Showing posts with label ceramah agama buddha. Show all posts
Showing posts with label ceramah agama buddha. Show all posts

Monday, February 6, 2012

Janganlah pernah merasa takut jika mengingat akan kematian

| Monday, February 6, 2012 | 0 comments

Selamat Datang di Blog Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok
Blog ini kami persembahkan untuk teman-teman kami yang rindu akan suasana Vihara, teman-teman yang berminat belajar Dhamma, dan berbagi pengalaman spiritual. Blog ini juga kami dedikasikan sebagai jembatan para umat Vihara Surya Adhi Guna yang tidak dapat datang ke Vihara, kami menyediakan liputan, ringkasan kebaktian, foto-foto dan video setiap aktivitas yang up to date.
Semoga bermanfaat.

Readmore..

Saturday, February 4, 2012

Grace Chandra : English Buddhism

| Saturday, February 4, 2012 | 0 comments

Kebhaktian Remaja, 31 Oktober 2009
Protokol : Ratna Sari
Penyalaan Lilin Altar : Tasya
Dhammapada : Mira dan Nanda
Dhammadesana : Grace Chandra

Namo Buddhaya..,
Dua hari sebelum kebhaktian remaja saya sudah merencanakan untuk mengisi kebhaktian remaja 31 Oktober dengan suatu artikel singkat berbahasa Inggris yang saya peroleh dari Samanera Abhassaro, Artikel ini berjudul "Buddhism" yang mengulas tentang perkembangan agama Buddha dahulu pada jaman Buddha hingga saat ini.

Pada awal acara saya meminta anak-anak remaja untuk duduk melingkar. Lalu saya memberi waktu sekitar 10 menit kepada masing-masing anak remaja untuk membaca artikel itu. Dengan anusias dan penuh perhatian mereka semuanya membaca artikel tersebut. Akhirnya waktu pun sudah menunjukkan jam 19.40 lalu saya pun meminta para remaja untuk membaca artikel secara bergiliran dan menerjemahkannya. Setelah selesai membaca kemudian 10 soal yang ada di artikel pun dijawab secara bergiliran.

Acara kemudian saya lanjutkan dengan TTS agar suasana menjadi lebih rileks. TTS Buddhis ini pun merupakan kiriman dari Samanera Abhassaro. Para remaja dengan gembira dan bersemangat mengisi TTS tersebut.

Acara malam ini merupakan salah satu variasi pengisian acara kebhaktian di Vihara agar lebih variatif dan tak jenuh. Dengan acara ini kami dapat belajar bahasa inggris tapi kami juga belajar Dhamma. Selain itu suasana keakraban pun jadi semakin tercipta.

Buddhism
Buddhism come from the word Buddha. Buddha was a person. He lived more than two thousand five hundred years ago in India. His family was rich. He lived in a beautiful house with many servants One day when he went out of his house, he saw many poor and unhappy people. He looked out at them. Hea sked himself these questions, "Why are people so unhappy? How can people be happy"
When he was twenty nine years old, he left his family and his beautiful home. He went out into the world to find the answers. He tried many ways. He studied with teachers but they did not answers his questions After this he tried another way. He lived in the forest He hurt his body. He did not eat for many days. He tried to get away from his body. But thid did not give him the answers to his questions.
Then he sat down under a Bodhi tree and he thought. He sat for forty-nine days. After this time he learned something from himself. He became at the Buddha. His questions were answered. People are unhappy because they wants things. They are always looking for food, money and other things. When a man does not want things, he is free. He does not think about himself. He dos not think about tomorrow. He is kind to others.
Buddha died when he was eighty years old. During his life he travelled to many places. He taught many people. He had many students. A follower of Buddha is called a Buddhist. Some Buddhist become monks. Monks do not work. They do nor have money. They are given their food by other people. They wear a long yelloy piece of cloth. They cut off their hair. They usually do not wear anything on their feet. They pray and think. Early in the morning the monk wals along the street. He carries a bowl. People stop him and give him food. He can not ask for food. A monk's life is not easy. He tries to get away froem the world. He tries to follow the teachings of Buddha.
In Thailand any man can be a monk. Many people become monks for a short time, usually three months. This happens during the wet season in Thailand. This time as a monk is very important for Thai men. They do not llive with their family then. They go to live and study in a monk's house. After three months they go back to their own life. Some are monks for a longer time. They study the teachings of Buddha. These are his teachings. Life is not happy. It is like this because people always want things. When people do not want things, they will be happy. You can learn to do this when you study Buddha's teachings. Buddha teachings were not written down until two or three hundred years after he died. Before this people just remembered them and told them to others.
There is more than one kind of Buddhism. All Buddhis follow the teachings of Buddha but they are not always the same. Buddhism in Japan is a little different from Thai Buddhism. People understand the teachings of Buddha in different ways.

Qustion Buddhism:
1. Buddha lived
a. five hundred years ago
b.one thousand years ago
c. two thousand years ago
d. more than two thousand years ago.

2. When he was a child, Buddha was
a. Very poor
b. rich
c. happy
d. very ill

3. Buddha left his home because
a. he did not like his parents
b. he wanted answers for his questions
c. he wanted to travel
d. he wanted to meet people

4. After Buddha left home, he first
a. went to Thailand
b. lived in the forest
c. studied with teachers
d. sat and thought

5. Buddha did not eat and he hurt himselft because
a. he wanted die
b. he was very unhappy
c. he wanted to learn something
d. he was angry at himself

6. Buddha learned this. Man is unhappy because
a. he wants things
b. he is poor
c. he does not believe in God
d. he does not think about tomorrow

7. A Buddhist monk
a. Works
b. asks for his food
c. has long hair
d. does not have money

8. The clothes of the monk are
a. grey
b. white
c. yellow
d. many colours

9. In Thailand most men become monks for
a. one month
b. three months
c. a year
d. two years

10. We still know Buddha's teachings because
a. people always told them to each other
b. Buddha wrote them in three books
c. they were written in stone before Buddha died
d. Buddha still teaches them

the answers:
1. d; 2. b; 3. b; 4. c; 5. c; 6. a; 7. d; 8. c; 9. b; 10. a

Demikianlah ringkasan kebhaktian remaja tanggal 31 Oktober 2009. Semoga ringkasan ini bermanfaat. Selain itu saya juga ucapkan terima kasih kepada Samanera Abhassaro yang telah mengrimkan suatu artikel dan TTS untuk digunakan dalam kebhaktian kami. Selamat berjuang Samanera dan Semoga Samanera segera mencapai pencerahan. Sadhu...! Sadhu...! Sadhu...!

Readmore..

Friday, February 3, 2012

Bpk. Hemartha : Kasih orang tua sepanjang Jaman

| Friday, February 3, 2012 | 0 comments

Kebaktian Umum Jumat, 25 September 2009
Protokol : Wawah S.
Lilin Altar : Ibu Empang
Dhammapada : Ibu Lilayani ( Gatha 159 & 160 )
Dhammadesana : Bpk. Hemartha Viryajaya
Penulis : Tommy ( Facebook )

Hari jumat ini adalah hari pertama kebaktian umum setelah libur panjang libur lebaran 1430 H / 2009. Umat yang datang ke Vihara Surya Adhi Guna pun menjadi lebih sedikit dari biasanya. Banyak alas duduk yang terlihat kosong.

Pada kesempatan kali ini, Bpk Hemartha yang merupakan Ketua MBI Rengasdengklok bersedia untuk memberikan Dhammadesana pada kebaktian kali ini.

“ Pada kesempatan Dhammadesana kali ini saya akan memberikan Dhamma dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Yang tidak melulu terpaku pada text book. Karena penyampaian Dhamma dengan bahasa sehari-hari pastilah akan lebih mudah dimengerti ketimbang teori-teori yang menggunakan kata-kata mutiara. ” Ucap Bpk. Hemartha pada awal Dhammadesananya.

Bpk. Hemartha mengutip kata-kata Dhammapada yang disampaikan oleh Ibu Lilayani yakni disampaikan sebelum Dhammadesananya dimulai,
“ Diri kita adalah pelindung diri kita sendiri, tapi diri kita sungguh sulit untuk dikendalikan. ” Dari kata-kata yang dikutip oleh Dhammapada tersebut memang seperti itulah yang terjadi pada kenyataan hidup. Banyak orang sepertinya lebih mudah untuk mengendalikan orang lain, tapi sungguh sangat sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Dalam hal pengendalian diri, sebagai anak dan orang tua saja mungkin akan sangat sering terjadi bentrokan pendapat, pola pikir dan tindakan. Tapi yang namanya orang tua, kasih sayangnya tidak terbatas pada anak-anaknya. Apapun yang diperbuat oleh anak-anaknya, pastilah orang tua tetap menyayangi anak-anaknya. Seperti kata pepatah: “ Kasih orang tua sepanjang jaman, kasih saudara sepanjang galah ”. Dari ungkapan tersebut, sungguh besar kasih orang tua kepada anak-anaknya. Dan sebaliknya, anak-anak sudah seharusnya berbakti pada orang tuanya. Banyak orang mencari tempat pemujaan, tempat berlindung ke tempat-tempat yang jauh. Tapi sesungguhnya MUTIARA , ladang untuk berbuat baik, berada sangat dekat dengan kita. Yakni orang tua kita sendiri. Berbakti pada orang tua ketika orang tua kita masih hidup, adalah berkah utama.
Perbuatan baik atau pun perbuatan buruk yang kita lakukan pastilah akan berbuah sesuai dengan yang kita perbuat. Apabila kita selalu berbakti pada orang tua, sudah pasti kita akan berkumpul dengan orang-orang yang berbakti juga. Mendapatkan anak yang berbakti. Semoga perbuatan baik inilah yang terus dilakukan untuk kehidupan yang lebih baik.
Demikian Uraian Dhammadesana yang disampaikan oleh Bpk. Hemartha.
Lalu Bpk. Hemartha melanjutkan dengan pemberitahuan mengenai TOUR Khatina yang diadakan oleh Vihara Surya Adhi Guna untuk umat Vihara. Rencana para umat akan TOUR untuk mengikuti Khatina Puja di Panti Semedi Balerejo di Dekat Blitar. Acara ini diadakan oleh YM Bhante Uttamo Mahathera. Para umat sangat antusias untuk mengikuti Tour ini. Terlihat dari 40 bangku yang disediakan panitia sudah habis dari beberapa minggu yang lalu. Sehingga panitia terpaksa menyediakan 23 bangku tambahan menggunakan Bis kecil untuk umat tambahan. 23 bangku tersebut pun sudah habis terhitung hari ini. Jumat, 25 September 2009. Jadwalnya para rombongan Tour akan berangkat pada pukul 06.00 Pagi pada hari Jumat 9 Oktober 2009 langsung menuju Blitar Jawa Timur. Rencana Tour akan berlanjut ke Vihara Tuban, Gunung Kawi, dan ke Jembaran SURAMADU yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura.

Sekian Ringkasan Kebaktian ini.
Semoga Bermanfaat.

Readmore..

Wednesday, February 1, 2012

Samanera Abhasaro : Dari terang menuju terang

| Wednesday, February 1, 2012 | 0 comments

Kebhaktian Remaja, 28 November 2009
Protokol : Meylianawati Dewi
Penyalaan Lilin Altar :
Pembacaan Dhammapada : Mira dan Nira
Penulis :
Sidhi Agustiana Taniman

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhasa …. (3 X)

Malam ini Dhammadesana kebhaktian remaja di Vihara SURYA ADI GUNA diisi oleh Samanera Abhassaro. Beliau membabarkan Dhamma dessana tentang pandangan salah. Pandangan salah terdiri atas tiga macam yaitu:
1. Pandangan yang menganggap semua perbuatan tidak ada akibatnya
Contoh: ketika kita digigit nyamuk kemudian kita memukul si nyamuk, dan nyamuk itu pun mati. Apabila kita beranggapan bahwa perbuatan tersebut tidak ada akibatnya adalah salah. Perbuatan membunuh seekor nyamuk tetap membuat kita akan menanggung karma buruk dari perbuatan yang telah kita lakukan tersebut.
2. Pandangan yang menganggap semua perbuatan tidak ada sebabnya atau menganggap suatu kejadian adalah tiba-tiba terjadi, atau telah ada yang mengatur.
Pandangan ini adalah salah, karena sebenarnyas semua hal yang terjadi ada sebab-seba yang mendukungnya. Contohnya, pada hari ini kita dapat Vihara antara lain karena kita mempunyai waktu luang, karena ingin berbuat baik, dan masih banyak lagi.
3. Pandangan yang menganggap semua perbuatan itu tidak ada sebab dan akibatnya.

