Showing posts with label Artikel Motivasi buddha. Show all posts
Showing posts with label Artikel Motivasi buddha. Show all posts

Tuesday, January 31, 2012

Bapak Rajen : Dhamma Indah Pada awalnya, Indah Pada Tengahnya dan Indah Pada Akhirnya

| Tuesday, January 31, 2012 | 0 comments

Kebhaktian umum, 11 September 2009
Protokol : Grace Chandra
Penyalaan Lilin Altar : Romo Pannajayo
Pembacaan Dhammapada : Ibu Cuilan (Gatha 354 dan 355)
Dhammadesana : Romo Rajen
Penulis : Grace Chandra

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhasa … (3X)
Namo Sang Yang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya…!!!

Malam ini Romo Rajen memberikan ulasan mengenai Dhamma. Dhamma merupakan kebenaran sejati atau ajaran kebenaran. Menurut Anguttara Nikaya I halaman 22 dikatakan bahwa “Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada tengahnya dan indah pada akhirnya.
Dhamma dikatakan indah pada awalnya karena Dhamma dapat membimbing dan membentengi diri kita. Dhamma dapat memberikan tuntunan kepada kita agar diri kita keluar dari Dosa, Loba dan Moha. Dhamma berisi peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh Guru Buddha sejak 2500 tahun yang lalu. Hidup ini memang perlu peraturan dengan adanya peraturan hidup akan lebih teratur, tenang, tentram dan damai. Untuk umat awam terdiri atas 5 sila, sedangkan para Bhikkhu terdiri atas 227 sila. Dengan menjalankan Dhamma, kita akan merasakan hidup yang bahagia, damai dan penuh dengan keseimbangan.
Dhamma itu indah pada tengahnya karena Dhamma dapat menuntun kita pada ketenangan batin dan memperoleh pandangan terang. Ketenangan batin dan pandangan terang ini dapat kita peroleh dengan jalan mempraktekkan meditasi. Semua ini dapat kita peroleh dengan kekuatan diri kita sendiri dan semuanya ada didalam diri kita sendiri.
Romo Rajen lalu bertanya kepada semua umat yang hadir mengenai apa saja manfaat yang diperoleh dari latihan meditasi. Setelah dirangkum, ternyata meditasi memberikan manfaat antara lain bertambahnya kesabaran, bertambahnya konsentrasi, mengikis dosa, loba dan moha, dan menjadi tenang. Dari banyaknya jawaban yang ada Romo Rajen menambahkan manfaat meditasi yang telah ia rasakan dari berbagai latihan meditasi yang telah dijalaninya. Romo Rajen merasakan dengan meditasi ia dapat melihat seperti apakah dirinya saat ini. Beliau tersadar bahwa dirinya telah banyak melanggar sila. Akhirnya ia tersadar sehingga beliau berjanji dalam diri akan bertobat serta ingin menjadi pengabdi Dhamma. Meditasi yang teratur juga dapat mengontrol gula darah beliau sehingga berada dalam batas rendah.
Setelah mengupas tentang begitu banyaknya manfaat dari bermeditasi lalu Romo Rajen memberikan tips meditasi sebagai berikut:
- Pilihlah tempat duduk yang paling sesuai atau nyaman (teratai penuh, setengah teratai atau kedua kaki dalam posisi sejajar)
- Tegakkan badan , simpan telapak tangan dipangkuan dengan rilieks dan mata kemudian dipejamkan.

Ada dua jenis meditasi yang kita kenal yaitu :
1. Meditasi ketenangan batin, Samantha Bhavana Contohnya: Meditasi memperhatikan napas (Anapannasati Bhavana)
2. Meditasi pandangan terang, Vipasanna Bhavana

Oleh sebab itu Dhamma dikatakan indah pada tengahnya karena dapat memberikan ketenangan dan pandangan terang apabila kita mau mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dan yang terakhir Dhamma dikatakan indah pada akhirnya karena dengan Dhamma dapat menghasilkan manusia-manusia bijaksana. Kebijaksanaan dapat kita peroleh dengan sendirinya jika kita selalu mempraktekkan sila dan Samadhi dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dengan melihat ulasan ini semoga saja kita semakin terpacu untuk menjalankan dhamma di dalam kehidupan kita masing-masing. Dhamma itu memang sungguh indah pada awal, tengah dan akhirnya.
Demikianlah ringkasan kebhaktian umum, 11 September 2009. Semoga bermanfaat.
Sadhu…! Sadhu…! Sadhu…!

Readmore..

Monday, January 30, 2012

Bpk Supriatno Penyuluh agama Buddha dari DEPAG KARAWANG

| Monday, January 30, 2012 | 0 comments

Vihara Surya Adhi Guna, Perahu Dhamma: Bpk Supriatno Penyuluh agama Buddha dari DEPAG KARAWANG#navbar-iframe { display:block }Selamat Hari Kathina, Ayo Berdana kepada Sangha..Vihara Surya Adhi Guna, Perahu DhammaHomeHistoriGaleriProfilDhammaEventsKomentarSelamat Datang di Blog Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok
Blog ini kami persembahkan untuk teman-teman kami yang rindu akan suasana Vihara, teman-teman yang berminat belajar Dhamma, dan berbagi pengalaman spiritual. Blog ini juga kami dedikasikan sebagai jembatan para umat Vihara Surya Adhi Guna yang tidak dapat datang ke Vihara, kami menyediakan liputan, ringkasan kebaktian, foto-foto dan video setiap aktivitas yang up to date.
Semoga bermanfaat.

Minggu, 03 Januari 2010Bpk Supriatno Penyuluh agama Buddha dari DEPAG KARAWANG.fullpost{display:inline;}




Kebhaktian Umum, 13 November 2009
Dhammadesana : Bpk Supriatno
Penyuluh agama Buddha dari DEPAG KARAWANG

Tema : Kerukunan Umat Beragama
Penulis : Romo Pannajayo


Namo Buddhaya…!
Bapak Supriatno dalam Dhammadessananya menguraikan beberapa poin yaitu:
- Di Depag Karawang, Bapak Supriatno selaku penyuluh agama Buddha diterima baik oleh pegawai yang lainnya. Mereka semua bersikap ramah dan baik karena umat Buddha di Karawang tidak pernah mebuat masalah/merugikan orang lain.
- Kita selaku umat Buddha perlu menunjukkan indentitas diri sebagai agama Buddha di dalam KTP. Hal ini dikarenakan seberapa besar jumlah umat dapat dijadikan sebagai patokan pertimbangan bagi pemerintah untuk memberikan anggaran bantuan keagamaan.
- Kehidupan toleransi beragama di Karawng cukup bagus dan umat Buddha di mana-mana diterima oleh umat lain. Hal ini dikarenaka dari jaman para Buddha dulu, agama Buddha tidak pernah melakukan kekerasan pada penganut agama dan kepercayaan lain.
- Sang Buddha sendiri pernah menekankan kepada siswanya untuk selalu menghormati guru/ajaran yang lain atau ajaran yang lama.
- Orang yang dapat menciptakan kerukunan adalah orang yang dapat memberi manfaat bagi keluarga dan masyarakat (lingkungan).

Demikianlah ringkasan kebhaktian umum tanggal 13 November 2009, semoga bermanfaat.
Sadhu…! Sadhu…! Sadhu…!

0komentar: Poskan Komentar

Posting Lebih BaruPosting LamaBerandaLanggan:Poskan Komentar (Atom) Search ..Waisak Festival 2010Waisak Festival 2010Perayaan Waisaka Puja 2010Perayaan Waisaka puja Vihara Surya Adhi Guna akan diadakan pada hari Jumat tanggal 18 Juni 2010 pada pukul 18:00 Wib.
Acara akan dihadiri oleh Bhikkhu Sangha dari Sangha Agung Indonesia dan Pengurus Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Jawa Barat. Adapun pada perayaan kali ini sekaligus diadakan acara pelantikan para pengurus baru Majelis Buddhayana Indonesia cabang Rengasdengklok.
Catatan Kebaktian? 2010(8)? Januari(8)Air ParitaYessica F.S. : Timang-timang MamaAwal Tahun 2010Bapak Hemarta : Pentingnya KonsentrasiJanganlah pernah merasa takut jika mengingat akan ...Tahun baru 2009Bpk Supriatno Penyuluh agama Buddha dari DEPAG KA...Samanera Abhasaro : Dari terang menuju terang ?  2009(85) ?  Desember(3)Latih diri - studi meditasi aksi 2009Romo Rajiman : Persatuan dalam kelompok4 hal untuk merubah pola hidup kita ?  November(2)Bhante Upasammo : Sunguh sulit untuk mendengarkan ...Grace Chandra : English Buddhism ?  Oktober(6)Sidhi : KalyanamittaRomo Pannajayo : Hiri & OttapaPerayaan Hari Kathina 2009Yessica F.S. : Di Balik Kepribadian KitaRomo Pannajayo : Cara menjadi Agung dan BaikY. M. Bhante Adhiratano : Bekal yang kita tabung a... ?  September(8)Bpk. Hemartha : Kasih orang tua sepanjang JamanTommy : Belajar bersikap positif dengan penilaian ...Bpk. Hemartha : Perjuangan dan ProsesRomo Pannajayo : Lemah LembutPembacaan paritta malam kembangBapak Rajen : Dhamma Indah Pada awalnya, Indah Pad...Pelantikan Pengurus PMV 2009-2010Y. M. Bhante Athadiro : Hiduplah saat ini ?  Agustus(10)Grace Chandra : Personality PlusBapak Abeng : PatidanaBapak Rajiman : Hidup tidaklah pasti, tapi kematia...Romo Tanti Guna : Belajar berpola pikir BuddhisRomo Pannajayo : Keistimewaan Ajaran BuddhaGrace Chandra : kushala dhammaBhikkhu Sudassano : 4 Hal yang harus dilakukan unt...Sidhi : Ketua Terpilih PMV SAG 2009-2010Romo Pannajayo : KebahagiaanPemilihan KETUA PMV putaran pertama ?  Juli(10)Ayya Santini Talkshow : Bertemu Penderitaan, berte...Perayaan Asadha 2009 : YM Bhikkhu Sri Pannavaro Ma...Romo Pannajayo : 10 Racun kehidupanVihara Sepi : 20 Menit?.. Terasa Lama..Nyanagupta Shi Xue Zhi : Aplikasikanlah Buddha Dha...Samanera Abhasaro : PerubahanFery Karsilo : Nilai Moral & Asusila telah merosot...Yogi Gunawaro Diskusi : Pancasila BuddhisIvana M.K. : Semangat Biji TerataiY. M. Bhante Citavaro:Tujuan Luhur Umat Buddha ?  Juni(9)Yessica F.S. : DanaBpk. Indra Metta : Kebahagian pada kehidupan sehar...Games : Bermain sambil belajar ?  Mei(14) ?  April(11) ?  Maret(8) ?  Februari(3) ?  Januari(1)untuk menjelajahi blog ini dengan maksimal gunakan:
firefox dan flash player
Semoga Semua Makhluk Berbahagia

Readmore..

