Showing posts with label buddhisme. Show all posts
Showing posts with label buddhisme. Show all posts

Monday, January 30, 2012

Romo Pannajayo : Cara menjadi Agung dan Baik

| Monday, January 30, 2012 | 0 comments

Kebhaktian umum, 09 Oktober 2009
Protokol : Bpk. Hasan
Penyalaan lilin Altar : Romo Pannajayo
Dhammapada : Grace Chandra (Gatha 99)
Dhammadesana : Romo Pannajayo
(Tema : Cara agar kita menjadi agung dan baik)

Namo Buddhaya..,
Malam kebhaktian tanggal 9 Oktober lain dari biasanya, suasananya sepi dan hening. Pertama kali saya memasuki Dhammasala dapat terlihat bantalan duduk hanya memenuhi setengan dari ruangan Dhammasala. Umat yang hadir kurang lebih hanya sekitar 40 orang saja. Hal ini terjadi karena sebagian besar Umat SAG berangkat ke Blitar-Suramadu untuk mengikuti kegiatan "Kathina Tour". Walaupun sepi.., tetapi tetap terlihat semangat dari para umat untuk mengikuti kebhaktian.
Dhammadesana pada malam ini diisi oleh Romo Pannajayo. Romo mengupas tentang bagaimana caranya agar kita menjadi agung dan baik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai makhluk sosial pastilah selalu berhubungan dengan makhluk lain. Lalu bagaimanakah caranya agar kita dapat saling mengisi dengan makhluk lain dengan penuh keharmonisan???
Hubungan saling mengisi dan saling menolong dapat terjadi hanya jika ada unsur cinta kasih. Kita dapat dikasihi dan dicintai oleh orang lain hanya jika kita baik. Orang lain pasti baik dan mencintai diri kita apabila diri kita ini baik dalam ucapan, perbuatan dan pikiran.
Sekarang mari kita simak dan pelajari bagaimanakah caranya agar kita menjadi agung dan baik sehingga semua orang mencintai kita. Penampilan baik dapat dikategorikan menjadi tiga hal yaitu penampilan baik dalam jasmani, penampilan baik dalam perbuatan dan penampilan baik dalam batin.
Seseorang yang penampilan baik dalam jasmani yaitu orang yang dapat menjaga jasmani contohnya dengan berpakaian rapih dan sopan. Orang yang berpenampilan baik dalam jasmani bukan berarti ia harus berpakaian perlente dan memakai aksesoris mewah. Perlente bukanlah tanda bahwa ia adalah orang baik. Banyak orang berpakaian perlente dan mewah ternyata adalah seorang penipu.
Setelah mejaga penampilan jasmani terlihat baik, alangkah baiknya orang juga menjaga penampilan perbuatannya. Seseorang yang selalu berbuat baik, ramah tamah dan suka menolong pastilah sangat disukai semua orang. Banyak di kehidupan nyata, seorang wanita biasa-biasa saja dapat memperoleh pria tampan dan kaya. Setelah ditelusuri ternyata wanita ini merupakan wanita yang berpenampilan baik dalam sgala perbuatannya.
Selain kedua penampilan yang telah disebutkan diatas, ada satu penampilan lagi yang sangat penting untuk kita jaga. Apakah itu???. Yach.., itu adalah penampilan batin. Penampilan batin sangat perlu kita jaga dan kita tingkatkan untuk mejadi lebih baik lagi. Hal ini dikarenakan apabila batin tenang maka akan membuat perbuatan, perkataan pun mejadi tenang pula. Sebagai umat awam kita dapat meningkatkan batin kita dengan jalan selalu mempraktekkan pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Demikianlah uraian tentang beberapa cara agar kita berpenampilan baik. Smoga uraian ini dapat bermanfaar dan membuat diri kita menjadi lebih baik lagi.
Sadhu...! Sadhu...! Sadhu...!

Readmore..

Monday, January 16, 2012

Sidhi : Kalyanamitta

| Monday, January 16, 2012 | 0 comments

Dhammadesana : Sidhi Agustiana Taniman
Dhammapada : Tommy
Penulis : Tommy

Boleh dibilang hari yang cukup istimewa pada kebaktian remaja kali ini. Kenapa? karena pada kebaktian kali ini, Sidhi A.T. yang merupakan Ketua dari PMV SAG 2009-2010 bersedia untuk mengisi Dhammadesana kali ini. Saya sendiri mengenal sosok Sidhi belum lama. Sekilas, Sidhi terlihat pendiam, malu-malu dan grogian. Tapi hari ini, pandangan saya tentang ketua PMV yang baru ini berubah. Walau cara berbicara yang dibawakannya tidak sebagus penceramah lainnya karena aksen pembicaraanya yang belum terbiasa, tapi saya sungguh kagum dengan sosok ketua PMV yang satu ini. Sama seperti halnya Yessica F.S. yang sebelum menjadi ketua PMV 2008-2009 agak pendiam, setelah menjadi ketua PMV, menjadi lebih aktif. Saya yakin, apabila terus dilatih, Sidhi pun akan bisa menjadi pembicara yang baik.
Isi dari Dhammadesana yang Sidhi bawakan sangat bagus, seperti berikut :

Kalyanamitta berasal dari kata Kalyana yang artinya teman dan Mitta yang artinya baik atau bagus. Jadi Kalyanamitta berarti teman yang baik atau bagus yang dapat menjadikan diri kita selalu waspada dalam menempuh kehidupan dunia dan setelah meninggal. Terdapat empat macam sahabat yang dipandang berhati tulus ( suhada ) : yaitu sahabat penolong ( upakaro mitto ), sahabat pada waktu senang dan susah ( samanasukha dukkhomitto ), sahabat yang memberi nasehat baik ( atthakhayamitto), dan sahabat yang bersimpati ( anukampakamitto ).

1. Ciri-ciri sahabat yang suka menolong ( Upakaromitto ) adalah :
1. Ia yang menjaga dirimu sewaktu lengah;
2. Ia yang menjaga dirimu sewaktu engkau lengah;
3. Ia yang menjaga dirimu sewaktu dalam ketakutan;
4. Ia memberi bantuan dua kali daripada yang engkau perlukan.
2. Ciri-ciri sahabat pada waktu senang dan susah ( Samanasukha dukhomitto )
1. Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu;
2. Ia menjaga rahasia-rahasia dirimu;
3. Ia tidak meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan;
4. Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu.
3. Ciri-ciri sahabat yang memberi nasehat baik ( Atthakhayamitto ) yaitu:

1. Ia mencegah dirimu berbuat jahat;
2. Ia menganjurkan dirimu untuk berbuat benar;
3. Ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar;
4. Ia menunjukan jalan ke surga.
4. Ciri-ciri sahabat yang bersimpati ( Anukampakamitto )

1. Ia tidak merasa gembira terhadap kesengsaraanmu;
2. Ia merasa senang atas kesejahteraanmu;
3. Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu;
4. Ia membenarkan orang lain memujimu.

Akalyanamitta ( Teman yang tidak baik )
Akalyanamitta artinya teman atau kawan yang tidak baik atau jahat yang berkeinginan untuk menjerumuskan diri kita sehingga mengalami penderitaan ( dukkha ). Terdapat empat orang yang harus dipandang sebagai musuh yang berpura-pura sebagai sahabat (amittamittapatirupapaka) yaitu : orang yang tamak ( Annadathuro ), orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat sesuatu ( Vaci paramo ), penjilat ( Annuppiyabhani ) dan kawan pemboros ( Apayasahayo ).

1. Ciri-ciri orang yang berpura-pura sebagai sahabat ( Annadathuharo ) yaitu:
1. Ia yang tamak;
2. Ia memberi sedikit dan meminta banyak;
3. Ia melakukan kewajibannya karena takut;
4. Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.

2. Ciri-ciri seorang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat sesuatu ( Vaci paramo ) yaitu:
1. Ia menyatakan bersahabat berkenaan dengan hal-hal yang lampau;
2. Ia yang menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang;
3. Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong;
4. Bila ada kesempatan untuk membantu, ia menyatakan tidak sanggup.
3. Ciri-ciri seorang penjilat ( Annupiyabhani ) yang berpura-pura sebagai sahabat yaitu:
1. Ia menyetujui hal-hal yang salah;
2. Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar;
3. Ia akan memuji dihadapanmu;
4. Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.
4. Ciri-ciri seorang pemboros ( Apayasahayo ) yang berpura-pura sebagai sahabat yaitu:
1. Ia menjadi kawanmu apabila enkau gemar minum minuman keras;
2. Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berkeliaran di jalan-jalan pada waktu yang tidak pantas;
3. Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan;
4. Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi.


Semoga bermanfaat.

Readmore..

Air Parita

| | 0 comments

Pada hari jumat tgl 8 januari 2010. saya & Nanda diberi tugas oleh ci Grace untuk merangkum ceramah pada kebaktian umum yang akan di isi oleh Bhante dari Vihara Dhammacaka Jaya Jakarta. Yang akan dimuat untuk blog ini. Ci Grace Chandra menugaskan kami berdua karena ci Grace sedang kurang sehat.

