Showing posts with label artikel buddhist populer. Show all posts
Showing posts with label artikel buddhist populer. Show all posts

Sunday, February 5, 2012

Bpk. Hemartha : Perjuangan dan Proses

| Sunday, February 5, 2012 | 0 comments

Protokol : Romo pannajayo
Lilin ALtar : Bp.hasan
Dhammapada : Ibu Vina
Dhammadesana : Bp.Hemartha
Penulis : Yessica F.S. & Nanda Devi Nur

Pada hari jumat ini malam yang berbahagia untuk kita semua.
seperti yang kita tahu pada setiap hari jumat minggu ketiga kita kedatangan bhikku sanggha dari vihara Dhammacakkha jaya jakarta, tetapi pada malam hari ini bhante berhalangan hadir karena dikhawatirkan macet karena arus mudik. Walau pun demikian umat Vihara Surya Adhi Guna tetap bersemangat untuk datang datang ke vihara, walau pun memang tidak sebanyak seperti minggu-minggu sebelumnya, ini mungkin karena banyaknya kesibukan karena beberapa hari lagi akan lebaran. Dalam kesempatan ini, Bapak Hemartha yang diberikan kesempatan untuk mengisi dhammadesana. Beliau menjelaskan mengenai perjuangan dan proses dalam hidup ini. Di dalam agama buddha terutama di Vihara Surya Adhi Guna pasti ada yang namanya organisasi seperti ketua dan sejajarnya. Baik dalam kebaktian sekolah minggu (GABI), Remaja, maupun kebaktian ini tidak lepas dari sebuah kepengurusan, mulai dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, dan lain-lain yang berkecimpung ini seyogyanya kita ikut berperan aktif dalam sebuah kepengurusan. Jika kita terlibat dalam suatu organisasi kita mau tidak mau akan berusaha untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan dan pelayanan untuk banyak orang. Dalam pengertian kepengurusan tidak penting tertulis jabatan-jabatannya tapi yang penting adalah bagaimana kita dapat selalu mengembangkan Buddha dhamma dengan baik dan melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat untuk diri kita dan semua orang.
Kita tidak akan tahu berapa lama kita hidup di dunia ini, sadarilah hidup ini tidak kekal. Kadang kita di atas, suatu saat bisa saja berada di bawah. Oleh karna itu banyak-banyak lah untuk melakukan sesuatu hal yang terbaik! baik bagi diri sendiri dan juga orang banyak. "Saya pernah melihat dhammadesana dari samanera Abhasaro yang tidak lain kita kenal adalah saudara Mirad. Di dalam dhammadesanya itu diputarkan sebuah video. Didalam video itu digambarkan seorang ibu yang sedang melahirkan, lalu bayinya yang masih merah tersebut pun meluncur di udara berproses menjadi remaja, berproses lagi menjadi dewasa, lalu tua dan kemudian masuk ke dalam liang kubur. Begitu cepatnya kehdupan kita ini. Namun ketika kita renungkan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, sepertinya baru saja kemarin. Mengingatkan kita kalau kehidupan itu hanya sekejap mata.
lalu Bpk. Hemartha bercerita kalau dulu beliau sering melakukan latihan meditasi. "Yang saya alami pada saat saya masih sering melakukan meditasi, ketika tidur pun nyenyak tidak ada gangguan apapun. Kita pun sering kali mengalami kesusahan pada saat meditasi. Dalam tahap belajar kita bisa melakukan tahap yang lebih mudah dahulu seperti menyadari keluar masuknya udara".Yang jelas, untuk melakukan perbuatan baik banyak sekali hambatannya dan halanganya, secara jujur untuk bisa datang ke vihara pun kita masih merasa sukar apalagi ketika kita dalam keadaan tidak sehat pasti kita akan menjadi malas untuk berangkat ke vihara. Tetapi biasanya untuk berbuat sesuatu yang tidak baik terasa begitu mudah dan gampang unuk dilakukan.
Berbahagialah ibu-bapak serta saudara-saudari yang masih sempat datang ke vihara. Kehidupan kita sendiri ini tergantung pada karma sekarang dan karma yang masa lampau, dan kehidupan kita nanti juga ditentukan oleh perbuatan kita yang sekarang. Alam kehidupan berumah tangga kita tidak terbebas dari sila-sila yang harus kita jalan kan untuk melatih diri agar menjadi lebih baik oleh karna itu jalankan sila dengan sebaik-baiknya.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia...
Sadhu 3x

Readmore..

Thursday, February 2, 2012

Bapak Hemarta : Pentingnya Konsentrasi

| Thursday, February 2, 2012 | 0 comments

Selamat Datang di Blog Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok
Blog ini kami persembahkan untuk teman-teman kami yang rindu akan suasana Vihara, teman-teman yang berminat belajar Dhamma, dan berbagi pengalaman spiritual. Blog ini juga kami dedikasikan sebagai jembatan para umat Vihara Surya Adhi Guna yang tidak dapat datang ke Vihara, kami menyediakan liputan, ringkasan kebaktian, foto-foto dan video setiap aktivitas yang up to date.
Semoga bermanfaat.

Readmore..

Wednesday, February 1, 2012

Romo Pannajayo : Lemah Lembut

| Wednesday, February 1, 2012 | 0 comments

Protokol: Antoni kho ( Facebook )
Penyala Lilin Altar:
Fellita Anjani (Facebook)
Pembaca Dhammapada: Mellisa Rosia (Facebook) dan Meylianawati Dewi ( Facebook )
Pengumuman1 : Grace Chandra ( Facebook )
-design jaket.
-Prosesi puja untuk Kahtina
Pengumuman2 : Sidhi Agustiana Taniman ( Facebook )
-untuk yang sekolah di Yos Sudarso Karawang dan sekolah swasta lainnya, jika ingin surat aktivitas harus rajin datang ke Vihara. Karena nanti akan di absen.
Dhammadesana : Romo Pannajayo
Penulis : Nadila (Facebook)

Pada malam yang berbahagia ini, adik-adik dapat hadir ke Vihara walaupun ini hari libur panjang dimana kebanyakan orang sudah pergi berlibur bersama keluarga. (pembuka).

Romo memulai ceramah Dhammanya dengan tema lemah lembut. Kita sebagai manusia yang terlahir sebagai makhluk yang harus bersosialisasi. Kita tidak bisa hidup tanpa mengandalkan orang lain. Kita membutuhkan semua orang. Maka dari itu, sikap kita terhadap orang lain harus lemah lembut. Jangan sampai kita berbicara kasar kalau kita membutuhkan orang lain.
Beberapa tahun yang lalu ada seorang teman saya yang mengatakan bahwa “saya tidak membutuhkan orang tua saya lagi!”. Pada saat itu, ia sedang bertengkar dengan orang tuanya. Akhirnya beliau pergi dari rumah. Setelah saya hubungi, ternyata ia ada di Jakarta. Di Jakarta ia bekerja dengan susah payah. Orang tua di rumah menanti anaknya untuk segera pulang. Saat itu saya bujuk ia untuk pulang. Akhirnya ia pulang bersama saya. Setelah sampai di rumah, ia meminta maaf pada orang tuanya. Dengan gembira Orang tuanya pun memaafkan anaknya. Setelah itu, ia dinikahkan orang tuanya. Kehidupannya menjadi membaik setelah bantuan dari orang tuanya. Sampai akhirnya ia bisa mandiri sendiri. Lalu saat ia bisa membiayai keluarganya sendiri, saya bertanya “kamu masih membutuhkan orang tua kamu tidak?”
Beliau menjawab “ ya, saya masih membutuhkan orang tua saya”.

Dari cerita tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa kita masih membutuhkn orang lain apalagi orang tua kita. Walaupun kita sudah mandiri, kita tetap membutuhkan orang tua kita untuk menyokong mereka. Seperti yang tertulis pada Manggala Sutta, Berbakti pada ayah dan ibu adalah berkah utama. Kalau kita tidak membutuhkan orang lain, siapa yang mau menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan? Maka dari itu, kita harus memperlakukan mereka dengan Lemah Lembut. Karena Lemah Lembut adalah salah satu modal untuk mencapai kebahagiaan tertinggi.

