Selamat Datang di Blog Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok
Blog ini kami persembahkan untuk teman-teman kami yang rindu akan suasana Vihara, teman-teman yang berminat belajar Dhamma, dan berbagi pengalaman spiritual. Blog ini juga kami dedikasikan sebagai jembatan para umat Vihara Surya Adhi Guna yang tidak dapat datang ke Vihara, kami menyediakan liputan, ringkasan kebaktian, foto-foto dan video setiap aktivitas yang up to date.
Semoga bermanfaat.
Monday, February 6, 2012
Janganlah pernah merasa takut jika mengingat akan kematian
Saturday, February 4, 2012
Grace Chandra : English Buddhism
Kebhaktian Remaja, 31 Oktober 2009
Protokol : Ratna Sari
Penyalaan Lilin Altar : Tasya
Dhammapada : Mira dan Nanda
Dhammadesana : Grace Chandra
Namo Buddhaya..,
Dua hari sebelum kebhaktian remaja saya sudah merencanakan untuk mengisi kebhaktian remaja 31 Oktober dengan suatu artikel singkat berbahasa Inggris yang saya peroleh dari Samanera Abhassaro, Artikel ini berjudul "Buddhism" yang mengulas tentang perkembangan agama Buddha dahulu pada jaman Buddha hingga saat ini.
Pada awal acara saya meminta anak-anak remaja untuk duduk melingkar. Lalu saya memberi waktu sekitar 10 menit kepada masing-masing anak remaja untuk membaca artikel itu. Dengan anusias dan penuh perhatian mereka semuanya membaca artikel tersebut. Akhirnya waktu pun sudah menunjukkan jam 19.40 lalu saya pun meminta para remaja untuk membaca artikel secara bergiliran dan menerjemahkannya. Setelah selesai membaca kemudian 10 soal yang ada di artikel pun dijawab secara bergiliran.
Acara kemudian saya lanjutkan dengan TTS agar suasana menjadi lebih rileks. TTS Buddhis ini pun merupakan kiriman dari Samanera Abhassaro. Para remaja dengan gembira dan bersemangat mengisi TTS tersebut.
Acara malam ini merupakan salah satu variasi pengisian acara kebhaktian di Vihara agar lebih variatif dan tak jenuh. Dengan acara ini kami dapat belajar bahasa inggris tapi kami juga belajar Dhamma. Selain itu suasana keakraban pun jadi semakin tercipta.
Buddhism
Buddhism come from the word Buddha. Buddha was a person. He lived more than two thousand five hundred years ago in India. His family was rich. He lived in a beautiful house with many servants One day when he went out of his house, he saw many poor and unhappy people. He looked out at them. Hea sked himself these questions, "Why are people so unhappy? How can people be happy"
When he was twenty nine years old, he left his family and his beautiful home. He went out into the world to find the answers. He tried many ways. He studied with teachers but they did not answers his questions After this he tried another way. He lived in the forest He hurt his body. He did not eat for many days. He tried to get away from his body. But thid did not give him the answers to his questions.
Then he sat down under a Bodhi tree and he thought. He sat for forty-nine days. After this time he learned something from himself. He became at the Buddha. His questions were answered. People are unhappy because they wants things. They are always looking for food, money and other things. When a man does not want things, he is free. He does not think about himself. He dos not think about tomorrow. He is kind to others.
Buddha died when he was eighty years old. During his life he travelled to many places. He taught many people. He had many students. A follower of Buddha is called a Buddhist. Some Buddhist become monks. Monks do not work. They do nor have money. They are given their food by other people. They wear a long yelloy piece of cloth. They cut off their hair. They usually do not wear anything on their feet. They pray and think. Early in the morning the monk wals along the street. He carries a bowl. People stop him and give him food. He can not ask for food. A monk's life is not easy. He tries to get away froem the world. He tries to follow the teachings of Buddha.
