mengapa kita beragama buddha?

| Thursday, January 12, 2012 | 1 comments

apa itu Agama Buddha??
Agama Buddha adalah agama yang berasal dari india, agama ini ditemukan oleh petapa gotama yang telah mencapai pencerahan yang disebut buddha, sehingga agama ini dinamakan agama buddha sesuai dengan tingkat pencerahan ini. tingkat pencerahan ini bisa dicapai oleh semua orang yang tekun belajar dan mempraktekkan perbatan baik dan meditasi.

mungkin masih banyak orang yang belum mengenal agama buddha bertanya-tanya apakah inti ajarannya sama dengan milik saya?

Pada dasarnya semua orang ingin hidup bahagia kan?, oleh karena itu fungsi agama adalah menuntun umatnya untuk mencapai kebahagiaan, sekarang muncul pertanyaan agama mana yang tidak mengajarkan umatnya untuk mencapai kebahagiaan? Semua agama mengajarkan dan menganjurkan umatnya untuk berbuat baik agar memperoleh kebahagian seperti yang mereka harapkan tetapi mungkin jalan atau caranya saja yang berbeda dalam mencapainya.

kalau semua agama mengajarkan kebaikan lalu mengapa kita harus beragama I,K,H,B dll.? tentu semua itu tidak bisa kita paksakan, agama adalah kecocokan pribadi masing2, ibarat kita makan ada makanan yang hanya mengenyangkan tetapi rasanya kurang enak, ada yang tidak enak sama sekali dan tidak mengenyangkan,ada yang enak tetapi tidak mengenyangkan, dan ada yang enak porsinya pas sesuai dengan makanan sehat sehingga tidak mengenyangkan maupun kurang, dari semua porsi tersebut kita memilih yang mana? itulah agama unik bukan.

dibalik persamaan itu ada perbedaan antara agama buddha dengan yang lain yaitu jalan untuk mencapai kebahagiaan yang sudah jelas tertulis sebagai inti dari ajaran buddha yaitu
Tidak melakukan segala bentuk kejahatan
Menambah kebajikan
Mensucikan batin
Inilah ajara semua Buddha (dhammapada, XIV:183).
apabila dilihat dari inti ajarannya, jelas bahwa buddha mengajarkan kita untuk mentranformasi diri menjadi pribadi-pribadi yang baik, yang unggul, dan tercerahkan.

kalau orang ingin bahagia jangan hanya menunggu berkah turun tetapi bagaimana kita bisa mengkondisikan agar kebahagiaan itu bisa muncul. tindakan yang kita lakukan melalui pikiran maupun jasmani semuanya berawal dari pikiran. dalam agama buddha "pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. apabila dengan pikiran jahat seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani maka penderitaan akan mengikutinya, sebaliknya apabila dengan pikiran bersih seseorang berbicara atau berbuatdengan jaasmani maka kebahagiaan akan mengikuti pelakunya" (dhammapada, I:1-2). oleh karena itu untuk menghindari pikiran dari sifat2 destruktif kita perlu melatih pikiran kita dengan meditasi.

manfaat meditasi antara lain: dapat mencegah munculnya pikiran yang buruk, mengembangkan pikiran yang baik, membuat hidup lebih tenang, tidur bisa lelap dll. sebaiknya meditasi ini dilakukan secara rutin agar kita dapat merasakan hasil yang maksimal.

Readmore..

Mengenai Nibbana

| | 0 comments

(1) Ada kelompok Buddhis yang menyatakan bahwa Nibbana adalah pemusnahan diri, namun mereka juga menolak bahwa Sang Buddha mengajarkan " Kemusnahan diri ". Mereka mencoba menjelaskan kontradiksi ini dengan berkata : " Pemusnahan Diri hanya mungkin terjadi, bila ada pribadi yang akan dimusnahkan. Namun pada kebenaran akhir, tidak ada suatu yang disebut "Pribadi". Lalu, bagaimana mungkin Nibbana adalah " Pemusnahan Diri ", bila tidak ada pribadi yang akan musnah ?"
Dibalik permainan kata diatas, mereka juga tetap mengatakan Nibbana adalah kekosongan, dimana pribadi tidak ada lagi dalam bentuk apapun.

Banyak kesempatan bagi Sang buddha untuk dapat menyatakan bahwa mereka yang mencapai Nibbana telah hilang keberadaannya, tapi Beliau tidak pernah mengatakan demikian.
Sekali waktu, Upasiva bertanya kepada Sang Buddha :
Mereka yang telah pergi (ke Nibbana),
Apakah mereka musnah keberadaannya,
Atau mereka tetap tak lekang selamanya ?
Jelaskan pada saya, O, Guru bijaksana
Sebab Kaulah yang mengetahui sejelasnya.
Lalu, Sang Buddha menjawab :
Tak dapat dinilai mereka yang telah pergi.Yang oleh seseorang mungkin dikatakan sebagaiKetika semua fenomena telah tiada,Semua cara untuk menggambarkannya juga tiada.

(2) Sekali waktu, seorang pengembara bernama Vacchagota bertanya pada Sang Buddha, tentang keberadaan mereka yang telah mencapai Nibbana, mereka timbul ( dengan kata lain, tetap keberadaannya) atau tidak timbul ( dengan kata lain, hilang keberadaannya).
Sang Buddha menolak untuk memberi jawaban, dan menerangkan pada kita bahwa Beliau menolak, karena Nibbana adalah keadaan yang tak dapat diterangkan dengan kata-kata.
" Tapi, Gotama yang bijaksana, dimana timbulnya para siswa yang batinnya telah terbebaskan itu ?"
"Istilah 'Timbul' tidak dapat terpakai."
" Bila demikian, bagaimana kalau dikatakan "Tidak timbul".
" 'Tidak timbul', juga tidak terpakai."
" Bila demikian, apakah mereka 'Timbul dan juga tidak Timbul'?"
" 'Timbul dan juga tidak Timbul', juga tidak terpakai ".
" Bila demikian, mereka 'tidak timbul dan juga tidak tidak timbul' ?".
" 'Tidak timbul dan juga tidak 'tidak timbul', juga tidak terpakai."
" Dengan demikian, saya kehilangan jejak dalam hal ini, Gotama yang baik, saya bingung, dan kepuasan yang saya dapati pada pembahasan kita yang lalu, sekarang telah tiada lagi...."
" Kesadaran Tathagata terbebas dari pengungkapan-pengungkapan; dia begitu dalam, tak terukur, tak diketahui dalamnya seperti lautan.'timbul dan juga tidak timbul' tak terpakai,'tidak timbul dan juga tidak tidak timbul' juga tidak terpakai."

(3). Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seorang yang telah mencapai Nibbana, keberadaannya tidak ada lagi, adalah bahwa semua ciri-ciri yang dihubungkan dengan keberadaan- lahir, mati, jasmaniah, bergerak dalam ruang dan waktu, dan berperasaan sebagai suatu pribadi sendiri - tidak lagi dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan Nibbana.
Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seorang yang telah mencapai Nibbana, keberadaannya tidak musnah, adalah tepat seperti itu.
Dimensi Nibbana tak dapat digambarkan secara tepat dengan bahasa duniawi, pula keberadaan Nibbana tak dapat dibayangkan oleh pikiran duniawi.

(4). Walaupun sulit digambarkan, namun Sang Buddha memberi pada kita gambaran umum tentang keberadaan Nibbana. Dengan menggambarkan batin manusia, Sang Buddha berkata ;
namun dia ternodai oleh kekotoran batin Orang awam tidak menyadarinya, oleh karenanya mereka tidak menjaga batinnya. dan dapat dimurnikan dari kekotoran batin yang sebelumnya memang tidak ada. Siswa yang agung mengerti hal itu, oleh karenanya mereka menjaga batin mereka.
(Kalau kita melihat Sabda Sang buddha yang ini, maka sebenarnya terjemahan didalam Dhammapada XIV ; 183 yaitu : “Janganlah berbuat kejahatan, Perbanyaklah perbuatan baik, Sucikan hati dan pikiran , Inilah ajaran semua Buddha”, semestinya diterjemahkan sebagai Sucikan Batin....)

Dengan kata lain, batin adalah suci pada awalnya (pabhassaram idam cittam), kemudian dinodai kotoran batin yang sebenarnya adalah sesuatu yang asing bagi batin. Bila kotoran batin dibersihkan, maka batin kembali suci lagi. Sang Buddha bersabda :
Dimana tanah, air, api dan udara tak berpijak ? Dimanakah yang panjang dan pendek , kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa, akhirnya musnah?

Jawabnya adalah : Itu adalah kesadaran dari seorang Yang Agung – tak tertandai, tak terikat, dan bercahaya. Disana tak ada tempat tanah, air, api dan udara itu berpijak. Disana yang panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa akhirnya musnah. Bila kesadaran telah musnah, maka demikian pula semuanya itu. (Digha Nikaya I : 223)
Nibbana adalah “alam” dimana jasmaniah dan semua keberadaan berlawanan-pasang-panjang dan pendek, besar dan kecil, murni dan tidak murni- tidak ada lagi serta batin tak tertandai lagi (anidassanam), tak terikat(anatam) dan bercahaya(sabbo pabham). Bercirikan sebagai keadaan kekal (nibbanapadam accutam) dari kemurnian (suddhi), kebebasan (vimitti) dan kebahagiaan tertinggi (nibbanam paramam sukham).

