Showing posts with label Lagu Buddhist. Show all posts
Showing posts with label Lagu Buddhist. Show all posts

Sunday, February 5, 2012

Romo Pannajayo : Hiri & Ottapa

| Sunday, February 5, 2012 | 0 comments

Kebaktian Umum, Jumat 23 Oktober 2009
Pemimpin kebaktian : Uu Dharmawan
Dhammadesana : Romo Pannajayo
Penulis : Tommy

Hari ini adalah minggu ke 4 kebaktian umum bulan Oktober. Suasana Hari Raya Kathina masih terasa begitu pekat tatkala setiap Vihara di Kabupaten Karawang dan sekitarnya masing-masing mengadakan perayaan Kathina. Pada kebaktian malam hari ini Romo Pannajayo membahas mengenai Hiri dan Ottapa. Yakni malu dan takut untuk berbuat jahat. Pada prinsipnya Hiri dan Ottapa ini bisa timbul pada bathin masing-masing orang dengan dilandasi pengetahuan yang benar tentang sebab dan akibat perbuatan yang kita lakukan. Setelah kita mempunyai pengetahuan tentang sebab dan akibat dari perbuatan yang kita lakukan, akan timbul pemikiran untuk malu berbuat yang tidak baik dan juga akan takut akan akibat dari perbuatan yang kita lakukan.

Dengan mengetahui sebab dan akibat perbuatan yang kita lakukan, kita pastilah akan berpikir dua kali untuk melakukan perbuatan yang kurang sesuai menurut Dhamma. Dengan mengalami sendiri sebab dan akibat perbuatan yang tidak baik, kita sudah tentu akan memahami maksud dari Hiri dan Ottapa.

Hiri dan Ottapa bisa juga timbul dari lingkungan sekitar kita yang mendorong kita untuk malu dan takut berbuat jahat. Apabila orang tua kita adalah orang yang mempunyai nama baik, kita dengan sendirinya akan berusaha untuk menghindari perbuatan yang dapat merusak nama baik orang tua kita. Apabila sanak saudara kita rajin menolong orang lain, dengan sendirinya pula, kita akan memiliki kebiasaan menolong orang lain.

2 hal ini perlu kira terus ingat, Hiri dan Ottapa. Malu untuk berbuat jahat, takut akan hasil dari perbuatan yang kita lakukan. Demikian ringkasan Dhammadesana Romo Pannajayo yang disampaikan, Semoga Bermanfaat

Readmore..

Thursday, February 2, 2012

Tommy : Belajar bersikap positif dengan penilaian orang lain

| Thursday, February 2, 2012 | 0 comments

Kebaktian Remaja, Sabtu 26 September 2009
Protokol : Meylianawati Dewi
Dhammapada : Nanda Devi Nur
Penulis : Tommy

Kebaktian kali ini saya mendapatkan giliran untuk mengisi ceramah atau sharing Dhamma. Berbicara di depan umum tidak sulit, tapi berceramah di depan umum bagi saya bukanlah hal yang mudah. Dengan pengetahuan & pengalaman yang saya miliki sekarang, saya merasa belum siap untuk berbagi untuk teman-teman seDhamma. Maka dari itu, saya mengajak para umat remaja yang hadir pada kebaktian kali ini untuk berinteraksi dengan teman-teman yang lain.
Pada awal bulan yang lalu Grace Chandra mengajak para umat untuk menilai karakteristik diri sendiri. Untuk melengkapi apa yang sudah dilakukan pada awal bulan September lalu, pada akhir bulan ini saya mengajak setiap umat untuk bersedia dinilai karakteristiknya oleh orang lain. Para umat saya minta untuk duduk melingkar. Ada 24 orang yang hadir pada kebaktian malam hari ini. Salah satu dari mereka, secara bergantian duduk di tengah – tengah lingkaran untuk diberi penilaian tentang sifat-sifat positif & negative oleh teman-teman lainnya pada selembar kertas. Sehingga setiap anak akan membawa pulang 23 lembar kertas yang berisi penilai sifatnya dari teman-teman yang hadir ke vihara. Tapi tentu, teman-temannya tidak menuliskan namanya dikertas tersebut.
Beberapa orang telihat antusias untuk memberi penilaian pada teman-temannya. Mungkin orang yang antusias ini mempunya unek-unek yang ingin disampaikan pada temannya tersebut.
Maksud saya mengajak para umat untuk melakukan kegiatan ini adalah agar para remaja bisa belajar mendengarkan apa yang orang lain sarankan. Mungkin penilaian orang lain terhadap sifat jelek kita mungkin begitu menyakitkan, tapi apabila memang sesuai dengan kenyataan, dan memang perlu kita ubah, kita harus berterimakasih pada orang tersebut.
Mungkin juga ada orang lain yang menilai kita BAIK, bahkan lebih baik dari kenyataan. Penilaian itu pun harus disikapi secara positif. Apabila kita memang belum seperti itu, kita harus mewujudkan penilaian tersebut apabila membawa manfaat yang baik bagi kehidupan kita.
Tapi mungkin juga orang menilai kita yang NEGATIF. Apabila kita memang tidak seperti itu, kita tidak perlu pusing, tidak perlu kesal dan terus memikirkan apa kata orang tersebut.
Satu cerita penutup yang saya sampaikan pada para umat mengenai cerita Seorang ayah dan anak yang berjalan-jalan keliling kota dengan membawa seekor kuda. Diawal perjalanan, sang anak yang masih muda mempersilahkan ayahnya untuk menaiki kuda, sedangkan sang anak berjalan menuntun kuda yang dinaiki ayahnya. Beberapa meter meraka berjalan, mereka bertemu dengan teman dari sang anak. Lalu teman sang anak itu berkata, “ Wah.. Tega amat seh ayah mu! Masa anaknya disuruh jalan, sedangkan ayahnya enak-enakan naik kuda. ”. Mendengar apa yang diucapkan oleh teman sang anak, sang ayah segera meminta anaknya yang menaiki kuda dan ia yang sekarang menuntun kuda. Lalu mereka melanjutkan kembali perjalanan keliling kota. Dipersimpangan jalan, mereka bertemu dengan teman sang ayah. Lalu teman dari sang ayah tersebut berkata, “ Wah kebangetan..! masa anaknya masih muda, tega membiarkan ayahnya yang sudah tua berjalan.” Mendengar hal itu, sang anak berpikir kalau begitu lebih baik mereka berdua saja yang menaiki kuda tersebut. Sang ayah tidak lelah, begitu pun sang anak. Akhirnya mereka setuju untuk sama-sama menaiki kuda tersebut. Tidak berapa jauh setelah mereka melanjutkan perjalanan, orang-orang di sekitarnya berkata : “ Kasian banget itu kuda, ditaiki oleh 2 orang . Tega benerrrr..!! ”. Lagi-lagi mendengar hal ini sang ayah berkata “ Kalau begitu kita tuntun saja kuda ini. Kita berdua jalan kaki saja sambil berkeliling kota. ” Karena mendengar kritikan dari orang lain, sang anak pun menyetujui apa kata ayahnya. Dan mereka berdua pun berjalan kaki keliling kota menuntun kuda tersebut. Sesampai dirumah, mereka sangat kelelahan karena berjalan keliling kota. Lalu ibu dari sang anak berkata, “ Kalian berdua sungguh bodoh..!! bawa kuda, tapi kok malah dituntun! Bukannya ditaiki. ”

Dari cerita ini, kita memang harus bisa mendengarkan saran dari orang lain. Tapi harus dibarengi dengan kebijaksanaan. Banyak orang, banyak saran, dan yang pasti banyak pemikiran. Kita yang melakukan, kita harus bijaksana. Semoga Bermanfaat.

