Showing posts with label buddhist. Show all posts
Showing posts with label buddhist. Show all posts

Wednesday, February 1, 2012

Romo Pannajayo : Lemah Lembut

| Wednesday, February 1, 2012 | 0 comments

Protokol: Antoni kho ( Facebook )
Penyala Lilin Altar:
Fellita Anjani (Facebook)
Pembaca Dhammapada: Mellisa Rosia (Facebook) dan Meylianawati Dewi ( Facebook )
Pengumuman1 : Grace Chandra ( Facebook )
-design jaket.
-Prosesi puja untuk Kahtina
Pengumuman2 : Sidhi Agustiana Taniman ( Facebook )
-untuk yang sekolah di Yos Sudarso Karawang dan sekolah swasta lainnya, jika ingin surat aktivitas harus rajin datang ke Vihara. Karena nanti akan di absen.
Dhammadesana : Romo Pannajayo
Penulis : Nadila (Facebook)

Pada malam yang berbahagia ini, adik-adik dapat hadir ke Vihara walaupun ini hari libur panjang dimana kebanyakan orang sudah pergi berlibur bersama keluarga. (pembuka).

Romo memulai ceramah Dhammanya dengan tema lemah lembut. Kita sebagai manusia yang terlahir sebagai makhluk yang harus bersosialisasi. Kita tidak bisa hidup tanpa mengandalkan orang lain. Kita membutuhkan semua orang. Maka dari itu, sikap kita terhadap orang lain harus lemah lembut. Jangan sampai kita berbicara kasar kalau kita membutuhkan orang lain.
Beberapa tahun yang lalu ada seorang teman saya yang mengatakan bahwa “saya tidak membutuhkan orang tua saya lagi!”. Pada saat itu, ia sedang bertengkar dengan orang tuanya. Akhirnya beliau pergi dari rumah. Setelah saya hubungi, ternyata ia ada di Jakarta. Di Jakarta ia bekerja dengan susah payah. Orang tua di rumah menanti anaknya untuk segera pulang. Saat itu saya bujuk ia untuk pulang. Akhirnya ia pulang bersama saya. Setelah sampai di rumah, ia meminta maaf pada orang tuanya. Dengan gembira Orang tuanya pun memaafkan anaknya. Setelah itu, ia dinikahkan orang tuanya. Kehidupannya menjadi membaik setelah bantuan dari orang tuanya. Sampai akhirnya ia bisa mandiri sendiri. Lalu saat ia bisa membiayai keluarganya sendiri, saya bertanya “kamu masih membutuhkan orang tua kamu tidak?”
Beliau menjawab “ ya, saya masih membutuhkan orang tua saya”.

Dari cerita tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa kita masih membutuhkn orang lain apalagi orang tua kita. Walaupun kita sudah mandiri, kita tetap membutuhkan orang tua kita untuk menyokong mereka. Seperti yang tertulis pada Manggala Sutta, Berbakti pada ayah dan ibu adalah berkah utama. Kalau kita tidak membutuhkan orang lain, siapa yang mau menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan? Maka dari itu, kita harus memperlakukan mereka dengan Lemah Lembut. Karena Lemah Lembut adalah salah satu modal untuk mencapai kebahagiaan tertinggi.

Semoga semua makluk hidup berbahagia.
Sadhu… sadhu… sadhu…

Readmore..

Tuesday, January 17, 2012

KALAYA-MUTTHI-JATAKA No. 176

| Tuesday, January 17, 2012 | 0 comments

“seekor monyet yang bodoh”. Kisah ini diceritakan Sang Bhagava di jetavana, mengenai raja di Kosala.
Pada suatu musim penghujan, kekecewaan terjadi di perbatasan. Pasukan yang ditempatkan disana, setelah dua atau tiga pertenpuran mereka gagal menaklukan musuh, mereka mengirimkan suatu pesan kepada raja menyangkut musim, menyangkut hujan ketika memulai petempuran, dan berkemah ditaman Jetavana. Kemudian raja mulai mempertimbangkanmusim ini tidak baik untuk suatu ekspedisi, tiap lubang dan cekungan penuh dengan air, jalan berat, aku akan pergi mengunjungi Sang Bhagava. Ia yakin akan bertanya “jauh kemana”, ketika saya bercerita kepadanya ia pasti akan menceritakan kepada dia. Itu adalah tidak hanya didalam hal-hal yang menyangut hidup masa depan yang master (kita/kami) melindungi aku, tapi ia melindungi hal yang mana kita sekarang melihat. Maka perjalananku adalah tidak berhasil bai, ia akan say’ adalah sustu waktu tidak baik untuk pergi, tuan “; tetapi jika aku adalah untuk berhasil baik, ia akan tidak katakan apapun. “maka kedalam taman yang ia datang memberi hormat Sang Bhagava, dan setelah sambuta master duduk pada satu sisi.

Readmore..

Monday, January 16, 2012

Bhante Upasammo : Sunguh sulit untuk mendengarkan ajaran kebenaran

| Monday, January 16, 2012 | 0 comments

Protokol : Romo Pannajayo
Penyalaan Lilin Altar : Bpk.Aen
Pembacaan Dhammapada : Ibu Vina (gatha 152 dan 153)
Dhammadesana : Y. M. Bhante Upasamo
dari Vihara Dhammacakkha Jaya, Sunter
Tema : Kiccham saddhammasavanam
(Sungguh sulit untuk mendengarkan ajaran  kebenaran)


Malam ini untuk kedua kalinya Y. M. Bhante Upasamo mengisi Dhammadesana di Vihara Surya Adhi Guna, Rengasdengklok. Pada kesempatan ini Bhante membahas tentang bait Dhammapada gatha 182 baris ketiga yang berbunyi "Kiccham saddhammasavanam", yang berarti sungguh sulit untuk mendengarkan ajaran kebenaran (Dhamma).

