Showing posts with label kisah jataka. Show all posts
Showing posts with label kisah jataka. Show all posts

Sunday, February 5, 2012

Romo Pannajayo : Hiri & Ottapa

| Sunday, February 5, 2012 | 0 comments

Kebaktian Umum, Jumat 23 Oktober 2009
Pemimpin kebaktian : Uu Dharmawan
Dhammadesana : Romo Pannajayo
Penulis : Tommy

Hari ini adalah minggu ke 4 kebaktian umum bulan Oktober. Suasana Hari Raya Kathina masih terasa begitu pekat tatkala setiap Vihara di Kabupaten Karawang dan sekitarnya masing-masing mengadakan perayaan Kathina. Pada kebaktian malam hari ini Romo Pannajayo membahas mengenai Hiri dan Ottapa. Yakni malu dan takut untuk berbuat jahat. Pada prinsipnya Hiri dan Ottapa ini bisa timbul pada bathin masing-masing orang dengan dilandasi pengetahuan yang benar tentang sebab dan akibat perbuatan yang kita lakukan. Setelah kita mempunyai pengetahuan tentang sebab dan akibat dari perbuatan yang kita lakukan, akan timbul pemikiran untuk malu berbuat yang tidak baik dan juga akan takut akan akibat dari perbuatan yang kita lakukan.

Dengan mengetahui sebab dan akibat perbuatan yang kita lakukan, kita pastilah akan berpikir dua kali untuk melakukan perbuatan yang kurang sesuai menurut Dhamma. Dengan mengalami sendiri sebab dan akibat perbuatan yang tidak baik, kita sudah tentu akan memahami maksud dari Hiri dan Ottapa.

Hiri dan Ottapa bisa juga timbul dari lingkungan sekitar kita yang mendorong kita untuk malu dan takut berbuat jahat. Apabila orang tua kita adalah orang yang mempunyai nama baik, kita dengan sendirinya akan berusaha untuk menghindari perbuatan yang dapat merusak nama baik orang tua kita. Apabila sanak saudara kita rajin menolong orang lain, dengan sendirinya pula, kita akan memiliki kebiasaan menolong orang lain.

2 hal ini perlu kira terus ingat, Hiri dan Ottapa. Malu untuk berbuat jahat, takut akan hasil dari perbuatan yang kita lakukan. Demikian ringkasan Dhammadesana Romo Pannajayo yang disampaikan, Semoga Bermanfaat

Readmore..

Monday, January 16, 2012

Sidhi : Kalyanamitta

| Monday, January 16, 2012 | 0 comments

Dhammadesana : Sidhi Agustiana Taniman
Dhammapada : Tommy
Penulis : Tommy

Boleh dibilang hari yang cukup istimewa pada kebaktian remaja kali ini. Kenapa? karena pada kebaktian kali ini, Sidhi A.T. yang merupakan Ketua dari PMV SAG 2009-2010 bersedia untuk mengisi Dhammadesana kali ini. Saya sendiri mengenal sosok Sidhi belum lama. Sekilas, Sidhi terlihat pendiam, malu-malu dan grogian. Tapi hari ini, pandangan saya tentang ketua PMV yang baru ini berubah. Walau cara berbicara yang dibawakannya tidak sebagus penceramah lainnya karena aksen pembicaraanya yang belum terbiasa, tapi saya sungguh kagum dengan sosok ketua PMV yang satu ini. Sama seperti halnya Yessica F.S. yang sebelum menjadi ketua PMV 2008-2009 agak pendiam, setelah menjadi ketua PMV, menjadi lebih aktif. Saya yakin, apabila terus dilatih, Sidhi pun akan bisa menjadi pembicara yang baik.
Isi dari Dhammadesana yang Sidhi bawakan sangat bagus, seperti berikut :

Kalyanamitta berasal dari kata Kalyana yang artinya teman dan Mitta yang artinya baik atau bagus. Jadi Kalyanamitta berarti teman yang baik atau bagus yang dapat menjadikan diri kita selalu waspada dalam menempuh kehidupan dunia dan setelah meninggal. Terdapat empat macam sahabat yang dipandang berhati tulus ( suhada ) : yaitu sahabat penolong ( upakaro mitto ), sahabat pada waktu senang dan susah ( samanasukha dukkhomitto ), sahabat yang memberi nasehat baik ( atthakhayamitto), dan sahabat yang bersimpati ( anukampakamitto ).

1. Ciri-ciri sahabat yang suka menolong ( Upakaromitto ) adalah :
1. Ia yang menjaga dirimu sewaktu lengah;
2. Ia yang menjaga dirimu sewaktu engkau lengah;
3. Ia yang menjaga dirimu sewaktu dalam ketakutan;
4. Ia memberi bantuan dua kali daripada yang engkau perlukan.
2. Ciri-ciri sahabat pada waktu senang dan susah ( Samanasukha dukhomitto )
1. Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu;
2. Ia menjaga rahasia-rahasia dirimu;
3. Ia tidak meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan;
4. Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu.
3. Ciri-ciri sahabat yang memberi nasehat baik ( Atthakhayamitto ) yaitu:

1. Ia mencegah dirimu berbuat jahat;
2. Ia menganjurkan dirimu untuk berbuat benar;
3. Ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar;
4. Ia menunjukan jalan ke surga.
4. Ciri-ciri sahabat yang bersimpati ( Anukampakamitto )

1. Ia tidak merasa gembira terhadap kesengsaraanmu;
2. Ia merasa senang atas kesejahteraanmu;
3. Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu;
4. Ia membenarkan orang lain memujimu.

Akalyanamitta ( Teman yang tidak baik )
Akalyanamitta artinya teman atau kawan yang tidak baik atau jahat yang berkeinginan untuk menjerumuskan diri kita sehingga mengalami penderitaan ( dukkha ). Terdapat empat orang yang harus dipandang sebagai musuh yang berpura-pura sebagai sahabat (amittamittapatirupapaka) yaitu : orang yang tamak ( Annadathuro ), orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat sesuatu ( Vaci paramo ), penjilat ( Annuppiyabhani ) dan kawan pemboros ( Apayasahayo ).

1. Ciri-ciri orang yang berpura-pura sebagai sahabat ( Annadathuharo ) yaitu:
1. Ia yang tamak;
2. Ia memberi sedikit dan meminta banyak;
3. Ia melakukan kewajibannya karena takut;
4. Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.

2. Ciri-ciri seorang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat sesuatu ( Vaci paramo ) yaitu:
1. Ia menyatakan bersahabat berkenaan dengan hal-hal yang lampau;
2. Ia yang menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang;
3. Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong;
4. Bila ada kesempatan untuk membantu, ia menyatakan tidak sanggup.
3. Ciri-ciri seorang penjilat ( Annupiyabhani ) yang berpura-pura sebagai sahabat yaitu:
1. Ia menyetujui hal-hal yang salah;
2. Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar;
3. Ia akan memuji dihadapanmu;
4. Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.
4. Ciri-ciri seorang pemboros ( Apayasahayo ) yang berpura-pura sebagai sahabat yaitu:
1. Ia menjadi kawanmu apabila enkau gemar minum minuman keras;
2. Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berkeliaran di jalan-jalan pada waktu yang tidak pantas;
3. Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan;
4. Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi.


Semoga bermanfaat.

Readmore..

Jawaban Atas Siapakah Sang Buddha?

| | 0 comments

Pada suatu waktu seorang pertapa bernama Dona, memperhatikan tanda-tanda dari bekas jejak Sang Buddha, menghampiri Beliau dan bertanya pada Beliau : 

“ Yang Mulia tentunya Deva ?“ ¹
“ Tentu saja bukan, pertapa, saya bukan Deva,” Jawab Sang Buddha.
“ Lalu Yang Mulia tentu Gandhaba ?” ²
“ Tentu saja bukan, pertapa, saya bukan Gandhabha.”
“ Lalu Yakkha ?” ³
“ Tentu saja bukan, pertapa, bukan Yakkha.”
“ Lalu Yang Mulia tentu seorang Manusia “
“ Tentu saja bukan, pertapa, saya bukan seorang manusia.”
“ Lalu kepada siapa Yang Mulia berdoa ?”
Sang Buddha menjawab bahwa Beliau telah menghancurkan kekotoran-kekotoran dari kondisi kelahiran kembali seperti Deva, Gandhabha, Yakkha atau seorang manusia dan menambahkan :
“ Seperti sekuntum bunga teratai, yang cantik dan elok.
Tidak menjadi kotor karena air.
Saya tidak menjadi kotor karena air,
Oleh karena itu, pertapa, saya seorang Buddha “
( Anguttara Nikaya ii, hal 37 )

Sang Buddha tidak menyatakan sebagai Titisan (Avatara) dari dewa Hindu : Vishnu, yang sebagaimana bhagavadgita menyanyikannya dengan sangat menarik, dilahirkan berulang kali dalam masa yang berbeda untukk melindungi orang yang berbudi, menghancurkan yang jahar, dan menetapkan Dhamma (Kebenaran).

Menurut Sang Buddha tidak terhitung banyaknya para Dewa dan kelompok makhluk yang tunduk pada kelahiran dan kematian; tetapi tidak ada satupun Dewa tertinggipun yang mengatur nasib-nasib manusia dan mempunyai kekuatan hebat untuk muncul di dunia pada jarak waktu yang berbeda, menggunakan bentuk manusia sebagai suatu sarana. ?