(5). Sang Buddha juga memberitahu, bahwa Nibbana dicapai dalam dua tingkatan atau cara. Pertama, mereka yang mencapai Nibbana, dengan batin yang telah bebas, tapi karena jasmani-nya masih ada, maka dia masih menjadi obyek penderitaan jasmaniah. Ini disebut Nibbana dengan sisa dasar (saupadisesa nibbana). Lalu, setelah mereka mati, batin juga dibebaskan dari penderitaan jasmaniah dan seorang mencapai Nibbana sempurna. Ini disebut sebagai Nibbana tanpa sisa dasar (anupadisesa nibbana), atau sering pula disebut sebagai Nibbana Sempurna (parinibbana).
(6). Walau kita hanya dapat mengerti sepenuhnya keadaan Nibbana setelah kita mengalaminya sendiri, namun kita tetap dapat mengetahui keberadaan keadaan itu. Pertama, kita dapat menyimpulkan keberadaannya. Apabila ada dimensi disertai kelahiran, kematian, kekotoran batin dan kejadian, maka dapat disimpulkan bahwa ada dimensi tanpa itu. Naskah Buddhis kuno menyebutkan :

Disitu pasti pula ada Nibbana.Disitu pasti pula ada kebajikan.Keadaan”tak terlahir”, dengan demikian juga ada.


Kedua, kita dapat mengetahui adanya keadaan seperti Nibbana, karena Sang Buddha mencapainya, dan Beliau dengan tegas menjelaskan keberadaannya. Beliau bersabda : Ada sesuatu yang Tak Terlahirkan, Tak Terjadi, Tak Terbuat, Tak Tergabung. Bila tidak ada yang Tak Terlahirkan, Tak Terjadi, Tak Terbuat, Tak Tergabung, maka tidak akan ada jalan untuk bebas dari Terlahir, Terjadi, Terbuat dan Tergabung. Tetapi karena adanya Yang Tak Terlahir, Tak Terjadi, Tak Terbuat, Tak Tergabung, maka ada jalan untuk terbebas dari Terlahir,

Sekali lagi Beliau menegaskan keberadaannya, sebagai berikut : dimana tidak ada tanah, air, api dan udara, dimana tidak ada Lingkup ruang tak terbatas, Kesadaran Tak terbatas, Kehampaan, di bumi seberang ataupun keduanya, tidak ada matahari, tidak ada bulan, dimana tidak ada yang datang untuk dilahirkan,tidak ada yang pergi ke kematian, tidak ada yang terjatuh dan timbul. Inilah sebenarnya akhir penderitaan

(7). Dapatkah setiap orang mencapai kebahagiaan dan kebebasan Nibbana ? Bila dapat, apakah setiap orang pada akhirnya akan mencapainya?
Jawaban untuk hal yang pertama adalah jelas, yakni bahwa setiap orang dapat mencapai Nibbana, dan justeru Sang Buddha senantiasa mendorong setiap orang untuk menjadikan Nibbana tujuan hidupnya serta agar berupaya sekuatnya untuk mencapainya. Senandung para wanita yang telah mencapai Nibbana, terdengar lantang dan jelas, dalam menjawab pertanyaan ini.
Keadaan abadi ini telah banyak yang mencapainya,
Dan tetap dapat dicapai saat inipun,
bagi siapa yang menjalankannya sendiri,
Tapi tidak bagi yang tidak berusaha sekuatnya.
(Therigattha : 513)

Apakah setiap orang dapat mencapai Nibbana atau tidak? Jawaban dari pertanyaan ini tak dapat diramalkan, karena setiap orang mempunyai minat dan cita-cita masing-masing. Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma dan dengan segala macam cara, menganjurkan orang untuk melaksanakannya; namun tentu saja pelaksanaannya tergantung pada orang itu sendiri-sendiri.
“ Gotama Yang Baik, setelah diajar dan diarahkan oleh-Mu, apakah semua Siswa-Mu akan mencapai cita-cita murni itu, atau sebagian tidak akan berhasil?”
“ Sebagian akan mencapainya dan sebagian tidak.”
“Apa alasannya, Gotama Yang Baik? Apa penyebabnya ?”
“ Aku akan bertanya padamu, brahmin ; jawablah bila berkenan. Bagaimana pikiranmu? Apakah engkau mengetahui jalan ke Rajagaha?”
“ Ya, Gotama yang baik, saya mengetahuinya.”
“ Baik, andaikan seorang datang padamu, dan berkata bahwa dia ingin ke Rajagaha dan bertanya arahnya. lalu, engkau berkata : ‘ Jalan ini menuju ke Rajagaha; berjalanlah terus sampai ke suatu desa, berjalanlah terus sampai engkau tiba di pasar, lalu bila engkau berjalan terus, engkau akan sampai di Rajagaha dengan kebun-kebunnya yang indah, hutan-hutan yang indah, lapangan-lapangan yang indah dan kolam-kolam yang indah.

Namun ,walau telah ditunjukkan dan diarahkan olehmu jalan itu, tapi orang tadi mengambil jalan lain yang menuju ke Barat. Dan, oleh karenanya dia tidak sampai ke Rajagaha. Lalu, andaikan seorang lagi datang padamu, dan dia juga berkeinginan ke Rajagaha, lalu karena dia mengikuti petunjukmu, maka akhirnya dia tiba dengan selamat. Jadi oleh karena ada Rajagaha, oleh karena ada jalan menuju kesana dan juga ada engkau sebagai peunjuk jalan, mengapa orang yang pertama tidak sampai, sedangkan orang yang satunya lagi sampai ke Rajagaha?”
“ Gotama yang baik, apa yang harus saya kerjakan dalam hal ini ? Saya tiada lain hanyalah seorang penunjuk jalan.”

“ Demikian pula, Brahmin; ada Nibbana, ada jalan menuju ke Nibbana, dan ada aku sebagai penunjuk jalan ke Nibbana. Tapi hanya sebagian siswa yang diajar dan diarahkan oleh-Ku yang mencapai Nibbana, sebagian lainnya tidak. Apa yang dapat aku perbuat dalam hal ini? Sang Tathagata hanyalah penunjuk jalan.”
(Majjhima Nikaya II ;5 )
Tapi satu hal yang pasti, siapapun yang mencapai Nibbana adalah sebagai hasil menjalankan ajaran Sang Buddha.

“ Bila, dengan pengertian penuh Gotama Yang Baik telah mengajarkan Dhamma pada Siswanya untuk pemurnian makhluk hidup, untuk mengatasi penyesalan dan keputusasaan, untuk mengakhiri kesedihan dan kemurungan, untuk mencapai tatacara-Nya, untuk mencapai Nibbana; lalu apakah seluruh dunia akan mencapainya, atau seperduanya, atau sepertiganya?”
Sampai disitu, Sang Buddha berdiam diri. Lalu Ananda berpikir:” Orang ini hendaknya jangan sampai berpikir bahwa Sang Buddha tidak dapat menjawab pertanyannya yang penting ini.”
Jadi Ananda berkata :” Saya akan memberitahu suatu perumpamaan.”
Bayangkan ada suatu kota dikelilingi oleh tembok dengan dasar pondasi yang sangat kuat, bermenara dan hanya berpintu gerbang hanya satu, pintu gerbang dijaga ketat, hanya orang yang dikenal diperbolehkan melewatinya dan orang asing tak diperbolehkan melewatinya. Lalu, ketika seseorang berjaga di sekeliling tembok, dia tidak menemukan satupun lobang yang dapat dilewati walau oleh seekor kucing pun. 

Dengan demikian dia tahu, bahwa semua makhluk, besar ataupun kecil, hanya dapat masuk ke kota atau keluar dari kota dengan melewati gerbang tersebut. Sama halnya dengan pertanyaanmu, tidaklah penting bagi Sang Buddha. Apa yang disabdakan Beliau adalah, bahwa : Siapapun yang telah terbebas, sedang terbebas ataupun akan terbebas dari dunia ini, dia akan terbebas dengan cara melepaskan kelima rintangan, melepaskan kesesatan batin yang melemahkan kebijaksanaan, dia akan tebebas dengan cara mengembangkan batin dalam empat dasar kesadaran, dan dengan mengembangkan tujuh unsur pencerahan.” (Anguttara Nikaya V : 194).


Setelah Sang Buddha mencapai Nibbana, Beliau “ mengajak” semua umat manusia untuk mengikuti Jalan agar umat manusia juga dapat menikmati kedamaian, kebahagiaan dan kebebasan. “Ajakan” beliau masih berlaku sampai saat ini.
Pintu-pintu ke Abadian telah terbuka,Marilah, mereka yang dapat mendengar,
Demikianlah adanya dan semoga bermanfaat.
Sadhu...Sadhu...Sadhu.
Sumber Tulisan: http://tanhadi.blogspot.com/2010/01/tentang-nibbana.html

Readmore..

Sati dan Meditasi Vipassana

| | 0 comments

Apabila seorang meditator mengamati emosi atau sensasi fisiknya,maka pada saat itu dia akan merasakan emosi dan sensasi fisiknya sekaligus..Sati bukanlah merupakan kesadaran intelektual,tetapi sati hanya semata-mata "kesadaran"[sering disebut perhatian murni,kesadaran murni,dan seterusnya,terserah Anda melabelinya sebagai apa..],kiasannya adalah "pikiran berhenti disini"

Sati memang bersifat objektif,tetapi bukan berati orang yang mengalami sati itu adalah robot,mumi,sati tidak dingin dan bukannya tanpa perasaan!!Sati adalah pengalaman yang sadar akan kehidupan,suatu pengamatan yang waspada dalam proses kehidupan yang terus berlangsung..

Sati melihat hal-hal sebagaimana adanya,sati juga melihat sifat segala fenomena secara mendalam..Mari kita mencoba untuk mendefinisikan sati itu secara terperinci..

Didalam sati,tidak ada dialog di dalam diri,karena sati bukan berpikir..Mereka yang bermeditasi mungkin harus bekerja keras selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun untuk menuju ke sana...Karena sudah sangat lama kita terbiasa terbelenggu dalam buah pikir,dan kebiasaan itu "kuat sekali bertahan"..
Bila ada Sati,Anda dapat melihat "diri anda yang terbelenggu didalam buah pikir",kesadaran seperti itu lah yang membuat Anda dapat "mundur"[tidak turut campur] dari proses berpikir untuk kemudian "terbebas darinya"..

