Showing posts with label kisah buddhist. Show all posts
Showing posts with label kisah buddhist. Show all posts

Monday, February 6, 2012

Latih diri - studi meditasi aksi 2009

| Monday, February 6, 2012 | 0 comments

Kebaktian remaja, sabtu 19 Desember 2009
Protokol : Dwi Yunantara & Try Atmaja
Dhammapada : Meylianawati Dewi
Pembicara : Grace
Pembimbing Meditasi : Romo Pannajayo

Tidak terasa 3 tahun telah berlalu sejak diadakannya Bina Widya ( Kegiatan pelatihan rutin Buddhis yang diselenggarakan oleh SEKBER-PMVBI Jawa Barat dalam belajar Dhamma dan meditasi ) tahun 2006 silam yang diadakan di Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok. Di tahun 2009 ini, Bina Widya kembali diadakan di Vihara Bodhi Diepa Cikampek dengan nama LD-SMA ( latih diri - studi meditasi aksi ). Program pelatihan tahun ini, lebih menitik beratkan pada pelatihan diri dengan bermeditasi dan aksi pada waktu pelatihannya. Peserta yang hadir berasal dari remaja dan pemuda-pemudi Vihara-vihara yang tergabung dalam SEKBER PMVBI Jawa Barat. Sekitar 20 orang remaja dari Vihara Surya Adhi Guna sudah mendaftar sebagai peserta kegiatan ini, untuk itu pada malam hari ini Sdri. Grace Chandra meminta kepada Romo Pannajayo membimbing para calon peserta LD-SMA untuk berlatih meditasi.

Pada sesi penjelasan meditasi, Romo menjelaskan bermacam-macam posisi duduk saat bermeditasi.

1. Teratai penuh ( full lotus / golden Buddha )

2. Teratai separuh ( half lotus )

3.

Kami bermeditasi sambil diberi pengarahan oleh romo Pannajayo. Objek meditasi yang Romo anjurkan adalah keluar masuknya pernafasan. Sekitar 15 menit Dhammasala Vihara menjadi sangat hening, padahal pada kebaktian malam hari ini umat remaja yang hadir cukup banyak.
Mungkin karena rasa keingin tahuan para umat untuk mencoba melatih meditasi.
Saya sendiri pun sebenarnya sudah sangat lama tidak bermeditasi, padahal latihan konsentrasi adalah hal yang sangat dianjurkan oleh Guru Agung kita. Pikiran kacau terus menemani saya sewaktu bermeditasi kali ini. Sampai pada akhirnya meditasi pun selesai.

Readmore..

Wednesday, February 1, 2012

Samanera Abhasaro : Dari terang menuju terang

| Wednesday, February 1, 2012 | 0 comments

Kebhaktian Remaja, 28 November 2009
Protokol : Meylianawati Dewi
Penyalaan Lilin Altar :
Pembacaan Dhammapada : Mira dan Nira
Penulis :
Sidhi Agustiana Taniman

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhasa …. (3 X)

Malam ini Dhammadesana kebhaktian remaja di Vihara SURYA ADI GUNA diisi oleh Samanera Abhassaro. Beliau membabarkan Dhamma dessana tentang pandangan salah. Pandangan salah terdiri atas tiga macam yaitu:
1. Pandangan yang menganggap semua perbuatan tidak ada akibatnya
Contoh: ketika kita digigit nyamuk kemudian kita memukul si nyamuk, dan nyamuk itu pun mati. Apabila kita beranggapan bahwa perbuatan tersebut tidak ada akibatnya adalah salah. Perbuatan membunuh seekor nyamuk tetap membuat kita akan menanggung karma buruk dari perbuatan yang telah kita lakukan tersebut.
2. Pandangan yang menganggap semua perbuatan tidak ada sebabnya atau menganggap suatu kejadian adalah tiba-tiba terjadi, atau telah ada yang mengatur.
Pandangan ini adalah salah, karena sebenarnyas semua hal yang terjadi ada sebab-seba yang mendukungnya. Contohnya, pada hari ini kita dapat Vihara antara lain karena kita mempunyai waktu luang, karena ingin berbuat baik, dan masih banyak lagi.
3. Pandangan yang menganggap semua perbuatan itu tidak ada sebab dan akibatnya.

Setelah selesai menguraikan tentang pandangan salah, kemudian samanera Abhassaro membahas tentang EMPAT MACAM KEBAHAGIAAN yang terdiri atas:
1. Kebahagiaan yang timbul karena kita memiliki sesuatu.
Contohnya ketika kita memiliki HP baru atau kita mempunyai pacar baru maka kita akan merasakan kebahagiaan.
2. Kebahagiaan yang timbul karena kita dapat menikmati sesuatu yang kita miliki.
Contohnya ketila kita dapat menikmati aplikasi-aplikasi yang ada di Hp baru kita.
3. Kebahagian yang timbul karena kita tidak memiliki hutang.
Contohnya ketika kita membeli Hp baru, dan kita membelinya dengan kontan bukan dengan utang. Dengan membeli kontan (tanpa utanag) maka kita tidak akan merasa malu dan pusing-
4. Kebahagiaan tanpa cela.
Contohnya kebahagiaan yang timbul karena kita jalankan sila dengan benar.

Diakhir dhammadesana-Nya, Samanera memberika suatu empat perumpaan tentang alur kehidupan yang kita jalani, yaitu :
1. Dari gelap menuju gelap, maksudnya adalah seseorang yang memiliki kehidupan yang sudah buruk akan tetapi dalam kehidupannya ia malah melakukan perbuatan buruk. Akibat dari perbuatan buruknya ini maka dia akan menjauh dari terang dan menuju ke arah semakin gelap.
2. Dari gelap menuju terang, maksudnya adalah kehidupan seseorang yang memiliki kehidupan yang sudah buruk akan tetapi dalam kehidupannya ia melakukan perbuatan baik. Akibat dari perbuatan baiknya ini maka dia akan berjalandari arah gelap ke arah yang terang.
3. Dari terang menuju gelap, maksudnya adalah kehidupan seseorang yang memiliki kehidupan yang sangat baik akan tetapi dalam kehidupannya ia malah melakukan perbuatan buruk. Akibat dari perbuatan buruknya ini maka dia akan berjalan dari arah terang menuju ke arah yang gelap.
4. Dari terang menuju terang, maksudnya adalah kehidupan seseorang yang memiliki kehidupan yang sangat baik dan dalam kehidupannya ia pun melakukan perbuatan baik. Akibat dari perbuatan baiknya ini maka membuat dia akan berjalan dari arah terang menuju ke arah yang terang.

Samanera pun berpesan agar kami semua termasuk golongan manusia yang harus berjalan menuju ke arah terang. Lakukan perbuatan baik dan hindari perbuatan yang jahat. Demikianlah uraian ringkasan kebhaktian remaja, 28 November 2009. Semoga bermanfaat.
Sadhu...! Sadhu...! Sadhu...!

Readmore..

Monday, January 16, 2012

Dimensi Alam Kehidupan yang Berbeda

| Monday, January 16, 2012 | 1 comments

 “ Misteri……….” Itulah kata yang selalu membangkitkan selera orang untuk menemukan klarifikasi dan realitas. Agak aneh kedengarannya upaya mengungkap dan mencari keabsahan misteri. Dan sepertinya mustahil untuk mendapat jawaban realitasnya. Namanya saja sudah misteri. Misteri merupakan fenomena yang tak kunjung usai untuk diburu dengan berbagai cara, baik dengan membaca fenomena-fenomena alam dengan ketajaman insting sebagai pengalaman pribadi, menghayati ungkapan pengalaman spiritual dari tatanan tradisional, maupun menggunakan terapan teknologi. Pendeknya, semua dilakukan untuk mengungkap fenomena misteri itu.

Dalam dunia hiburan di Indonesia, menarik untuk disimak bahwa fenomena misteri menjadi komoditas unggulan yang sangat sensasional sebagai menu tayangan di televisi belakangan ini, mulai dari “Hoka-Hoka”, “Gentayangan”, sampai “Memburu Hantu”. Beragam sudut pandang dan versi yang sangat variatif disajikan ; entah sebagai hiburan semata, entah untuk meyakinkan pemirsa akan adanya sisi kehidupan di luar realitas konvensional dunia nyata, yakni apa yang sebagai kesepakatan umum disebut dengan “Dunia Maya” atau “Dunia Lain”. Dunia maya yang dimaksud di sini tak lain dan tak bukan adalah suatu dunia dengan karakter dan muatan tata kehidupan yang berbeda dengan realitas duniawi.
Keyakinan apapun, termasuk agama-agama, memiliki klarifikasi dan referensi tersendiri sebagai konfirmasi bahwa dunia maya atau dunia lain benar-benar ada, bukan hanya isapan jempol belaka. Bila kita memanfaatkan analisis batiniah kita secara seksama, kita akan tiba pada kesimpulan bahwa dimensi dunia lain itu benar-benar ada.