Semoga semua makluk hidup berbahagia.
Sadhu… sadhu… sadhu…

Readmore..

Tuesday, January 31, 2012

Bapak Rajen : Dhamma Indah Pada awalnya, Indah Pada Tengahnya dan Indah Pada Akhirnya

| Tuesday, January 31, 2012 | 0 comments

Kebhaktian umum, 11 September 2009
Protokol : Grace Chandra
Penyalaan Lilin Altar : Romo Pannajayo
Pembacaan Dhammapada : Ibu Cuilan (Gatha 354 dan 355)
Dhammadesana : Romo Rajen
Penulis : Grace Chandra

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhasa … (3X)
Namo Sang Yang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya…!!!

Malam ini Romo Rajen memberikan ulasan mengenai Dhamma. Dhamma merupakan kebenaran sejati atau ajaran kebenaran. Menurut Anguttara Nikaya I halaman 22 dikatakan bahwa “Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada tengahnya dan indah pada akhirnya.
Dhamma dikatakan indah pada awalnya karena Dhamma dapat membimbing dan membentengi diri kita. Dhamma dapat memberikan tuntunan kepada kita agar diri kita keluar dari Dosa, Loba dan Moha. Dhamma berisi peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh Guru Buddha sejak 2500 tahun yang lalu. Hidup ini memang perlu peraturan dengan adanya peraturan hidup akan lebih teratur, tenang, tentram dan damai. Untuk umat awam terdiri atas 5 sila, sedangkan para Bhikkhu terdiri atas 227 sila. Dengan menjalankan Dhamma, kita akan merasakan hidup yang bahagia, damai dan penuh dengan keseimbangan.
Dhamma itu indah pada tengahnya karena Dhamma dapat menuntun kita pada ketenangan batin dan memperoleh pandangan terang. Ketenangan batin dan pandangan terang ini dapat kita peroleh dengan jalan mempraktekkan meditasi. Semua ini dapat kita peroleh dengan kekuatan diri kita sendiri dan semuanya ada didalam diri kita sendiri.
Romo Rajen lalu bertanya kepada semua umat yang hadir mengenai apa saja manfaat yang diperoleh dari latihan meditasi. Setelah dirangkum, ternyata meditasi memberikan manfaat antara lain bertambahnya kesabaran, bertambahnya konsentrasi, mengikis dosa, loba dan moha, dan menjadi tenang. Dari banyaknya jawaban yang ada Romo Rajen menambahkan manfaat meditasi yang telah ia rasakan dari berbagai latihan meditasi yang telah dijalaninya. Romo Rajen merasakan dengan meditasi ia dapat melihat seperti apakah dirinya saat ini. Beliau tersadar bahwa dirinya telah banyak melanggar sila. Akhirnya ia tersadar sehingga beliau berjanji dalam diri akan bertobat serta ingin menjadi pengabdi Dhamma. Meditasi yang teratur juga dapat mengontrol gula darah beliau sehingga berada dalam batas rendah.
Setelah mengupas tentang begitu banyaknya manfaat dari bermeditasi lalu Romo Rajen memberikan tips meditasi sebagai berikut:
- Pilihlah tempat duduk yang paling sesuai atau nyaman (teratai penuh, setengah teratai atau kedua kaki dalam posisi sejajar)
- Tegakkan badan , simpan telapak tangan dipangkuan dengan rilieks dan mata kemudian dipejamkan.

Ada dua jenis meditasi yang kita kenal yaitu :
1. Meditasi ketenangan batin, Samantha Bhavana Contohnya: Meditasi memperhatikan napas (Anapannasati Bhavana)
2. Meditasi pandangan terang, Vipasanna Bhavana

Oleh sebab itu Dhamma dikatakan indah pada tengahnya karena dapat memberikan ketenangan dan pandangan terang apabila kita mau mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dan yang terakhir Dhamma dikatakan indah pada akhirnya karena dengan Dhamma dapat menghasilkan manusia-manusia bijaksana. Kebijaksanaan dapat kita peroleh dengan sendirinya jika kita selalu mempraktekkan sila dan Samadhi dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dengan melihat ulasan ini semoga saja kita semakin terpacu untuk menjalankan dhamma di dalam kehidupan kita masing-masing. Dhamma itu memang sungguh indah pada awal, tengah dan akhirnya.
Demikianlah ringkasan kebhaktian umum, 11 September 2009. Semoga bermanfaat.
Sadhu…! Sadhu…! Sadhu…!

Readmore..

Tuesday, January 17, 2012

SILAVIMAMSA – JATAKA NO. 330

| Tuesday, January 17, 2012 | 1 comments

“Kekuatan yang ada di bumi,” dan seterusnya. – Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Maha Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang brahmana yang pernah membuktikan kebaikannya. Dua kisah yang hampir sama telah disebutkan sebelumnya1. Dalam hal ini Bodhisattva lahir dalam keluarga brahmana di Kerajaan Benares.

Dalam membuktikan kebaikannya sepanjang waktu tiga hari dia mengambil sebuah koin dari tempat harta karun. Sekelompok orang memberikan informasi bahwa dia adalah seorang pencuri, dan ketika akan dibawa kepada Sang Raja, dia berkata :

Kekuatan di bumi tiada bandingnya,
Kebaikan mempunyai sesuatu yang sangat menakjubkan :
Memperoleh berkah dari angkasa,
Ular-ular yang mematikan menghindari semua kejahatan.

Setelah selesai mengucapkan kebaikan yang tertuang dalam syair pertama, dia memperoleh pengampunan dari Sang Raja dan hidup menjadi seorang pertapa. Pada saat itu seekor elang menyahut sepotong daging dari tempat penjual daging dan menukik tajam ke udara. Burung-burung lain mengitarinya dan menabraknya dengan cakar, paruh dan kuku-kukunya. Karena tidak mampu untuk menahan rasa sakitnya ia melepaskan daging tersebut. Kemudian burung lain menangkapnya. Hal tersebut seperti mengkondisikan keaadaan penekanan agar daging yang dibawanya jatuh. Kemudian burung yang lain memperebutkannya, dan siapa saja yang akan mendapatkan daging akan dikejar oleh burung-burung lain bahkan sampai mati, dan barang siapa yang melepaskan daging tersebut akan terbebas. Bodhisatta memahami keadaan ini, “nafsu-nafsu yang ada pada diri kita seperti sepotong daging. Barang siapa yang melekat padanya akan menderita, dan barang siapa yang tidak melekat padanya akan memperoleh perdamamian.” 

Dan dia menguncarkan bait syair yang kedua :
Ketika elang hendak memakan daging,
Burung-burung mematuknya hingga terluka
Ketika ia terpaksa melepaskan dagingnya,
Kemudian mereka tidak menyerangnya kembali.

Readmore..

Monday, January 16, 2012

KUTADANTA SUTTA

| Monday, January 16, 2012 | 0 comments

Demikianlah yang saya dengar.

1. Pada suatu ketika Sang Bhagava serta sekelompok besar bhikkhu sangha, sebanyak lima ratus bhikkhu, sedang mengadakan perjalanan melalui kerajaan Magadha dan tiba di Brahmanagama, menginap di Ambalatthika, Khanumata. Pada waktu itu Brahmana Kutadanta tinggal di Khanumata, tempat yang ramai, banyak padang rumput, hutan dan jagung, daerah yang dihadiahkan oleh Raja Bimbisara kepadanya dan ia menguasai daerah itu bagaikan raja. Ketika itu persiapan untuk upacara korban besar telah dipersiapkan atas nama Brahmana Kutadanta. Seratus pasang sapi dan seratus pasang kambing telah disiapkan di tempat upacara.

2. Sementara itu, para brahmana dan penduduk Khanumata mendengar berita tentang kedatangan Samana Gotama, maka mereka berduyun-duyun pergi ke Ambalatthika.

3. Pada saat itu, Brahmana Kutadanta berada di teras atas rumahnya untuk istirahat, ia melihat orang-orang yang bepergian itu, ia bertanya kepada penjaga pintu tentang kepergian orang-orang itu. Penjaga pintu menerangkannya.