Setelah selesai menguraikan tentang pandangan salah, kemudian samanera Abhassaro membahas tentang EMPAT MACAM KEBAHAGIAAN yang terdiri atas:
1. Kebahagiaan yang timbul karena kita memiliki sesuatu.
Contohnya ketika kita memiliki HP baru atau kita mempunyai pacar baru maka kita akan merasakan kebahagiaan.
2. Kebahagiaan yang timbul karena kita dapat menikmati sesuatu yang kita miliki.
Contohnya ketila kita dapat menikmati aplikasi-aplikasi yang ada di Hp baru kita.
3. Kebahagian yang timbul karena kita tidak memiliki hutang.
Contohnya ketika kita membeli Hp baru, dan kita membelinya dengan kontan bukan dengan utang. Dengan membeli kontan (tanpa utanag) maka kita tidak akan merasa malu dan pusing-
4. Kebahagiaan tanpa cela.
Contohnya kebahagiaan yang timbul karena kita jalankan sila dengan benar.

Diakhir dhammadesana-Nya, Samanera memberika suatu empat perumpaan tentang alur kehidupan yang kita jalani, yaitu :
1. Dari gelap menuju gelap, maksudnya adalah seseorang yang memiliki kehidupan yang sudah buruk akan tetapi dalam kehidupannya ia malah melakukan perbuatan buruk. Akibat dari perbuatan buruknya ini maka dia akan menjauh dari terang dan menuju ke arah semakin gelap.
2. Dari gelap menuju terang, maksudnya adalah kehidupan seseorang yang memiliki kehidupan yang sudah buruk akan tetapi dalam kehidupannya ia melakukan perbuatan baik. Akibat dari perbuatan baiknya ini maka dia akan berjalandari arah gelap ke arah yang terang.
3. Dari terang menuju gelap, maksudnya adalah kehidupan seseorang yang memiliki kehidupan yang sangat baik akan tetapi dalam kehidupannya ia malah melakukan perbuatan buruk. Akibat dari perbuatan buruknya ini maka dia akan berjalan dari arah terang menuju ke arah yang gelap.
4. Dari terang menuju terang, maksudnya adalah kehidupan seseorang yang memiliki kehidupan yang sangat baik dan dalam kehidupannya ia pun melakukan perbuatan baik. Akibat dari perbuatan baiknya ini maka membuat dia akan berjalan dari arah terang menuju ke arah yang terang.

Samanera pun berpesan agar kami semua termasuk golongan manusia yang harus berjalan menuju ke arah terang. Lakukan perbuatan baik dan hindari perbuatan yang jahat. Demikianlah uraian ringkasan kebhaktian remaja, 28 November 2009. Semoga bermanfaat.
Sadhu...! Sadhu...! Sadhu...!

Readmore..

Wednesday, January 18, 2012

TINDUKA-JATAKA No. 177

| Wednesday, January 18, 2012 | 1 comments

“Di sekitar kita semuanya terlihat berdiri” dan sebagainya. ini adalah suatu cerita yang diberitahu oleh master pada jetavana tentang pengetahuan yang sempurna. seperti di mahabodhi kelahiran 1, dan ummagga kelahiran 2, mendengar pengetahuan nya sendiri yang dipuji; terpuji, ia berkata,” bukan ini sekali ketika hanya adalah buddha bijaksana, tetapi bijaksana ia adalah sebelum dan subur dalam semua sumber daya,” dan menceritakan kepada cerita kuno berikut .

pada suatu waktu; sekali peristiwa, kapan Brahmadatta adalah raja di Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai Monyet dan dengan suatu pasukan delapanpuluh ribu monyet dan ia tinggal di himalaya. tidak jauh sekali adalah suatu desa/kampung, kadang-kadang di habited/tempat tinggalnya dan kadang-kadang kosong. Serta dalam tengah-tengah desa/kampung ini  adalah suatu tinduka pohon, dengan buah yang manis, menutup dengan cabang dan ranting. kapan tempat kosong, semua monyet digunakan untuk pergi kesitu dan makan buah itu.

sekali ketika, dalam waktu buah, desa/kampung adalah penuh dengan orang, suatu bambu memagari dengan pancang  memulai itu, dan gerbang menjaga. dan pohon ini [ 77] yang berdiri dengan semua dahan besar nya yang membengkokkan di bawah berat/beban menyangkut buah itu. monyet mulai untuk mengherankan: ” ada seperti buah dan desa/kampung seperti itu, di mana kita dulu mendapatkan buah untuk makan. saya ingin tahu  buah pohon itu di atas nya ada atau tidak, apakah ada orang di sana atau tidak ada” akhirnya mereka mengirim suatu pengintai/pandu menjadi mata-mata. ia menemukan bahwa ada buah pada atas pohon dan desa/kampung dipenuhi dengan orang. kapan monyet mendengar bahwa ada buah pada atas pohon, mereka menentukan untuk mendapatkan buah yang manis itu untuk makan dan bertambah besar berani/kuat, suatu kerumunan di antara mereka pergi dan menceritakan kepada kepala/raja mereka. Kepala/raja bertanya apakah desa/kampung yang penuh atau kosong, penuh mereka berkata.” kemudian kamu harus tidak pergi,” yang dikatakan ia’ sebab laki-laki itu adalah yang sangat curang.”" tetapi, bapak mereka akan pergi pada tengah malam manakala semua orang adalah puasa saat tidur dan kemudian makan! maka perusahaan  cuti, ini tentang yang besar kepala mereka dan turun dari pegunungan dan melayani suatu batu besar yang dekat sampai orang yang dipensiunkan untuk beristirahat dalam pertengahan mengamati manakala orang adalah sudah tidur, mereka memanjat pohon dan mulai menyantap buah

Readmore..

Monday, January 16, 2012

Dimensi Alam Kehidupan yang Berbeda

| Monday, January 16, 2012 | 1 comments

 “ Misteri……….” Itulah kata yang selalu membangkitkan selera orang untuk menemukan klarifikasi dan realitas. Agak aneh kedengarannya upaya mengungkap dan mencari keabsahan misteri. Dan sepertinya mustahil untuk mendapat jawaban realitasnya. Namanya saja sudah misteri. Misteri merupakan fenomena yang tak kunjung usai untuk diburu dengan berbagai cara, baik dengan membaca fenomena-fenomena alam dengan ketajaman insting sebagai pengalaman pribadi, menghayati ungkapan pengalaman spiritual dari tatanan tradisional, maupun menggunakan terapan teknologi. Pendeknya, semua dilakukan untuk mengungkap fenomena misteri itu.

Dalam dunia hiburan di Indonesia, menarik untuk disimak bahwa fenomena misteri menjadi komoditas unggulan yang sangat sensasional sebagai menu tayangan di televisi belakangan ini, mulai dari “Hoka-Hoka”, “Gentayangan”, sampai “Memburu Hantu”. Beragam sudut pandang dan versi yang sangat variatif disajikan ; entah sebagai hiburan semata, entah untuk meyakinkan pemirsa akan adanya sisi kehidupan di luar realitas konvensional dunia nyata, yakni apa yang sebagai kesepakatan umum disebut dengan “Dunia Maya” atau “Dunia Lain”. Dunia maya yang dimaksud di sini tak lain dan tak bukan adalah suatu dunia dengan karakter dan muatan tata kehidupan yang berbeda dengan realitas duniawi.
Keyakinan apapun, termasuk agama-agama, memiliki klarifikasi dan referensi tersendiri sebagai konfirmasi bahwa dunia maya atau dunia lain benar-benar ada, bukan hanya isapan jempol belaka. Bila kita memanfaatkan analisis batiniah kita secara seksama, kita akan tiba pada kesimpulan bahwa dimensi dunia lain itu benar-benar ada.

Berbagai agama telah membenarkannya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Bagi agama-agama yang menganut paham teologisme dengan irama dogma yang kaku dan padat, Tuhan memang telah menskenariokan segala sesuatu sedemikian rupa sebagai bukti bahwa Tuhan itu Mahakuasa.. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah diciptakannya oleh-Nya dimensi dunia yang berbeda dari kehidupan manusia. Bahkan penghuni kehidupan dunia lain adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang tidak dikehendaki. Kalaupun dikehendaki, mereka berfungsi sebagai sarana penguji dan pengganggu manusia agar manusia benar-benar tahan uji untuk bias menghadap ke sisi Sang Pencipta. Jadi manusia sebagai objek dan subjek atau pelaku sebuah scenario yang melibatkan makhluk-makhluk rendah, seperti iblis, hantu, raksasa-raksasi, binatang dan lain-lain. Mereka semua adalah alat peraga ujian bagi manusia. Bila manusia mampu melewati hadangan alat-alat peraga tersebut, maka baginya jalan menuju sisi Sang Pencipta akan mudah. Jadi, pelaku skenario dituntut untuk selalu patuh dan taat. Ia tidak berkesempatan memilih peran dalam lakon yang telah diskenariokan. Bila sudah demikian tentu tidak sulit dijalani, yang penting menerima saja ; yang penting taat dan patuh sepenuhnya. Sang pelakon tidak perlu mengeluarkan dan mengembangkan energi dan potensi spiritualnya. Sang pelakon tidak perlu menggunakan instrument analisis dalam ruang laboratorium intelektual dan realita – dengan memanfaatkan alat-alat kelengkapan berupa formulasi hukum karma – untuk menguji kesahihan sebab-akibat fenomena dimensi kehidupan lain (ataupun hal-hal lain). Dalam paham teologisme, yang diperlukan adalah ketaatan menerima apa adanya. Kalaupun orang berusaha untuk tahu labih jauh tentang proses dan adanya sebab-akibat, usaha demikian tidak bisa keluar dari jalur yang sudah ditulis dalam skenario. Jadi tambahan pengetahuan itu hanya berfungsi sebagi suplemen agar ia lebih taat lagi. Kalaupun ia menemukan bahwa penjelasan sebab-akibat tersebut ternyata bukan jalur dan cabang dari paham teologisme, di sana ia sudah terhalang oleh rintangan “dosa”. Dan orang umunya gemetar bila berhadapan dengan si dosa itu, sehingga rasa penasaran tentang eksistensi sang pembuat skenario berikut karyanya cukup sampai pada “Itu sudah rahasia”. Ingin tahu lebih jauh lagi tentang asal muasal dan lain-lain? Stop !

Inilah yang barangkali menjadi formula utama paham teologisme. Apakah Buddhisme, atau yang akrab kita sebut agama Buddha, juga menganut paham ini? Tidak !

Inilah paham yang berbeda dengan apa yang diuraikan di atas, yang sama sekali bukan seperti itu. Agama Buddha menggunakan prinsip humanisme dalam menerapkan praktek tata kehidupan. Umat Buddha dipersilahkan untuk sedapat mungkin mengetahui, menjalani, dan mengalami sendiri tanpa sekat yang membelenggu sepanjang hal itu tidak mengganggu proses pencapaian kebijaksanaan.
Demikian juga halnya, agama Buddha memahami dimensi dunia lain sebagai bagian dari pengetahuan Dhamma. Hal tersebut tentu baik dalam rangka menguatkan sikap dalam menata kehidupan.
Benarkah setan adalah makhluk yang merugikan manusia ?

Dalam agama Buddha, adanya kehidupan makhluk-makhluk di luar dunia kita bukan sesuatu yang aneh atau misterius. Justru agama Buddha jauh lebih memadai dalam menjelaskan hal itu. Ada empat alam rendah, di bawah alam manusia, yang sering diilustrasikan ataupun tidak, makhluk seperti itu memang ada. Namun keberadaannya tentu tidak mudah ditangkap, dengan media visual sekalipun, karena pada dasarnya makhluk demikian dimensinya adalah alam batin, walaupun ada sementara orang yang bisa melihatnya secara kasat mata. Sebenarnya makhluk tersebut bukan merupakan – kalau boleh saya sebut – produk gagal dari Sang Pencipta. Setan, iblis atau hantu merupakan wujud akumulasi kolektif akusala kamma atau perbuatan buruk yang dilakukan suatu makhluk (manusia) semasa hidupnya sebelum terlahir di alam rendah. Hidup bukan hanya berlangsung sekali saja. Bagi orang yang tidak bisa menerima konsep hukum karma, dalam hal ini kelahiran kembali, sulit dipahami bahwa yang terlahir di alam rendah sebenarnya adalah manusia yang gagal menjalani hidup dengan sifat baik.

Makhluk-makhluk alam rendah terlahir dengan membawa sifat buruk. Ada empat alam rendah. Keempatnya dihuni oleh bentuk dan karakter tata kehidupan yang berbeda-beda. Empat alam tersebut adalah alam binatang (tiracchana bhumi), alam setan (peta bhumi), alam asura (asurakaya bhumi), dan alam neraka (niraya bhumi).

Sudah barang tentu kita tidak penasaran dengan eksistensi alam binatang. “Anggota-anggotanya” secara fisik hidup berdampingan dengan dunia manusia. Namun tentu tidak demikian halnya dengan makhluk di alam rendah lain seperti setan atau iblis. Makhluk di alam setan, seperti halnya binatang, menjalani proses hidupnya sebagai hasil dari karma buruknya. Makhluk di alam setan ada yang bisa berkehendak baik, misalnya setan yang mampu merasuki tubuh, atau lebih tepatnya merasuki ketidaksadaran manusia, disebabkan oleh adanya keterkaitan karma dengan orang yang dirasuki. Itulah sebabnya kita melihat orang yang “kemasukan” bisa menjelaskan beberapa hal baik, konon mampu mengobati penyakit tertentu pada orang tertentu pula. Jelaslah bahwa setan juga ada sisi baiknya, meskipun sedikit dan sangat jarang. Lagipula, sekali lagi, tidak semua setan bisa melakukan hal demikian.