Berbagai agama telah membenarkannya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Bagi agama-agama yang menganut paham teologisme dengan irama dogma yang kaku dan padat, Tuhan memang telah menskenariokan segala sesuatu sedemikian rupa sebagai bukti bahwa Tuhan itu Mahakuasa.. Termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah diciptakannya oleh-Nya dimensi dunia yang berbeda dari kehidupan manusia. Bahkan penghuni kehidupan dunia lain adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang tidak dikehendaki. Kalaupun dikehendaki, mereka berfungsi sebagai sarana penguji dan pengganggu manusia agar manusia benar-benar tahan uji untuk bias menghadap ke sisi Sang Pencipta. Jadi manusia sebagai objek dan subjek atau pelaku sebuah scenario yang melibatkan makhluk-makhluk rendah, seperti iblis, hantu, raksasa-raksasi, binatang dan lain-lain. Mereka semua adalah alat peraga ujian bagi manusia. Bila manusia mampu melewati hadangan alat-alat peraga tersebut, maka baginya jalan menuju sisi Sang Pencipta akan mudah. Jadi, pelaku skenario dituntut untuk selalu patuh dan taat. Ia tidak berkesempatan memilih peran dalam lakon yang telah diskenariokan. Bila sudah demikian tentu tidak sulit dijalani, yang penting menerima saja ; yang penting taat dan patuh sepenuhnya. Sang pelakon tidak perlu mengeluarkan dan mengembangkan energi dan potensi spiritualnya. Sang pelakon tidak perlu menggunakan instrument analisis dalam ruang laboratorium intelektual dan realita – dengan memanfaatkan alat-alat kelengkapan berupa formulasi hukum karma – untuk menguji kesahihan sebab-akibat fenomena dimensi kehidupan lain (ataupun hal-hal lain). Dalam paham teologisme, yang diperlukan adalah ketaatan menerima apa adanya. Kalaupun orang berusaha untuk tahu labih jauh tentang proses dan adanya sebab-akibat, usaha demikian tidak bisa keluar dari jalur yang sudah ditulis dalam skenario. Jadi tambahan pengetahuan itu hanya berfungsi sebagi suplemen agar ia lebih taat lagi. Kalaupun ia menemukan bahwa penjelasan sebab-akibat tersebut ternyata bukan jalur dan cabang dari paham teologisme, di sana ia sudah terhalang oleh rintangan “dosa”. Dan orang umunya gemetar bila berhadapan dengan si dosa itu, sehingga rasa penasaran tentang eksistensi sang pembuat skenario berikut karyanya cukup sampai pada “Itu sudah rahasia”. Ingin tahu lebih jauh lagi tentang asal muasal dan lain-lain? Stop !

Inilah yang barangkali menjadi formula utama paham teologisme. Apakah Buddhisme, atau yang akrab kita sebut agama Buddha, juga menganut paham ini? Tidak !

Inilah paham yang berbeda dengan apa yang diuraikan di atas, yang sama sekali bukan seperti itu. Agama Buddha menggunakan prinsip humanisme dalam menerapkan praktek tata kehidupan. Umat Buddha dipersilahkan untuk sedapat mungkin mengetahui, menjalani, dan mengalami sendiri tanpa sekat yang membelenggu sepanjang hal itu tidak mengganggu proses pencapaian kebijaksanaan.
Demikian juga halnya, agama Buddha memahami dimensi dunia lain sebagai bagian dari pengetahuan Dhamma. Hal tersebut tentu baik dalam rangka menguatkan sikap dalam menata kehidupan.
Benarkah setan adalah makhluk yang merugikan manusia ?

Dalam agama Buddha, adanya kehidupan makhluk-makhluk di luar dunia kita bukan sesuatu yang aneh atau misterius. Justru agama Buddha jauh lebih memadai dalam menjelaskan hal itu. Ada empat alam rendah, di bawah alam manusia, yang sering diilustrasikan ataupun tidak, makhluk seperti itu memang ada. Namun keberadaannya tentu tidak mudah ditangkap, dengan media visual sekalipun, karena pada dasarnya makhluk demikian dimensinya adalah alam batin, walaupun ada sementara orang yang bisa melihatnya secara kasat mata. Sebenarnya makhluk tersebut bukan merupakan – kalau boleh saya sebut – produk gagal dari Sang Pencipta. Setan, iblis atau hantu merupakan wujud akumulasi kolektif akusala kamma atau perbuatan buruk yang dilakukan suatu makhluk (manusia) semasa hidupnya sebelum terlahir di alam rendah. Hidup bukan hanya berlangsung sekali saja. Bagi orang yang tidak bisa menerima konsep hukum karma, dalam hal ini kelahiran kembali, sulit dipahami bahwa yang terlahir di alam rendah sebenarnya adalah manusia yang gagal menjalani hidup dengan sifat baik.

Makhluk-makhluk alam rendah terlahir dengan membawa sifat buruk. Ada empat alam rendah. Keempatnya dihuni oleh bentuk dan karakter tata kehidupan yang berbeda-beda. Empat alam tersebut adalah alam binatang (tiracchana bhumi), alam setan (peta bhumi), alam asura (asurakaya bhumi), dan alam neraka (niraya bhumi).

Sudah barang tentu kita tidak penasaran dengan eksistensi alam binatang. “Anggota-anggotanya” secara fisik hidup berdampingan dengan dunia manusia. Namun tentu tidak demikian halnya dengan makhluk di alam rendah lain seperti setan atau iblis. Makhluk di alam setan, seperti halnya binatang, menjalani proses hidupnya sebagai hasil dari karma buruknya. Makhluk di alam setan ada yang bisa berkehendak baik, misalnya setan yang mampu merasuki tubuh, atau lebih tepatnya merasuki ketidaksadaran manusia, disebabkan oleh adanya keterkaitan karma dengan orang yang dirasuki. Itulah sebabnya kita melihat orang yang “kemasukan” bisa menjelaskan beberapa hal baik, konon mampu mengobati penyakit tertentu pada orang tertentu pula. Jelaslah bahwa setan juga ada sisi baiknya, meskipun sedikit dan sangat jarang. Lagipula, sekali lagi, tidak semua setan bisa melakukan hal demikian.

Setan adalah makhluk yang belum terlahir. Ia adalah makhluk gentayangan. Meskipun demikian, ia tetaplah bukan makhluk yang jahat seperti yang dituduhkan oleh para penganut keyakinan/agama tertentu. Tidak terdapat cukup bukti dan alasan yang jelas bahwa setan adalah pengganggu manusia. Justru manusialah yang sering membuat setan menjadi terganggu. Berikut adalah sekilas contoh terganggunya makhluk rendah oleh perilaku manusia.

Dikisahkan, ada sekelompok bhikkhu yang berniat melaksanakan meditasi di sebuah hutan yang lebat. Pohonnya besar-besar. Di berbagai sisi bukit hutan tersebut terdapat gua-gua yang sangat cocok sebagai tempat meditasi. Maka para pertapa, Bhikkhu Dutannga bermaksud memanfaatkannya sebagai tempat bertapa. Namun apa yang terjadi ketika para pertapa mulai bermeditasi? Mereka tiba-tiba merasa lelah secara fisik. Suasana hutan yang semula sunyi senyap dan damai berubah menjadi sangat menyeramkan. Suara-suara aneh berkumandang dalam berbagai irama dan membuat bulu roma berdiri. Kala malam hari nan gelap tiba, di sekitar para pertapa muncul pelbagai bayangan seperti, sesosok kerangka manusia gemerentak berjalan-jalan, macam-macam sosok tubuh manusia yang tidak lengkap, dan sebagainya. Juga tercium bau amis dan bau busuk yang menyengat ; belum lagi munculnya suara tangisan yang memilukan dan suara-suara gaduh yang tidak jelas asalnya yang sekonyong-konyong menyergap pendengaran para pertapa. Semua kekacauan itu merupakan kerjaan makhluk-makhluk rendah yang berdiam di tempat tersebut karena merasa terganggu atas kehadiran manusia di hutan tempat mereka tinggal. Tentu saja para pertapa merasa sangat terganggu sehingga tidak dapat bermediatsi dengan baik. Maka para bhikkhu pun memutuskan untuk menghadap Sang Buddha. Dengan segala daya dan upaya, mereka akhirnya berhasil menghadap Sang Buddha. Setelah memberi hormat, salah satu bhikkhu menceritakan kondisi dan situasi hutan tempat mereka bertapa, khususnya perihal ketidaknyamanan mereka, seraya memohon Sang Buddha merekomendasikan tempat/hutan lain.

Setelah Sang Buddha melakukan survey dengan Mata Batin – Nya, Beliau justru menyarankan agar para bhikkhu kembali ke hutan yang tadi lagi, karena hutan itu sangat ideal untuk bertapa.. Namun Beliau memberi nasihat dan bekal yang patut kepada para pertapa, yaitu bahwa bila sebelumnya mereka mencoba melawan tatkala diganggu oleh makhluk rendah/setan-iblis-raksasa/raksasi dan sebangsanya, kali ini mereka harus melimpahkan cinta kasih dan kasih sayang secara total. Maka Beliau kemudian mengajarkan syair Kasih Sayang yang Harus Dikembangkan (Karaniyametta Sutta). Dengan modal itu para pertapa kembali ke hutan tersebut. Dan ternyata memang apa yang dirasakan pertapa sama sekali berubah ! Mereka justru mendapat perlakuan yang luar biasa dari penghuni-tak-kasat-mata hutan tersebut. Karena apa? Karena para pertapa telah melimpahkan kasih sayang yang besar kepada mereka – makhluk-makhluk rendah penghuni hutan tersebut.

Ini bukti bahwa makhluk semacam itu justru harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang ; bukan dengan hujatan, tuduhan, sangkaan, apalagi pengusiran dan perlawanan. Bila dengan makhluk yang tak tampak saja manusia sudah berlaku kasar dan curiga, menghujat, mendakwa (intinya menjadikan mereka musuh), bagaimana dengan sesama manusia dengan sesama manusia yang nyata-nyata ada, yang acap tidak sepaham dan sejalan dalam pola pikir dan perilaku? Benarkah sebaik-baiknya manusia pasti punya musuh dan sejahat-jahatnya masih punya teman? Kalu sejahat-jahatnya orang saya yakin pasti masih punya teman, ya sesama penjahat ! Namun kalau orang baik ? Layakkah ia mengklaim dirinya punya musuh ? Kalau jawabannya ya, berarti kebaikannya gugur demi kebenaran dan kebaikan itu sendiri.
Manusia yang tidak memiliki pemahaman yang benar dan proposional mengganggap bahwa setiap setan/iblis memang diciptakan untuk membuat keonaran bagi mental manusia. Sungguh itu merupakan penafsiran yang salah bila dipahami dari sudut pandang Buddhisme.
Benarkah setan/iblis merupakan produk gagal ?