Pada malam hari ini Bhante sangat senang dapat mengisi dhammadesana di Vihara surya Adhi Guna ini. Ini terlihat dari keinginan Bhante untuk masuk ke ruangan Dhammasala sebelum dipersilahkan masuk. Saat umat sedang bermeditasi Bhante ingin segera masuk, ini karena sebelumnya Bhante bertanya kepada saya berapa umat yang hadir, lalu saya menjawab ya kira-kira ada lah 150 orang. Lalu Bhante menjadi segera ingin melihat dan masuk ke dalam ruang dhammasala lebih cepat dari rencana. Karena itu malam hari ini tidak ada pembacaan dhamapada.

Saat dhammadesana Bhante menjelaskan tentang air parita.

mungkin banyak dari kita yang bertanya tentang khasiat atau manfaat dari air parita.
Adakah manfaatnya???.
Pertaanyaan ini dapat dijawab melalui 2 tinjauan yaitu tinjauan dari sutta dan tinjauan ilmiah.
Dalam dhammadesana Bhante kali ini, Bhante menerangkan tentang sejarah kenapa ada air parita dan apa tujuannya.

Bhante bercerita 10 tahun yang lalu saat bahte masih menjadi umat awam Bhante belum mengerti tentang air parita. Orang-orang yang pergi ke vihara selalu meminta para bhikku yang hadir untuk memberikan air parita, mungkin tujuannya agar hidupnya berhasil dan sukses, jika pelajar mungkin agar mendapat nilai yang bagus.

Tetepi setelah Bhante memasuki sangha, beliau tinggal di Vihara mendut menjadi samanera dan harus belajar selama 1 tahun saat beliau belajar tidak ada guru yang mengajar atau menjelaskan tentang air parita tetapi bhante dengan semangatnya mencari tau sendiri dengan membaca-baca buku. Lalu beliau menemukan salah satu buku tipitaka yang menjelaskan tentang sejarah dari air parita yaitu khuddakapatha.

Didalam khuddakapatha dijelaskan bahwa Buddha memberikan intruksi kepada Ananda untuk menghafalkan dan mempelajari suta permata (parita Ratana sutta), setelah paham Ananda diperintahkan untuk mengajarkan kepada para Bhikku dan para umat.

Pada saat itu di kota Vesali terjadi sebuah bencana, awalnya terjadi kekeringan yang panjang mengakibatkan kelaparan lalu banyak berjatuhan korban karena bencana ini. Karena terlalu banyak yang meninggal, mayat-mayat itu pun tidak dimakamkan, tetapi hanya didiamkan begitu saja. Lama kelamaan mayat-mayat itu pun membusuk akibatnya banyak makhluk-makhluk yang berdatangan ketempat itu yang mencium aroma bau busuk mayat, makhluk-makluk itu adalah raksasa asura dan makhluk peta kunapasa. Selain itu juga banyak menyebar penyakit.

Setelah Buddha mendengar berita ini lalu Buddha datang ke kota Vesali pada saat Buddha datang banyak keajaiban yang yang ikut datang juga yaitu salah satunya turunnya hujan lebat tiada henti-hentinya. Hujan ini disebut hujan teratai, hujan ini aneh. Mereka yang ingin basah terkena hujan maka akan basah tetapi mereka yang tidak ingin basah maka tidak akan basah dan akan tetap kering.

Karena hujan ini tidak kunjung berhenti hingga berhari-hari maka terjadi banjir, kira-kira setinggi pinggang orang dewasa, karena banjir ini mayat-mayat yang berserakan menjadi hanyut terbawa airkesungai gangga lalu menuju ke laut. Setelah itu kota Vesali menjadi bersih dari mayat-mayat, raksasa pun pergi tetapi makhluk-makhluk peta bersembunyi di balik kandang-kandang ternak. Lalu Buddha beserta rombongan 500 Bhikku dan para umat berbaris lalu membacakan sutta permata (parita Ratana sutta). Ini lah pertama kalinya Ratana sutta dibacakan bersama-sama dan menggema di seluruh negri.
Buddha dibaris paling depan sambil membawa mangkok yang berisi air lalu memercikan air itu keseluruh penjuru, setelah pemercikan air itu makhluk-makhluk peta tersebut yang sebelumnya bersembunyi di belakang kandang ternak menjadi lari dan kabur.
Setelah itu Sang Buddha membabarkan Ratana sutta lalu 84000 mkhluk yang hadir baik manusia atau pun dewa mencapai kesucian sottapana.
Dari cerita tadi dapat disimpulkan bahwa manfaat air parita adalah untuk membersihkan tempat dari makhluk-makhluk seperti raksasa dan makhluk peta.
Itu tadi menurut tinjauan sutta.
Sekarang jika menurut tinjauan ilmiah, para pemikir ilmiah selalu menuntut bukti dan fakta. Ada suatu penelitian yang meneliti air.
Menurut penelitian ilmiah air dapat merekam apa yang kita pikirkan.
Ada 2 jenis air. air yang pertama diberi kata-kata, oh sungguh indah, kata2 yang halus dan lembut, sedangkan yang satunya diberi kata-kata ari kau sungguh jelek dan bau. Setelah itu air itu di bekukan lalu saat mencair dilihat dengan menggunakan alat, air yang di beri pujian menghasilkan molekul-molekul yang baik dengan bentuk seperti kristalbernentuk segi enam, sedangkan yang di jelek-jelekan mendapatkan hasil yang buruk air menjadi berwarna coklat seperti lumpur. Dari sini dapat mebuktiak kata- kata yang baik akan berdampak sesuatu yang baik pula.

Ucapan itu bersumber dari pikiran jadi jika kita senantiasa berfikir positif dan berbicara yang baik maka apa yang kita lakukan akan baik pula dan kita akan selalu sehat dan bahagia.
Ingatlah dhammapada gatha 1 dan 2. yang berbunyi
pikiran adalah pelopor dari segala seuatu.
Pikiran adalah pemimpin
Pikiran adalah pembentuk
Jika seseorang melakukan perbuatan baik maka
Kebahagiaan akan mengikutinya.
Bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.
Semoga bermanfaat....
Semoga semua makhul berbahagia.....
Be Happy...

Readmore..

MAKATAKKA JATAKA No. 173

| | 0 comments

(68) “Ayah lihatlah, seorang pengikut yang tua dan miskin dst.  Kisah ini dikisahkan oleh sang maha guru di jetavana tentang sesuatu pemahat intinya akan berkenaan denga  keahlian adalah dalam buku XIV .
Disini sang maha guru berkata “ wahai para siswa tidak hanya sekali ini saja memiliki pengikut seorang penjahat, pada masa lampau ketika ia terlahir menjadi seekor kera dia mengunakan siasat untuk memanaskan suasana “. Kemudian dia mengisahkan kisah yang telah lampau pada suatu masa ketika brahmadata memerintah di  banares Bodhisattva lahir di keluarga brahmana di desa kali ketika ia menginjak dewasa dia menerima pendidikan di  Yakasila dan ia  mengunakan pendidikan tersebut untuk mengarahkan hidupnya.

Istrinya pada saat itu melahirkan seorang putra dan ketika putranya mulai berlatih berjalan  sang istri tersebut  meningal, suaminya melakukan pemahkamannya dan ia berkata “ apa artinya bagiku sekarang ? saya dan anak saya akan hidup sebagai  petapa “  meninggalkan daerah nya dengan di iringgi air mata ia membawa anaknya keHimalayadan memandikannya sebagai praktisi keagamaan dan hidup serta tinggal di akar-akar pohon dan makan buah dari pohon yang ada di hutan.

Pada suatu hari sepanjang musim hujan ketika terjadi hujan lebat ia membakar tongkat untuk menghangatkan tubuh dan terbaring di tumpukan jerami dan di hangatkan oleh api dari hasilk pembakaran tongkat kemudian putranya duduk di samping sembari mengosok kakinya.
Pada saat itu ada seekor kera liar dalam keadaan mengigil kedinginan mendekati api yang dinyalakan oleh sang petapa “ sekarang”, pikirnya, “ seumpama saya datang ke sana secara lebih dekat mereka akan menjerit dan berkata ada kera ! sehingga akan mengusir saya kembali, saya sebaiknya tidak datang kesanamenghangatkan diri sendiri karena saya sudah mempunyai  dia menangis”.

“ Saya harus mendapatkan pakaian pertapa itu dan datang kesanadengan penyamaran “  maka dia mengambil pakaian dari petapa yang telah meninggal  mengumpulkannya dalam keranjang dia bergerak dengan cepat membuka pintu gubuk dengan membungkuknan badannya  di samping pohon palm.  Putra pertapa melihatnya dan berteriak pada ayahnya “ tidak mengetahuinya dia itu adalah kera “ di sini ada  pertapa dalam keadaan mengigil kedinginan datang kearah perapian “ (69) kemudian dia berkata pada bapaknya dengan bait syair pertama agar mengijinkan petapa yangmalangikut merasakan kehangatan api .
“ Ayah lihatlah ! ada seorang pertapa yangmalangyang berada di smaping pohon palm disana di sini kita memunyai satu gubug untuk tinggal maka ijinkan ia untuk tinggal bersama kita untuk berbagi rasa kepada kita.