Setan adalah makhluk yang belum terlahir. Ia adalah makhluk gentayangan. Meskipun demikian, ia tetaplah bukan makhluk yang jahat seperti yang dituduhkan oleh para penganut keyakinan/agama tertentu. Tidak terdapat cukup bukti dan alasan yang jelas bahwa setan adalah pengganggu manusia. Justru manusialah yang sering membuat setan menjadi terganggu. Berikut adalah sekilas contoh terganggunya makhluk rendah oleh perilaku manusia.

Dikisahkan, ada sekelompok bhikkhu yang berniat melaksanakan meditasi di sebuah hutan yang lebat. Pohonnya besar-besar. Di berbagai sisi bukit hutan tersebut terdapat gua-gua yang sangat cocok sebagai tempat meditasi. Maka para pertapa, Bhikkhu Dutannga bermaksud memanfaatkannya sebagai tempat bertapa. Namun apa yang terjadi ketika para pertapa mulai bermeditasi? Mereka tiba-tiba merasa lelah secara fisik. Suasana hutan yang semula sunyi senyap dan damai berubah menjadi sangat menyeramkan. Suara-suara aneh berkumandang dalam berbagai irama dan membuat bulu roma berdiri. Kala malam hari nan gelap tiba, di sekitar para pertapa muncul pelbagai bayangan seperti, sesosok kerangka manusia gemerentak berjalan-jalan, macam-macam sosok tubuh manusia yang tidak lengkap, dan sebagainya. Juga tercium bau amis dan bau busuk yang menyengat ; belum lagi munculnya suara tangisan yang memilukan dan suara-suara gaduh yang tidak jelas asalnya yang sekonyong-konyong menyergap pendengaran para pertapa. Semua kekacauan itu merupakan kerjaan makhluk-makhluk rendah yang berdiam di tempat tersebut karena merasa terganggu atas kehadiran manusia di hutan tempat mereka tinggal. Tentu saja para pertapa merasa sangat terganggu sehingga tidak dapat bermediatsi dengan baik. Maka para bhikkhu pun memutuskan untuk menghadap Sang Buddha. Dengan segala daya dan upaya, mereka akhirnya berhasil menghadap Sang Buddha. Setelah memberi hormat, salah satu bhikkhu menceritakan kondisi dan situasi hutan tempat mereka bertapa, khususnya perihal ketidaknyamanan mereka, seraya memohon Sang Buddha merekomendasikan tempat/hutan lain.

Setelah Sang Buddha melakukan survey dengan Mata Batin – Nya, Beliau justru menyarankan agar para bhikkhu kembali ke hutan yang tadi lagi, karena hutan itu sangat ideal untuk bertapa.. Namun Beliau memberi nasihat dan bekal yang patut kepada para pertapa, yaitu bahwa bila sebelumnya mereka mencoba melawan tatkala diganggu oleh makhluk rendah/setan-iblis-raksasa/raksasi dan sebangsanya, kali ini mereka harus melimpahkan cinta kasih dan kasih sayang secara total. Maka Beliau kemudian mengajarkan syair Kasih Sayang yang Harus Dikembangkan (Karaniyametta Sutta). Dengan modal itu para pertapa kembali ke hutan tersebut. Dan ternyata memang apa yang dirasakan pertapa sama sekali berubah ! Mereka justru mendapat perlakuan yang luar biasa dari penghuni-tak-kasat-mata hutan tersebut. Karena apa? Karena para pertapa telah melimpahkan kasih sayang yang besar kepada mereka – makhluk-makhluk rendah penghuni hutan tersebut.

Ini bukti bahwa makhluk semacam itu justru harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang ; bukan dengan hujatan, tuduhan, sangkaan, apalagi pengusiran dan perlawanan. Bila dengan makhluk yang tak tampak saja manusia sudah berlaku kasar dan curiga, menghujat, mendakwa (intinya menjadikan mereka musuh), bagaimana dengan sesama manusia dengan sesama manusia yang nyata-nyata ada, yang acap tidak sepaham dan sejalan dalam pola pikir dan perilaku? Benarkah sebaik-baiknya manusia pasti punya musuh dan sejahat-jahatnya masih punya teman? Kalu sejahat-jahatnya orang saya yakin pasti masih punya teman, ya sesama penjahat ! Namun kalau orang baik ? Layakkah ia mengklaim dirinya punya musuh ? Kalau jawabannya ya, berarti kebaikannya gugur demi kebenaran dan kebaikan itu sendiri.
Manusia yang tidak memiliki pemahaman yang benar dan proposional mengganggap bahwa setiap setan/iblis memang diciptakan untuk membuat keonaran bagi mental manusia. Sungguh itu merupakan penafsiran yang salah bila dipahami dari sudut pandang Buddhisme.
Benarkah setan/iblis merupakan produk gagal ?

Apabila memang dalam buku suci terdapat referensi atau malah justifikasi bahwa setan merupakan makhluk pengganggu manusia, hal itu akan menguatkan kadar kebencian mereka yang menjadikan buku suci tersebut sebagai panduan dan tuntunan spiritualnya terhadap makhluk rendah tersebut. Tetapi mereka yang menganut ajaran Sang Buddha justru memiliki pandangan terbalik. Bukankah manusia rendah semisal setan/iblis merupakan bagian dari objek yang mesti ditolong ?

Sebagai manusia, yang memiliki kadar intelektual yang tinggi dan berkembang serta mampu meningkatkan khazanah kebijaksanaan, tentu kita dapat berpikir dengan bijak. Bahkan secara konvensional saja kita dapat menganalisis dari segi kemanusiaan. Kita bisa memperkuat potensi kehendak untuk menolong dan membantu mereka yang pantas ditolong sekalipun itu harus dengan menyeberangi sekat dimensi dunia yang berbeda. Berbeda karena eksistensi makhluk rendah yang demikian adalah dalam dunia batin (batiniah). Ia sedang menjalani hasil dari akumulasi akusala karma – nya. Sementara kita, manusia, dilengkapi dengan jasmani yang konstruktif plus kemampuan untuk mengembangkan potensi kebijaksanaan dan kualitas proses kehidupan hingga terakhirinya samsara.

Untuk menilai sikap manusia terhadap makhluk di alam rendah, kta dapat membandingkannya dengan apa yang terjadi di alam manusia. Bagaimana orang yang kurang beruntung diperlakukan kasar dan tidak manusiawi ? Mungkinkah ia akan meresponnya dengan hormat dan santun ? Tentu tidak, bukan? Demikian pulalah halnya bila kita berlaku kasar terhadap makhluk rendah. Mereka akan bersikap kasar pula, karena, walaupun umumnya disebut makhluk halus, pada dasarnya mereka hidup dalam dunia yang kasar. Kita menyebut “halus” semat-mata karena konstruktif ia tidak tertangkap oleh panca indera kita secara nyata.

Jadi, yang patut digaribawahi di sini adalah bahwa makhluk di alam rendah bukan merupakan produk dan desain dari Sang Maha Pencipta sebagi kutukan atau hukuman.
Semoga semua makhluk dapat mempertahankan kesejahteraan yang diperolehnya, dan semoga semua makhluk saling memancarkan cinta kasih dan kasih sayang.

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

Still, Flowing Water

| Thursday, January 12, 2012 | 0 comments

Oleh : Venerable Ajahn Chah

Sekarang, harap perhatikan, jangan biarkan pikiran anda berkeliaran mengejar hal-hal lain. Timbulkan suatu perasaan bahwa seakan-akan anda sekarang sedang duduk di pegunungan atau di tengah hutan, hanya anda seorang diri. Apa yang sedang duduk di sini sekarang? Ada tubuh dan pikiran, itu saja, hanya kedua hal ini saja. Semua yang ditampung di dalam bingkai yang sedang duduk di sini sekarang disebut “tubuh”. “Pikiran” adalah yang menyadari dan berpikir pada saat ini. Kedua hal ini disebut “nama” dan “rupa”. Nama merujuk kepada sesuatu yang tidak memiliki ”rupa”, atau bentuk. Semua bentuk-bentuk pikiran dan perasaan, atau keempat khanda batin dari perasaan, persepsi, kehendak dan kesadaran, adalah nama, mereka semua tidak berbentuk. Ketika mata melihat bentuk, bentuk tersebut disebut rupa, sedangkan kesadaran disebut nama. Bersama-sama mereka disebut nama dan rupa, atau secara sederhana disebut tubuh dan pikiran.

Memahami bahwa yang sedang duduk di sini pada saat ini adalah hanya tubuh dan pikiran saja. Tetapi kita dibingungkan oleh kedua hal ini. Jika anda menginginkan kedamaian, anda harus mengetahui kebenaran tentang mereka. Pikiran dalam kondisi saat ini masih tidak terlatih; ia kotor, tidak jernih. Ia masih belum murni. Kita harus melatih pikiran ini lebih jauh lagi melalui praktek meditasi.
Beberapa orang berpikir bahwa meditasi artinya duduk dengan suatu metode khusus, tetapi pada kenyatannya berdiri, duduk, berjalan dan berbaring, semuanya adalah kendaraan untuk berlatih meditasi. Anda dapat berlatih pada setiap saat. Samadhi secara harfiah berarti “pikiran yang kokoh”. Untuk mengembangkan samadhi, anda tidak perlu memaksa dan mengurung pikiran anda. Beberapa orang mencoba untuk mendapatkan kedamaian dengan cara duduk diam dan tidak membiarkan apa pun menganggu mereka, tetapi itu sama saja dengan menjadi orang mati. Latihan samadhi adalah untuk mengembangkan kebijaksanaan dan pemahaman.

Samadhi adalah pikiran yang kokoh, pikiran yang terpusat. Pada titik yang mana ia terpusat? Ia terpusat pada titik keseimbangan. Itulah titiknya. Tetapi orang berlatih meditasi dengan mencoba untuk mendiamkan pikiran mereka. Mereka bilang,”Saya mencoba duduk bermeditasi tetapi pikiran saya tidak mau diam bahkan untuk semenit saja. Pada suatu saat ia akan berkeliaran ke tempat yang satu, di saat yang lain ia pergi ke tempat lain… Bagaimana saya bisa membuatnya berhenti?” Anda tidak perlu menghentikannya, bukan itu intinya. Di mana ada gerakan, di situ pula pemahaman akan muncul. Orang-orang mengeluh, ”Ia melarikan diri dan saya menariknya kembali; lalu ia pergi lagi dan saya menariknya kembali sekali lagi..” Jadi, mereka hanya duduk di sana sambil menarik-lepas menarik-lepas berulang-ulang seperti ini.

Mereka mengira pikiran mereka berlarian ke segala tempat, tetapi sebenarnya ia hanya kelihatan seolah-olah berlarian ke sana ke mari. Sebagai contoh, perhatikanlah ruangan ini… “Oh, ia begitu besar!” kata anda… sebenarnya ia tidaklah besar sama sekali. Apakah ia terlihat besar atau tidak, itu tergantung dari persepsi anda terhadapnya. Pada kenyataannya, ruangan ini memiliki ukuran yang seperti apa adanya, tidak besar ataupun kecil, tetapi orang-orang selalu berkutat pada perasaan mereka di setiap saat.