Apabila memang dalam buku suci terdapat referensi atau malah justifikasi bahwa setan merupakan makhluk pengganggu manusia, hal itu akan menguatkan kadar kebencian mereka yang menjadikan buku suci tersebut sebagai panduan dan tuntunan spiritualnya terhadap makhluk rendah tersebut. Tetapi mereka yang menganut ajaran Sang Buddha justru memiliki pandangan terbalik. Bukankah manusia rendah semisal setan/iblis merupakan bagian dari objek yang mesti ditolong ?

Sebagai manusia, yang memiliki kadar intelektual yang tinggi dan berkembang serta mampu meningkatkan khazanah kebijaksanaan, tentu kita dapat berpikir dengan bijak. Bahkan secara konvensional saja kita dapat menganalisis dari segi kemanusiaan. Kita bisa memperkuat potensi kehendak untuk menolong dan membantu mereka yang pantas ditolong sekalipun itu harus dengan menyeberangi sekat dimensi dunia yang berbeda. Berbeda karena eksistensi makhluk rendah yang demikian adalah dalam dunia batin (batiniah). Ia sedang menjalani hasil dari akumulasi akusala karma – nya. Sementara kita, manusia, dilengkapi dengan jasmani yang konstruktif plus kemampuan untuk mengembangkan potensi kebijaksanaan dan kualitas proses kehidupan hingga terakhirinya samsara.

Untuk menilai sikap manusia terhadap makhluk di alam rendah, kta dapat membandingkannya dengan apa yang terjadi di alam manusia. Bagaimana orang yang kurang beruntung diperlakukan kasar dan tidak manusiawi ? Mungkinkah ia akan meresponnya dengan hormat dan santun ? Tentu tidak, bukan? Demikian pulalah halnya bila kita berlaku kasar terhadap makhluk rendah. Mereka akan bersikap kasar pula, karena, walaupun umumnya disebut makhluk halus, pada dasarnya mereka hidup dalam dunia yang kasar. Kita menyebut “halus” semat-mata karena konstruktif ia tidak tertangkap oleh panca indera kita secara nyata.

Jadi, yang patut digaribawahi di sini adalah bahwa makhluk di alam rendah bukan merupakan produk dan desain dari Sang Maha Pencipta sebagi kutukan atau hukuman.
Semoga semua makhluk dapat mempertahankan kesejahteraan yang diperolehnya, dan semoga semua makhluk saling memancarkan cinta kasih dan kasih sayang.

Readmore..

MAKATAKKA JATAKA No. 173

| | 0 comments

(68) “Ayah lihatlah, seorang pengikut yang tua dan miskin dst.  Kisah ini dikisahkan oleh sang maha guru di jetavana tentang sesuatu pemahat intinya akan berkenaan denga  keahlian adalah dalam buku XIV .
Disini sang maha guru berkata “ wahai para siswa tidak hanya sekali ini saja memiliki pengikut seorang penjahat, pada masa lampau ketika ia terlahir menjadi seekor kera dia mengunakan siasat untuk memanaskan suasana “. Kemudian dia mengisahkan kisah yang telah lampau pada suatu masa ketika brahmadata memerintah di  banares Bodhisattva lahir di keluarga brahmana di desa kali ketika ia menginjak dewasa dia menerima pendidikan di  Yakasila dan ia  mengunakan pendidikan tersebut untuk mengarahkan hidupnya.

Istrinya pada saat itu melahirkan seorang putra dan ketika putranya mulai berlatih berjalan  sang istri tersebut  meningal, suaminya melakukan pemahkamannya dan ia berkata “ apa artinya bagiku sekarang ? saya dan anak saya akan hidup sebagai  petapa “  meninggalkan daerah nya dengan di iringgi air mata ia membawa anaknya keHimalayadan memandikannya sebagai praktisi keagamaan dan hidup serta tinggal di akar-akar pohon dan makan buah dari pohon yang ada di hutan.

Pada suatu hari sepanjang musim hujan ketika terjadi hujan lebat ia membakar tongkat untuk menghangatkan tubuh dan terbaring di tumpukan jerami dan di hangatkan oleh api dari hasilk pembakaran tongkat kemudian putranya duduk di samping sembari mengosok kakinya.
Pada saat itu ada seekor kera liar dalam keadaan mengigil kedinginan mendekati api yang dinyalakan oleh sang petapa “ sekarang”, pikirnya, “ seumpama saya datang ke sana secara lebih dekat mereka akan menjerit dan berkata ada kera ! sehingga akan mengusir saya kembali, saya sebaiknya tidak datang kesanamenghangatkan diri sendiri karena saya sudah mempunyai  dia menangis”.

“ Saya harus mendapatkan pakaian pertapa itu dan datang kesanadengan penyamaran “  maka dia mengambil pakaian dari petapa yang telah meninggal  mengumpulkannya dalam keranjang dia bergerak dengan cepat membuka pintu gubuk dengan membungkuknan badannya  di samping pohon palm.  Putra pertapa melihatnya dan berteriak pada ayahnya “ tidak mengetahuinya dia itu adalah kera “ di sini ada  pertapa dalam keadaan mengigil kedinginan datang kearah perapian “ (69) kemudian dia berkata pada bapaknya dengan bait syair pertama agar mengijinkan petapa yangmalangikut merasakan kehangatan api .
“ Ayah lihatlah ! ada seorang pertapa yangmalangyang berada di smaping pohon palm disana di sini kita memunyai satu gubug untuk tinggal maka ijinkan ia untuk tinggal bersama kita untuk berbagi rasa kepada kita.

Ketika bodhisattva mendengar hal itu dia segera pergi ke arah pintu untuk melihatnya, tetapi ketika ia melihat makhluk yang di sangka seorang pertapa  kemudia ia berkata oh … putraku manusia tidak mempunyai wajah seperti itu ia adalah seekor kera dan dia tidak harus berada bersama kita !. kemudian ia mengulangi syair bait ke dua “ dia akan mengotori tempat kita jika ia masuk ke dalam pintu maka ia seperti muka itu
-     mudah dikatakan
-     tidak baik dan tidak cocok bila dikandung dan dilahirkan dalam keluarga brahmana.
“ Bodhisattv mempunyai suatu pikira  ia menangis apa yang kau lakukan dan kau inginkan disana? “
Melemparinya dan  menuntutnya pergi sang kera meninggalkan pakaian pertapa dan tambahlah disanabeberapa pohon kemudian dia mengubur dirinya sendiri di hutan.
Kemudia Bodhisattva mengolah dan melatih untuk hal mulia sampai dia mencapai sifat-sifat brahma dan lahir di alam brahma .

Ketika sang maha guru mengakhiri cerita ini dia mengetahui tumimbal lahir “ laki-laki yang  licik itu adalah sang kera di atas rahula adalah sang anak adalah dari pertapa dan saya sendiri adalah petapa itu”.

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

mengapa kita beragama buddha?

| Thursday, January 12, 2012 | 1 comments

apa itu Agama Buddha??
Agama Buddha adalah agama yang berasal dari india, agama ini ditemukan oleh petapa gotama yang telah mencapai pencerahan yang disebut buddha, sehingga agama ini dinamakan agama buddha sesuai dengan tingkat pencerahan ini. tingkat pencerahan ini bisa dicapai oleh semua orang yang tekun belajar dan mempraktekkan perbatan baik dan meditasi.

mungkin masih banyak orang yang belum mengenal agama buddha bertanya-tanya apakah inti ajarannya sama dengan milik saya?

Pada dasarnya semua orang ingin hidup bahagia kan?, oleh karena itu fungsi agama adalah menuntun umatnya untuk mencapai kebahagiaan, sekarang muncul pertanyaan agama mana yang tidak mengajarkan umatnya untuk mencapai kebahagiaan? Semua agama mengajarkan dan menganjurkan umatnya untuk berbuat baik agar memperoleh kebahagian seperti yang mereka harapkan tetapi mungkin jalan atau caranya saja yang berbeda dalam mencapainya.

kalau semua agama mengajarkan kebaikan lalu mengapa kita harus beragama I,K,H,B dll.? tentu semua itu tidak bisa kita paksakan, agama adalah kecocokan pribadi masing2, ibarat kita makan ada makanan yang hanya mengenyangkan tetapi rasanya kurang enak, ada yang tidak enak sama sekali dan tidak mengenyangkan,ada yang enak tetapi tidak mengenyangkan, dan ada yang enak porsinya pas sesuai dengan makanan sehat sehingga tidak mengenyangkan maupun kurang, dari semua porsi tersebut kita memilih yang mana? itulah agama unik bukan.

dibalik persamaan itu ada perbedaan antara agama buddha dengan yang lain yaitu jalan untuk mencapai kebahagiaan yang sudah jelas tertulis sebagai inti dari ajaran buddha yaitu
Tidak melakukan segala bentuk kejahatan
Menambah kebajikan
Mensucikan batin
Inilah ajara semua Buddha (dhammapada, XIV:183).
apabila dilihat dari inti ajarannya, jelas bahwa buddha mengajarkan kita untuk mentranformasi diri menjadi pribadi-pribadi yang baik, yang unggul, dan tercerahkan.

kalau orang ingin bahagia jangan hanya menunggu berkah turun tetapi bagaimana kita bisa mengkondisikan agar kebahagiaan itu bisa muncul. tindakan yang kita lakukan melalui pikiran maupun jasmani semuanya berawal dari pikiran. dalam agama buddha "pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. apabila dengan pikiran jahat seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani maka penderitaan akan mengikutinya, sebaliknya apabila dengan pikiran bersih seseorang berbicara atau berbuatdengan jaasmani maka kebahagiaan akan mengikuti pelakunya" (dhammapada, I:1-2). oleh karena itu untuk menghindari pikiran dari sifat2 destruktif kita perlu melatih pikiran kita dengan meditasi.

manfaat meditasi antara lain: dapat mencegah munculnya pikiran yang buruk, mengembangkan pikiran yang baik, membuat hidup lebih tenang, tidur bisa lelap dll. sebaiknya meditasi ini dilakukan secara rutin agar kita dapat merasakan hasil yang maksimal.