Tambahan :

Ada pengumuman
Sdri. Nanda Devi Nur: Minggu depan hari sabtu tanggal 3 Oktober 2009 para umat remaja yang berminat untuk berdana kathina diminta untuk membawa makanan ringan dan perlengkapan Bhikkhu seperti : ( Sabun, Odol, handuk, Shampoo dll ) untuk dibuatkan parsel gabungan untuk dipersembahkan pada dana kathina tanggal 16 Oktober 2009.
Sdri. Grace Chandra :
-Hari selasa, 29 September 2009 ada rapat Buletin edisi kathina pukul 19.00
-Hari Rabu, 30 September 2009 ada belajar adobe photoshop pukul 19.00

Readmore..

Wednesday, January 18, 2012

TINDUKA-JATAKA No. 177

| Wednesday, January 18, 2012 | 1 comments

“Di sekitar kita semuanya terlihat berdiri” dan sebagainya. ini adalah suatu cerita yang diberitahu oleh master pada jetavana tentang pengetahuan yang sempurna. seperti di mahabodhi kelahiran 1, dan ummagga kelahiran 2, mendengar pengetahuan nya sendiri yang dipuji; terpuji, ia berkata,” bukan ini sekali ketika hanya adalah buddha bijaksana, tetapi bijaksana ia adalah sebelum dan subur dalam semua sumber daya,” dan menceritakan kepada cerita kuno berikut .

pada suatu waktu; sekali peristiwa, kapan Brahmadatta adalah raja di Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai Monyet dan dengan suatu pasukan delapanpuluh ribu monyet dan ia tinggal di himalaya. tidak jauh sekali adalah suatu desa/kampung, kadang-kadang di habited/tempat tinggalnya dan kadang-kadang kosong. Serta dalam tengah-tengah desa/kampung ini  adalah suatu tinduka pohon, dengan buah yang manis, menutup dengan cabang dan ranting. kapan tempat kosong, semua monyet digunakan untuk pergi kesitu dan makan buah itu.

sekali ketika, dalam waktu buah, desa/kampung adalah penuh dengan orang, suatu bambu memagari dengan pancang  memulai itu, dan gerbang menjaga. dan pohon ini [ 77] yang berdiri dengan semua dahan besar nya yang membengkokkan di bawah berat/beban menyangkut buah itu. monyet mulai untuk mengherankan: ” ada seperti buah dan desa/kampung seperti itu, di mana kita dulu mendapatkan buah untuk makan. saya ingin tahu  buah pohon itu di atas nya ada atau tidak, apakah ada orang di sana atau tidak ada” akhirnya mereka mengirim suatu pengintai/pandu menjadi mata-mata. ia menemukan bahwa ada buah pada atas pohon dan desa/kampung dipenuhi dengan orang. kapan monyet mendengar bahwa ada buah pada atas pohon, mereka menentukan untuk mendapatkan buah yang manis itu untuk makan dan bertambah besar berani/kuat, suatu kerumunan di antara mereka pergi dan menceritakan kepada kepala/raja mereka. Kepala/raja bertanya apakah desa/kampung yang penuh atau kosong, penuh mereka berkata.” kemudian kamu harus tidak pergi,” yang dikatakan ia’ sebab laki-laki itu adalah yang sangat curang.”" tetapi, bapak mereka akan pergi pada tengah malam manakala semua orang adalah puasa saat tidur dan kemudian makan! maka perusahaan  cuti, ini tentang yang besar kepala mereka dan turun dari pegunungan dan melayani suatu batu besar yang dekat sampai orang yang dipensiunkan untuk beristirahat dalam pertengahan mengamati manakala orang adalah sudah tidur, mereka memanjat pohon dan mulai menyantap buah

Readmore..

Monday, January 16, 2012

Y. M. Bhante Adhiratano : Bekal yang kita tabung agar kita bahagia.

| Monday, January 16, 2012 | 0 comments

Kebhaktian Umum, 02 Oktober 2009
Penyalaan Lilin Altar : Bapak Aen
Protokol : Romo Pannajayo
Pembacaan Dhammapada : Ibu Empang (Gatha 320 dan 321)
Dhammadesana : Y. M. Bhante Adhiratano
penulis : Grace Chandra

 
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa.. (3X)
Namo Sang Yang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya.. !!!

Tiga tahun yang lalu saat Y. M. Bhante Adhiratano masih Samanera, Beliau pernah mengunjungi Vihara Surya Adhi Guna. Saat ini untuk kunjungan yang kedua kalinya Beliau memberikan Dhammadesana tentang bekal sejati yang harus kita tabung guna menghadapi kehidupan kita yang akan datang.
Pada awal Dhammadesananya Y. M. Bhante Adhiratano mengulas tentang bencana gempa di Sumatera Barat. Bhante mengatakan bencana ini menunjukkan ketidak kekalan (Anicca) hidup ini. Segala sesuatu yang terjadi sangatlah tidak pasti, yang pasti hanyalah kematian yang suatu saat akan menjemput kita. Dalam mengarungi kehidupan yang tidak kekal ini sangatlah dibutuhkan suatu “Bekal” yang dapat menjamin diri kita akan bahagia.

Lalu “Bekal” apakah yang harus kita tabung dan miliki agar kita bahagia???. Sebagian orang berpikir jika mereka mempunyai bekal kekayaan duniawi yang melimpah ruah maka ia akan bahagia. Persepsi ini timbul karena mereka merasa bahagia setiap memiliki sesuatu. Akhirnya mereka merasa harus memiliki…, memiliki dan memiliki terus agar hidupnya berbahagia.

Kebahagiaan yang sejati bukanlah yang seperti itu. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang dapat diperoleh bukan hanya dengan memiliki tetapi juga dengan melepaskan sesuatu. Jika kita mempunyai sifat yang dapat merelakan barang kita untuk membantu orang lain (berdana) maka kita juga akan merasakan suatu kebahagiaan.

Dana merupakan salah satu bekal kebajikan yang akan menuntun kita ke kehidupan yang lebih baik lagi. Dana merupakan pintu gerbang kebajikan yang sangat mudah dilakukan oleh siapa pun juga. Berdanalah maka kebajikan-kebajikan yang lain akan datang menghampiri kita.

Selain berdana diri kita juga harus membekali diri dengan sila yang baik. Untuk umat awam terdapat lima sila yang harus dipatuhi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.Kelima sila itu yaitu: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melakukan perbuatan asusila, tidak berbohong atau berbicara yang tidak benar dan tidak minum-minuman yang membuat lemahnya kesadaran.

Orang yang mempunyai sila yang baik maka hidupnya akan nyaman dan tentram. Sebagai contoh jika kita hidupnya suka mencuri dan membunuh ketika kita melihat polisi maka diri kita pastilah akan merasa gelisah. Kita merasa ketakutan karena berpikir kemungkinan polisi menangkap kita. Tetapi jika kita selalu menjaga sila (tidak pernah mencuri dan membunuh) maka walaupun disekitar kita ada satu truk polisi tiba-tiba datang ke daerah kita, kita tidak akan merasa gelisah dan ketakutan. Kita hanya berpikir mungkin polisi datang karena ada penjahat di sekitar kita.