Foot note :
1. Deva : Suatu makhluk dewa yang bertempat tinggal di tempat yang amat menyenangkan.
2. Gandhabha : Pemusik Surgawi.
3. Yakkha : Seorang Setan.
4. Walaupun guru-guru Hindu, dengan tujuan menarik kedalam agama Hindu untuk memperbanyak pengikut-pengikut Agama buddha, telah dengan tidak adil menyebut Sang Buddha sebagai Titisan Dewa ( Avatara ), suatu gagasan yang Beliau tidak akui pada masanya.

Readmore..

KUTADANTA SUTTA

| | 0 comments

Demikianlah yang saya dengar.

1. Pada suatu ketika Sang Bhagava serta sekelompok besar bhikkhu sangha, sebanyak lima ratus bhikkhu, sedang mengadakan perjalanan melalui kerajaan Magadha dan tiba di Brahmanagama, menginap di Ambalatthika, Khanumata. Pada waktu itu Brahmana Kutadanta tinggal di Khanumata, tempat yang ramai, banyak padang rumput, hutan dan jagung, daerah yang dihadiahkan oleh Raja Bimbisara kepadanya dan ia menguasai daerah itu bagaikan raja. Ketika itu persiapan untuk upacara korban besar telah dipersiapkan atas nama Brahmana Kutadanta. Seratus pasang sapi dan seratus pasang kambing telah disiapkan di tempat upacara.

2. Sementara itu, para brahmana dan penduduk Khanumata mendengar berita tentang kedatangan Samana Gotama, maka mereka berduyun-duyun pergi ke Ambalatthika.

3. Pada saat itu, Brahmana Kutadanta berada di teras atas rumahnya untuk istirahat, ia melihat orang-orang yang bepergian itu, ia bertanya kepada penjaga pintu tentang kepergian orang-orang itu. Penjaga pintu menerangkannya.

4. Kemudian Kutadanta berpikir: “Saya mendengar bahwa Samana Gotama mengerti tentang pelaksanaan upacara korban yang sukses dengan ‘tiga metoda serta enam belas peralatan tambahannya’.” Saya tidak mengetahui semua hal ini, namun saya akan melaksanakan upacara korban. Nampaknya baik bagi saya bila saya menemui dan menanyakan hal ini kepada Samana Gotama. Maka ia menyuruh penjaga pintu agar menemui para brahmana dan penduduk Khanumata untuk menunggunya karena ia pun mau menemui Sang Bhagava.

5 – 8. Ketika itu pula, ada banyak brahmana yang berada di Khanumata untuk mengambil bagian dalam upacara korban besar itu. Pada saat mereka mendengar berita ini, mereka menemui Kutadanta dan membujuknya, dengan alasan seperti yang telah mereka ajukan kepada Sonadanda, agar ia jangan pergi. Namun Kutadanta menjawab seperti apa yang dikatakan oleh Sonadanda kepada mereka. Mereka menjadi puas dan pergi bersama Kutadanta menemui Sang Bhagava.

9. Setelah Brahmana Kutadanta duduk, ia mengatakan apa yang telah ia dengar kepada Sang Bhagava dan memohon Beliau menerangkan tentang pelaksanaan upacara korban yang sukses dengan tiga metoda serta enam belas kondisi. “Brahmana yang baik, dengar dan perhatikanlah apa yang akan Saya katakan.” “Baik,” jawab Brahmana Kutadanta.

“Dahulu kala ada seorang raja bernama Mahavijito yang  memiliki harta dan kekayaan yang besar sekali; memiliki gudang-gudang emas dan perak serta hal-hal yang menyenangkan, barang-barang serta panen yang baik; lumbung dan penyimpanan harta yang penuh. Pada suatu hari ia sedang duduk sendiri, merenung dan berpikir:

“Saya memiliki segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Seluruh dunia menjadi milikku karena saya taklukkan. Suatu hal yang baik jika saya melakukan upacara korban yang besar guna memantapkan kesejahteraan dan kejayaanku saya untuk kemudian hari.” Raja memanggil brahmana penasehat spiritualnya dan mengatakan apa yang telah dipikirkannya dengan berkata: “Saya akan senang sekali melakukan upacara pengorbanan yang besar demi kejayaan dan kesejahteraanku untuk masa yang lama. Katakan padaku bagaimana caranya?” Penasehat raja menjawab: “Kerajaan sedang dalam kekacauan. Ada perampok yang merajalela di desa-desa dan kota-kota dan mengakibatkan jalan-jalan tidak aman. Bilamana hal itu masih seperti itu, lalu raja akan menarik pajak, maka raja akan bertindak salah. Namun bilamana raja berpendapat, ‘saya akan segera menghentikan perampok-perampok itu dengan cara penangkapan, mendenda, mengikat dan menghukum mati!’ Tetapi kejahatan itu tidak akan lenyap dengan seperti itu. Karena penjahat yang tak tertangkap akan tetap melakukan kejahatan. Ada sebuah cara yang dapat dilakukan untuk menghentikan kekacauan ini. Siapa saja dalam kerajaan yang hidup sebagai peternak dan petani, raja berikan makanan dan bibit kepada mereka. Siapa saja dalam kerajaan yang hidup sebagai pedagang, raja berikan modal kepada mereka. Siapa saja dalam kerajaan yang hidupnya sebagai pegawai negara, raja berikan gaji dan makanan kepada mereka. Orang-orang itu melaksanakan pekerjaan mereka masing-masing, maka pendapatan negara akan meningkat, kerajaan akan aman dan damai, rakyat akan senang dan bahagia, mereka akan menari dengan anak-anak mereka dan mereka hidup dengan rumah yang aman.

Raja Mahavijita menerima dan melaksanakan seperti apa yang disampaikan oleh  penasehat kepadanya. Demikianlah, rakyat hidup melaksanakan tugas mereka masing-masing, akibatnya kejahatan lenyap. Perbendaharaan raja bertambah. Kerajaan menjadi aman dan damai. Rakyat menjadi senang dan bahagia, mereka menari dengan anak-anak mereka dan mereka hidup dengan rumah yang aman.
12.   Kemudian raja memanggil penasehat dengan berkata: “Kerajaan telah aman dan damai. Saya mau melaksanakan upacara korban yang besar guna kesejahteraan dan kejayaan pada masa mendatang. Bagaimana cara melakukannya dengan baik?”

“Seyogyanya, raja mengirimkan undangan kepada siapa saja dalam kerajaan ini sebagai kesatrianya di kota-kota atau desa-desa; atau para menteri, brahmana atau perumah tangga di kota maupun di desa, dengan mengatakan: ‘Saya akan melaksanakan upacara korban yang besar. Saya harap anda sekalian menjadi saksi guna kesejahteraan dan kejayaanku di masa mendatang’.” “Brahmana, Raja Mahavijita menerima anjuran penasehat dan ia melakukannya. Maka mereka masing-masing para kesatria, menteri, brahmana dan perumah tangga memberikan jawaban yang sama: ‘Semoga maha raja melaksanakan upacara korban. Raja, waktu telah tepat’.”  Begitulah, empat kelompok ini menyetujui pelaksanaan upacara serta ikut bagian dalam upacara tersebut.

13.   Raja Mahavijita memiliki delapan hal, yaitu: Ia dilahirkan dari ayah dan ibu yang memiliki garis keturunan yang baik dari tujuh generasi, tanpa cacat maupun kritikan untuk kelahirannya. Ia rupawan, berpenampilan yang menyenangkan, dipercayai, tubuhnya yang bagus, berwarna cerah, berpotongan yang baik dan tegap.

Ia maha besar, memiliki harta kekayaan yang besar, gudang emas dan perak serta hal-hal yang menyenangkan, barang-barang dan panen yang baik, lumbung dan penyimpanan harta yang penuh. Ia sangat berkuasa, komandan pasukan yang loyal dan disiplin, terdiri dari empat divisi yaitu: pasukan gajah, kuda, kereta dan pemanah; nampaknya musuhnya dikalahkan oleh keperkasaannya. Ia yakin pada agama, dermawan, penyantun menyokong para samana, brahmana, orang miskin, pengembara, minta-minta dan pemohon; pelaku perbuatan-perbuatan baik. Ia terpelajar untuk berbagai macam pengetahuan.

Ia mengetahui apa yang telah dikatakan dan dapat menerangkan: ‘Kata-kata itu mempunyai arti anu dan itu dst.. ‘Ia pintar, ahli, bijaksana dan dapat memikirkan hal sekarang, yang lampau atau yang akan datang. Inilah delapan hal yang dimilikinya, yang juga menjadi bahan persiapan untuk upacara korban.

14.   Brahmana penasehat spiritualnya memiliki empat hal, yaitu: Ia dilahirkan dari ayah dan ibu yang memiliki garis keturunan yang baik dari tujuh generasi, tanpa cacat maupun kritikan untuk kelahirannya. Ia siswa yang telah menghafal mantra-mantra, menguasai tiga veda dengan semua indeks, ritual, phonologi, tafsiran, legenda, terpelajar dalam idiom dan gramatika, menguasai pengetahuan alam (lokayata) dan tiga puluh dua tanda tubuh orang besar (maha purisa). Ia saleh, bermoral dan memiliki sila yang berkembang dengan baik.
Ia pintar, ahli dan bijaksana, merupakan orang yang terutama atau kedua dari orang yang berkuasa.
Inilah empat hal yang dimilikinya, yang juga menjadi bahan persiapan untuk upacara korban.

15.   Namun sebelum upacara dimulai, penasehat menerangkan tiga hal kepada raja:
‘Bilamana, sebelum upacara mulai, raja menyesal: ‘Betapa besar kekayaan yang aku akan habiskan dalam upacara ini’, janganlah raja berpikiran seperti ini. Bilamana sementara melaksanakan upacara, raja menyesal: ‘Betapa besar kekayaan yang aku akan habiskan dalam upacara ini’, maka janganlah raja berpikiran seperti itu. Bilamana upacara korban telah selesai, raja menyesal: ‘Betapa besar kekayaan yang telah saya habiskan’, janganlah raja berpikiran seperti itu.’
Demikianlah penasehat menerangkan tiga hal kepada raja.