Romo Pannajayo : Cara menjadi Agung dan Baik

| | 0 comments

Kebhaktian umum, 09 Oktober 2009
Protokol : Bpk. Hasan
Penyalaan lilin Altar : Romo Pannajayo
Dhammapada : Grace Chandra (Gatha 99)
Dhammadesana : Romo Pannajayo
(Tema : Cara agar kita menjadi agung dan baik)

Namo Buddhaya..,
Malam kebhaktian tanggal 9 Oktober lain dari biasanya, suasananya sepi dan hening. Pertama kali saya memasuki Dhammasala dapat terlihat bantalan duduk hanya memenuhi setengan dari ruangan Dhammasala. Umat yang hadir kurang lebih hanya sekitar 40 orang saja. Hal ini terjadi karena sebagian besar Umat SAG berangkat ke Blitar-Suramadu untuk mengikuti kegiatan "Kathina Tour". Walaupun sepi.., tetapi tetap terlihat semangat dari para umat untuk mengikuti kebhaktian.
Dhammadesana pada malam ini diisi oleh Romo Pannajayo. Romo mengupas tentang bagaimana caranya agar kita menjadi agung dan baik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai makhluk sosial pastilah selalu berhubungan dengan makhluk lain. Lalu bagaimanakah caranya agar kita dapat saling mengisi dengan makhluk lain dengan penuh keharmonisan???
Hubungan saling mengisi dan saling menolong dapat terjadi hanya jika ada unsur cinta kasih. Kita dapat dikasihi dan dicintai oleh orang lain hanya jika kita baik. Orang lain pasti baik dan mencintai diri kita apabila diri kita ini baik dalam ucapan, perbuatan dan pikiran.
Sekarang mari kita simak dan pelajari bagaimanakah caranya agar kita menjadi agung dan baik sehingga semua orang mencintai kita. Penampilan baik dapat dikategorikan menjadi tiga hal yaitu penampilan baik dalam jasmani, penampilan baik dalam perbuatan dan penampilan baik dalam batin.
Seseorang yang penampilan baik dalam jasmani yaitu orang yang dapat menjaga jasmani contohnya dengan berpakaian rapih dan sopan. Orang yang berpenampilan baik dalam jasmani bukan berarti ia harus berpakaian perlente dan memakai aksesoris mewah. Perlente bukanlah tanda bahwa ia adalah orang baik. Banyak orang berpakaian perlente dan mewah ternyata adalah seorang penipu.
Setelah mejaga penampilan jasmani terlihat baik, alangkah baiknya orang juga menjaga penampilan perbuatannya. Seseorang yang selalu berbuat baik, ramah tamah dan suka menolong pastilah sangat disukai semua orang. Banyak di kehidupan nyata, seorang wanita biasa-biasa saja dapat memperoleh pria tampan dan kaya. Setelah ditelusuri ternyata wanita ini merupakan wanita yang berpenampilan baik dalam sgala perbuatannya.
Selain kedua penampilan yang telah disebutkan diatas, ada satu penampilan lagi yang sangat penting untuk kita jaga. Apakah itu???. Yach.., itu adalah penampilan batin. Penampilan batin sangat perlu kita jaga dan kita tingkatkan untuk mejadi lebih baik lagi. Hal ini dikarenakan apabila batin tenang maka akan membuat perbuatan, perkataan pun mejadi tenang pula. Sebagai umat awam kita dapat meningkatkan batin kita dengan jalan selalu mempraktekkan pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Demikianlah uraian tentang beberapa cara agar kita berpenampilan baik. Smoga uraian ini dapat bermanfaar dan membuat diri kita menjadi lebih baik lagi.
Sadhu...! Sadhu...! Sadhu...!

Readmore..

Monday, January 16, 2012

KUTADANTA SUTTA

| Monday, January 16, 2012 | 0 comments

Demikianlah yang saya dengar.

1. Pada suatu ketika Sang Bhagava serta sekelompok besar bhikkhu sangha, sebanyak lima ratus bhikkhu, sedang mengadakan perjalanan melalui kerajaan Magadha dan tiba di Brahmanagama, menginap di Ambalatthika, Khanumata. Pada waktu itu Brahmana Kutadanta tinggal di Khanumata, tempat yang ramai, banyak padang rumput, hutan dan jagung, daerah yang dihadiahkan oleh Raja Bimbisara kepadanya dan ia menguasai daerah itu bagaikan raja. Ketika itu persiapan untuk upacara korban besar telah dipersiapkan atas nama Brahmana Kutadanta. Seratus pasang sapi dan seratus pasang kambing telah disiapkan di tempat upacara.

2. Sementara itu, para brahmana dan penduduk Khanumata mendengar berita tentang kedatangan Samana Gotama, maka mereka berduyun-duyun pergi ke Ambalatthika.

3. Pada saat itu, Brahmana Kutadanta berada di teras atas rumahnya untuk istirahat, ia melihat orang-orang yang bepergian itu, ia bertanya kepada penjaga pintu tentang kepergian orang-orang itu. Penjaga pintu menerangkannya.

4. Kemudian Kutadanta berpikir: “Saya mendengar bahwa Samana Gotama mengerti tentang pelaksanaan upacara korban yang sukses dengan ‘tiga metoda serta enam belas peralatan tambahannya’.” Saya tidak mengetahui semua hal ini, namun saya akan melaksanakan upacara korban. Nampaknya baik bagi saya bila saya menemui dan menanyakan hal ini kepada Samana Gotama. Maka ia menyuruh penjaga pintu agar menemui para brahmana dan penduduk Khanumata untuk menunggunya karena ia pun mau menemui Sang Bhagava.

5 – 8. Ketika itu pula, ada banyak brahmana yang berada di Khanumata untuk mengambil bagian dalam upacara korban besar itu. Pada saat mereka mendengar berita ini, mereka menemui Kutadanta dan membujuknya, dengan alasan seperti yang telah mereka ajukan kepada Sonadanda, agar ia jangan pergi. Namun Kutadanta menjawab seperti apa yang dikatakan oleh Sonadanda kepada mereka. Mereka menjadi puas dan pergi bersama Kutadanta menemui Sang Bhagava.

9. Setelah Brahmana Kutadanta duduk, ia mengatakan apa yang telah ia dengar kepada Sang Bhagava dan memohon Beliau menerangkan tentang pelaksanaan upacara korban yang sukses dengan tiga metoda serta enam belas kondisi. “Brahmana yang baik, dengar dan perhatikanlah apa yang akan Saya katakan.” “Baik,” jawab Brahmana Kutadanta.

“Dahulu kala ada seorang raja bernama Mahavijito yang  memiliki harta dan kekayaan yang besar sekali; memiliki gudang-gudang emas dan perak serta hal-hal yang menyenangkan, barang-barang serta panen yang baik; lumbung dan penyimpanan harta yang penuh. Pada suatu hari ia sedang duduk sendiri, merenung dan berpikir:

“Saya memiliki segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Seluruh dunia menjadi milikku karena saya taklukkan. Suatu hal yang baik jika saya melakukan upacara korban yang besar guna memantapkan kesejahteraan dan kejayaanku saya untuk kemudian hari.” Raja memanggil brahmana penasehat spiritualnya dan mengatakan apa yang telah dipikirkannya dengan berkata: “Saya akan senang sekali melakukan upacara pengorbanan yang besar demi kejayaan dan kesejahteraanku untuk masa yang lama. Katakan padaku bagaimana caranya?” Penasehat raja menjawab: “Kerajaan sedang dalam kekacauan. Ada perampok yang merajalela di desa-desa dan kota-kota dan mengakibatkan jalan-jalan tidak aman. Bilamana hal itu masih seperti itu, lalu raja akan menarik pajak, maka raja akan bertindak salah. Namun bilamana raja berpendapat, ‘saya akan segera menghentikan perampok-perampok itu dengan cara penangkapan, mendenda, mengikat dan menghukum mati!’ Tetapi kejahatan itu tidak akan lenyap dengan seperti itu. Karena penjahat yang tak tertangkap akan tetap melakukan kejahatan. Ada sebuah cara yang dapat dilakukan untuk menghentikan kekacauan ini. Siapa saja dalam kerajaan yang hidup sebagai peternak dan petani, raja berikan makanan dan bibit kepada mereka. Siapa saja dalam kerajaan yang hidup sebagai pedagang, raja berikan modal kepada mereka. Siapa saja dalam kerajaan yang hidupnya sebagai pegawai negara, raja berikan gaji dan makanan kepada mereka. Orang-orang itu melaksanakan pekerjaan mereka masing-masing, maka pendapatan negara akan meningkat, kerajaan akan aman dan damai, rakyat akan senang dan bahagia, mereka akan menari dengan anak-anak mereka dan mereka hidup dengan rumah yang aman.

Raja Mahavijita menerima dan melaksanakan seperti apa yang disampaikan oleh  penasehat kepadanya. Demikianlah, rakyat hidup melaksanakan tugas mereka masing-masing, akibatnya kejahatan lenyap. Perbendaharaan raja bertambah. Kerajaan menjadi aman dan damai. Rakyat menjadi senang dan bahagia, mereka menari dengan anak-anak mereka dan mereka hidup dengan rumah yang aman.
12.   Kemudian raja memanggil penasehat dengan berkata: “Kerajaan telah aman dan damai. Saya mau melaksanakan upacara korban yang besar guna kesejahteraan dan kejayaan pada masa mendatang. Bagaimana cara melakukannya dengan baik?”