Setelah melakukan dana dan sila, alangkah baiknya umat Buddha juga menjalankan meditasi dalam kehidupan sehari-hari. Meditasi merupakan langkah untuk mensucikan pikiran. Meditasi merupakan keunggulan ajaran agama Buddha dibandingkan agama dan kepercayaan lain. Semua agama sama mengajarkan untuk selalu berbuat baik akan tetapi yang mengajarkan untuk memurnikan pikiran hanyalah agama Buddha. Oleh sebab itu seorang umat Buddha yang tidak pernah melakukan latihan meditasi setiap hari belum dapat dikatakan sebagai umat Buddha 100 %.
Pada akhir Dhammadesananya, Bhante berharap Dhammadesana yang beliau berikan pada malam ini membuat kami semua bersemangat menjalankan meditasi. Semoga kami semua dapat semakin maju dalam dhamma.

Pada kebaktian kali ini pula, diakhiri dengan pemberian penghargaan pada umat Buddha di Rengasdengklok yang telah mendonorkan darahnya untuk PMI ( Palang Merah Indonesia ) dalam misi kemanusian. Antara lain, di Anugerahkan kepada Ibu Lisa ( 25 kali donor ) dan kepada Bapak Uu Dharmawan sebanyak ( 10 kali donor ).

Demikianlah ringkasan kebhaktian umum, 02 oktober 2009. Semoga bermanfaat.
Sadhu…! Sadhu…! Sadhu…!

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

Kepemimpinan Positif dalam Perspektif Buddhis

| Thursday, January 12, 2012 | 1 comments

Dewasa ini khususnya di Indonesia tindakan kriminal semakin meningkat dan tindakan kejahatan merajalela dimana-mana, perbuatan-perbuatan itu seperti pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, penjarahan, korupsi, konflik sosial dan lain sebagainya, hal itu bisa dilihat dalam berbagai berita yang ada di media cetak atau elektronik. Sebenarnya konflik selalu mendatangkan berbagai macam penderitaan, tidak ada konflik yang mendatangkan keuntungan.

Penderitaan itu antara lain, banyak orang kehilangan harta benda dan bahkan banyak yang meninggal dunia, anak-anak terlantar dan kehilangan sanak keluarga, lingkungan menjadi rusak, dan lain sebagainya. Bahkan baru-baru ini terjadi kasus di Jakarta Utara yaitu konflik makam Mbah Priok yang menelan banyak korban jiwa, luka-luka, dan kerugian materi yang besar. Banyaknya kasus-kasus sepeti ini membuat warga semakin resah, takut, bimbang, dan mengalami krisis kepercayaan. Salah satu penyebab timbulnya konflik adalah kurangnya kesejahteraan masyarakat. Masalah ekonomi merupakan hal yang paling rawan menyebabkan tindakan yang melanggar norma yang berlaku di masyarakat sebab manusia bisa nekat melakukan hal yang buruk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini peran pemimpin atau pemerintah sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Tetapi dalam hal ini kita sebagai generasi penerus juga harus ikut memikirkan bagaimana mencari jalan yang terbaik untuk memecahkan suatu masalah yang timbul dalam masyarakat. Dan yang harus kita ketahui adalah akar dari masalah itu sendiri. Dalam cakkavati Sihanada Sutta, Sang Buddha menasihati kita, bahwa segala sesuatu pasti ada sebabnya.

Diceritakan pada zaman dahulu kala ada seorang Maharaja Dunia (Cakkavati) bernama Dalhanemi yang sangat dicintai dan dihormati oleh rakyatnya karena kejujurannya, memerintah berdasarkan kebenaran, raja dari empat penjuru dunia, penakluk, pelindung rakyatnya, pemilik tujuh macam permata. Ketujuh permata itu adalah: cakka (cakra), gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan penasihat. Ia memiliki keturunan lebih dari seribu orang yang merupakan ksatria-ksatria perkasa, penakluk musuh. Ia menguasai dunia sampai ke batas lautan, yang ditaklukkan bukan dengan kekerasan atau dengan pedang, tetapi dengan kebenaran (Dhamma). Seiring berjalannya sang waktu, tibalah saatnya Maharaja Dalhanemi mewariskan tahta kerajaan kepada ananknya yang tertua; dengan memberikan beberapa nasihat untuk raja yang baru diangkat, supaya negeri yang dipimpinnya itu bisa harmonis, masyarakat bisa bahagia dan tentram dengan menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai raja yang baik. Nasihat tersebut berbunyi: “Anakku, hiduplah dalam kebenaran; berbakti, hormat dan bersujudlah pada kebenaran, pujalah kebenaran, sucikanlah dirimu dengan kebenaran, jadikanlah dirimu panji kebenaran dan tanda kebenaran, jadikanlah kebenaran sebagai tuanmu. Perhatikan, jaga dan lindungilah dengan baik keluargamu, tentara, para bangsawan, para menteri, para rohaniawan perumah tangga, para penduduk kota dan desa, para samana dan petapa, serta binatang-binatang. Jangan biarkan kejahatan terjadi dalam kerajaanmu. Bila dalam kerajaanmu ada orang yang miskin, berilah dia dana. 

Anakku, apabila para samana dan petapa dalam kerajaanmu meninggalkan minuman keras yang menyebabkan kekurang-waspadaan dan mereka sabar serta lemah lembut, menguasai diri, menenangkan diri, serta menyempurnakan diri mereka masing-masing, lalu selalu dating menemuimu untuk menanyakan kepadamu apa yang baik dan apa yang buruk, perbuatan baik dan perbuatan buruk, perbuatan yang pantas dilakukan dan perbuatan yang tidak pantas dilakukan, perbuatan yang bermanfaat dan perbuatan yang tidak bermanfaat di masa yang akan datang; kau harus mendengar apa yang mereka katakana dan kau harus menghalangi merekaberbuat jahat serta anjurkanlah mereka untuk berbuat baik. Anakku, inilah kewajiban maharaja yang suci. 

“karena raja Cakkavatti yang harus dinobatkan memerintah dengan jujur dan adil, maka rakyat hidup dalam kedamaian. Karena rakyat hidup damai, maka Negara pun bisa maju dan berkembang. Hal demikian ini berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama dalam banyak generasi. Peralihan dari raja kepada anaknya, raja yang tua memberikan nasihat kepada anaknya untuk memerintah kerajaannya, akan tetapi raja yang baru ini tidak pernah menemui petapa untuk menanyakan roda kehidupan maharaja yang suci. Dengan ide dan caranya sendiri, ia memerintah rakyatnya. Kerajaan yan diperintah seperti itu, yaitu cara yang berbeda dengan apa yang rakyat ikuti dulu, menjadi tidak sukses seperti yang biasa dicapai dimasa raja-raja terdahulu yang melaksanakan kewajiban maharaja yang suci dari seorang raja Cakkavatti. 