16.   “Brahmana, selanjutnya sebelum upacara mulai dan untuk mencegah penyesalan yang muncul pada orang-orang yang ikut melaksanakan upacara, penasehat berkata: “Saudara-saudara mungkin dalam pelaksanaan upacara korban ada orang-orang yang membunuh makhluk hidup dan ada yang menghindari pembunuhan; orang yang mengambil yang tidak diberikan dan orang yang menghindarinya; orang yang memuaskan nafsu dengan cara yang salah dan orang yang menghindarinya; orang yang berdusta dan orang yang tak berdusta, orang yang bicara kasar dan orang yang tak bicara kasar, orang yang memfitnah dan orang yang tak memfitnah, orang yang bergunjing dan orang yang tak bergunjing; orang yang serakah dan orang yang tak serakah; orang yang membenci dan orang yang tak membenci; dan orang yang berpandangan salah serta orang yang berpandangan benar. Mengenai orang-orang ini, mereka yang berbuat jahat, biarkanlah dengan kejahatan mereka itu. Sedangkan bagi mereka yang berbuat baik, semoga raja dan saudara sekalian mempersilahkan mereka melaksanakan upacara dan seyogyanya raja memberikan hadiah kepada mereka sesuai dengan kesediaan raja.”

17.   “Brahmana, sementara raja melaksanakan upacara, penasehat mengarahkan dan menyenangkan serta menggembirakan hatinya dengan enam belas hal: Bilamana ada orang yang membicarakan tentang raja, selagi raja melakukan upacara: ‘Raja Mahavijita melaksanakan upacara korban tanpa mengundang empat kelas masyarakat dari rakyatnya, ia sendiri tak memiliki delapan hal, juga tanpa bantuan dari penasehat yang memiliki empat hal; maka mereka tidak berbicara berdasarkan fakta. Karena raja telah mendapat persetujuan dari empat kelas masyarakat, raja memiliki delapan hal dan penasehatnya memiliki empat hal. Sehubungan dengan setiap faktor dari enam belas hal, semoga raja yakin bahwa semua hal itu telah terpenuhi. Ia dapat melaksanakan upacara, gembira dan damai.’”

18.   “Brahmana, dalam pelaksanaan upacara tidak ada sapi, kambing, unggas, babi yang dibunuh atau tidak ada makhluk hidup mana pun yang dibunuh. Tidak ada pohon yang ditebang untuk dijadikan tiang, tidak ada rumput ‘Dabba’ yang disabit dan diletakkan di sekeliling tiang. Para pekerja dan pembantu atau pekerja yang bekerja, tidak ada yang diancam dengan cambuk atau tongkat, sehingga tidak ada tangisan maupun air mata bercucuran di wajah mereka. Siapa yang ingin membantu, ia bekerja; ia yang tidak mau membantu, tidak bekerja. Setiap orang melakukan sesuai apa yang ia inginkan; melakukan atau tidak melakukan. Upacara dilaksanakan dengan hanya menggunakan ghee, minyak, mentega, susu, madu dan gula.

19.   “Brahmana, selanjutnya para kesatria, menteri, brahmana, petugas dan perumah-tangga, apakah dari kota atau desa, dengan membawa banyak harta, pergi menemui Raja Mahavijita, dan berkata: “Raja, harta yang banyak ini, kami bawa kemari untuk raja. Semoga raja menerimanya langsung dari kami!” “Saudara-saudara, saya telah memiliki cukup banyak harta yang didapat berdasarkan penarikan pajak yang adil. Bawa kembali milikmu itu dan ambil lagi secukupnya.!” Setelah raja menolak menerima, mereka bersama-sama ke samping dan berembuk: “Tidak pantas bagi kita untuk membawa kembali harta ini ke rumah kita masing-masing. Raja Mahavijita telah mengorbankan banyak untuk upacara. Sebaiknya kita melakukan upacara pula.”

20.   Maka para kesatria membangun sambungan bagian upacara di sebelah timur lobang upacara; para pegawai membangun di selatan, para brahmana membangun di barat di utara. Barang-barang dan bentuk dana mereka adalah mirip dengan yang dilakukan oleh raja sendiri. Demikianlah, ada empat kelas masyarakat, Raja Mahavijita memiliki delapan hal dan brahmana penasehatnya memiliki empat hal. Ada tiga metoda melaksanakan upacara korban. Ini yang disebut pelaksanaan upacara dalam tiga metoda dan enam belas kondisi.

21.   Setelah Sang Bhagava menerangkan, para brahmana membuat suara riuh dan berkata: “Betapa agung upacara itu, sungguh suci pelaksanaannya!” Tetapi Brahmana Kutadanta hanya duduk diam saja. Lalu para brahmana itu berkata kepada Kutadanta: “Mengapa anda tidak menyetujui uraian yang baik dari Samana Gotama?”

“Saya bukan tidak menyetujui, karena barang siapa tidak menyetujui apa yang telah diterangkan dengan baik oleh Samana Gotama, maka kepalanya akan pecah tujuh. Saya sedang memikirkan bahwa Samana Gotama tidak berkata: “Demikian yang Saya dengar”, atau “Demikian itu terlihat”, tetapi hanya berkata “Begitulah hal itu,” atau “Itu demikian”. Jadi, saya berpendapat: “Sesungguhnya Samana Gotama sendiri pada waktu itu adalah Raja Mahavijita atau Brahmana Penasehat Spiritual raja. Apakah Samana Gotama mengakui bahwa ia yang melaksanakan upacara korban atau menyebabkan upacara itu dilaksanakan, yang setelah meninggal dunia ia terlahir di alam bahagia di surga?”

“Brahmana, ya saya mengakuinya. Pada waktu itu saya adalah brahmana penasehat pada upacara korban.” “Gotama, apakah ada upacara korban yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat yang lebih baik daripada upacara itu?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?”“Dana yang diberikan secara tetap kepada para pertapa yang memiliki sila yang baik.”

22.   “Gotama, tetapi apakah alasan dan sebab maka dana yang diberikan secara tetap kepada para pertapa yang memiliki sila yang baik adalah tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat yang lebih baik daripada upacara yang memiliki tiga metoda dan enam belas kondisi.” Brahmana, karena para arahat tidak akan pergi atau tidak ada jalan kearahatan pada upacara korban. Mengapa tidak ada? Sebab pada upacara korban terjadi pemukulan dan penangkapan di leher. Namun para arahat akan mendatangi tempat pemberian dana secara tetap, karena di situ tidak ada pemukulan atau penangkapan. Dengan demikian, maka pemberian dana secara tetap lebih tinggi daripada upacara korban.”

23.   “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada kedua cara ini?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?” “Mendirikan vihara atas nama Sangha pada empat arah.”

24. “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada tiga cara ini?” “Ya ada, brahmana.”
“Gotama, apakah itu?” “Orang yang memiliki keyakinan dan berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha; inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada tiga cara itu.”

25.   “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada empat cara ini?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?” “Jika seseorang dengan keyakinan melaksanakan sila, yaitu menghindari diri dari: pembunuhan makhluk hidup, mengambil barang yang tidak diberikan, pemuasan nafsu dengan cara yang salah, dusta, minum minuman yang dapat menyebabkan ketidakwaspadaan; 
 inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada empat cara itu.”

26.   “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada lima cara ini?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?” “Brahmana, seandainya di dunia ini muncul seorang Tathagata, yang maha suci, telah mencapai Penerangan Agung, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduknya, sempurna menempuh Jalan, pengenal segenap alam, pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, guru para dewa dan manusia, yang Sadar, patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usaha-Nya sendiri kepada orang-orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan para dewa brahmana; para pertapa, brahma, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan Dhamma (Kebenaran) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir, dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan cara hidup selibat (brahmacariya) yang sempurna dan suci.” “Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga-rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya ia memperoleh keyakinan, ia ingin menjadi bhikkhu. Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan Patimokkha (peraturan-peraturan bhikkhu), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-murni dan pengertian-jelas (sati-sampajanna); dan hidup puas.” “Bagaimanakah, seorang bhikkhu yang sempurna silanya? Dalam hal ini, seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan makhluk-makhluk; menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hidup selibat dan menjauhi kedustaan. Ia menjauhi ucapan menfitnah, menahan diri dari menfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakan di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan di sini. Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan, persatuan merupakan tujuan pembicaraannya. Ia menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar, ia menjauhi pembicaraan yang menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat, ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang Dhamma dan Vinaya. Ia melaksanakan Cula Sila, Majjhima Sila dan Maha Sila (seperti yang tersebut dalam Brahmajala Sutta).
‘Selanjutnya, seorang Bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian terhadap sila. Sama seperti seorang ksatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuhnya telah dikalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh; demikian pula, seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila. Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukham). Demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki sila-sempurna’. Bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu inderanya? Bilamana seorang bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penglihatannya. Ia menjaga indera penglihatannya.
Bilamana ia melihat suatu obyek dengan matanya, ia mendengar suara dengan telinganya, mencium bau dengan hidungnya, ia mengecap rasa dengan lidahnya, ia merasakan sentuhan dengan tubuhnya, atau ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera-inderanya. Ia menjaga indera-inderanya, dan memiliki pengendalian terhadap indera-inderanya.
Bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki perhatian murni dan pengertian jelas? Dalam hal ini seorang bhikkhu mengerti dengan jelas sewaktu ia pergi atau sewaktu kembali; ia mengerti dengan jelas sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping; ia mengerti dengan jelas sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati), jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk (patta); ia mengerti dengan jelas sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan; ia mengerti dengan jelas sewaktu buang air atau sewaktu kencing; ia mengerti dengan jelas sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun berbicara atau diam. Bagaimanakah seorang bhikkhu merasa puas? Dalam hal ini seorang bhikkhu merasa puas hanya dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Kemana pun ia pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal ini.