“Seyogyanya, raja mengirimkan undangan kepada siapa saja dalam kerajaan ini sebagai kesatrianya di kota-kota atau desa-desa; atau para menteri, brahmana atau perumah tangga di kota maupun di desa, dengan mengatakan: ‘Saya akan melaksanakan upacara korban yang besar. Saya harap anda sekalian menjadi saksi guna kesejahteraan dan kejayaanku di masa mendatang’.” “Brahmana, Raja Mahavijita menerima anjuran penasehat dan ia melakukannya. Maka mereka masing-masing para kesatria, menteri, brahmana dan perumah tangga memberikan jawaban yang sama: ‘Semoga maha raja melaksanakan upacara korban. Raja, waktu telah tepat’.”  Begitulah, empat kelompok ini menyetujui pelaksanaan upacara serta ikut bagian dalam upacara tersebut.

13.   Raja Mahavijita memiliki delapan hal, yaitu: Ia dilahirkan dari ayah dan ibu yang memiliki garis keturunan yang baik dari tujuh generasi, tanpa cacat maupun kritikan untuk kelahirannya. Ia rupawan, berpenampilan yang menyenangkan, dipercayai, tubuhnya yang bagus, berwarna cerah, berpotongan yang baik dan tegap.

Ia maha besar, memiliki harta kekayaan yang besar, gudang emas dan perak serta hal-hal yang menyenangkan, barang-barang dan panen yang baik, lumbung dan penyimpanan harta yang penuh. Ia sangat berkuasa, komandan pasukan yang loyal dan disiplin, terdiri dari empat divisi yaitu: pasukan gajah, kuda, kereta dan pemanah; nampaknya musuhnya dikalahkan oleh keperkasaannya. Ia yakin pada agama, dermawan, penyantun menyokong para samana, brahmana, orang miskin, pengembara, minta-minta dan pemohon; pelaku perbuatan-perbuatan baik. Ia terpelajar untuk berbagai macam pengetahuan.

Ia mengetahui apa yang telah dikatakan dan dapat menerangkan: ‘Kata-kata itu mempunyai arti anu dan itu dst.. ‘Ia pintar, ahli, bijaksana dan dapat memikirkan hal sekarang, yang lampau atau yang akan datang. Inilah delapan hal yang dimilikinya, yang juga menjadi bahan persiapan untuk upacara korban.

14.   Brahmana penasehat spiritualnya memiliki empat hal, yaitu: Ia dilahirkan dari ayah dan ibu yang memiliki garis keturunan yang baik dari tujuh generasi, tanpa cacat maupun kritikan untuk kelahirannya. Ia siswa yang telah menghafal mantra-mantra, menguasai tiga veda dengan semua indeks, ritual, phonologi, tafsiran, legenda, terpelajar dalam idiom dan gramatika, menguasai pengetahuan alam (lokayata) dan tiga puluh dua tanda tubuh orang besar (maha purisa). Ia saleh, bermoral dan memiliki sila yang berkembang dengan baik.
Ia pintar, ahli dan bijaksana, merupakan orang yang terutama atau kedua dari orang yang berkuasa.
Inilah empat hal yang dimilikinya, yang juga menjadi bahan persiapan untuk upacara korban.

15.   Namun sebelum upacara dimulai, penasehat menerangkan tiga hal kepada raja:
‘Bilamana, sebelum upacara mulai, raja menyesal: ‘Betapa besar kekayaan yang aku akan habiskan dalam upacara ini’, janganlah raja berpikiran seperti ini. Bilamana sementara melaksanakan upacara, raja menyesal: ‘Betapa besar kekayaan yang aku akan habiskan dalam upacara ini’, maka janganlah raja berpikiran seperti itu. Bilamana upacara korban telah selesai, raja menyesal: ‘Betapa besar kekayaan yang telah saya habiskan’, janganlah raja berpikiran seperti itu.’
Demikianlah penasehat menerangkan tiga hal kepada raja.

16.   “Brahmana, selanjutnya sebelum upacara mulai dan untuk mencegah penyesalan yang muncul pada orang-orang yang ikut melaksanakan upacara, penasehat berkata: “Saudara-saudara mungkin dalam pelaksanaan upacara korban ada orang-orang yang membunuh makhluk hidup dan ada yang menghindari pembunuhan; orang yang mengambil yang tidak diberikan dan orang yang menghindarinya; orang yang memuaskan nafsu dengan cara yang salah dan orang yang menghindarinya; orang yang berdusta dan orang yang tak berdusta, orang yang bicara kasar dan orang yang tak bicara kasar, orang yang memfitnah dan orang yang tak memfitnah, orang yang bergunjing dan orang yang tak bergunjing; orang yang serakah dan orang yang tak serakah; orang yang membenci dan orang yang tak membenci; dan orang yang berpandangan salah serta orang yang berpandangan benar. Mengenai orang-orang ini, mereka yang berbuat jahat, biarkanlah dengan kejahatan mereka itu. Sedangkan bagi mereka yang berbuat baik, semoga raja dan saudara sekalian mempersilahkan mereka melaksanakan upacara dan seyogyanya raja memberikan hadiah kepada mereka sesuai dengan kesediaan raja.”

17.   “Brahmana, sementara raja melaksanakan upacara, penasehat mengarahkan dan menyenangkan serta menggembirakan hatinya dengan enam belas hal: Bilamana ada orang yang membicarakan tentang raja, selagi raja melakukan upacara: ‘Raja Mahavijita melaksanakan upacara korban tanpa mengundang empat kelas masyarakat dari rakyatnya, ia sendiri tak memiliki delapan hal, juga tanpa bantuan dari penasehat yang memiliki empat hal; maka mereka tidak berbicara berdasarkan fakta. Karena raja telah mendapat persetujuan dari empat kelas masyarakat, raja memiliki delapan hal dan penasehatnya memiliki empat hal. Sehubungan dengan setiap faktor dari enam belas hal, semoga raja yakin bahwa semua hal itu telah terpenuhi. Ia dapat melaksanakan upacara, gembira dan damai.’”

18.   “Brahmana, dalam pelaksanaan upacara tidak ada sapi, kambing, unggas, babi yang dibunuh atau tidak ada makhluk hidup mana pun yang dibunuh. Tidak ada pohon yang ditebang untuk dijadikan tiang, tidak ada rumput ‘Dabba’ yang disabit dan diletakkan di sekeliling tiang. Para pekerja dan pembantu atau pekerja yang bekerja, tidak ada yang diancam dengan cambuk atau tongkat, sehingga tidak ada tangisan maupun air mata bercucuran di wajah mereka. Siapa yang ingin membantu, ia bekerja; ia yang tidak mau membantu, tidak bekerja. Setiap orang melakukan sesuai apa yang ia inginkan; melakukan atau tidak melakukan. Upacara dilaksanakan dengan hanya menggunakan ghee, minyak, mentega, susu, madu dan gula.

19.   “Brahmana, selanjutnya para kesatria, menteri, brahmana, petugas dan perumah-tangga, apakah dari kota atau desa, dengan membawa banyak harta, pergi menemui Raja Mahavijita, dan berkata: “Raja, harta yang banyak ini, kami bawa kemari untuk raja. Semoga raja menerimanya langsung dari kami!” “Saudara-saudara, saya telah memiliki cukup banyak harta yang didapat berdasarkan penarikan pajak yang adil. Bawa kembali milikmu itu dan ambil lagi secukupnya.!” Setelah raja menolak menerima, mereka bersama-sama ke samping dan berembuk: “Tidak pantas bagi kita untuk membawa kembali harta ini ke rumah kita masing-masing. Raja Mahavijita telah mengorbankan banyak untuk upacara. Sebaiknya kita melakukan upacara pula.”

20.   Maka para kesatria membangun sambungan bagian upacara di sebelah timur lobang upacara; para pegawai membangun di selatan, para brahmana membangun di barat di utara. Barang-barang dan bentuk dana mereka adalah mirip dengan yang dilakukan oleh raja sendiri. Demikianlah, ada empat kelas masyarakat, Raja Mahavijita memiliki delapan hal dan brahmana penasehatnya memiliki empat hal. Ada tiga metoda melaksanakan upacara korban. Ini yang disebut pelaksanaan upacara dalam tiga metoda dan enam belas kondisi.

21.   Setelah Sang Bhagava menerangkan, para brahmana membuat suara riuh dan berkata: “Betapa agung upacara itu, sungguh suci pelaksanaannya!” Tetapi Brahmana Kutadanta hanya duduk diam saja. Lalu para brahmana itu berkata kepada Kutadanta: “Mengapa anda tidak menyetujui uraian yang baik dari Samana Gotama?”

“Saya bukan tidak menyetujui, karena barang siapa tidak menyetujui apa yang telah diterangkan dengan baik oleh Samana Gotama, maka kepalanya akan pecah tujuh. Saya sedang memikirkan bahwa Samana Gotama tidak berkata: “Demikian yang Saya dengar”, atau “Demikian itu terlihat”, tetapi hanya berkata “Begitulah hal itu,” atau “Itu demikian”. Jadi, saya berpendapat: “Sesungguhnya Samana Gotama sendiri pada waktu itu adalah Raja Mahavijita atau Brahmana Penasehat Spiritual raja. Apakah Samana Gotama mengakui bahwa ia yang melaksanakan upacara korban atau menyebabkan upacara itu dilaksanakan, yang setelah meninggal dunia ia terlahir di alam bahagia di surga?”

“Brahmana, ya saya mengakuinya. Pada waktu itu saya adalah brahmana penasehat pada upacara korban.” “Gotama, apakah ada upacara korban yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat yang lebih baik daripada upacara itu?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?”“Dana yang diberikan secara tetap kepada para pertapa yang memiliki sila yang baik.”

22.   “Gotama, tetapi apakah alasan dan sebab maka dana yang diberikan secara tetap kepada para pertapa yang memiliki sila yang baik adalah tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat yang lebih baik daripada upacara yang memiliki tiga metoda dan enam belas kondisi.” Brahmana, karena para arahat tidak akan pergi atau tidak ada jalan kearahatan pada upacara korban. Mengapa tidak ada? Sebab pada upacara korban terjadi pemukulan dan penangkapan di leher. Namun para arahat akan mendatangi tempat pemberian dana secara tetap, karena di situ tidak ada pemukulan atau penangkapan. Dengan demikian, maka pemberian dana secara tetap lebih tinggi daripada upacara korban.”

23.   “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada kedua cara ini?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?” “Mendirikan vihara atas nama Sangha pada empat arah.”

24. “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada tiga cara ini?” “Ya ada, brahmana.”
“Gotama, apakah itu?” “Orang yang memiliki keyakinan dan berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha; inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada tiga cara itu.”