Apabila raja tidak lagi memperhatikan rakyat, maka kemerosotan moral akan meluas, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan akan meluas, mencuri, melakukan kekerasan, membunuh, berdusta, memfitnah, berzinah, berkata-kata kasar dan membual, iri hati dan dendam,memiliki pandangan sesat,berzinah dengan saudara sendiri,serakah dan memuaskan nafsu,hingga kurang berbakti kepada orang tua,kurang hormat kepada para samana dan pertapa dan kurang patuh kepada para pemimpin.Karena hal-hal ini berkembang dan meluas,maka batas usia kehidupan manusia pada masa itu berkurang……(Cakkavattisihanada Sutta).
Jika pemimpin tidak memimpin dengan bijak dan adil,maka konflik akan muncul dan berkembang dalam tatanan masyarakat. Banyak yang mengatakan bahwa kapan “ratu” adilnya datang untuk memimpin kita,supaya kita menjadi tenang,tidak was-was,supaya negara kita menjadi negara yang maju dan berkembang seperti negara lain. Ada satu hal yang diinginkan oleh kita semua yaitu memiliki figur pemimpin yang adil, bijak dan berwibawa, memiliki ilmu pengetahuan dan memiliki tata susila sebagai seorang manusia yang bijak. Hendaknya seorang pemimpin mencari kebahagiaan demi rakyatnya. Dengan adanya perhatian dan dukungan kepada rakyat maka kedamaian akan muncul. Dengan adanya kedamaian, maka masyarakat bisa bekerja setiap hari, maupun negara menjadi maju dan berkembang, tidak menjadi negara yang miskin. Inilah yang diharapkan oleh kita semua. Pemerintah yang mengabaikan kebenaran niscaya akan tergulingkan. Sungguh baik apabila kepala pemerintahan yang menjalankan kepemerintahannya dengan berlandaskan pada kebenaran. “Dalam hal ini,seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur yang bergantung pada hukum kebenaran sebagai panji, bendera dan kekuasaannya. Dialah yang memberikan perlindungan, naungan, keamanan bagi ksatria yang melayaninya; bagi bala tentaranya, bagi para brahmana dan perumah tangga, bagi penghuni kota dan desa, bagi para petapa dan brahmana, bagi binatang dan burung.”
“Seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur yang dengan demikian memberikan perlindungan, naungan dan keamanan bagi semuanya. Dialah yang berkuasa dengan berdasarkan hanya pada kebenaran.” (Anguttara Nikaya: 3.14)
Sebagai generasi muda Buddhis tentu kita paham apa yang harus dilakukan mengingat dalam cakkavattisihanada sutta sudah cukup jelas bagaimana menjadi seorang pemimpin yang arif bijaksana serta dapat mengayomi masyarakat.
Suatu masalah akan selesai apabila seorang pemimpin dapat memahami dengan jelas permasalahannya dan juga dapat mencari solusi yang bijaksana dalam penyelesaiannya. Selain itu seorang pemimpin juga dapat membangun tim kepemimpinan yang positif. Pada zaman modern ini hanya sedikit pemimpin yang sempurna, karena sekarang ini tidak seorangpun memenuhi semua syarat untuk menjadi seorang pemimpin. Tidak hanya didalam suatu Negara saja yang membutuhkan seorang pemimpin, dalam lingkup kecil juga membutuhkan seorang pemimpin yang jelas dan bijaksana. Oleh sebab itu, apabila ingin menjadi pemimpin yang sukses hendaknya mempunyai tujuan-tujuan yang jelas karena pemimpin adalah seorang visioner, “seorang yang mampu melihat apa yang dapat dicapai serta merumuskannya dengan jelas sebagai visi. Pemimpin seperti ini juga mampu melihat peluang dalam keadaan krisis. Mereka mulai dari tujuan, kemudian bergerak ke awal, dan memperjelas strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Pemimpin yang seperti ini cenderung lebih memperhatikan tujuan jangka panjang, daripada tujuan jangka pendek. Mempunyai sikap mendukung dan suka memuntut”. Seorang manajer manusia, “seorang yang dapat membangkitkan keberanian, mempersatukan, dan memberikan motivasi”. Seorang pelaksana, “seorang yang dapat mewujudkan visi yang bagus menjadi tindakan nyata dan meraih hasil positif, seorang visioner mengerti apa yang harus dikerjakan sedangkan seorang pelaksana mengerti cara mengerjakannya”. Seorang pemimpin juga harus dapat menyelami kebutuhan-kebutuhan serta keinginan anggotanya, dari keinginan-keinginan itu dapat dipetik kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai serta dapat meyakinkan anggotanya mengenai apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan. Dapat menemukan jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai dan mewujudkan kehendak-kehendak tersebut. Cukup banyak tugas seorang pemimpin agar dapat terciptanya keadaan dan kondisi yang aman dan nyaman.
Pemimpin tidak akan terlepas dari keberadaan organisasi, karena seorang pemimpin inilah yang memegang kemudi dalam sebuah organisasi, baik itu organisasi formal maupun informal. Dalam Agama Buddha, pemimpin adalah sebuah kontrak sosial dengan rakyat dan bertugas mengembangkan tatanan masyarakat yang lebih baik, yakni tidak hanya untuk mencapai kesejahteraan duniawi, namun juga mengarahkannya kepada kedekatan cita-cita kehidupan manusia menuju menjadi lebih baik dan menjauhi sifat-sifat buruk (Priastana, 2004).
Ciri-ciri tertentu yang dimiliki oleh seorang pemimpin Buddhis adalah dengan mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang meliputi tiga kelompok yaitu: kelompok Panna (kebijaksanaan), Sila (moralitas), Samadhi (konsentrasi). Kelompok panna (kebijaksanaan) terdiri dari: (1). Pemahaman benar, yaitu pengetahuan akan sifat sejati kehidupan; pemahaman atas Empat Kesunyataan Mulia. (2). Pikiran Benar, yaitu pikiran yang bebas dari sensualitas, niat buruk, dan agresi. Kelompok Sila (moralitas) terdiri dari: (3). Ucapan benar, yaitu pantang dari kebohongan, ucapan kasar, dan perkataan yang tak berguna. (4). Tindakan Benar, yaitu pantang dari pembunuhan, pencurian, dan perbuatan seksual yang menyimpang. (5). Penghidupan Benar, yaitu menghindari segala bentuk penghidupan yang melibatkan pengrusakan dan eksploitasi makhluk lain. Kelompok Samadhi (konsentrasi) terdiri dari: (6). Usaha Benar, yaitu melatih pikiran untuk menghindari keadaan mental yang tidak bermanfaat dan mengembangkan keadaan mental yang bermanfaat. (7). Perhatian Benar, yaitu mengembangkan kekuatan perhatian dan kesadaran terhadap empat dasar perhatian; tubuh, perasaan, pikiran, dan fenomena mental. (8). Konsentrasi Benar, yaitu pengembangan pikiran yang terpusat.
Bagaimanapun seorang pemimpin, tentu mereka mempunyai kriteria-kriteria tersendiri antara lain, ia mempunyai kelebihan-kelebihan, lebih kuat, lebih pandai. Lebih memiliki kualitas pribadi yang unggul, serta lebih memiliki kualitas pribadi yang unggul, serta lebih memiliki kesempatan dari pada orang lain. Seorang pemimpin mendapat mandat untuk bekerja memenuhi keperluan orang banyak. Kekuasaan yang dimiliki hanya dalam rangka memenuhi kewajiban sebagai seorang pemimpin. Dalam pandangan Buddhis pemimpin tidaklah beda dengan bawahan. Pandangan mengenai martabat dan derajat dari perlakuan yang sama pada semua manusia, menunujkkan sifat agama Buddha yang demokratis.
Dalam sebuah organisasi, hubungan antara pemimpin dengan bawahannya tidak akan berjalan dengan lancar tanpa didasari dengan komunikasi yang baik diantara keduanya. Sang Buddha mengajarkan tentang bagaimana komunikasi harus dilakukan agar pahala dan manfaat duniaiwi dan hakiki akan diperoleh sekaligus. Duniawi artinya, komunikasi dengan sesama manusia akan berjalan dengan lancar dengan semakin bertambahnya kalyanamitta (sahabat baik). Dan hakiki adalah kebahagiaan yang akan diperoleh pada kehidupan mendatang.
Dalam wilayah kepemimpinan mencangkup dua lingkup gerak, antara pemimpin dengan yang dipimpin. Tanpa adanya seorang pengikut, sudah tentu tidak akan ada seorang pemimpin. Karena itu seorang pemimpin yang melaksanakan tugas dan member pengarahan pada anggota-anggota sehingga anggota-anggota itu merasa puas, dengan demikian membuat perorangan dan kelompok dapat mencapai tujuan organisasi (Tambunan, 1998:41). Seorang pemimpin mempunyai peran yang sangat penting di dalam organisasi, megendalikan serta merencanakan kegiatan-kegiatan organisasi untuk mencapai kesuksesan dan tujuan. Dengan demikian, maka seorang pemimpin dalam suatu kelompok merupakan mata rantai yang bertugas sebagai penghubung antara satu dengan yang yang lainnya di dalam suatu organisasi.