4. Kemudian Kutadanta berpikir: “Saya mendengar bahwa Samana Gotama mengerti tentang pelaksanaan upacara korban yang sukses dengan ‘tiga metoda serta enam belas peralatan tambahannya’.” Saya tidak mengetahui semua hal ini, namun saya akan melaksanakan upacara korban. Nampaknya baik bagi saya bila saya menemui dan menanyakan hal ini kepada Samana Gotama. Maka ia menyuruh penjaga pintu agar menemui para brahmana dan penduduk Khanumata untuk menunggunya karena ia pun mau menemui Sang Bhagava.

5 – 8. Ketika itu pula, ada banyak brahmana yang berada di Khanumata untuk mengambil bagian dalam upacara korban besar itu. Pada saat mereka mendengar berita ini, mereka menemui Kutadanta dan membujuknya, dengan alasan seperti yang telah mereka ajukan kepada Sonadanda, agar ia jangan pergi. Namun Kutadanta menjawab seperti apa yang dikatakan oleh Sonadanda kepada mereka. Mereka menjadi puas dan pergi bersama Kutadanta menemui Sang Bhagava.

9. Setelah Brahmana Kutadanta duduk, ia mengatakan apa yang telah ia dengar kepada Sang Bhagava dan memohon Beliau menerangkan tentang pelaksanaan upacara korban yang sukses dengan tiga metoda serta enam belas kondisi. “Brahmana yang baik, dengar dan perhatikanlah apa yang akan Saya katakan.” “Baik,” jawab Brahmana Kutadanta.

“Dahulu kala ada seorang raja bernama Mahavijito yang  memiliki harta dan kekayaan yang besar sekali; memiliki gudang-gudang emas dan perak serta hal-hal yang menyenangkan, barang-barang serta panen yang baik; lumbung dan penyimpanan harta yang penuh. Pada suatu hari ia sedang duduk sendiri, merenung dan berpikir:

“Saya memiliki segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Seluruh dunia menjadi milikku karena saya taklukkan. Suatu hal yang baik jika saya melakukan upacara korban yang besar guna memantapkan kesejahteraan dan kejayaanku saya untuk kemudian hari.” Raja memanggil brahmana penasehat spiritualnya dan mengatakan apa yang telah dipikirkannya dengan berkata: “Saya akan senang sekali melakukan upacara pengorbanan yang besar demi kejayaan dan kesejahteraanku untuk masa yang lama. Katakan padaku bagaimana caranya?” Penasehat raja menjawab: “Kerajaan sedang dalam kekacauan. Ada perampok yang merajalela di desa-desa dan kota-kota dan mengakibatkan jalan-jalan tidak aman. Bilamana hal itu masih seperti itu, lalu raja akan menarik pajak, maka raja akan bertindak salah. Namun bilamana raja berpendapat, ‘saya akan segera menghentikan perampok-perampok itu dengan cara penangkapan, mendenda, mengikat dan menghukum mati!’ Tetapi kejahatan itu tidak akan lenyap dengan seperti itu. Karena penjahat yang tak tertangkap akan tetap melakukan kejahatan. Ada sebuah cara yang dapat dilakukan untuk menghentikan kekacauan ini. Siapa saja dalam kerajaan yang hidup sebagai peternak dan petani, raja berikan makanan dan bibit kepada mereka. Siapa saja dalam kerajaan yang hidup sebagai pedagang, raja berikan modal kepada mereka. Siapa saja dalam kerajaan yang hidupnya sebagai pegawai negara, raja berikan gaji dan makanan kepada mereka. Orang-orang itu melaksanakan pekerjaan mereka masing-masing, maka pendapatan negara akan meningkat, kerajaan akan aman dan damai, rakyat akan senang dan bahagia, mereka akan menari dengan anak-anak mereka dan mereka hidup dengan rumah yang aman.

Raja Mahavijita menerima dan melaksanakan seperti apa yang disampaikan oleh  penasehat kepadanya. Demikianlah, rakyat hidup melaksanakan tugas mereka masing-masing, akibatnya kejahatan lenyap. Perbendaharaan raja bertambah. Kerajaan menjadi aman dan damai. Rakyat menjadi senang dan bahagia, mereka menari dengan anak-anak mereka dan mereka hidup dengan rumah yang aman.
12.   Kemudian raja memanggil penasehat dengan berkata: “Kerajaan telah aman dan damai. Saya mau melaksanakan upacara korban yang besar guna kesejahteraan dan kejayaan pada masa mendatang. Bagaimana cara melakukannya dengan baik?”

“Seyogyanya, raja mengirimkan undangan kepada siapa saja dalam kerajaan ini sebagai kesatrianya di kota-kota atau desa-desa; atau para menteri, brahmana atau perumah tangga di kota maupun di desa, dengan mengatakan: ‘Saya akan melaksanakan upacara korban yang besar. Saya harap anda sekalian menjadi saksi guna kesejahteraan dan kejayaanku di masa mendatang’.” “Brahmana, Raja Mahavijita menerima anjuran penasehat dan ia melakukannya. Maka mereka masing-masing para kesatria, menteri, brahmana dan perumah tangga memberikan jawaban yang sama: ‘Semoga maha raja melaksanakan upacara korban. Raja, waktu telah tepat’.”  Begitulah, empat kelompok ini menyetujui pelaksanaan upacara serta ikut bagian dalam upacara tersebut.

13.   Raja Mahavijita memiliki delapan hal, yaitu: Ia dilahirkan dari ayah dan ibu yang memiliki garis keturunan yang baik dari tujuh generasi, tanpa cacat maupun kritikan untuk kelahirannya. Ia rupawan, berpenampilan yang menyenangkan, dipercayai, tubuhnya yang bagus, berwarna cerah, berpotongan yang baik dan tegap.

Ia maha besar, memiliki harta kekayaan yang besar, gudang emas dan perak serta hal-hal yang menyenangkan, barang-barang dan panen yang baik, lumbung dan penyimpanan harta yang penuh. Ia sangat berkuasa, komandan pasukan yang loyal dan disiplin, terdiri dari empat divisi yaitu: pasukan gajah, kuda, kereta dan pemanah; nampaknya musuhnya dikalahkan oleh keperkasaannya. Ia yakin pada agama, dermawan, penyantun menyokong para samana, brahmana, orang miskin, pengembara, minta-minta dan pemohon; pelaku perbuatan-perbuatan baik. Ia terpelajar untuk berbagai macam pengetahuan.

Ia mengetahui apa yang telah dikatakan dan dapat menerangkan: ‘Kata-kata itu mempunyai arti anu dan itu dst.. ‘Ia pintar, ahli, bijaksana dan dapat memikirkan hal sekarang, yang lampau atau yang akan datang. Inilah delapan hal yang dimilikinya, yang juga menjadi bahan persiapan untuk upacara korban.

14.   Brahmana penasehat spiritualnya memiliki empat hal, yaitu: Ia dilahirkan dari ayah dan ibu yang memiliki garis keturunan yang baik dari tujuh generasi, tanpa cacat maupun kritikan untuk kelahirannya. Ia siswa yang telah menghafal mantra-mantra, menguasai tiga veda dengan semua indeks, ritual, phonologi, tafsiran, legenda, terpelajar dalam idiom dan gramatika, menguasai pengetahuan alam (lokayata) dan tiga puluh dua tanda tubuh orang besar (maha purisa). Ia saleh, bermoral dan memiliki sila yang berkembang dengan baik.
Ia pintar, ahli dan bijaksana, merupakan orang yang terutama atau kedua dari orang yang berkuasa.
Inilah empat hal yang dimilikinya, yang juga menjadi bahan persiapan untuk upacara korban.