Bermeditasi untuk menemukan kedamaian… Anda harus memahami apa kedamaian itu. Jika anda tidak memahaminya, anda tak akan bisa menemukannya. Sebagai contoh, misalkan hari ini anda membawa sebuah pulpen yang sangat mahal ke vihara. Sekarang misalkan, dalam perjalanan anda ke mari, anda meletakkan pulpen tersebut di kantong depan anda, tetapi selanjutnya anda mengeluarkannya dan meletakkannya di tempat lain, seperti di kantong belakang. Sekarang, bila anda mencari di kantong depan anda… Ia tidak ada di sana! Anda pun menjadi takut. Anda takut karena kesalahpahaman anda, anda tidak melihat kebenaran dari hal tersebut. Penderitaan adalah hasilnya. Apakah sedang berdiri, berjalan, datang dan pergi, anda tidak dapat berhenti mencemaskan pulpen anda yang hilang tersebut. Pemahaman anda yang salah menyebabkan anda menderita. Memahami secara salah menyebabkan penderitaan… “Memalukan! Saya baru saja membeli pulpen tersebut beberapa hari yang lalu dan sekarang ia hilang!”
Namun kemudian anda pun ingat, ”Oh, tentu saja! Ketika saya mandi, saya meletakkan pulpen tersebut di kantong belakang saya.” Segera setelah anda ingat, anda telah merasa lebih lega terlebih dahulu, tanpa perlu melihat pulpen itu. Anda lihat itu? Anda sudah bahagia terlebih dahulu, anda bisa berhenti mengkhawatirkan pulpen anda. Anda merasa yakin tentang pulpen anda sekarang. Sembari anda berjalan, anda mengarahkan tangan anda ke kantong belakang, dan itu dia. Pikiran anda telah menipu anda selama itu. Kekhawatiran muncul dari kebodohan anda. Kini, setelah melihat pulpen itu, anda telah melampaui keragu-raguan, kekhawatiran anda telah ditenangkan. Kedamaian jenis ini muncul dari penglihatan akan penyebab masalah, samudaya, penyebab dari penderitaan. Segera setelah anda ingat bahwa pulpen tersebut ada di kantong belakang anda, di sana ada nirodha, akhir dari penderitaan.
Jadi, anda harus merenungkan untuk menemukan kedamaian. Apa yang biasanya orang-orang maksudkan tentang kedamaian hanyalah menenangkan pikiran, bukan menenangkan kekotoran batin. Kekotoran batin hanya ditaklukkan untuk sementara, seperti rumput yang ditutupi dengan sebongkah batu. Dalam tiga atau empat hari, anda mengangkat batu tersebut dari rumput dan dalam waktu yang tidak lama, ia tumbuh lagi. Rumput itu tidak benar-benar mati, ia hanya ditekan saja. Sama halnya ketika sedang duduk bermeditasi: pikiran tenang tetapi kekotoran tidak benar-benar tenang. Oleh karena itu, samadhi bukanlah sesuatu yang pasti. Untuk menemukan kedamaian sejati, anda harus mengembangkan kebijaksanaan. Samadhi adalah salah satu jenis kedamaian, seperti batu yang menutupi rumput… dalam beberapa hari, anda membuang batu itu dan rumput pun tumbuh kembali. Ini hanyalah kedamaian yang sementara saja. Kedamaian dari kebijaksanaan adalah seperti meletakkan batu dan tidak mengangkatnya lagi, hanya membiarkannya seperti itu. Rumput tidak akan mungkin tumbuh kembali. Inilah kedamaian yang sejati, menenangkan kekotoran batin, kedamaian yang pasti yang muncul dari kebijaksanaan.
Kita berbicara tentang kebijaksanaan (panna) dan samadhi sebagai hal-hal yang terpisah, tetapi pada intinya mereka adalah satu dan sama. Kebijaksanaan adalah fungsi dinamis dari samadhi; samadhi adalah aspek pasif dari kebijaksanaan. Mereka muncul dari tempat yang sama tetapi menuju arah yang berbeda, fungsi yang berbeda, seperti buah mangga ini. Sebuah mangga hijau yang kecil akan tumbuh semakin besar dan semakin besar sampai ia masak. Ini semua adalah mangga yang sama, yang besar dan yang masak, semuanya mangga yang sama, tetapi kondisinya yang berubah. Di dalam praktek Dhamma, kondisi yang satu disebut samadhi, kondisi yang selanjutnya disebut panna, tetapi dalam kenyataannya sila, samadhi, dan panna adalah sama, seperti mangga.

Di dalam latihan kita, tidak perduli aspek apa yang anda tuju, anda harus selalu memulai dari pikiran. Tahukah anda apa pikiran itu? Seperti apa pikiran itu? Apakah pikiran itu? Di manakah ia?... Tidak ada yang tahu. Yang kita tahu adalah bahwa kita ingin pergi ke sana atau ke mari, kita ingin yang ini dan kita ingin yang itu, kita merasa baik atau kita merasa buruk… tetapi pikiran sendiri kelihatannya mustahil untuk diketahui. Apakah pikiran itu? Pikiran tidak memiliki bentuk. Yang menerima kesan-kesan, apakah baik dan buruk, kita menyebutnya “pikiran”. Ia seperti pemilik rumah. Pemilik tersebut tinggal menetap di rumah ketika tamu-tamu datang mengunjunginya. Dialah yang menerima tamu-tamu. Siapa yang menerima kesan-kesan indera? Apa yang ia amati? Siapa yang melepaskan kesan-kesan indera? Itulah yang kita sebut “pikiran”. Tetapi orang tidak bisa melihatnya, mereka memikirkan diri mereka sendiri di dalam lingkaran… “Apakah pikiran itu, apakah otak itu?” … Jangan menjadi bingung akan hal-hal ini. Apa yang menerima kesan-kesan? Beberapa kesan yang ia suka dan beberapa yang ia tidak suka… Siapakah itu? Adakah seseorang yang menyukai dan tidak menyukai? Tentu saja ada, tetapi anda tidak bisa melihatnya. Itulah yang kita sebut “pikiran”.

Di dalam latihan kita, tidaklah perlu untuk berbicara tentang samatha (konsentrasi) atau vipassana (pandangan terang), sebut saja dia latihan Dhamma, itu sudah cukup. Dan lakukanlah latihan ini dari pikiran anda sendiri. Apakah pikiran itu? Pikiran adalah yang menerima, atau yang sadar akan, kesan-kesan indera. Dengan beberapa kesan indera ada reaksi menyukai, dengan yang lain ada reaksi tidak menyukai. Penerima kesan-kesan tersebut menuntun kita menuju kebahagiaan dan penderitaan, benar dan salah. Tetapi ia tidak memiliki bentuk apa pun. Kita menganggapnya adalah sesuatu, tetapi sebenarnya ia hanyalah namadhamma. Apakah “kebaikan” memiliki bentuk? Bagaimana dengan kejahatan? Apakah kebahagiaan dan penderitaan memiliki bentuk? Anda tidak bisa menemukan mereka…. Apakah mereka bulat atau persegi, pendek atau panjang? Bisakah anda melihat mereka? Ini adalah namadhamma, mereka tidak bisa dibandingkan dengan benda-benda bermateri, mereka tak berbentuk… tetapi kita tahu bahwa mereka itu ada.

Oleh sebab itu dikatakan agar mulai berlatih dengan menenangkan pikiran. Tempatkan kesadaran di dalam pikiran. Jika pikiran sadar, ia akan damai. Beberapa orang tidak mengembangkan kesadaran, mereka hanya menginginkan kedamaian, sejenis keadaan yang kosong melompong. Jadi mereka tak pernah mempelajari apa pun. Jika kita tidak memiliki “yang mengetahui” ini, apa lagi yang bisa dijadikan dasar latihan kita?

Jika tidak ada yang panjang, maka tidak ada yang pendek, jika tidak ada yang benar maka tidak akan ada yang salah. Orang-orang di zaman sekarang belajar, mencari yang baik dan yang jahat. Tetapi yang melampaui baik dan jahat, sama sekali tidak mereka ketahui. Semua yang mereka ketahui hanyalah benar dan salah. “Saya hanya akan mengambil yang benar saja. Saya tidak ingin mengetahui yang salah. Kenapa harus?” Jika anda mencoba untuk mengambil hanya yang benar saja, dalam waktu singkat ia akan menjadi salah lagi. Yang benar menuntun kepada yang salah. Orang terus mencari-cari di antara yang benar dan yang salah, mereka tidak mencoba menemukan yang tidak benar maupun yang tidak salah. Mereka mempelajari tentang kebaikan dan kejahatan, mereka mencari keluhuran, tetapi mereka sama sekali tidak mengetahui yang melampaui baik dan jahat. Mereka belajar tentang panjang dan pendek, tetapi yang tidak panjang maupun tidak pendek, sama sekali tidak mereka ketahui.
Pisau ini memiliki mata pisau yang tajam, bagian yang tidak tajam, dan gagang. Bisakah anda mengangkat hanya mata pisau yang tajam saja? Bisakah anda mengangkat hanya bagian yang tidak tajam saja dari mata pisau itu, atau gagangnya saja? Gagang, bagian yang tak tajam dan mata pisau yang tajam, semuanya adalah bagian dari pisau yang sama: ketika anda mengambil pisau tersebut, anda mendapatkan ketiga bagian itu sekaligus.

Dengan cara yang sama, jika anda mengambil yang bagus, maka yang buruk pasti mengikuti. Orang mencari kebaikan dan mencoba membuang yang jahat, tetapi mereka tidak mempelajari yang tidak baik maupun yang tidak jahat. Jika anda tidak mempelajari hal ini, maka tidak akan ada penyelesaian. Jika anda mengambil kebaikan, maka kejahatan akan mengikuti. Jika anda mengambil kebahagiaan, penderitaan pun mengikuti. Praktek kemelekatan terhadap kebaikan dan penolakan terhadap kejahatan adalah Dhamma anak-anak, seperti sebuah mainan. Tentu saja, itu tidak apa-apa, anda bisa mengambil hanya yang ini saja, tetapi jika anda menggenggam kebaikan, kejahatan pun akan mengikuti. Akhir dari jalan ini adalah kebingungan, ia tidaklah begitu bagus.

Ambil sebuah contoh sederhana. Anda memiliki anak – sekarang, anggap saja anda menginginkan untuk hanya menyayangi mereka saja dan tak pernah membenci mereka. Ini adalah pemikiran dari seseorang yang tidak mengetahui sifat alamiah manusia. Jika anda memegang erat pada cinta, kebencian akan mengikuti. Dengan cara yang sama, orang-orang memutuskan untuk belajar Dhamma guna mengembangkan kebijaksanaan, mempelajari yang baik dan yang jahat sedetil-detilnya. Sekarang, setelah mengetahui yang baik dan yang jahat, apa yang akan mereka lakukan? Mereka mencoba melekat pada kebaikan, dan kejahatan pun mengikuti. Mereka tidak mempelajari yang melampaui kebaikan dan kejahatan. Inilah yang seharusnya anda pelajari.

“Saya akan menjadi seperti ini,” “Saya akan menjadi seperti itu”… tetapi mereka tak pernah berkata “Saya tidak akan menjadi apa pun, karena tidak ada yang benar-benar merupakan “saya” di sana.” Yang ini tidak mereka pelajari. Semua yang mereka inginkan adalah kebaikan. Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka kehilangan kontrol diri di dalamnya. Jika hal-hal menjadi terlalu bagus, mereka akan mulai berkelakuan buruk, jadi orang-orang hanya mengayun ke kiri dan ke kanan seperti itu berulang-ulang.
Untuk menenangkan pikiran dan menjadi sadar terhadap yang mengamati kesan-kesan indera, kita harus memperhatikannya. Ikutilah “yang mengetahui.” Latihlah pikiran hingga ia menjadi murni. Sampai sejauh manakah kemurnian pikiran yang seharusnya anda latih ? Jika ia benar-benar murni, pikiran seharusnya melampaui kebaikan dan kejahatan, bahkan melampaui kemurnian. Ia telah selesai. Itulah saat di mana latihan telah selesai.

Apa yang orang-orang sebut sebagai duduk bermeditasi hanyalah jenis kedamaian yang sementara saja. Tetapi bahkan di dalam kedamaian seperti itu, terdapat pengalaman-pengalaman. Jika suatu pengalaman muncul, maka harus ada seseorang yang mengetahuinya, yang melihat ke dalamnya, mempertanyakan dan menyelidikinya. Jika pikiran hanya berada dalam keadaan kosong saja, maka itu tidaklah begitu berguna. Anda mungkin memperhatikan beberapa orang yang terlihat begitu tenang, dan berpikir mereka itu damai, tetapi kedamaian sejati bukan hanya pikiran yang damai saja. Ia bukan kedamaian yang berkata, “Semoga saya berbahagia dan tidak akan pernah mengalami penderitaan apa pun.” Dengan jenis kedamaian seperti ini, pada akhirnya bahkan pencapaian kebahagiaan pun akan menjadi tidak memuaskan. Penderitaan pun muncul. Hanya ketika anda bisa membuat pikiran anda melampaui kebahagiaan dan penderitaan sajalah maka anda akan menemukan kedamaian sejati. Itulah kedamaian sejati. Ini adalah topik yang tidak dipelajari kebanyakan orang, mereka tak pernah benar-benar memperhatikan hal yang satu ini.
Cara yang benar untuk melatih pikiran adalah dengan menjadikannya terang, untuk mengembangkan kebijaksanaan. Jangan berpikir bahwa melatih pikiran adalah hanya dengan duduk diam. Itu adalah batu yang menutupi rumput. Orang-orang dimabukkan olehnya. Mereka berpikir bahwa samadhi adalah duduk. Itu hanyalah salah satu kata untuk samadhi. Tetapi sebenarnya, jika pikiran memiliki samadhi, maka berjalan adalah samadhi, duduk adalah samadhi… samadhi di dalam posisi duduk, di dalam posisi berjalan, berdiri dan berbaring. Itu semua adalah latihan.