Dalam Anguttara Nikaya disebutkan bahwa suatu ajaran dapat dikatakan sebagai ajaran kebenaran apabila ajaran tersebut memenuhi 8 kriteria. Sang Buddha berkata, "Itu adalah Dhamma, itu adalah Vinaya, dan itu adalah ajaran Sang Guru jika ajaran tersebut:
1. Ajaran itu mengajarkan tanpa nafsu
2. Ajaran itu bebas dari kemelekatan
3. Ajaran itu menuju pada pelepasan
4. Ajaran itu menuju pada sedikit keinginan
5. Ajaran itu mengajarkan pada kepuasan
6. Ajaran itu mengajarkan pada kesendirian
7. Ajaran itu mengajarkan pada membangkitkan semangat, bukan pada
kelembaman
8. Ajaran itu mengajarkan pada kesederhanaan bukan pada kemewahan

Untuk mendengarkan dhamma tidaklah mudah dan perlu prose yang panjang, Sebagai contoh Bhante Upasamo dapat datang ke Vihara Surya Adhi Guna untuk membabarkan Dhamma karena Bhante sudah menjalani kehidupan samanera selama dua tahun dan ada umat yang bersedia antar jemput Beliau Jakarta-Rengasdengklok. Oleh karena itu kita harus menghargai dan mendengarkan Dhamma karena sungguh sulit untuk melakukan pembabaran Dhamma. Walaupun yang membabarkan Dhamma kurang mahir dan ajarannya sederhana kita patut mendengarkan dan mengambil manfaat dari pembabaran Dhammanya.

Kita patut menghargai pembabar Dhamma karena menjadi pembabar Dhamma tidaklah mudah dan agak riskan. Terkadang apabila seorang pembabar Dhamma mempunyai perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran yang dia babarkan maka hal ini akan dipertanyakan oleh orang yang mendengarnya. Sebenarnya jika kita mendengarkan Dhamma dari seseorang yang perbuatannya tidak ideal dengan ajarannya bukan berarti kita tidak perlu mendengarkannya. Kita tetap masih dapat memperoleh manfaat jika kita tetap mendengarkan dan mempraktekkan ajarannya.

Begitu pula jika ada seorang Dhammaduta memberikan ajaran yang sederhana, kita pun harus tetap mendengarkan. Ada sebuah cerita seorang guru yang selalu mengajarkan ajaran yang sederhana, semua ajarannya hampir sama dan diulang-ulang. Suatu hari sang Murid bertanya pada Gurunya, "Guru.., mengapa Guru selalu mengajarkan ajaran yang sederhana, hampir sama dan selalu diulang-ulang." Lalu sang Guru menjawab, "Memang betul ajaranku sederhana dan seringkali diulang-ulang. Akan tetapi apakah kamu sudah dapat melakukan dengan baik ajaranku yang sederhana tersebut?." Sang murid pun tersentak dan tersadar. Ia menyadari walaupun sungguh sederhana ajaran Gurunya tetapi ia belum dapat mempraktekkannya dengan baik.

Dalam Anguttara Nikaya dikatakan ada 5 manfaat yang dapat kita peroleh dari mendengarkan Dhamma yaitu:
1. Mendengar sesuatu yang belum pernah di dengar
2. Memantapkan atau mengingat kembali apa yang sudah didengarkan
3. Keragu-raguannya hilang
4. Meluruskan pandangan
5. Batin menjadi tenang dan damai 

Kita umat Buddha berangkat ke Vihara dengan berbagai alasan yaitu: merasa akab dengan pembicaranya sehingga merasa perlu mendengarkan dhammadesananya; merasa pergi ke Vihara dapat mengisi waktu luangnya; datang karena takut dikatakan malas; atau untuk menguji dengar bagaimana kemampuan Dhammaduta yang mengisi kebhaktian pada saat itu. Walaupun datang ke Vihara dengan berbagai alasan yang tidak sama tetapi sungguh beruntung kita dapat datang ke Vihara dan mendengarkan Dhamma. Dapat kita bayangkan kalau kita tidak mendengarkan Dhamma maka diri kita tak kan sebaik sekarang ini. Dahulu kita menganggap perbuatan amoral adalah baik akan tetapi setelah mendengarkan Dhamma pastilah kita tidak mau melakukan perbuatan amoral lagi.

Saat ini untuk bertemu dengan Dhamma semakin mudah karena buku-buku Dhamma semakin banyak dan Vihara semakin banyak. Hal ini sangatlah bagus. Oleh sebab itu janganlah disia-siakan.
Sebelum menutup Dhammadesananya. Bhante menganjurkan kami agar tidak melihat siapa yang membabarkan Dhamma tetapi lihatlah ke dalam, lihat apa yang dapat kita praktekkan. Dengan jalan ini maka kita mendapatkan manfaat untuk berubah dari tidak baik menjadi baik.

Demikian Dhammadesana dari Bhante Upasamo, Semoga Bermanfaat. Sadhu...! Sadhu...! Sadhu...!

Readmore..

Jawaban Atas Siapakah Sang Buddha?

| | 0 comments

Pada suatu waktu seorang pertapa bernama Dona, memperhatikan tanda-tanda dari bekas jejak Sang Buddha, menghampiri Beliau dan bertanya pada Beliau : 

“ Yang Mulia tentunya Deva ?“ ¹
“ Tentu saja bukan, pertapa, saya bukan Deva,” Jawab Sang Buddha.
“ Lalu Yang Mulia tentu Gandhaba ?” ²
“ Tentu saja bukan, pertapa, saya bukan Gandhabha.”
“ Lalu Yakkha ?” ³
“ Tentu saja bukan, pertapa, bukan Yakkha.”
“ Lalu Yang Mulia tentu seorang Manusia “
“ Tentu saja bukan, pertapa, saya bukan seorang manusia.”
“ Lalu kepada siapa Yang Mulia berdoa ?”
Sang Buddha menjawab bahwa Beliau telah menghancurkan kekotoran-kekotoran dari kondisi kelahiran kembali seperti Deva, Gandhabha, Yakkha atau seorang manusia dan menambahkan :
“ Seperti sekuntum bunga teratai, yang cantik dan elok.
Tidak menjadi kotor karena air.
Saya tidak menjadi kotor karena air,
Oleh karena itu, pertapa, saya seorang Buddha “
( Anguttara Nikaya ii, hal 37 )

Sang Buddha tidak menyatakan sebagai Titisan (Avatara) dari dewa Hindu : Vishnu, yang sebagaimana bhagavadgita menyanyikannya dengan sangat menarik, dilahirkan berulang kali dalam masa yang berbeda untukk melindungi orang yang berbudi, menghancurkan yang jahar, dan menetapkan Dhamma (Kebenaran).

Menurut Sang Buddha tidak terhitung banyaknya para Dewa dan kelompok makhluk yang tunduk pada kelahiran dan kematian; tetapi tidak ada satupun Dewa tertinggipun yang mengatur nasib-nasib manusia dan mempunyai kekuatan hebat untuk muncul di dunia pada jarak waktu yang berbeda, menggunakan bentuk manusia sebagai suatu sarana. ?