25.   “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada empat cara ini?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?” “Jika seseorang dengan keyakinan melaksanakan sila, yaitu menghindari diri dari: pembunuhan makhluk hidup, mengambil barang yang tidak diberikan, pemuasan nafsu dengan cara yang salah, dusta, minum minuman yang dapat menyebabkan ketidakwaspadaan; 
 inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada empat cara itu.”

26.   “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada lima cara ini?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?” “Brahmana, seandainya di dunia ini muncul seorang Tathagata, yang maha suci, telah mencapai Penerangan Agung, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduknya, sempurna menempuh Jalan, pengenal segenap alam, pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, guru para dewa dan manusia, yang Sadar, patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usaha-Nya sendiri kepada orang-orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan para dewa brahmana; para pertapa, brahma, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan Dhamma (Kebenaran) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir, dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan cara hidup selibat (brahmacariya) yang sempurna dan suci.” “Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga-rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya ia memperoleh keyakinan, ia ingin menjadi bhikkhu. Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan Patimokkha (peraturan-peraturan bhikkhu), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-murni dan pengertian-jelas (sati-sampajanna); dan hidup puas.” “Bagaimanakah, seorang bhikkhu yang sempurna silanya? Dalam hal ini, seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan makhluk-makhluk; menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hidup selibat dan menjauhi kedustaan. Ia menjauhi ucapan menfitnah, menahan diri dari menfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakan di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan di sini. Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan, persatuan merupakan tujuan pembicaraannya. Ia menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar, ia menjauhi pembicaraan yang menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat, ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang Dhamma dan Vinaya. Ia melaksanakan Cula Sila, Majjhima Sila dan Maha Sila (seperti yang tersebut dalam Brahmajala Sutta).
‘Selanjutnya, seorang Bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian terhadap sila. Sama seperti seorang ksatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuhnya telah dikalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh; demikian pula, seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila. Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukham). Demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki sila-sempurna’. Bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu inderanya? Bilamana seorang bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penglihatannya. Ia menjaga indera penglihatannya.
Bilamana ia melihat suatu obyek dengan matanya, ia mendengar suara dengan telinganya, mencium bau dengan hidungnya, ia mengecap rasa dengan lidahnya, ia merasakan sentuhan dengan tubuhnya, atau ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera-inderanya. Ia menjaga indera-inderanya, dan memiliki pengendalian terhadap indera-inderanya.
Bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki perhatian murni dan pengertian jelas? Dalam hal ini seorang bhikkhu mengerti dengan jelas sewaktu ia pergi atau sewaktu kembali; ia mengerti dengan jelas sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping; ia mengerti dengan jelas sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati), jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk (patta); ia mengerti dengan jelas sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan; ia mengerti dengan jelas sewaktu buang air atau sewaktu kencing; ia mengerti dengan jelas sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun berbicara atau diam. Bagaimanakah seorang bhikkhu merasa puas? Dalam hal ini seorang bhikkhu merasa puas hanya dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Kemana pun ia pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal ini.

Setelah memiliki kelompok-sila yang mulia ini, memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini, memiliki perhatian murni dan pengertian jelas yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah kubur, di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatiannya ke depan’. Dengan menyingkirkan keinginan nafsu keduniawian, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari keinginan nafsu, membersihkan pikirannya dari nafsu-nafsu. Dengan menyingkirkan itikad-jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itikad-jahat, dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pikirannya dari itikad-jahat. Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada penyerapan terhadap cahaya (akkasanni), ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan. Dengan menyingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran. Dengan menyingkirkan keragu-raguan, ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan. Demikianlah, selama lima rintangan (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang. Tetapi setelah lima rintangan itu  disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang. Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan itu telah disingkirkan dari dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuhnya terasa nyaman, karena tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat. Kemudian, setelah terpisah dari nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana I; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti-sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan vitaka (pengarahan pikiran pada obyek) dan vicara (obyek telah tertangkap oleh pikiran). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka). Selanjutnya seorang bhikkhu yang telah membebaskan diri dari vitaka dan vicara, memasuki dan berdiam dalam Jhana II; yaitu keadaan batin yang tergiur dan bahagia, yang timbul dari ketenangan konsentrasi, tanpa disertai dengan vitaka dan vicara, keadaan batin yang memusat. Demikianlah seluruh tubuhnya dipenuhi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari konsentrasi, dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari konsentrasi. Selanjutnya seorang bhikkhu yang telah membebaskan dirinya dari perasaan tergiur, berdiam dalam keadaan seimbang yang disertai dengan perhatian murni dan pengertian jelas. Tubuhnya diliputi dengan perasaan bahagia, yang dikatakan oleh para ariya sebagai ‘kebahagiaan yang dimiliki oleh mereka yang batinnya seimbang dan penuh perhatian-murni; ia memasuki dan berdiam dalam Jhana III. Demikianlah seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur itu’. Selanjutnya, dengan menyingkirkan perasaan bahagia dan tidak bahagia, dengan menghilangkan perasaan-perasaan senang dan tidak senang yang telah dirasakan sebelumnya, bhikkhu itu memasuki dan berdiam dalam Jhana IV, yaitu suatu keadaan yang benar-benar seimbang, yang memiliki perhatian-murni (satiparisuddhi) bebas dari perasaan bahagia dan tidak bahagia. Demikianlah ia duduk di sana, meliputi seluruh tubuhnya dengan perasaan batin yang bersih dan jernih’. Brahmana, inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada cara-cara lain. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan-terang yang timbul dari pengetahuan (nana-dassana). Demikianlah ia mengerti: “Tubuhku ini mempunyai bentuk, terdiri atas empat unsur-pokok (mahabhuta) berasal dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus menerus; bersifat tidak kekal, dapat mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran, dan kematian; begitu pula halnya dengan kesadaran (vinnana) yang terikat dengannya’. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat diguncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan ‘tubuh-ciptaan-batin’ (mano-maya-kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan ‘tubuh-ciptaan-batin’ melalui pikirannya, yang memiliki bentuk memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apapun’. Demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan ‘wujud-ciptaan-batin’ (mano-maya-kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan ‘tubuh-ciptaan-batin’ melalui pikirannya; yang memiliki bentuk, memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apa pun’. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan; ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk iddhi (perbuatan-perbuatan gaib). Ia melakukan iddhi dalam aneka ragam bentuknya; dari satu ia menjadi banyak, atau dari banyak kembali menjadi satu; ia menjadikan dirinya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat; tanpa merasa terhalang, ia berjalan menembusi dinding, benteng atau gunung, seolah-olah berjalan melalui ruang kosong; ia menyelam ia timbul melalui tanah, seolah-olah berjalan di atas tanah, dengan duduk bersila ia melayang-layang di udara. Seperti seekor burung dengan sayapnya; dengan tangan ia dapat menyentuh dan meraba bulan dan matahari yang begitu dahsyat dan perkasa, ia dapat pergi mengunjungi alam-alam dewa brahma dengan membawa tubuh kasarnya.’Dengan pikirannya yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan dibbasota (telinga-dewa). Dengan kemampuan dibba-sota yang jernih, yang melebihi telinga manusia, ia mendengar suara-suara manusia dan dewa, yang jauh atau yang dekat’.
Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada ceto-pariyanana (pengetahuan untuk membaca pikiran orang lain). Dengan menembus melalui pikirannya sendiri, ia mengetahui pikiran-pikiran makhluk lain, pikiran orang lain. Ia mengetahui: Pikiran yang disertai nafsu sebagai pikiran yang disertai nafsu, pikiran tanpa-nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu. Pikiran yang disertai kebencian …. pikiran tanpa kebencian …., pikiran disertai ketidaktahuan …., pikiran tanpa ketidaktahuan , pikiran yang teguh, ragu-ragu, berkembang, tidak berkembang, rendah, luhur dan bebas. Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang pubbenivasanussati (ingatan terhadap kelahiran-kelahiran lampau). Demikianlah ia ingat tentang bermacam-macam kelahirannya yang lampau, seperti: satu … sepuluh … seratus … seribu … seratus ribu kelahiran, kelahiran-kelahiran pada banyak masa-menjadinya-bumi (samvatta-kappa), melalui banyak masa kehancuran bumi (vivatta-kappa), melalui banyak masa-menjadi-kehancuran bumi (samvatta-vivatta-kappa). Ia ingat, di suatu tempat demikian, namaku, makananku, keluargaku, suku-bangsaku, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan, batas umurku adalah demikian. Kemudian, setelah aku berlalu dari keadaan itu, aku lahir kembali di suatu tempat, disana namaku, makananku keluargaku, suku-bangsaku, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan, batas umurku adalah demikian. Setelah aku berlalu dari keadaan itu, kemudian aku lahir kembali di sini’. Demikianlah ia mengingat kembali tentang bermacam-macam kelahirannya di masa lampau, dalam seluruh seluk beluknya, dalam seluruh macamnya’. Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk (cutupapata-nana), Dengan kemampuan dibba-cakkhu (mata-dewa) yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu kehidupan, muncul dalam kehidupan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia, dan menderita. Ia melihat bagaimana makhluk-makhluk itu muncul sesuai dengan perbuatan-perbuatannya: ‘Makhluk-makhluk ini memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang jahat, penghina para suci, pengikut pandangan-pandangan keliru, dan melakukan perbuatan menurut pandangan keliru. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam celaka, alam sengsara, alam neraka. Tetapi, makhluk-makhluk yang lain memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang baik, bukan penghina para suci, pengikut pandangan-pandangan benar, dan melakukan perbuatan menurut pandangan benar. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga’. Demikianlah, dengan kemampuan dibba cakkhu (mata dewa) yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu kehidupan, muncul dalam kehidupan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita’.

Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang penghancuran noda-noda batin  (asava). Demikianlah, ia mengetahui sebagaimana adanya ‘Inilah dukkha’, ‘Inilah sebab dukkha’, ‘Inilah akhir dari dukkha’ dan ‘Inilah Jalan yang menuju pada lenyapnya dukkha’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah akhir asava’ dan ‘Inilah Jalan yang menuju pada lenyapnya asava’. Dengan mengetahui, melihat demikian, maka pikirannya terbebas dari noda-noda nafsu (kamasava), noda-noda perwujudan (bhavasava), noda-noda ketidaktahuan (avijjasava). Dengan terbebas demikian, maka timbullah pengetahuan tentang kebebasannya, dan ia mengetahui: ‘Berakhirlah kelahiran kembali, terjalani kehidupan suci, selesailah apa yang harus dikerjakan, tiada lagi kehidupan sesudah ini’.‘Brahmana, inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada cara-cara lain.”