Setelah memiliki kelompok-sila yang mulia ini, memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini, memiliki perhatian murni dan pengertian jelas yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah kubur, di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatiannya ke depan’. Dengan menyingkirkan keinginan nafsu keduniawian, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari keinginan nafsu, membersihkan pikirannya dari nafsu-nafsu. Dengan menyingkirkan itikad-jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itikad-jahat, dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pikirannya dari itikad-jahat. Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada penyerapan terhadap cahaya (akkasanni), ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan. Dengan menyingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran. Dengan menyingkirkan keragu-raguan, ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan. Demikianlah, selama lima rintangan (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang. Tetapi setelah lima rintangan itu  disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang. Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan itu telah disingkirkan dari dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuhnya terasa nyaman, karena tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat. Kemudian, setelah terpisah dari nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana I; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti-sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan vitaka (pengarahan pikiran pada obyek) dan vicara (obyek telah tertangkap oleh pikiran). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka). Selanjutnya seorang bhikkhu yang telah membebaskan diri dari vitaka dan vicara, memasuki dan berdiam dalam Jhana II; yaitu keadaan batin yang tergiur dan bahagia, yang timbul dari ketenangan konsentrasi, tanpa disertai dengan vitaka dan vicara, keadaan batin yang memusat. Demikianlah seluruh tubuhnya dipenuhi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari konsentrasi, dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari konsentrasi. Selanjutnya seorang bhikkhu yang telah membebaskan dirinya dari perasaan tergiur, berdiam dalam keadaan seimbang yang disertai dengan perhatian murni dan pengertian jelas. Tubuhnya diliputi dengan perasaan bahagia, yang dikatakan oleh para ariya sebagai ‘kebahagiaan yang dimiliki oleh mereka yang batinnya seimbang dan penuh perhatian-murni; ia memasuki dan berdiam dalam Jhana III. Demikianlah seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur itu’. Selanjutnya, dengan menyingkirkan perasaan bahagia dan tidak bahagia, dengan menghilangkan perasaan-perasaan senang dan tidak senang yang telah dirasakan sebelumnya, bhikkhu itu memasuki dan berdiam dalam Jhana IV, yaitu suatu keadaan yang benar-benar seimbang, yang memiliki perhatian-murni (satiparisuddhi) bebas dari perasaan bahagia dan tidak bahagia. Demikianlah ia duduk di sana, meliputi seluruh tubuhnya dengan perasaan batin yang bersih dan jernih’. Brahmana, inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada cara-cara lain. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan-terang yang timbul dari pengetahuan (nana-dassana). Demikianlah ia mengerti: “Tubuhku ini mempunyai bentuk, terdiri atas empat unsur-pokok (mahabhuta) berasal dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus menerus; bersifat tidak kekal, dapat mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran, dan kematian; begitu pula halnya dengan kesadaran (vinnana) yang terikat dengannya’. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat diguncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan ‘tubuh-ciptaan-batin’ (mano-maya-kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan ‘tubuh-ciptaan-batin’ melalui pikirannya, yang memiliki bentuk memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apapun’. Demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan ‘wujud-ciptaan-batin’ (mano-maya-kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan ‘tubuh-ciptaan-batin’ melalui pikirannya; yang memiliki bentuk, memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apa pun’. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan; ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk iddhi (perbuatan-perbuatan gaib). Ia melakukan iddhi dalam aneka ragam bentuknya; dari satu ia menjadi banyak, atau dari banyak kembali menjadi satu; ia menjadikan dirinya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat; tanpa merasa terhalang, ia berjalan menembusi dinding, benteng atau gunung, seolah-olah berjalan melalui ruang kosong; ia menyelam ia timbul melalui tanah, seolah-olah berjalan di atas tanah, dengan duduk bersila ia melayang-layang di udara. Seperti seekor burung dengan sayapnya; dengan tangan ia dapat menyentuh dan meraba bulan dan matahari yang begitu dahsyat dan perkasa, ia dapat pergi mengunjungi alam-alam dewa brahma dengan membawa tubuh kasarnya.’Dengan pikirannya yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan dibbasota (telinga-dewa). Dengan kemampuan dibba-sota yang jernih, yang melebihi telinga manusia, ia mendengar suara-suara manusia dan dewa, yang jauh atau yang dekat’.
Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada ceto-pariyanana (pengetahuan untuk membaca pikiran orang lain). Dengan menembus melalui pikirannya sendiri, ia mengetahui pikiran-pikiran makhluk lain, pikiran orang lain. Ia mengetahui: Pikiran yang disertai nafsu sebagai pikiran yang disertai nafsu, pikiran tanpa-nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu. Pikiran yang disertai kebencian …. pikiran tanpa kebencian …., pikiran disertai ketidaktahuan …., pikiran tanpa ketidaktahuan , pikiran yang teguh, ragu-ragu, berkembang, tidak berkembang, rendah, luhur dan bebas. Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang pubbenivasanussati (ingatan terhadap kelahiran-kelahiran lampau). Demikianlah ia ingat tentang bermacam-macam kelahirannya yang lampau, seperti: satu … sepuluh … seratus … seribu … seratus ribu kelahiran, kelahiran-kelahiran pada banyak masa-menjadinya-bumi (samvatta-kappa), melalui banyak masa kehancuran bumi (vivatta-kappa), melalui banyak masa-menjadi-kehancuran bumi (samvatta-vivatta-kappa). Ia ingat, di suatu tempat demikian, namaku, makananku, keluargaku, suku-bangsaku, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan, batas umurku adalah demikian. Kemudian, setelah aku berlalu dari keadaan itu, aku lahir kembali di suatu tempat, disana namaku, makananku keluargaku, suku-bangsaku, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan, batas umurku adalah demikian. Setelah aku berlalu dari keadaan itu, kemudian aku lahir kembali di sini’. Demikianlah ia mengingat kembali tentang bermacam-macam kelahirannya di masa lampau, dalam seluruh seluk beluknya, dalam seluruh macamnya’. Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk (cutupapata-nana), Dengan kemampuan dibba-cakkhu (mata-dewa) yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu kehidupan, muncul dalam kehidupan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia, dan menderita. Ia melihat bagaimana makhluk-makhluk itu muncul sesuai dengan perbuatan-perbuatannya: ‘Makhluk-makhluk ini memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang jahat, penghina para suci, pengikut pandangan-pandangan keliru, dan melakukan perbuatan menurut pandangan keliru. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam celaka, alam sengsara, alam neraka. Tetapi, makhluk-makhluk yang lain memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang baik, bukan penghina para suci, pengikut pandangan-pandangan benar, dan melakukan perbuatan menurut pandangan benar. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga’. Demikianlah, dengan kemampuan dibba cakkhu (mata dewa) yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu kehidupan, muncul dalam kehidupan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita’.

Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang penghancuran noda-noda batin  (asava). Demikianlah, ia mengetahui sebagaimana adanya ‘Inilah dukkha’, ‘Inilah sebab dukkha’, ‘Inilah akhir dari dukkha’ dan ‘Inilah Jalan yang menuju pada lenyapnya dukkha’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah akhir asava’ dan ‘Inilah Jalan yang menuju pada lenyapnya asava’. Dengan mengetahui, melihat demikian, maka pikirannya terbebas dari noda-noda nafsu (kamasava), noda-noda perwujudan (bhavasava), noda-noda ketidaktahuan (avijjasava). Dengan terbebas demikian, maka timbullah pengetahuan tentang kebebasannya, dan ia mengetahui: ‘Berakhirlah kelahiran kembali, terjalani kehidupan suci, selesailah apa yang harus dikerjakan, tiada lagi kehidupan sesudah ini’.‘Brahmana, inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada cara-cara lain.”

27.   Setelah Sang Bhagava berkata, Brahmana Kutadanta berkata kepada Sang Bhagava: “Gotama, sangat bagus kata-kata yang diungkapkan! Bagaikan orang yang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan benar kepada ia  yang tersesat atau memberikan cahaya dalam kegelapan agar mereka yapng mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Demikian pula dengan berbagai cara Dhamma telah dibabarkan oleh Samana Gotama kepadaku. Saya menyatakan bahwa saya berlindung kepada Samana Gotama, Dhamma dan Sangha. Semoga Samana Gotama menerima saya sebagai upasaka, mulai hari ini sampai selama-lamanya. Samana Gotama, saya sendiri akan melepasbebaskan tujuh ratus pasang sapi dan tujuh ratus pasang kambing. Saya menyelamatkan hidup mereka. Mereka dapat makan rumput hijau, minum air sejuk dan angin sejuk meliputi mereka.”