Foot note :
1. Deva : Suatu makhluk dewa yang bertempat tinggal di tempat yang amat menyenangkan.
2. Gandhabha : Pemusik Surgawi.
3. Yakkha : Seorang Setan.
4. Walaupun guru-guru Hindu, dengan tujuan menarik kedalam agama Hindu untuk memperbanyak pengikut-pengikut Agama buddha, telah dengan tidak adil menyebut Sang Buddha sebagai Titisan Dewa ( Avatara ), suatu gagasan yang Beliau tidak akui pada masanya.

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

NASIHAT BIJAKSANA SEORANG IBU

| Thursday, January 12, 2012 | 1 comments

JATAKA 100 - NASIHAT BIJAKSANA SEORANG IBU
Pada suatu masa, putra dari Raja Brahmadatta memerintah dengan bijaksana di Benares, India bagian utara. Sebelumnya raja dari Kosala mengadakan peperangan, membunuh raja Benares, dan menjadikan permaisuri sebagai istrinya.

Sementara itu, putra dari permaisuri melarikan diri dengan diam-diam melalui terowongan bawah tanah. Di daerah pinggiran ia bahkan membangun pasukan tentara yang besar dan mengepung kota. Ia mengirimkan pesan kepada Raja Kosala, sang pembunuh ayahnya dan suami baru ibunya. Ia mengatakan padanya agar menyerahkan kerajaan itu atau berperang di medan pertempuran.

Ibu pangeran, permaisuri dari Benares, mendengar ancaman ini dari anaknya. Ia merupakan orang yang baik dan murah hati, seorang wanita yang selalu mencegah terjadinya kekerasan, penderitaan, dan pembunuhan. Jadi ia mengirimkan sebuah pesan bagi anaknya "Tidak perlu mengambil resiko dalam pertempuran. Lebih bijak bila kamu menutup seluruh pintu masuk ke dalam kota. Pada akhirnya kekurangan makanan, air , kayu bakar akan menjatuhkan mental penduduk. Kemudian mereka akan menyerahkan kota ini padamu tanpa bertempur".

Pangeran memutuskan untuk mengikuti nasihat ibunya yang bijak. Bala tentaranya memblokir kota selama tujuh hari tujuh malam. Lalu penduduk kota menangkap raja mereka yang lalim, memenggal kepalanya, dan mempersembahkannya kepada sang pangeran. Pangeran memasuki kota dengan kemenangan besar dan menjadi raja baru Benares

Readmore..

Monday, January 9, 2012

Guru

| Monday, January 9, 2012 | 0 comments

Guru
William Halim
Tidak usah repot mencari Guru nan jauh disana, nan jauh di hutan2 atau di pelosok-pelosok gunung dan gua… Sebenarnya ada 3 macam Guru: pertama, Guru yg menguasai kitab dengan baik namun tidak dengan sikapnya. Kedua, Guru yg tidak tau apa2 tentang kitab namun sikapnya amatlah terpuji, dan yg ketiga adalah guru yg menguasai kitab dab sikap dengan baik.

Guru yg bertipe ketiga begini amatlah susah ditemui, ditengah kesibukan kita sehari-hari, amatlah beruntung jika bisa bersua dengan Guru yang sempurna tersebut. Namun, bagi yg belum begitu beruntung, tidak usah khawatir, Guru yg bertipe kedua, bertebaran disekeliling kita. Mereka dapat diketahui dari sikapnya yg penyabar, tenang dan penyayang. Kita dapat meneladani dan mencontoh sikap mereka. Kita dapat merujuk dan merenungkan sikap mereka yg sabar, tenang dan penyayang. Kita dapat berguru kepada mereka. Mereka-mereka ini, meski tidak menguasai teori Dhamma sedikitpun, sesungguhnya adalah Guru nan Sejati. Mereka-mereka ini mungkin saja ayah/Ibu kita, mungkin saja Istri/Suami kita, atau ipar atau sepupu atau teman kita… Guru-guru ini bisa siapa saja di sekeliling kita….

Bagaimana dengan Guru pertama, yakni yang menguasai kitab dengan amat sempurna namun belum tentu dengan sikap kesehariannya? Ada orang bijak yg mengatakan: “Anda tidak akan tercerahkan di University”. Guru begini amatlah banyak, tidak usah mencari jauh-jauh… tidak usah khawatir dengan teori Dhamma, jika ingin intelek berteori Dhamma, internet dan buku-buku dapat menjadi subsitusi untuk Guru-guru begini…

Sang Buddha menganjurkan kita untuk senantiasa menyempurnakan batin kita, sikap kita, reaksi kita, pikiran kita… Jika tujuan kita sesuai dengan anjuran Sang Guru tersebut, maka bergurulah kepada orang-orang yg baik sikapnya, baik batinnya, baik kepribadiannya…. Contoh dan teladanilah sikap mereka….

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Dua Ekor Kera Bersaudara

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

Chullanandiya Jataka Jataka Pali No.222
Suatu ketika, Bodhisattva terlahir di lingkungan Himalaya sebagai seekor kera bernama Nandaka. Adiknya bernama Chullanandaka. Mereka berdua memimpin sekelompok kera yang terdiri dari 84.000 ekor kera. Mereka juga mempunyai ibu tua yang telah buta untuk dirawat.

Pada suatu saat, ketika mereka sedang menikmati buah-buahan di hutan tanpa terasa mereka telah jauh dari tempat tinggalnya. Oleh karena itu, mereka mengirimkan makanan kepada ibunya melalui teman-temannya. Namun, kiriman makanan itu jarang disampaikan kepada ibunya. Tersiksa karena kelaparan, sang ibu jatuh sakit.

Ketika pulang, mereka sangat terkejut dengan keadaan ibunya yang sakit parah.
Selanjutnya, ketika mereka mengetahui bahwa buah-buahan yang dikirimkan melalui kawan-kawannya tidak diterima oleh sang ibu, mereka kemudian meninggalkan kelompoknya dan tinggal bersama ibunya di sebatang pohon banyan.
Pada suatu hari datanglah seorang brahmana yang jahat masuk ke dalam hutan itu. Brahmana ini telah dikeluarkan dari sekolah terkenal di Taxila dan telah meninggalkan guru yang paling terkenal yaitu Parasariya. Brahmana ini telah alih professi menjadi seorang pemburu dan pembunuh.

Melihat seorang pemburu datang mendekati, kedua kera bersaudara itu segera bersembunyi di belakang dedaunan. Namun, sang induk kera terlambat menyembunyikan diri. Kemudian, sang pemburu menarik busur untuk membunuhnya. Nandaka, si kera sulung melompat di depan pemburu dan memohonnya untuk membebaskan sang ibu dari kematian dan menjadikan dirinya sebagai gantinya. Si pemburu sepakat dan membunuh Nandaka.