Sati mempunyai rasa khasnya sendiri didalam kesadaran,Sati memiliki rasa yang ringan,jernih,dan penuh energi..Sebaliknya ,pikiran ini bersifat berat,merenung,dan memilih milih..Tetapi sekali lagi semua itu "hanya kata-kata",pengalaman Anda sendiri yang akan menunjukan "perbedaanya"..Mungkin saja Anda juga memiliki kata-kata sendiri,sehingga tulisan saya ini tidak ada artinya bagi Anda,Ingat lah bahwa prakteklah yang merupakan hal terpenting!!

Sati melihat segalanya sebagaimana adanya,tanpa adanya persepsi didalamnya,juga tidak ada penyelewengan apapun didalam Sati,Sati hanya merupakan perhatian murni yang hanya melihat pada apa yang muncul..Bertolak belakang dengan "pikiran" yang menempelkan hal-hal pada pengalaman kita,membebani kita dengan konsep,ide,opini,menenggelamkan kita kepada pusaran rencana,kecemasan,takut,delusi,ilusi,dan fantasi..

Tetapi bila ada Sati,Anda tidak memainkan permainan itu[pikiran yang melekat dan memberikan respon dengan berbagai emosi],Anda hanya melihat apa yang muncul persis seperti apa yang muncul di pikiran,kemudian Anda akan mengamati "ah ini...dan sekarang ini...ini...",itu lah kesederhanaan dari sati..
Sesungguhnya hanya Sati yang dapat memahami 3 sifat utama yang diajarkan oleh Buddha,yang merupakan kebenaran yang paling mendalam..3 sifat ini dikenal sebagai Anicca,Anatta dan Dukkha..Didalam Ajaran Buddha,ketiga sifat[kebenaran] ini tidak disajikan sebagai dogma yang menuntut pada imam yang buta..

Umat Buddhist sering merasa bahwa kebenaran ini bersifat universal,dan tampak jelas bagi siapapun yang sungguh-sungguh mau menyelidikinya..Satilah satu-satunya metode yang ada untuk menyelediki hal tersebut..

Sati melihat bahwa semua hal-hal yang terkondisi pada intinya bersifat sementara,setiap hal duniawi pada akhirnya memang tidak memuaskan,dan sebenarnya tidak ada "aku" / "jiwa"[atau terserah Anda mau melabelinya apa] yang tidak berubah atau yang kekal,yang ada hanyalah "proses-proses" belaka..
Sati sebenarnya melihat sifat setiap pemikiran/persepsi yang tidak kekal,ia melihat bahwa sifat segala sesuatu yang "dilihatnya" sebagai sesuatu yang hanya bersifat sementara dan berlalu[timbul dan tenggelam],ia juga melihat bahwa tidak ada gunanya melekati/memegang pada pertunjukan-pertunjukan[pengalaman] yang terus berlalu itu.

Kedamaian tidak dapat ditemukan dengan cara seperti itu,akhirnya setelah melihat kedua hal tersebut,sati melihat bahwa sifat dasar semua fenomena itu tanpa inti,ia melihat bagaimana kita secara acak memilih kumpulan persepsi tertentu,memisahkannya dari keseluruhan "arus pengalaman" ,dan kemudian mengkonsepkan "potongan-potongan itu" sebagai substansi yang terpisah dan bertahan..Sati akan melihat hal tersebut terjadi,tetapi ia tidak berpikir tentang hal-hal itu,melainkan hanya "melihat"nya secara langsung..

Masalahnya adalah sesungguhnya ketiga sifat dasar tersebut tidak benar-benar ada sebagai hal-hal yang terpisah,hal-hal itu hanya merupakan hasil usaha kita untuk melihat proses sederhana yang disebut sati ini..Kemudian kita mengungkapkannya melalui simbol-simbil,konsep,kata dari pikiran yang tidak cocok..
Sati adalah suatu proses,tetapi proses ini tidak terjadi secara bertahap,melainkan suatu proses menyeluruh yang muncul sebagai suatu "kesatuan",sati mengetahui hal-hal persis sebagaimana adanya tanpa penyelewengan..Walau Anda mengalami hal tersebut,tidak berati bahwa Anda serta merta akan mencapai pembebasan[bebas dari segala hal] sebagai hasil sati Anda yang pertama kali..Bagaimanapun sati ini harus dikembangkan menjadi "kesadaran penuh tanpa jeda"..

Sati merupakan pusat dari meditasi Vipassana dan inti dari segala proses itu.Sati merupakan tujuan meditasi dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut[sekali lagi,jari menunjuk ke bulan,bahwa jari itu bukanlah bulan!!!]..Jika orang-orang memperhatikan/mengamati apa yang benar-benar sedang terjadi didalam pikirannya sendiri akan mencapai "kewaspadaan tertinggi"[Appamadena]

Sati juga memiliki arti sebagai "mengingat",tetapi bukan kenangan dengan pengertian ide-ide dan gambaran masa lalu,melainkan merupakan proses mengetahui yang langsung,jernih dan tanpa kata/konsep,tentang apa sebenarnya sesuatu itu,dan apa yang bukan,mengenai apa yang benar dan apa yang tidak benar,tentang apa yang sedang kita lakukan dan bagaimana kita harus melakukannya..
Sati yang sudah berkembang secara penuh merupakan suatu keadaan tanpa adanya kemelekatan sama sekali terhadap apapun yang ada didunia ini,jika kita dapat "mempertahankan" keadaan ini,kita tidak lagi membutuhkan "alat" atau "cara" apapun untuk membebaskan diri kita dari rintangan-rintangan,kita dapat mencapai pembebasan dari semuanya..Sati tidak bersifat permukaan belaka,tetapi ia melihat secara mendalam,mengamati setiap hal yang paling mendalam,pengamatan ini membimbing menuju pada "kemutlakkan"[sama sekali tidak ada keraguan]

Sati tidak hanya menaklukkan rintangan-rintangan mental[yang ada tercatat dalam Tipitaka seperti nafsu keinginan,rasa malas,kesenangan seksual,kebencian,kegelisahan,dstnya],tetapi juga menelanjangi semua "rintangan" tersebut serta menghancurkannya..Hasilnya adalah pikiran ini tidak ternoda dan tidak goyah,sepenuhnya tidak terseret oleh pasang surutnya kehidupan ini..
Semoga kita selalu dapat memahami Dhamma ini!!



Sadhu..Sadhu..Sadhu...
Sumber: Riky Liau

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Pengaruh Agama Buddha Terhadap Sendi-Sendi Kehidupan

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

Pengaruh Agama Buddha Terhadap Sendi-Sendi Kehidupan Masyarakat Sri Lanka
Samanera Dhammasiri
Pengantar
Tentu Sri Lanka adalah negara yang tidak asing di telinga kita, orang Indonesia. Nama Sri Lanka sendiri digunakan sejak tahun 1972. Sebelumnya negara ini lebih terkenal dengan sebutan Ceylon. Di dalam buku-buku kuno, negara ini dikenal sebagai Tambapani, Siha?adipa dan bahkan saya pernah mendapat informasi bahwa Svarnadipa yang hingga saat ini masih menjadi kontroversi di antara para sarjana Buddhist, juga dianggap sebagai sebutan untuk Sri Lanka. Secara official, negara ini disebut Sri Lanka Prajathanthrika Samajavadi Janarajaya.

Sri Lanka terletak di sebuah pulau kecil yang luasnya 65,610 km2 atau kurang lebih dua kali Provinsi Jawa Tengah. Sensus tahun 1999 menunjukkan bahwa negeri ini dihuni oleh 18.552.000 jiwa. Program keluarga berencana yang telah dilaksanakan secara traditional sejak ribuan tahun yang lalu membuat Sri Lanka memiliki rata-rata pertumbuhan penduduk cukup rendah—1.3% per tahun.

Di mata dunia, Sri Lanka terkenal sebagai negara yang paling ortodoks dalam mempertahankan tradisi agama Buddha. Oleh karenanya, sejak awal hingga sekarang, agama Buddha mazhab Theravada tetap mendominasi negara ini dan tetap mempertahankan Bahasa Pali sebagai bahasa agama Buddha. Karena alasan tersebut, kita pun cukup sulit untuk menemukan vihara dari mazhab lain. Saya pernah menemukan sebuah vihara yang dibangun oleh bhikkhu dari Jepang tapi tetap dihuni oleh bhikkhu Sri Lanka.

Sejarah Singkat Agama Buddha
Secara tradisi, masyarakat Sri Lanka percaya bahwa agama Buddha telah ada di Sri Lanka sejak zaman Sang Buddha bahkan seawal 2 bulan sejak Sang Buddha mencapai pencerahan. Tapussa dan Bhalluka adalah dua pedagang yang pertama kali bertemu dengan Sang Buddha pada minggu ketujuh setelah Sang Buddha mencapai pencerahan. Mereka mendapatkan relik rambut dari Sang Buddha. Setelah mereka pulang ke negerinya, mereka membangun stupa untuk menyimpan relik tersebut. Masyarakat Sri Lanka percaya bahwa Tapussa dan Bhalluka berasal dari Sri Lanka.

Di kalangan masyarakat luas, juga ada kepercayaan bahwa Sang Buddha pernah mengunjungi Sri Lanka. Dipercaya Sang Buddha mengunjungi Sri Lanka sebanyak 3 kali. Selama dalam kunjungan itu, Sang Buddha sempat mengunjungi 16 tempat yang berbeda. Di antara tempat-tempat yang pernah Beliau kunjungi adalah Kelaniya Rajamaha Vihara, Siripada, Mahiyangana, dan sebagainya.