Ketika bodhisattva mendengar hal itu dia segera pergi ke arah pintu untuk melihatnya, tetapi ketika ia melihat makhluk yang di sangka seorang pertapa  kemudia ia berkata oh … putraku manusia tidak mempunyai wajah seperti itu ia adalah seekor kera dan dia tidak harus berada bersama kita !. kemudian ia mengulangi syair bait ke dua “ dia akan mengotori tempat kita jika ia masuk ke dalam pintu maka ia seperti muka itu
-     mudah dikatakan
-     tidak baik dan tidak cocok bila dikandung dan dilahirkan dalam keluarga brahmana.
“ Bodhisattv mempunyai suatu pikira  ia menangis apa yang kau lakukan dan kau inginkan disana? “
Melemparinya dan  menuntutnya pergi sang kera meninggalkan pakaian pertapa dan tambahlah disanabeberapa pohon kemudian dia mengubur dirinya sendiri di hutan.
Kemudia Bodhisattva mengolah dan melatih untuk hal mulia sampai dia mencapai sifat-sifat brahma dan lahir di alam brahma .

Ketika sang maha guru mengakhiri cerita ini dia mengetahui tumimbal lahir “ laki-laki yang  licik itu adalah sang kera di atas rahula adalah sang anak adalah dari pertapa dan saya sendiri adalah petapa itu”.

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Pengaruh Agama Buddha Terhadap Sendi-Sendi Kehidupan

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

Pengaruh Agama Buddha Terhadap Sendi-Sendi Kehidupan Masyarakat Sri Lanka
Samanera Dhammasiri
Pengantar
Tentu Sri Lanka adalah negara yang tidak asing di telinga kita, orang Indonesia. Nama Sri Lanka sendiri digunakan sejak tahun 1972. Sebelumnya negara ini lebih terkenal dengan sebutan Ceylon. Di dalam buku-buku kuno, negara ini dikenal sebagai Tambapani, Siha?adipa dan bahkan saya pernah mendapat informasi bahwa Svarnadipa yang hingga saat ini masih menjadi kontroversi di antara para sarjana Buddhist, juga dianggap sebagai sebutan untuk Sri Lanka. Secara official, negara ini disebut Sri Lanka Prajathanthrika Samajavadi Janarajaya.

Sri Lanka terletak di sebuah pulau kecil yang luasnya 65,610 km2 atau kurang lebih dua kali Provinsi Jawa Tengah. Sensus tahun 1999 menunjukkan bahwa negeri ini dihuni oleh 18.552.000 jiwa. Program keluarga berencana yang telah dilaksanakan secara traditional sejak ribuan tahun yang lalu membuat Sri Lanka memiliki rata-rata pertumbuhan penduduk cukup rendah—1.3% per tahun.

Di mata dunia, Sri Lanka terkenal sebagai negara yang paling ortodoks dalam mempertahankan tradisi agama Buddha. Oleh karenanya, sejak awal hingga sekarang, agama Buddha mazhab Theravada tetap mendominasi negara ini dan tetap mempertahankan Bahasa Pali sebagai bahasa agama Buddha. Karena alasan tersebut, kita pun cukup sulit untuk menemukan vihara dari mazhab lain. Saya pernah menemukan sebuah vihara yang dibangun oleh bhikkhu dari Jepang tapi tetap dihuni oleh bhikkhu Sri Lanka.

Sejarah Singkat Agama Buddha
Secara tradisi, masyarakat Sri Lanka percaya bahwa agama Buddha telah ada di Sri Lanka sejak zaman Sang Buddha bahkan seawal 2 bulan sejak Sang Buddha mencapai pencerahan. Tapussa dan Bhalluka adalah dua pedagang yang pertama kali bertemu dengan Sang Buddha pada minggu ketujuh setelah Sang Buddha mencapai pencerahan. Mereka mendapatkan relik rambut dari Sang Buddha. Setelah mereka pulang ke negerinya, mereka membangun stupa untuk menyimpan relik tersebut. Masyarakat Sri Lanka percaya bahwa Tapussa dan Bhalluka berasal dari Sri Lanka.

Di kalangan masyarakat luas, juga ada kepercayaan bahwa Sang Buddha pernah mengunjungi Sri Lanka. Dipercaya Sang Buddha mengunjungi Sri Lanka sebanyak 3 kali. Selama dalam kunjungan itu, Sang Buddha sempat mengunjungi 16 tempat yang berbeda. Di antara tempat-tempat yang pernah Beliau kunjungi adalah Kelaniya Rajamaha Vihara, Siripada, Mahiyangana, dan sebagainya.

Tentu cukup sulit untuk membuktikan kebenaran kepercayaan tersebut. Akan tetapi, kita pun patut mempertimbangkannya karena sumber yang ada di Tibet dan China juga mendukung kepercayaan tersebut. Dulva, nama Vinaya dalam tradisi Tibet, menyebutkan bahwa beberapa pedagang tanpa sengaja berlabuh di Sri Lanka karena dihempaskan oleh badai. Di Sri Lanka mereka bertemu dengan Putri Ratnavali. Dari para pedagang tersebut, sang putri mendapatkan banyak cerita tentang kehidupan spiritual Sang Buddha. Akhirnya ia mengirim utusan kepada Sang Buddha untuk meminta obat kekekalan. Sang Buddha minta utusan tersebut mengambil sebuah kain dan membentangkannya di antara Sang Buddha dan lampu. Utusan tersebut mewarnai bayangan Sang Buddha dengan berbagai warna.
Cerita dari China mengatakan bahwa ketika Sang Buddha mengunjungi Sri Lanka, masyarakat Sri Lanka, khususnya Ratnapura, sangat miskin dan pada umumnya menjadi pencuri. Karena kasih sayang dan untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar, Sang Buddha memercikkan embun manis (sweet dew). Embun tersebut mengkristal menjadi batu-baru permata. Karenanya, Ratnapura menjadi tambang batu permata yang cukup terkenal di dunia. Batu-batu permata seperti merah delima (ruby), ratna cempaka (topaz), batu akik (garnet), mata kucing (cat eye), batu nilam (sapphire) dan lainya dapat ditemukan di daerah ini.

Secara historis dan bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa agama Buddha berkembang di Sri Lanka sejak abad ketiga Sebelum Masehi. Hal ini ditandai dengan pengiriman misionaris ke Sri Lanka yang dipimpin oleh Y.M. Mahinda dan belakangan oleh adiknya Y.M. Sanghamitta Theri. Sejak saat itu hingga sekarang, boleh dikatakan bahwa agama Buddha tidak pernah putus di Sri Lanka. Namun karena berbagai alasan, pasang surut dan ketidakstabilan dalam agama Buddha tetap tidak dapat dihindari.
Karena agama Buddha telah mengakar kuat di Sri Lanka, hampir semua aspek-aspek kehidupan masyarakat Sri Lanka dihubungkan dengan agama Buddha. Sejauh manakah pengaruh agama Buddha terhadap kehidupan masyarakat Sri Lanka? Atau seberapa kuatkah agama Buddha mengakar dalam kehidupan masyarakat? Marilah kita lihat dan kita telusuri kehidupan mereka satu persatu sehingga hal itu akan menjadi jelas.

Kedermawanan
Kedermawanan adalah salah satu ajaran yang paling mendasar dalam agama Buddha. Sebagai buktinya, setiap ajaran-ajaran yang penting diawali dengan kedermawanan. Jiwa kedermawanan ini telah mengakar kuat dalam berbagai lini kehidupan masyarakat. Banyak fakta yang dapat kita gunakan untuk membuktikan hal ini.

Pada setiap perayaan Waisak, masyarakat membuat torana atau lampion untuk dijadikan objek pertunjukan selama masa Waisak. Pada malam hari, masyarakat berduyun-duyun untuk menyaksikan torana dan lampion ini. Untuk mengantisipasi umat yang lapar dan haus, banyak umat-umat yang dermawan menyediakan makanan dan minuman secara gratis bagi para pengunjung. Kemudian kalau kita mendaki Sripada, di kaki gunung kita akan menemukan orang-orang yang dermawan memberikan obat-obatan dan minuman serta makanan secara gratis.

Tidak hanya materi yang kita dapatkan yang bisa kita danakan untuk kesejahteraan orang lain. Badan jasmani yang kita miliki juga bisa didanakan. Dilandasi oleh semangat upaparamita, umat-umat Sri Lanka mendanakan bagian-bagian fisik yang masih dapat dimanfaatkan seperti ginjal, jantung, mata atau bahkan seluruh tubuhnya ketika mereka meninggal agar dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Oleh karena perbuatan luhur tersebut, Sri Lanka menjadi bank mata terbesar di dunia.