Beberapa orang mengeluh, “Saya tidak bisa bermeditasi, saya terlalu gelisah. Bilamana saya duduk, saya memikirkan ini dan itu… saya tak dapat melakukannya. Saya memiliki terlalu banyak kamma buruk. Saya seharusnya menghabiskan kamma buruk saya terlebih dahulu dan kemudian baru datang kembali dan mencoba bermeditasi.” Tentu, coba saja. Coba saja menghabiskan kamma buruk anda…
Beginilah caranya orang berpikir. Mengapa mereka berpikir seperti ini? Penghalang-penghalang ini adalah hal-hal yang harus kita pelajari. Bilamana kita duduk, pikiran segera pergi mengembara ke mana-mana. Kita mengikutinya dan mencoba membawanya kembali dan memperhatikannya sekali lagi… lalu ia akan pergi lagi. Inilah yang seharusnya anda pelajari. Kebanyakan orang tidak mau belajar dari alam… seperti murid sekolah yang bandel yang tidak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya. Mereka tidak ingin melihat perubahan pikirannya. Bagaimana anda akan mengembangkan kebijaksanaan? Kita harus hidup dengan perubahan seperti ini. Ketika kita tahu bahwa pikiran adalah seperti ini, terus berubah… ketika kita tahu bahwa ini adalah sifat alaminya, kita akan memahaminya. Kita harus tahu ketika pikiran sedang memikirkan yang baik dan yang buruk, berubah terus setiap saat, kita harus mengetahui hal-hal ini. Jika kita memahami hal ini, maka bahkan ketika kita sedang berpikir, kita bisa menjadi damai.

Sebagai contoh, misalnya di rumah anda memiliki seekor monyet peliharaan. Monyet tidak akan diam untuk waktu yang lama, mereka suka melompat ke sana ke mari dan memegang benda-benda. Begitulah monyet adanya. Sekarang, anda datang ke vihara dan melihat monyet di sini. Monyet ini juga tidak bisa diam, ia juga melompat ke sana ke mari. Tetapi ia tidak menganggu anda, bukan? Mengapa ia tidak mengganggu anda? Karena anda telah memelihara monyet sebelumnya, anda tahu sifat-sifat mereka. Jika anda mengetahui sifat-sifat seekor monyet saja, tidak perduli berapa banyak propinsi yang anda kunjungi, tidak perduli berapa banyak monyet yang anda lihat, anda tidak akan terganggu oleh mereka, bukan? Ini adalah seseorang yang memahami monyet.
Jika kita memahami monyet, maka kita tak akan menjadi monyet. Jika anda tidak memahami monyet, mungkin anda sendiri akan menjadi monyet! Mengertikah anda? Ketika anda melihatnya memegang ini dan itu, anda berteriak, “Hey!” Anda marah… “Monyet sialan itu!” Ini adalah seseorang yang tidak memahami monyet. Seseorang yang memahami monyet melihat bahwa monyet yang ada di rumah dan monyet yang ada di vihara adalah sama. Mengapa anda harus terganggu oleh mereka? Ketika anda melihat sifat-sifat monyet adalah seperti itu, itu sudah cukup, anda bisa menjadi damai.

Kedamaian adalah seperti ini. Kita harus mengetahui kesan-kesan indera. Beberapa kesan indera menyenangkan, beberapa lagi tidak menyenangkan, tetapi itu tidak penting. Itu urusan mereka. Seperti monyet, semua monyet adalah sama. Kita memahami kesan-kesan tersebut, pada saat-saat tertentu bisa disetujui, di saat-saat yang lain tidak – itu hanyalah sifat-sifat alami mereka. Kita seharusnya memahami mereka dan mengetahui cara untuk melepaskan mereka. Kesan-kesan indera itu tidak pasti. Mereka tidak kekal, tidak sempurna dan tidak ada pemiliknya. Segala sesuatu yang kita amati adalah seperti ini. Ketika mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran menerima kesan-kesan, kita mengetahui mereka, seperti memahami monyet. Lalu kita bisa menjadi damai.

Ketika kesan-kesan indera muncul, ketahui mereka. Mengapa anda mengejar mereka? Kesan-kesan indera itu tidak pasti. Di menit ini mereka berada pada jalur yang satu, di menit yang lain sudah berganti jalur. Keberadaan mereka tergantung pada perubahan. Dan kita semua di sini, juga ada karena tergantung pada perubahan. Nafas keluar, lalu ia harus masuk kembali. Ia harus mengalami perubahan ini. Cobalah untuk hanya menarik nafas saja, bisakah anda melakukan itu? Atau coba untuk hanya menghembuskan nafas saja tanpa menarik nafas… dapatkah anda melakukannya? Jika tidak ada perubahan seperti ini, berapa lama anda bisa hidup? Harus ada kedua-duanya, nafas masuk dan nafas keluar.

Kesan-kesan indera juga sama. Harus ada hal-hal seperti ini. Jika tidak ada kesan-kesan indera, maka anda tidak dapat mengembangkan kebijaksanaan. Jika tidak ada yang salah, maka tidak akan ada yang benar. Anda harus benar terlebih dahulu sebelum anda bisa melihat yang salah, dan anda harus memahami yang salah terlebih dahulu untuk menjadi benar. Beginilah segala sesuatu itu adanya.
Bagi murid yang benar-benar tekun, semakin banyak kesan-kesan indera, semakin bagus. Tetapi kebanyakan meditator melarikan diri dari kesan-kesan indera, mereka tidak mau berurusan dengannya. Ini seperti murid sekolah yang bandel yang tidak mau pergi ke sekolah, tidak mau mendengarkan gurunya. Kesan-kesan indera ini mengajari kita. Ketika kita mengetahui kesan-kesan indera, maka kita mempraktekkan Dhamma. Kedamaian di dalam kesan-kesan indera adalah seperti memahami monyet-monyet di sini. Ketika anda memahami monyet-monyet itu sehingga anda tidak lagi merasa terganggu oleh mereka.

Mempraktekkan Dhamma adalah seperti ini. Dhamma tidak berada jauh di sana, ia ada bersama kita. Dhamma bukanlah tentang malaikat-malaikat di langit atau apa pun yang menyerupai itu. Ia hanyalah tentang kita, tentang apa yang sedang kita kerjakan sekarang. Perhatikan diri anda sendiri. Kadang-kadang ada kebahagiaan, kadang-kadang penderitaan, kadang-kadang nyaman, kadang-kadang sakit, kadang-kadang cinta, kadang-kadang benci… ini adalah Dhamma. Anda melihatnya? Anda seharusnya mengetahui Dhamma ini, anda harus membaca pengalaman-pengalaman anda.

Anda harus mengetahui kesan-kesan indera sebelum anda dapat melepaskan mereka pergi. Ketika anda melihat bahwa kesan-kesan indera itu tidak kekal, maka anda tidak akan direpotkan oleh mereka. Begitu suatu kesan indera muncul, cukup katakan kepada diri anda sendiri, “Hmmm… ini bukan hal yang pasti.” Ketika suasana hati anda berubah… “Hmmm, tidak pasti.” Anda bisa berdamai dengan hal-hal ini, sama seperti melihat monyet dan tidak merasa terganggu olehnya. Jika anda mengetahui kebenaran dari kesan-kesan indera, itu artinya mengetahui Dhamma. Anda melepaskan kesan-kesan indera, menyadari bahwa mereka semua tidak pasti.

Apa yang kita sebut ketidakpastian di sini adalah Sang Buddha. Sang Buddha adalah Dhamma. Dhamma adalah karakteristik dari ketidakpastian. Siapa pun yang melihat ketidakpastian dari segala sesuatu, akan melihat realita yang tidak berubah dari mereka. Seperti itulah Dhamma adanya. Dan itu adalah Sang Buddha. Jika anda melihat Dhamma, anda melihat Sang Buddha, melihat Sang Buddha, anda melihat Dhamma. Jika anda mengetahui aniccam, ketidakpastian, anda akan melepaskan segala sesuatu dan tidak melekat pada mereka.

Anda bilang, “Jangan pecahkan gelas saya!” Bisakah anda mencegah sesuatu yang bisa pecah agar tidak pecah? Jika ia tidak pecah sekarang, ia akan pecah di masa mendatang. Jika anda tidak memecahkannya, orang lain akan melakukannya. Jika orang lain tidak memecahkannya, salah satu dari ayam-ayam itu akan melakukannya! Sang Buddha berkata agar kita menerima hal ini. Beliau menembus kebenaran dari hal-hal ini, dengan melihat bahwa gelas sudah pecah terlebih dahulu. Bilamana anda memakai gelas ini, anda seharusnya merenungkan bahwa ia sudah pecah terlebih dahulu. Dapatkah anda memahami ini? Pemahaman Sang Buddha adalah seperti ini. Beliau melihat gelas yang sudah pecah di dalam gelas yang masih utuh. Bilamana waktunya tiba, ia akan pecah. Kembangkanlah pemahaman seperti ini. Pergunakan gelas tersebut, jagalah ia, sampai pada suatu hari, ia lepas dari pegangan anda… “Jatuh!” … tak ada masalah. Mengapa tidak ada masalah? Karena anda telah melihatnya pecah sebelum ia pecah!

Tetapi biasanya orang-orang berkata, “Saya sangat menyukai gelas ini, semoga saja ia tak akan pernah pecah.” Selanjutnya, seekor anjing memecahkannya… “Saya akan membunuh anjing sialan itu!” Anda membenci anjing itu karena memecahkan gelas anda. Jika salah seorang dari anak-anak anda memecahkannya, anda akan membenci mereka juga. Mengapa demikian? Karena anda telah menyumbat diri anda sendiri, air tidak dapat mengalir. Anda telah membuat bendungan tanpa pintu air. Satu-satunya yang bisa dilakukan bendungan itu adalah jebol, benar kan ? Bila anda membuat bendungan, anda harus membuat pintu air juga. Ketika air naik terlalu tinggi, air bisa mengalir dengan aman. Bila sudah penuh, anda membuka pintu air. Anda harus membuat katup pengaman seperti ini. Ketidakkekalan adalah katup pengaman bagi Para Suci. Jika anda memiliki ”katup pengaman” ini, anda akan damai.

Berdiri, berjalan, duduk, berbaring, berlatihlah terus-menerus, pergunakan sati untuk mengawasi dan melindungi pikiran. Ini adalah samadhi dan kebijaksanaan. Keduanya adalah sama, tetapi mereka memiliki aspek yang berbeda.

Jika kita benar-benar melihat ketidakpastian dengan jelas, kita akan melihat kepastian. Kepastian tersebut adalah bahwa segala sesuatunya, mau tidak mau harus menempuh jalan ini, tidak ada jalan lain. Pahamkah anda? Dengan hanya mengetahui hal ini saja, anda bisa mengenal Sang Buddha, anda bisa memberi penghormatan yang layak kepada beliau.
Selama anda tidak membuang Sang Buddha, anda tidak akan menderita. Begitu anda membuang Sang Buddha, anda akan mengalami penderitaan. Begitu anda membuang perenungan terhadap ketidakkekalan, ketidaksempurnaan dan ketanpapemilikan, anda akan mendapatkan penderitaan.

Jika anda bisa mempraktekkan yang ini saja, itu sudah cukup; penderitaan tidak akan muncul, atau jika ia muncul anda dapat dengan mudah mengatasinya, dan ia akan menjadi faktor yang mencegah munculnya penderitaan di kemudian hari. Inilah akhir dari latihan kita, pada titik di mana penderitaan tak lagi muncul. Dan mengapa penderitaan tak lagi muncul? Karena kita telah mengatasi penyebab dari penderitaan, samudaya.
Sebagai contoh, jika gelas ini pecah, biasanya anda akan mengalami penderitaan. Kita tahu bahwa gelas ini akan menjadi penyebab penderitaan, jadi kita melenyapkan penyebabnya. Semua dhamma muncul dari suatu sebab. Mereka juga harus berakhir karena suatu sebab. Sekarang, jika ada penderitaan dikarenakan gelas ini, kita seharusnya melepaskan penyebabnya. Jika merenungkan sebelumnya bahwa gelas ini telah pecah terlebih dahulu, walaupun ketika ia tidak pecah, sebab-sebab tersebut telah berakhir. Ketika tidak ada sebab-sebab apa pun lagi, ketika penderitaan tidak lagi bisa muncul, ia telah berakhir. Inilah pengakhiran.

Anda tidak perlu melampaui titik ini, hanya ini saja sudah cukup. Renungkan ini di dalam pikiran anda. Pada dasarnya, anda seharusnya mengambil kelima aturan (note: Peraturan dasar moral untuk umat Buddha : menahan diri dari melakukan pembunuhan yang disengaja, pencurian, perzinahan, pendustaan dan memakai zat-zat yang menghilangkan kesadaran) sebagai acuan untuk bertingkah laku. Tidak perlu pergi mempelajari tipitaka, cukup pusatkan perhatian saja pada kelima aturan terlebih dahulu. Mula-mula anda akan melakukan kesalahan-kesalahan. Ketika anda menyadarinya, berhenti, kembali dan bangun serta jalankan lagi aturan-aturan anda. Mungkin anda akan tersesat dan melakukan kesalahan yang lain lagi. Ketika anda menyadarinya, bangunkan kembali diri anda.

Berlatih seperti ini, sati anda akan meningkat dan menjadi lebih konsisten, seperti air yang menetes dari ketel. Jika kita memiringkan ketel tersebut sedikit, tetesannya jatuh perlahan-lahan… plop!... plop!... plop!... Jika kita memiringkan sedikit lagi ketel tersebut, tetesannya menjadi semakin cepat… plop, plop, plop!!... Jika kita memiringkan ketel tersebut lebih jauh lagi, “plop” nya akan hilang dan air mengalir dengan teratur. Ke mana “plop-plop” tersebut pergi? Mereka tidak pergi ke mana-mana, mereka berubah menjadi aliran air yang teratur.