28.   Kemudian secara berurutan Sang Bhagava membabarkan kepada Kutadanta tentang: dana, perbuatan baik, surga, bahaya dari pemuasan nafsu dan manfaat hidup meninggalkan kehidupan duniawi. Ketika Sang Bhagava mengetahui bahwa Brahmana Kutadanta telah siap, lembut, tidak curiga, waspada dan berkeyakinan, maka dibabarkannya Dhamma yang ditemukannya yaitu tentang dukkha (penderitaan), asal mula dukkha, lenyapnya dukkha dan Jalan untuk melenyapkan dukkha.
Bagaikan kain bersih, yang nodanya tercuci bersih, siap untuk dicelup; demikian pula Brahmana Kutadanta yang sedang duduk di situ mencapai Mata Kebenaran yang bersih tanpa noda dan ia mengetahui bahwa ‘Segala sesuatu yang mempunyai sebab, pasti akan lenyap’.

29. Selanjutnya Brahmana Kutadanta sebagai seorang yang telah melihat ‘Kebenaran, menguasainya, mengerti, menyelam ke dalamnya, yang telah melampaui keragu-raguan dan melenyapkan kegelisahan dan memiliki keyakinan kuat, yang tidak tergantung lagi pada orang lain karena pengetahuannya pada ajaran Sang Guru, berkata kepada Sang Bhagava: “Semoga Samana Gotama bersama bhikkhu sangha memberikan kesempatan kepada saya dengan menerima makanan pada besok hari.” Sang Bhagava menerima undangan itu dengan bersikap diam. Brahmana Kutadanta setelah melihat Sang Bhagava telah menerimanya, bangkit dari duduk dan meninggalkan Sang Bhagava dengan berjalan di sisi kanan beliau. Setelah menjelang pagi ia menyediakan makanan manis, keras dan lembut pada lobang upacara, selanjutnya ia memberitahukan kepada Sang Bhagava: ‘Telah tiba waktunya, makanan telah siap’. Sang Bhagava setelah mengenakan jubah, mengambil jubah luar (civara) dan patta, bersama dengan para bhikkhu pergi ke lobang upacara Brahmana Kutadanta, Beliau duduk di tempat yang telah disediakan. Brahmana Kutadanta dengan tangannya sendiri melayani bhikkhu sangha yang dikepalai oleh Sang Bhagava, dengan makanan manis, keras dan lembut, hingga mereka menolak untuk menerimanya lagi. Setelah Sang Bhagava selesai makan, membersihkan patta dengan tangan-Nya, Brahmana Kutadanta duduk di tempat duduk yang rendah di samping Beliau. Setelah ia duduk, Sang Bhagava membabarkan membangkitkan, mendorong dan menggembirakan Brahmana Kutadanta dengan uraian dhamma; sesudah itu Beliau bangkit dari duduk dan pergi.

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

Mengapa Kita Berbeda?

| Thursday, January 12, 2012 | 0 comments

1. Mengapa dalam kehidupan ini ada yang kaya tetapi ada yang miskin, ada yang bahagia tetapi ada juga yang menderita, ada yang cantik tetapi ada juga yang jelek, ada yang baik tetapi juga ada yang jahat dan perbedaan-perbedaan lainnya?Berikut ini adalah khotbah Sang Buddha yang berhubungan dengan perbedaan yang ada dalam kehidupan ini sehingga kita akan memahaminya dengan baik. (Anguttara Nikaya X. 205)Dengan cara berjalan orang tak akan pernah mencapai akhir dunia, Namun tidak ada kebebasan dari penderitaan kalau belum mencapai akhir dunia. Mereka orang bijaksana yang mengetahui dunia Orang yang menjalani kehidupan suci, akan mencapai akhir dunia, Dengan mengetahui akhir dunia, dia tidak akan lagi merindukan dunia ini, Tidak juga merindukan dunia lain. Kalau kita kembali kepada Dhamma maka pandangan kita akan mengarah kepada proses dari kehidupan ini. Paticcasamuppada atau hukum sebab akibat yang saling bergantungan dapat dijadikan referensi tentang proses kelahiran ini. Dijelaskan bahwa Avijja atau kegelapan batin yang masih ada akan menjadi penyebab proses selanjutnya. Demikian hal ini akan terus berlanjut selama akar dari proses itu masih ada. Untuk lebih jelasnya kita kembali kepada rumusan Paticcasamuppada seperti berikut:- Dengan adanya kebodohan muncullah bentuk-bentuk pikiran- Dengan adanya bentuk-bentuk pikiran muncullah kesadaran- Dengan adanya kesadaran muncullah batin dan jasmani- Dengan adanya batin dan jasmani muncullah enam indera- Dengan adanya enam indera muncullah kesan-kesan.- Dengan adanya kesan-kesan muncullah perasaan- Dengan adanya perasaan muncullah nafsu keinginan- Dengan adanya nafsu kenginan muncullah kemelekatan- Dengan adanya kemelekatan muncullah upadi (keinginan menjadi)- Dengan adanya upadi muncullah kelahiran- Dengan adanya kelahiran muncullah usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan jasmani, kekhawatiran dan putus asa.- Dan muncullah ketidakpuasan batiniah/penderitaan3. Kelahiran ini pun akan berakhir jika akar penyebab proses kelahiran tidak ada lagi seperti yang ada pada rumusan berikut:- Dengan lenyapnya kebodohan lenyap pula bentuk-bentuk pikiran- Dengan lenyapnya bentuk-bentuk pikiran lenyap pula kesadaran- Dengan lenyapnya kesadaran lenyap pula batin dan jasmani- Dengan lenyapnya batin dan jasmani lenyap pula enam indera- Dengan lenyapnya enam indera lenyap pula kesan-kesan.- Dengan lenyapnya kesan-kesan lenyap pula perasaan- Dengan lenyapnya perasaan lenyap pula nafsu keinginan- Dengan lenyapnya nafsu kenginan lenyap pula kemelekatan- Dengan lenyapnya kemelekatan lenyap pula upadi (keinginan menjadi)- Dengan lenyapnya upadi lenyap pula kelahiran- Dengan lenyapnya kelahiran muncullah lenyap pula usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan jasmani, kekhawatiran dan putus asa.- Dan lenyaplah semua ketidakpuasan batiniah/penderitaanJawabannya sudah jelas bahwa kenapa kita masih dilahirkan adalah karena kita masih dibelenggu oleh kekotoran batin. Selama belenggu ini belum dapat dipatahkan selama itu pula proses kelahiran akan terjadi. Dengan mengetahui penyebab dari proses penyebab kelahiran ini maka kita harus berusaha untuk berjuang menuju kepada kebahagiaan sejati sehingga tidak ada kelahiran lagi.Sabbe Satta Bhavantu SukhitattaSemoga Semua Makhluk Berbahagia

Readmore..

Sati dan Meditasi Vipassana

| | 0 comments

Apabila seorang meditator mengamati emosi atau sensasi fisiknya,maka pada saat itu dia akan merasakan emosi dan sensasi fisiknya sekaligus..Sati bukanlah merupakan kesadaran intelektual,tetapi sati hanya semata-mata "kesadaran"[sering disebut perhatian murni,kesadaran murni,dan seterusnya,terserah Anda melabelinya sebagai apa..],kiasannya adalah "pikiran berhenti disini"

Sati memang bersifat objektif,tetapi bukan berati orang yang mengalami sati itu adalah robot,mumi,sati tidak dingin dan bukannya tanpa perasaan!!Sati adalah pengalaman yang sadar akan kehidupan,suatu pengamatan yang waspada dalam proses kehidupan yang terus berlangsung..

Sati melihat hal-hal sebagaimana adanya,sati juga melihat sifat segala fenomena secara mendalam..Mari kita mencoba untuk mendefinisikan sati itu secara terperinci..

Didalam sati,tidak ada dialog di dalam diri,karena sati bukan berpikir..Mereka yang bermeditasi mungkin harus bekerja keras selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun untuk menuju ke sana...Karena sudah sangat lama kita terbiasa terbelenggu dalam buah pikir,dan kebiasaan itu "kuat sekali bertahan"..
Bila ada Sati,Anda dapat melihat "diri anda yang terbelenggu didalam buah pikir",kesadaran seperti itu lah yang membuat Anda dapat "mundur"[tidak turut campur] dari proses berpikir untuk kemudian "terbebas darinya"..

Sati mempunyai rasa khasnya sendiri didalam kesadaran,Sati memiliki rasa yang ringan,jernih,dan penuh energi..Sebaliknya ,pikiran ini bersifat berat,merenung,dan memilih milih..Tetapi sekali lagi semua itu "hanya kata-kata",pengalaman Anda sendiri yang akan menunjukan "perbedaanya"..Mungkin saja Anda juga memiliki kata-kata sendiri,sehingga tulisan saya ini tidak ada artinya bagi Anda,Ingat lah bahwa prakteklah yang merupakan hal terpenting!!

Sati melihat segalanya sebagaimana adanya,tanpa adanya persepsi didalamnya,juga tidak ada penyelewengan apapun didalam Sati,Sati hanya merupakan perhatian murni yang hanya melihat pada apa yang muncul..Bertolak belakang dengan "pikiran" yang menempelkan hal-hal pada pengalaman kita,membebani kita dengan konsep,ide,opini,menenggelamkan kita kepada pusaran rencana,kecemasan,takut,delusi,ilusi,dan fantasi..

Tetapi bila ada Sati,Anda tidak memainkan permainan itu[pikiran yang melekat dan memberikan respon dengan berbagai emosi],Anda hanya melihat apa yang muncul persis seperti apa yang muncul di pikiran,kemudian Anda akan mengamati "ah ini...dan sekarang ini...ini...",itu lah kesederhanaan dari sati..
Sesungguhnya hanya Sati yang dapat memahami 3 sifat utama yang diajarkan oleh Buddha,yang merupakan kebenaran yang paling mendalam..3 sifat ini dikenal sebagai Anicca,Anatta dan Dukkha..Didalam Ajaran Buddha,ketiga sifat[kebenaran] ini tidak disajikan sebagai dogma yang menuntut pada imam yang buta..