Tentu cukup sulit untuk membuktikan kebenaran kepercayaan tersebut. Akan tetapi, kita pun patut mempertimbangkannya karena sumber yang ada di Tibet dan China juga mendukung kepercayaan tersebut. Dulva, nama Vinaya dalam tradisi Tibet, menyebutkan bahwa beberapa pedagang tanpa sengaja berlabuh di Sri Lanka karena dihempaskan oleh badai. Di Sri Lanka mereka bertemu dengan Putri Ratnavali. Dari para pedagang tersebut, sang putri mendapatkan banyak cerita tentang kehidupan spiritual Sang Buddha. Akhirnya ia mengirim utusan kepada Sang Buddha untuk meminta obat kekekalan. Sang Buddha minta utusan tersebut mengambil sebuah kain dan membentangkannya di antara Sang Buddha dan lampu. Utusan tersebut mewarnai bayangan Sang Buddha dengan berbagai warna.
Cerita dari China mengatakan bahwa ketika Sang Buddha mengunjungi Sri Lanka, masyarakat Sri Lanka, khususnya Ratnapura, sangat miskin dan pada umumnya menjadi pencuri. Karena kasih sayang dan untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar, Sang Buddha memercikkan embun manis (sweet dew). Embun tersebut mengkristal menjadi batu-baru permata. Karenanya, Ratnapura menjadi tambang batu permata yang cukup terkenal di dunia. Batu-batu permata seperti merah delima (ruby), ratna cempaka (topaz), batu akik (garnet), mata kucing (cat eye), batu nilam (sapphire) dan lainya dapat ditemukan di daerah ini.

Secara historis dan bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa agama Buddha berkembang di Sri Lanka sejak abad ketiga Sebelum Masehi. Hal ini ditandai dengan pengiriman misionaris ke Sri Lanka yang dipimpin oleh Y.M. Mahinda dan belakangan oleh adiknya Y.M. Sanghamitta Theri. Sejak saat itu hingga sekarang, boleh dikatakan bahwa agama Buddha tidak pernah putus di Sri Lanka. Namun karena berbagai alasan, pasang surut dan ketidakstabilan dalam agama Buddha tetap tidak dapat dihindari.
Karena agama Buddha telah mengakar kuat di Sri Lanka, hampir semua aspek-aspek kehidupan masyarakat Sri Lanka dihubungkan dengan agama Buddha. Sejauh manakah pengaruh agama Buddha terhadap kehidupan masyarakat Sri Lanka? Atau seberapa kuatkah agama Buddha mengakar dalam kehidupan masyarakat? Marilah kita lihat dan kita telusuri kehidupan mereka satu persatu sehingga hal itu akan menjadi jelas.

Kedermawanan
Kedermawanan adalah salah satu ajaran yang paling mendasar dalam agama Buddha. Sebagai buktinya, setiap ajaran-ajaran yang penting diawali dengan kedermawanan. Jiwa kedermawanan ini telah mengakar kuat dalam berbagai lini kehidupan masyarakat. Banyak fakta yang dapat kita gunakan untuk membuktikan hal ini.

Pada setiap perayaan Waisak, masyarakat membuat torana atau lampion untuk dijadikan objek pertunjukan selama masa Waisak. Pada malam hari, masyarakat berduyun-duyun untuk menyaksikan torana dan lampion ini. Untuk mengantisipasi umat yang lapar dan haus, banyak umat-umat yang dermawan menyediakan makanan dan minuman secara gratis bagi para pengunjung. Kemudian kalau kita mendaki Sripada, di kaki gunung kita akan menemukan orang-orang yang dermawan memberikan obat-obatan dan minuman serta makanan secara gratis.

Tidak hanya materi yang kita dapatkan yang bisa kita danakan untuk kesejahteraan orang lain. Badan jasmani yang kita miliki juga bisa didanakan. Dilandasi oleh semangat upaparamita, umat-umat Sri Lanka mendanakan bagian-bagian fisik yang masih dapat dimanfaatkan seperti ginjal, jantung, mata atau bahkan seluruh tubuhnya ketika mereka meninggal agar dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Oleh karena perbuatan luhur tersebut, Sri Lanka menjadi bank mata terbesar di dunia.

Kondektur dan sopir Sri Lanka adalah orang yang baik hati. Kalau kita ingin bepergian ke suatu tempat dan kita tidak mengetahuinya, kita bisa tanya dan mereka akan menunjukkan secara pasti tempat itu tanpa embel-embel apapun. Kendaraan-kendaraan angkutan umum di Sri Lanka mempunyai tradisi yang cukup baik. Kursi di belakang supir adalah untuk para biarawan. Di barisan kedua tepat di belakang kursi para biarawan adalah untuk ibu hamil. Kursi di dekat pintu adalah untuk orang cacat. Oleh sebab itu, kalau ada bhikkhu, ibu hamil atau membawa anak kecil atau orang cacat masuk dan kursi yang dikhususkan untuk mereka sedang ditempati, sopir akan minta penumpang itu untuk pindah. Kalau mereka tidak mau pindah, sopir akan menegur atau bahkan marah sambil mengatakan, “Kamu ini orang bermoral atau tidak, ngerti ia masuk kamu tetap duduk di situ.”

Karena telah menjadi budaya, para penumpang pun akan langsung memberikan tempat duduknya kalau mereka melihat ada bhikkhu, ibu hamil, membawa anak, orang cacat atau orang yang sudah tua. Namun di Indonesia, menurut Pak Cornelis Wowor, jauh lebih baik dari penumpang di Sri Lanka. Begitu ada orang tua yang masuk, semua penumpang langsung meditasi. Maksudnya, langsung tutup mata pura-pura tidak tahu.

Kalau ada penumpang yang berdiri dan ia membawa barang yang cukup berat, penumpang yang duduk akan meminta barang tersebut untuk dibawakan. Setelah penumpang itu mau turun ia akan meminta barang itu kembali. Mereka juga saling bahu membahu kalau ada yang berniat untuk melakukan kejahatan. Pernah ada suatu kasus seorang remaja menggangu wanita di sebelahnya. Wanita itu langsung menjerit dan bus pun dihentikan. Remaja itu langsung dihajar babak belur oleh seluruh penumpang bus.

Kesederhanaan
Sang Buddha mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana—namun tidak berarti tidak harus bekerja keras atau bermalas-malasan. Ajaran ini telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat Sri Lanka. Mereka tetap hidup dalam kesederhanaan meskipun mereka memiliki materi yang boleh dibilang lebih dari cukup.

Suatu ketika ada seorang wanita ke vihara dan sambil menunggu kepala vihara datang ia menyempatkan diri berbincang-bincang dengan kami. Penampilannya sangat sederhana dan dalam pandangan kami dia adalah orang biasa saja—maksudnya tidak punya kedudukan apa-apa. Setelah ia pergi, salah seorang bhikkhu lokal mengatakan bahwa dia adalah dosen di Universitas Kolombo, sungguh tidak kami sangka.
Prof. Galmagoda Sumanapala adalah salah satu professor terkenal di Sri Lanka bahkan masyarakat memberikan gelar the gem of Sri Lanka kepadanya. Akan tepapi, beliau adalah orang yang sangat sederhana dan bersahaja. Sangat sulit untuk mengidentifikasi bahwa beliau adalah professor terkenal karena penampilannya tampak seperti orang biasa. Karena jiwa kesederhanaannya, Prof. Jayasuriya, dosen ekonomi, pernah diusir oleh kondektur bus karena dianggap pengemis jalanan. Penampilan-penampilan para professor terkenal yang lainnya pun tidak ada bedanya. Mereka tampak sederhana. Mereka sangat sulit diidentifikasi bahwa mereka adalah para professor.

Beberapa kali ketika saya sedang pergi ke Maitri Dhamma School, beberapa kendaraan cukup mewah berhenti dan minta saya naik. Sesampainya di dalam, sopirnya bertanya “Apakah Samanera tahu saya?” Tidak ada jawaban lain selain “I do not know, sir.” Ia pun minta saya tidak perlu kuatir karena anaknya juga berada di Maitri Dhamma School. Sesampainya di sekolah saya berusaha untuk mencari tahu yang mana anaknya. Aduh, aduh saya tidak menyangka anak sesederhana itu adalah anak dari orang-orang yang kehidupannya dapat dikatakan mapan secara ekonomi. Sebut saja Thiloma Dissanayake, teman mengajar, dan adiknya Thamali Dissanayake, keduanya adalah murid kami yang paling pandai, hari-hari ke sekolah pakai pakaian seragam sekolah, buku di tangan dan pakai sandal jepit seharga Rp. 3.000. Padahal mereka adalah anak dari orang yang saya ceritakan di atas. Saat saya berkunjungung ke rumahnya, rumahnya juga sangat sederhana walaupun ayahnya punya perusahaan tas.

Kesederhanaan juga dimanifestasikan dalam makanan. Dalam makanan Sri Lanka, menunya tidak terlalu banyak karena mereka menyadari fungsi makanan yaitu untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Banyak pula makanan yang tidak lagi kita makan, masih tetap dimakan oleh orang Sri Lanka. Ambil contohnya singkong rebus. Justru, singkong rebus biasanya dipersembahkan oleh keluarga mapan. Banyak sayuran dan umbi-umbian yang telah kita lupakan masih tetap dikonsumsi oleh masyarakat Sri Lanka.

Kadang ketika kami mahasiswa luar negeri sedang berkumpul kami pun geguyon “Wuah orang Sri Lanka ini mau mentang ajaran Sang Buddha.” “Emangnya kenapa?” begitu tanya yang lain. “Masa dari dulu ketika pertama kali saya datang sampai sekarang makanan tidak pernah berubah.” Ya, kami pun hanya tertawa mendengar geguyon semacam itu.