Seorang pemimpin yang partisipatif suka berkonsultasi dengan bawahannya, membawakan kepada mereka permasalahan-permasalahan pekerjaan, mengajak mereka sebagai satu unit kerja untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang terdapat di dalam unit itu. Dalam kegiatan itu bukan berarti pemimpin bersikap otoriter, bukan pula seorang pemimpin yang bebas kendali tanggung jawabnya. Moralitas adalah dukungan moral yang paling baik dan sangat bermanfaat bagi seorang pemimpin, karena seorang pemimpin akan mempunyai wibawa di depan anggotanya atau karyawannya apabila memiliki moral yang baik. Berpikir positif dan tidak menjadi seorang pemimpin yang otoriter juga kan mendukung tingkat kinerja seorang pemimpin akan lebih baik. Selain itu akan dapat meraih cita-cita dan tujuan untuk meningkatkan kualitas diri. Untuk mengembangkan diri, seorang harus menganalisa kekuatan dalam diri masing-masing yang cocok dengan bakat yang dimiliki. Akan menjadi luar biasa apabila melakukan sesuatu sesuai dengan bakat yang dimiliki dan cocok dengan kondisi saat ini. Pada zaman sekarang ini apabila tidak mempunyai kualitas diri dan talenta yang baik akan sangat sulit untuk masuk menjadi seorang pemimpin, banyak yang ingin menjadi seorang pemimpin tetapi tidak memiliki kualitas yang baik itu akan merugikan organisasi ataupun usaha yang akan didirikannya.
Untuk menjadi sukses seseorang perlu menganalisis keadaan geografi dan kondisi waktu yang cocok untuk mengembangkan diri. Menyangkut wibawa dan kharisma seorang pemimpin yang bijak dan tegas.bagi seorang pemimpin ditekankan untuk bersikap professional serta bertindak bijak dan tegas agar bisa mencapai hasil yang maksimal dalam memimpin suatu organisasi atau perusahaan-perusahaan yang dipimpinnya. Hanya dengan memiliki jati diri, ketegasan, kedisiplinan, tanggung jawab, kepercayaan diri dan mempunyai keyakinan, maka seorang pemimpin dapat meraih kesuksesan. Selanjutnya adalah mengenai hukum organisasi. Hukum tentang kedisiplinan dan struktur organisasi yang jelas. Seseorang harus bisa mendisiplinkan diri setiap saat dalam menjalankan hukum. Kalau hukum dapat berjalan dengan benar, maka kualitas yang ada dalam diri kita akan menyedot kekuatan yang ada diluar sehingga akan tercipta kekuatan yang luar biasa. Kemajuan akan dicapai oleh mereka yang dapat mendisiplinkan diri sendiri. Apabila seseorang memiliki jati diri dengan kualitas kepemimpinan tersebut, maka hidup akan menjadi cemerlang, berkembang, dan berhasil meraih tujuan yang dihasilkan bersama.
Hubungan seorang pemimpin dengan bawahan juga sangat berpengaruh bagi kepemimpinannya. Dalam Sigalovada Sutta juga dijelaskan tentang kewajiban majikan terhadap bawahannya, terdapat lima cara seorang atasan/majikan memperlakukan para karyawan/pembantu, seperti yang terdapat didalam Digha Nikaya iii.189-192, Sigalovada Sutta. (1)memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, (2) memberikan upah yang sesuai, (3) memberikan perawatan ketika mereka sakit, (4) sekali-sekali memberikan mereka hadiah yang istimewa, (5) memberikan cuti atau liburan pada saat yang sesuai. Dengan adanya lima cara seorang majikan memperlakukan bawahannya tersebut, maka dapt diterapkan didalam sebuah kelompok atau organisasi. Inti dari hal-hal di atas adalah terselenggaranya suatu pemerintahan yang jujur, adil, berwibawa, serta berjuang keras untuk kemakmuran orang banyak. Tanpa adanya prinsip-prinsip tersebut, maka tidak akan tercapai pemerintahan yang jujur, adil, berwibawa seperti yang diharakan. Jadi sebagai seorang pemimpin yang bijaksana harus dapat mengayomi bawahannya, melindungi dan berpikir positif. Karena seorang pemimpin yang cakap selalu membuat tujuan organisasi yang dipimpinnya menjadi jelas dan terarah, oleh sebab itu hubungan antara pimpinan dan bawahan harus senantiasa dijaga dan harus ada suatu hubungan yang harmonis agar tercipta suasana yang nyaman. Karena apabila keadaan suasana baik akan menghasilkan pekerjaan yang baik dan akan tercipta kondisi yang positif. Seorang pemimpin harus dapat berkomunikasi dengan bawahannya, dan juga dengan atasannya. Komunikasi yang lancar dapat mengurangi frustasi, mencegah frustasi dan mencegah timbulnya berbagai macam masalah. Selain komunikasi yang tepat guna juga akan menghilangkan perbedaan pengertian diantara pemimpin dan bawahan atau diantara para bawahannya sendiri.
Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya harus mampu melaksanakan beberapa hal yaitu, pertama berinisiatif, apabila ia memasuki satu situsi lalu duduk menunggu orang yang akan dating kepadanya, maka tidak akan banyak orang yang dapat berinteraksi dengan dia. Kedua mampu menyatakan dengan jelas kemauan untuk bekerja sama. Ketiga mengkomunikasikan peasaan dan pemikiran dengan orang-orang yang diajak bekerja sama, yaitu dengan atasan maupun dengan bawahan. Keempat memiliki rasa simpati kepada mereka yang diharapkan dapat memimpin. Ia harus mampu menempatkan diri dalam situasi orang lain untuk merasakan bagaimana melakukan tugas kepemimpinan yang positif itu. Kelima seorang yang brinisiatif dan original, ia muncul dengan satu penampilan yang dibawakan oleh dirinya sebagai seorang pemimpin. Kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang timbul, akan meentukan kepemimpinan orang itu. Keenam menjadi seorang pelayan, seorang pemimpin yang lebih berhasil dalam menjalankan tugas kepemimpinannya adalah yang mau melayani dalam kelompoknya, tidak mendominasi kelompok atau memaksa mereka untuk melakukan apa saja yang diinginkan (Tambunan, 1998:46).
Setiap orang yang tergabung di dalam sebuah kelompok maupun organisasi mempunyai kedudukan yang berbeda. Perbedaan kedudukan ini berhubungan dengan jabatan yang mereka peroleh sesuai dengan kemampuan masing-masing. Seorang pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengatur orang lain. Kekuasaan itu tampak ketika ia berusaha memaksakan keinginannya kepada orang lain, sehingga memuaskan hatinya. Seorang penguasa berusaha ingin mengubah dunia, menjadikannya sesuai dengan keinginnya. Hampir tidak terpikir bagaimana mengubah dirinya sendiri.
Didalam Dhammapada menyatakan bahwa:
Tidak seharusnya seseorang berbuat salah hanya karena kepentingan dirinya sendiri ataupun karena kepentingan orang lain; pun hendaknya ia tidak menginginkan putra, kekayaan jabatan atau kesejahteraan diri sendiri dengan cara yang tidak benar. Hendaknya ia memiliki Sila (pekerti), panna (kebijaksanaan) dan Dhamma (kebenaran). (Dhammapada:84)
Diharapkan kepada masyarakat untuk memilih pemimpin yang mampu untuk mewujudkan cita-cita kelompok, organisasi, bangsa dan Negara. Upaya ini dapat diwujudkan melalui pemilihan seorang pemimpin yang berkualitas serta menjunjung tinggi kejujuran, keadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan individu. Diharapkan kepada pemerintah untuk ikut melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh dan dapat dipercaya oleh rakyat. Upaya ini dapat diwujudkan melalui menjalankan pemerintahan dengan bersih dan berwibawa, sehingga dalam hal ini pemimpin dapat memberikan contoh atau teladan kepada masyarakat. Apabila di dalam suatu system kepemimpinan, menjalankan tugas kepemimpinannya dengan baik, maka apa yang menjadi tujuan dan cita-cita dari kelompok maupun organisasi tersebut dapat tercapai dengan baik. Diharapkan kepada tokoh agama, khususnya Agama Buddha mampu menumbuhkan sifat atau jiwa kepemimpinan yang didasarkan pada syarat yang terkandung dalam nilai Agama Buddha sesuai dengan Sigalovada Sutta dan Dasa Raja Dhamma seorang pemimpin.