Akan tetapi, sang pemburu tidak menaati janjinya dan sekali lagi ia mengarahkan anak panahnya kepada induk kera. Kali ini, Chullanandiya, si kera bungsu segera melompat di hadapan sang pemburu dan memohon kebebasan induknya. Ia juga bersedia dibunuh sebagai ganti kehidupan ibunya. Sang pemburu sekali lagi menyetujuinya. Karena itu, ia membunuh si kera bungsu.

Namun, ia tetap juga melanggar janjinya dengan membunuh sang induk kera. Ia mencabut anak panah ketiga dan mengarahkannya ke induk kera yang telah buta matanya tersebut. 
Ia kemudian mengumpulkan ketiga jasad kera dan dengan bahagia dibawanya pulang. Selama perjalanan ia merasa bahagia karena berpikir bahwa ia telah dapat memberikan keluarganya tiga jasad kera dalam satu hari.

Ketika ia akan tiba di rumah, ia mendengar berita bahwa rumahnya telah disambar petir dan seluruh anggota keluarganya hancur. Kehilangan seluruh anggota keluarganya membuatnya sedih luar biasa dan berubah pikiran. Ia melemparkan pakaiannya dan berlari menuju ke rumah dengan dua tangan terbuka seolah akan memeluk anak dan istrinya. Ketika ia tiba di rumah dan mencari anggota keluarganya di antara puing-puing, kepalanya kejatuhan tiang bambu rumah yang sedang terbakar. Dikatakan oleh para saksi mata bahwa ia telah hilang dalam kepulan asap dan api yang timbul dari neraka bersamaan dengan terbukanya bumi untuk menelan tubuhnya. Para saksi mata juga mendengar bahwa pria yang sekarat itu mengulang pelajaran yang telah diberikan oleh guru tuanya di Taxila dengan menyebutkan kalimat berikut ini:

Sekarang saya teringat akan ajaran guru saya,
Dan sekarang saya mengerti maksudnya,
Ketika ia mengajarkan padaku untuk berhati-hati;
Dan jangan melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan penyesalan.
(Keterangan:

Pada waktu itu Nandiya adalah Bodhisattva, Parasariya adalah Sariputta, induk kera adalah Gotami; Chullanandiya adalah Ananda dan Devadatta adalah si pemburu)
Demikianlah salah satu kisah Jataka yang menguraikan tokoh-tokoh penting di sekitar Bodhisattva di kehidupan yang lampau maupun ketika Beliau terlahir sebagai Buddha Gotama di kehidupan yang terakhirnya.

Readmore..

Pak Gondo Sucipto (in memoriam)

| | 0 comments

Pak Gondo Sucipto
(in memoriam)
Upa. Dayananda TG.
“Aku berlindung pada Buddha, Ingat selalu takkan lupa……….” Dengan suara baritonnya yang khas, pak Gondo yang biasa saya panggil mpek (pak De ), bersenandung sambil mencukur rambut saya. Sejak umur 5 tahun, sampai saya SMA. beliau selalu mencukur rambut para putranya termasuk saya, seorang keponakannya. Dan karena sekolah SD saya dekat dengan rumah beliau, seusai sekolah, saya selalu ke rumah beliau, sampai menunggu ayah saya menjemput sepulang kerja.

Begitu sering beliau bersenandung lagu Aku berlindung, sampai suatu ketika saya iseng bertanya : “Mpek, apa tidak ada lagu lain selain Aku berlindung?” dan dengan enteng beliau menjawab : “Bagi mpek, tidak ada lagu yang lebih bagus daripada lagu Aku berlindung pada Buddha”.

Pada saat yang lain, kalau sedang mencukur, petuah yang selalu diberikan adalah : “Nanti kalau ada kesempatan, belajarlah meditasi, mpek tidak mendapat kesempatan untuk belajar meditasi pada seorang yang betul betul memahami meditasi, semua belajar sendiri, coba coba sendiri tabrak sana tabrak sini”.
“Kamu ingat ingat ya, untuk bermeditasi, perhatikan napas masuk dan napas keluar itu saja dulu, nanti akan kelihatan pikiranmu itu rame sendiri, nah teruskan perhatian pada napas masuk dan keluar, sampai pikiran rame itu reda dan sepi sendiri”. Sebagai anak kecil, tanpa paham sedikitpun saya hanya mendengarkan selintas, tapi karena sering diulang ulang, lama lama jadi hapal dan teringat terus.

Pada saat lain lagi, beliau berkata : “ Jangan bosan bermedtitasi, memang tidak ada pekerjaan yang lebih membosankan dari duduk diam seperti patung dan memperhatikan napas sendiri, terus tekun melakukan, karena manfaatnya besar sekali bagi dirimu sendiri”

Ketika saya SMP, dan sudah dibelikan sepeda oleh ayah saya, maka mulai jarang ke rumah beliau, hanya kadang kadang datang untuk pangkas rambut, suatu ketika saya pangkas rambut di tukang pangkas dekat rumah, dan waktu saya mau kembali pangkas rambut ke rumah beliau, dengan gusar beliau berkata : “Jangan cukur rambut sama orang lain, mpek masih hidup dan masih kuat, kecuali terpaksa baru boleh. Jangan biarkan sembarang orang pegang pegang kepalamu, mengerti?”. Jadi sampai saya kuliah di luar kota, barulah berhenti pangkas rambut dengan beliau.

Salah satu kisah yang sering beliau ceritakan adalah : “Mpek adalah orang yang ndugal (Bengal dan nakal). Setiap ada orang yang mempromosikan agama apapun, selalu mpek goda sampai dia jengkel. Dari sekian banyak teman mpek di kota Rembang, ada beberapa yang tertarik dengan agama Buddha, dan banyak bercerita, cerita yang menurut mpek, masuk akal. Dan yang mengubah mpek untuk mulai bermeditasi adalah pada waktu tahun 1953, ada perayaan Waisak yang pertama di Borobudur. Mpek saat itu sedang tugas belanja di Rembang, dan diajak oleh teman mpek seorang pengusaha di Rembang untuk ikut menghadiri Waisak tersebut”

Dan dengan mata berkaca kaca, beliau melanjutkan :”Itulah acara Waisak yang paling hebat, yang pernah mpek alami, dan tidak bisa dilupakan, memang hanya beberapa ratus orang yang hadir, dimalam bulan purnama, dengan kelap kelip lilin, sungguh pengalaman luarbiasa, dan setelah baca mantra yang mpek tidak bisa dan tidak mengerti, pemimpin upacara (mpek baru tahu belakangan, namanya The Boan An, dan belakangan menjadi Bhikkhu Ashin Jinaarakkhita), secara singkat menjelaskan cara bermeditasi, kemudian semua mulai bermeditasi bersama. Inilah saat yang mengubah mpek, suasana menjadi begitu hening, mpek mengikuti petunjuk yang diberikan mulai bermeditasi untuk pertama kalinya, dan mendapatkan ketenangan yang luar biasa yang belum pernah mpek rasakan sebelumnya. Sejak saat itu, mpek mulai berlatih meditasi”.