Kita harus membicarakan Dhamma seperti ini, dengan mempergunakan perumpamaan, karena Dhamma tidak memiliki bentuk. Apakah ia persegi atau berbentuk lingkaran? Anda tidak bisa menyebutnya. Satu-satunya cara untuk membicarakannya adalah dengan melalui perumpamaan seperti ini. Jangan berpikir bahwa Dhamma berada jauh dari anda. Ia berada tepat bersama anda, di sekeliling anda. Lihatlah… satu menit bahagia, kemudian sedih, lalu marah… semuanya adalah Dhamma. Lihat dan pahamilah. Apa pun yang menyebabkan penderitaan, anda seharusnya mengatasinya. Jika penderitaan masih ada di sana, lihat sekali lagi, anda masih belum melihatnya dengan jelas.

Jika anda bisa melihat dengan jelas, anda tak akan menderita, karena penyebabnya tidak akan berada di sana lagi. Jika penderitaan masih ada di sana, jika anda masih menahan penderitaan, itu artinya anda belum berada pada jalur yang benar. Di mana pun anda terjebak,
bilamana anda terlalu menderita, maka tepat di sanalah letak kesalahan anda. Bilamana anda begitu berbahagia, anda melayang-layang di awan… itu dia… salah lagi!

Jika anda berlatih seperti ini, anda akan memiliki sati di setiap saat, di setiap posisi tubuh. Dengan sati, perhatian penuh, dan sampajanna, kesadaran diri, anda akan mengetahui yang benar dan yang salah, kebahagiaan dan penderitaan. Dengan mengetahui hal-hal ini, anda akan tahu bagaimana cara menghadapi mereka.

Saya mengajar meditasi seperti ini. Bila tiba waktunya untuk duduk bermeditasi, maka duduklah, itu tidak salah. Anda seharusnya melatih ini juga. Tetapi meditasi bukan hanya duduk saja. Anda harus membiarkan pikiran anda untuk sepenuhnya mengalami berbagai hal, membiarkan mereka mengalir dan pelajari sifat alami mereka. Bagaimana seharusnya anda mempelajari mereka? Lihatlah mereka sebagai hal yang fana, tidak sempurna dan tidak ada pemiliknya. Semuanya tidak pasti. “Yang ini begitu indah, saya benar-benar harus memilikinya.” Itu bukan hal yang pasti. “Saya sama sekali tidak menyukai yang ini”… katakan pada diri anda sendiri, “Tidak pasti!” Benarkah ini? Tentu saja, tidak salah lagi. Tetapi mencoba menganggap segala sesuatu itu nyata… “Saya pasti akan mendapatkan benda ini”… Anda sudah keluar dari jalur. Jangan lakukan ini. Betapa pun besarnya rasa suka anda terhadap sesuatu, anda seharusnya merenungkan bahwa ia tidaklah pasti.

Beberapa jenis makanan kelihatannya begitu lezat, tetapi tetap saja anda seharusnya merenungkan bahwa ia bukanlah hal yang pasti. Ia mungkin kelihatannya begitu pasti, ia begitu lezat, tetapi tetap saja anda harus berkata pada diri anda sendiri, “Tidak pasti!” Jika anda ingin menguji apakah ia pasti atau tidak, cobalah menyantap makanan kesukaan anda setiap hari. Ya, setiap hari. Pada akhirnya anda akan mengeluh, “Ini tidak begitu lezat lagi.” Pada akhirnya anda akan berpikir, “Sebenarnya, saya lebih menyukai makanan yang itu.” Itu juga bukan hal yang pasti! Anda harus membiarkan segala sesuatu mengalir, sama seperti nafas masuk dan nafas keluar. Di sana harus ada kedua-duanya, nafas masuk dan nafas keluar, pernafasan bergantung pada perubahan. Segala sesuatu bergantung pada perubahan seperti ini.

Hal-hal ini ada bersama kita, bukan di tempat lain. Jika kita tidak lagi ragu-ragu, apakah sedang duduk, berdiri, berjalan, atau berbaring, kita akan senantiasa damai. Samadhi bukan hanya duduk saja. Beberapa orang duduk sampai mereka terbius. Mereka mungkin hampir sama seperti orang mati, mereka tidak bisa membedakan utara dan selatan. Jangan melakukannya dengan ekstrim. Jika anda merasa ngantuk maka berjalanlah, ganti posisi tubuh anda. Kembangkan kebijaksanaan. Jika anda benar-benar lelah, istirahatlah. Begitu anda bangun, segera lanjutkan latihan anda, jangan biarkan diri anda terbius. Anda harus berlatih seperti ini. Miliki pertimbangan, kebijaksanaan, kehati-hatian.

Mulailah berlatih untuk tubuh dan pikiran anda sendiri, melihat mereka sebagai hal yang tidak permanen. Segala sesuatu yang lain juga sama. Tanamkan hal ini di dalam pikiran ketika anda berpikir bahwa makanan itu begitu lezat… anda harus berkata pada diri anda sendiri, “Bukan hal yang pasti!” Anda harus menginjak-injaknya lebih dulu. Tetapi biasanya ia yang menginjak-injak anda setiap saat, bukan? Jika anda tidak menyukai sesuatu, anda akan menderita karenanya. Beginilah caranya mereka menginjak-injak kita. “Jika dia menyukai saya, saya pun menyukainya,” mereka menginjak-injak kita lagi. Anda tidak pernah memukulnya! Anda harus melihatnya seperti ini. Bilamana anda menyukai sesuatu, katakan saja pada diri anda sendiri, “Ini bukanlah hal yang pasti!” Anda harus melawan arus untuk melihat Dhamma.

Berlatihlah di dalam segala posisi tubuh. Berdiri, berjalan, duduk, berbaring… anda dapat mengalami kemarahan di dalam posisi apa pun, benar kan? Anda bisa marah ketika berjalan, ketika duduk, ketika berbaring. Anda bisa punya nafsu keinginan di dalam segala posisi tubuh. Jadi latihan kita harus mencakup seluruh posisi tubuh; berdiri, berjalan, duduk dan berbaring. Ia harus konsisten. Jangan hanya memamerkannya saja, lakukanlah dengan sungguh-sungguh.

Ketika duduk bermeditasi, beberapa kejadian mungkin muncul. Sebelum yang satu itu diatasi, yang lainnya berlomba-lomba untuk muncul. Bilamana hal-hal ini terjadi, katakan saja pada diri sendiri, “Tidak pasti, tidak pasti.” Injak saja ia sebelum ia memiliki kesempatan untuk menginjak anda.
Sekarang, ini adalah poin yang penting. Jika anda tahu bahwa segala sesuatu itu tidak kekal, semua pemikiran anda akan setahap demi setahap menjadi terbuka. Ketika anda merenungkan ketidakpastian dari segala sesuatu yang lewat, anda akan melihat bahwa segala sesuatunya menuju arah yang sama. Bilamana sesuatu muncul, satu-satunya yang perlu anda katakan adalah, “Oh, ada lagi!”
Pernahkah anda melihat air yang mengalir?... Pernahkah anda melihat air yang tenang?... Jika pikiran anda damai, ia akan menjadi seperti air tenang yang mengalir. Pernahkah anda melihat air tenang yang mengalir? Itu dia! Anda hanya pernah melihat air yang mengalir dan air yang tenang, bukan? Tetapi anda tidak pernah melihat air tenang yang mengalir. Tepat di sana, tepat di mana pikiran anda tidak bisa membawa anda, walaupun ia damai, anda bisa mengembangkan kebijaksanaan. Pikiran anda akan menjadi seperti air yang mengalir, namun ia juga tenang. Ia hampir seolah-olah tenang, namun ia mengalir. Jadi, saya menyebutnya “air tenang yang mengalir.” Kebijaksanaan bisa muncul di sini.


* Note : Ceramah ini diberikan di Wat Tham Saeng Phet, selama Masa Vassa tahun 1981.
* Dikutip dan diterjemahkan dari buku : “The Teachings Of Ajahn Chah”, sub judul : “Living Dhamma – Still, Flowing Water”

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Araka Jataka

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

Pada suatu kesempatan Sang Bhagava berkata demikian pada Sangha, "Para Bhikkhu, kemurahan hati (welas asih) yang dipraktekan dengan segenap pikiran, dimeditasikan, diperbesar, dijadikan alat kemajuan, dijadikan obyek tunggal, dilatih, dan dimulai dengan baik dapat diharapkan untuk menghasilkan sebelas berkah.

"Apakah kesebelasan berkah itu? Ia tidur dengan gembira dan bangun dengan gembira; ia tidak mengalami mimpi buruk; orang-orang menyukainya; para makhluk halus menjaganya; api, racun, dan pedang tidak mendekatinya; mudah diingat; pembawaannya menjadi tenang; ia mati tanpa perasaan takut; tanpa memerlukan kebijaksanaan lebih lanjut ia mencapai surga Brahma. Kemurahan hati, para bhikkhu, yang dilakukan tanpa mengenal kehendak" dan seterusnya. "Dapat diharapkan untuk menghasilkan sebelas berkah. Sambil memuji kemurahan hati yang berisi sebelas berkah ini, para bhikkhu, seorang bhikkhu seyogyanya bermurah hati kepada semua makhluk, disuruh atau tidak, ia seharusnya menjadi sahabat orang yang ramah, juga menjadi sahabat orang yang tidak ramah, dan menjadi sahabat orang yang acuh tak acuh. Jadi kepada semua tanpa perbedaan, disuruh atau tidak, di harus bermurah hati; ia harus bersimpati terhadap kesenangan atau kesusuhan dan melatih kesabaran; ia harus melakukan pekerjaanya dengan empat kebaikan. Dengan berbuat demikian ia akan sampai ke surga Brahma walaupun tanpa jalan atau buah. Para bijaksana dengan mengembangkan welas asih selama tujuh tahun, telah berdiam di surga Brahma selama tujuh jaman, masing-masing dengan satu masa berkembang dan satu masa menyusut "] Dan ia menceritakan kepada mereka sebuah kisah di masa lalu.
Pada suatu ketika, di zaman yang lalu, Sang Bodhisattva terlahir di keluarga Brahmin. Setelah dewasa, ia melenyapkan napsunya dan menjalani kehidupan religius,serta mencapai empat kebaikan. Ia bernama Araka, dan menjadi seorang guru yang tinggal di daerah Himalaya dengan pengikut yang banyak. Ia memberi nasehat kepada para bijaksana pengikutnya, "Seorang yang mengasingkan diri (pertapa) harus menunjukan welah asih, bersimpati (turut merasakan) dalam kesenangan maupun kesusuhan, dan penuh kesabaran karena rasa welas asih yang dicapai dengan penuh tekad mempersiapkannya menuju surga Brahma. " Dan untuk menjelaskan berkah dari welas asih, ia melantunkan sajak berikut ini:

"Hati yang memiliki welas asih tanpa batas kepada semua yang terlahir.
Di surga, di alam bawah, dan di bumi.
Penuh dengan rasa welas asih tak terbatas, kemurahan hati tanpa batas.
Di dalam hati yang demikian takkan ada perasaan sempit atau terkurung."

Demikianlah uraian Sang Bodhisattva kepada para muridnya mengenai pengalaman welas asih dan berkahnya. Dan ia seketika terlahir di surga Brahma, selama tujuh zaman, masing-masing dengan masa berkembang dan menyusut, ia tidak kembali lagi ke dunia ini. Setelah selesai berkhotbah, Sang Bhagava mengindentifikasi kelahiran tersebut, "Para bijaksana pada saat itu sekarang adalah para pengikut Buddha;dan saya sendiri adalah Sang Guru Araka."

Readmore..

Bentangan Cakrawala Dukkha

| | 0 comments

Kemajuan sains dan teknologi telah membawa implikasi yang luas terhadap bentuk-bentuk kehidupan. Banyak kemudahan dan manfaat yang telah dirasakan oleh umat manusia. Tersedianya media hiburan, kemudahan mobilitas, peningkatan akses komunikasi dan informasi telah membentuk fase yang sangat berbeda secara signifikan dengan keadaan beberapa dekade lalu.

Di balik gegap gempita kemajuan tersebut, banyak juga kemerosotan yang terjadi. Perusakan lingkungan merajalela, penyimpangan-penyimpangan sosial hingga hal-hal yang pada dasarnya dirasakan hampir setiap orang yaitu kian jauhnya kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman batin. Manusia telah mencapai tingkat pemahaman yang tinggi mengenai “matter” (zat, materi) tercermin dari pencapaian luar biasa dalam fisika, biologi, kimia dan berbagai disiplin ilmu yang lain. Hal ini sangat kontras dengan pemahaman mengenai “non-matter” (batiniah) tercermin dari ilmu psikologi saat ini yang belum memiliki fondasi dan kerangka yang utuh dan jelas.