27.   Setelah Sang Bhagava berkata, Brahmana Kutadanta berkata kepada Sang Bhagava: “Gotama, sangat bagus kata-kata yang diungkapkan! Bagaikan orang yang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan benar kepada ia  yang tersesat atau memberikan cahaya dalam kegelapan agar mereka yapng mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Demikian pula dengan berbagai cara Dhamma telah dibabarkan oleh Samana Gotama kepadaku. Saya menyatakan bahwa saya berlindung kepada Samana Gotama, Dhamma dan Sangha. Semoga Samana Gotama menerima saya sebagai upasaka, mulai hari ini sampai selama-lamanya. Samana Gotama, saya sendiri akan melepasbebaskan tujuh ratus pasang sapi dan tujuh ratus pasang kambing. Saya menyelamatkan hidup mereka. Mereka dapat makan rumput hijau, minum air sejuk dan angin sejuk meliputi mereka.”

28.   Kemudian secara berurutan Sang Bhagava membabarkan kepada Kutadanta tentang: dana, perbuatan baik, surga, bahaya dari pemuasan nafsu dan manfaat hidup meninggalkan kehidupan duniawi. Ketika Sang Bhagava mengetahui bahwa Brahmana Kutadanta telah siap, lembut, tidak curiga, waspada dan berkeyakinan, maka dibabarkannya Dhamma yang ditemukannya yaitu tentang dukkha (penderitaan), asal mula dukkha, lenyapnya dukkha dan Jalan untuk melenyapkan dukkha.
Bagaikan kain bersih, yang nodanya tercuci bersih, siap untuk dicelup; demikian pula Brahmana Kutadanta yang sedang duduk di situ mencapai Mata Kebenaran yang bersih tanpa noda dan ia mengetahui bahwa ‘Segala sesuatu yang mempunyai sebab, pasti akan lenyap’.

29. Selanjutnya Brahmana Kutadanta sebagai seorang yang telah melihat ‘Kebenaran, menguasainya, mengerti, menyelam ke dalamnya, yang telah melampaui keragu-raguan dan melenyapkan kegelisahan dan memiliki keyakinan kuat, yang tidak tergantung lagi pada orang lain karena pengetahuannya pada ajaran Sang Guru, berkata kepada Sang Bhagava: “Semoga Samana Gotama bersama bhikkhu sangha memberikan kesempatan kepada saya dengan menerima makanan pada besok hari.” Sang Bhagava menerima undangan itu dengan bersikap diam. Brahmana Kutadanta setelah melihat Sang Bhagava telah menerimanya, bangkit dari duduk dan meninggalkan Sang Bhagava dengan berjalan di sisi kanan beliau. Setelah menjelang pagi ia menyediakan makanan manis, keras dan lembut pada lobang upacara, selanjutnya ia memberitahukan kepada Sang Bhagava: ‘Telah tiba waktunya, makanan telah siap’. Sang Bhagava setelah mengenakan jubah, mengambil jubah luar (civara) dan patta, bersama dengan para bhikkhu pergi ke lobang upacara Brahmana Kutadanta, Beliau duduk di tempat yang telah disediakan. Brahmana Kutadanta dengan tangannya sendiri melayani bhikkhu sangha yang dikepalai oleh Sang Bhagava, dengan makanan manis, keras dan lembut, hingga mereka menolak untuk menerimanya lagi. Setelah Sang Bhagava selesai makan, membersihkan patta dengan tangan-Nya, Brahmana Kutadanta duduk di tempat duduk yang rendah di samping Beliau. Setelah ia duduk, Sang Bhagava membabarkan membangkitkan, mendorong dan menggembirakan Brahmana Kutadanta dengan uraian dhamma; sesudah itu Beliau bangkit dari duduk dan pergi.

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

Kepemimpinan Positif dalam Perspektif Buddhis

| Thursday, January 12, 2012 | 1 comments

Dewasa ini khususnya di Indonesia tindakan kriminal semakin meningkat dan tindakan kejahatan merajalela dimana-mana, perbuatan-perbuatan itu seperti pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, penjarahan, korupsi, konflik sosial dan lain sebagainya, hal itu bisa dilihat dalam berbagai berita yang ada di media cetak atau elektronik. Sebenarnya konflik selalu mendatangkan berbagai macam penderitaan, tidak ada konflik yang mendatangkan keuntungan.

Penderitaan itu antara lain, banyak orang kehilangan harta benda dan bahkan banyak yang meninggal dunia, anak-anak terlantar dan kehilangan sanak keluarga, lingkungan menjadi rusak, dan lain sebagainya. Bahkan baru-baru ini terjadi kasus di Jakarta Utara yaitu konflik makam Mbah Priok yang menelan banyak korban jiwa, luka-luka, dan kerugian materi yang besar. Banyaknya kasus-kasus sepeti ini membuat warga semakin resah, takut, bimbang, dan mengalami krisis kepercayaan. Salah satu penyebab timbulnya konflik adalah kurangnya kesejahteraan masyarakat. Masalah ekonomi merupakan hal yang paling rawan menyebabkan tindakan yang melanggar norma yang berlaku di masyarakat sebab manusia bisa nekat melakukan hal yang buruk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini peran pemimpin atau pemerintah sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Tetapi dalam hal ini kita sebagai generasi penerus juga harus ikut memikirkan bagaimana mencari jalan yang terbaik untuk memecahkan suatu masalah yang timbul dalam masyarakat. Dan yang harus kita ketahui adalah akar dari masalah itu sendiri. Dalam cakkavati Sihanada Sutta, Sang Buddha menasihati kita, bahwa segala sesuatu pasti ada sebabnya.

Diceritakan pada zaman dahulu kala ada seorang Maharaja Dunia (Cakkavati) bernama Dalhanemi yang sangat dicintai dan dihormati oleh rakyatnya karena kejujurannya, memerintah berdasarkan kebenaran, raja dari empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyatnya, pemilik tujuh macam permata. Ketujuh permata itu adalah: cakka (cakra), gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan penasihat. Ia memiliki keturunan lebih dari seribu orang yang merupakan ksatria-ksatria perkasa, penakluk musuh. Ia menguasai dunia sampai ke batas lautan, yang ditaklukkan bukan dengan kekerasan atau dengan pedang, tetapi dengan kebenaran (Dhamma). Seiring berjalannya sang waktu, tibalah saatnya Maharaja Dalhanemi mewariskan tahta kerajaan kepada ananknya yang tertua; dengan memberikan beberapa nasihat untuk raja yang baru diangkat, supaya negeri yang dipimpinnya itu bisa harmonis, masyarakat bisa bahagia dan tentram dengan menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai raja yang baik. Nasihat tersebut berbunyi: “Anakku, hiduplah dalam kebenaran; berbakti, hormat dan bersujudlah pada kebenaran, pujalah kebenaran, sucikanlah dirimu dengan kebenaran, jadikanlah dirimu panji kebenaran dan tanda kebenaran, jadikanlah kebenaran sebagai tuanmu. Perhatikan, jaga dan lindungilah dengan baik keluargamu, tentara, para bangsawan, para menteri, para rohaniawan perumah tangga, para penduduk kota dan desa, para samana dan petapa, serta binatang-binatang. Jangan biarkan kejahatan terjadi dalam kerajaanmu. Bila dalam kerajaanmu ada orang yang miskin, berilah dia dana. 

Anakku, apabila para samana dan petapa dalam kerajaanmu meninggalkan minuman keras yang menyebabkan kekurang-waspadaan dan mereka sabar serta lemah lembut, menguasai diri, menenangkan diri, serta menyempurnakan diri mereka masing-masing, lalu selalu dating menemuimu untuk menanyakan kepadamu apa yang baik dan apa yang buruk, perbuatan baik dan perbuatan buruk, perbuatan yang pantas dilakukan dan perbuatan yang tidak pantas dilakukan, perbuatan yang bermanfaat dan perbuatan yang tidak bermanfaat di masa yang akan datang; kau harus mendengar apa yang mereka katakana dan kau harus menghalangi merekaberbuat jahat serta anjurkanlah mereka untuk berbuat baik. Anakku, inilah kewajiban maharaja yang suci. 

“karena raja Cakkavatti yang harus dinobatkan memerintah dengan jujur dan adil, maka rakyat hidup dalam kedamaian. Karena rakyat hidup damai, maka Negara pun bisa maju dan berkembang. Hal demikian ini berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama dalam banyak generasi. Peralihan dari raja kepada anaknya, raja yang tua memberikan nasihat kepada anaknya untuk memerintah kerajaannya, akan tetapi raja yang baru ini tidak pernah menemui petapa untuk menanyakan roda kehidupan maharaja yang suci. Dengan ide dan caranya sendiri, ia memerintah rakyatnya. Kerajaan yan diperintah seperti itu, yaitu cara yang berbeda dengan apa yang rakyat ikuti dulu, menjadi tidak sukses seperti yang biasa dicapai dimasa raja-raja terdahulu yang melaksanakan kewajiban maharaja yang suci dari seorang raja Cakkavatti. 