Kondektur dan sopir Sri Lanka adalah orang yang baik hati. Kalau kita ingin bepergian ke suatu tempat dan kita tidak mengetahuinya, kita bisa tanya dan mereka akan menunjukkan secara pasti tempat itu tanpa embel-embel apapun. Kendaraan-kendaraan angkutan umum di Sri Lanka mempunyai tradisi yang cukup baik. Kursi di belakang supir adalah untuk para biarawan. Di barisan kedua tepat di belakang kursi para biarawan adalah untuk ibu hamil. Kursi di dekat pintu adalah untuk orang cacat. Oleh sebab itu, kalau ada bhikkhu, ibu hamil atau membawa anak kecil atau orang cacat masuk dan kursi yang dikhususkan untuk mereka sedang ditempati, sopir akan minta penumpang itu untuk pindah. Kalau mereka tidak mau pindah, sopir akan menegur atau bahkan marah sambil mengatakan, “Kamu ini orang bermoral atau tidak, ngerti ia masuk kamu tetap duduk di situ.”

Karena telah menjadi budaya, para penumpang pun akan langsung memberikan tempat duduknya kalau mereka melihat ada bhikkhu, ibu hamil, membawa anak, orang cacat atau orang yang sudah tua. Namun di Indonesia, menurut Pak Cornelis Wowor, jauh lebih baik dari penumpang di Sri Lanka. Begitu ada orang tua yang masuk, semua penumpang langsung meditasi. Maksudnya, langsung tutup mata pura-pura tidak tahu.

Kalau ada penumpang yang berdiri dan ia membawa barang yang cukup berat, penumpang yang duduk akan meminta barang tersebut untuk dibawakan. Setelah penumpang itu mau turun ia akan meminta barang itu kembali. Mereka juga saling bahu membahu kalau ada yang berniat untuk melakukan kejahatan. Pernah ada suatu kasus seorang remaja menggangu wanita di sebelahnya. Wanita itu langsung menjerit dan bus pun dihentikan. Remaja itu langsung dihajar babak belur oleh seluruh penumpang bus.

Kesederhanaan
Sang Buddha mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana—namun tidak berarti tidak harus bekerja keras atau bermalas-malasan. Ajaran ini telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat Sri Lanka. Mereka tetap hidup dalam kesederhanaan meskipun mereka memiliki materi yang boleh dibilang lebih dari cukup.

Suatu ketika ada seorang wanita ke vihara dan sambil menunggu kepala vihara datang ia menyempatkan diri berbincang-bincang dengan kami. Penampilannya sangat sederhana dan dalam pandangan kami dia adalah orang biasa saja—maksudnya tidak punya kedudukan apa-apa. Setelah ia pergi, salah seorang bhikkhu lokal mengatakan bahwa dia adalah dosen di Universitas Kolombo, sungguh tidak kami sangka.
Prof. Galmagoda Sumanapala adalah salah satu professor terkenal di Sri Lanka bahkan masyarakat memberikan gelar the gem of Sri Lanka kepadanya. Akan tepapi, beliau adalah orang yang sangat sederhana dan bersahaja. Sangat sulit untuk mengidentifikasi bahwa beliau adalah professor terkenal karena penampilannya tampak seperti orang biasa. Karena jiwa kesederhanaannya, Prof. Jayasuriya, dosen ekonomi, pernah diusir oleh kondektur bus karena dianggap pengemis jalanan. Penampilan-penampilan para professor terkenal yang lainnya pun tidak ada bedanya. Mereka tampak sederhana. Mereka sangat sulit diidentifikasi bahwa mereka adalah para professor.

Beberapa kali ketika saya sedang pergi ke Maitri Dhamma School, beberapa kendaraan cukup mewah berhenti dan minta saya naik. Sesampainya di dalam, sopirnya bertanya “Apakah Samanera tahu saya?” Tidak ada jawaban lain selain “I do not know, sir.” Ia pun minta saya tidak perlu kuatir karena anaknya juga berada di Maitri Dhamma School. Sesampainya di sekolah saya berusaha untuk mencari tahu yang mana anaknya. Aduh, aduh saya tidak menyangka anak sesederhana itu adalah anak dari orang-orang yang kehidupannya dapat dikatakan mapan secara ekonomi. Sebut saja Thiloma Dissanayake, teman mengajar, dan adiknya Thamali Dissanayake, keduanya adalah murid kami yang paling pandai, hari-hari ke sekolah pakai pakaian seragam sekolah, buku di tangan dan pakai sandal jepit seharga Rp. 3.000. Padahal mereka adalah anak dari orang yang saya ceritakan di atas. Saat saya berkunjungung ke rumahnya, rumahnya juga sangat sederhana walaupun ayahnya punya perusahaan tas.

Kesederhanaan juga dimanifestasikan dalam makanan. Dalam makanan Sri Lanka, menunya tidak terlalu banyak karena mereka menyadari fungsi makanan yaitu untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Banyak pula makanan yang tidak lagi kita makan, masih tetap dimakan oleh orang Sri Lanka. Ambil contohnya singkong rebus. Justru, singkong rebus biasanya dipersembahkan oleh keluarga mapan. Banyak sayuran dan umbi-umbian yang telah kita lupakan masih tetap dikonsumsi oleh masyarakat Sri Lanka.

Kadang ketika kami mahasiswa luar negeri sedang berkumpul kami pun geguyon “Wuah orang Sri Lanka ini mau mentang ajaran Sang Buddha.” “Emangnya kenapa?” begitu tanya yang lain. “Masa dari dulu ketika pertama kali saya datang sampai sekarang makanan tidak pernah berubah.” Ya, kami pun hanya tertawa mendengar geguyon semacam itu.

Banyak di antara kita yang terseret arus globalisasi sehingga apa pun trend yang ada selalu kita ikuti dan meninggalkan tradisi lama. Hal ini tidaklah begitu tampak dalam kehidupan masyarakat Sri Lanka. Mereka, walaupun mengikuti perkembangan zaman, tetap berusaha mempertahan budaya meraka. Contohnya, adalah pakaian tradisional, obat-obatan tradisional dan sebagainya. Wanita tetap menggunakan pakaian tradisional dipandu dengan sari. Mereka masih senang memelihara rambut mereka tumbuh panjang dan mengepang rambut adalah hal yang biasa. Di Indonesia, pemandangan seperti itu sudah sangat sulit ditemukan karena pada umumnya wanita merasa malu melakukan hal itu. Alasannya kuatir rambutnya dianggap seperti buntut kuda.

Hubungan Orangtua dan Anak
Sungguh saya sangat terkesan melihat dan mendengarkan cerita tentang hubungan orangtua dan anak dalam kehidupan masyarakat Sri Lanka. Saya melihat dan merasakan ada hubungan kasih sayang yang sangat luar biasa antara orangtua dan anak. Orangtua sangat mencintai anak-anaknya. Demikian pula anak-anak, mereka juga sangat mencintai orangtuanya. Dengan demikian, anak-anak mendapatkan kasih sayang yang cukup dan orangtua pun tidak kekurangan perhatian.

Meskipun sibuk, orangtua Sri Lanka tetap berusaha memberikan kasih sayangnya kepada anak-anak. Sebagai contohnya, mereka akan berangkat kerja setelah anak-anak berangkat sekolah sehingga memungkinkan bagi anak-anak untuk bernamaskara (sujud) kepadanya. Kalau memang sempat, mereka akan mengantarkan anaknya ke sekolah dan menjemputnya saat pulang walaupun mereka kadang sudah duduk di bangku SMU. Pada malam hari, mereka akan tidur setelah anak-anak bernamaskara (bersujud). Dengan demikian, setiap hari orangtua memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bernamaskara (sujud) sebanyak dua kali.

Prof. Galmagoda Sumanapala adalah professor, juga guru besar yang luar biasa sibuknya. Beliau adalah dosen di S1, S2, S3, direktur fakultas ayurvedik (dulu saat article ini saya tulis. Sekarang beliau menjabat sebagai Directur Post-Graduate Institute of Pali and Buddhist Studies) dan juga mahasiswa ayurvedik, penceramah di radio maupun televisi, dan banyak lagi tugas-tugas yang harus beliau jalankan. Akan tetapi, kepada kami beliau mengatakan, “Kalau anak saya bilang, “Pak ayo kita nonton ke bioskop” saya pun akan temani mereka karena itu adalah tugas saya sebagai orangtua.”

Orangtua Sri Lanka sangat memperhatikan kesejahteraan anak-anaknya baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, ketika mereka punya uang mereka akan langsung buka tabungan atas nama anak mereka agar anaknya tidak mendapatkan kesulitan di kemudian hari. Mereka juga akan menyediakan perlengkapan untuk anaknya ketika mereka menjalani kehidupan rumah tangga dan mereka mempersiapkan semua itu sejak dini.