In Thailand any man can be a monk. Many people become monks for a short time, usually three months. This happens during the wet season in Thailand. This time as a monk is very important for Thai men. They do not llive with their family then. They go to live and study in a monk's house. After three months they go back to their own life. Some are monks for a longer time. They study the teachings of Buddha. These are his teachings. Life is not happy. It is like this because people always want things. When people do not want things, they will be happy. You can learn to do this when you study Buddha's teachings. Buddha teachings were not written down until two or three hundred years after he died. Before this people just remembered them and told them to others.
There is more than one kind of Buddhism. All Buddhis follow the teachings of Buddha but they are not always the same. Buddhism in Japan is a little different from Thai Buddhism. People understand the teachings of Buddha in different ways.
Qustion Buddhism:
1. Buddha lived
a. five hundred years ago
b.one thousand years ago
c. two thousand years ago
d. more than two thousand years ago.
2. When he was a child, Buddha was
a. Very poor
b. rich
c. happy
d. very ill
3. Buddha left his home because
a. he did not like his parents
b. he wanted answers for his questions
c. he wanted to travel
d. he wanted to meet people
4. After Buddha left home, he first
a. went to Thailand
b. lived in the forest
c. studied with teachers
d. sat and thought
5. Buddha did not eat and he hurt himselft because
a. he wanted die
b. he was very unhappy
c. he wanted to learn something
d. he was angry at himself
6. Buddha learned this. Man is unhappy because
a. he wants things
b. he is poor
c. he does not believe in God
d. he does not think about tomorrow
7. A Buddhist monk
a. Works
b. asks for his food
c. has long hair
d. does not have money
8. The clothes of the monk are
a. grey
b. white
c. yellow
d. many colours
9. In Thailand most men become monks for
a. one month
b. three months
c. a year
d. two years
10. We still know Buddha's teachings because
a. people always told them to each other
b. Buddha wrote them in three books
c. they were written in stone before Buddha died
d. Buddha still teaches them
the answers:
1. d; 2. b; 3. b; 4. c; 5. c; 6. a; 7. d; 8. c; 9. b; 10. a
Demikianlah ringkasan kebhaktian remaja tanggal 31 Oktober 2009. Semoga ringkasan ini bermanfaat. Selain itu saya juga ucapkan terima kasih kepada Samanera Abhassaro yang telah mengrimkan suatu artikel dan TTS untuk digunakan dalam kebhaktian kami. Selamat berjuang Samanera dan Semoga Samanera segera mencapai pencerahan. Sadhu...! Sadhu...! Sadhu...!
Tuesday, January 17, 2012
KALAYA-MUTTHI-JATAKA No. 176
Monday, January 16, 2012
4 hal untuk merubah pola hidup kita
Pembaca Dhammapada : Ibu Encun Sukanta (Gatha 176 dan 177)
Dhammadesana : Y. M. Bhante Suddhasano
penulis: Grace Chandra
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhasa (3x)
Namo Sang Yang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya…!
Saat ini orang sibuk membicarakan masalah kiamat 2012. Isu seperti ini sebenarnya mengingatkan kita untuk segera mungkin memupuk kebajikan. Kita harus semakin bersemangat memanfaatkan apa yang kita miliki untuk berbuat baik.
Hidup dengan selalu membina diri agar selalu menjadi manusia yang lebih mulia sangatlah sulit. Malam ini Y. M. Bhante memberikan dhammadesana tentang empat hal yang harus kita lakukan untuk merubah pola hidup kita. Keempat hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mencegah hal-hal buruk yang belum ada diri kita
Contohnya yaitu jika diri kita yang bukan tipe suka marah-marah jangan sampai berubah menjadi suka marah-marah. Kita harus menjauhkan diri hal-hal yang buruk. Hal ini dapat dicapai dengan meditasi dan fangshen. Meditasi membuat diri kita selalu sadar dan mawas diri sehingga jika ada hal-hal buruk yang mendatangi diri kita maka kita akan tersadar untuk segera menjauhinya, Sedangkan fangshen membuat diri kita akan dipenuhi oleh cinta kasih sehingga kita dapat terbebas dari rasa memmbenci. Fangshen juga membuat diri kita selalu terlindung oleh kebajikan yang kita perbuat. Semakin banyak kita menolong orang maka akan semakin banyak kita terlindung oleh kebajikan.