“Mpek tidak punya kesempatan untuk belajar dibawah bimbingan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, berlatih sendiri, hanya dari tanya teman dan baca baca buku yang dipinjamkan oleh teman mpek, tapi mpek yang dulu berangasan, gampang marah, suka berburu, mulai berubah, menjadi lebih bisa mengendalikan diri, dan meninggalkan hobby berburu karena bisa memahami penderitaan mahluk yang lain. Pengalaman yang membuat mpek berhenti total dari hobby berburu adalah pada suatu ketika teman mpek menembak seekor kera, sampai jatuh, dan itu ternyata induk kera dengan seekor anaknya yang masih bayi. Induk kera yang jatuh itu ternyata belum mati, dan dengan susah payah dia naik lagi ke pohon, meletakkan anaknya di ranting pohon, dan akhirnya karena tidak kuat lagi, dia jatuh dan mati. Sejak itu mpek berhenti total dari berburu, punya hak apa kita merampas kebahagiaan mahluk lain?”
Pernah satu kali ketika libur panjang sekolah, saya masih SMA saat itu, saya diajak beliau berlibur ke kota Rembang, kota kelahiran ibu saya. Di kota tersebut, kami mengunjungi sebuah kelenteng, yang juga merupakan tempat kremasi, ketika itu dikota saya belum ada krematorium, sehingga bila ada yang meninggal dan ingin di kremasi harus dibawa ke Jakarta atau Semarang. Dengan semangat beliau memeriksa krematorium yang masih menggunakan arang, dan komentarnya dengan logat Jawa yang medok : “Nih kamu lihat, kalau mpek sudah mati, yang namanya badan ini sudah rusak dan tidak berguna, jangan repot repot, blusuke (bhs Jawa artinya dimasukkan atau dijebloskan) saja ke lubang ini, uruk dengan arang dan nyalakan apinya, biarkan habis jadi abu, sudah beres”. Dan Pandangan beliau mengenai kremasi seperti ini (pada waktu itu masih belum umum) sering digoda oleh putra putrinya yang sebagian besar bukan Buddhis, antara lain : “Lha pi (papi/ayah maksudnya) apa ndak kepanasan di panggang seperti itu?” Dengan sengit beliau menjawab : “Apanya yang panas, wong sudah jadi bangke, bangke kan tidak bisa merasa. Sudah, pokoknya nanti kalau papi mati, jangan neko-neko, bakar saja beres”.

Menjelang saya berangkat kuliah ke luar kota, mpek secara khusus datang ke rumah saya dengan menaiki sepeda tuanya, dan pesan beliau adalah : “Begitu kamu sampai di kota Bandung, cari kesempatan untuk pergi ke jalan Dago, disitu ada Vihara tempat Bhikkhu Ashin Jinarakkhita tinggal, kamu minta di bimbing beliau untuk ber meditasi, ingat ya di jalan Dago, jangan sia siakan kesempatan untuk belajar meditasi dari beliau, mpek tidak memiliki kesempatan untuk dibimbing beliau”. Saat menjelang beliau pulang, masih sekali lagi diulangi : “ke vihara di jalan Dago ya, temui Bhikkhu Ashin Jinarakkhita”.
Setelah beberapa bulan di Bandung, akhirnya saya mencari cari vihara di jalan Dago, dan berlatih meditasi disitu, dibimbing oleh seorang bhikkhu (bhante DharmaSuryabumi), karena bhikkhu Ashin Jinarakkhita tinggal di Pacet, Cipanas.

Pada waktu bertemu mpek saat liburan kuliah, saat saya menceritakan bahwa saya berlatih meditasi, beliau dengan bersemangat berkata : “Kamu beruntung bisa berlatih dengan dibimbing. Ayo ceritakan, bagaimana petunjuk bhikkhu, supaya mpek bisa berlatih dengan benar”. Setelah saya menyampaikan apa yang diberikan, dan menjawab berbagai pertanyaan beliau. Dengan mata berkaca kaca beliau berkata : “Mungkin pada kehidupan mendatang, mpek baru bisa berlatih Vipassana dengan dibimbing oleh bhikkhu yang mumpuni, tapi tidak sia-sia mpek selalu menasehati kamu untuk belajar ber meditasi”.

Dilain kesempatan, saat bertemu dengan mpek, beliau bertanya : “Masih ingat nggak, kamu waktu kecil, mpek suruh ikut dengan kakak mu yang lain untuk berlatih silat, kamu tidak mau?” Saya tidak ingat lagi, cuma ingat saya merasa tidak suka saja untuk berlatih silat. Mpek meneruskan :”Ingat ngga apa yang kamu katakan waktu itu? “ Tentu saja saya sudah lupa. Sambil tersenyum mpek berkata : “Waktu mpek memaksa kamu –umurmu baru 6 tahunan – untuk ikut latihan silat, kamu bilang, ‘aku tidak suka belajar ilmu memukul dan mengalahkan orang lain, kalau ada, aku mau belajar ilmu supaya orang tidak ingin memukul aku’. Lha ya ndak ada ilmu seperti itu, yang mpek ingat ada pelajaran meditasi yang kalau dilatih dengan baik, membuat orangnya disukai oleh orang lain, bahkan hewan dan mahluk yang lain, cuma mpek tidak bisa menjelaskan . Tapi sejak itu mpek tidak paksa kamu untuk silat, dan lebih banyak cerita mengenai meditasi”.

Mungkin mpek pernah mendengar dari temannya mengenai Metta Bhavana, tetapi karena tidak ada yang membimbing, setahu saya, mpek selalu tekun melatih meditasi dengan objek pernapasan.
Sampai menjelang akhir hayat beliau, beliau benar benar disiplin bermeditasi dari jam 4 pagi sampai jam 5 pagi setiap hari, di taman kecil dibelakang rumah beliau, dan kalau hari hujan, beliau duduk bermeditasi di teras taman.

Pada tahun 1980 beliau meninggalkan dunia ini dan pindah ke alam lain yang tentunya lebih baik.
Semoga benih benih kebaikan yang beliau tanamkan, berbuah dan memberikan manfaat untuk waktu yang lama. Sadhu, sadhu, sadhu.
Ditulis untuk mengenang jasa jasa baik dari
Alm Bp. Gondo Sucipto,
Oleh Upa. Dayananda TG.