Begitu banyak orang yang terhimpit oleh penderitaan saat ini. Bacalah koran; kriminalitas merajalela dimana-mana yang menimbulkan kekhawatiran, depresi dan kasus bunuh diri semakin meningkat, penyalahgunaan narkoba hingga tindak kekerasan dalam keluarga. Dunia ini membutuhkan siraman rohani yang kuat; butuh kesejukan yang menentramkan. Dunia ini juga butuh pancaran hangat sinar kasih kebajikan yang menerangi relung-relung gelap di dalam batin.

Cakrawala Dukkha (penderitaan) ini sangat luas. Kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, putus asa, kegundahan dan kekhawatiran adalah bentuk-bentuk derita. Fenomena-fenomena batin dan pikiran di atas telah mencengkram banyak bagian kehidupan manusia.

Jika ditelusuri, ada dua penyebab dukkha yaitu sebab intern dan ekstern. Sebab intern adalah karena adanya keinginan. Keinginan ini kemudian menjelma menjadi keterikatan. Keterikatan ini menimbulkan lagi keinginan-keinginan. Akhirnya lahir siklus (rantai) kemelekatan. Keinginan-keinginan ini terkadang sangat “gila”. Shih Huang Ti, kaisar Cina, pernah mengerahkan ribuan personelnya untuk menemukan obat abadi. Dia ingin hidup abadi dan berkuasa selamanya. Namun, hasil yang didapat adalah kegagalan. Seandainya saja dia berhasil menemukannya dan mencapai keinginannya untuk hidup abadi; benarkah dia akan bahagia selamanya? Seiring waktu, perlahan-lahan dia akan mulai merasa bosan dan lama kelamaan dia akan merindukan penuaan dan kematian. Ini problem dukkha manusia; rasa tidak puas yang tidak henti-hentinya dan keterikatan terhadap kesenangan dan kesedihan duniawi.

Sebab ekstern dibagi tiga yaitu Dukkha-Dukkha, Viparinama Dukkha, dan Sankhara Dukkha. Dukkha-Dukkha adalah bentuk penderitaan umum seperti lahir, tua, sakit, mati, berpisah dengan orang yang dikasihi. Viparinama Dukkha berkenaan dengan Dukkha akibat perubahan; dari pintar menjadi bodoh, dari kaya menjadi miskin. Viparinama Dukkha ini sangat erat kaitannya dengan Anicca, corak pertama dari Tilakkhana, yaitu bahwa segala yang berkondisi tidaklah tetap, kekal ataupun permanen. Sankhara Dukkha berhubungan dengan Anatta; bahwa segala sesuatu adalah tanpa inti; bahwa esensi dari kondisi adalah Dukkha. Pada dasarnya, suatu sebab ekstern Dukkha adalah kesatuan dari tiga fenomena di atas. Misalkan berpisah dari orang yang dicintai adalah Dukkha-Dukkha, namun hal ini juga merupakan Viparinama Dukkha; perubahan dari kondisi kebersamaan menjadi perpisahan. Hal ini juga Sankhara Dukkha; bahwa dalam fenomena perpisahan (hal ini tentunya ‘berkondisi’) esensinya memang Dukkha. Bahkan kegembiraan juga Dukkha karena tidak kekal. Itulah esensi integral dari Anicca, Dukkha dan Anatta.

Apakah agama Buddha sepesimis ini? Ya, seandainya Buddha tidak menunjukkan jalan mengatasi Dukkha. Para Buddha ‘ada’ di dunia karena adanya Dukkha ini. Agama-agama lahir di dunia sebenarnya karena adanya Dukkha. Ada banyak metode untuk mengatasi dukkha (penderitaan).

Selesaikanlah masalah yang menimbulkan dukkha tersebut. Misalkan kita khawatir tidak dapat mengerjakan soal-soal ujian; belajarlah dengan tekun dan baik. Kita diusik oleh masalah utang-piutang, bereskan masalah tersebut. Namun bagaimana jika masalah tersebut bukan masalah fisis yang dapat segera dibereskan? Misalnya, berpisah dengan orang yang dikasihi?

Carilah stimulus luar, lakukan pelampiasan dengan pengalihan pikiran. Cari hiburan dengan jalan-jalan, main game, dan sebagainya atau membaca buku, majalah atau belajar dengan mengerjakan soal-soal matematika, fisika dan sebagainya. Pikirkan hal-hal lain yang mengalihkan pikiran kita dari hal penyebab derita. Stimulus luar ini bisa juga berupa pergi ke vihara, melakukan kebaktian dan doa, maupun pasrah dan berserah diri; ekspresikan seluruh kegundahan dan kesedihan kita, menangislah sepuasnya. Sang Buddha tidak akan menertawakan hal ini. Sebelum Parinibbana, Buddha telah mengetahui bahwa akan banyak umat yang memujanya, memohon berkah maupun pertolongannya. Sang Buddha tidaklah mengharapkan pujaan yang berlebihan. Beliau hanya berharap para siswanya akan melaksanakan Dhamma dengan baik, memahami hukum-hukum kesunyataan (kebenaran) dan mencapai kebahagiaan tertinggi (Nibbana). Meskipun demikian, Buddha tidak melarang pemujaan terhadap dirinya karena Beliau mengetahui akan begitu banyak umat yang batinnya menjadi lebih ringan setelah menumpahkan segala uneg-uneg kepada Sang Tathagata. Sang Buddha rela mendengarkan keluh kesah dan penderitaan umatnya seperti halnya yang Beliau gambarkan mengenai Bodhisattva Avalokitesvara yang penuh welas asih yang mendengarkan ratap dan jeritan tangis dunia. Sang Buddha mengetahui meskipun manusia kelihatan kuat tetapi sebenarnya lemah. Manusia bagaikan lapisan email gigi yang sangat keras namun dapat hancur bahkan hanya oleh mikroba-mikroba kecil.
Setelah itu, kurangilah keinginan atau keterikatan kita terhadap sesuatu hal. Misalkan Anda takut masalah yang ditimbulkan oleh mobil, hilangkan keinginan memiliki mobil. Ini adalah aspek komplemen yang nyata: banyak keinginan, banyak keterikatan. Banyak keterikatan, maka banyak penderitaan. Mereka yang menjadi bhikkhu/ni atau samanera/ri mengimplementasikan aspek ini. Membatasi dan mengurangi keinginan dapat juga dilakukan dengan menjalankan sila seperti Atthasila. Bisa juga dengan melatih Khanti Viriya (semangat untuk bersabar). Ketika badai derita melanda, teguhkanlah hati dan pikiran dengan kesabaran. Kesabaran memberikan kekuatan untuk menghadapi dukkha. Kesabaran meredakan gejolak kesedihan. Kekuatan Khanti Viriya akan memberikan ketentraman dan rasa tenang. Bersabarlah hingga Anda tidak sabar lagi untuk bersabar.

Lakukanlah meditasi, kurangilah ego, banyaklah berbuat amal dan membantu orang lain, mengasihi satwa dengan berbagai cara salah satunya dengan melepaskannya, menanam kepedulian terhadap penderitaan orang lain juga merupakan bentuk-bentuk penanaman kusala kamma (kamma baik) yang dapat mengurangi penderitaan. Melakukan kebajikan ibarat menuangkan air terus menerus ke dalam larutan garam, yang pada akhirnya dapat mengurangi keasinan. Dengan kata lain garam tersebut ibarat kamma buruk dan kebaikan terus menerus ibarat air yang pada akhirnya jika dituangkan terus menerus dapat mengurangi penderitaan akibat kamma buruk yang telah diperbuat.

Belajarlah dan capailah tingkat pemahaman bijaksana (pañña), latihlah juga Sati Sampajjhana (kesadaran utuh dan kewaspadaan). Dengan memiliki pañña (pemahaman/ kebijaksanaan), ketika kita menghadapi dukkha kita mengerti bahwa esensi atau makna dari kondisi adalah dukkha. Kita juga mengerti bahwa dukkha juga tidaklah kekal dan pasti berlalu. Dalam Vajracchedika Prajna Paramita 32 telah diungkapkan:
Seperti bintang yang melintas, kegulitaan, seperti sebuah pelita,
tipuan sulap, seperti embun jatuh, atau bulat buih,
seperti mimpi, cahaya kilat, atau awan kelabu,
seperti itu pula kita seharusnya memandang semua yang berkondisi.
Semua yang berkondisi tidaklah permanen, milikilah pemahaman mengenai hal itu, termasuk juga penderitaan.

Bintang yang melintas akan berlalu, embun jatuh akan mengering, mimpi akan berakhir pula dan kebahagiaan maupun kesedihan juga akan berlalu. Terkadang kita telah tahu, telah mengerti bahwa suatu hal membawa dukkha tapi masih juga kita terbawa oleh pusaran dukkha tersebut. Sama seperti orang yang sudah tahu bahwa (maaf) kotoran ayam berbau busuk, ketika terinjak masih juga mencoba untuk menciumnya. Untuk itulah diperlukan Sati Sampajhana (kesadaran penuh). Dengan memiliki pañña dan sati sampajhana, pikiran kita akan terbuka. Ketika kita melihat orang lain, merekapun pada hakikatnya berada dalam selubung dukkha. Cobalah Anda amati makhluk-makhluk di sekeliling Anda jika Anda tidak percaya.

Jadi, metode mana yang terbaik? Jawabannya tidak ada yang terbaik. Pada dasarnya relatif. Dalam beberapa kasus, sebagai contoh mengalihkan pikiran dengan mencari stimulus luar mudah dilakukan, namun mungkin hanya bertahan sebentar, setelah itu magnet pikiran akan menarik lagi bahan-bahan feromagnetik berupa rangkaian-rangkaian dukkha. Melatih pañña dan sati sampajhana memberikan efek yang luar biasa, tapi tidak semua individu dapat mencapainya dengan baik. Metode-metode di atas melengkapi satu sama lain, mereka memiliki goal setting yang sama yaitu melenyapkan dukkha. Dengan mengkombinasikan dan mengaplikasikan metode-metode yang paling sesuai dengan diri kita, dukkha yang kita alami akan dapat tereduksi dan berkurang jauh.
Sebenarnya Dhamma tidak perlu ada jika tiada lagi dukkha di Triloka ini. Ajaran para Buddha ada karena harus menjadi rakit untuk menyeberangkan para makhluk dari samudera kelam dukkha. Sejak awal, “impian” para Buddha dan Bodhisattva adalah membuat “Sang Ajaran” menjadi rakit usang koleksi museum. Dan melalui kontribusi kita semualah, “museum kesunyataan” dapat menambah item terakhir untuk memperkaya koleksinya melampaui jaring-jaring batas alam semesta.

Kicauan merdu para burung, derikan meriah para jangkrik, berkas-berkas hangat sang mentari, kesejukan para embun, semuanya melebur menjadi sunya dan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari diri kita semua.

Penulis: Willy Yanto Wijaya

Readmore..

Saturday, January 7, 2012

Wiku Sadayana ~ Lukisan Dan Bingkainya

| Saturday, January 7, 2012 | 0 comments

Wiku Sadayana ~ Lukisan Dan Bingkainya
Dayananda TG.
Siang itu, Wiku Sadayana sibuk membuat bingkai untuk sebuah lukisan bergambar Buddha yang berwajah asing dan bermata sipit. Setelah selesai memasang lukisan ke dalam bingkai, Wiku menggantung lukisan itu di dinding dibelakang Buddha rupang di Sanggar Pamujan.

Dan pada senja hari, seperti biasa Sanggar Pamujan dipenuhi oleh suara para cantrik yang menguncarkan tembang mantra suci mengagungkan Hyang Guru Buddha serta mengulang kembali janji bakti mereka untuk mengikuti ajaran hidup yang luhur dari Hyang Guru Buddha. Sanggar Pamujan yang diterangi kelap kelip dlupak minyak jarak, bercampur dengan bau harum dupa dan beraneka bunga segar yang terserak di meja tempat rupang Hyang Guru Buddha berada, membuat suasana menjadi terasa makin sakral.

Setelah penguncaran mantra suci selesai, mereka bersamadi bersama sama, Sanggar Pamujan yang sebelumnya dipenuhi oleh suara para cantrik bagaikan dengung para lebah mencari madu bunga, kini sunyi senyap sehingga suara berbagai serangga yang keluar senja hari terdengar jelas, hanya di seling sekali sekali oleh dengkung katak yang sibuk berpesta mencari makan.

Suara gong mengakhiri samadi bersama, dan dengan segera Sanggar Pamujan dipenuhi oleh gemersik baju para cantrik yang sedang mengubah letak kaki mereka yang pegal karena duduk tidak bergerak cukup lama. Citramatra yang malam itu memimpin, segera mengajak semua yang hadir untuk melimpahkan jasa jasa baik perbuatan mereka pada hari itu untuk kebahagiaan semua mahluk dan mengakhiri pembacaan tembang mantra malam itu dengan bersembah sujud pada Hyang Guru Buddha.
Para cantrik yang sejak tadi telah memperhatikan ada lukisan baru yang tergantung di dinding, sibuk berkata dan memberi komentar kepada rekan yang duduk disebelahnya. Sedangkan Citramatra, setelah merapihkan jubahnya, bersembah sujud kepada Wiku Sadayana sebagai tanda bahwa ia ingin bertanya.
Wiku Sadayana sambil bersenyum berkata : “Ada apa Citramatra?”