Referensi:
Dhammananda, Sri. 2005. Keyakinan umat Buddha. Bandung: Yayasan penerbit Karaniya.
Sutarno, skripsi. Peran pemimpin ditinjau dari sigalovada sutta.
Pegg, Mike. 1994. Kepemimpinan positif. Jakarta pusat: Percetakan PT. Sapdodadi.
Tim penerjemah. Kotbah-Kotbah Panjang Sang Buddha dgha nikaya. Dhamma Citta Pers.

Readmore..

MOTIVASI

| | 0 comments

Menjalani Hidup Dengan Berani
Hidup ini dapat menjadi petualangan yang menantang atau tidak berarti sama sekali. Demikaian bunyi kata bijak dari seorang yang luar biasa dengan cacat buta dan tuli bernama Helen Keller. Apa yang dikatakan bener adanya. Berapa banyak dari kita selama ini takut untuk mencoba, takut untuk melangkah, takut untuk melakukan sesuatu yang menurut kita bahwa kalau itu tercapai akan membuat kita bahagia, membuat kita berhasil dan bangga? Kita sudah membayangkan dulu hal-hal yang belum tentu terjadi, yang akhirnya mematikan semua potensi, energi, keinginan,kepuasan dan kebesaran yang kita inginkan.

Membangun Hidup yang lebih baik di awali dari SIKAP

Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita menjadi lebih baik dari yang lain, padahal mereka tidak lebih baik dulunya dalam pendidikan atau status sosialnya bahkan miskin melarat? Bahkan dalam sebuah Negara pun sama. Mengapa ada Negara-negara yang miskin sumber daya alamnya tetapi mampu menjadi Negara maju? Kita bisa lihat contoh dari beberapa Negara seperti Singapura, Jepang, Korea dll. Mereka menjadi Negara maju meskipun tidak memiliki sumber daya alam. Apa yang membuat perbedaan semua itu? Itu adalah SIKAP. Benar, sikaplah yang membuat seseorang berbeda satu dengan yang lain, termasuk Negara. Bahkan seseorang yang memiliki bakat hebatpun belum tentu mencapai keberhasilan dalam hidupnya.Orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka memiliki sikap untuk tidak menerima apapun yang diberikan oleh nasib. Mereka mampu merespon setiap hal yang tidak baik yang terjadi dalam hidup nya untuk melakukan sesuatu agar mereka menjadi orang yang mereka inginkan. Sementara orang yang gagal menerima segala yang terjadi dengan mengatakan itulah nasib mereka, mereka pantas menerimanya.
Hidup Adalah Pilihan

Saudara-saudara se Dhamma, Pernahkah terlintas dalam pikiran kita mengapa kita melihat ada orang lain di sekeliling kita hidup berkecukupan dan lebih bahagia dari yang lain? Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita hidup dengan lebih mudah tanpa harus bersusah payah? Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita mendapatkan apa yang mereka inginkan sementara yang lain tidak? Kita memang hidup sesuai dengan karma yang kita warisi. Apapun yang sudah kita lakukan, itulah karma sebagai buahnya. Kita berhubungan dengan orang lain adalah akibat karma kita. Sayangnya kata ‘karma’ itu membuat kita akhirnya ‘berlindung’ di atas ketidakmampuan dan ketidakberdayaan kita. Kita dengan mudah menyerahkan nasib hidup kita karena memang sudah di gariskan seperti itu, karena karma nya sudah begitu.

Readmore..

Menaklukkan Dewa Brahma Baka

| | 0 comments

Duggaha ditthi bhujagena sudattha hattham Brahmam visudhi jutimiddhi bakabhidhanam Nanagadena vidhina jitava munindoTan tejasa bhavatu te jayamangalani

Bagaikan ular yang melilit pada lengan,Demikian pandangan salah dimiliki oleh Baka, Dewa Brahma yang memiliki sinar dan kekuatanRaja Para Bijaksana menaklukkannya dengan obat pengetahuanDengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna

Ketika Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Beliau mengetahui bahwa Dewa Brahma Baka, mempunyai pandangan yang salah. Ia berpendapat bahwa Brahma-loka (=Alam Brahma) adalah kekal, tetap untuk selama-lamanya, abadi, tidak berubah; selain di alam Brahma tidak ada penyelamatan atau pembebasan secara menyeluruh.

Di dalam kelahirannya yang terdahulu, Dewa Brahma Baka yang berlatih meditasi, terlahir kembali di Surga Vehapphala. Beliau berada di sana selama lima ratus kalpa 2), lalu terlahir kembali di Surga Subhakinna. Sesudah berada di sana selama enam puluh empat kalpa, ia terlahir kembali di Surga Abhassara, di sana ia berada selama delapan kalpa. Di Surga Abhassara inilah ia mempunyai pandangan salah. Ia lupa bahwa ia pindah dari Alam Brahma yang tertinggi dan terlahir di Alam Surga yang lebih rendah yaitu Surga Abhassara.

Sang Buddha mengetahui pandangan yang salah ini. Beliau lalu menghilang dari Vihara Jetavana dan muncul di Alam Brahma. Vasavatti Mara mengetahui maksud Sang Guru Agung ini; dan ia berniat untuk menghalangi, ia lalu pergi ke Alam Brahma yang sama.

Ketika Sang Buddha mulai berbicara dengan Dewa Brahma Baka, Mara menyela pembicaraan dengan mengatakan bahwa Dewa Brahma Baka amat bijaksana dan mempunyai kekuatan terhadap Dewa Brahma lainnya. Bahwa ialah yang menciptakan dunia ini, menciptakan Gunung Maha Meru (nama gunung tertinggi di dunia ini), dan menciptakan dunia-dunia lain; ia pula yang menentukan kasta atau tingkatan suatu mahluk; ia pula yang menciptakan bermacam-macam binatang.