15.   Namun sebelum upacara dimulai, penasehat menerangkan tiga hal kepada raja:
‘Bilamana, sebelum upacara mulai, raja menyesal: ‘Betapa besar kekayaan yang aku akan habiskan dalam upacara ini’, janganlah raja berpikiran seperti ini. Bilamana sementara melaksanakan upacara, raja menyesal: ‘Betapa besar kekayaan yang aku akan habiskan dalam upacara ini’, maka janganlah raja berpikiran seperti itu. Bilamana upacara korban telah selesai, raja menyesal: ‘Betapa besar kekayaan yang telah saya habiskan’, janganlah raja berpikiran seperti itu.’
Demikianlah penasehat menerangkan tiga hal kepada raja.

16.   “Brahmana, selanjutnya sebelum upacara mulai dan untuk mencegah penyesalan yang muncul pada orang-orang yang ikut melaksanakan upacara, penasehat berkata: “Saudara-saudara mungkin dalam pelaksanaan upacara korban ada orang-orang yang membunuh makhluk hidup dan ada yang menghindari pembunuhan; orang yang mengambil yang tidak diberikan dan orang yang menghindarinya; orang yang memuaskan nafsu dengan cara yang salah dan orang yang menghindarinya; orang yang berdusta dan orang yang tak berdusta, orang yang bicara kasar dan orang yang tak bicara kasar, orang yang memfitnah dan orang yang tak memfitnah, orang yang bergunjing dan orang yang tak bergunjing; orang yang serakah dan orang yang tak serakah; orang yang membenci dan orang yang tak membenci; dan orang yang berpandangan salah serta orang yang berpandangan benar. Mengenai orang-orang ini, mereka yang berbuat jahat, biarkanlah dengan kejahatan mereka itu. Sedangkan bagi mereka yang berbuat baik, semoga raja dan saudara sekalian mempersilahkan mereka melaksanakan upacara dan seyogyanya raja memberikan hadiah kepada mereka sesuai dengan kesediaan raja.”

17.   “Brahmana, sementara raja melaksanakan upacara, penasehat mengarahkan dan menyenangkan serta menggembirakan hatinya dengan enam belas hal: Bilamana ada orang yang membicarakan tentang raja, selagi raja melakukan upacara: ‘Raja Mahavijita melaksanakan upacara korban tanpa mengundang empat kelas masyarakat dari rakyatnya, ia sendiri tak memiliki delapan hal, juga tanpa bantuan dari penasehat yang memiliki empat hal; maka mereka tidak berbicara berdasarkan fakta. Karena raja telah mendapat persetujuan dari empat kelas masyarakat, raja memiliki delapan hal dan penasehatnya memiliki empat hal. Sehubungan dengan setiap faktor dari enam belas hal, semoga raja yakin bahwa semua hal itu telah terpenuhi. Ia dapat melaksanakan upacara, gembira dan damai.’”

18.   “Brahmana, dalam pelaksanaan upacara tidak ada sapi, kambing, unggas, babi yang dibunuh atau tidak ada makhluk hidup mana pun yang dibunuh. Tidak ada pohon yang ditebang untuk dijadikan tiang, tidak ada rumput ‘Dabba’ yang disabit dan diletakkan di sekeliling tiang. Para pekerja dan pembantu atau pekerja yang bekerja, tidak ada yang diancam dengan cambuk atau tongkat, sehingga tidak ada tangisan maupun air mata bercucuran di wajah mereka. Siapa yang ingin membantu, ia bekerja; ia yang tidak mau membantu, tidak bekerja. Setiap orang melakukan sesuai apa yang ia inginkan; melakukan atau tidak melakukan. Upacara dilaksanakan dengan hanya menggunakan ghee, minyak, mentega, susu, madu dan gula.

19.   “Brahmana, selanjutnya para kesatria, menteri, brahmana, petugas dan perumah-tangga, apakah dari kota atau desa, dengan membawa banyak harta, pergi menemui Raja Mahavijita, dan berkata: “Raja, harta yang banyak ini, kami bawa kemari untuk raja. Semoga raja menerimanya langsung dari kami!” “Saudara-saudara, saya telah memiliki cukup banyak harta yang didapat berdasarkan penarikan pajak yang adil. Bawa kembali milikmu itu dan ambil lagi secukupnya.!” Setelah raja menolak menerima, mereka bersama-sama ke samping dan berembuk: “Tidak pantas bagi kita untuk membawa kembali harta ini ke rumah kita masing-masing. Raja Mahavijita telah mengorbankan banyak untuk upacara. Sebaiknya kita melakukan upacara pula.”

20.   Maka para kesatria membangun sambungan bagian upacara di sebelah timur lobang upacara; para pegawai membangun di selatan, para brahmana membangun di barat di utara. Barang-barang dan bentuk dana mereka adalah mirip dengan yang dilakukan oleh raja sendiri. Demikianlah, ada empat kelas masyarakat, Raja Mahavijita memiliki delapan hal dan brahmana penasehatnya memiliki empat hal. Ada tiga metoda melaksanakan upacara korban. Ini yang disebut pelaksanaan upacara dalam tiga metoda dan enam belas kondisi.

21.   Setelah Sang Bhagava menerangkan, para brahmana membuat suara riuh dan berkata: “Betapa agung upacara itu, sungguh suci pelaksanaannya!” Tetapi Brahmana Kutadanta hanya duduk diam saja. Lalu para brahmana itu berkata kepada Kutadanta: “Mengapa anda tidak menyetujui uraian yang baik dari Samana Gotama?”

“Saya bukan tidak menyetujui, karena barang siapa tidak menyetujui apa yang telah diterangkan dengan baik oleh Samana Gotama, maka kepalanya akan pecah tujuh. Saya sedang memikirkan bahwa Samana Gotama tidak berkata: “Demikian yang Saya dengar”, atau “Demikian itu terlihat”, tetapi hanya berkata “Begitulah hal itu,” atau “Itu demikian”. Jadi, saya berpendapat: “Sesungguhnya Samana Gotama sendiri pada waktu itu adalah Raja Mahavijita atau Brahmana Penasehat Spiritual raja. Apakah Samana Gotama mengakui bahwa ia yang melaksanakan upacara korban atau menyebabkan upacara itu dilaksanakan, yang setelah meninggal dunia ia terlahir di alam bahagia di surga?”

“Brahmana, ya saya mengakuinya. Pada waktu itu saya adalah brahmana penasehat pada upacara korban.” “Gotama, apakah ada upacara korban yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat yang lebih baik daripada upacara itu?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?”“Dana yang diberikan secara tetap kepada para pertapa yang memiliki sila yang baik.”

22.   “Gotama, tetapi apakah alasan dan sebab maka dana yang diberikan secara tetap kepada para pertapa yang memiliki sila yang baik adalah tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat yang lebih baik daripada upacara yang memiliki tiga metoda dan enam belas kondisi.” Brahmana, karena para arahat tidak akan pergi atau tidak ada jalan kearahatan pada upacara korban. Mengapa tidak ada? Sebab pada upacara korban terjadi pemukulan dan penangkapan di leher. Namun para arahat akan mendatangi tempat pemberian dana secara tetap, karena di situ tidak ada pemukulan atau penangkapan. Dengan demikian, maka pemberian dana secara tetap lebih tinggi daripada upacara korban.”

23.   “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada kedua cara ini?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?” “Mendirikan vihara atas nama Sangha pada empat arah.”

24. “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada tiga cara ini?” “Ya ada, brahmana.”
“Gotama, apakah itu?” “Orang yang memiliki keyakinan dan berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha; inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada tiga cara itu.”

25.   “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada empat cara ini?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?” “Jika seseorang dengan keyakinan melaksanakan sila, yaitu menghindari diri dari: pembunuhan makhluk hidup, mengambil barang yang tidak diberikan, pemuasan nafsu dengan cara yang salah, dusta, minum minuman yang dapat menyebabkan ketidakwaspadaan; 
 inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada empat cara itu.”