Readmore..

Menaklukkan Dewa Brahma Baka

| | 0 comments

Duggaha ditthi bhujagena sudattha hattham Brahmam visudhi jutimiddhi bakabhidhanam Nanagadena vidhina jitava munindoTan tejasa bhavatu te jayamangalani

Bagaikan ular yang melilit pada lengan,Demikian pandangan salah dimiliki oleh Baka, Dewa Brahma yang memiliki sinar dan kekuatanRaja Para Bijaksana menaklukkannya dengan obat pengetahuanDengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna

Ketika Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Beliau mengetahui bahwa Dewa Brahma Baka, mempunyai pandangan yang salah. Ia berpendapat bahwa Brahma-loka (=Alam Brahma) adalah kekal, tetap untuk selama-lamanya, abadi, tidak berubah; selain di alam Brahma tidak ada penyelamatan atau pembebasan secara menyeluruh.

Di dalam kelahirannya yang terdahulu, Dewa Brahma Baka yang berlatih meditasi, terlahir kembali di Surga Vehapphala. Beliau berada di sana selama lima ratus kalpa 2), lalu terlahir kembali di Surga Subhakinna. Sesudah berada di sana selama enam puluh empat kalpa, ia terlahir kembali di Surga Abhassara, di sana ia berada selama delapan kalpa. Di Surga Abhassara inilah ia mempunyai pandangan salah. Ia lupa bahwa ia pindah dari Alam Brahma yang tertinggi dan terlahir di Alam Surga yang lebih rendah yaitu Surga Abhassara.

Sang Buddha mengetahui pandangan yang salah ini. Beliau lalu menghilang dari Vihara Jetavana dan muncul di Alam Brahma. Vasavatti Mara mengetahui maksud Sang Guru Agung ini; dan ia berniat untuk menghalangi, ia lalu pergi ke Alam Brahma yang sama.

Ketika Sang Buddha mulai berbicara dengan Dewa Brahma Baka, Mara menyela pembicaraan dengan mengatakan bahwa Dewa Brahma Baka amat bijaksana dan mempunyai kekuatan terhadap Dewa Brahma lainnya. Bahwa ialah yang menciptakan dunia ini, menciptakan Gunung Maha Meru (nama gunung tertinggi di dunia ini), dan menciptakan dunia-dunia lain; ia pula yang menentukan kasta atau tingkatan suatu mahluk; ia pula yang menciptakan bermacam-macam binatang.

Mara berkata kepada Sang Buddha :
"Tidak ada seorang pertapapun sebelum Kamu yang berpikir bahwa dunia ini tidak abadi. Dan sesudah mempelajari bahwa segala sesuatu itu tidak abadi, mereka langsung masuk ke neraka. Ada beberapa Dewa Brahma yang menyangkal hal ini, mereka menyatakan bahwa segala sesuatu adalah abadi, maka mereka terlahir kembali di Alam Brahma. Karena itu, lebih baik Kamu mengajarkan hal yang sama, seperti yang para Dewa Brahma lakukan. Saya memberiMu nasehat ini, kalau Kamu mengajarkan doktrin yang sama, maka Kamu akan memperoleh hadiah yang sama pula; tetapi kalau Kamu menyangkalnya maka Kamu akan hancur."

Tetapi Sang Buddha menjawab :
"Saya tahu siapa kamu ini. Kamu adalah Mara si Penggoda, janganlah kamu berpikir kamu dapat mengelabuiKu."

Kemudian Dewa Brahma Baka berkata bahwa Alam Brahma selalu ada, di mana tidak ada kehancuran ataupun kematian. Tidak ada perpindahan dari satu alam ke alam lain; segala sesuatunya selalu kekal, tetap, abadi, mutlak dan tidak berubah; selain di Alam Brahma tidak ada keselamatan. Dan banyak Para Buddha sebelum Buddha Gotama, kemanakah mereka lenyap? Tidak ada seorangpun yang dapat mengatakan mereka pergi kemana; dan akan lebih baik apabila Buddha Gotama merasa malu dengan doktrinNya, dan lebih baik menerima doktrin yang sama dengan para Dewa Brahma.
Tetapi Sang Buddha Gotama memperlihatkan kemampuanNya yang luar biasa kepada Dewa Brahma Baka, dengan menjelaskan tentang enam kelahiran Dewa Brahma Baka yang terdahulu, dimana Beliau sendiri menghilang tanpa diketahui berada di mana.

Sang Buddha lalu menjelaskan :
Dalam salah satu kelahirannya, Dewa Brahma Baka adalah seorang pertapa yang bertempat tinggal di tepi sungai. Pada waktu itu, ada lima ratus orang pedagang datang dengan membawa keretanya ke tempat yang sama pula, mereka amat sopan dan ramah. Tidak lama kemudian, sapi jantan pertama yang menarik kereta, pulang kembali ke rumah dan diikuti sapi-sapi jantan lainnya. Keesokan paginya, para pedagang itu tidak mempunyai minyak, makanan ataupun air minum, mereka amat kelaparan dan kehausan. Mereka amat lemas, hanya berbaring saja dengan berpikir mereka akan mati di sana. Tetapi pertapa yang melihat mereka dalam kesulitan membawakan air minum, sehingga para pedagang itu selamat dari kematian.

Pada lain waktu, beberapa pencuri mencuri di suatu desa, mereka mengambil barang yang mereka sukai. Si Pertapa yang mengetahui perbuatan para pencuri itu, lalu menciptakan suara-suara dari barang-barang yang mereka curi itu, dalam lima tangga nada yang cukup keras, sehingga para pencuri itu terkejut dan membuang barang-barang yang mereka curi. Dengan ketakutan mereka melarikan diri, karena mengira raja datang.

Pada kesempatan lain, penduduk dari dua desa yang bersisian di tepi sebuah sungai setuju pergi bersama-sama naik sebuah kapal untuk berdagang. Kepergian mereka diketahui oleh Naga jahat yang berniat ingin menghancurkan mereka, tetapi pertapa yang mengetahui niat jahat Naga itu lalu menampakkan dirinya sebagai garuda raksasa. Garuda itu menakut-nakuti dan menyerang Naga jahat itu, sehingga Naga tersebut terbang ketakutan tanpa menyentuh para pedagang. Mereka selamat dari mara bahaya.

Karena tindakan-tindakannya yang penuh dengan cinta kasih kepada mahluk lain inilah, yang menyebabkan pertapa itu terlahir kembali di Alam Brahma.

Sang Buddha Gotama menunjukkan kemampuanNya yang luar biasa sebagai seorang Buddha dalam membabarkan Dhamma, menjelaskan tentang Empat Kesunyataan Mulia. Sehingga pada akhirnya pikiran dari seribu dewa di Alam Brahma terbebas dari kemelekatan dan pandangan keliru.

Dewa Brahma Baka mengakui bahwa apa yang Sang Buddha Gotama katakan adalah benar, dan mengakui pengetahuan Sang Guru Agung yang luar biasa, sehingga ia menyatakan diri berlindung kepada Sang Tri Ratna, demikian pula para Dewa Brahma lainnya. Sang Buddha lalu pulang kembali dari Alam Brahma ke Vihara Jetavana.

Keterangan :
1. Brahma : Dewa istimewa yaitu Dewa yang mempunyai Jhana
2. Kalpa : Umur satu masa dunia
sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=138&multi=T&hal=0

Readmore..

Mengapa Kita Berbeda?

| | 0 comments

1. Mengapa dalam kehidupan ini ada yang kaya tetapi ada yang miskin, ada yang bahagia tetapi ada juga yang menderita, ada yang cantik tetapi ada juga yang jelek, ada yang baik tetapi juga ada yang jahat dan perbedaan-perbedaan lainnya?Berikut ini adalah khotbah Sang Buddha yang berhubungan dengan perbedaan yang ada dalam kehidupan ini sehingga kita akan memahaminya dengan baik. (Anguttara Nikaya X. 205)Dengan cara berjalan orang tak akan pernah mencapai akhir dunia, Namun tidak ada kebebasan dari penderitaan kalau belum mencapai akhir dunia. Mereka orang bijaksana yang mengetahui dunia Orang yang menjalani kehidupan suci, akan mencapai akhir dunia, Dengan mengetahui akhir dunia, dia tidak akan lagi merindukan dunia ini, Tidak juga merindukan dunia lain. Kalau kita kembali kepada Dhamma maka pandangan kita akan mengarah kepada proses dari kehidupan ini. Paticcasamuppada atau hukum sebab akibat yang saling bergantungan dapat dijadikan referensi tentang proses kelahiran ini. Dijelaskan bahwa Avijja atau kegelapan batin yang masih ada akan menjadi penyebab proses selanjutnya. Demikian hal ini akan terus berlanjut selama akar dari proses itu masih ada. Untuk lebih jelasnya kita kembali kepada rumusan Paticcasamuppada seperti berikut:- Dengan adanya kebodohan muncullah bentuk-bentuk pikiran- Dengan adanya bentuk-bentuk pikiran muncullah kesadaran- Dengan adanya kesadaran muncullah batin dan jasmani- Dengan adanya batin dan jasmani muncullah enam indera- Dengan adanya enam indera muncullah kesan-kesan.- Dengan adanya kesan-kesan muncullah perasaan- Dengan adanya perasaan muncullah nafsu keinginan- Dengan adanya nafsu kenginan muncullah kemelekatan- Dengan adanya kemelekatan muncullah upadi (keinginan menjadi)- Dengan adanya upadi muncullah kelahiran- Dengan adanya kelahiran muncullah usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan jasmani, kekhawatiran dan putus asa.- Dan muncullah ketidakpuasan batiniah/penderitaan3. Kelahiran ini pun akan berakhir jika akar penyebab proses kelahiran tidak ada lagi seperti yang ada pada rumusan berikut:- Dengan lenyapnya kebodohan lenyap pula bentuk-bentuk pikiran- Dengan lenyapnya bentuk-bentuk pikiran lenyap pula kesadaran- Dengan lenyapnya kesadaran lenyap pula batin dan jasmani- Dengan lenyapnya batin dan jasmani lenyap pula enam indera- Dengan lenyapnya enam indera lenyap pula kesan-kesan.- Dengan lenyapnya kesan-kesan lenyap pula perasaan- Dengan lenyapnya perasaan lenyap pula nafsu keinginan- Dengan lenyapnya nafsu kenginan lenyap pula kemelekatan- Dengan lenyapnya kemelekatan lenyap pula upadi (keinginan menjadi)- Dengan lenyapnya upadi lenyap pula kelahiran- Dengan lenyapnya kelahiran muncullah lenyap pula usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan jasmani, kekhawatiran dan putus asa.- Dan lenyaplah semua ketidakpuasan batiniah/penderitaanJawabannya sudah jelas bahwa kenapa kita masih dilahirkan adalah karena kita masih dibelenggu oleh kekotoran batin. Selama belenggu ini belum dapat dipatahkan selama itu pula proses kelahiran akan terjadi. Dengan mengetahui penyebab dari proses penyebab kelahiran ini maka kita harus berusaha untuk berjuang menuju kepada kebahagiaan sejati sehingga tidak ada kelahiran lagi.Sabbe Satta Bhavantu SukhitattaSemoga Semua Makhluk Berbahagia