Umat Buddhist sering merasa bahwa kebenaran ini bersifat universal,dan tampak jelas bagi siapapun yang sungguh-sungguh mau menyelidikinya..Satilah satu-satunya metode yang ada untuk menyelediki hal tersebut..

Sati melihat bahwa semua hal-hal yang terkondisi pada intinya bersifat sementara,setiap hal duniawi pada akhirnya memang tidak memuaskan,dan sebenarnya tidak ada "aku" / "jiwa"[atau terserah Anda mau melabelinya apa] yang tidak berubah atau yang kekal,yang ada hanyalah "proses-proses" belaka..
Sati sebenarnya melihat sifat setiap pemikiran/persepsi yang tidak kekal,ia melihat bahwa sifat segala sesuatu yang "dilihatnya" sebagai sesuatu yang hanya bersifat sementara dan berlalu[timbul dan tenggelam],ia juga melihat bahwa tidak ada gunanya melekati/memegang pada pertunjukan-pertunjukan[pengalaman] yang terus berlalu itu.

Kedamaian tidak dapat ditemukan dengan cara seperti itu,akhirnya setelah melihat kedua hal tersebut,sati melihat bahwa sifat dasar semua fenomena itu tanpa inti,ia melihat bagaimana kita secara acak memilih kumpulan persepsi tertentu,memisahkannya dari keseluruhan "arus pengalaman" ,dan kemudian mengkonsepkan "potongan-potongan itu" sebagai substansi yang terpisah dan bertahan..Sati akan melihat hal tersebut terjadi,tetapi ia tidak berpikir tentang hal-hal itu,melainkan hanya "melihat"nya secara langsung..

Masalahnya adalah sesungguhnya ketiga sifat dasar tersebut tidak benar-benar ada sebagai hal-hal yang terpisah,hal-hal itu hanya merupakan hasil usaha kita untuk melihat proses sederhana yang disebut sati ini..Kemudian kita mengungkapkannya melalui simbol-simbil,konsep,kata dari pikiran yang tidak cocok..
Sati adalah suatu proses,tetapi proses ini tidak terjadi secara bertahap,melainkan suatu proses menyeluruh yang muncul sebagai suatu "kesatuan",sati mengetahui hal-hal persis sebagaimana adanya tanpa penyelewengan..Walau Anda mengalami hal tersebut,tidak berati bahwa Anda serta merta akan mencapai pembebasan[bebas dari segala hal] sebagai hasil sati Anda yang pertama kali..Bagaimanapun sati ini harus dikembangkan menjadi "kesadaran penuh tanpa jeda"..

Sati merupakan pusat dari meditasi Vipassana dan inti dari segala proses itu.Sati merupakan tujuan meditasi dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut[sekali lagi,jari menunjuk ke bulan,bahwa jari itu bukanlah bulan!!!]..Jika orang-orang memperhatikan/mengamati apa yang benar-benar sedang terjadi didalam pikirannya sendiri akan mencapai "kewaspadaan tertinggi"[Appamadena]

Sati juga memiliki arti sebagai "mengingat",tetapi bukan kenangan dengan pengertian ide-ide dan gambaran masa lalu,melainkan merupakan proses mengetahui yang langsung,jernih dan tanpa kata/konsep,tentang apa sebenarnya sesuatu itu,dan apa yang bukan,mengenai apa yang benar dan apa yang tidak benar,tentang apa yang sedang kita lakukan dan bagaimana kita harus melakukannya..
Sati yang sudah berkembang secara penuh merupakan suatu keadaan tanpa adanya kemelekatan sama sekali terhadap apapun yang ada didunia ini,jika kita dapat "mempertahankan" keadaan ini,kita tidak lagi membutuhkan "alat" atau "cara" apapun untuk membebaskan diri kita dari rintangan-rintangan,kita dapat mencapai pembebasan dari semuanya..Sati tidak bersifat permukaan belaka,tetapi ia melihat secara mendalam,mengamati setiap hal yang paling mendalam,pengamatan ini membimbing menuju pada "kemutlakkan"[sama sekali tidak ada keraguan]

Sati tidak hanya menaklukkan rintangan-rintangan mental[yang ada tercatat dalam Tipitaka seperti nafsu keinginan,rasa malas,kesenangan seksual,kebencian,kegelisahan,dstnya],tetapi juga menelanjangi semua "rintangan" tersebut serta menghancurkannya..Hasilnya adalah pikiran ini tidak ternoda dan tidak goyah,sepenuhnya tidak terseret oleh pasang surutnya kehidupan ini..
Semoga kita selalu dapat memahami Dhamma ini!!



Sadhu..Sadhu..Sadhu...
Sumber: Riky Liau

Readmore..

Sesuatu Yang Seharusnya Dibunuh!

| | 0 comments

Sesuatu yang harus dibunuh?!Apakah sesuatu itu? Sesuatu itu adalah perasaan emosi/kemarahan!

Kita tentu tau bahwa kemarahan adalah sesuatu racun psikologi yang sangat berbahaya bagi kita.Kemarahan bisa membuat kita terbius dan menjadi tidak sadar akan apa yang sedang dan akan kita lakukan.Berbagai kekerasan bisa saja terjadi ketika kemarahan meledak dan tidak bisa dikendalikan.Terus terang saja,kemarahan adalah sesuatu kotoran batin yang 'HARUS' bisa kita taklukkan jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan!

Banyak orang yang hidup didunia ini,tetapi hanya sebagian kecil orang yang menyadari efek negatif kemarahan.Kemarahan sangat cepat meracuni perasaan kita dan sangat cepat memberikan instruksi 'Mengerikan' kepada tubuh untuk melakukan sesuatu untuk memuaskannya.Efek yang bisa ditimbulkan oleh kemarahan adalah penyakit,penyakit jiwa,bahkan kematian!
Jika kita telah menyadari efek negatif dari kemarahan,sesungguhnya kita telah satu langkah menuju kebahagiaan tanpa kekerasan dan emosi.Saya sendiri adalah tipe orang yang tidak suka marah karena alasan apapun.Ketika orang berbuat salah kepada saya atau menghina saya,maka saya akan berperang dengan kemarahan saya.Saya seringkali menang melawan kemarahan saya karena saya juga telah melatih meditasi.

Jadi,tips pertama melawan kemarahan adalah menyadari kemarahan itu sendiri.
Menyadari kemarahan itu muncul dan lenyap adalah cara yang paling efektif yang diajarkan Sang Buddha untuk mengalahkan kemarahan yang timbul.

Ada suatu cerita yang menginspirasi saya untuk menulis artikel ini.Cerita ini saya baca dari blog milik Om Tanhadi yaitu tanhadi.blogspot.com.Inilah kisah tersebut:

Adalah seorang brahmani bernama Dhananjani, seorang Ariya savika Sotapanna yang mempunyai keyakinan penuh pada Buddha, Dhamma dan Sangha. Sementara, brahmana Bharadvaja Gotara, suaminya, adalah seorang micchaditthi yang selalu menutup telinga bila mendengar istrinya mengucapkan penghormatan terhadap Sang Buddha.
Suatu hari, brahmana Bharadvaja Gotara berkata pada istrinya bahwa ia akan mengundang lima ratus orang brahmana lainnya untuk makan di rumah mereka pada esok harinya. Dan minta pada istrinya agar tidak mengucapkan penghormatan pada Sang Buddha seperti biasanya, di depan brahmana lainnya pada perhelatan esok.

Tapi, istrinya tak menjanjikan apa-apa. Ia hanya berkata : "Brahmana suamiku, walau kepala saya harus terpisah dari badan karena pedang brahmana lainnya, saya tak akan mungkin bisa menahan diri untuk tidak menghormat Guru saya. Tak sesuatu pun bisa menahan saya agar tidak menghormat Buddha, Dhamma dan Sangha."

Keesokan harinya, brahmani Dhananjani berdandan dengan rapi, mengenakan perhiasan yang indah-indah. Bersama para pembantu, ia menyiapkan dan mengatur makanan bagi para brahmana di dapur. Kemudian ia membawa satu nampan berisi makanan untuk brahmana Bharadvaja Gotara. Saat itulah kakinya terantuk kaki meja yang membuatnya hendak terjatuh. Dan ia pun berseru :
"Namo Tassa Bhagavato Arahato SammĂ sambuddhassa," sebanyak tiga kali.
Mendengar itu, para brahmana merasa kepalanya dihantam dengan palu godam yang besar. Telinganya bagaikan ditusuk dengan tombak yang tajam. Dadanya bagaikan diguncang oleh kepundan gunung berapi, panas. Dengan marah, mereka mendongakkan kepala dan kedua mata yang terbelalak lebar. Mereka berteriak-teriak : "Kita telah diundang oleh orang-orang murtad. Kita telah masuk ke rumah orang-orang murtad."

Sambil mencaci maki tuan rumah dan membuang piring-piring berisi makanan yang dipegangnya, mereka berlarian tunggang langgang meninggalkan rumah brahmana Bharadvaja Gotara yang terbengong-bengong dibuatnya.

Brahmana Bharadvaja Gotara berdiri bertolak pinggang, dengan mata melotot memandang istrinya dari kepala sampai ujung kaki. Sebenarnya kemarahannya telah memuncak sampai ke ubun-ubun. Ingin ia melumat dan menghancurkan istrinya itu. Namun tak tahu mengapa, ia tak mampu untuk melakukannya. Rasanya ada sesuatu yang membuat nyalinya menjadi kecil.