Citramatra menjawab : “Guru , darimanakah gambar tersebut, dan mengapa wajah Hyang Guru Buddha yang tergambar disitu berbeda dengan Rupang dari batu yang biasa kita ketahui?.”

Wiku Sadayana, berdiam sejenak, menunggu suara dari para cantrik mereda, dan baru kemudian menjawab : “Gambar ini aku dapat dari pemberian Saccawirya, sedangkan Saccawirya sendiri mendapatkan dari pedagang asing yang datang ke ibukota kerajaan untuk berdagang. Pedagang tersebut dirampok habis habisan, untunglah punggawa kerajaan dapat menangkap perampok tersebut dan menyerahkan perkaranya kepada Saccawirya yang menjabat sebagai Adhyaksa. Perampok tersebut dihukum berat sesuai dengan undang undang kerajaan yang mewajibkan warga kerajaan melindungi orang asing yang berdagang dengan jujur di kerajaan Wilwatikta ini; dan pada saat akan pulang kembali ke negerinya, pedagang tersebut memberikan lukisan ini kepada Saccawirya sebagai kenang kenangan. Pada 2 bulan purnama yang lalu, aku dan Citramatra pergi ke ibukota kerajaan untuk menghadiri upacara 1000 hari wafatnya Gusti Prabu yang lalu, dan tinggal di rumah Saccawirya. Saccawirya kemudian memberikan lukisan ini kepadaku”

Setelah menyeruput Wedang Jahe hangat yang dihidangkan oleh seorang cantrik, Wiku Sadayana melanjutkan ceritanya : “Lukisan ini dibuat diatas lembar kertas, yang berbeda dengan lembar lontar yang biasa kita gunakan untuk mencatat mantra suci. Penduduk negeri asing ada yang mengetahui cara pembuatan kertas berukuran lebar, jauh lebih lebar dari lembar lontar, bahkan ada yang sampai 2 depa panjangnya, sehingga bisa digunakan untuk membuat lukisan seperti yang kalian lihat. Penduduk negeri asing tersebut, menurut Saccawirya, rata rata bermata sipit dan berkulit lebih cerah daripada kita penduduk Wilwatikta, mungkin lebih cerah dari warna kulit penduduk daerah Pasundan yang pernah bertikai dengan kerajaan Wilwatikta puluhan tahun yang lampau. Oleh karena itu, mereka melukiskan Hyang Guru Buddha sesuai dengan wajah yang mereka lihat sehari hari, yaitu seperti wajah mereka sendiri”.

Citrabala bertanya : “Guru, apakah diijinkan membuat gambar atau patung Hyang Guru Buddha yang berbeda beda wajahnya?”
Sambil tersenyum Wiku Sadayana menjawab : “Hyang Guru Buddha telah moksa mencapai Nirwana hampir 2000 tahun yang lampau, dan tidak ada seorangpun yang masih hidup saat ini yang pernah melihat wajah asli Hyang Guru Buddha , karena itu sangat wajar bila rupang ataupun lukisan Guru Buddha berbeda beda. Tetapi itu bukan masalah, karena kita pengikut atau yang menyatakan diri sebagai murid Hyang Guru Buddha, menghormati serta berterima kasih kepada Beliau atas ajaran Dharma yang beliau berikan, serta teladan keluhuran budi pekerti yang beliau tunjukkan selama beliau hidup.”
Citrabala melanjutkan bertanya : “Kalau begitu, bisakah setiap penyungging (pelukis) bebas melukiskan beliau semaunya sendiri? “

Wiku Sadayana :”Tentu saja tidak bisa bebas semaunya, apakah engkau lupa dalam salah satu lontar ada tertulis 32 ciri ciri tubuh bodhisatwa, sebelum beliau mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Hyang Buddha?”. Dengan melukiskan sebanyak mungkin ciri ciri tersebut kedalam lukisan, maka dapatlah seorang Penyungging membuat sebuah lukisan dengan menyebutnya inilah lukisan Hyang Guru Buddha. Selain itu juga tentunya lukisan Hyang Guru Buddha menggambarkan perilaku Beliau sehari hari, seperti bersamadi dengan wajah tersenyum, duduk membabarkan ajaran Dharma. Berdiri dengan sikap tangan memberikan berkah; tentunya sangat tidak tepat kalau menggambarkan Beliau sedang memegang tongkat pemukul atau tombak, atau naik kuda sambil mengacungkan pedang, karena perbuatan itu tidak pernah beliau lakukan”.

Citrabala dan para cantrik mengangguk menyetujui penjelasan Wiku Sadayana.
Dan kemudian Wiku Sadayana berkata : “Citramatra, dalam perjalanan pulang dari ibukota kerajaan ke padepokan ini, engkau pernah bertanya, mana yang lebih penting melakukan winaya (berbuat sesuai aturan Sila) atau melakukan upacara ritual yang megah mewah dengan persembahan sesaji yang berlimpah disertai menguncar tembang mantra berhari-hari? Engkau juga bertanya mengapa padepokan kita tidak pernah melakuan upacara ritual besar besaran?”
Citramatra menjawab : “Benar Guru, waktu itu Guru mengatakan setelah tiba di padepokan baru akan dijelaskan dihadapan para cantrik yang lain. Dan aku sudah lupa menanyakan kepada Guru”.
“Baiklah, sebelum aku menjelaskan hal ini, Citramatra dan cantrik-ku sekalian, kalian perhatikan baik baik lukisan yang sudah berbingkai yang tergantung di dinding.
Jawab pertanyaanku, jika lukisan itu tidak kuberi bingkai, bisakah kalian semua melihatnya dengan baik?”

Dengan cepat Citrabala menjawab : “Tidak bisa , guru, itu sama saja dengan wayang kulit tanpa gapit, akan lungkrah,(bhs Jawa: loyo), dan tidak mungkin dilihat dengan baik”
“Ah, Citrabala, bagus sekali perumpamaan mu dengan wayang kulit tanpa gapit, gambar ini pun akan lungkrah, tergulung bagian sudutnya , sehingga tidak enak dilihat”, tukas Wiku Sadayana, yang kemudian melanjutkan bertanya : “Seandainya aku membuat bingkai untuk lukisan tersebut dengan bingkai yang berukuran besar, misalnya selebar setengah jengkal, bagaimana pendapat kalian, apakah lukisan itu menjadi lebih serasi?”

“Tidak mungkin serasi, eyang guru”, jawab salah seorang cantrik dan lanjutnya : “itu sama saja seperti sebuah wayang kulit yang bergapit sungu kerbau berukuran sebesar jempol kaki, tidak enak dilihat. Bingkai selebar setengah jengkal terlalu berlebih untuk ukuran lukisan seperti itu, sehingga tidak enak dilihat.”

Dengan gembira, Wiku Sadayana menjawab : “Bagus, bagus, kalian semua menjawab dengan baik, nah pertanyaan ku yang terakhir, jika bingkai lukisan itu aku beri hiasan ukiran yang indah, aku beri tambahan batu batu permata yang gilang gemilang dan mahal harganya, apakah itu akan memperindah lukisan tersebut?”

Kali ini Citramatra dengan sigap menjawab : “Guru, hiasan ukiran dan batu permata itu akan menenggelamkan keindahan lukisan, yang melihat lukisan akan bingung, perhatiannya akan terpecah, memperhatikan lukisan atau memperhatikan bingkai berhias permata; bingkai yang guru buat sederhana bentuknya, ukurannya pun serasi tidak terlalu tebal, juga tidak terlalu tipis, serasi dengan besar lukisan yang sedepa lebarnya.”.
“Bagaimana pendapat yang lainnya ?” tanya Wiku Sadayana.
“Kami sependapat dengan Citramatra, guru “, serempak para cantrik yang lain menjawab.
Setelah berdehem dehem membersihkan tenggorokannya, Wiku Sadayana berkata : “Nah, perhatikan baik baik yang akan aku katakan. Ajaran Dharma dari Hyang Guru Buddha berupa pengertian mengenai kehidupan dan cara membebaskan diri dari penderitaan yaitu mencapai Nirwana, selain itu juga banyak nasihat nasihat lain yang diberikan kepada pengikut Beliau waktu itu, yang bisa kalian baca di lontar, Ajaran Dharma itu adalah seperti gambar lukisan ini. Sedangkan winaya, atau berbagai pantangan dan tuntunan perilaku yang baik, sama seperti bingkai untuk memegang lukisan agar teguh, tidak kusut atau tergulung bagian ujungnya; sedangkan ukiran dan permata yang aku tanyakan tadi, adalah berbagai upacara ritual yang menjadi tradisi dari para pengikut serta murid Hyang Guru Buddha.
“Perhatian dan upaya yang berlebihan pada upacara ritual, dapat membuat kita semua melupakan ajaran Dharma; apalagi umat yang melihat, mereka akan lebih tertarik pada upacara ritual yang rumit dan megah dibandingkan mendengarkan wejangan Dharma yang disampaikan oleh orang yang mengerti Dharma ajaran Guru Buddha. Demikian juga perhatian yang berlebih pada Winaya serta aturan aturan, akan menyebabkan para murid kuatir bertindak melanggar Winaya, dan sibuk memperhatikan kesalahan sesama rekan, bukannya memanfaatkan waktu, pikiran dan tenaga mereka untuk menyelami dan melaksanakan Dharma untuk mensucikan batin dan pikiran mereka sendiri. Sebaliknya ada juga orang yang hanya mempelajari dan memperdebatkan ajaran Dharma dari Hyang Guru Buddha dan mengabaikan pelaksanaan Winaya dan aturan aturan yang diperlukan, serta mengabaikan upacara ritual untuk mengenang dan menghormati Hyang Guru Buddha; maka kita akan menjumpai orang yang ahli serta mengetahui banyak sekali ajaran Dharma, tanpa melaksanakannya dalam kehidupan sehari hari, orang ini tidak mengerti bahwa Winaya adalah sarana yang menjamin tegaknya Dharma; jika para murid berperilaku dengan melanggar Winaya, siapakah yang akan tertarik untuk mempelajari Dharma? Dan mungkinkah akan ada umat yang bersedia mendukung kehidupan para Wiku yang berperilaku tidak bermoral? Tidak akan ada! Jika terjadi maka hal ini merupakan tanda awal akan lenyapnya ajaran Dharma dari Hyang Guru Buddha pada daerah tersebut”.

Suasana dalam Sanggar Pamujan menjadi hening, sunyi senyap. Tidak biasa mereka mendengar petuah yang panjang lebar dari Wiku Sadayana yang biasanya hanya memberi petuah petuah singkat.
Akhirnya, Wiku Sadayana memecah keheningan : “Sama juga seperti lukisan yang berbingkai dengan ukuran serasi dan diberi hiasan sederhana. Kita memerlukan Winaya dan aturan aturan yang perlu dipatuhi tanpa berlebihan; kita juga memerlukan upacara ritual yang sederhana untuk menunjukkan rasa hormat dan terima kasih kita dengan tulus pada Hyang Guru Buddha yang telah mengajarkan Dharma bagi kesejahteraan sesama mahluk; dan kita juga perlu mempelajari dan menyelami Dharma untuk mensucikan batin serta pikiran kita hingga tercapainya Nirwana. Ketiga nya perlu diperhatikan tetapi harus seimbang tanpa berlebihan pada salah satu diantaranya.”

Citramatra kemudian berkata : “Guru, sebetulnya aku tadi ingin juga bertanya mengapa kita disini tidak pernah mengadakan upacara ritual yang megah seperti yang berlangsung di ibukota dan berbagai Sanggar Pamujan yang lain sehingga banyak sekali umat yang datang hadir, sekarang aku tahu, itu terlalu berlebihan.”

“Citramatra, bukanlah tujuan dari Hyang Guru Buddha membabarkan Dharma untuk mengumpulkan umat untuk menonton upacara ritual, tetapi Beliau bertujuan membebaskan manusia dari penderitaan melalui pelaksanaan Dharma yang telah Beliau ajarkan, sedangkan para Wiku yang berkelakuan baik bersesuaian dengan Winaya akan menarik hati para umat untuk mempelajari dan melaksanakan Dharma, sebaliknya, tontonan berupa upacara yang megah memang mendatangkan umat yang banyak, tetapi sebagian besar dari mereka hanya ingin menonton keramaian saja. Bahkan hal itu dapat menimbulkan pengertian yang salah dari umat, yang beranggapan bahwa dengan ikut serta pada upacara ritual sudah dapat membebaskan mereka dari penderitaan; timbulnya pandangan salah seperti ini perlu dihindari dengan mengadakan upacara ritual secukupnya saja”.

Dengan sikap yang tenang, Wiku Sadayana menatap ke para cantriknya dan kemudian berkata : “Kini sudah larut malam, kita semua perlu beristirahat, Citrabala, pimpinlah kita semua untuk memberikan sembah sujud pada Hyang Guru Buddha untuk mengakhiri pertemuan kita malam ini”
Tidak lama kemudian , padepokan tersebut diselimuti keheningan ketika para penghuninya telah lelap di pondok masing masing.

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com