Banyak di antara kita yang terseret arus globalisasi sehingga apa pun trend yang ada selalu kita ikuti dan meninggalkan tradisi lama. Hal ini tidaklah begitu tampak dalam kehidupan masyarakat Sri Lanka. Mereka, walaupun mengikuti perkembangan zaman, tetap berusaha mempertahan budaya meraka. Contohnya, adalah pakaian tradisional, obat-obatan tradisional dan sebagainya. Wanita tetap menggunakan pakaian tradisional dipandu dengan sari. Mereka masih senang memelihara rambut mereka tumbuh panjang dan mengepang rambut adalah hal yang biasa. Di Indonesia, pemandangan seperti itu sudah sangat sulit ditemukan karena pada umumnya wanita merasa malu melakukan hal itu. Alasannya kuatir rambutnya dianggap seperti buntut kuda.

Hubungan Orangtua dan Anak
Sungguh saya sangat terkesan melihat dan mendengarkan cerita tentang hubungan orangtua dan anak dalam kehidupan masyarakat Sri Lanka. Saya melihat dan merasakan ada hubungan kasih sayang yang sangat luar biasa antara orangtua dan anak. Orangtua sangat mencintai anak-anaknya. Demikian pula anak-anak, mereka juga sangat mencintai orangtuanya. Dengan demikian, anak-anak mendapatkan kasih sayang yang cukup dan orangtua pun tidak kekurangan perhatian.

Meskipun sibuk, orangtua Sri Lanka tetap berusaha memberikan kasih sayangnya kepada anak-anak. Sebagai contohnya, mereka akan berangkat kerja setelah anak-anak berangkat sekolah sehingga memungkinkan bagi anak-anak untuk bernamaskara (sujud) kepadanya. Kalau memang sempat, mereka akan mengantarkan anaknya ke sekolah dan menjemputnya saat pulang walaupun mereka kadang sudah duduk di bangku SMU. Pada malam hari, mereka akan tidur setelah anak-anak bernamaskara (bersujud). Dengan demikian, setiap hari orangtua memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bernamaskara (sujud) sebanyak dua kali.

Prof. Galmagoda Sumanapala adalah professor, juga guru besar yang luar biasa sibuknya. Beliau adalah dosen di S1, S2, S3, direktur fakultas ayurvedik (dulu saat article ini saya tulis. Sekarang beliau menjabat sebagai Directur Post-Graduate Institute of Pali and Buddhist Studies) dan juga mahasiswa ayurvedik, penceramah di radio maupun televisi, dan banyak lagi tugas-tugas yang harus beliau jalankan. Akan tetapi, kepada kami beliau mengatakan, “Kalau anak saya bilang, “Pak ayo kita nonton ke bioskop” saya pun akan temani mereka karena itu adalah tugas saya sebagai orangtua.”

Orangtua Sri Lanka sangat memperhatikan kesejahteraan anak-anaknya baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, ketika mereka punya uang mereka akan langsung buka tabungan atas nama anak mereka agar anaknya tidak mendapatkan kesulitan di kemudian hari. Mereka juga akan menyediakan perlengkapan untuk anaknya ketika mereka menjalani kehidupan rumah tangga dan mereka mempersiapkan semua itu sejak dini.

Karena tingginya rasa kasih sayang dan perhatian terhadap anak-anak dan orangtua, wanita Sri Lanka banyak dicari untuk menjadi pembantu rumah tangga. Salah satu faktor yang membuat meraka dapat memperpanjang visa di Siprus sehingga saat ini ada 80.000 penduduk Sri Lanka di negara yang luasnya hanya 9.251 km2 tersebut adalah karena alasan itu dan karena kecerdasan anak-anak mereka. Pernah juga ada seorang wanita Sri Lanka menjadi pembantu rumah tangga di Inggris. Ia melaksanakan tugas dengan baik sehingga majikannya puas atas pelayanan yang ia berikan. Pada saat detik-detik terakhir menjelang kematiannya, majikannya yang statusnya unmarried millionaire, menulis surat wasiat. Surat itu berbunyi, “Seluruh harta kekayaan yang saya miliki, saya wariskan kepada pembantu saya.” Akhirnya, pembantu itu pun jadi milioner dadakan.

Semangat Belajar
Karena pengaruh agama Buddha, Sri Lanka telah memulai kegiatan literaturnya sejak abad kesatu Sebelum Masehi. Hal ini ditandai dengan ditulisnya Tipitaka ke dalam daun lontar. Semenjak saat itu, kegiatan akademik seperti belajar dan menulis terus mewarnai kehidupan masyarakat Sri Lanka. Sebagai imbasnya, kita pun bisa menemukan karya-karya sastra hasil kreasi masyarakat Sri Lanka seperti Dipava?sa, Mahava?sa, Rasavahini, Balavatara dan masih banyak yang lainya. Di abad modern ini, Sri Lanka dikenal sebagai negara yang paling produktif di Asia dalam memproduksi buku. Mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek pada umumnya pandai menulis. Selain itu, Sri Lanka juga telah melahirkan sarjana-sarjana Buddhist tingkat dunia. Sebut saja, K.N. Jayatilleke, G.P. Malalasekera, D.J. Kalupahana, K. Sri Dhammananda dan yang lainnya.

Masyarakat Sri Lanka mempunyai minat belajar yang cukup tinggi. Mereka tidak pernah merasa bahwa umur menjadi halangan dalam belajar. Bhante Belangoda Ananda Maitreya mengenal komputer pada usia 94 tahun. Tanpa menyia-nyiakan waktu atau merasa terlalu tua, beliau pun mempelajari komputer. Padahal banyak di antara kita yang masih muda dan memiliki ingatan yang masih kuat, merasa malas untuk belajar—sungguh luar biasa!!!

Secara global, masyarakat Sri Lanka memiliki semangat belajar yang tinggi karena dipicu oleh ide bahwa mereka merasa mempunyai tanggung jawab untuk tetap mempertahankan ajaran Sang Buddha. Dengan sendirinya, mempelajari bahasa menjadi salah satu favorit di kalangan masyarakat luas. Mereka senang mempelajari bahasa asing. Pali, Sanskrit, Inggris, Jepang, Mandarin adalah bahasa favorit. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau kita menemukan banyak orang yang mampu berbahasa Inggris dengan baik di negeri ini. Tidak hanya orang-orang yang berdasi yang mampu berbahasa Inggris. Pengamen dan pengemis meski jumlahnya cukup sedikit, juga pandai berbahasa Inggris. Saat mereka sedang mengamen atau mengemis, mereka menggunakan Bahasa Inggris dengan fasih. Kadang saya pikir Bahasa Inggris mereka jauh lebih baik dari sarjana-sarjana yang kita miliki.

Toleransi Beragama
Ada empat agama yang diakui secara resmi di Sri Lanka yaitu Buddha, Kristen, Hindu dan Islam. Agama Buddha dianut 69% penduduk Sri Lanka, Hindu 15%, Kristen 8% dan Islam 7%. Semua agama hidup dengan rukun dan saling bahu membahu.

Walaupun agama Buddha menjadai agama mayoritas di Sri Lanka semanjak awal hingga sekarang, tidak ada larangan bagi agama lain untuk berkembang di negara ini. Semuanya diberi kebebasan untuk menganut suatu agama berdasarkan kepercayaan mereka masing-masing.

Pernahkah Anda mendengar atau melihat semua agama yang ada di negara tersebut duduk bersama menghormati satu objek? Saya tidak saja hanya mendengar tapi melihat sendiri hal itu dan hal semacam itu hanya saya temukan di Sri Lanka yaitu Siripada. Semua agama yang ada di Sri Lanka percaya bahwa Siripada adalah tempat yang bersejarah bagi agama mereka. Agama Buddha percaya bahwa Siripada adalah replica telapak kaki Sang Buddha. Umat Hindu percaya bahwa itu adalah replica telapak kaki Vishnu. Sementara agama Islam dan Kristen meyakini bahwa itu adalah telapak kaki nabi Adam. Sebagai akibatnya penganut agama-agama dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia berduyun-duyun mengunjungi Siripada untuk memberikan penghormatan. (untuk lebih lengkapnya silakah baca artikel berjudul Sripada: Buddhism’s Most Sacret Mountain di www.buddhanet.net/e-learning/buddhistworld/sri-pada.htm)

Dalam sejarah memang agama Kristen pernah menghancurkan agama Buddha. Mereka memaksa orang-orang Sri Lanka untuk menganut agama Kristen dan bahkan membunuh anak-anak mereka dengan cara yang tragis bila mereka tidak mau pindah agama. Juga ada isu bahwa kelompok sparatis Macan Tamil Elam (LTTE) disponsori oleh orang Kristen. Namun demikian, umat Buddha tetap tenang dan tampak tidak ada dendam atas apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Kristen. Justru sebaliknya, banyak umat Kristen yang menaruh simpati kepada agama Buddha. Banyak juga yang karena tidak puas beragama Kristen, kemudian pindah ke agama Buddha. Prof. Galmagoda Sumanapala memperkenalkan saya kepada seorang psikiater Kristen yang menikah gara-gara ingin merealisasi Nibbana dalam kehidupan sekarang ini juga.

Penghargaan Terhadap Kehidupan
Sri Lanka is the paradise of animals (Sri Lanka adalah surganya para binatang) adalah salah satu komentar yang dilontarkan menanggapi kondisi kehidupan binatang di Sri Lanka. Mengapa julukan semacam itu diberikan? Jawabannya ternyata sangat gampang yaitu karena semua binatang bisa hidup dengan bebas tanpa merasa terganggu.