26.   “Gotama, apakah ada upacara yang tidak sulit dan tidak merepotkan namun menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada lima cara ini?”
“Ya ada, brahmana.” “Gotama, apakah itu?” “Brahmana, seandainya di dunia ini muncul seorang Tathagata, yang maha suci, telah mencapai Penerangan Agung, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduknya, sempurna menempuh Jalan, pengenal segenap alam, pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, guru para dewa dan manusia, yang Sadar, patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usaha-Nya sendiri kepada orang-orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan para dewa brahmana; para pertapa, brahma, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan Dhamma (Kebenaran) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir, dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan cara hidup selibat (brahmacariya) yang sempurna dan suci.” “Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga-rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya ia memperoleh keyakinan, ia ingin menjadi bhikkhu. Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan Patimokkha (peraturan-peraturan bhikkhu), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-murni dan pengertian-jelas (sati-sampajanna); dan hidup puas.” “Bagaimanakah, seorang bhikkhu yang sempurna silanya? Dalam hal ini, seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan makhluk-makhluk; menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hidup selibat dan menjauhi kedustaan. Ia menjauhi ucapan menfitnah, menahan diri dari menfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakan di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan di sini. Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan, persatuan merupakan tujuan pembicaraannya. Ia menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar, ia menjauhi pembicaraan yang menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat, ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang Dhamma dan Vinaya. Ia melaksanakan Cula Sila, Majjhima Sila dan Maha Sila (seperti yang tersebut dalam Brahmajala Sutta).
‘Selanjutnya, seorang Bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian terhadap sila. Sama seperti seorang ksatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuhnya telah dikalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh; demikian pula, seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila. Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukham). Demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki sila-sempurna’. Bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu inderanya? Bilamana seorang bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penglihatannya. Ia menjaga indera penglihatannya.
Bilamana ia melihat suatu obyek dengan matanya, ia mendengar suara dengan telinganya, mencium bau dengan hidungnya, ia mengecap rasa dengan lidahnya, ia merasakan sentuhan dengan tubuhnya, atau ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera-inderanya. Ia menjaga indera-inderanya, dan memiliki pengendalian terhadap indera-inderanya.
Bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki perhatian murni dan pengertian jelas? Dalam hal ini seorang bhikkhu mengerti dengan jelas sewaktu ia pergi atau sewaktu kembali; ia mengerti dengan jelas sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping; ia mengerti dengan jelas sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati), jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk (patta); ia mengerti dengan jelas sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan; ia mengerti dengan jelas sewaktu buang air atau sewaktu kencing; ia mengerti dengan jelas sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun berbicara atau diam. Bagaimanakah seorang bhikkhu merasa puas? Dalam hal ini seorang bhikkhu merasa puas hanya dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Kemana pun ia pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal ini.

Setelah memiliki kelompok-sila yang mulia ini, memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini, memiliki perhatian murni dan pengertian jelas yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah kubur, di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatiannya ke depan’. Dengan menyingkirkan keinginan nafsu keduniawian, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari keinginan nafsu, membersihkan pikirannya dari nafsu-nafsu. Dengan menyingkirkan itikad-jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itikad-jahat, dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pikirannya dari itikad-jahat. Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada penyerapan terhadap cahaya (akkasanni), ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan. Dengan menyingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran. Dengan menyingkirkan keragu-raguan, ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan. Demikianlah, selama lima rintangan (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang. Tetapi setelah lima rintangan itu  disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang. Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan itu telah disingkirkan dari dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuhnya terasa nyaman, karena tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat. Kemudian, setelah terpisah dari nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana I; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti-sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan vitaka (pengarahan pikiran pada obyek) dan vicara (obyek telah tertangkap oleh pikiran). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka). Selanjutnya seorang bhikkhu yang telah membebaskan diri dari vitaka dan vicara, memasuki dan berdiam dalam Jhana II; yaitu keadaan batin yang tergiur dan bahagia, yang timbul dari ketenangan konsentrasi, tanpa disertai dengan vitaka dan vicara, keadaan batin yang memusat. Demikianlah seluruh tubuhnya dipenuhi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari konsentrasi, dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari konsentrasi. Selanjutnya seorang bhikkhu yang telah membebaskan dirinya dari perasaan tergiur, berdiam dalam keadaan seimbang yang disertai dengan perhatian murni dan pengertian jelas. Tubuhnya diliputi dengan perasaan bahagia, yang dikatakan oleh para ariya sebagai ‘kebahagiaan yang dimiliki oleh mereka yang batinnya seimbang dan penuh perhatian-murni; ia memasuki dan berdiam dalam Jhana III. Demikianlah seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan bahagia yang tanpa disertai dengan perasaan tergiur itu’. Selanjutnya, dengan menyingkirkan perasaan bahagia dan tidak bahagia, dengan menghilangkan perasaan-perasaan senang dan tidak senang yang telah dirasakan sebelumnya, bhikkhu itu memasuki dan berdiam dalam Jhana IV, yaitu suatu keadaan yang benar-benar seimbang, yang memiliki perhatian-murni (satiparisuddhi) bebas dari perasaan bahagia dan tidak bahagia. Demikianlah ia duduk di sana, meliputi seluruh tubuhnya dengan perasaan batin yang bersih dan jernih’. Brahmana, inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada cara-cara lain. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan-terang yang timbul dari pengetahuan (nana-dassana). Demikianlah ia mengerti: “Tubuhku ini mempunyai bentuk, terdiri atas empat unsur-pokok (mahabhuta) berasal dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus menerus; bersifat tidak kekal, dapat mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran, dan kematian; begitu pula halnya dengan kesadaran (vinnana) yang terikat dengannya’. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat diguncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan ‘tubuh-ciptaan-batin’ (mano-maya-kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan ‘tubuh-ciptaan-batin’ melalui pikirannya, yang memiliki bentuk memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apapun’. Demikian pula dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu itu menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan ‘wujud-ciptaan-batin’ (mano-maya-kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan ‘tubuh-ciptaan-batin’ melalui pikirannya; yang memiliki bentuk, memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apa pun’. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan; ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk iddhi (perbuatan-perbuatan gaib). Ia melakukan iddhi dalam aneka ragam bentuknya; dari satu ia menjadi banyak, atau dari banyak kembali menjadi satu; ia menjadikan dirinya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat; tanpa merasa terhalang, ia berjalan menembusi dinding, benteng atau gunung, seolah-olah berjalan melalui ruang kosong; ia menyelam ia timbul melalui tanah, seolah-olah berjalan di atas tanah, dengan duduk bersila ia melayang-layang di udara. Seperti seekor burung dengan sayapnya; dengan tangan ia dapat menyentuh dan meraba bulan dan matahari yang begitu dahsyat dan perkasa, ia dapat pergi mengunjungi alam-alam dewa brahma dengan membawa tubuh kasarnya.’Dengan pikirannya yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan dibbasota (telinga-dewa). Dengan kemampuan dibba-sota yang jernih, yang melebihi telinga manusia, ia mendengar suara-suara manusia dan dewa, yang jauh atau yang dekat’.
Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada ceto-pariyanana (pengetahuan untuk membaca pikiran orang lain). Dengan menembus melalui pikirannya sendiri, ia mengetahui pikiran-pikiran makhluk lain, pikiran orang lain. Ia mengetahui: Pikiran yang disertai nafsu sebagai pikiran yang disertai nafsu, pikiran tanpa-nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu. Pikiran yang disertai kebencian …. pikiran tanpa kebencian …., pikiran disertai ketidaktahuan …., pikiran tanpa ketidaktahuan , pikiran yang teguh, ragu-ragu, berkembang, tidak berkembang, rendah, luhur dan bebas. Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang pubbenivasanussati (ingatan terhadap kelahiran-kelahiran lampau). Demikianlah ia ingat tentang bermacam-macam kelahirannya yang lampau, seperti: satu … sepuluh … seratus … seribu … seratus ribu kelahiran, kelahiran-kelahiran pada banyak masa-menjadinya-bumi (samvatta-kappa), melalui banyak masa kehancuran bumi (vivatta-kappa), melalui banyak masa-menjadi-kehancuran bumi (samvatta-vivatta-kappa). Ia ingat, di suatu tempat demikian, namaku, makananku, keluargaku, suku-bangsaku, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan, batas umurku adalah demikian. Kemudian, setelah aku berlalu dari keadaan itu, aku lahir kembali di suatu tempat, disana namaku, makananku keluargaku, suku-bangsaku, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan, batas umurku adalah demikian. Setelah aku berlalu dari keadaan itu, kemudian aku lahir kembali di sini’. Demikianlah ia mengingat kembali tentang bermacam-macam kelahirannya di masa lampau, dalam seluruh seluk beluknya, dalam seluruh macamnya’. Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk (cutupapata-nana), Dengan kemampuan dibba-cakkhu (mata-dewa) yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu kehidupan, muncul dalam kehidupan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia, dan menderita. Ia melihat bagaimana makhluk-makhluk itu muncul sesuai dengan perbuatan-perbuatannya: ‘Makhluk-makhluk ini memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang jahat, penghina para suci, pengikut pandangan-pandangan keliru, dan melakukan perbuatan menurut pandangan keliru. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam celaka, alam sengsara, alam neraka. Tetapi, makhluk-makhluk yang lain memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang baik, bukan penghina para suci, pengikut pandangan-pandangan benar, dan melakukan perbuatan menurut pandangan benar. Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga’. Demikianlah, dengan kemampuan dibba cakkhu (mata dewa) yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu kehidupan, muncul dalam kehidupan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita’.