Thursday, January 12, 2012
Mengenai Nibbana
Apakah mereka musnah keberadaannya,
Atau mereka tetap tak lekang selamanya ?
Jelaskan pada saya, O, Guru bijaksana
Sebab Kaulah yang mengetahui sejelasnya.
Dan tetap dapat dicapai saat inipun,
bagi siapa yang menjalankannya sendiri,
Tapi tidak bagi yang tidak berusaha sekuatnya.
(Therigattha : 513)
(Majjhima Nikaya II ;5 )
Bayangkan ada suatu kota dikelilingi oleh tembok dengan dasar pondasi yang sangat kuat, bermenara dan hanya berpintu gerbang hanya satu, pintu gerbang dijaga ketat, hanya orang yang dikenal diperbolehkan melewatinya dan orang asing tak diperbolehkan melewatinya. Lalu, ketika seseorang berjaga di sekeliling tembok, dia tidak menemukan satupun lobang yang dapat dilewati walau oleh seekor kucing pun.
Pintu-pintu ke Abadian telah terbuka,Marilah, mereka yang dapat mendengar,
Sumber Tulisan: http://tanhadi.blogspot.com/2010/01/tentang-nibbana.html
Sati dan Meditasi Vipassana
Monday, January 9, 2012
Tips Menikmati Kemacetan
Tips Menikmati Kemacetan
Madiyono
Sunday, January 8, 2012
Pengaruh Agama Buddha Terhadap Sendi-Sendi Kehidupan
Pengaruh Agama Buddha Terhadap Sendi-Sendi Kehidupan Masyarakat Sri Lanka
Samanera Dhammasiri
Tentu Sri Lanka adalah negara yang tidak asing di telinga kita, orang Indonesia. Nama Sri Lanka sendiri digunakan sejak tahun 1972. Sebelumnya negara ini lebih terkenal dengan sebutan Ceylon. Di dalam buku-buku kuno, negara ini dikenal sebagai Tambapani, Siha?adipa dan bahkan saya pernah mendapat informasi bahwa Svarnadipa yang hingga saat ini masih menjadi kontroversi di antara para sarjana Buddhist, juga dianggap sebagai sebutan untuk Sri Lanka. Secara official, negara ini disebut Sri Lanka Prajathanthrika Samajavadi Janarajaya.
Sejarah Singkat Agama Buddha
Secara tradisi, masyarakat Sri Lanka percaya bahwa agama Buddha telah ada di Sri Lanka sejak zaman Sang Buddha bahkan seawal 2 bulan sejak Sang Buddha mencapai pencerahan. Tapussa dan Bhalluka adalah dua pedagang yang pertama kali bertemu dengan Sang Buddha pada minggu ketujuh setelah Sang Buddha mencapai pencerahan. Mereka mendapatkan relik rambut dari Sang Buddha. Setelah mereka pulang ke negerinya, mereka membangun stupa untuk menyimpan relik tersebut. Masyarakat Sri Lanka percaya bahwa Tapussa dan Bhalluka berasal dari Sri Lanka.
Kedermawanan adalah salah satu ajaran yang paling mendasar dalam agama Buddha. Sebagai buktinya, setiap ajaran-ajaran yang penting diawali dengan kedermawanan. Jiwa kedermawanan ini telah mengakar kuat dalam berbagai lini kehidupan masyarakat. Banyak fakta yang dapat kita gunakan untuk membuktikan hal ini.
Sang Buddha mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana—namun tidak berarti tidak harus bekerja keras atau bermalas-malasan. Ajaran ini telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat Sri Lanka. Mereka tetap hidup dalam kesederhanaan meskipun mereka memiliki materi yang boleh dibilang lebih dari cukup.