Sri Lanka berbeda dari Indonesia. Di Indonesia, kita tidka bisa membiarkan begitu saja binatang peliharaan kita. Kita harus menjaga dan merawatnya dengan baik. Kalau tidak, mungkin dalam hitungan jam habis dijarah pencuri. Di Sri Lanka binatang peliharaan dibiarkan begitu saja. Oleh karena itu, seperti di sekitar Kota Kolombo atau di tempat-tempat lain, kita bisa menyaksikan kambing, sapi, atau kerbau berkeliaran begitu saja. Yang lebih menakjubkan lagi, mereka juga diberi hak yang sama dalam menggunakan jalan raya. Kalau ada sapi, kambing, kerbau atau binatang yang lain sedang menyebrang jalan, dengan bersabar para supir menunggu hingga binatang itu menyebrang jalan.
Mungkin karena kuatnya kasih sayang umat Sri Lanka kepada binatang, kita dapat menyaksikan berbagai jenis burung atau binatang lain yang sudah sulit kita jumpai di Indonesia. Meskipun vihara kami ada di tengah kota, suasananya tidak ada bedanya dengan di tengah hutan di Indonesia. Setiap saat kita bisa mendengarkan burung-burung berkicau menyanyikan lagu dengan penuh kebahagiaan. Selain itu, mereka juga tidak takut dengan manusia.

Ketika kami masih tinggal di Vihara Bellanwila, ada burung kutilang yang bersarang di dekat kuti kami. Anda boleh percaya juga bolah tidak, walaupun burung itu adalah burung liar tidak ada bedanya dengan burung peliharaan. Setiap pagi, Samanera Santacitto rajin memberikan pisang dan dengan santai tanpa perasaan takut, burung itu makan pisang sambil hinggap di tangan Samanera Santacitto.

Karena kuatnya pengejawantahan sila pertama yaitu menghindari pembunuhan, umat-umat Buddha sangat jarang bahkan boleh dibilang sama sekali tidak melakukan pembunuhan. Namun demikain, umat Buddha Sri Lanka bukanlah umat vegetarian. Mereka juga makan daging dan ikan. Lalu dari manakah ikan dan daging tersebut didapatkan? Begitulah pertanyaan yang mungkin muncul di benak Anda.
Umat Buddha Sri Lanka sangat jarang makan daging. Kalau pun toh mereka makan paling banter hanya daging ayam. Oleh karena itu, ayam adalah binatang yang paling sial di Sri Lanka. Daging ini pada umumnya disediakan oleh umat agama lain yaitu Islam, Kristen atau Hindu. Umat Islam adalah yang mendominasi daging ayam sementara umat Kristen dan Hindu yang mendominasi untuk menyediakan daging babi atau sapi. Karena umat Buddha Sri Lanka sangat jarang atau boleh dikatakan menghindari makan daging, harga daging relatif murah. Daging ayam, sebagai contohnya, di super market seperti Food City hanya sekitar Rs 15,00 hingga 30,00 atau setara dengan Rp. 1.500.00 hingga 3.000,00 di Indonesia. Harga daging relatif murah karena pengkonsumsinya hanyalah 31% dari penduduk Sri Lanka.
Masyarakat Sri Lanka lebih senang makan ikan. Ikan disediakan oleh penduduk lokal dan juga hasil impor. Ikan asin, misalnya, lebih banyak diimpor dari Indonesia. Sementara masyarakat lokal yang menjadi nelayan adalah penganut agama lain. Karena dikonsumsi secara luas, harga ikan cukup tinggi setara dengan harga sayur.

Selain mempraktikkan sisi pasif sila pertama, masyarakat Sri Lanka juga aktif menjalankan sisi aktik sila tersebut. Sebagai buktinya, mereka menyediakan makanan kepada burung-burung, tupai dan binatang-binatang lainnya. Juga telah menjadi budaya di Sri Lanka untuk menyelamatkan binatang dari pembunuhan. Biasanya kalau ada sapi atau kambing yang akan disembelih, umat-umat langsung akan membeli binatang itu dan menyerahkannya ke vihara. Vihara kemudian akan menyerahkan binatang itu kepada umat yang kurang mampu.

Penghargaan terhadap alam, perlindungan terhadap binatang telah menempatkan Sri Lanka untuk mendapatkan pengakuan internasional. Baru-baru ini, Sri Lanka menduduki posisi kedua dari top-20 best nature in the world. Secara pribadi, saya memang memang layak mendapatkan penghargaan tersebut, mengingat proteksi yang begitu kuat terhadap alam.

Pelaksanaan Nilai-Nilai Moral
Agama Buddha yang telah berakar kuat dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Sri Lanka, membuat masyarakat bangsa ini mengamalkan nilai-nilai moral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan kata lain, mereka mempraktikkan nilai-nilai moral dengan baik. Banyak contoh yang bisa kita ambil.
Tingkat kejahatan di Sri Lanka boleh dikatakan cukup rendah. Berita-berita seperti perampokan, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan dan sebagainya sangat jarang kita saksikan. Radio, televisi maupun media cetak juga sangat jarang menyiarkan berita-berita tersebut. Selama berada di Sri Lanka, hanya beberapa kali saya mendengar berita criminal, itu pun lewat teman yang kebetulan menyaksikannya lewat media massa.

Prostitusi yang merupakan penyakit masyarakat sebagai akibat dari kemiskinan, juga sangat jarang. Beberapa dosen kami yang memang telah memahami kehidupan Sri Lanka dengan baik mengatakan bahwa bila dibandingkan dengan negara-negara lain tingkat prostitusi di Sri Lanka sangat rendah. Dampak nyata dari praktik moral ini adalah rendahnya tingkat penderita HIV/AIDS. Prosentase prenderita HIV/AIDS menunjukkan bahwa Sri Lanka berada di urutan terendah bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Penghargaan Terhadap Ekologi
Ketika pertama kali sampai di Kolombo, kita mendapatkan cerita dari staf KBRI bahwa udara Sri Lanka adalah yang paling bersih untuk kawasan Asia Selatan. Hal ini dapat dimaklumi karena masyarakat Sri Lanka senang memelihara pohon terutama pohon Bodhi. Mereka tidak pernah memotong pohon Bodhi atau merusaknya. Bahkan, kalau ada bhikkhu yang berkeinginan membangun vihara di mana terdapat pohon Bodhi usaha itu akan didukung sepenuhnya oleh umat Buddha. Karena alasan tersebut, kita akan menemukan vihara-vihara kecil di sekitar pohon-pohon Bodhi yang ada di pertigaan atau perempatan jalan. Dalam pandangan umat Buddha Sri Lanka, suatu vihara tidak akan dianggap lengkap kalau tidak ada pohon bodhinya.

Karena umat Buddha menghormati, menjaga dan merawat pohon Bodhi bahkan seperti Sri Mahabodhi memiliki team khusus yang terdiri dari para professor dan pakar terkenal, pohon Bodhi dapat berusia panjang. Sebagai akibatnya, di negeri inilah kita bisa menemukan pohon tertua di dunia. Bukti-bukti arkeologis maupun bukti-bukti literatur menunjukkan bahwa Sri Mahabodhi di Kota Anuradhapura ditanam pada abad ketiga Sebelum Masehi yaitu bertepatan dengan kedatangan Y.M. Sanghamitta Theri ke negeri ini. Hingga kini, pohon bersejarah tersebut masih tetap tumbuh dengan baik. Dengan demikian, Sri Mahabodhi telah berusia lebih dari 2200 tahun. Konon, para penjajah pernah berusaha untuk memusnahkan pohon ini tapi tak ada satu alat pun yang dapat digunakan untuk merusaknya.
Menyusul pohon Bodhi adalah pohon nangka. Belakangan pemerintah melarang masyarakat menebang pohon nangka. Kalau mereka mau menebang, harus mendapatkan izin dari pemerintah. Peraturan ini ditetapkan karena pohon nangka dianggap sebagai sumber makanan yang berharga.
Masyarakat Sri Lanka juga tidak terlalu merusak hutan seperti masyarakat kita. Kalau mereka ingin membangun di kawasan hutan, kelestarian lingkungan tetap dijaga dengan baik. Oleh karena itu, negera ini kita bisa menemukan ribuan vihara hutan yang sangat natural. Khusus untuk Yogasrama Sa?stava—kelompok bhikkhu yang paling ketat dalam menjalankan Dhamma-Vinaya—memiliki lebih dari 120 vihara hutan. Vihara-vihara tersebut menjadi “surga” kami selama kami tinggal di Sri Lanka. Meskipun kuti-kuti dan bangunan lain dibangun, pohon-pohon besar tetap dipertahankan.

Hantu, Setan, Makhluk Gentayangan
Di negara kita, kita sering mendengar cerita tentang hantu, setan, pocongan atau makhluk gentayangan. Selama di Sri Lanka secara pribadi saya tidak pernah mendengar cerita soal hantu, setan, atau makhluk gentayangan dari masyarakat Sri Lanka. Kalau pun pernah, itupun dari teman-teman manca negara. Karena penasaran, kami pun menanyakan hal ini kepada Prof. Galmagoda Sumanapala, seorang professor yang cukup akrab dengan kami dan tidak alergi mendengarkan hal-hal yang tampak mistik.
“Pak, mengapa di Sri Lanka ini kita tidak pernah mendengar cerita soal hantu, setan atau makhluk gentayangan? Apakah tidak ada makhluk-makhluk semacam itu?” begitu tanya kami. Prof. Sumanapala mengatakan bahwa makhluk-makhluk semacam itu ada tapi tidak sampai seperti di negara-negara lain. Ketika kami tanya lebih jauh mengapa hal itu bisa terjadi, Prof. Sumanapala mengatakan, “Karena orang Sri Lanka rajin melakukan patidana.”

Dalam tradisi umat Buddha Sri Lanka, setelah ada sanak famili yang meninggal mereka akan melakukan patidana, mengajak makhluk lain yang telah meninggal turut berbahagia atas kebajikan yang telah dilakukan oleh keluarganya. Sama seperti masyarakat kita yang melakukan patidana pada waktu-waktu tertentu, masyarakat Sri Lanka khususnya umat Buddha juga melakukan patidana pada waktu-waktu tertentu. Hanya saja saya tidak tahu secara pasti. Seingat saya, mereka akan melakukan patidana setelah tujuh hari, satu bulan, tiga bulan setelah meninggal dan seterusnya.