Dengan pikiran yang terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang penghancuran noda-noda batin  (asava). Demikianlah, ia mengetahui sebagaimana adanya ‘Inilah dukkha’, ‘Inilah sebab dukkha’, ‘Inilah akhir dari dukkha’ dan ‘Inilah Jalan yang menuju pada lenyapnya dukkha’. Ia mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah akhir asava’ dan ‘Inilah Jalan yang menuju pada lenyapnya asava’. Dengan mengetahui, melihat demikian, maka pikirannya terbebas dari noda-noda nafsu (kamasava), noda-noda perwujudan (bhavasava), noda-noda ketidaktahuan (avijjasava). Dengan terbebas demikian, maka timbullah pengetahuan tentang kebebasannya, dan ia mengetahui: ‘Berakhirlah kelahiran kembali, terjalani kehidupan suci, selesailah apa yang harus dikerjakan, tiada lagi kehidupan sesudah ini’.‘Brahmana, inilah upacara yang menghasilkan pahala dan manfaat lebih besar daripada cara-cara lain.”

27.   Setelah Sang Bhagava berkata, Brahmana Kutadanta berkata kepada Sang Bhagava: “Gotama, sangat bagus kata-kata yang diungkapkan! Bagaikan orang yang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan benar kepada ia  yang tersesat atau memberikan cahaya dalam kegelapan agar mereka yapng mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Demikian pula dengan berbagai cara Dhamma telah dibabarkan oleh Samana Gotama kepadaku. Saya menyatakan bahwa saya berlindung kepada Samana Gotama, Dhamma dan Sangha. Semoga Samana Gotama menerima saya sebagai upasaka, mulai hari ini sampai selama-lamanya. Samana Gotama, saya sendiri akan melepasbebaskan tujuh ratus pasang sapi dan tujuh ratus pasang kambing. Saya menyelamatkan hidup mereka. Mereka dapat makan rumput hijau, minum air sejuk dan angin sejuk meliputi mereka.”

28.   Kemudian secara berurutan Sang Bhagava membabarkan kepada Kutadanta tentang: dana, perbuatan baik, surga, bahaya dari pemuasan nafsu dan manfaat hidup meninggalkan kehidupan duniawi. Ketika Sang Bhagava mengetahui bahwa Brahmana Kutadanta telah siap, lembut, tidak curiga, waspada dan berkeyakinan, maka dibabarkannya Dhamma yang ditemukannya yaitu tentang dukkha (penderitaan), asal mula dukkha, lenyapnya dukkha dan Jalan untuk melenyapkan dukkha.
Bagaikan kain bersih, yang nodanya tercuci bersih, siap untuk dicelup; demikian pula Brahmana Kutadanta yang sedang duduk di situ mencapai Mata Kebenaran yang bersih tanpa noda dan ia mengetahui bahwa ‘Segala sesuatu yang mempunyai sebab, pasti akan lenyap’.

29. Selanjutnya Brahmana Kutadanta sebagai seorang yang telah melihat ‘Kebenaran, menguasainya, mengerti, menyelam ke dalamnya, yang telah melampaui keragu-raguan dan melenyapkan kegelisahan dan memiliki keyakinan kuat, yang tidak tergantung lagi pada orang lain karena pengetahuannya pada ajaran Sang Guru, berkata kepada Sang Bhagava: “Semoga Samana Gotama bersama bhikkhu sangha memberikan kesempatan kepada saya dengan menerima makanan pada besok hari.” Sang Bhagava menerima undangan itu dengan bersikap diam. Brahmana Kutadanta setelah melihat Sang Bhagava telah menerimanya, bangkit dari duduk dan meninggalkan Sang Bhagava dengan berjalan di sisi kanan beliau. Setelah menjelang pagi ia menyediakan makanan manis, keras dan lembut pada lobang upacara, selanjutnya ia memberitahukan kepada Sang Bhagava: ‘Telah tiba waktunya, makanan telah siap’. Sang Bhagava setelah mengenakan jubah, mengambil jubah luar (civara) dan patta, bersama dengan para bhikkhu pergi ke lobang upacara Brahmana Kutadanta, Beliau duduk di tempat yang telah disediakan. Brahmana Kutadanta dengan tangannya sendiri melayani bhikkhu sangha yang dikepalai oleh Sang Bhagava, dengan makanan manis, keras dan lembut, hingga mereka menolak untuk menerimanya lagi. Setelah Sang Bhagava selesai makan, membersihkan patta dengan tangan-Nya, Brahmana Kutadanta duduk di tempat duduk yang rendah di samping Beliau. Setelah ia duduk, Sang Bhagava membabarkan membangkitkan, mendorong dan menggembirakan Brahmana Kutadanta dengan uraian dhamma; sesudah itu Beliau bangkit dari duduk dan pergi.

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

MOTIVASI

| Thursday, January 12, 2012 | 0 comments

Menjalani Hidup Dengan Berani
Hidup ini dapat menjadi petualangan yang menantang atau tidak berarti sama sekali. Demikaian bunyi kata bijak dari seorang yang luar biasa dengan cacat buta dan tuli bernama Helen Keller. Apa yang dikatakan bener adanya. Berapa banyak dari kita selama ini takut untuk mencoba, takut untuk melangkah, takut untuk melakukan sesuatu yang menurut kita bahwa kalau itu tercapai akan membuat kita bahagia, membuat kita berhasil dan bangga? Kita sudah membayangkan dulu hal-hal yang belum tentu terjadi, yang akhirnya mematikan semua potensi, energi, keinginan,kepuasan dan kebesaran yang kita inginkan.

Membangun Hidup yang lebih baik di awali dari SIKAP

Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita menjadi lebih baik dari yang lain, padahal mereka tidak lebih baik dulunya dalam pendidikan atau status sosialnya bahkan miskin melarat? Bahkan dalam sebuah Negara pun sama. Mengapa ada Negara-negara yang miskin sumber daya alamnya tetapi mampu menjadi Negara maju? Kita bisa lihat contoh dari beberapa Negara seperti Singapura, Jepang, Korea dll. Mereka menjadi Negara maju meskipun tidak memiliki sumber daya alam. Apa yang membuat perbedaan semua itu? Itu adalah SIKAP. Benar, sikaplah yang membuat seseorang berbeda satu dengan yang lain, termasuk Negara. Bahkan seseorang yang memiliki bakat hebatpun belum tentu mencapai keberhasilan dalam hidupnya.Orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka memiliki sikap untuk tidak menerima apapun yang diberikan oleh nasib. Mereka mampu merespon setiap hal yang tidak baik yang terjadi dalam hidup nya untuk melakukan sesuatu agar mereka menjadi orang yang mereka inginkan. Sementara orang yang gagal menerima segala yang terjadi dengan mengatakan itulah nasib mereka, mereka pantas menerimanya.
Hidup Adalah Pilihan

Saudara-saudara se Dhamma, Pernahkah terlintas dalam pikiran kita mengapa kita melihat ada orang lain di sekeliling kita hidup berkecukupan dan lebih bahagia dari yang lain? Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita hidup dengan lebih mudah tanpa harus bersusah payah? Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita mendapatkan apa yang mereka inginkan sementara yang lain tidak? Kita memang hidup sesuai dengan karma yang kita warisi. Apapun yang sudah kita lakukan, itulah karma sebagai buahnya. Kita berhubungan dengan orang lain adalah akibat karma kita. Sayangnya kata ‘karma’ itu membuat kita akhirnya ‘berlindung’ di atas ketidakmampuan dan ketidakberdayaan kita. Kita dengan mudah menyerahkan nasib hidup kita karena memang sudah di gariskan seperti itu, karena karma nya sudah begitu.