Readmore..

Buddha dan Semangat Berani Gagal

| | 0 comments

Buddha dan Semangat Berani Gagal
Chuang

Setiap kali saya menengok ke dalam sejarah kehidupan Buddha, selalu ada saja teladan yang dapat saya temukan, dan temukan, dan temukan lagi. Kehidupan-Nya—yang meskipun cukup singkat untuk masa itu—bagaikan sumur dari mata air kebijaksanaan yang tak pernah kering sepanjang masa.
Dalam kaitannya dengan semangat pantang menyerah, kehidupan Buddha telah memberikan kita suatu teladan mengenai keteguhan dan ketabahan yang sempurna dari seorang manusia yang mempunyai impian besar, suatu impian yang bukan melulu demi kemuliaan diri-Nya sendiri, tetapi juga untuk kebahagiaan segenap makhluk di seluruh alam kehidupan: KEBEBASAN SEJATI.

Seperti yang kita semua ketahui, pada malam menjelang pelepasan agung, Pangeran Sidharta meninggalkan istana dan segala kemewahannya sebagai seorang putra mahkota tanpa sedikit pun keragu-raguan, tanpa sedikit pun ketakutan akan kegagalan, dan tanpa sedikit pun kecengengan seorang pangeran yang terbiasa hidup nikmat nyaman dan mewah.

Dan bayangkanlah, andaikata pada detik-detik yang sangat menentukan itu, seorang Pangeran Sidharta–yang meskipun telah diramalkan akan menjadi Buddha, tetapi bagaimana pun Beliau barulah hanya seorang Bodhisatta–menjadi kecil hati, takut akan kegagalan dan enggan meninggalkan segala kemewahan dan kenyamanan hidupnya, kita saat ini pasti tak kan mengenal apa itu Ajaran Buddha, apa makna sejati dari kehidupan ini dan bagaimana cara mencapai kebahagiaan sejati dan sebagainya. Dan nama Sidharta, barangkali hanya kita ketahui sebagai nama seorang raja yang bijaksana yang memerintah suatu kerajaan di masa India Kuno. Tidak lebih dari itu.

Tetapi Pangeran Sidharta, untunglah, bukan seorang pengecut yang takut gagal, bukan seorang pangeran cengeng yang melekati segenap kenyamanan dan kenikmatan hidupnya. Dia adalah seorang manusia yang berani memiliki cita-cita, berani memimpikan suatu impian, dan yang terpenting berani mewujudkan cita-citanya sehingga hari ini kita memujanya sebagai seorang Buddha, yang sadar, yang telah menaklukan musuh yang seharusnya ditaklukkan.

Buddha dengan demikian menjadi salah seorang manusia yang paling sukses dan bahagia di dalam sejarah dunia kita. Dan itu semua tidak Ia dapatkan dengan begitu saja dari pemberian para dewa atau makhluk brahma, meskipun pada kenyataannya Ia seorang Bodhisatta yang dicintai, dijaga dan dipuja oleh para dewa dan brahma.

Sebab, seperti yang ktia ketahui pula, pangeran harus melalui masa enam tahun pencarian yang melelahkan dan menyiksa, yang bahkan dalam satu masa hampir saja merengut nyawanya. Pangeran benar-benar harus berjuang keras dari satu kegagalan menuju kegagalan lain, dari satu siksaan menuju siksaan lain, dari satu godaan menuju godaan lain sebelum ia pada akhirnya menemukan jalan yang dicarinya, obat penyembuh penderitaan semua makhluk yang hidup, menjadi Buddha.

Lalu terpikirlah oleh saya, bila seorang Bodhisatta yang dipuja dan dicintai segenap makhluk pun harus mengalami kegagalan dan penderitaan sebelum ia pada akhirnya menjadi Buddha, mengapa kita yang bukan siapa-siapa ini, yang begitu kerdil dan hina bila dibandingkan dengan diri-Nya, begitu cengeng dan penakut manakala dihadapkan pada satu pilihan untuk melangkah atau tidak, untuk memiliki impian dan mewujudkannya?
Mengapa kita seringkali bersedih hati dalam kegagalan dan tetap diam berkumbang didalamnya, bukannya meneladani semangat Buddha yang pantang menyerah, yang tak takut gagal dan berani mengambil resiko pada saat Ia sebenarnya bisa saja duduk tenang dan nikmat sebagai pangeran mahkota yang hidupnya luar biasa mewah dan nyaman?

Buddha telah menunjukkan jalan-Nya, Ia telah memberikan teladan-Nya. Lalu mengapa kita masih saja gentar untuk memiliki impian dan mewujudkannya menjadi nyata?

Readmore..

Bodhisatta Menjadi Sang Buddha

| | 0 comments

– Menjalani pertapaan –
Setelah menjadi petapa, Bodhisatta tinggal di hutan mangga yang disebut Anupiya tidak jauh dari Sungai Anomã selama 7 hari pertama, dan kemudian Ia pergi menuju ke Rajagaha, ibukota Kerajaan Magadha. Di Rajagaha, Ia menolak tawaran Raja Bimbisara yang akan memberikan separuh kekuasaannya setelah mengetahui identitas Bodhisatta.

Setelah itu, Ia melanjutkan perjalanan dengan menuruni Bukit Pandava dan menuju ke Kota Vesali, tempat seorang guru agama yang ternama, Alara Kalama yang tinggal bersama para siswanya. Di sana Bodhisatta bergabung dan menjadi siswa dari Alara Kalama.

Dalam waktu singkat karena memiliki kepandaian yang luar biasa, Bodhisatta telah mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Alara Kalama bahkan mencapai pencapaian yang sama dengan guru-Nya itu. Namun setelah merenungkan sifat dan manfaat dari pencapaian-Nya ini, Ia menyimpulkan bahwa ajaran yang Ia praktikkan tersebut tidaklah membawa pada Pembebasan Sejati. Oleh karena itu Ia mohon pamit kepada guru-Nya untuk melanjutkan pencariannya atas jawaban terhadap persoalan hidup dan mati, usia tua, dan penyakit, yang senantiasa dipikirkan-Nya.

Kemudian Bodhisatta meninggalkan Vesali dan berjalan menuju Negeri Magadha. Ia menyeberangi Sungai Mahi, dan sejenak kemudian sampai di sebuah pertapaan lain di tepi sungai itu. Pertapaan itu dipimpin oleh seorang guru agama yang sangat dihormati. Bernama Uddaka Ramaputta (Uddaka, putra Rama). Kemudian Bodhisatta pun bergabung dan menjadi siswa dari Uddaka Ramaputta. Dalam waktu yang singkat pula, Ia mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Uddaka Ramaputta bahkan melampauinya. Namun, Bodhisatta segera mengetahui bahwa pencapaian-Nya itu bukanlah apa yang Ia cari. Karena tidak puas dengan pencapaian-Nya itu. Ia meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta . 