Ia hanya bisa mencaci maki istrinya dengan kata-kata kasar : "Hai perempuan hina, kau merupakan sesuatu yang berbahaya bagi diriku. Aku minta dengan baik-baik padamu agar tidak memuji dan memuja pertapa gundul itu untuk sehari saja, tapi kau tak mengindahkannya. Dimanapun kau berada, kau tetap saja memuji dan memuja pertapa gundul itu."

Dengan napas tersengal-sengal menahan marah, ia meneruskan : "Kini aku mau tahu. Apa kelebihan gurumu itu. Aku akan pergi berdebat dengannya barang sejenak. Mampukah ia mengalahkanku?!"
Namun, brahmani Dhananjani berkata dengan tenangnya : "Saya tidak melihat seorang pun akan mampu mengalahkan seorang Sammasambuddha. Pergilah kau, suamiku. Nanti kau akan tahu sendiri."
Dengan bergegas, brahmana pergi menemui Sang Buddha. Dalam perjalanannya, ia memikirkan pertanyaan apa yang sebaiknya diajukan pada Sang Buddha agar bisa mengalahkannya. Akhirnya ia mendapat akal. Ia akan menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat si penjawab serba salah.
Ia akan bertanya : "Seseorang telah membunuh, apakah membuatnya bisa tidur tenang dan nyenyak ? Seseorang telah membunuh apakah, maka ia akan berbahagia tidak menemui penderitaan? Wahai Samana Gotama, jawablah pertanyaanku ini." Itulah pertanyaan yang akan ia ajukan.

Ia berpikir, bila Sang Buddha menjawab akan membunuh orang bernama ini atau itu, ia akan menuduh sebagai pembunuh dan apa gunanya menjadi pertapa. Bila Sang Buddha menjawab, tidak suka membunuh apapun; ia akan menuduh Sang Buddha tidak membunuh kilesa atau nafsu-nafsu duniawi. Bila demikian, untuk apa mengembara mengajarkan ajaran. Ia berpikir, pertanyaan itu bagaikan makanan yang masuk kerongkongan tapi ditelan tidak masuk, dimuntahkan pun tidak keluar.
Setelah bertemu Sang Buddha, iapun segera mengajukan pertanyaan yang telah ia siapkan itu.
Sang Tathagata menjawab : "Seseorang yang mampu membunuh kemarahan, akan tidur tenang dan nyenyak. Seseorang yang berhasil membunuh kemarahan, akan menemui kebahagiaan, terhindar dari penderitaan. Wahai brahmana, para Ariya memuji pembunuhan terhadap kemarahan yang mempunyai akar sebagai racun yang berbisa dan puncak sebagai madu yang manis. Oleh karena itu, seseorang yang berhasil membunuh kemarahan akan terhindar dari penderitaan dan menemui kebahagiaan."
Mendengar jawaban itu, brahmana Bharadvaja menjadi tercengang, karena tidak seperti yang diharapkannya. Jawaban itu amat jelas dan mengena, tak terbantahkan, membuat kemarahannya lenyap seketika. Ia sadar bahwa perkataan istrinya adalah benar.

"Bhante, jawaban Sang Buddha amat jelas dan terang, bagaikan seseorang yang menengadahkan sesuatu yang tengkurap, membuka sesuatu yang tertutup, menunjukkan jalan pada seseorang yang tersesat. Atau bagaikan seseorang menyalakan cahaya di tempat yang gelap agar seseorang yang mempunyai mata yang baik akan bisa melihat. Dengan ini saya menyatakan diri berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha."

Kemudia ia melanjutkan :
"Saya mohon Bhante mentahbiskan saya menjadi bhikkhu dalam Dhamma dan Vinaya."
Tidak lama sesudah ditahbiskan, bhikkhu Bharadvaja berhasil mencapai kesucian Arahat. (Dhananjani Sutta dan Atthakatha 15/626-620)

Sementara Akkosaka Bharadvaja, begitu tahu kakaknya meninggalkan kehidupan berumah tangga dan tahbis sebagai pabbajita dalam Dhamma Vinaya Sang Buddha, menjadi marah dan jengkel. Segera pergi menemui Sang Buddha, mengata-ngatai Sang Buddha dengan kata-kata kasar seperti orang yang tak mengenal sopan santun.

Setelah selesai ucapan kasar Akkosaka Bharadvaja, Sang Buddha berkata dengan tenang :
"Wahai brahmana, pernahkah saudara-saudara, keluarga atau teman dan sahabat anda bertamu ke rumah anda?"

"Ya, mereka kadang-kadang datang," jawab brahmana yang belum tahu arah pembicaraan Sang Buddha.
"Lalu, apakah anda menghidangkan sekedar makanan dan minuman untuk menjamu tamu tersebut?"
"Ya, memang demikian."

"Apabila saudara-saudara, keluarga atau teman dan sahabat anda itu tak menerima makanan dan minuman yang anda hidangkan, akan menjadi milik siapakah hidangan itu?"
"Tentu saja akan tetap menjadi milik saya," jawab brahmana.

"Demikian pula persoalan kita ini, brahmana. Anda mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor pada Tathagata yang tidak mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor. Anda marah pada Tathagata yang tidak marah. Tathagata tidak menerima dan memakan hidangan anda itu. Kemarahan dan kata-kata kasar itu tentu milik anda seorang. Barang siapa membalas cacian dan kemarahan yang ia terima, Tathagata menyebutnya sebagai orang yang sama-sama menikmati hidangan. Pasti akan terus saling balas membalas. Namun, Tathagata tidak sama-sama menikmati hidangan. Tidak membalas kemarahan dan cacian anda. Jadi, cacian dan kata-kata kasar itu milik anda sendiri, untuk anda sendiri."
Kemudian Sang Buddha meneruskan : "Seseorang yang telah mengalahkan kemarahan dalam dirinya mempunyai kehidupan yang tenang, teguh dan hening, karena tahu akan kesunyataan. Kemarahan tak akan muncul kembali. Barang siapa membalas kemarahan dengan kemarahan, ia disebut sebagai orang yang lebih buruk daripada orang yang marah padanya. Seseorang yang tidak membalas kemarahan dengan kemarahan, dialah orang yang memenangkan peperangan yang sulit dimenangkan. Ia memberi manfaat pada dirinya sendiri dan juga orang lain. Tapi, orang bodoh mengatakannya sebagai orang bodoh."

Setelah mendengar penjelasan Dhamma ini, Akkosaka Bharadvaja tersadar dan timbul keyakinan terhadap Buddha Sasana. Ia menyatakan diri sebagai upasaka yang berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha dan mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu dalam Dhamma Vinaya. Tak lama sesudah itu, iapun mencapai kesucian Arahat. (Akkosaka Sutta 15/631-634)

Setelah membaca cerita diatas,tentu sobat akan menyadari bahwa orang mengatakan kita bodoh ketika kita tidak marah kepada orang lain yang berbuat salah kepada kita adalah orang yang BODOH!Karena kebodohannya,maka dia mengatakan kita Bodoh!

Jika dia adalah orang yang Bijaksana,maka dia akan mengatakan kita adalah orang yang bijak!

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Membangun Hidup yang lebih baik di awali dari SIKAP

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

By : Harry Sutanto

Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita menjadi lebih baik dari yang lain, padahal mereka tidak lebih baik dulunya dalam pendidikan atau status sosialnya bahkan miskin melarat? Bahkan dalam sebuah Negara pun sama. Mengapa ada Negara-negara yang miskin sumber daya alamnya tetapi mampu menjadi Negara maju? Kita bisa lihat contoh dari beberapa Negara seperti Singapura, Jepang, Korea dll. Mereka menjadi Negara maju meskipun tidak memiliki sumber daya alam. Apa yang membuat perbedaan semua itu? Itu adalah SIKAP. Benar, sikaplah yang membuat seseorang berbeda satu dengan yang lain, termasuk Negara. Bahkan seseorang yang memiliki bakat hebatpun belum tentu mencapai keberhasilan dalam hidupnya.Orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka memiliki sikap untuk tidak menerima apapun yang diberikan oleh nasib. Mereka mampu merespon setiap hal yang tidak baik yang terjadi dalam hidup nya untuk melakukan sesuatu agar mereka menjadi orang yang mereka inginkan. Sementara orang yang gagal menerima segala yang terjadi dengan mengatakan itulah nasib mereka, mereka pantas menerimanya.