Mara berkata kepada Sang Buddha :
"Tidak ada seorang pertapapun sebelum Kamu yang berpikir bahwa dunia ini tidak abadi. Dan sesudah mempelajari bahwa segala sesuatu itu tidak abadi, mereka langsung masuk ke neraka. Ada beberapa Dewa Brahma yang menyangkal hal ini, mereka menyatakan bahwa segala sesuatu adalah abadi, maka mereka terlahir kembali di Alam Brahma. Karena itu, lebih baik Kamu mengajarkan hal yang sama, seperti yang para Dewa Brahma lakukan. Saya memberiMu nasehat ini, kalau Kamu mengajarkan doktrin yang sama, maka Kamu akan memperoleh hadiah yang sama pula; tetapi kalau Kamu menyangkalnya maka Kamu akan hancur."

Tetapi Sang Buddha menjawab :
"Saya tahu siapa kamu ini. Kamu adalah Mara si Penggoda, janganlah kamu berpikir kamu dapat mengelabuiKu."

Kemudian Dewa Brahma Baka berkata bahwa Alam Brahma selalu ada, di mana tidak ada kehancuran ataupun kematian. Tidak ada perpindahan dari satu alam ke alam lain; segala sesuatunya selalu kekal, tetap, abadi, mutlak dan tidak berubah; selain di Alam Brahma tidak ada keselamatan. Dan banyak Para Buddha sebelum Buddha Gotama, kemanakah mereka lenyap? Tidak ada seorangpun yang dapat mengatakan mereka pergi kemana; dan akan lebih baik apabila Buddha Gotama merasa malu dengan doktrinNya, dan lebih baik menerima doktrin yang sama dengan para Dewa Brahma.
Tetapi Sang Buddha Gotama memperlihatkan kemampuanNya yang luar biasa kepada Dewa Brahma Baka, dengan menjelaskan tentang enam kelahiran Dewa Brahma Baka yang terdahulu, dimana Beliau sendiri menghilang tanpa diketahui berada di mana.

Sang Buddha lalu menjelaskan :
Dalam salah satu kelahirannya, Dewa Brahma Baka adalah seorang pertapa yang bertempat tinggal di tepi sungai. Pada waktu itu, ada lima ratus orang pedagang datang dengan membawa keretanya ke tempat yang sama pula, mereka amat sopan dan ramah. Tidak lama kemudian, sapi jantan pertama yang menarik kereta, pulang kembali ke rumah dan diikuti sapi-sapi jantan lainnya. Keesokan paginya, para pedagang itu tidak mempunyai minyak, makanan ataupun air minum, mereka amat kelaparan dan kehausan. Mereka amat lemas, hanya berbaring saja dengan berpikir mereka akan mati di sana. Tetapi pertapa yang melihat mereka dalam kesulitan membawakan air minum, sehingga para pedagang itu selamat dari kematian.

Pada lain waktu, beberapa pencuri mencuri di suatu desa, mereka mengambil barang yang mereka sukai. Si Pertapa yang mengetahui perbuatan para pencuri itu, lalu menciptakan suara-suara dari barang-barang yang mereka curi itu, dalam lima tangga nada yang cukup keras, sehingga para pencuri itu terkejut dan membuang barang-barang yang mereka curi. Dengan ketakutan mereka melarikan diri, karena mengira raja datang.

Pada kesempatan lain, penduduk dari dua desa yang bersisian di tepi sebuah sungai setuju pergi bersama-sama naik sebuah kapal untuk berdagang. Kepergian mereka diketahui oleh Naga jahat yang berniat ingin menghancurkan mereka, tetapi pertapa yang mengetahui niat jahat Naga itu lalu menampakkan dirinya sebagai garuda raksasa. Garuda itu menakut-nakuti dan menyerang Naga jahat itu, sehingga Naga tersebut terbang ketakutan tanpa menyentuh para pedagang. Mereka selamat dari mara bahaya.

Karena tindakan-tindakannya yang penuh dengan cinta kasih kepada mahluk lain inilah, yang menyebabkan pertapa itu terlahir kembali di Alam Brahma.

Sang Buddha Gotama menunjukkan kemampuanNya yang luar biasa sebagai seorang Buddha dalam membabarkan Dhamma, menjelaskan tentang Empat Kesunyataan Mulia. Sehingga pada akhirnya pikiran dari seribu dewa di Alam Brahma terbebas dari kemelekatan dan pandangan keliru.

Dewa Brahma Baka mengakui bahwa apa yang Sang Buddha Gotama katakan adalah benar, dan mengakui pengetahuan Sang Guru Agung yang luar biasa, sehingga ia menyatakan diri berlindung kepada Sang Tri Ratna, demikian pula para Dewa Brahma lainnya. Sang Buddha lalu pulang kembali dari Alam Brahma ke Vihara Jetavana.

Keterangan :
1. Brahma : Dewa istimewa yaitu Dewa yang mempunyai Jhana
2. Kalpa : Umur satu masa dunia
sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=138&multi=T&hal=0

Readmore..

Monday, January 9, 2012

Guru

| Monday, January 9, 2012 | 0 comments

Guru
William Halim
Tidak usah repot mencari Guru nan jauh disana, nan jauh di hutan2 atau di pelosok-pelosok gunung dan gua… Sebenarnya ada 3 macam Guru: pertama, Guru yg menguasai kitab dengan baik namun tidak dengan sikapnya. Kedua, Guru yg tidak tau apa2 tentang kitab namun sikapnya amatlah terpuji, dan yg ketiga adalah guru yg menguasai kitab dab sikap dengan baik.

Guru yg bertipe ketiga begini amatlah susah ditemui, ditengah kesibukan kita sehari-hari, amatlah beruntung jika bisa bersua dengan Guru yang sempurna tersebut. Namun, bagi yg belum begitu beruntung, tidak usah khawatir, Guru yg bertipe kedua, bertebaran disekeliling kita. Mereka dapat diketahui dari sikapnya yg penyabar, tenang dan penyayang. Kita dapat meneladani dan mencontoh sikap mereka. Kita dapat merujuk dan merenungkan sikap mereka yg sabar, tenang dan penyayang. Kita dapat berguru kepada mereka. Mereka-mereka ini, meski tidak menguasai teori Dhamma sedikitpun, sesungguhnya adalah Guru nan Sejati. Mereka-mereka ini mungkin saja ayah/Ibu kita, mungkin saja Istri/Suami kita, atau ipar atau sepupu atau teman kita… Guru-guru ini bisa siapa saja di sekeliling kita….

Bagaimana dengan Guru pertama, yakni yang menguasai kitab dengan amat sempurna namun belum tentu dengan sikap kesehariannya? Ada orang bijak yg mengatakan: “Anda tidak akan tercerahkan di University”. Guru begini amatlah banyak, tidak usah mencari jauh-jauh… tidak usah khawatir dengan teori Dhamma, jika ingin intelek berteori Dhamma, internet dan buku-buku dapat menjadi subsitusi untuk Guru-guru begini…

Sang Buddha menganjurkan kita untuk senantiasa menyempurnakan batin kita, sikap kita, reaksi kita, pikiran kita… Jika tujuan kita sesuai dengan anjuran Sang Guru tersebut, maka bergurulah kepada orang-orang yg baik sikapnya, baik batinnya, baik kepribadiannya…. Contoh dan teladanilah sikap mereka….