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Membangun Hidup yang lebih baik di awali dari SIKAP

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

By : Harry Sutanto

Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita menjadi lebih baik dari yang lain, padahal mereka tidak lebih baik dulunya dalam pendidikan atau status sosialnya bahkan miskin melarat? Bahkan dalam sebuah Negara pun sama. Mengapa ada Negara-negara yang miskin sumber daya alamnya tetapi mampu menjadi Negara maju? Kita bisa lihat contoh dari beberapa Negara seperti Singapura, Jepang, Korea dll. Mereka menjadi Negara maju meskipun tidak memiliki sumber daya alam. Apa yang membuat perbedaan semua itu? Itu adalah SIKAP. Benar, sikaplah yang membuat seseorang berbeda satu dengan yang lain, termasuk Negara. Bahkan seseorang yang memiliki bakat hebatpun belum tentu mencapai keberhasilan dalam hidupnya.Orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka memiliki sikap untuk tidak menerima apapun yang diberikan oleh nasib. Mereka mampu merespon setiap hal yang tidak baik yang terjadi dalam hidup nya untuk melakukan sesuatu agar mereka menjadi orang yang mereka inginkan. Sementara orang yang gagal menerima segala yang terjadi dengan mengatakan itulah nasib mereka, mereka pantas menerimanya.

William James dari Harvard University mengatakan, "Penemuan terbesar manusia adalah bahwa perubahan sikap dapat mengubah nasib seseorang". Sebuah penelitian yang dilakukan juga oleh Harvard university menemukan bahwa ketika seseorang mendapatkan pekerjaan, 85 % keberhasilannya di sebabkan oleh sikap mereka, dan hanya 15 % karena kepandaian dan pengetahuan mereka. Ibarat sebuah bangunan maka pondasi bangunan itu adalah sikap anda. Semakin tinggi bangunan tersebut semakin dalam pondasi yang di buat agar dapat berdiri kokoh. Begitu juga dengan manusia, Sikap andalah yang membuat anda sebagai manusia yang dapat menjadi aset terbesar atau bahkan beban terbesar bagi anda. George Bernard Shaw mengatakan, " Orang yang selalu menyalahkan keadaan atas apa yang terjadi pada mereka. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang yang mempelajari lagi dan mencari keadaan yang mereka inginkan dan, jika tidak menemukannya, mereka menciptakannya.
Apakah sikap itu? John C Maxwell mengatakan demikian, " Sikap adalah pelopor dari diri kita yang sesungguhnya. Akarnya berada di dalam batin tetapi buahnya diluar. Sikap adalah teman terbaik kita atau musuh terburuk kita. Sikap lebih jujur dan lebih konsisten daripada kata-kata kita. Sikap adalah pandangan luar berdasarkan pengalaman masa lalu. Sikap adalah hal yang menarik orang lain kepada diri kita atau mengusir mereka. Sikap tidak pernah puas sebelum dinyatakan. Sikap adalah ahli perpustakaan masa lalu kita. SIkap adalah jurubicara masa sekarang kita. Sikap adalah nabi masa depan kita.
Lalu bagaimana supaya Anda bisa membuat kehidupan ini menjadi lebih baik? Mulailah dengan memiliki sikap positip. Seperti tidak adanya penyakit, bukan berarti sehat, demikian pula tidak adanya negativitas bukan selalu berarti seseorang memiliki sikap positip. Tidak sakit bukan berarti sehat, demikian pula hanya tidak berpikir negatif bukan berarti seseorang memiliki sikap positip. Orang-orang dengan sikap positip mempunyai ciri kepribadian tertentu yang dengan mudah dapat di kenali. Mereka penuh perhatian, percaya diri, sabar dan rendah hati. Mereka memiliki harapan yang tinggi terhadap diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka mengusahakan hasil-hasil yang positip. Seseorang dengan sikap positip adalah seperti pohon yang berbuah di setiap musim. Ia selalu terbuka. Banyak manfaat dari sikap positip untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita. Sebaliknya, orang yang memiliki sikap negatif sulit memelihara persahabatan, pekerjaan, perkawinan dan hubungan dengan orang lain.di dunia ini. Mereka menciptakan lingkungan negatif di rumah dan di tempat kerja, serta menjadi beban masyarakat. Mereka juga menularkan perilaku negatif kepada orang-orang lain di sekitar mereka dan bagi generasi masa depan.

Cara Anda memandang kehidupan ini berkaitan dengan sikap Anda. Salah satu kisah yang paling saya sukai adalah tentang seorang kakek dan nenek yang mengunjungi cucu-cucunya. Setiap petang si Kakek berbaring untuk tidur siang. Pada suatu hari, untuk bergurau, anak-anak memutuskan untuk mengoles mentega pada kumis kakeknya. Segera si kakek terbangun dan mengendus-endus. "Wah, kamar ini bau busuk," serunya sambil bangun dan pergi ke dapur. Tidak lama kemudian dia menyimpulkan bahwa dapur juga bau tidak sedap, maka dia pergi ke luar untuk menghirup udara segar. Alangkah heran si kakek, udara di luar rumah juga tidak memberinya kesegaran, dan dia berseru, "Seluruh dunia berbau busuk!" Sungguh benar hal itu dalam kehidupan. Kalau kita membawa-bawa mentega dalam sikap kita, maka seluruh dunia berbau busuk.

Oleh karena itu mulailah berubah. Sifat manusia pada umumnya adalah tidak menyukai perubahan. Perubahan memang tidak menyenangkan. Apapun efeknya, baik positif dan negatif, perubahaan menimbulkan stress. Kadang-kadang kita merasa begitu betah dengan negativitas kita, bahkan ketika perubahan yang kita lakukan adalah untuk sesuatu yang positif sekalipun, kita tidak dapat menerimanya. Kita memilih tetap memelihara sikap negatif. Ada contoh cerita tentang seorang narapidana yang sudah bertahun-tahun di kurung dalam sel yang gelap. Setelah selesai menjalankan masa hukumannya, ia memperoleh kebebasan. Ia dibawa keluar dari selnya, kebawah sinar matahari alam terbuka. Orang ini memandang sekelilingnya dan setelah beberapa saat ia tiadk menyukai kebebasan yang baru diperolehnya, kemudian ia meminta untuk dimasukkan kembali ke dalam selnya. Baginya, sel yang gelap, rantai dan kegelapan, lebih aman dan nyaman dibandingkan perubahaan kebebasan dan alam terbuka. Tanyakan pada diri Anda untuk menguji sikap Anda dengan menjawab pertanyaan ini : "Apakah Anda merasa dunia Anda memperlakukan Anda dengan baik?" Kalau sikap Anda terhadap dunia baik, Anda akan menerima hasil yang baik. Kalau Anda merasa biasa-biasa saja tentang dunia, tanggapan bagi Anda dari dunia juga hanya akan bertingkat biasa-biasa saja. Kalau Anda punya perasaan yang buruk tentang dunia, maka Anda rasanya hanya mendapat umpan balik negatif dari kehidupan.

Sebagai penutup, saya menyarankan mulailah dari saat ini Anda lah yang bertanggung jawab atas sikap Anda sendiri.Kita harus menerima tanggung jawab itu sepanjang hidup kita. Jangan menyalahkan orang lain atau apapun, kecuali diri kita sendiri. Setiap pagi, kita lah yang menentukan pilihan sikap kita terhadap kehidupan. Kita harus berani menerima tanggung jawab atas perilaku dan tindakan-tindakan kita. Tinggalkan masa lalu Anda, bersihkan diri Anda. Kembalilah ke jalur yang benar. Satukan impian-impian Anda dan majulah. Tidak ada orang yang mampu merubah hidup Anda menjadi lebih baik kecuali Anda sendiri yang melakukannya.

Readmore..

Pak Gondo Sucipto (in memoriam)

| | 0 comments

Pak Gondo Sucipto
(in memoriam)
Upa. Dayananda TG.
“Aku berlindung pada Buddha, Ingat selalu takkan lupa……….” Dengan suara baritonnya yang khas, pak Gondo yang biasa saya panggil mpek (pak De ), bersenandung sambil mencukur rambut saya. Sejak umur 5 tahun, sampai saya SMA. beliau selalu mencukur rambut para putranya termasuk saya, seorang keponakannya. Dan karena sekolah SD saya dekat dengan rumah beliau, seusai sekolah, saya selalu ke rumah beliau, sampai menunggu ayah saya menjemput sepulang kerja.