Sungguh saya sangat terkesan melihat dan mendengarkan cerita tentang hubungan orangtua dan anak dalam kehidupan masyarakat Sri Lanka. Saya melihat dan merasakan ada hubungan kasih sayang yang sangat luar biasa antara orangtua dan anak. Orangtua sangat mencintai anak-anaknya. Demikian pula anak-anak, mereka juga sangat mencintai orangtuanya. Dengan demikian, anak-anak mendapatkan kasih sayang yang cukup dan orangtua pun tidak kekurangan perhatian.
Karena pengaruh agama Buddha, Sri Lanka telah memulai kegiatan literaturnya sejak abad kesatu Sebelum Masehi. Hal ini ditandai dengan ditulisnya Tipitaka ke dalam daun lontar. Semenjak saat itu, kegiatan akademik seperti belajar dan menulis terus mewarnai kehidupan masyarakat Sri Lanka. Sebagai imbasnya, kita pun bisa menemukan karya-karya sastra hasil kreasi masyarakat Sri Lanka seperti Dipava?sa, Mahava?sa, Rasavahini, Balavatara dan masih banyak yang lainya. Di abad modern ini, Sri Lanka dikenal sebagai negara yang paling produktif di Asia dalam memproduksi buku. Mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek pada umumnya pandai menulis. Selain itu, Sri Lanka juga telah melahirkan sarjana-sarjana Buddhist tingkat dunia. Sebut saja, K.N. Jayatilleke, G.P. Malalasekera, D.J. Kalupahana, K. Sri Dhammananda dan yang lainnya.
Ada empat agama yang diakui secara resmi di Sri Lanka yaitu Buddha, Kristen, Hindu dan Islam. Agama Buddha dianut 69% penduduk Sri Lanka, Hindu 15%, Kristen 8% dan Islam 7%. Semua agama hidup dengan rukun dan saling bahu membahu.
Sri Lanka is the paradise of animals (Sri Lanka adalah surganya para binatang) adalah salah satu komentar yang dilontarkan menanggapi kondisi kehidupan binatang di Sri Lanka. Mengapa julukan semacam itu diberikan? Jawabannya ternyata sangat gampang yaitu karena semua binatang bisa hidup dengan bebas tanpa merasa terganggu.
Agama Buddha yang telah berakar kuat dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Sri Lanka, membuat masyarakat bangsa ini mengamalkan nilai-nilai moral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan kata lain, mereka mempraktikkan nilai-nilai moral dengan baik. Banyak contoh yang bisa kita ambil.
Ketika pertama kali sampai di Kolombo, kita mendapatkan cerita dari staf KBRI bahwa udara Sri Lanka adalah yang paling bersih untuk kawasan Asia Selatan. Hal ini dapat dimaklumi karena masyarakat Sri Lanka senang memelihara pohon terutama pohon Bodhi. Mereka tidak pernah memotong pohon Bodhi atau merusaknya. Bahkan, kalau ada bhikkhu yang berkeinginan membangun vihara di mana terdapat pohon Bodhi usaha itu akan didukung sepenuhnya oleh umat Buddha. Karena alasan tersebut, kita akan menemukan vihara-vihara kecil di sekitar pohon-pohon Bodhi yang ada di pertigaan atau perempatan jalan. Dalam pandangan umat Buddha Sri Lanka, suatu vihara tidak akan dianggap lengkap kalau tidak ada pohon bodhinya.
Di negara kita, kita sering mendengar cerita tentang hantu, setan, pocongan atau makhluk gentayangan. Selama di Sri Lanka secara pribadi saya tidak pernah mendengar cerita soal hantu, setan, atau makhluk gentayangan dari masyarakat Sri Lanka. Kalau pun pernah, itupun dari teman-teman manca negara. Karena penasaran, kami pun menanyakan hal ini kepada Prof. Galmagoda Sumanapala, seorang professor yang cukup akrab dengan kami dan tidak alergi mendengarkan hal-hal yang tampak mistik.