Apabila raja tidak lagi memperhatikan rakyat, maka kemerosotan moral akan meluas, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan akan meluas, mencuri, melakukan kekerasan, membunuh, berdusta, memfitnah, berzinah, berkata-kata kasar dan membual, iri hati dan dendam,memiliki pandangan sesat,berzinah dengan saudara sendiri,serakah dan memuaskan nafsu,hingga kurang berbakti kepada orang tua,kurang hormat kepada para samana dan pertapa dan kurang patuh kepada para pemimpin.Karena hal-hal ini berkembang dan meluas,maka batas usia kehidupan manusia pada masa itu berkurang……(Cakkavattisihanada Sutta).
Jika pemimpin tidak memimpin dengan bijak dan adil,maka konflik akan muncul dan berkembang dalam tatanan masyarakat. Banyak yang mengatakan bahwa kapan “ratu” adilnya datang untuk memimpin kita,supaya kita menjadi tenang,tidak was-was,supaya negara kita menjadi negara yang maju dan berkembang seperti negara lain. Ada satu hal yang diinginkan oleh kita semua yaitu memiliki figur pemimpin yang adil, bijak dan berwibawa, memiliki ilmu pengetahuan dan memiliki tata susila sebagai seorang manusia yang bijak. Hendaknya seorang pemimpin mencari kebahagiaan demi rakyatnya. Dengan adanya perhatian dan dukungan kepada rakyat maka kedamaian akan muncul. Dengan adanya kedamaian, maka masyarakat bisa bekerja setiap hari, maupun negara menjadi maju dan berkembang, tidak menjadi negara yang miskin. Inilah yang diharapkan oleh kita semua. Pemerintah yang mengabaikan kebenaran niscaya akan tergulingkan. Sungguh baik apabila kepala pemerintahan yang menjalankan kepemerintahannya dengan berlandaskan pada kebenaran. “Dalam hal ini,seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur yang bergantung pada hukum kebenaran sebagai panji, bendera dan kekuasaannya. Dialah yang memberikan perlindungan, naungan, keamanan bagi ksatria yang melayaninya; bagi bala tentaranya, bagi para brahmana dan perumah tangga, bagi penghuni kota dan desa, bagi para petapa dan brahmana, bagi binatang dan burung.”
“Seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur yang dengan demikian memberikan perlindungan, naungan dan keamanan bagi semuanya. Dialah yang berkuasa dengan berdasarkan hanya pada kebenaran.” (Anguttara Nikaya: 3.14)
Sebagai generasi muda Buddhis tentu kita paham apa yang harus dilakukan mengingat dalam cakkavattisihanada sutta sudah cukup jelas bagaimana menjadi seorang pemimpin yang arif bijaksana serta dapat mengayomi masyarakat.
Suatu masalah akan selesai apabila seorang pemimpin dapat memahami dengan jelas permasalahannya dan juga dapat mencari solusi yang bijaksana dalam penyelesaiannya. Selain itu seorang pemimpin juga dapat membangun tim kepemimpinan yang positif. Pada zaman modern ini hanya sedikit pemimpin yang sempurna, karena sekarang ini tidak seorangpun memenuhi semua syarat untuk menjadi seorang pemimpin. Tidak hanya didalam suatu Negara saja yang membutuhkan seorang pemimpin, dalam lingkup kecil juga membutuhkan seorang pemimpin yang jelas dan bijaksana. Oleh sebab itu, apabila ingin menjadi pemimpin yang sukses hendaknya mempunyai tujuan-tujuan yang jelas karena pemimpin adalah seorang visioner, “seorang yang mampu melihat apa yang dapat dicapai serta merumuskannya dengan jelas sebagai visi. Pemimpin seperti ini juga mampu melihat peluang dalam keadaan krisis. Mereka mulai dari tujuan, kemudian bergerak ke awal, dan memperjelas strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Pemimpin yang seperti ini cenderung lebih memperhatikan tujuan jangka panjang, daripada tujuan jangka pendek. Mempunyai sikap mendukung dan suka memuntut”. Seorang manajer manusia, “seorang yang dapat membangkitkan keberanian, mempersatukan, dan memberikan motivasi”. Seorang pelaksana, “seorang yang dapat mewujudkan visi yang bagus menjadi tindakan nyata dan meraih hasil positif, seorang visioner mengerti apa yang harus dikerjakan sedangkan seorang pelaksana mengerti cara mengerjakannya”. Seorang pemimpin juga harus dapat menyelami kebutuhan-kebutuhan serta keinginan anggotanya, dari keinginan-keinginan itu dapat dipetik kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai serta dapat meyakinkan anggotanya mengenai apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan. Dapat menemukan jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai dan mewujudkan kehendak-kehendak tersebut. Cukup banyak tugas seorang pemimpin agar dapat terciptanya keadaan dan kondisi yang aman dan nyaman.
Pemimpin tidak akan terlepas dari keberadaan organisasi, karena seorang pemimpin inilah yang memegang kemudi dalam sebuah organisasi, baik itu organisasi formal maupun informal. Dalam Agama Buddha, pemimpin adalah sebuah kontrak sosial dengan rakyat dan bertugas mengembangkan tatanan masyarakat yang lebih baik, yakni tidak hanya untuk mencapai kesejahteraan duniawi, namun juga mengarahkannya kepada kedekatan cita-cita kehidupan manusia menuju menjadi lebih baik dan menjauhi sifat-sifat buruk (Priastana, 2004).
Ciri-ciri tertentu yang dimiliki oleh seorang pemimpin Buddhis adalah dengan mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang meliputi tiga kelompok yaitu: kelompok Panna (kebijaksanaan), Sila (moralitas), Samadhi (konsentrasi). Kelompok panna (kebijaksanaan) terdiri dari: (1). Pemahaman benar, yaitu pengetahuan akan sifat sejati kehidupan; pemahaman atas Empat Kesunyataan Mulia. (2). Pikiran Benar, yaitu pikiran yang bebas dari sensualitas, niat buruk, dan agresi. Kelompok Sila (moralitas) terdiri dari: (3). Ucapan benar, yaitu pantang dari kebohongan, ucapan kasar, dan perkataan yang tak berguna. (4). Tindakan Benar, yaitu pantang dari pembunuhan, pencurian, dan perbuatan seksual yang menyimpang. (5). Penghidupan Benar, yaitu menghindari segala bentuk penghidupan yang melibatkan pengrusakan dan eksploitasi makhluk lain. Kelompok Samadhi (konsentrasi) terdiri dari: (6). Usaha Benar, yaitu melatih pikiran untuk menghindari keadaan mental yang tidak bermanfaat dan mengembangkan keadaan mental yang bermanfaat. (7). Perhatian Benar, yaitu mengembangkan kekuatan perhatian dan kesadaran terhadap empat dasar perhatian; tubuh, perasaan, pikiran, dan fenomena mental. (8). Konsentrasi Benar, yaitu pengembangan pikiran yang terpusat.
Bagaimanapun seorang pemimpin, tentu mereka mempunyai kriteria-kriteria tersendiri antara lain, ia mempunyai kelebihan-kelebihan, lebih kuat, lebih pandai. Lebih memiliki kualitas pribadi yang unggul, serta lebih memiliki kualitas pribadi yang unggul, serta lebih memiliki kesempatan dari pada orang lain. Seorang pemimpin mendapat mandat untuk bekerja memenuhi keperluan orang banyak. Kekuasaan yang dimiliki hanya dalam rangka memenuhi kewajiban sebagai seorang pemimpin. Dalam pandangan Buddhis pemimpin tidaklah beda dengan bawahan. Pandangan mengenai martabat dan derajat dari perlakuan yang sama pada semua manusia, menunujkkan sifat agama Buddha yang demokratis.
Dalam sebuah organisasi, hubungan antara pemimpin dengan bawahannya tidak akan berjalan dengan lancar tanpa didasari dengan komunikasi yang baik diantara keduanya. Sang Buddha mengajarkan tentang bagaimana komunikasi harus dilakukan agar pahala dan manfaat duniaiwi dan hakiki akan diperoleh sekaligus. Duniawi artinya, komunikasi dengan sesama manusia akan berjalan dengan lancar dengan semakin bertambahnya kalyanamitta (sahabat baik). Dan hakiki adalah kebahagiaan yang akan diperoleh pada kehidupan mendatang.
Dalam wilayah kepemimpinan mencangkup dua lingkup gerak, antara pemimpin dengan yang dipimpin. Tanpa adanya seorang pengikut, sudah tentu tidak akan ada seorang pemimpin. Karena itu seorang pemimpin yang melaksanakan tugas dan member pengarahan pada anggota-anggota sehingga anggota-anggota itu merasa puas, dengan demikian membuat perorangan dan kelompok dapat mencapai tujuan organisasi (Tambunan, 1998:41). Seorang pemimpin mempunyai peran yang sangat penting di dalam organisasi, megendalikan serta merencanakan kegiatan-kegiatan organisasi untuk mencapai kesuksesan dan tujuan. Dengan demikian, maka seorang pemimpin dalam suatu kelompok merupakan mata rantai yang bertugas sebagai penghubung antara satu dengan yang yang lainnya di dalam suatu organisasi.
Seorang pemimpin yang partisipatif suka berkonsultasi dengan bawahannya, membawakan kepada mereka permasalahan-permasalahan pekerjaan, mengajak mereka sebagai satu unit kerja untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang terdapat di dalam unit itu. Dalam kegiatan itu bukan berarti pemimpin bersikap otoriter, bukan pula seorang pemimpin yang bebas kendali tanggung jawabnya. Moralitas adalah dukungan moral yang paling baik dan sangat bermanfaat bagi seorang pemimpin, karena seorang pemimpin akan mempunyai wibawa di depan anggotanya atau karyawannya apabila memiliki moral yang baik. Berpikir positif dan tidak menjadi seorang pemimpin yang otoriter juga kan mendukung tingkat kinerja seorang pemimpin akan lebih baik. Selain itu akan dapat meraih cita-cita dan tujuan untuk meningkatkan kualitas diri. Untuk mengembangkan diri, seorang harus menganalisa kekuatan dalam diri masing-masing yang cocok dengan bakat yang dimiliki. Akan menjadi luar biasa apabila melakukan sesuatu sesuai dengan bakat yang dimiliki dan cocok dengan kondisi saat ini. Pada zaman sekarang ini apabila tidak mempunyai kualitas diri dan talenta yang baik akan sangat sulit untuk masuk menjadi seorang pemimpin, banyak yang ingin menjadi seorang pemimpin tetapi tidak memiliki kualitas yang baik itu akan merugikan organisasi ataupun usaha yang akan didirikannya.
Untuk menjadi sukses seseorang perlu menganalisis keadaan geografi dan kondisi waktu yang cocok untuk mengembangkan diri. Menyangkut wibawa dan kharisma seorang pemimpin yang bijak dan tegas.bagi seorang pemimpin ditekankan untuk bersikap professional serta bertindak bijak dan tegas agar bisa mencapai hasil yang maksimal dalam memimpin suatu organisasi atau perusahaan-perusahaan yang dipimpinnya. Hanya dengan memiliki jati diri, ketegasan, kedisiplinan, tanggung jawab, kepercayaan diri dan mempunyai keyakinan, maka seorang pemimpin dapat meraih kesuksesan. Selanjutnya adalah mengenai hukum organisasi. Hukum tentang kedisiplinan dan struktur organisasi yang jelas. Seseorang harus bisa mendisiplinkan diri setiap saat dalam menjalankan hukum. Kalau hukum dapat berjalan dengan benar, maka kualitas yang ada dalam diri kita akan menyedot kekuatan yang ada diluar sehingga akan tercipta kekuatan yang luar biasa. Kemajuan akan dicapai oleh mereka yang dapat mendisiplinkan diri sendiri. Apabila seseorang memiliki jati diri dengan kualitas kepemimpinan tersebut, maka hidup akan menjadi cemerlang, berkembang, dan berhasil meraih tujuan yang dihasilkan bersama.
Hubungan seorang pemimpin dengan bawahan juga sangat berpengaruh bagi kepemimpinannya. Dalam Sigalovada Sutta juga dijelaskan tentang kewajiban majikan terhadap bawahannya, terdapat lima cara seorang atasan/majikan memperlakukan para karyawan/pembantu, seperti yang terdapat didalam Digha Nikaya iii.189-192, Sigalovada Sutta. (1)memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, (2) memberikan upah yang sesuai, (3) memberikan perawatan ketika mereka sakit, (4) sekali-sekali memberikan mereka hadiah yang istimewa, (5) memberikan cuti atau liburan pada saat yang sesuai. Dengan adanya lima cara seorang majikan memperlakukan bawahannya tersebut, maka dapt diterapkan didalam sebuah kelompok atau organisasi. Inti dari hal-hal di atas adalah terselenggaranya suatu pemerintahan yang jujur, adil, berwibawa, serta berjuang keras untuk kemakmuran orang banyak. Tanpa adanya prinsip-prinsip tersebut, maka tidak akan tercapai pemerintahan yang jujur, adil, berwibawa seperti yang diharakan. Jadi sebagai seorang pemimpin yang bijaksana harus dapat mengayomi bawahannya, melindungi dan berpikir positif. Karena seorang pemimpin yang cakap selalu membuat tujuan organisasi yang dipimpinnya menjadi jelas dan terarah, oleh sebab itu hubungan antara pimpinan dan bawahan harus senantiasa dijaga dan harus ada suatu hubungan yang harmonis agar tercipta suasana yang nyaman. Karena apabila keadaan suasana baik akan menghasilkan pekerjaan yang baik dan akan tercipta kondisi yang positif. Seorang pemimpin harus dapat berkomunikasi dengan bawahannya, dan juga dengan atasannya. Komunikasi yang lancar dapat mengurangi frustasi, mencegah frustasi dan mencegah timbulnya berbagai macam masalah. Selain komunikasi yang tepat guna juga akan menghilangkan perbedaan pengertian diantara pemimpin dan bawahan atau diantara para bawahannya sendiri.
Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya harus mampu melaksanakan beberapa hal yaitu, pertama berinisiatif, apabila ia memasuki satu situsi lalu duduk menunggu orang yang akan dating kepadanya, maka tidak akan banyak orang yang dapat berinteraksi dengan dia. Kedua mampu menyatakan dengan jelas kemauan untuk bekerja sama. Ketiga mengkomunikasikan peasaan dan pemikiran dengan orang-orang yang diajak bekerja sama, yaitu dengan atasan maupun dengan bawahan. Keempat memiliki rasa simpati kepada mereka yang diharapkan dapat memimpin. Ia harus mampu menempatkan diri dalam situasi orang lain untuk merasakan bagaimana melakukan tugas kepemimpinan yang positif itu. Kelima seorang yang brinisiatif dan original, ia muncul dengan satu penampilan yang dibawakan oleh dirinya sebagai seorang pemimpin. Kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang timbul, akan meentukan kepemimpinan orang itu. Keenam menjadi seorang pelayan, seorang pemimpin yang lebih berhasil dalam menjalankan tugas kepemimpinannya adalah yang mau melayani dalam kelompoknya, tidak mendominasi kelompok atau memaksa mereka untuk melakukan apa saja yang diinginkan (Tambunan, 1998:46).
Setiap orang yang tergabung di dalam sebuah kelompok maupun organisasi mempunyai kedudukan yang berbeda. Perbedaan kedudukan ini berhubungan dengan jabatan yang mereka peroleh sesuai dengan kemampuan masing-masing. Seorang pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengatur orang lain. Kekuasaan itu tampak ketika ia berusaha memaksakan keinginannya kepada orang lain, sehingga memuaskan hatinya. Seorang penguasa berusaha ingin mengubah dunia, menjadikannya sesuai dengan keinginnya. Hampir tidak terpikir bagaimana mengubah dirinya sendiri.
Didalam Dhammapada menyatakan bahwa:
Tidak seharusnya seseorang berbuat salah hanya karena kepentingan dirinya sendiri ataupun karena kepentingan orang lain; pun hendaknya ia tidak menginginkan putra, kekayaan jabatan atau kesejahteraan diri sendiri dengan cara yang tidak benar. Hendaknya ia memiliki Sila (pekerti), panna (kebijaksanaan) dan Dhamma (kebenaran). (Dhammapada:84)
Diharapkan kepada masyarakat untuk memilih pemimpin yang mampu untuk mewujudkan cita-cita kelompok, organisasi, bangsa dan Negara. Upaya ini dapat diwujudkan melalui pemilihan seorang pemimpin yang berkualitas serta menjunjung tinggi kejujuran, keadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan individu. Diharapkan kepada pemerintah untuk ikut melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh dan dapat dipercaya oleh rakyat. Upaya ini dapat diwujudkan melalui menjalankan pemerintahan dengan bersih dan berwibawa, sehingga dalam hal ini pemimpin dapat memberikan contoh atau teladan kepada masyarakat. Apabila di dalam suatu system kepemimpinan, menjalankan tugas kepemimpinannya dengan baik, maka apa yang menjadi tujuan dan cita-cita dari kelompok maupun organisasi tersebut dapat tercapai dengan baik. Diharapkan kepada tokoh agama, khususnya Agama Buddha mampu menumbuhkan sifat atau jiwa kepemimpinan yang didasarkan pada syarat yang terkandung dalam nilai Agama Buddha sesuai dengan Sigalovada Sutta dan Dasa Raja Dhamma seorang pemimpin.