Begitu sering beliau bersenandung lagu Aku berlindung, sampai suatu ketika saya iseng bertanya : “Mpek, apa tidak ada lagu lain selain Aku berlindung?” dan dengan enteng beliau menjawab : “Bagi mpek, tidak ada lagu yang lebih bagus daripada lagu Aku berlindung pada Buddha”.

Pada saat yang lain, kalau sedang mencukur, petuah yang selalu diberikan adalah : “Nanti kalau ada kesempatan, belajarlah meditasi, mpek tidak mendapat kesempatan untuk belajar meditasi pada seorang yang betul betul memahami meditasi, semua belajar sendiri, coba coba sendiri tabrak sana tabrak sini”.
“Kamu ingat ingat ya, untuk bermeditasi, perhatikan napas masuk dan napas keluar itu saja dulu, nanti akan kelihatan pikiranmu itu rame sendiri, nah teruskan perhatian pada napas masuk dan keluar, sampai pikiran rame itu reda dan sepi sendiri”. Sebagai anak kecil, tanpa paham sedikitpun saya hanya mendengarkan selintas, tapi karena sering diulang ulang, lama lama jadi hapal dan teringat terus.

Pada saat lain lagi, beliau berkata : “ Jangan bosan bermedtitasi, memang tidak ada pekerjaan yang lebih membosankan dari duduk diam seperti patung dan memperhatikan napas sendiri, terus tekun melakukan, karena manfaatnya besar sekali bagi dirimu sendiri”

Ketika saya SMP, dan sudah dibelikan sepeda oleh ayah saya, maka mulai jarang ke rumah beliau, hanya kadang kadang datang untuk pangkas rambut, suatu ketika saya pangkas rambut di tukang pangkas dekat rumah, dan waktu saya mau kembali pangkas rambut ke rumah beliau, dengan gusar beliau berkata : “Jangan cukur rambut sama orang lain, mpek masih hidup dan masih kuat, kecuali terpaksa baru boleh. Jangan biarkan sembarang orang pegang pegang kepalamu, mengerti?”. Jadi sampai saya kuliah di luar kota, barulah berhenti pangkas rambut dengan beliau.

Salah satu kisah yang sering beliau ceritakan adalah : “Mpek adalah orang yang ndugal (Bengal dan nakal). Setiap ada orang yang mempromosikan agama apapun, selalu mpek goda sampai dia jengkel. Dari sekian banyak teman mpek di kota Rembang, ada beberapa yang tertarik dengan agama Buddha, dan banyak bercerita, cerita yang menurut mpek, masuk akal. Dan yang mengubah mpek untuk mulai bermeditasi adalah pada waktu tahun 1953, ada perayaan Waisak yang pertama di Borobudur. Mpek saat itu sedang tugas belanja di Rembang, dan diajak oleh teman mpek seorang pengusaha di Rembang untuk ikut menghadiri Waisak tersebut”

Dan dengan mata berkaca kaca, beliau melanjutkan :”Itulah acara Waisak yang paling hebat, yang pernah mpek alami, dan tidak bisa dilupakan, memang hanya beberapa ratus orang yang hadir, dimalam bulan purnama, dengan kelap kelip lilin, sungguh pengalaman luarbiasa, dan setelah baca mantra yang mpek tidak bisa dan tidak mengerti, pemimpin upacara (mpek baru tahu belakangan, namanya The Boan An, dan belakangan menjadi Bhikkhu Ashin Jinaarakkhita), secara singkat menjelaskan cara bermeditasi, kemudian semua mulai bermeditasi bersama. Inilah saat yang mengubah mpek, suasana menjadi begitu hening, mpek mengikuti petunjuk yang diberikan mulai bermeditasi untuk pertama kalinya, dan mendapatkan ketenangan yang luar biasa yang belum pernah mpek rasakan sebelumnya. Sejak saat itu, mpek mulai berlatih meditasi”.

“Mpek tidak punya kesempatan untuk belajar dibawah bimbingan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, berlatih sendiri, hanya dari tanya teman dan baca baca buku yang dipinjamkan oleh teman mpek, tapi mpek yang dulu berangasan, gampang marah, suka berburu, mulai berubah, menjadi lebih bisa mengendalikan diri, dan meninggalkan hobby berburu karena bisa memahami penderitaan mahluk yang lain. Pengalaman yang membuat mpek berhenti total dari hobby berburu adalah pada suatu ketika teman mpek menembak seekor kera, sampai jatuh, dan itu ternyata induk kera dengan seekor anaknya yang masih bayi. Induk kera yang jatuh itu ternyata belum mati, dan dengan susah payah dia naik lagi ke pohon, meletakkan anaknya di ranting pohon, dan akhirnya karena tidak kuat lagi, dia jatuh dan mati. Sejak itu mpek berhenti total dari berburu, punya hak apa kita merampas kebahagiaan mahluk lain?”
Pernah satu kali ketika libur panjang sekolah, saya masih SMA saat itu, saya diajak beliau berlibur ke kota Rembang, kota kelahiran ibu saya. Di kota tersebut, kami mengunjungi sebuah kelenteng, yang juga merupakan tempat kremasi, ketika itu dikota saya belum ada krematorium, sehingga bila ada yang meninggal dan ingin di kremasi harus dibawa ke Jakarta atau Semarang. Dengan semangat beliau memeriksa krematorium yang masih menggunakan arang, dan komentarnya dengan logat Jawa yang medok : “Nih kamu lihat, kalau mpek sudah mati, yang namanya badan ini sudah rusak dan tidak berguna, jangan repot repot, blusuke (bhs Jawa artinya dimasukkan atau dijebloskan) saja ke lubang ini, uruk dengan arang dan nyalakan apinya, biarkan habis jadi abu, sudah beres”. Dan Pandangan beliau mengenai kremasi seperti ini (pada waktu itu masih belum umum) sering digoda oleh putra putrinya yang sebagian besar bukan Buddhis, antara lain : “Lha pi (papi/ayah maksudnya) apa ndak kepanasan di panggang seperti itu?” Dengan sengit beliau menjawab : “Apanya yang panas, wong sudah jadi bangke, bangke kan tidak bisa merasa. Sudah, pokoknya nanti kalau papi mati, jangan neko-neko, bakar saja beres”.

Menjelang saya berangkat kuliah ke luar kota, mpek secara khusus datang ke rumah saya dengan menaiki sepeda tuanya, dan pesan beliau adalah : “Begitu kamu sampai di kota Bandung, cari kesempatan untuk pergi ke jalan Dago, disitu ada Vihara tempat Bhikkhu Ashin Jinarakkhita tinggal, kamu minta di bimbing beliau untuk ber meditasi, ingat ya di jalan Dago, jangan sia siakan kesempatan untuk belajar meditasi dari beliau, mpek tidak memiliki kesempatan untuk dibimbing beliau”. Saat menjelang beliau pulang, masih sekali lagi diulangi : “ke vihara di jalan Dago ya, temui Bhikkhu Ashin Jinarakkhita”.
Setelah beberapa bulan di Bandung, akhirnya saya mencari cari vihara di jalan Dago, dan berlatih meditasi disitu, dibimbing oleh seorang bhikkhu (bhante DharmaSuryabumi), karena bhikkhu Ashin Jinarakkhita tinggal di Pacet, Cipanas.

Pada waktu bertemu mpek saat liburan kuliah, saat saya menceritakan bahwa saya berlatih meditasi, beliau dengan bersemangat berkata : “Kamu beruntung bisa berlatih dengan dibimbing. Ayo ceritakan, bagaimana petunjuk bhikkhu, supaya mpek bisa berlatih dengan benar”. Setelah saya menyampaikan apa yang diberikan, dan menjawab berbagai pertanyaan beliau. Dengan mata berkaca kaca beliau berkata : “Mungkin pada kehidupan mendatang, mpek baru bisa berlatih Vipassana dengan dibimbing oleh bhikkhu yang mumpuni, tapi tidak sia-sia mpek selalu menasehati kamu untuk belajar ber meditasi”.

Dilain kesempatan, saat bertemu dengan mpek, beliau bertanya : “Masih ingat nggak, kamu waktu kecil, mpek suruh ikut dengan kakak mu yang lain untuk berlatih silat, kamu tidak mau?” Saya tidak ingat lagi, cuma ingat saya merasa tidak suka saja untuk berlatih silat. Mpek meneruskan :”Ingat ngga apa yang kamu katakan waktu itu? “ Tentu saja saya sudah lupa. Sambil tersenyum mpek berkata : “Waktu mpek memaksa kamu –umurmu baru 6 tahunan – untuk ikut latihan silat, kamu bilang, ‘aku tidak suka belajar ilmu memukul dan mengalahkan orang lain, kalau ada, aku mau belajar ilmu supaya orang tidak ingin memukul aku’. Lha ya ndak ada ilmu seperti itu, yang mpek ingat ada pelajaran meditasi yang kalau dilatih dengan baik, membuat orangnya disukai oleh orang lain, bahkan hewan dan mahluk yang lain, cuma mpek tidak bisa menjelaskan . Tapi sejak itu mpek tidak paksa kamu untuk silat, dan lebih banyak cerita mengenai meditasi”.

Mungkin mpek pernah mendengar dari temannya mengenai Metta Bhavana, tetapi karena tidak ada yang membimbing, setahu saya, mpek selalu tekun melatih meditasi dengan objek pernapasan.
Sampai menjelang akhir hayat beliau, beliau benar benar disiplin bermeditasi dari jam 4 pagi sampai jam 5 pagi setiap hari, di taman kecil dibelakang rumah beliau, dan kalau hari hujan, beliau duduk bermeditasi di teras taman.

Pada tahun 1980 beliau meninggalkan dunia ini dan pindah ke alam lain yang tentunya lebih baik.
Semoga benih benih kebaikan yang beliau tanamkan, berbuah dan memberikan manfaat untuk waktu yang lama. Sadhu, sadhu, sadhu.
Ditulis untuk mengenang jasa jasa baik dari
Alm Bp. Gondo Sucipto,
Oleh Upa. Dayananda TG.