Banyak orang mengannggap bahwa Sri Lanka adalah Negara miskin, Negara yang masih belum maju. Akan tetapi, negeri ini adalah negeri yang berorientasi pada kesejahteraan rakyatnya. Ini merupakan implementasi ajaran Sang Buddha, di mana pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Rakyat yang tidak mampu perlu dibantu; rakyat yang hidup dalam kekurangan perlu disuplai. Sejauh apakah ajaran itu diimplementasikan oleh pemerintah Sri Lanka?
Demikianlah agama Buddha yang berdasarkan tradisi telah ada sejak abad keenam Sebelum Masehi namun secara resmi sejak abad ketiga Sebelum Masehi telah memberikan kontrubusi yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat Sri Lanka. Dari apa yang telah kita saksikan bersama, kita pun bisa menyimpulkan bahwa agama tidak hanya menjadi simbol kehidupan tetapi juga mewarnai setiap lini kehidupan masyarakat Sri Lanka. Kondisi yang begitu menyenangkan itu, membuat saya jauh lebih kerasan tinggal di Sri Lanka daripada di Indonesia.
Kisah Radha Jataka
Berapa banyak malam berlalu? Rencanamu
Adalah percuma. Sia-sia sebagai seorang isteri cintanya bisa diobral
Nafsunya; dan sebagai seorang isteri cintanya tidak cukup hanya satu.
Karena itulah Bodhiatta tidak mengizinkan saudaranya untuk mencegah tindakan isteri Brahmin, yang selalu keluyuran, bicara mengenai isi hatinya selama suaminya tidak ada. Pada saat pulang, Brahmin menanyai Potthapada tentang tingkah laku isterinya pada saat ia tidak ada dirumah dan Bodhisatta langsung menceritakan semuanya.
"Sekarang, ayah!! Katanya "Apa yang bisa engkau perbuat terhadap wanita yang sangat jahat itu?". Dan ia menambahkan,_"Ayahu, sekarang, setelah saya melaporkan semua tentang ibu jahat saya, kami tidak bisa tinggal lama lagi di sini". Seperti yang saya dengar, ia bersimpuh dikaki Brahmin tersebut dan pergi terbang bersama Radha menuju ke hutan.
"Suami dan isteri ini" kata Sang Buddha "adalah Brahmin dan isterinya pada waktu itu, Ananda adalah Radha dan saya sendiri adalah Potthapada.
Dua Ekor Kera Bersaudara
Ketika pulang, mereka sangat terkejut dengan keadaan ibunya yang sakit parah.
Selanjutnya, ketika mereka mengetahui bahwa buah-buahan yang dikirimkan melalui kawan-kawannya tidak diterima oleh sang ibu, mereka kemudian meninggalkan kelompoknya dan tinggal bersama ibunya di sebatang pohon banyan.
Namun, ia tetap juga melanggar janjinya dengan membunuh sang induk kera. Ia mencabut anak panah ketiga dan mengarahkannya ke induk kera yang telah buta matanya tersebut.
Dan sekarang saya mengerti maksudnya,
Ketika ia mengajarkan padaku untuk berhati-hati;
Dan jangan melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan penyesalan.
Pada waktu itu Nandiya adalah Bodhisattva, Parasariya adalah Sariputta, induk kera adalah Gotami; Chullanandiya adalah Ananda dan Devadatta adalah si pemburu)
Demikianlah salah satu kisah Jataka yang menguraikan tokoh-tokoh penting di sekitar Bodhisattva di kehidupan yang lampau maupun ketika Beliau terlahir sebagai Buddha Gotama di kehidupan yang terakhirnya.
Bentangan Cakrawala Dukkha
Seperti bintang yang melintas, kegulitaan, seperti sebuah pelita,
tipuan sulap, seperti embun jatuh, atau bulat buih,
seperti mimpi, cahaya kilat, atau awan kelabu,
seperti itu pula kita seharusnya memandang semua yang berkondisi.
Penulis: Willy Yanto Wijaya
Kisah Citta, Seorang Perumah Tangga
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin menonjol di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan ingin dihormati oleh semua keluarga.
dalam semua pekerjaan besar atau kecil mereka menunjuk diriku,”
demikianlah ambisi bhikkhu yang bodoh itu,
dan keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.