– Praktik pertapaan yang keras –
Setelah meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta, Petapa Gotama menuju ke Senanigama (kota niaga Senani) di Hutan Uruvela. Ketika disanalah Petapa Gotama bertemu dengan 5 orang petapa (pancavaggiya) yang terdiri dari Kondanna, Vappa, Mahanama, Assaji dan Bhaddiya.

Selama di Hutan Uruvela, Petapa Gotama menjalankan latihan tapa yang paling berat (dukkaracariya), yang sulit dipratikkan oleh orang biasa. Ia menyatakan tekad usaha kuat beruas empat yang dikenal sebagai padhana-viriya, sebagai berikut: “Biarlah hanya kulit-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya urat daging-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya tulang belulang-Ku yang tertinggal! Biarlah daging dan darah-Ku mengering!” Dengan tekad ini, Ia tak akan mundur sejenak pun, namun akan melakukan usaha sekuat tenaga dalam praktik itu.

Dalam praktik pertapaan yang keras tersebut, Petapa Gotama berlatih untuk mengurangi makan sedikit demi sedikit hingga tidak makan sama sekali. Karena melakukan hal tersebut, tubuh-Nya berangsur-angsur menjadi semakin kurus dan akhirnya hanya tinggal tulang belulang. Karena kurang makan, sendi-sendi dalam tubuh dan anggota tubuh-Nya menyembul seperti sendi rerumputan atau tanaman menjalar yang disebut asitika atau kala (Latin: Polygonum aviculare dan S. lacustris).

Enam tahun sudah Petapa Gotama menjalankan pertapaan yang keras dan tiba pada tahap kritis dimana Ia berada di ambang kematian. Hingga suatu hari ketika berjalan-jalan, Ia pingsan dan terjerembab karena tubuh-Nya dilanda panas yang tak tertahankan dan karena kurang makan berhari-hari. Ketika itu, seorang anak laki-lagi pengembala kebetulan lewat di tempat terjatuhnya Petapa Gotama. Setelah membangunkan Petapa Gotama, anak gembala itu menyuapkan air susu kambing bagi-Nya.
– Perenungan –
Pada suatu sore, Petapa Gotama merenungkan bahwa Ia telah pulih kembali dan merasa lebih segar setelah jatuh pingsan pada hari sebelumnya – berkat susu kambing yang diberikan oleh anak laki-laki gembala itu. Jika tidak demikian, pastilah Ia sudah mati. Tatkala merenung seperti itu, sekelompok gadis penyanyi yang tengah berjalan menuju kota berlalu di dekat tempat Ia bermeditasi. Seraya berjalan, mereka berdendang menyanyikan syair sebagai berikut: “Kalau tali gitar ditarik terlalu keras, talinya putus, lagunya hilang. Kalau ditarik terlalu kendor, ia tak dapat mengeluarkan suara. Suaranya tidak boleh terlalu rendah atau keras. Orang yang memainkannya yang harus pandai menimbang dan mengira.”

Mendengar nyanyian itu, pertapa Gotama mengangkat kepalanya dan memandang dengan heran kepada rombongan penari tersebut. Dalam hatinya ia berkata:

“Sungguh aneh keadaan di dunia ini bahwa seorang Bodhisatta (calon Buddha) mesti menerima pelajaran dari seorang penari. Karena bodoh, aku telah menarik demikian keras tali kehidupan, sehingga hampir-hampir saja putus. Memang seharusnya aku tidak boleh menarik tali itu terlalu keras atau terlalu kendor.”
Di dekat tempat itu tinggal pula seorang wanita muda kaya raya bernama Sujata. Sujata ingin membayar kaul kepada dewa pohon karena permohonannya supaya diberi seorang bayi laki-laki terkabul. Hari itu Sujata mengirim pelayannya ke hutan untuk membersihkan tempat di bawah pohon di mana ia ingin mempersembahkan makanan yang lezat-lezat kepada dewa pohon. la agak terkejut waktu pelayannya dengan tergesa-gesa kembali dan memberitahukan:”O, nyonya, dewa pohon itu sendiri telah datang dari kayangan untuk menerima langsung persembahan nyonya. Beliau sekarang duduk bermeditasi di bawah pohon. Alangkah beruntungnya bahwa dewa pohon berkenan untuk menerima sendiri persembahan nyonya.”
Sujata gembira sekali mendengar berita itu. Setelah makanan selesai dimasak, berangkatlah Sujata ke hutan. Sujata merasa kagum melihat dewa pohon dengan wajah yang agung sedang bermeditasi. la tidak tahu, bahwa orang yang dikira sebagai dewa pohon sebenarnya adalah pertapa Gotama. Dengan hati-hati makanan ditempatkan ke dalam mangkuk dan dengan hormat dipersembahkan kepada pertapa Gotama yang dikira Sujata adalah dewa pohon.
Pertapa Gotama menyambut persembahan itu. Setelah selesai makan, terjadilah percakapan antara pertapa Gotama dan Sujata seperti di bawah ini:
“Dengan maksud apakah engkau membawa makanan ini?”
“Tuanku yang terpuja, makanan yang telah aku persembahkan kepada Tuanku adalah cetusan rasa terima kasihku karena Tuanku telah meluluskan permohonanku agar dapat diberi seorang anak laki-laki.”
Kemudian pertapa Gotama menyingkap kain yang menutupi kepala bayi dan meletakkan tangannya didahinya sambil memberi berkah:
“Semoga berkah dan keberuntungan selalu menjadi milikmu. Semoga beban hidup akan engkau terima dengan ringan. Aku bukanlah dewa pohon, tetapi seorang putra raja yang telah enam tahun menjadi pertapa untuk mencari sinar terang yang dapat dipakai untuk memberi penerangan kepada manusia yang berada dalam kegelapan. Aku yakin dalam waktu dekat ini Aku akan berhasil memperoleh sinar terang tersebut. Dalam hal ini persembahan makananmu telah banyak membantu, karena sekarang badanku menjadi kuat dan segar kembali. Karena itu dengan persembahan ini engkau akan mendapat berkah yang sangat besar. Tetapi, adikku yang baik, coba katakan, apakah engkau sekarang bahagia, dan apakah penghidupan yang disertai cinta saja sudah memuaskan?”
“Tuanku yang terpuja, karena aku tidak menuntut banyak maka hatiku dengan mudah mendapatkan kepuasan. Sedikit tetesan air hujan sudah cukup untuk memenuhi mangkuk bunga Lily, meskipun belum cukup untuk membuat tanah menjadi basah. Aku sudah merasa bahagia memandang wajah suamiku yang sabar atau melihat senyum bayi ini. Setiap hari, dengan senang hati aku mengurus pekerjaan rumah tangga, memasak, memberi sajen kepada para dewata, menyambut suamiku pulang dari pekerjaan; apalagi sekarang dengan dilahirkannya seorang anak laki-laki yang menurut buku-buku suci akan membawa berkah kalau kelak kami meninggal dunia. Juga aku tahu bahwa kebaikan datang dari perbuatan baik dan kemalangan datang dari perbuatan jahat yang berlaku bagi semua orang dan pada setiap waktu, sebab buah yang manis muncul dari pohon yang baik dan buah yang pahit muncul dari pohon yang penuh racun. Apa yang harus ditakuti oleh orang yang berkelakuan baik kalau nanti tiba saatnya mesti mati?”