Referensi:
Dhammananda, Sri. 2005. Keyakinan umat Buddha. Bandung: Yayasan penerbit Karaniya.
Sutarno, skripsi. Peran pemimpin ditinjau dari sigalovada sutta.
Pegg, Mike. 1994. Kepemimpinan positif. Jakarta pusat: Percetakan PT. Sapdodadi.
Tim penerjemah. Kotbah-Kotbah Panjang Sang Buddha dgha nikaya. Dhamma Citta Pers.

Readmore..

Sesuatu Yang Seharusnya Dibunuh!

| | 0 comments

Sesuatu yang harus dibunuh?!Apakah sesuatu itu? Sesuatu itu adalah perasaan emosi/kemarahan!

Kita tentu tau bahwa kemarahan adalah sesuatu racun psikologi yang sangat berbahaya bagi kita.Kemarahan bisa membuat kita terbius dan menjadi tidak sadar akan apa yang sedang dan akan kita lakukan.Berbagai kekerasan bisa saja terjadi ketika kemarahan meledak dan tidak bisa dikendalikan.Terus terang saja,kemarahan adalah sesuatu kotoran batin yang 'HARUS' bisa kita taklukkan jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan!

Banyak orang yang hidup didunia ini,tetapi hanya sebagian kecil orang yang menyadari efek negatif kemarahan.Kemarahan sangat cepat meracuni perasaan kita dan sangat cepat memberikan instruksi 'Mengerikan' kepada tubuh untuk melakukan sesuatu untuk memuaskannya.Efek yang bisa ditimbulkan oleh kemarahan adalah penyakit,penyakit jiwa,bahkan kematian!
Jika kita telah menyadari efek negatif dari kemarahan,sesungguhnya kita telah satu langkah menuju kebahagiaan tanpa kekerasan dan emosi.Saya sendiri adalah tipe orang yang tidak suka marah karena alasan apapun.Ketika orang berbuat salah kepada saya atau menghina saya,maka saya akan berperang dengan kemarahan saya.Saya seringkali menang melawan kemarahan saya karena saya juga telah melatih meditasi.

Jadi,tips pertama melawan kemarahan adalah menyadari kemarahan itu sendiri.
Menyadari kemarahan itu muncul dan lenyap adalah cara yang paling efektif yang diajarkan Sang Buddha untuk mengalahkan kemarahan yang timbul.

Ada suatu cerita yang menginspirasi saya untuk menulis artikel ini.Cerita ini saya baca dari blog milik Om Tanhadi yaitu tanhadi.blogspot.com.Inilah kisah tersebut:

Adalah seorang brahmani bernama Dhananjani, seorang Ariya savika Sotapanna yang mempunyai keyakinan penuh pada Buddha, Dhamma dan Sangha. Sementara, brahmana Bharadvaja Gotara, suaminya, adalah seorang micchaditthi yang selalu menutup telinga bila mendengar istrinya mengucapkan penghormatan terhadap Sang Buddha.
Suatu hari, brahmana Bharadvaja Gotara berkata pada istrinya bahwa ia akan mengundang lima ratus orang brahmana lainnya untuk makan di rumah mereka pada esok harinya. Dan minta pada istrinya agar tidak mengucapkan penghormatan pada Sang Buddha seperti biasanya, di depan brahmana lainnya pada perhelatan esok.

Tapi, istrinya tak menjanjikan apa-apa. Ia hanya berkata : "Brahmana suamiku, walau kepala saya harus terpisah dari badan karena pedang brahmana lainnya, saya tak akan mungkin bisa menahan diri untuk tidak menghormat Guru saya. Tak sesuatu pun bisa menahan saya agar tidak menghormat Buddha, Dhamma dan Sangha."

Keesokan harinya, brahmani Dhananjani berdandan dengan rapi, mengenakan perhiasan yang indah-indah. Bersama para pembantu, ia menyiapkan dan mengatur makanan bagi para brahmana di dapur. Kemudian ia membawa satu nampan berisi makanan untuk brahmana Bharadvaja Gotara. Saat itulah kakinya terantuk kaki meja yang membuatnya hendak terjatuh. Dan ia pun berseru :
"Namo Tassa Bhagavato Arahato SammĂ sambuddhassa," sebanyak tiga kali.
Mendengar itu, para brahmana merasa kepalanya dihantam dengan palu godam yang besar. Telinganya bagaikan ditusuk dengan tombak yang tajam. Dadanya bagaikan diguncang oleh kepundan gunung berapi, panas. Dengan marah, mereka mendongakkan kepala dan kedua mata yang terbelalak lebar. Mereka berteriak-teriak : "Kita telah diundang oleh orang-orang murtad. Kita telah masuk ke rumah orang-orang murtad."