Readmore..

Buddha dan Semangat Berani Gagal

| | 0 comments

Buddha dan Semangat Berani Gagal
Chuang

Setiap kali saya menengok ke dalam sejarah kehidupan Buddha, selalu ada saja teladan yang dapat saya temukan, dan temukan, dan temukan lagi. Kehidupan-Nya—yang meskipun cukup singkat untuk masa itu—bagaikan sumur dari mata air kebijaksanaan yang tak pernah kering sepanjang masa.
Dalam kaitannya dengan semangat pantang menyerah, kehidupan Buddha telah memberikan kita suatu teladan mengenai keteguhan dan ketabahan yang sempurna dari seorang manusia yang mempunyai impian besar, suatu impian yang bukan melulu demi kemuliaan diri-Nya sendiri, tetapi juga untuk kebahagiaan segenap makhluk di seluruh alam kehidupan: KEBEBASAN SEJATI.

Seperti yang kita semua ketahui, pada malam menjelang pelepasan agung, Pangeran Sidharta meninggalkan istana dan segala kemewahannya sebagai seorang putra mahkota tanpa sedikit pun keragu-raguan, tanpa sedikit pun ketakutan akan kegagalan, dan tanpa sedikit pun kecengengan seorang pangeran yang terbiasa hidup nikmat nyaman dan mewah.

Dan bayangkanlah, andaikata pada detik-detik yang sangat menentukan itu, seorang Pangeran Sidharta–yang meskipun telah diramalkan akan menjadi Buddha, tetapi bagaimana pun Beliau barulah hanya seorang Bodhisatta–menjadi kecil hati, takut akan kegagalan dan enggan meninggalkan segala kemewahan dan kenyamanan hidupnya, kita saat ini pasti tak kan mengenal apa itu Ajaran Buddha, apa makna sejati dari kehidupan ini dan bagaimana cara mencapai kebahagiaan sejati dan sebagainya. Dan nama Sidharta, barangkali hanya kita ketahui sebagai nama seorang raja yang bijaksana yang memerintah suatu kerajaan di masa India Kuno. Tidak lebih dari itu.

Tetapi Pangeran Sidharta, untunglah, bukan seorang pengecut yang takut gagal, bukan seorang pangeran cengeng yang melekati segenap kenyamanan dan kenikmatan hidupnya. Dia adalah seorang manusia yang berani memiliki cita-cita, berani memimpikan suatu impian, dan yang terpenting berani mewujudkan cita-citanya sehingga hari ini kita memujanya sebagai seorang Buddha, yang sadar, yang telah menaklukan musuh yang seharusnya ditaklukkan.

Buddha dengan demikian menjadi salah seorang manusia yang paling sukses dan bahagia di dalam sejarah dunia kita. Dan itu semua tidak Ia dapatkan dengan begitu saja dari pemberian para dewa atau makhluk brahma, meskipun pada kenyataannya Ia seorang Bodhisatta yang dicintai, dijaga dan dipuja oleh para dewa dan brahma.

Sebab, seperti yang ktia ketahui pula, pangeran harus melalui masa enam tahun pencarian yang melelahkan dan menyiksa, yang bahkan dalam satu masa hampir saja merengut nyawanya. Pangeran benar-benar harus berjuang keras dari satu kegagalan menuju kegagalan lain, dari satu siksaan menuju siksaan lain, dari satu godaan menuju godaan lain sebelum ia pada akhirnya menemukan jalan yang dicarinya, obat penyembuh penderitaan semua makhluk yang hidup, menjadi Buddha.

Lalu terpikirlah oleh saya, bila seorang Bodhisatta yang dipuja dan dicintai segenap makhluk pun harus mengalami kegagalan dan penderitaan sebelum ia pada akhirnya menjadi Buddha, mengapa kita yang bukan siapa-siapa ini, yang begitu kerdil dan hina bila dibandingkan dengan diri-Nya, begitu cengeng dan penakut manakala dihadapkan pada satu pilihan untuk melangkah atau tidak, untuk memiliki impian dan mewujudkannya?
Mengapa kita seringkali bersedih hati dalam kegagalan dan tetap diam berkumbang didalamnya, bukannya meneladani semangat Buddha yang pantang menyerah, yang tak takut gagal dan berani mengambil resiko pada saat Ia sebenarnya bisa saja duduk tenang dan nikmat sebagai pangeran mahkota yang hidupnya luar biasa mewah dan nyaman?

Buddha telah menunjukkan jalan-Nya, Ia telah memberikan teladan-Nya. Lalu mengapa kita masih saja gentar untuk memiliki impian dan mewujudkannya menjadi nyata?

Readmore..

Bodhisatta Menjadi Sang Buddha

| | 0 comments

– Menjalani pertapaan –
Setelah menjadi petapa, Bodhisatta tinggal di hutan mangga yang disebut Anupiya tidak jauh dari Sungai Anomã selama 7 hari pertama, dan kemudian Ia pergi menuju ke Rajagaha, ibukota Kerajaan Magadha. Di Rajagaha, Ia menolak tawaran Raja Bimbisara yang akan memberikan separuh kekuasaannya setelah mengetahui identitas Bodhisatta.

Setelah itu, Ia melanjutkan perjalanan dengan menuruni Bukit Pandava dan menuju ke Kota Vesali, tempat seorang guru agama yang ternama, Alara Kalama yang tinggal bersama para siswanya. Di sana Bodhisatta bergabung dan menjadi siswa dari Alara Kalama.

Dalam waktu singkat karena memiliki kepandaian yang luar biasa, Bodhisatta telah mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Alara Kalama bahkan mencapai pencapaian yang sama dengan guru-Nya itu. Namun setelah merenungkan sifat dan manfaat dari pencapaian-Nya ini, Ia menyimpulkan bahwa ajaran yang Ia praktikkan tersebut tidaklah membawa pada Pembebasan Sejati. Oleh karena itu Ia mohon pamit kepada guru-Nya untuk melanjutkan pencariannya atas jawaban terhadap persoalan hidup dan mati, usia tua, dan penyakit, yang senantiasa dipikirkan-Nya.

Kemudian Bodhisatta meninggalkan Vesali dan berjalan menuju Negeri Magadha. Ia menyeberangi Sungai Mahi, dan sejenak kemudian sampai di sebuah pertapaan lain di tepi sungai itu. Pertapaan itu dipimpin oleh seorang guru agama yang sangat dihormati. Bernama Uddaka Ramaputta (Uddaka, putra Rama). Kemudian Bodhisatta pun bergabung dan menjadi siswa dari Uddaka Ramaputta. Dalam waktu yang singkat pula, Ia mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh Uddaka Ramaputta bahkan melampauinya. Namun, Bodhisatta segera mengetahui bahwa pencapaian-Nya itu bukanlah apa yang Ia cari. Karena tidak puas dengan pencapaian-Nya itu. Ia meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta . 

– Praktik pertapaan yang keras –
Setelah meninggalkan pertapaan Uddaka Ramaputta, Petapa Gotama menuju ke Senanigama (kota niaga Senani) di Hutan Uruvela. Ketika disanalah Petapa Gotama bertemu dengan 5 orang petapa (pancavaggiya) yang terdiri dari Kondanna, Vappa, Mahanama, Assaji dan Bhaddiya.

Selama di Hutan Uruvela, Petapa Gotama menjalankan latihan tapa yang paling berat (dukkaracariya), yang sulit dipratikkan oleh orang biasa. Ia menyatakan tekad usaha kuat beruas empat yang dikenal sebagai padhana-viriya, sebagai berikut: “Biarlah hanya kulit-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya urat daging-Ku yang tertinggal! Biarlah hanya tulang belulang-Ku yang tertinggal! Biarlah daging dan darah-Ku mengering!” Dengan tekad ini, Ia tak akan mundur sejenak pun, namun akan melakukan usaha sekuat tenaga dalam praktik itu.

Dalam praktik pertapaan yang keras tersebut, Petapa Gotama berlatih untuk mengurangi makan sedikit demi sedikit hingga tidak makan sama sekali. Karena melakukan hal tersebut, tubuh-Nya berangsur-angsur menjadi semakin kurus dan akhirnya hanya tinggal tulang belulang. Karena kurang makan, sendi-sendi dalam tubuh dan anggota tubuh-Nya menyembul seperti sendi rerumputan atau tanaman menjalar yang disebut asitika atau kala (Latin: Polygonum aviculare dan S. lacustris).

Enam tahun sudah Petapa Gotama menjalankan pertapaan yang keras dan tiba pada tahap kritis dimana Ia berada di ambang kematian. Hingga suatu hari ketika berjalan-jalan, Ia pingsan dan terjerembab karena tubuh-Nya dilanda panas yang tak tertahankan dan karena kurang makan berhari-hari. Ketika itu, seorang anak laki-lagi pengembala kebetulan lewat di tempat terjatuhnya Petapa Gotama. Setelah membangunkan Petapa Gotama, anak gembala itu menyuapkan air susu kambing bagi-Nya.
– Perenungan –
Pada suatu sore, Petapa Gotama merenungkan bahwa Ia telah pulih kembali dan merasa lebih segar setelah jatuh pingsan pada hari sebelumnya – berkat susu kambing yang diberikan oleh anak laki-laki gembala itu. Jika tidak demikian, pastilah Ia sudah mati. Tatkala merenung seperti itu, sekelompok gadis penyanyi yang tengah berjalan menuju kota berlalu di dekat tempat Ia bermeditasi. Seraya berjalan, mereka berdendang menyanyikan syair sebagai berikut: “Kalau tali gitar ditarik terlalu keras, talinya putus, lagunya hilang. Kalau ditarik terlalu kendor, ia tak dapat mengeluarkan suara. Suaranya tidak boleh terlalu rendah atau keras. Orang yang memainkannya yang harus pandai menimbang dan mengira.”