William James dari Harvard University mengatakan, "Penemuan terbesar manusia adalah bahwa perubahan sikap dapat mengubah nasib seseorang". Sebuah penelitian yang dilakukan juga oleh Harvard university menemukan bahwa ketika seseorang mendapatkan pekerjaan, 85 % keberhasilannya di sebabkan oleh sikap mereka, dan hanya 15 % karena kepandaian dan pengetahuan mereka. Ibarat sebuah bangunan maka pondasi bangunan itu adalah sikap anda. Semakin tinggi bangunan tersebut semakin dalam pondasi yang di buat agar dapat berdiri kokoh. Begitu juga dengan manusia, Sikap andalah yang membuat anda sebagai manusia yang dapat menjadi aset terbesar atau bahkan beban terbesar bagi anda. George Bernard Shaw mengatakan, " Orang yang selalu menyalahkan keadaan atas apa yang terjadi pada mereka. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang yang mempelajari lagi dan mencari keadaan yang mereka inginkan dan, jika tidak menemukannya, mereka menciptakannya.
Apakah sikap itu? John C Maxwell mengatakan demikian, " Sikap adalah pelopor dari diri kita yang sesungguhnya. Akarnya berada di dalam batin tetapi buahnya diluar. Sikap adalah teman terbaik kita atau musuh terburuk kita. Sikap lebih jujur dan lebih konsisten daripada kata-kata kita. Sikap adalah pandangan luar berdasarkan pengalaman masa lalu. Sikap adalah hal yang menarik orang lain kepada diri kita atau mengusir mereka. Sikap tidak pernah puas sebelum dinyatakan. Sikap adalah ahli perpustakaan masa lalu kita. SIkap adalah jurubicara masa sekarang kita. Sikap adalah nabi masa depan kita.
Lalu bagaimana supaya Anda bisa membuat kehidupan ini menjadi lebih baik? Mulailah dengan memiliki sikap positip. Seperti tidak adanya penyakit, bukan berarti sehat, demikian pula tidak adanya negativitas bukan selalu berarti seseorang memiliki sikap positip. Tidak sakit bukan berarti sehat, demikian pula hanya tidak berpikir negatif bukan berarti seseorang memiliki sikap positip. Orang-orang dengan sikap positip mempunyai ciri kepribadian tertentu yang dengan mudah dapat di kenali. Mereka penuh perhatian, percaya diri, sabar dan rendah hati. Mereka memiliki harapan yang tinggi terhadap diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka mengusahakan hasil-hasil yang positip. Seseorang dengan sikap positip adalah seperti pohon yang berbuah di setiap musim. Ia selalu terbuka. Banyak manfaat dari sikap positip untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita. Sebaliknya, orang yang memiliki sikap negatif sulit memelihara persahabatan, pekerjaan, perkawinan dan hubungan dengan orang lain.di dunia ini. Mereka menciptakan lingkungan negatif di rumah dan di tempat kerja, serta menjadi beban masyarakat. Mereka juga menularkan perilaku negatif kepada orang-orang lain di sekitar mereka dan bagi generasi masa depan.

Cara Anda memandang kehidupan ini berkaitan dengan sikap Anda. Salah satu kisah yang paling saya sukai adalah tentang seorang kakek dan nenek yang mengunjungi cucu-cucunya. Setiap petang si Kakek berbaring untuk tidur siang. Pada suatu hari, untuk bergurau, anak-anak memutuskan untuk mengoles mentega pada kumis kakeknya. Segera si kakek terbangun dan mengendus-endus. "Wah, kamar ini bau busuk," serunya sambil bangun dan pergi ke dapur. Tidak lama kemudian dia menyimpulkan bahwa dapur juga bau tidak sedap, maka dia pergi ke luar untuk menghirup udara segar. Alangkah heran si kakek, udara di luar rumah juga tidak memberinya kesegaran, dan dia berseru, "Seluruh dunia berbau busuk!" Sungguh benar hal itu dalam kehidupan. Kalau kita membawa-bawa mentega dalam sikap kita, maka seluruh dunia berbau busuk.

Oleh karena itu mulailah berubah. Sifat manusia pada umumnya adalah tidak menyukai perubahan. Perubahan memang tidak menyenangkan. Apapun efeknya, baik positif dan negatif, perubahaan menimbulkan stress. Kadang-kadang kita merasa begitu betah dengan negativitas kita, bahkan ketika perubahan yang kita lakukan adalah untuk sesuatu yang positif sekalipun, kita tidak dapat menerimanya. Kita memilih tetap memelihara sikap negatif. Ada contoh cerita tentang seorang narapidana yang sudah bertahun-tahun di kurung dalam sel yang gelap. Setelah selesai menjalankan masa hukumannya, ia memperoleh kebebasan. Ia dibawa keluar dari selnya, kebawah sinar matahari alam terbuka. Orang ini memandang sekelilingnya dan setelah beberapa saat ia tiadk menyukai kebebasan yang baru diperolehnya, kemudian ia meminta untuk dimasukkan kembali ke dalam selnya. Baginya, sel yang gelap, rantai dan kegelapan, lebih aman dan nyaman dibandingkan perubahaan kebebasan dan alam terbuka. Tanyakan pada diri Anda untuk menguji sikap Anda dengan menjawab pertanyaan ini : "Apakah Anda merasa dunia Anda memperlakukan Anda dengan baik?" Kalau sikap Anda terhadap dunia baik, Anda akan menerima hasil yang baik. Kalau Anda merasa biasa-biasa saja tentang dunia, tanggapan bagi Anda dari dunia juga hanya akan bertingkat biasa-biasa saja. Kalau Anda punya perasaan yang buruk tentang dunia, maka Anda rasanya hanya mendapat umpan balik negatif dari kehidupan.

Sebagai penutup, saya menyarankan mulailah dari saat ini Anda lah yang bertanggung jawab atas sikap Anda sendiri.Kita harus menerima tanggung jawab itu sepanjang hidup kita. Jangan menyalahkan orang lain atau apapun, kecuali diri kita sendiri. Setiap pagi, kita lah yang menentukan pilihan sikap kita terhadap kehidupan. Kita harus berani menerima tanggung jawab atas perilaku dan tindakan-tindakan kita. Tinggalkan masa lalu Anda, bersihkan diri Anda. Kembalilah ke jalur yang benar. Satukan impian-impian Anda dan majulah. Tidak ada orang yang mampu merubah hidup Anda menjadi lebih baik kecuali Anda sendiri yang melakukannya.

Readmore..

Dua Ekor Kera Bersaudara

| | 0 comments

Chullanandiya Jataka Jataka Pali No.222
Suatu ketika, Bodhisattva terlahir di lingkungan Himalaya sebagai seekor kera bernama Nandaka. Adiknya bernama Chullanandaka. Mereka berdua memimpin sekelompok kera yang terdiri dari 84.000 ekor kera. Mereka juga mempunyai ibu tua yang telah buta untuk dirawat.

Pada suatu saat, ketika mereka sedang menikmati buah-buahan di hutan tanpa terasa mereka telah jauh dari tempat tinggalnya. Oleh karena itu, mereka mengirimkan makanan kepada ibunya melalui teman-temannya. Namun, kiriman makanan itu jarang disampaikan kepada ibunya. Tersiksa karena kelaparan, sang ibu jatuh sakit.

Ketika pulang, mereka sangat terkejut dengan keadaan ibunya yang sakit parah.
Selanjutnya, ketika mereka mengetahui bahwa buah-buahan yang dikirimkan melalui kawan-kawannya tidak diterima oleh sang ibu, mereka kemudian meninggalkan kelompoknya dan tinggal bersama ibunya di sebatang pohon banyan.
Pada suatu hari datanglah seorang brahmana yang jahat masuk ke dalam hutan itu. Brahmana ini telah dikeluarkan dari sekolah terkenal di Taxila dan telah meninggalkan guru yang paling terkenal yaitu Parasariya. Brahmana ini telah alih professi menjadi seorang pemburu dan pembunuh.

Melihat seorang pemburu datang mendekati, kedua kera bersaudara itu segera bersembunyi di belakang dedaunan. Namun, sang induk kera terlambat menyembunyikan diri. Kemudian, sang pemburu menarik busur untuk membunuhnya. Nandaka, si kera sulung melompat di depan pemburu dan memohonnya untuk membebaskan sang ibu dari kematian dan menjadikan dirinya sebagai gantinya. Si pemburu sepakat dan membunuh Nandaka.

Akan tetapi, sang pemburu tidak menaati janjinya dan sekali lagi ia mengarahkan anak panahnya kepada induk kera. Kali ini, Chullanandiya, si kera bungsu segera melompat di hadapan sang pemburu dan memohon kebebasan induknya. Ia juga bersedia dibunuh sebagai ganti kehidupan ibunya. Sang pemburu sekali lagi menyetujuinya. Karena itu, ia membunuh si kera bungsu.

Namun, ia tetap juga melanggar janjinya dengan membunuh sang induk kera. Ia mencabut anak panah ketiga dan mengarahkannya ke induk kera yang telah buta matanya tersebut. 
Ia kemudian mengumpulkan ketiga jasad kera dan dengan bahagia dibawanya pulang. Selama perjalanan ia merasa bahagia karena berpikir bahwa ia telah dapat memberikan keluarganya tiga jasad kera dalam satu hari.

Ketika ia akan tiba di rumah, ia mendengar berita bahwa rumahnya telah disambar petir dan seluruh anggota keluarganya hancur. Kehilangan seluruh anggota keluarganya membuatnya sedih luar biasa dan berubah pikiran. Ia melemparkan pakaiannya dan berlari menuju ke rumah dengan dua tangan terbuka seolah akan memeluk anak dan istrinya. Ketika ia tiba di rumah dan mencari anggota keluarganya di antara puing-puing, kepalanya kejatuhan tiang bambu rumah yang sedang terbakar. Dikatakan oleh para saksi mata bahwa ia telah hilang dalam kepulan asap dan api yang timbul dari neraka bersamaan dengan terbukanya bumi untuk menelan tubuhnya. Para saksi mata juga mendengar bahwa pria yang sekarat itu mengulang pelajaran yang telah diberikan oleh guru tuanya di Taxila dengan menyebutkan kalimat berikut ini:

Sekarang saya teringat akan ajaran guru saya,
Dan sekarang saya mengerti maksudnya,
Ketika ia mengajarkan padaku untuk berhati-hati;
Dan jangan melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan penyesalan.
(Keterangan:

Pada waktu itu Nandiya adalah Bodhisattva, Parasariya adalah Sariputta, induk kera adalah Gotami; Chullanandiya adalah Ananda dan Devadatta adalah si pemburu)
Demikianlah salah satu kisah Jataka yang menguraikan tokoh-tokoh penting di sekitar Bodhisattva di kehidupan yang lampau maupun ketika Beliau terlahir sebagai Buddha Gotama di kehidupan yang terakhirnya.

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com