Pada saat melakukan patidana, mereka akan mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan. Mereka akan mengundang minimal lima bhikkhu atau samanera. Hanya saja mereka tidak membedakan antara bhikkhu dan samanera. Yang terpenting bagi mereka adalah ada orang yang pakai jubah kuning untuk menerima dana makanan.

Tidak hanya manusia yang dipatidanai. Binatang-binatang yang mati juga sering mendapatkan perlakuan yang sama; apalagi kalau binatang itu mati secara tidak wajar, contohnya keracunan. Dalam kasus-kasus semacam itu, mereka akan dengan segera melakukan patidana dan juga mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan.

Mungkin karena alasan kesibukan, pada umumnya umat mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan pada hari Sabtu dan Minggu. Oleh karena itu, pada hari tersebut kita sering kelabakan mencari bhikkhu karena sering kali ada undangan lebih dari satu tempat dan mereka minta bhikkhu lebih dari lima kadang sepuluh atau dua puluh.

Perhatian Pemerintah terhadap kesejahteraan rakyatnya
Banyak orang mengannggap bahwa Sri Lanka adalah Negara miskin, Negara yang masih belum maju. Akan tetapi, negeri ini adalah negeri yang berorientasi pada kesejahteraan rakyatnya. Ini merupakan implementasi ajaran Sang Buddha, di mana pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Rakyat yang tidak mampu perlu dibantu; rakyat yang hidup dalam kekurangan perlu disuplai. Sejauh apakah ajaran itu diimplementasikan oleh pemerintah Sri Lanka?

Memiliki rakyat yang berpendidikan baik adalah orientasi pemerintah Sri Lanka. Karena itu, pendidikan di Sri Lanka dari tingkat Sekolah Dasar hingga S1 bebas biaya. Tidak sekedar itu, mahasiswa dari tempat jauh disediakan asrama. Kebutuhan mereka sehari-hari diperhatikan. Mereka juga diberi beasiswa tiap bulan.

Kesehatan adalah kebutuhan masyarakat yang sangat penting. Kalau kita tidak sehat, sulit bagi kita untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Karena itu, pemerintah sangat memperhatikan kesehatan rakyatnya. Di Sri Lanka, rakyat tidak dipungut biaya perawatan kalau mereka berobat ke rumah sakit umum. Kadang, saya berpikir entah bagaimana pemerintah menangani hal ini. Ambil saja contohnya, di Colombo National Hospital, setiap harinya ada 800 pasien baru. Padahal, rumah sakit pun tersebar di berbagai tempat.
Saya sering mendengar cerita dari teman-teman di Indonesia yang mengeluh karena sering terjadi pemadaman aliran listrik. Terkadang mereka perlu mendapatkan jatah bergilir. Selama tinggal di Sri Lanka, jarang sekali saya merasakan adanya pemadaman aliran listrik. Pemadaman aliran listrik terjadi hanya pada saat terjadi perbaikan jaringan atau saat karyawan PLN, mogok kerja.
Hampir semua jalan di Sri Lanka telah diaspal. Ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar tetapi juga terjadi di desa-desa terpencil. Bus sebagai sarana transportasi juga disediakan. Biaya bus juga terhitung murah bila dibandingkan dengan biaya bus di Indonesia.

Pendidikan harus gratis; kesehatan harus gratis dan listrik pun harus tetap diperhatikan kelangsungannya. Seandainya pemerintah gagal menyediakan kebutuhan-kebutuhan itu, jangan pernah berharap untuk bisa duduk lama di kursi pemerintahan.

Kesimpulan
Demikianlah agama Buddha yang berdasarkan tradisi telah ada sejak abad keenam Sebelum Masehi namun secara resmi sejak abad ketiga Sebelum Masehi telah memberikan kontrubusi yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat Sri Lanka. Dari apa yang telah kita saksikan bersama, kita pun bisa menyimpulkan bahwa agama tidak hanya menjadi simbol kehidupan tetapi juga mewarnai setiap lini kehidupan masyarakat Sri Lanka. Kondisi yang begitu menyenangkan itu, membuat saya jauh lebih kerasan tinggal di Sri Lanka daripada di Indonesia.

Sebagai umat Buddha yang baik dan sama-sama sebagai penganut ajaran Sang Buddha sudah selayaknya kita mengikuti jejak langkah saudara tua kita. Sudah selayaknya kita pun mengaplikasikan nilai-nilai agama Buddha dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita pun bisa hidup lebih bahagia, aman, tentram, sejahtera dan pada akhirnya mampu merealisasi Nibbana.

Readmore..

Tidak ada by Ajahn Chah | Kelahiran dan Kematian

| | 0 comments

 Kumpulan Kata2 Bijak Y.A.  Ajahn Chah mengenai Kelahiran dan Kematian:
 
1. Latihan yang baik adalah : bertanya kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh, “Mengapa saya dilahirkan?” Tanyakan diri Anda sendiri dengan pertanyaan ini pada pagi hari,siang hari, dan malam hari....... setiap hari. 

2. Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini? 

3. Anda akan berpikir bahwa : orang mengerti apa yg akan terjadi jika hidup di dalam kandungan seseorang? Betapa tidak nyaman! Bayangkan saja, bila diam di dalam gubuk hanya sehari saja, rasanya sudah sulit. Kunci semua pintu dan jendela, Anda sudah merasa tertekan. Jadi bagaimana rasanya tinggal di dalam kandungan seseorang, selama sembilan bulan? Tapi Anda tetap mau dilahirkan kembali! Anda tahu ketidak-nyamannya dalam kandungan, dan Anda masih mau menempelkan kepala di sana, untuk menaruh leher Anda di dalam jerat itu sekali lagi. 

4. Mengapa kita dilahirkan? Kita dilahirkan agar kita tidak akan dilahirkan kembali. 

5. Ketika seseorang tidak mengerti tentang kematian, hidup dapat menjadi sangat membingungkan. 

6. Sang Buddha memberitahukan muridnya, Ananda, untuk melihat ketidak-kekalan, untuk melihat kematian dalam setiap nafas. Kita harus memahami kematian; kita harus mati agar dapat hidup. Apa artinya ini? Mati adalah jalan menuju akhir dari semua keraguan, semua pertanyaan kita, dan ada di sini dengan kenyataan saat ini. Anda tidak akan pernah mati besok. Anda harus mati sekarang. Dapatkah Anda melakukannya? Bila Anda dapat melakukannya, Anda akan tahu kedamaian tanpa pertanyaan lagi.


7. Kematian itu sedekat nafas kita. 

8. Kalau Anda telah terlatih dengan benar, Anda tidak akan merasa ketakutan ketika jatuh sakit, juga tidak sedih jika seseorang meninggal. Ketika Anda pergi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan, tanamkan di dalam pikiran jika Anda menjadi lebih sehat, itu bagus; dan jika Anda meninggal, itu juga bagus. Saya menjamin Anda, bahwa bila dokter berkata kepada saya, bahwa saya mengidap kanker dan akan mati beberapa bulan lagi, saya akan mengingatkan dokter itu, “Hati-hati, karena kematian juga akan datang menjemputmu. Ini hanya masalah siapa yang pergi duluan dan siapa yang pergi belakangan.” Dokter tidak dapat menyembuhkan kematian dan tidak dapat mencegah kematian. Hanya Buddha yang dapat disebut dokter, jadi kenapa tidak pergi dan menggunakan obat dari Buddha? 

9. Jika Anda takut sakit, jika Anda takut mati, sebaiknya Anda merenungkan : dari mana mereka berasal. Dari mana mereka datang? Mereka muncul dari kelahiran. Jadi jangan sedih bila seseorang meninggal. Itu adalah hal yang alami, dan penderitaanya dalam kehidupan ini berakhir. Jika Anda mau bersedih, bersedihlah pada saat orang dilahirkan: “Oh tidak, mereka datang lagi. Mereka akan menderita dan mati lagi!” 

10. “Dia yang mengetahui” dengan jelas tahu bahwa semua keadaan yang berkondisi adalah tidak kekal. Jadi “Dia yang mengetahui” tidak akan menjadi senang atau sedih, karena tidak mengikuti perubahan kondisi. Untuk menjadi senang, adalah untuk dilahirkan; untuk menjadi kesal, adalah untuk mati. Setelah mati, kita lahir kembali; setelah dilahirkan, kita mati lagi. Kelahiran dan kematian dari satu momen ke momen berikutnya adalah putaran roda samsara yang tidak pernah berakhir.

Readmore..

Saturday, January 7, 2012

Wiku Sadayana ~ Menghadapi Bencana

| Saturday, January 7, 2012 | 0 comments

Wiku Sadayana ~ Menghadapi Bencana
Upasaka Dayananda TG
Suatu siang yang sangat panas, upasaka Danaviriya salah seorang pengikut Wiku Sadayana datang dari kota ke padepokan tempat Wiku Sadayana tinggal. Dia membawa kain untuk diberikan kepada para murid Wiku Sadayana yang sudah membutuhkan pakaian.

Menjelang senja setelah istirahat dan mandi di pancuran yang dingin airnya, Danaviriya menuju ruang pamujan, dan disana telah berkumpul penghuni padepokan yang lain untuk memulai penguncaran mantra suci. Setelah mendapatkan tempat duduk yang sesuai, Danaviriya dengan sungguh sungguh mengikuti penguncaran mantra suci sampai selesai.

Seperti biasanya, para murid Wiku yang membutuhkan petunjuk, masih tetap berada diruang tersebut, sedangkan yang lainnya kembali ke pondok masing masing untuk bersemedi atau membaca lontar, atau beristirahat bagi yang sudah merasa lelah. Dan seorang murid membawa masuk seteko wedang jahe hangat dengan beberapa cangkir bambu, dan dibagikan kepada yang masih hadir disitu.