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Tidak ada by Ajahn Chah | Kelahiran dan Kematian

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

 Kumpulan Kata2 Bijak Y.A.  Ajahn Chah mengenai Kelahiran dan Kematian:
 
1. Latihan yang baik adalah : bertanya kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh, “Mengapa saya dilahirkan?” Tanyakan diri Anda sendiri dengan pertanyaan ini pada pagi hari,siang hari, dan malam hari....... setiap hari. 

2. Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini? 

3. Anda akan berpikir bahwa : orang mengerti apa yg akan terjadi jika hidup di dalam kandungan seseorang? Betapa tidak nyaman! Bayangkan saja, bila diam di dalam gubuk hanya sehari saja, rasanya sudah sulit. Kunci semua pintu dan jendela, Anda sudah merasa tertekan. Jadi bagaimana rasanya tinggal di dalam kandungan seseorang, selama sembilan bulan? Tapi Anda tetap mau dilahirkan kembali! Anda tahu ketidak-nyamannya dalam kandungan, dan Anda masih mau menempelkan kepala di sana, untuk menaruh leher Anda di dalam jerat itu sekali lagi. 

4. Mengapa kita dilahirkan? Kita dilahirkan agar kita tidak akan dilahirkan kembali. 

5. Ketika seseorang tidak mengerti tentang kematian, hidup dapat menjadi sangat membingungkan. 

6. Sang Buddha memberitahukan muridnya, Ananda, untuk melihat ketidak-kekalan, untuk melihat kematian dalam setiap nafas. Kita harus memahami kematian; kita harus mati agar dapat hidup. Apa artinya ini? Mati adalah jalan menuju akhir dari semua keraguan, semua pertanyaan kita, dan ada di sini dengan kenyataan saat ini. Anda tidak akan pernah mati besok. Anda harus mati sekarang. Dapatkah Anda melakukannya? Bila Anda dapat melakukannya, Anda akan tahu kedamaian tanpa pertanyaan lagi.


7. Kematian itu sedekat nafas kita. 

8. Kalau Anda telah terlatih dengan benar, Anda tidak akan merasa ketakutan ketika jatuh sakit, juga tidak sedih jika seseorang meninggal. Ketika Anda pergi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan, tanamkan di dalam pikiran jika Anda menjadi lebih sehat, itu bagus; dan jika Anda meninggal, itu juga bagus. Saya menjamin Anda, bahwa bila dokter berkata kepada saya, bahwa saya mengidap kanker dan akan mati beberapa bulan lagi, saya akan mengingatkan dokter itu, “Hati-hati, karena kematian juga akan datang menjemputmu. Ini hanya masalah siapa yang pergi duluan dan siapa yang pergi belakangan.” Dokter tidak dapat menyembuhkan kematian dan tidak dapat mencegah kematian. Hanya Buddha yang dapat disebut dokter, jadi kenapa tidak pergi dan menggunakan obat dari Buddha? 

9. Jika Anda takut sakit, jika Anda takut mati, sebaiknya Anda merenungkan : dari mana mereka berasal. Dari mana mereka datang? Mereka muncul dari kelahiran. Jadi jangan sedih bila seseorang meninggal. Itu adalah hal yang alami, dan penderitaanya dalam kehidupan ini berakhir. Jika Anda mau bersedih, bersedihlah pada saat orang dilahirkan: “Oh tidak, mereka datang lagi. Mereka akan menderita dan mati lagi!” 

10. “Dia yang mengetahui” dengan jelas tahu bahwa semua keadaan yang berkondisi adalah tidak kekal. Jadi “Dia yang mengetahui” tidak akan menjadi senang atau sedih, karena tidak mengikuti perubahan kondisi. Untuk menjadi senang, adalah untuk dilahirkan; untuk menjadi kesal, adalah untuk mati. Setelah mati, kita lahir kembali; setelah dilahirkan, kita mati lagi. Kelahiran dan kematian dari satu momen ke momen berikutnya adalah putaran roda samsara yang tidak pernah berakhir.

Readmore..

Araka Jataka

| | 0 comments

Pada suatu kesempatan Sang Bhagava berkata demikian pada Sangha, "Para Bhikkhu, kemurahan hati (welas asih) yang dipraktekan dengan segenap pikiran, dimeditasikan, diperbesar, dijadikan alat kemajuan, dijadikan obyek tunggal, dilatih, dan dimulai dengan baik dapat diharapkan untuk menghasilkan sebelas berkah.

"Apakah kesebelasan berkah itu? Ia tidur dengan gembira dan bangun dengan gembira; ia tidak mengalami mimpi buruk; orang-orang menyukainya; para makhluk halus menjaganya; api, racun, dan pedang tidak mendekatinya; mudah diingat; pembawaannya menjadi tenang; ia mati tanpa perasaan takut; tanpa memerlukan kebijaksanaan lebih lanjut ia mencapai surga Brahma. Kemurahan hati, para bhikkhu, yang dilakukan tanpa mengenal kehendak" dan seterusnya. "Dapat diharapkan untuk menghasilkan sebelas berkah. Sambil memuji kemurahan hati yang berisi sebelas berkah ini, para bhikkhu, seorang bhikkhu seyogyanya bermurah hati kepada semua makhluk, disuruh atau tidak, ia seharusnya menjadi sahabat orang yang ramah, juga menjadi sahabat orang yang tidak ramah, dan menjadi sahabat orang yang acuh tak acuh. Jadi kepada semua tanpa perbedaan, disuruh atau tidak, di harus bermurah hati; ia harus bersimpati terhadap kesenangan atau kesusuhan dan melatih kesabaran; ia harus melakukan pekerjaanya dengan empat kebaikan. Dengan berbuat demikian ia akan sampai ke surga Brahma walaupun tanpa jalan atau buah. Para bijaksana dengan mengembangkan welas asih selama tujuh tahun, telah berdiam di surga Brahma selama tujuh jaman, masing-masing dengan satu masa berkembang dan satu masa menyusut "] Dan ia menceritakan kepada mereka sebuah kisah di masa lalu.
Pada suatu ketika, di zaman yang lalu, Sang Bodhisattva terlahir di keluarga Brahmin. Setelah dewasa, ia melenyapkan napsunya dan menjalani kehidupan religius,serta mencapai empat kebaikan. Ia bernama Araka, dan menjadi seorang guru yang tinggal di daerah Himalaya dengan pengikut yang banyak. Ia memberi nasehat kepada para bijaksana pengikutnya, "Seorang yang mengasingkan diri (pertapa) harus menunjukan welah asih, bersimpati (turut merasakan) dalam kesenangan maupun kesusuhan, dan penuh kesabaran karena rasa welas asih yang dicapai dengan penuh tekad mempersiapkannya menuju surga Brahma. " Dan untuk menjelaskan berkah dari welas asih, ia melantunkan sajak berikut ini:

"Hati yang memiliki welas asih tanpa batas kepada semua yang terlahir.
Di surga, di alam bawah, dan di bumi.
Penuh dengan rasa welas asih tak terbatas, kemurahan hati tanpa batas.
Di dalam hati yang demikian takkan ada perasaan sempit atau terkurung."

Demikianlah uraian Sang Bodhisattva kepada para muridnya mengenai pengalaman welas asih dan berkahnya. Dan ia seketika terlahir di surga Brahma, selama tujuh zaman, masing-masing dengan masa berkembang dan menyusut, ia tidak kembali lagi ke dunia ini. Setelah selesai berkhotbah, Sang Bhagava mengindentifikasi kelahiran tersebut, "Para bijaksana pada saat itu sekarang adalah para pengikut Buddha;dan saya sendiri adalah Sang Guru Araka."

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com