Karena tingginya rasa kasih sayang dan perhatian terhadap anak-anak dan orangtua, wanita Sri Lanka banyak dicari untuk menjadi pembantu rumah tangga. Salah satu faktor yang membuat meraka dapat memperpanjang visa di Siprus sehingga saat ini ada 80.000 penduduk Sri Lanka di negara yang luasnya hanya 9.251 km2 tersebut adalah karena alasan itu dan karena kecerdasan anak-anak mereka. Pernah juga ada seorang wanita Sri Lanka menjadi pembantu rumah tangga di Inggris. Ia melaksanakan tugas dengan baik sehingga majikannya puas atas pelayanan yang ia berikan. Pada saat detik-detik terakhir menjelang kematiannya, majikannya yang statusnya unmarried millionaire, menulis surat wasiat. Surat itu berbunyi, “Seluruh harta kekayaan yang saya miliki, saya wariskan kepada pembantu saya.” Akhirnya, pembantu itu pun jadi milioner dadakan.

Semangat Belajar
Karena pengaruh agama Buddha, Sri Lanka telah memulai kegiatan literaturnya sejak abad kesatu Sebelum Masehi. Hal ini ditandai dengan ditulisnya Tipitaka ke dalam daun lontar. Semenjak saat itu, kegiatan akademik seperti belajar dan menulis terus mewarnai kehidupan masyarakat Sri Lanka. Sebagai imbasnya, kita pun bisa menemukan karya-karya sastra hasil kreasi masyarakat Sri Lanka seperti Dipava?sa, Mahava?sa, Rasavahini, Balavatara dan masih banyak yang lainya. Di abad modern ini, Sri Lanka dikenal sebagai negara yang paling produktif di Asia dalam memproduksi buku. Mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek pada umumnya pandai menulis. Selain itu, Sri Lanka juga telah melahirkan sarjana-sarjana Buddhist tingkat dunia. Sebut saja, K.N. Jayatilleke, G.P. Malalasekera, D.J. Kalupahana, K. Sri Dhammananda dan yang lainnya.

Masyarakat Sri Lanka mempunyai minat belajar yang cukup tinggi. Mereka tidak pernah merasa bahwa umur menjadi halangan dalam belajar. Bhante Belangoda Ananda Maitreya mengenal komputer pada usia 94 tahun. Tanpa menyia-nyiakan waktu atau merasa terlalu tua, beliau pun mempelajari komputer. Padahal banyak di antara kita yang masih muda dan memiliki ingatan yang masih kuat, merasa malas untuk belajar—sungguh luar biasa!!!

Secara global, masyarakat Sri Lanka memiliki semangat belajar yang tinggi karena dipicu oleh ide bahwa mereka merasa mempunyai tanggung jawab untuk tetap mempertahankan ajaran Sang Buddha. Dengan sendirinya, mempelajari bahasa menjadi salah satu favorit di kalangan masyarakat luas. Mereka senang mempelajari bahasa asing. Pali, Sanskrit, Inggris, Jepang, Mandarin adalah bahasa favorit. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau kita menemukan banyak orang yang mampu berbahasa Inggris dengan baik di negeri ini. Tidak hanya orang-orang yang berdasi yang mampu berbahasa Inggris. Pengamen dan pengemis meski jumlahnya cukup sedikit, juga pandai berbahasa Inggris. Saat mereka sedang mengamen atau mengemis, mereka menggunakan Bahasa Inggris dengan fasih. Kadang saya pikir Bahasa Inggris mereka jauh lebih baik dari sarjana-sarjana yang kita miliki.

Toleransi Beragama
Ada empat agama yang diakui secara resmi di Sri Lanka yaitu Buddha, Kristen, Hindu dan Islam. Agama Buddha dianut 69% penduduk Sri Lanka, Hindu 15%, Kristen 8% dan Islam 7%. Semua agama hidup dengan rukun dan saling bahu membahu.

Walaupun agama Buddha menjadai agama mayoritas di Sri Lanka semanjak awal hingga sekarang, tidak ada larangan bagi agama lain untuk berkembang di negara ini. Semuanya diberi kebebasan untuk menganut suatu agama berdasarkan kepercayaan mereka masing-masing.

Pernahkah Anda mendengar atau melihat semua agama yang ada di negara tersebut duduk bersama menghormati satu objek? Saya tidak saja hanya mendengar tapi melihat sendiri hal itu dan hal semacam itu hanya saya temukan di Sri Lanka yaitu Siripada. Semua agama yang ada di Sri Lanka percaya bahwa Siripada adalah tempat yang bersejarah bagi agama mereka. Agama Buddha percaya bahwa Siripada adalah replica telapak kaki Sang Buddha. Umat Hindu percaya bahwa itu adalah replica telapak kaki Vishnu. Sementara agama Islam dan Kristen meyakini bahwa itu adalah telapak kaki nabi Adam. Sebagai akibatnya penganut agama-agama dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia berduyun-duyun mengunjungi Siripada untuk memberikan penghormatan. (untuk lebih lengkapnya silakah baca artikel berjudul Sripada: Buddhism’s Most Sacret Mountain di www.buddhanet.net/e-learning/buddhistworld/sri-pada.htm)

Dalam sejarah memang agama Kristen pernah menghancurkan agama Buddha. Mereka memaksa orang-orang Sri Lanka untuk menganut agama Kristen dan bahkan membunuh anak-anak mereka dengan cara yang tragis bila mereka tidak mau pindah agama. Juga ada isu bahwa kelompok sparatis Macan Tamil Elam (LTTE) disponsori oleh orang Kristen. Namun demikian, umat Buddha tetap tenang dan tampak tidak ada dendam atas apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Kristen. Justru sebaliknya, banyak umat Kristen yang menaruh simpati kepada agama Buddha. Banyak juga yang karena tidak puas beragama Kristen, kemudian pindah ke agama Buddha. Prof. Galmagoda Sumanapala memperkenalkan saya kepada seorang psikiater Kristen yang menikah gara-gara ingin merealisasi Nibbana dalam kehidupan sekarang ini juga.

Penghargaan Terhadap Kehidupan
Sri Lanka is the paradise of animals (Sri Lanka adalah surganya para binatang) adalah salah satu komentar yang dilontarkan menanggapi kondisi kehidupan binatang di Sri Lanka. Mengapa julukan semacam itu diberikan? Jawabannya ternyata sangat gampang yaitu karena semua binatang bisa hidup dengan bebas tanpa merasa terganggu.

Sri Lanka berbeda dari Indonesia. Di Indonesia, kita tidka bisa membiarkan begitu saja binatang peliharaan kita. Kita harus menjaga dan merawatnya dengan baik. Kalau tidak, mungkin dalam hitungan jam habis dijarah pencuri. Di Sri Lanka binatang peliharaan dibiarkan begitu saja. Oleh karena itu, seperti di sekitar Kota Kolombo atau di tempat-tempat lain, kita bisa menyaksikan kambing, sapi, atau kerbau berkeliaran begitu saja. Yang lebih menakjubkan lagi, mereka juga diberi hak yang sama dalam menggunakan jalan raya. Kalau ada sapi, kambing, kerbau atau binatang yang lain sedang menyebrang jalan, dengan bersabar para supir menunggu hingga binatang itu menyebrang jalan.
Mungkin karena kuatnya kasih sayang umat Sri Lanka kepada binatang, kita dapat menyaksikan berbagai jenis burung atau binatang lain yang sudah sulit kita jumpai di Indonesia. Meskipun vihara kami ada di tengah kota, suasananya tidak ada bedanya dengan di tengah hutan di Indonesia. Setiap saat kita bisa mendengarkan burung-burung berkicau menyanyikan lagu dengan penuh kebahagiaan. Selain itu, mereka juga tidak takut dengan manusia.

Ketika kami masih tinggal di Vihara Bellanwila, ada burung kutilang yang bersarang di dekat kuti kami. Anda boleh percaya juga bolah tidak, walaupun burung itu adalah burung liar tidak ada bedanya dengan burung peliharaan. Setiap pagi, Samanera Santacitto rajin memberikan pisang dan dengan santai tanpa perasaan takut, burung itu makan pisang sambil hinggap di tangan Samanera Santacitto.

Karena kuatnya pengejawantahan sila pertama yaitu menghindari pembunuhan, umat-umat Buddha sangat jarang bahkan boleh dibilang sama sekali tidak melakukan pembunuhan. Namun demikain, umat Buddha Sri Lanka bukanlah umat vegetarian. Mereka juga makan daging dan ikan. Lalu dari manakah ikan dan daging tersebut didapatkan? Begitulah pertanyaan yang mungkin muncul di benak Anda.
Umat Buddha Sri Lanka sangat jarang makan daging. Kalau pun toh mereka makan paling banter hanya daging ayam. Oleh karena itu, ayam adalah binatang yang paling sial di Sri Lanka. Daging ini pada umumnya disediakan oleh umat agama lain yaitu Islam, Kristen atau Hindu. Umat Islam adalah yang mendominasi daging ayam sementara umat Kristen dan Hindu yang mendominasi untuk menyediakan daging babi atau sapi. Karena umat Buddha Sri Lanka sangat jarang atau boleh dikatakan menghindari makan daging, harga daging relatif murah. Daging ayam, sebagai contohnya, di super market seperti Food City hanya sekitar Rs 15,00 hingga 30,00 atau setara dengan Rp. 1.500.00 hingga 3.000,00 di Indonesia. Harga daging relatif murah karena pengkonsumsinya hanyalah 31% dari penduduk Sri Lanka.
Masyarakat Sri Lanka lebih senang makan ikan. Ikan disediakan oleh penduduk lokal dan juga hasil impor. Ikan asin, misalnya, lebih banyak diimpor dari Indonesia. Sementara masyarakat lokal yang menjadi nelayan adalah penganut agama lain. Karena dikonsumsi secara luas, harga ikan cukup tinggi setara dengan harga sayur.