Danaviriya tetap berkumpul dengan beberapa murid lain dan setelah Wiku Sadayana mengetahui kehadirannya, dengan gembira Wiku Sadayana menyapa : “Damai dan sejahtera bagimu Danaviriya, ayo mari duduk disini, berapa malam kau akan bermalam disini Danaviriya?”. Danaviriya segera mendekat dan memberikan sembah sujudnya kepada Wiku yang telah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri, kemudian berkata : “Rahayu Guru, aku berniat menginap 2 malam disini”, setelah itu dia mundur dan mencari tempat duduk bersama sama dengan murid Wiku yang lain.

Seperti biasa para murid satu per satu menceritakan apa yang mereka lakukan dan menanyakan hal hal yang kurang jelas bagi perkembangan batin mereka. Selama pembicaraan itu, Wiku Sadayana sekali sekali melirik kepada Danaviriya yang tampaknya sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, dengan kening berkerut.

Ketika perbincangan dengan para murid telah usai, Wiku Sadayana dengan senyum lebar menegur Danaviriya : “Danaviriya, ayo ini wedang jahenya diminum dulu, dan setelah itu ada berita menarik apa yang akan kau ceritakan kepada kami?”

Danaviriya tertegun sejenak, dan setelah meneguk wedang jahe yang sudah mulai dingin dia berkata : “Guru, sebetulnya tidak ada berita yang penting, namun aku gelisah memikirkan beberapa hal yang tampaknya kini sudah jauh berbeda dibandingkan dulu pada waktu aku masih kecil”
Wiku Sadayana : “ O, apa itu yang kini berbeda dibandingkan ketika masih kecil?”
“Mungkin ceritanya agak panjang guru, “ tukas Danaviriya.
“Tidak apa apa, toh kau bermalam disini, dan tidak ada kegiatan apa apa lagi selain beristirahat setelah ini, ayo ceritakan dengan santai”, jawab Wiku.

“Begini guru”, tutur Danaviriya. “Pada waktu aku masih kecil, ayahku sering memberikan nasehat dan contoh yang baik, seperti tepo-seliro, kita berusaha menghindari kata kata atau perbuatan yang menyakiti orang lain; bebasan , bertutur kata yang ramah dan menyejukkan ; tetapi sekarang ini sudah sangat berbeda, orang berbicara dengan kata kata yang kasar, yang dibalas lagi dengan kata kata yang kasar, berlaku semau maunya tidak memperdulikan perilakunya kurang menyenangkan bagi orang lain, misalnya sudah larut malam , masih saja menabuh gamelan keras keras; atau jika dulu, orang yang menunggang kuda sudah turun dari kuda sebelum masuk ke pekarangan rumah, sekarang sudah tidak begitu lagi. Sikap santun kepada orang yang lebih tua sudah berkurang, yang dikedepankan adalah harta, manusia diukur dari harta yang dimilikinya.”

“Andap asor, sifat rendah hati yang diajarkan sebagai budaya kita yang luhur sudah jarang terlihat, malahan menyombongkan pangkat kedudukan , yang kaya memamerkan kekayaannya walaupun kita tahu cara mendapatkan kekayaanya kurang jelas, tapi si kaya ini karena banyak menyumbang, dipuja puja oleh orang banyak; yang miskin berusaha mendapatkan lebih dari apa yang seharusnya, sedangkan yang pintar tidak segan segan menggunakan kepandaiannya untuk mengakali yang tidak waspada. Ayahku mengatakan bahwa orang yang beradab adalah orang yang mampu mengendalikan batinnya untuk tidak marah, dan aku dinasehati untuk melatih kesabaran, karena kesabaran adalah cara membina diri yang paling baik. Tetapi kenyataan sehari hari, aku melihat banyak orang menjadi marah hanya karena masalah kecil, mereka mudah tersinggung dan bukannya mampu menahan diri, malahan kemarahan dipertontonkan agar orang lain takut. Sehingga hampir tiap hari kita bisa mendengar terjadinya kemarahan, pertengkaran, penipuan, pemaksaan dan lain lain yang sudah tidak sesuai dengan tata krama luhur yang dulu selalu diajarkan oleh para sesepuh. Ini semua membuat hatiku risau, akan kemanakah kita-kita ini”

“Seiring dengan bencana kekeringan, banjir bandang, gunung yang meletus, longsor yang berulang ulang terjadi, banyak dibicarakan di kedai sebagai akibat dari ulah kita, para manusia yang serakah dan sudah kelewat batas melanggar tata krama, menyinggung hati para dewa karena petuahnya tidak diturut; namun yang berbicara seperti itu, perilakunya juga sama saja, tidak ada bedanya dengan yang lain, apakah benar semua ini hukuman dari para dewa bagi kita , Guru ?”

Senyap ruangan itu, semua yang hadir meresapi kata kata Danaviriya, dan meng-ia-kan dalam hati bahwa apa yang diungkapkan Danaviriya memang benar, telah terjadi dan bahkan tampaknya makin menjadi-jadi.

“Danaviriya”, tukas Wiku Sadayana setelah merenung cukup lama; “Hyang Guru Buddha, pernah mengajarkan bahwa ada hukum alam yang bekerja sesuai dengan aturannya, dan ada hukum Karma yang bekerja sesuai aturannya juga. Bencana alam ada yang disebabkan karena ulah manusia, misalnya banjir dan kekeringan karena hutan sudah habis dibabat untuk membangun rumah dan kayu bakar, tetapi juga bisa karena memang hukum alam yang bekerja sendiri misalnya musim kemarau berkepanjangan yang menimbulkan kekeringan dimana mana atau hujan deras yang berlebihan sehingga terjadi banjir; atau gempa, atau gunung meletus. Jadi jangan semuanya disama ratakan sebagai akibat dari ulah manusia. Tetapi hal ini kadang kadang dimanfaatkan oleh orang cerdik yang sedang mencari pengikut, orang yang tidak mengerti, ditipunya, kejadian alam yang memang sudah waktunya terjadi, dianggap sebagai hukuman dari para dewa akibat dari ulah manusia yang tidak menghormati para dewa, dan orang orang yang tertipu ini lalu dianjurkan untuk lebih taat dan patuh lagi untuk melakukan upacara upacara pemujaan kepada dewa tertentu.

“Lalu kita harus bagaimana Guru?”, tanya Danaviriya.
Wiku Sadayana mengelus elus jenggotnya dan sambil tersenyum dia meneruskan :”Perlu kita pahami bahwa kita hanya bisa mengendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan kita, sedangkan pikiran , perkataan dan perbuatan orang lain, tidak bisa kita kendalikan, oleh karena itu Danaviriya dan muridku sekalian, berpikirlah dahulu sebelum berkata dan melakukan sesuatu, apakah hal itu bermanfaat bagimu dam bagi orang lain, jika bisa menyebabkan kemalangan , kerugian atau kesedihan kepada orang lain seperti juga kepada dirimu sendiri; maka perkataan atau perbuatan tersebut sebaiknya jangan dilakukan; sebaliknya jika baik bagimu dan juga bagi orang lain, maka perkataan dan perbuatan itu memang patut dilakukan.”

“O, Guru, indah sekali petuah Guru, dan selanjutnya bagaimana menyikapi bencana yang terus menerus terjadi?”, sahut Citramatra, murid paling senior dari Wiku Sadayana.

“Bencana yang terjadi karena hukum alam yang bekerja , tidak bisa kita cegah, tetapi bukan berarti kita pasrah saja, kita perlu selalu menimbang , selalu berpikir dengan bijaksana, misalnya, padepokan ini berada di lereng gunung yang curam tetapi aku tidak membangunnya ditempat yang ada kemungkinan terkena bencana longsor jika terjadi gempa, atau banjir. Aku memilih dilereng yang terlindung oleh lembah, sehingga jika bukit dibelakang ini longsor, maka longsoran tersebut akan masuk kedalam lembah yang cukup dalam tersebut, tidak langsung menghancurkan padepokan beserta penghuninya, selain itu juga bukankah kita semua sudah menanam banyak pohon yang berakar kuat dibelakang pondok ini dan diseberang lembah untuk mengurangi kemungkinan buruk dari longsor”

“Sebaliknya jika kita mengetahui bahwa penebangan pohon yang berlebihan dihutan di atas bukit itu dapat menjadi penyebab longsor saat gempa atau hujan, kita perlu berupaya merawatnya, seperti kukatakan tadi, dengan menanam pohon yang berakar kuat.. Jika kau Citrawirya menebang pohon untuk mendapatkan kayu untuk memperbaiki pondok, aku selalu menanyakan berulang ulang, apakah sudah menanam pohon pengganti, dan karena aku berulang kali menanyakan, kau kadang kadang jengkel dan menganggapku cerewet , bukankah demikian Citrawirya?”, tukas Wiku Sadayana sambil terkekeh-kekeh.

Dengan muka merah, Citrawirya menghaturkan sembah kepada Wiku Sadayana seraya berkata : “Mohon maaf guru, memang kadang kadang aku merasa jengkel, tapi sekarang setelah tahu mengapa harus menanam pohon pengganti, aku lebih paham, dan selanjutnya aku berusaha tidak jengkel lagi jika Guru menanyakan”

“Bagus, bagus Citrawirya, mungkin Gurumu waktu itu lupa menjelaskan mengapa perlu menanam pohon pengganti, selanjutnya dengan pemahaman ini, tentunya kau akan melakukan hal yang terbaik untuk mencegah dan melindungi padepokan ini dari bahaya longsor”.

“Baik Guru, akan aku perhatikan dan lakukan”, tukas Citrawirya.
“Nah, karena aku lihat beberapa dari kalian sudah mulai mengantuk, pembicaraan mengenai berkurangnya tata krama di masyarakan, akan kita bicarakan besok pagi saja, ayo kita habiskan wedang jahe masing masing, dan cangkirnya dibersihkan serta dikembalikan ke tempatnya”.

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com