Readmore..

Paradigma yang Berkembangan..

| | 0 comments

Paradigma yang berkembang?
Kita sering membenarkan atau menyalahkan sesuatu dibangun dari paradigma-paradigma yang salah,sering kali kita terjebak dalam paradigma sekitar kita untuk "menghakimi" orang lain atas dasar keinginan kita sesaat dan juga atas dasar "lingkungan" sekitar kita..

Kita "menghakimi" seseorang,sebelum seseorang itu "sah" dinyatakan bersalah,kita selalu "senang" apabila melihat orang lain menderita,dan sering kali juga,kita tidak menyadari hal tersebut sudah berlangsung lama dalam "pikiran" kita..

Jika suatu media menyatakan si A adalah "diduga" menjadi menjadi tersangka pembunuhan,kita biasanya tidak mau tahu,dan hanya mengikuti pernyataan media,bahwa si A adalah tersangka,tanpa ba bi bu,kita langsung "menvonis" si A sebagai pembunuh,kita mengucilkan keluarga si A ,mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada keluarga si A,seakan-akan keluarga si A dan A adalah "kotoran" bagi diri kita,tetapi kita sendiri tidak pernah sadar,apakah kita lebih baik dari si A?

Jauh sebelum vonis pengadilan muncul,kita sudah memberikan "vonis" versi kita,paradigma sudah dibangun dan dikembangkan melalui "isu-isu" yang belum tentu benar isinya,kemudian isu-isu tersebut dibuat "seakan-akan" adalah hal yang benar dan disebarluaskan melalui dunia maya,atau mouth to mouth,bukan kah itu sangat menunjukan "kebodohan" kita dalam menanggapi suatu permasalahan yang didasari oleh sebuah paradigma ?

Sama seperti Umat Buddhisme saat ini,orang-orang yang layak dihormati,diteladani dan menjadi sumber dari Dhamma,malahan berbondong-bondong membangun paradigma disekitarnya tentang keberadan MMD sebagai sesuatu yang sesat,teroris atau yang berlawanan dengan Buddha Dhamma..
Atas dasar apa orang-orang seperti ini mengatakan hal yang tidak benar atau mungkin lebih tepat disebut "belum terbukti kebenarannya",mengapa hal yang "belum terbukti" kebenarannya disiarkan kepada banyak orang,bukankah itu lebih menunjukan "usaha" pemecahan antar kalangan Buddhisme?Walau disadari atau tidak disadari,saat ini hal yang dilakukan oleh mereka,hanya memecah belah umat Buddhisme menjadi 2 kubu,yang sekali lagi sama sekali tidak membawa manfaat apapun dalam perkembangan Buddha Dhamma di masa yang akan datang...

terlebih lagi,sampai saat ini tidak ada satu pun dari pihak penuduh[Saudara Butus,dkk] yang dapat berdiskusi dhamma secara baik dan santun,menggunakan kata-kata yang menyejukkan hati[bukan sindiran tentang personal,kata-kata kotor,kasar,keji berisi fitnahan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya] sehingga kita dapat mengambil kesimpulan,"Apakah benar paradigma yang sedang berkembang saat ini?" yang membingungkan saya sampai saat ini adalah tindakan-tindakan yang sama sekali tidak mencerminkan Buddhisme yang dilakukan oleh pihak penuduh,dimana pihak penuduh dalam posisi MENYALAHKAN bukan MENUNJUKAN KESALAHAN,sama sekali berbeda dengan cara diskusi Buddha pada zamanNya,dimana Buddha sering kali menempatkan dirinya dalam diskusi dhamma 2 arah,dan sering kali jika lawan diskusinya berpandangan salah,Buddha MENUNJUKKAN KESALAHANNYA bukan MENYALAHKANNYA!!!

Kalau seseorang tidak sanggup MENUNJUKKAN KESALAHANNYA ,bagaimana mungkin dia berhak untuk sekedar MENYALAHKAN?Saya merasa MENYALAHKAN seseorang atas ketidakmampuan diri sendiri dalam menjelaskan,adalah hal yang naif sekali!!!Itu sama dengan seseorang yang bodoh yang memaksakan kehendaknya sendiri,atas dasar pemuasaan hasrat keinginannya atau suatu sistem fanatik menggunakan nama Buddha,pelestarian Agama Buddha,mempertahankan Agama Buddha,itu adalah cara-cara kaum barbar,cara-cara kaum teroris yang fanatik,itu lebih menunjukan "sifat teroris" dalam Buddhisme dalam diri penuduh,daripada yang dituduh..

Buddha pernah berkata ajaranNya akan lenyap disebabkan oleh umatNya sendiri,memang benar sekali kata Buddha,karena sampai saat ini pun,sesama Buddhisme yang berjuang untuk melepaskan diri dari lingkaran samsara,malah sibuk menfitnah praktisi meditasi lainnya sebagai sesat,teroris,menggunakan isu-isu gay,dan lan sebagainya dan menganggap JMB8 sebagai sesuatu yang tidak sesat,MUTLAK BENAR,yang padahal hanya digengam sebagai KEMELEKATAN DIRI,EGO YANG BESAR dan KEANGKUHAN TAK TERTANDINGI..



Readmore..

Sunday, January 8, 2012

8 Kebohongan Ibu yang Bajik!

| Sunday, January 8, 2012 | 1 comments

1. Cerita ini dimulai ketika aku masih kecil, saya terlahir sebagai
anak lelaki dari sebuah keluarga miskin. Yang terkadang untuk makan
pun kita sering kekurangan. Kapanpun ketika waktu makan, ibu selalu
memberikan bagian nasi nya untuk saya. Ketika beliau mulai memindahkan
isi mangkuknya ke mangkuk saya, dia selalu berkata "Makanlah nasi ini
anak ku. Aku tidak lapar"

ini adalah kebohongan Ibu yang pertama.
2. Ketika aku mulai tumbuh dewasa, dengan tekun nya ibu menggunakan
waktu luangnya untuk memancing di sungai dekat rumah kami, dia
berharap jika dia mendapatkan ikan, dia dapat memberikan aku sedikit
makanan yang bergizi untuk pertumbuhan ku. Setelah memancing, dia akan
memasak ikan tersebut menjadi sup ikan segar yang meningkatkan selera
makan ku. Ketika aku memakan ikan tersebut, ibu akan duduk disebelah
ku dan memakan daging sisa ikan tersebut, yang masih menempel pada
tulang ikan yang telah aku makan. Hatiku tersentuh sewaktu melihat hal
tersebut, aku menggunakan sumpitku dan memberikan potongan ikan yang
lain kepadanya. Tetapi dia langsung menolaknya dengan segera dan
mengatakan " Makanlah ikan itu nak, aku tidak seberapa menyukai ikan"
Itu adalah kebohongan ibu yang ke dua

3. Kemudian, ketika aku berada di bangku sekolah menengah, untuk
membiayai pendidikan ku, ibu pergi ke sebuah badan ekonomi (KUD) dan
membawa kerajinan dari korek api bekas. kerajinan tersebut
menghasilkan sejumlah uang untuk menutupi kebutuhan kami. Ketika musim
semi datang, aku terbangun dari tidurku dan melihat ibuku yang masih
terjaga, dan ditemani cahaya lilin kecil dan dengan ketekunan nya dia
melanjutkan pekerjaan nya menyulam. Aku berkata "Ibu, tidurlah,
sekarang sudah malam, besok pagi kamu masih harus pergi bekerja." Ibu
tersenyum dan berkata "Pergilah tidur, sayang. Aku tidak Lelah."
Itu adalah kebohongan ibu yang ke tiga