Mendengar penjelasan Sujata maka pertapa Gotama menjawab:
“Kau sudah mengajar kepada orang yang seharusnya menjadi gurumu; dalam penjelasanmu yang sederhana itu terdapat sari dari kebajikan yang lebih nyata dari kebajikan yang tinggi; meskipun engkau tidak belajar apa-apa, namun engkau tahu jalan kebenaran dan menyebar keharumanmu ke semua pelosok. Sebagaimana engkau telah mendapat kepuasan, semoga aku pun akan mendapatkan apa yang aku cari. Aku, yang engkau pandang sebagai seorang dewa, minta didoakan supaya aku dapat berhasil melaksanakan cita-citaku.”

“Semoga Tuanku berhasil mencapai cita-cita Tuanku sebagaimana aku berhasil mencapai cita-citaku.”
Pertapa Gotama kemudian melanjutkan perjalanan dengan membawa mangkuk kosong. la menuju ke tepi sungai Neranjara dalam perjalanannya ke Gaya. Tiba di tepi sungai pertapa Gotama melempar mangkuknya ke tengah sungai sambil berkata: “Kalau memang waktunya sudah tiba mangkuk ini akan mengalir melawan arus dan bukannya mengikuti arus.”

Satu keajaiban terjadi karena mangkuk itu ternyata mengalir melawan arus.
– Pencapaian pencerahan sempurna –
Pertapa Gotama meneruskan perjalanannya dan pada sore hari tiba di Gaya. la memilih tempat untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi (latin: Ficus Religiosa), kemudian mempersiapkan tempat duduk di sebelah tiimur pohon itu dengan rumput kering yang diterima dari seorang pemotong rumput yang bernama Sotthiya. Di tempat itulah pertapa Gotama duduk bermeditasi dengan wajah menghadap ke timur dengan tekad yang bulat.

Selama bermeditasi itu, sang pertapa tidak terlepas dari godaan-godaan. Kekuatan kejahatan dan keburukan silih berganti mengancam serta mempermainkan dia. Namun semua itu tidak menggetarkan Sang Gotama.

Setelah mengalami pergulatan batin yang berat selama beberapa waktu, akhirnya Petapa Gotama berhasil menundukkan rasa ngeri, keinginan duniawi, niat buruk, dan kekejaman. Kemenangan-Nya atas pergulatan batin ditandai dengan berjajarnya bulan purnama yang tengah menyingsing di ufuk timur dengan bulatan merah matahari yang tengah terbenam di ufuk barat. Bodhisatta akhirnya mengetahui bahwa itulah saat yang tepat untuk meneruskan perjuangan-Nya mencapai Pencerahan Agung. Pada malam bulan purnama, bulan Vesak, 588 M, Bodhisatta tetap duduk tenang memusatkan perhatian-Nya.
Setelah Ia memasuki jhana pertama, kedua, ketiga dan keempat dalam meditasi-Nya, pikiran-Nya yang terkonsentrasi menjadi murni, cermelang, tanpa noda, tanpa cacat, mudah ditempa, mudah dikendalikan, serta tak tergoyahkan. Saat itu Ia mengarahkan pikiran-Nya dan mencapai tiga pengetahuan.
Pengetahuan pertama merupakan pengetahuan melihat dengan jelas dan rinci kelahiran-kelahiran-Nya yang terdahulu (pubbenivasanussati ñana). Hal ini terjadi pada waktu jaga pertama, yaitu antara jam 18.00 sampai 22.00.

Pengetahuan kedua merupakan pengetahuan melihat dengan jelas kematian dan tumimbal lahir kembali makhluk hidup (dibbacakkhu ñana). Ia melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali dalam kondisi rendah dan mulia, cantik dan buruk, mujur dan sial. Hal ini terjadi pada waktu jaga kedua, yaitu antara jam 22.00 sampai 02.00.

Pengetahuan ketiga merupakan pengetahuan akan penghancuran noda (asavakkhaya ñãna). Ia mengetahui secara langsung segala sesuatu sebagaimana adanya. Ia menyadari dan mencerap bahwa pikiran-Nya terbebas dari noda keinginan indrawi, noda kehidupan, dan noda kebodohan batin. Dan ketika Ia terbebas, muncullah pengetahuan bahwa Ia telah terbebas. Ia menyadari langsung bahwa kelahiran-Nya sudah dihancurkan; hidup suci sudah dijalankan; apa yang harus dilakukan sudah dilakukan; tiada lagi kelahiran kembali di alam mana pun juga. Hal ini terjadi pada waktu jaga ketiga, yaitu antara jam 02.00 sampai 04.00. Ia mengetahui bahwa “inilah penderitaan”, bahwa “inilah sumber penderitaan”, bahwa “inilah berakhirnya penderitaan”, dan bahwa “inilah jalan menuju akhirnya penderitaan”.

Dengan tercapainya Pengetahuan Sejati Ketiga maka Bodhisatta mencapai Arahatta-Magga, menjadi Yang Sadar (Buddha), Yang Terberkahi (Bhagava), Yang Tercerahkan Sempurna (Sammasambuddha). Seiring dengan Pencerahan-Nya, Buddha juga memperoleh penegtahuan sempurna tentang Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani).

Demikianlah menjelang fajar pada hari bulan purnama, Vesak 588 S.M, pada usia tiga puluh lima tahun, Bodhisatta mencapai Kemahatahuan dan menjadi Buddha dari tiga dunia dengan usaha-Nya sendiri.

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com