Selain mempraktikkan sisi pasif sila pertama, masyarakat Sri Lanka juga aktif menjalankan sisi aktik sila tersebut. Sebagai buktinya, mereka menyediakan makanan kepada burung-burung, tupai dan binatang-binatang lainnya. Juga telah menjadi budaya di Sri Lanka untuk menyelamatkan binatang dari pembunuhan. Biasanya kalau ada sapi atau kambing yang akan disembelih, umat-umat langsung akan membeli binatang itu dan menyerahkannya ke vihara. Vihara kemudian akan menyerahkan binatang itu kepada umat yang kurang mampu.

Penghargaan terhadap alam, perlindungan terhadap binatang telah menempatkan Sri Lanka untuk mendapatkan pengakuan internasional. Baru-baru ini, Sri Lanka menduduki posisi kedua dari top-20 best nature in the world. Secara pribadi, saya memang memang layak mendapatkan penghargaan tersebut, mengingat proteksi yang begitu kuat terhadap alam.

Pelaksanaan Nilai-Nilai Moral
Agama Buddha yang telah berakar kuat dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Sri Lanka, membuat masyarakat bangsa ini mengamalkan nilai-nilai moral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan kata lain, mereka mempraktikkan nilai-nilai moral dengan baik. Banyak contoh yang bisa kita ambil.
Tingkat kejahatan di Sri Lanka boleh dikatakan cukup rendah. Berita-berita seperti perampokan, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan dan sebagainya sangat jarang kita saksikan. Radio, televisi maupun media cetak juga sangat jarang menyiarkan berita-berita tersebut. Selama berada di Sri Lanka, hanya beberapa kali saya mendengar berita criminal, itu pun lewat teman yang kebetulan menyaksikannya lewat media massa.

Prostitusi yang merupakan penyakit masyarakat sebagai akibat dari kemiskinan, juga sangat jarang. Beberapa dosen kami yang memang telah memahami kehidupan Sri Lanka dengan baik mengatakan bahwa bila dibandingkan dengan negara-negara lain tingkat prostitusi di Sri Lanka sangat rendah. Dampak nyata dari praktik moral ini adalah rendahnya tingkat penderita HIV/AIDS. Prosentase prenderita HIV/AIDS menunjukkan bahwa Sri Lanka berada di urutan terendah bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Penghargaan Terhadap Ekologi
Ketika pertama kali sampai di Kolombo, kita mendapatkan cerita dari staf KBRI bahwa udara Sri Lanka adalah yang paling bersih untuk kawasan Asia Selatan. Hal ini dapat dimaklumi karena masyarakat Sri Lanka senang memelihara pohon terutama pohon Bodhi. Mereka tidak pernah memotong pohon Bodhi atau merusaknya. Bahkan, kalau ada bhikkhu yang berkeinginan membangun vihara di mana terdapat pohon Bodhi usaha itu akan didukung sepenuhnya oleh umat Buddha. Karena alasan tersebut, kita akan menemukan vihara-vihara kecil di sekitar pohon-pohon Bodhi yang ada di pertigaan atau perempatan jalan. Dalam pandangan umat Buddha Sri Lanka, suatu vihara tidak akan dianggap lengkap kalau tidak ada pohon bodhinya.

Karena umat Buddha menghormati, menjaga dan merawat pohon Bodhi bahkan seperti Sri Mahabodhi memiliki team khusus yang terdiri dari para professor dan pakar terkenal, pohon Bodhi dapat berusia panjang. Sebagai akibatnya, di negeri inilah kita bisa menemukan pohon tertua di dunia. Bukti-bukti arkeologis maupun bukti-bukti literatur menunjukkan bahwa Sri Mahabodhi di Kota Anuradhapura ditanam pada abad ketiga Sebelum Masehi yaitu bertepatan dengan kedatangan Y.M. Sanghamitta Theri ke negeri ini. Hingga kini, pohon bersejarah tersebut masih tetap tumbuh dengan baik. Dengan demikian, Sri Mahabodhi telah berusia lebih dari 2200 tahun. Konon, para penjajah pernah berusaha untuk memusnahkan pohon ini tapi tak ada satu alat pun yang dapat digunakan untuk merusaknya.
Menyusul pohon Bodhi adalah pohon nangka. Belakangan pemerintah melarang masyarakat menebang pohon nangka. Kalau mereka mau menebang, harus mendapatkan izin dari pemerintah. Peraturan ini ditetapkan karena pohon nangka dianggap sebagai sumber makanan yang berharga.
Masyarakat Sri Lanka juga tidak terlalu merusak hutan seperti masyarakat kita. Kalau mereka ingin membangun di kawasan hutan, kelestarian lingkungan tetap dijaga dengan baik. Oleh karena itu, negera ini kita bisa menemukan ribuan vihara hutan yang sangat natural. Khusus untuk Yogasrama Sa?stava—kelompok bhikkhu yang paling ketat dalam menjalankan Dhamma-Vinaya—memiliki lebih dari 120 vihara hutan. Vihara-vihara tersebut menjadi “surga” kami selama kami tinggal di Sri Lanka. Meskipun kuti-kuti dan bangunan lain dibangun, pohon-pohon besar tetap dipertahankan.

Hantu, Setan, Makhluk Gentayangan
Di negara kita, kita sering mendengar cerita tentang hantu, setan, pocongan atau makhluk gentayangan. Selama di Sri Lanka secara pribadi saya tidak pernah mendengar cerita soal hantu, setan, atau makhluk gentayangan dari masyarakat Sri Lanka. Kalau pun pernah, itupun dari teman-teman manca negara. Karena penasaran, kami pun menanyakan hal ini kepada Prof. Galmagoda Sumanapala, seorang professor yang cukup akrab dengan kami dan tidak alergi mendengarkan hal-hal yang tampak mistik.
“Pak, mengapa di Sri Lanka ini kita tidak pernah mendengar cerita soal hantu, setan atau makhluk gentayangan? Apakah tidak ada makhluk-makhluk semacam itu?” begitu tanya kami. Prof. Sumanapala mengatakan bahwa makhluk-makhluk semacam itu ada tapi tidak sampai seperti di negara-negara lain. Ketika kami tanya lebih jauh mengapa hal itu bisa terjadi, Prof. Sumanapala mengatakan, “Karena orang Sri Lanka rajin melakukan patidana.”

Dalam tradisi umat Buddha Sri Lanka, setelah ada sanak famili yang meninggal mereka akan melakukan patidana, mengajak makhluk lain yang telah meninggal turut berbahagia atas kebajikan yang telah dilakukan oleh keluarganya. Sama seperti masyarakat kita yang melakukan patidana pada waktu-waktu tertentu, masyarakat Sri Lanka khususnya umat Buddha juga melakukan patidana pada waktu-waktu tertentu. Hanya saja saya tidak tahu secara pasti. Seingat saya, mereka akan melakukan patidana setelah tujuh hari, satu bulan, tiga bulan setelah meninggal dan seterusnya.

Pada saat melakukan patidana, mereka akan mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan. Mereka akan mengundang minimal lima bhikkhu atau samanera. Hanya saja mereka tidak membedakan antara bhikkhu dan samanera. Yang terpenting bagi mereka adalah ada orang yang pakai jubah kuning untuk menerima dana makanan.

Tidak hanya manusia yang dipatidanai. Binatang-binatang yang mati juga sering mendapatkan perlakuan yang sama; apalagi kalau binatang itu mati secara tidak wajar, contohnya keracunan. Dalam kasus-kasus semacam itu, mereka akan dengan segera melakukan patidana dan juga mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan.

Mungkin karena alasan kesibukan, pada umumnya umat mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan pada hari Sabtu dan Minggu. Oleh karena itu, pada hari tersebut kita sering kelabakan mencari bhikkhu karena sering kali ada undangan lebih dari satu tempat dan mereka minta bhikkhu lebih dari lima kadang sepuluh atau dua puluh.

Perhatian Pemerintah terhadap kesejahteraan rakyatnya
Banyak orang mengannggap bahwa Sri Lanka adalah Negara miskin, Negara yang masih belum maju. Akan tetapi, negeri ini adalah negeri yang berorientasi pada kesejahteraan rakyatnya. Ini merupakan implementasi ajaran Sang Buddha, di mana pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Rakyat yang tidak mampu perlu dibantu; rakyat yang hidup dalam kekurangan perlu disuplai. Sejauh apakah ajaran itu diimplementasikan oleh pemerintah Sri Lanka?