Mendengar nyanyian itu, pertapa Gotama mengangkat kepalanya dan memandang dengan heran kepada rombongan penari tersebut. Dalam hatinya ia berkata:

“Sungguh aneh keadaan di dunia ini bahwa seorang Bodhisatta (calon Buddha) mesti menerima pelajaran dari seorang penari. Karena bodoh, aku telah menarik demikian keras tali kehidupan, sehingga hampir-hampir saja putus. Memang seharusnya aku tidak boleh menarik tali itu terlalu keras atau terlalu kendor.”
Di dekat tempat itu tinggal pula seorang wanita muda kaya raya bernama Sujata. Sujata ingin membayar kaul kepada dewa pohon karena permohonannya supaya diberi seorang bayi laki-laki terkabul. Hari itu Sujata mengirim pelayannya ke hutan untuk membersihkan tempat di bawah pohon di mana ia ingin mempersembahkan makanan yang lezat-lezat kepada dewa pohon. la agak terkejut waktu pelayannya dengan tergesa-gesa kembali dan memberitahukan:”O, nyonya, dewa pohon itu sendiri telah datang dari kayangan untuk menerima langsung persembahan nyonya. Beliau sekarang duduk bermeditasi di bawah pohon. Alangkah beruntungnya bahwa dewa pohon berkenan untuk menerima sendiri persembahan nyonya.”
Sujata gembira sekali mendengar berita itu. Setelah makanan selesai dimasak, berangkatlah Sujata ke hutan. Sujata merasa kagum melihat dewa pohon dengan wajah yang agung sedang bermeditasi. la tidak tahu, bahwa orang yang dikira sebagai dewa pohon sebenarnya adalah pertapa Gotama. Dengan hati-hati makanan ditempatkan ke dalam mangkuk dan dengan hormat dipersembahkan kepada pertapa Gotama yang dikira Sujata adalah dewa pohon.
Pertapa Gotama menyambut persembahan itu. Setelah selesai makan, terjadilah percakapan antara pertapa Gotama dan Sujata seperti di bawah ini:
“Dengan maksud apakah engkau membawa makanan ini?”
“Tuanku yang terpuja, makanan yang telah aku persembahkan kepada Tuanku adalah cetusan rasa terima kasihku karena Tuanku telah meluluskan permohonanku agar dapat diberi seorang anak laki-laki.”
Kemudian pertapa Gotama menyingkap kain yang menutupi kepala bayi dan meletakkan tangannya didahinya sambil memberi berkah:
“Semoga berkah dan keberuntungan selalu menjadi milikmu. Semoga beban hidup akan engkau terima dengan ringan. Aku bukanlah dewa pohon, tetapi seorang putra raja yang telah enam tahun menjadi pertapa untuk mencari sinar terang yang dapat dipakai untuk memberi penerangan kepada manusia yang berada dalam kegelapan. Aku yakin dalam waktu dekat ini Aku akan berhasil memperoleh sinar terang tersebut. Dalam hal ini persembahan makananmu telah banyak membantu, karena sekarang badanku menjadi kuat dan segar kembali. Karena itu dengan persembahan ini engkau akan mendapat berkah yang sangat besar. Tetapi, adikku yang baik, coba katakan, apakah engkau sekarang bahagia, dan apakah penghidupan yang disertai cinta saja sudah memuaskan?”
“Tuanku yang terpuja, karena aku tidak menuntut banyak maka hatiku dengan mudah mendapatkan kepuasan. Sedikit tetesan air hujan sudah cukup untuk memenuhi mangkuk bunga Lily, meskipun belum cukup untuk membuat tanah menjadi basah. Aku sudah merasa bahagia memandang wajah suamiku yang sabar atau melihat senyum bayi ini. Setiap hari, dengan senang hati aku mengurus pekerjaan rumah tangga, memasak, memberi sajen kepada para dewata, menyambut suamiku pulang dari pekerjaan; apalagi sekarang dengan dilahirkannya seorang anak laki-laki yang menurut buku-buku suci akan membawa berkah kalau kelak kami meninggal dunia. Juga aku tahu bahwa kebaikan datang dari perbuatan baik dan kemalangan datang dari perbuatan jahat yang berlaku bagi semua orang dan pada setiap waktu, sebab buah yang manis muncul dari pohon yang baik dan buah yang pahit muncul dari pohon yang penuh racun. Apa yang harus ditakuti oleh orang yang berkelakuan baik kalau nanti tiba saatnya mesti mati?”

Mendengar penjelasan Sujata maka pertapa Gotama menjawab:
“Kau sudah mengajar kepada orang yang seharusnya menjadi gurumu; dalam penjelasanmu yang sederhana itu terdapat sari dari kebajikan yang lebih nyata dari kebajikan yang tinggi; meskipun engkau tidak belajar apa-apa, namun engkau tahu jalan kebenaran dan menyebar keharumanmu ke semua pelosok. Sebagaimana engkau telah mendapat kepuasan, semoga aku pun akan mendapatkan apa yang aku cari. Aku, yang engkau pandang sebagai seorang dewa, minta didoakan supaya aku dapat berhasil melaksanakan cita-citaku.”

“Semoga Tuanku berhasil mencapai cita-cita Tuanku sebagaimana aku berhasil mencapai cita-citaku.”
Pertapa Gotama kemudian melanjutkan perjalanan dengan membawa mangkuk kosong. la menuju ke tepi sungai Neranjara dalam perjalanannya ke Gaya. Tiba di tepi sungai pertapa Gotama melempar mangkuknya ke tengah sungai sambil berkata: “Kalau memang waktunya sudah tiba mangkuk ini akan mengalir melawan arus dan bukannya mengikuti arus.”

Satu keajaiban terjadi karena mangkuk itu ternyata mengalir melawan arus.
– Pencapaian pencerahan sempurna –
Pertapa Gotama meneruskan perjalanannya dan pada sore hari tiba di Gaya. la memilih tempat untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi (latin: Ficus Religiosa), kemudian mempersiapkan tempat duduk di sebelah tiimur pohon itu dengan rumput kering yang diterima dari seorang pemotong rumput yang bernama Sotthiya. Di tempat itulah pertapa Gotama duduk bermeditasi dengan wajah menghadap ke timur dengan tekad yang bulat.

Selama bermeditasi itu, sang pertapa tidak terlepas dari godaan-godaan. Kekuatan kejahatan dan keburukan silih berganti mengancam serta mempermainkan dia. Namun semua itu tidak menggetarkan Sang Gotama.

Setelah mengalami pergulatan batin yang berat selama beberapa waktu, akhirnya Petapa Gotama berhasil menundukkan rasa ngeri, keinginan duniawi, niat buruk, dan kekejaman. Kemenangan-Nya atas pergulatan batin ditandai dengan berjajarnya bulan purnama yang tengah menyingsing di ufuk timur dengan bulatan merah matahari yang tengah terbenam di ufuk barat. Bodhisatta akhirnya mengetahui bahwa itulah saat yang tepat untuk meneruskan perjuangan-Nya mencapai Pencerahan Agung. Pada malam bulan purnama, bulan Vesak, 588 M, Bodhisatta tetap duduk tenang memusatkan perhatian-Nya.
Setelah Ia memasuki jhana pertama, kedua, ketiga dan keempat dalam meditasi-Nya, pikiran-Nya yang terkonsentrasi menjadi murni, cermelang, tanpa noda, tanpa cacat, mudah ditempa, mudah dikendalikan, serta tak tergoyahkan. Saat itu Ia mengarahkan pikiran-Nya dan mencapai tiga pengetahuan.
Pengetahuan pertama merupakan pengetahuan melihat dengan jelas dan rinci kelahiran-kelahiran-Nya yang terdahulu (pubbenivasanussati ñana). Hal ini terjadi pada waktu jaga pertama, yaitu antara jam 18.00 sampai 22.00.

Pengetahuan kedua merupakan pengetahuan melihat dengan jelas kematian dan tumimbal lahir kembali makhluk hidup (dibbacakkhu ñana). Ia melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali dalam kondisi rendah dan mulia, cantik dan buruk, mujur dan sial. Hal ini terjadi pada waktu jaga kedua, yaitu antara jam 22.00 sampai 02.00.

Pengetahuan ketiga merupakan pengetahuan akan penghancuran noda (asavakkhaya ñãna). Ia mengetahui secara langsung segala sesuatu sebagaimana adanya. Ia menyadari dan mencerap bahwa pikiran-Nya terbebas dari noda keinginan indrawi, noda kehidupan, dan noda kebodohan batin. Dan ketika Ia terbebas, muncullah pengetahuan bahwa Ia telah terbebas. Ia menyadari langsung bahwa kelahiran-Nya sudah dihancurkan; hidup suci sudah dijalankan; apa yang harus dilakukan sudah dilakukan; tiada lagi kelahiran kembali di alam mana pun juga. Hal ini terjadi pada waktu jaga ketiga, yaitu antara jam 02.00 sampai 04.00. Ia mengetahui bahwa “inilah penderitaan”, bahwa “inilah sumber penderitaan”, bahwa “inilah berakhirnya penderitaan”, dan bahwa “inilah jalan menuju akhirnya penderitaan”.

Dengan tercapainya Pengetahuan Sejati Ketiga maka Bodhisatta mencapai Arahatta-Magga, menjadi Yang Sadar (Buddha), Yang Terberkahi (Bhagava), Yang Tercerahkan Sempurna (Sammasambuddha). Seiring dengan Pencerahan-Nya, Buddha juga memperoleh penegtahuan sempurna tentang Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani).

Demikianlah menjelang fajar pada hari bulan purnama, Vesak 588 S.M, pada usia tiga puluh lima tahun, Bodhisatta mencapai Kemahatahuan dan menjadi Buddha dari tiga dunia dengan usaha-Nya sendiri.

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com