Sambil mencaci maki tuan rumah dan membuang piring-piring berisi makanan yang dipegangnya, mereka berlarian tunggang langgang meninggalkan rumah brahmana Bharadvaja Gotara yang terbengong-bengong dibuatnya.

Brahmana Bharadvaja Gotara berdiri bertolak pinggang, dengan mata melotot memandang istrinya dari kepala sampai ujung kaki. Sebenarnya kemarahannya telah memuncak sampai ke ubun-ubun. Ingin ia melumat dan menghancurkan istrinya itu. Namun tak tahu mengapa, ia tak mampu untuk melakukannya. Rasanya ada sesuatu yang membuat nyalinya menjadi kecil.

Ia hanya bisa mencaci maki istrinya dengan kata-kata kasar : "Hai perempuan hina, kau merupakan sesuatu yang berbahaya bagi diriku. Aku minta dengan baik-baik padamu agar tidak memuji dan memuja pertapa gundul itu untuk sehari saja, tapi kau tak mengindahkannya. Dimanapun kau berada, kau tetap saja memuji dan memuja pertapa gundul itu."

Dengan napas tersengal-sengal menahan marah, ia meneruskan : "Kini aku mau tahu. Apa kelebihan gurumu itu. Aku akan pergi berdebat dengannya barang sejenak. Mampukah ia mengalahkanku?!"
Namun, brahmani Dhananjani berkata dengan tenangnya : "Saya tidak melihat seorang pun akan mampu mengalahkan seorang Sammasambuddha. Pergilah kau, suamiku. Nanti kau akan tahu sendiri."
Dengan bergegas, brahmana pergi menemui Sang Buddha. Dalam perjalanannya, ia memikirkan pertanyaan apa yang sebaiknya diajukan pada Sang Buddha agar bisa mengalahkannya. Akhirnya ia mendapat akal. Ia akan menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat si penjawab serba salah.
Ia akan bertanya : "Seseorang telah membunuh, apakah membuatnya bisa tidur tenang dan nyenyak ? Seseorang telah membunuh apakah, maka ia akan berbahagia tidak menemui penderitaan? Wahai Samana Gotama, jawablah pertanyaanku ini." Itulah pertanyaan yang akan ia ajukan.

Ia berpikir, bila Sang Buddha menjawab akan membunuh orang bernama ini atau itu, ia akan menuduh sebagai pembunuh dan apa gunanya menjadi pertapa. Bila Sang Buddha menjawab, tidak suka membunuh apapun; ia akan menuduh Sang Buddha tidak membunuh kilesa atau nafsu-nafsu duniawi. Bila demikian, untuk apa mengembara mengajarkan ajaran. Ia berpikir, pertanyaan itu bagaikan makanan yang masuk kerongkongan tapi ditelan tidak masuk, dimuntahkan pun tidak keluar.
Setelah bertemu Sang Buddha, iapun segera mengajukan pertanyaan yang telah ia siapkan itu.
Sang Tathagata menjawab : "Seseorang yang mampu membunuh kemarahan, akan tidur tenang dan nyenyak. Seseorang yang berhasil membunuh kemarahan, akan menemui kebahagiaan, terhindar dari penderitaan. Wahai brahmana, para Ariya memuji pembunuhan terhadap kemarahan yang mempunyai akar sebagai racun yang berbisa dan puncak sebagai madu yang manis. Oleh karena itu, seseorang yang berhasil membunuh kemarahan akan terhindar dari penderitaan dan menemui kebahagiaan."
Mendengar jawaban itu, brahmana Bharadvaja menjadi tercengang, karena tidak seperti yang diharapkannya. Jawaban itu amat jelas dan mengena, tak terbantahkan, membuat kemarahannya lenyap seketika. Ia sadar bahwa perkataan istrinya adalah benar.

"Bhante, jawaban Sang Buddha amat jelas dan terang, bagaikan seseorang yang menengadahkan sesuatu yang tengkurap, membuka sesuatu yang tertutup, menunjukkan jalan pada seseorang yang tersesat. Atau bagaikan seseorang menyalakan cahaya di tempat yang gelap agar seseorang yang mempunyai mata yang baik akan bisa melihat. Dengan ini saya menyatakan diri berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha."

Kemudia ia melanjutkan :
"Saya mohon Bhante mentahbiskan saya menjadi bhikkhu dalam Dhamma dan Vinaya."
Tidak lama sesudah ditahbiskan, bhikkhu Bharadvaja berhasil mencapai kesucian Arahat. (Dhananjani Sutta dan Atthakatha 15/626-620)

Sementara Akkosaka Bharadvaja, begitu tahu kakaknya meninggalkan kehidupan berumah tangga dan tahbis sebagai pabbajita dalam Dhamma Vinaya Sang Buddha, menjadi marah dan jengkel. Segera pergi menemui Sang Buddha, mengata-ngatai Sang Buddha dengan kata-kata kasar seperti orang yang tak mengenal sopan santun.

Setelah selesai ucapan kasar Akkosaka Bharadvaja, Sang Buddha berkata dengan tenang :
"Wahai brahmana, pernahkah saudara-saudara, keluarga atau teman dan sahabat anda bertamu ke rumah anda?"

"Ya, mereka kadang-kadang datang," jawab brahmana yang belum tahu arah pembicaraan Sang Buddha.
"Lalu, apakah anda menghidangkan sekedar makanan dan minuman untuk menjamu tamu tersebut?"
"Ya, memang demikian."

"Apabila saudara-saudara, keluarga atau teman dan sahabat anda itu tak menerima makanan dan minuman yang anda hidangkan, akan menjadi milik siapakah hidangan itu?"
"Tentu saja akan tetap menjadi milik saya," jawab brahmana.

"Demikian pula persoalan kita ini, brahmana. Anda mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor pada Tathagata yang tidak mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor. Anda marah pada Tathagata yang tidak marah. Tathagata tidak menerima dan memakan hidangan anda itu. Kemarahan dan kata-kata kasar itu tentu milik anda seorang. Barang siapa membalas cacian dan kemarahan yang ia terima, Tathagata menyebutnya sebagai orang yang sama-sama menikmati hidangan. Pasti akan terus saling balas membalas. Namun, Tathagata tidak sama-sama menikmati hidangan. Tidak membalas kemarahan dan cacian anda. Jadi, cacian dan kata-kata kasar itu milik anda sendiri, untuk anda sendiri."
Kemudian Sang Buddha meneruskan : "Seseorang yang telah mengalahkan kemarahan dalam dirinya mempunyai kehidupan yang tenang, teguh dan hening, karena tahu akan kesunyataan. Kemarahan tak akan muncul kembali. Barang siapa membalas kemarahan dengan kemarahan, ia disebut sebagai orang yang lebih buruk daripada orang yang marah padanya. Seseorang yang tidak membalas kemarahan dengan kemarahan, dialah orang yang memenangkan peperangan yang sulit dimenangkan. Ia memberi manfaat pada dirinya sendiri dan juga orang lain. Tapi, orang bodoh mengatakannya sebagai orang bodoh."

Setelah mendengar penjelasan Dhamma ini, Akkosaka Bharadvaja tersadar dan timbul keyakinan terhadap Buddha Sasana. Ia menyatakan diri sebagai upasaka yang berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha dan mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu dalam Dhamma Vinaya. Tak lama sesudah itu, iapun mencapai kesucian Arahat. (Akkosaka Sutta 15/631-634)

Setelah membaca cerita diatas,tentu sobat akan menyadari bahwa orang mengatakan kita bodoh ketika kita tidak marah kepada orang lain yang berbuat salah kepada kita adalah orang yang BODOH!Karena kebodohannya,maka dia mengatakan kita Bodoh!

Jika dia adalah orang yang Bijaksana,maka dia akan mengatakan kita adalah orang yang bijak!

Readmore..

Monday, January 9, 2012

Guru

| Monday, January 9, 2012 | 0 comments

Guru
William Halim
Tidak usah repot mencari Guru nan jauh disana, nan jauh di hutan2 atau di pelosok-pelosok gunung dan gua… Sebenarnya ada 3 macam Guru: pertama, Guru yg menguasai kitab dengan baik namun tidak dengan sikapnya. Kedua, Guru yg tidak tau apa2 tentang kitab namun sikapnya amatlah terpuji, dan yg ketiga adalah guru yg menguasai kitab dab sikap dengan baik.

Guru yg bertipe ketiga begini amatlah susah ditemui, ditengah kesibukan kita sehari-hari, amatlah beruntung jika bisa bersua dengan Guru yang sempurna tersebut. Namun, bagi yg belum begitu beruntung, tidak usah khawatir, Guru yg bertipe kedua, bertebaran disekeliling kita. Mereka dapat diketahui dari sikapnya yg penyabar, tenang dan penyayang. Kita dapat meneladani dan mencontoh sikap mereka. Kita dapat merujuk dan merenungkan sikap mereka yg sabar, tenang dan penyayang. Kita dapat berguru kepada mereka. Mereka-mereka ini, meski tidak menguasai teori Dhamma sedikitpun, sesungguhnya adalah Guru nan Sejati. Mereka-mereka ini mungkin saja ayah/Ibu kita, mungkin saja Istri/Suami kita, atau ipar atau sepupu atau teman kita… Guru-guru ini bisa siapa saja di sekeliling kita….

Bagaimana dengan Guru pertama, yakni yang menguasai kitab dengan amat sempurna namun belum tentu dengan sikap kesehariannya? Ada orang bijak yg mengatakan: “Anda tidak akan tercerahkan di University”. Guru begini amatlah banyak, tidak usah mencari jauh-jauh… tidak usah khawatir dengan teori Dhamma, jika ingin intelek berteori Dhamma, internet dan buku-buku dapat menjadi subsitusi untuk Guru-guru begini…

Sang Buddha menganjurkan kita untuk senantiasa menyempurnakan batin kita, sikap kita, reaksi kita, pikiran kita… Jika tujuan kita sesuai dengan anjuran Sang Guru tersebut, maka bergurulah kepada orang-orang yg baik sikapnya, baik batinnya, baik kepribadiannya…. Contoh dan teladanilah sikap mereka….

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com