Memiliki rakyat yang berpendidikan baik adalah orientasi pemerintah Sri Lanka. Karena itu, pendidikan di Sri Lanka dari tingkat Sekolah Dasar hingga S1 bebas biaya. Tidak sekedar itu, mahasiswa dari tempat jauh disediakan asrama. Kebutuhan mereka sehari-hari diperhatikan. Mereka juga diberi beasiswa tiap bulan.

Kesehatan adalah kebutuhan masyarakat yang sangat penting. Kalau kita tidak sehat, sulit bagi kita untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Karena itu, pemerintah sangat memperhatikan kesehatan rakyatnya. Di Sri Lanka, rakyat tidak dipungut biaya perawatan kalau mereka berobat ke rumah sakit umum. Kadang, saya berpikir entah bagaimana pemerintah menangani hal ini. Ambil saja contohnya, di Colombo National Hospital, setiap harinya ada 800 pasien baru. Padahal, rumah sakit pun tersebar di berbagai tempat.
Saya sering mendengar cerita dari teman-teman di Indonesia yang mengeluh karena sering terjadi pemadaman aliran listrik. Terkadang mereka perlu mendapatkan jatah bergilir. Selama tinggal di Sri Lanka, jarang sekali saya merasakan adanya pemadaman aliran listrik. Pemadaman aliran listrik terjadi hanya pada saat terjadi perbaikan jaringan atau saat karyawan PLN, mogok kerja.
Hampir semua jalan di Sri Lanka telah diaspal. Ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar tetapi juga terjadi di desa-desa terpencil. Bus sebagai sarana transportasi juga disediakan. Biaya bus juga terhitung murah bila dibandingkan dengan biaya bus di Indonesia.

Pendidikan harus gratis; kesehatan harus gratis dan listrik pun harus tetap diperhatikan kelangsungannya. Seandainya pemerintah gagal menyediakan kebutuhan-kebutuhan itu, jangan pernah berharap untuk bisa duduk lama di kursi pemerintahan.

Kesimpulan
Demikianlah agama Buddha yang berdasarkan tradisi telah ada sejak abad keenam Sebelum Masehi namun secara resmi sejak abad ketiga Sebelum Masehi telah memberikan kontrubusi yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat Sri Lanka. Dari apa yang telah kita saksikan bersama, kita pun bisa menyimpulkan bahwa agama tidak hanya menjadi simbol kehidupan tetapi juga mewarnai setiap lini kehidupan masyarakat Sri Lanka. Kondisi yang begitu menyenangkan itu, membuat saya jauh lebih kerasan tinggal di Sri Lanka daripada di Indonesia.

Sebagai umat Buddha yang baik dan sama-sama sebagai penganut ajaran Sang Buddha sudah selayaknya kita mengikuti jejak langkah saudara tua kita. Sudah selayaknya kita pun mengaplikasikan nilai-nilai agama Buddha dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita pun bisa hidup lebih bahagia, aman, tentram, sejahtera dan pada akhirnya mampu merealisasi Nibbana.

Readmore..

Tidak ada by Ajahn Chah | Kelahiran dan Kematian

| | 0 comments

 Kumpulan Kata2 Bijak Y.A.  Ajahn Chah mengenai Kelahiran dan Kematian:
 
1. Latihan yang baik adalah : bertanya kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh, “Mengapa saya dilahirkan?” Tanyakan diri Anda sendiri dengan pertanyaan ini pada pagi hari,siang hari, dan malam hari....... setiap hari. 

2. Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini? 

3. Anda akan berpikir bahwa : orang mengerti apa yg akan terjadi jika hidup di dalam kandungan seseorang? Betapa tidak nyaman! Bayangkan saja, bila diam di dalam gubuk hanya sehari saja, rasanya sudah sulit. Kunci semua pintu dan jendela, Anda sudah merasa tertekan. Jadi bagaimana rasanya tinggal di dalam kandungan seseorang, selama sembilan bulan? Tapi Anda tetap mau dilahirkan kembali! Anda tahu ketidak-nyamannya dalam kandungan, dan Anda masih mau menempelkan kepala di sana, untuk menaruh leher Anda di dalam jerat itu sekali lagi. 

4. Mengapa kita dilahirkan? Kita dilahirkan agar kita tidak akan dilahirkan kembali. 

5. Ketika seseorang tidak mengerti tentang kematian, hidup dapat menjadi sangat membingungkan. 

6. Sang Buddha memberitahukan muridnya, Ananda, untuk melihat ketidak-kekalan, untuk melihat kematian dalam setiap nafas. Kita harus memahami kematian; kita harus mati agar dapat hidup. Apa artinya ini? Mati adalah jalan menuju akhir dari semua keraguan, semua pertanyaan kita, dan ada di sini dengan kenyataan saat ini. Anda tidak akan pernah mati besok. Anda harus mati sekarang. Dapatkah Anda melakukannya? Bila Anda dapat melakukannya, Anda akan tahu kedamaian tanpa pertanyaan lagi.


7. Kematian itu sedekat nafas kita. 

8. Kalau Anda telah terlatih dengan benar, Anda tidak akan merasa ketakutan ketika jatuh sakit, juga tidak sedih jika seseorang meninggal. Ketika Anda pergi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan, tanamkan di dalam pikiran jika Anda menjadi lebih sehat, itu bagus; dan jika Anda meninggal, itu juga bagus. Saya menjamin Anda, bahwa bila dokter berkata kepada saya, bahwa saya mengidap kanker dan akan mati beberapa bulan lagi, saya akan mengingatkan dokter itu, “Hati-hati, karena kematian juga akan datang menjemputmu. Ini hanya masalah siapa yang pergi duluan dan siapa yang pergi belakangan.” Dokter tidak dapat menyembuhkan kematian dan tidak dapat mencegah kematian. Hanya Buddha yang dapat disebut dokter, jadi kenapa tidak pergi dan menggunakan obat dari Buddha? 

9. Jika Anda takut sakit, jika Anda takut mati, sebaiknya Anda merenungkan : dari mana mereka berasal. Dari mana mereka datang? Mereka muncul dari kelahiran. Jadi jangan sedih bila seseorang meninggal. Itu adalah hal yang alami, dan penderitaanya dalam kehidupan ini berakhir. Jika Anda mau bersedih, bersedihlah pada saat orang dilahirkan: “Oh tidak, mereka datang lagi. Mereka akan menderita dan mati lagi!” 

10. “Dia yang mengetahui” dengan jelas tahu bahwa semua keadaan yang berkondisi adalah tidak kekal. Jadi “Dia yang mengetahui” tidak akan menjadi senang atau sedih, karena tidak mengikuti perubahan kondisi. Untuk menjadi senang, adalah untuk dilahirkan; untuk menjadi kesal, adalah untuk mati. Setelah mati, kita lahir kembali; setelah dilahirkan, kita mati lagi. Kelahiran dan kematian dari satu momen ke momen berikutnya adalah putaran roda samsara yang tidak pernah berakhir.

Readmore..

Kisah Radha Jataka

| | 0 comments

Cerita ini diceritakan Sang Buddha ketika berada di Jetavana berkenaan dengan seorang isteri perumah tangga yang keras kepala. Kejadian ini seperti penggalan cerita diatas akan dibicarakan di indriya Jataka.
Sang Buddha berbicara demikian kepada Ananda "Adalah tidak mungkin untuk menjaga, melindungi wanita;tidak ada penjaga yang dapat menjaga agar wanita tetap berada dijalan yang benar. Kamu sendiri menemukan di beberapa kehidupan sebelumnya semua perlindunganmu itu tidak ada artinya; dan bagaimana kamu sekarang mengharapkan mendapatkan keberuntungan?".

Demikian yang saya dengar. Beliau menceritakan kisah yang terjadi pada kehidupan yang lampau.
Pada suatu waktu yang lampau ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta lahir sebagai seekor burung beo. Seorang Brahmin di kota kasi seperti ayah baginya dan saudaranya, memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Potthapada adalah nama Bodhisatta dan Radha adalah nama saudaranya.
Sekarang Brahmin memiliki seorang isteri, tetapi sangat buruk perilakunya. Setiap akan meninggalkan rumah untuk menyelesaikan pekerjaannya, ia berkata kepada kedua saudara tersebut "Jika, ibu kalian, isteriku, melakukan hal-hal yang tidak berguna, cegahlah ia". "akan kami lakukan ayah", kata Bodhisatta "Jika kami bisa; tetapi jika kami tidak bisa, kami tidak bisa berbuat apa-apa'.