4. Pada saat Ujian akhir, ibu meminta izin dari tempat ia bekerja
hanya untuk menemaniku. Pada saat siang hari dan matahari terasa
sangat menyengat, dengan tabah dan sabar ibu menugguku dibawah terik
sinar matahari untuk beberapa jam lamanya. Dan setelah bel berbunyi,
yang menandakan waktu ujian telah berakhir, Ibu dengan segera
menyambutku dan memberikan ku segelas teh yang telah beliau siapkan
sebelumnya di botol dingin. kental nya teh terasa tidak sekental kasih
sayang dari Ibu, yang terasa sangat kental. Melihat ibu menutup botol
tersebut dengan rasa haus, langsung saya memberikan gelasku dan
memintanya untuk minum juga. Ibu berkata "Minumlah, nak. Ibu tidak
haus!"
Itu kebohongan ibu yang ke empat

5. Setelah kematian ayahku yang disebabkan oleh penyakit, Ibuku
tersayang harus menjalankan peran nya sebagai orang tua tunggal.
dengan mengerjakan tugasnya terlebih dahulu, dia harus mencari uang
untuk memenuhi kebutuhan kami sendiri. Hidup keluargaku menjadi
semakin kompleks. Tak ada hari tanpa kesusahan. Melihat keadaan
keluargaku pada saat itu yang semakin memburuk, ada seorang paman yang
tinggal dekat rumahku datang untuk menolong kami, baik masalah yang
besar dan masalah yang kecil. Tetangga kami yang lain yang tinggal
dekat dengan kita melihat kehidupan keluarga kami sangat tidak
beruntung, Mereka sering menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi
ibu yang sangat keras kepala, tidak memperdulikan nasihat mereka, dia
berkata " Saya tidak butuh cinta"
Itu adalah kebohongan ibu yang ke lima

6. Setelah saya menyelesaikan pendidikanku dan mendapatkan sebuah
pekerjaan. itu adalah waktu bagi ibuku untuk beristirahat. Tetapi dia
tetap tidak mayu; dia sangat bersungguh-sungguh pergi ke pasar setiap
pagi, hanya untuk menjual beberapa sayuran untuk memenuhi kebutuhan
nya. Saya, yang bekerja di kota yang lain, sering mengirimkan beliau
sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan nya, tetapi Beliau
tetap keras kepala untuk tidak menerima uang tersebut. Beliau sering
mengirim kembali uang tersebut kepadaku. Beliau berkata "Saya punya
cukup uang"
itu adalah kebohongan ibu yang ke enam

7. Setelah lulus dari program sarjana, kemudian saya melanjutkan
pendidikan saya ke tingkat Master, saya mengambil pendidikan tersebut,
dibiayai oleh sebuah perusahaan melalui sebuah program beasiswa, dari
sebuah Universitas terkenal di Amerika. Akhirnya saya bekerja pada
perusahaan tersebut. Dengan gaji yang lumayan tinggi, saya berniat
untuk mengambil Ibu dan mengajak nya untuk tinggal di amerika. Tetapi
Ibuku tersayang tidak mau merepotkan anak lelakinya, Beliau berkata
kepadaku "Saya tidak terbiasa"
itu adalah kebohongan ibu yang ke tujuh

8. Sewaktu memasuki masa tua nya, ibu terkena kanker tenggorokan dan
harus dirawat di rumah sakit. Saya yang terpisah sangat jauh dan
terpisah oleh lautan, segera pulang ke rumah untuk mengunjungi ibuku
tersayang. Beliau terbaring lemah ditempat tidurnya selepas selesai
menjalankan operasi. Ibu yang terlihat sangat tua, menatapku dengan
tatapan rindu yang dalam. Beliau mencoba memberikan senyum diwajahnya.
meskipun terlihat sangat menyayat dikarenakan penyakit yang
dideritanya. Itu sangat terlihat jelas bagaimana penyakit tersebut
menghancurkan tubuh ibuku. dimana beliau sangat terlihat lemah dan
kurus. Saya mulai mencucurkan airmata di pipi dan menangis. Hatiku
sangat terluka, teramat sangat terluka, melihat ibuku dengan keadaan
yang demikian. Tetapi ibu, dengan segala kekuatannya, berkata "jangan
menangis, anakku sayang, Ibu tidak sakit"
Itu adalah kebohongan ibu yang ke delapan
setelah megatakan kedelapan kebohongan nya, Ibuku tersayang menutup
matanya untuk selamanya!

Readmore..

Kisah Citta, Seorang Perumah Tangga

| | 0 comments

Citta, seorang perumah tangga, suatu hari berjumpa dengan Mahanama Thera, salah seorang dari lima bhikkhu pertama (pancavaggiya), yang sedang berpindapatta, dan mengundang thera tersebut ke rumahnya.

Di sana, ia mendanakan makanan kepada thera tersebut dan setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Mahanama Thera, Citta mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian, Citta membangun sebuah vihara di kebun mangganya. Di sana, ia memenuhi kebutuhan semua bhikkhu yang datang ke viharanya dan bhikkhu Sudhamma tinggal di tempat itu.
Suatu hari, dua orang murid utama Sang Buddha, Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Moggallana, datang ke vihara tersebut. Setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Y.A. Sariputta, Citta mencapai tingkat kesucian anagami.

Kemudian, ia mengundang dua murid utama sang Buddha tersebut ke rumahnya untuk menerima dana makan esok hari. Ia juga mengundang bhikkhu Sudhamma, tetapi beliau menolak dengan marah dan berkata, “Kamu mengundangku setelah mengundang dua bhikkhu tersebut.”

Citta mengulang kembali undangannya, tetapi undangan tersebut ditolak. Walaupun demikian bhikkhu Sudhamma pergi ke rumah Citta pagi-pagi keesokan harinya. Ketika dipersilahkan masuk, Sudhamma menolak dan berkata bahwa dia tidak akan duduk karena dia sedang berpindapatta.

Ketika dia melihat makanan yang didanakan kepada dua orang murid utama Sang Buddha, dia sangat iri dan tidak dapat menahan kemarahannya. Dia mencaci Citta dan berkata, “Aku tidak ingin tinggal lebih lama di viharamu!” dan meninggalkan rumah tersebut dengan penuh kemarahan.

Dari sana, dia mengunjungi Sang Buddha dan melaporkan segala yang telah terjadi. Kepadanya, Sang Buddha berkata, “Kamu telah menghina seorang umat awam yang berdana dengan penuh keyakinan dan kemurahan hati. Kamu lebih baik kembali ke sana dan mengakui kesalahanmu.” Sudhamma melakukan apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, tetapi Citta tidak menghiraukan; maka dia kembali menghadap Sang Buddha untuk ke dua kalinya. Sang Buddha, mengetahui bahwa kesombongan Sudhamma telah berkurang pada waktu itu. Kemudian Beliau berkata, “Anakku, seorang bhikkhu yang baik seharusnya tidak terikat dengan berkata, “ini adalah viharaku, ini tempatku, dan ini adalah muridku,” dan sebagainya, dengan berpikir demikian keterikatan dan kesombongan akan bertambah.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 73 dan 74 berikut ini:

Seorang bhikkhu yang bodoh,
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin menonjol di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan ingin dihormati oleh semua keluarga.
“Biarlah umat awam dan para bhikkhu berpikir bahwa hal ini hanya dilakukan olehku,
dalam semua pekerjaan besar atau kecil mereka menunjuk diriku,”
demikianlah ambisi bhikkhu yang bodoh itu,
dan keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.

Setelah khotbah dhamma itu berakhir, Sudhamma pergi ke rumah Citta, dan pada saat itu mereka dapat berdamai. Dalam waktu tidak beberapa lama, Sudhamma mencapai tingkat kesucian arahat.
Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (73, 74)

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com