Dengan demikian setelah ia mempercayakan isterinya pada pengawasan burung beonya, Brahmin tersebut pergi untuk mengerjakan urusannya. Setiap hari sejak itu isterinya melakukan tindakan yang tidak senonoh; sering melakukan perselingkuhan baik didalam maupun diluar rumah. Melihat hal itu, Radha berkata kepada Boddhisatta "kakak, salah satu dari perintah ayah adalah mencegah tindakan tidak senonoh dari isterinya dan sekarang ia tidak melakukan apa-apa tetapi menjual dirinya sendiri. Mari kita hentikan ia kakak" kata Bodhisatta, usulmu adalah usul yang bodoh kamu akan menghentikan tindakan-tindakannya sebelum itu tentu saja ia akan menyingkirkanmu. Jadi itu adalah tindakan yang sia-sia.
Dan demikian yang saya dengar ia mengucapkan satu syair berikut ini:

Berapa banyak malam berlalu? Rencanamu
Adalah percuma. Sia-sia sebagai seorang isteri cintanya bisa diobral
Nafsunya; dan sebagai seorang isteri cintanya tidak cukup hanya satu.
Karena itulah Bodhiatta tidak mengizinkan saudaranya untuk mencegah tindakan isteri Brahmin, yang selalu keluyuran, bicara mengenai isi hatinya selama suaminya tidak ada. Pada saat pulang, Brahmin menanyai Potthapada tentang tingkah laku isterinya pada saat ia tidak ada dirumah dan Bodhisatta langsung menceritakan semuanya.

"Sekarang, ayah!! Katanya "Apa yang bisa engkau perbuat terhadap wanita yang sangat jahat itu?". Dan ia menambahkan,_"Ayahu, sekarang, setelah saya melaporkan semua tentang ibu jahat saya, kami tidak bisa tinggal lama lagi di sini". Seperti yang saya dengar, ia bersimpuh dikaki Brahmin tersebut dan pergi terbang bersama Radha menuju ke hutan.

Akhir khotbahnya, Sang Buddha mengajarkan empat kebenaran, yang pada akhir Ananda mengerti tentang seorang isteri yang memiliki keinginan yang sangat kuat akan keinginan-keinginan dunia adaklah hal yang tidak bisa dipungkiri merupakan hasil dari jalan kecil pertama.
"Suami dan isteri ini" kata Sang Buddha "adalah Brahmin dan isterinya pada waktu itu, Ananda adalah Radha dan saya sendiri adalah Potthapada.

Readmore..

Araka Jataka

| | 0 comments

Pada suatu kesempatan Sang Bhagava berkata demikian pada Sangha, "Para Bhikkhu, kemurahan hati (welas asih) yang dipraktekan dengan segenap pikiran, dimeditasikan, diperbesar, dijadikan alat kemajuan, dijadikan obyek tunggal, dilatih, dan dimulai dengan baik dapat diharapkan untuk menghasilkan sebelas berkah.

"Apakah kesebelasan berkah itu? Ia tidur dengan gembira dan bangun dengan gembira; ia tidak mengalami mimpi buruk; orang-orang menyukainya; para makhluk halus menjaganya; api, racun, dan pedang tidak mendekatinya; mudah diingat; pembawaannya menjadi tenang; ia mati tanpa perasaan takut; tanpa memerlukan kebijaksanaan lebih lanjut ia mencapai surga Brahma. Kemurahan hati, para bhikkhu, yang dilakukan tanpa mengenal kehendak" dan seterusnya. "Dapat diharapkan untuk menghasilkan sebelas berkah. Sambil memuji kemurahan hati yang berisi sebelas berkah ini, para bhikkhu, seorang bhikkhu seyogyanya bermurah hati kepada semua makhluk, disuruh atau tidak, ia seharusnya menjadi sahabat orang yang ramah, juga menjadi sahabat orang yang tidak ramah, dan menjadi sahabat orang yang acuh tak acuh. Jadi kepada semua tanpa perbedaan, disuruh atau tidak, di harus bermurah hati; ia harus bersimpati terhadap kesenangan atau kesusuhan dan melatih kesabaran; ia harus melakukan pekerjaanya dengan empat kebaikan. Dengan berbuat demikian ia akan sampai ke surga Brahma walaupun tanpa jalan atau buah. Para bijaksana dengan mengembangkan welas asih selama tujuh tahun, telah berdiam di surga Brahma selama tujuh jaman, masing-masing dengan satu masa berkembang dan satu masa menyusut "] Dan ia menceritakan kepada mereka sebuah kisah di masa lalu.
Pada suatu ketika, di zaman yang lalu, Sang Bodhisattva terlahir di keluarga Brahmin. Setelah dewasa, ia melenyapkan napsunya dan menjalani kehidupan religius,serta mencapai empat kebaikan. Ia bernama Araka, dan menjadi seorang guru yang tinggal di daerah Himalaya dengan pengikut yang banyak. Ia memberi nasehat kepada para bijaksana pengikutnya, "Seorang yang mengasingkan diri (pertapa) harus menunjukan welah asih, bersimpati (turut merasakan) dalam kesenangan maupun kesusuhan, dan penuh kesabaran karena rasa welas asih yang dicapai dengan penuh tekad mempersiapkannya menuju surga Brahma. " Dan untuk menjelaskan berkah dari welas asih, ia melantunkan sajak berikut ini:

"Hati yang memiliki welas asih tanpa batas kepada semua yang terlahir.
Di surga, di alam bawah, dan di bumi.
Penuh dengan rasa welas asih tak terbatas, kemurahan hati tanpa batas.
Di dalam hati yang demikian takkan ada perasaan sempit atau terkurung."

Demikianlah uraian Sang Bodhisattva kepada para muridnya mengenai pengalaman welas asih dan berkahnya. Dan ia seketika terlahir di surga Brahma, selama tujuh zaman, masing-masing dengan masa berkembang dan menyusut, ia tidak kembali lagi ke dunia ini. Setelah selesai berkhotbah, Sang Bhagava mengindentifikasi kelahiran tersebut, "Para bijaksana pada saat itu sekarang adalah para pengikut Buddha;dan saya sendiri adalah Sang Guru Araka."

Readmore..

Kisah Citta, Seorang Perumah Tangga

| | 0 comments

Citta, seorang perumah tangga, suatu hari berjumpa dengan Mahanama Thera, salah seorang dari lima bhikkhu pertama (pancavaggiya), yang sedang berpindapatta, dan mengundang thera tersebut ke rumahnya.

Di sana, ia mendanakan makanan kepada thera tersebut dan setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Mahanama Thera, Citta mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian, Citta membangun sebuah vihara di kebun mangganya. Di sana, ia memenuhi kebutuhan semua bhikkhu yang datang ke viharanya dan bhikkhu Sudhamma tinggal di tempat itu.
Suatu hari, dua orang murid utama Sang Buddha, Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Moggallana, datang ke vihara tersebut. Setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Y.A. Sariputta, Citta mencapai tingkat kesucian anagami.

Kemudian, ia mengundang dua murid utama sang Buddha tersebut ke rumahnya untuk menerima dana makan esok hari. Ia juga mengundang bhikkhu Sudhamma, tetapi beliau menolak dengan marah dan berkata, “Kamu mengundangku setelah mengundang dua bhikkhu tersebut.”

Citta mengulang kembali undangannya, tetapi undangan tersebut ditolak. Walaupun demikian bhikkhu Sudhamma pergi ke rumah Citta pagi-pagi keesokan harinya. Ketika dipersilahkan masuk, Sudhamma menolak dan berkata bahwa dia tidak akan duduk karena dia sedang berpindapatta.

Ketika dia melihat makanan yang didanakan kepada dua orang murid utama Sang Buddha, dia sangat iri dan tidak dapat menahan kemarahannya. Dia mencaci Citta dan berkata, “Aku tidak ingin tinggal lebih lama di viharamu!” dan meninggalkan rumah tersebut dengan penuh kemarahan.

Dari sana, dia mengunjungi Sang Buddha dan melaporkan segala yang telah terjadi. Kepadanya, Sang Buddha berkata, “Kamu telah menghina seorang umat awam yang berdana dengan penuh keyakinan dan kemurahan hati. Kamu lebih baik kembali ke sana dan mengakui kesalahanmu.” Sudhamma melakukan apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, tetapi Citta tidak menghiraukan; maka dia kembali menghadap Sang Buddha untuk ke dua kalinya. Sang Buddha, mengetahui bahwa kesombongan Sudhamma telah berkurang pada waktu itu. Kemudian Beliau berkata, “Anakku, seorang bhikkhu yang baik seharusnya tidak terikat dengan berkata, “ini adalah viharaku, ini tempatku, dan ini adalah muridku,” dan sebagainya, dengan berpikir demikian keterikatan dan kesombongan akan bertambah.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 73 dan 74 berikut ini:

Seorang bhikkhu yang bodoh,
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin menonjol di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan ingin dihormati oleh semua keluarga.
“Biarlah umat awam dan para bhikkhu berpikir bahwa hal ini hanya dilakukan olehku,
dalam semua pekerjaan besar atau kecil mereka menunjuk diriku,”
demikianlah ambisi bhikkhu yang bodoh itu,
dan keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.

Setelah khotbah dhamma itu berakhir, Sudhamma pergi ke rumah Citta, dan pada saat itu mereka dapat berdamai. Dalam waktu tidak beberapa lama, Sudhamma mencapai tingkat kesucian arahat.
Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (73, 74)

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com