Showing posts with label Buddha Sikkhi. Show all posts
Showing posts with label Buddha Sikkhi. Show all posts

Monday, February 6, 2012

Janganlah pernah merasa takut jika mengingat akan kematian

| Monday, February 6, 2012 | 0 comments

Selamat Datang di Blog Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok
Blog ini kami persembahkan untuk teman-teman kami yang rindu akan suasana Vihara, teman-teman yang berminat belajar Dhamma, dan berbagi pengalaman spiritual. Blog ini juga kami dedikasikan sebagai jembatan para umat Vihara Surya Adhi Guna yang tidak dapat datang ke Vihara, kami menyediakan liputan, ringkasan kebaktian, foto-foto dan video setiap aktivitas yang up to date.
Semoga bermanfaat.

Readmore..

Saturday, February 4, 2012

Grace Chandra : English Buddhism

| Saturday, February 4, 2012 | 0 comments

Kebhaktian Remaja, 31 Oktober 2009
Protokol : Ratna Sari
Penyalaan Lilin Altar : Tasya
Dhammapada : Mira dan Nanda
Dhammadesana : Grace Chandra

Namo Buddhaya..,
Dua hari sebelum kebhaktian remaja saya sudah merencanakan untuk mengisi kebhaktian remaja 31 Oktober dengan suatu artikel singkat berbahasa Inggris yang saya peroleh dari Samanera Abhassaro, Artikel ini berjudul "Buddhism" yang mengulas tentang perkembangan agama Buddha dahulu pada jaman Buddha hingga saat ini.

Pada awal acara saya meminta anak-anak remaja untuk duduk melingkar. Lalu saya memberi waktu sekitar 10 menit kepada masing-masing anak remaja untuk membaca artikel itu. Dengan anusias dan penuh perhatian mereka semuanya membaca artikel tersebut. Akhirnya waktu pun sudah menunjukkan jam 19.40 lalu saya pun meminta para remaja untuk membaca artikel secara bergiliran dan menerjemahkannya. Setelah selesai membaca kemudian 10 soal yang ada di artikel pun dijawab secara bergiliran.

Acara kemudian saya lanjutkan dengan TTS agar suasana menjadi lebih rileks. TTS Buddhis ini pun merupakan kiriman dari Samanera Abhassaro. Para remaja dengan gembira dan bersemangat mengisi TTS tersebut.

Acara malam ini merupakan salah satu variasi pengisian acara kebhaktian di Vihara agar lebih variatif dan tak jenuh. Dengan acara ini kami dapat belajar bahasa inggris tapi kami juga belajar Dhamma. Selain itu suasana keakraban pun jadi semakin tercipta.

Buddhism
Buddhism come from the word Buddha. Buddha was a person. He lived more than two thousand five hundred years ago in India. His family was rich. He lived in a beautiful house with many servants One day when he went out of his house, he saw many poor and unhappy people. He looked out at them. Hea sked himself these questions, "Why are people so unhappy? How can people be happy"
When he was twenty nine years old, he left his family and his beautiful home. He went out into the world to find the answers. He tried many ways. He studied with teachers but they did not answers his questions After this he tried another way. He lived in the forest He hurt his body. He did not eat for many days. He tried to get away from his body. But thid did not give him the answers to his questions.
Then he sat down under a Bodhi tree and he thought. He sat for forty-nine days. After this time he learned something from himself. He became at the Buddha. His questions were answered. People are unhappy because they wants things. They are always looking for food, money and other things. When a man does not want things, he is free. He does not think about himself. He dos not think about tomorrow. He is kind to others.
Buddha died when he was eighty years old. During his life he travelled to many places. He taught many people. He had many students. A follower of Buddha is called a Buddhist. Some Buddhist become monks. Monks do not work. They do nor have money. They are given their food by other people. They wear a long yelloy piece of cloth. They cut off their hair. They usually do not wear anything on their feet. They pray and think. Early in the morning the monk wals along the street. He carries a bowl. People stop him and give him food. He can not ask for food. A monk's life is not easy. He tries to get away froem the world. He tries to follow the teachings of Buddha.
In Thailand any man can be a monk. Many people become monks for a short time, usually three months. This happens during the wet season in Thailand. This time as a monk is very important for Thai men. They do not llive with their family then. They go to live and study in a monk's house. After three months they go back to their own life. Some are monks for a longer time. They study the teachings of Buddha. These are his teachings. Life is not happy. It is like this because people always want things. When people do not want things, they will be happy. You can learn to do this when you study Buddha's teachings. Buddha teachings were not written down until two or three hundred years after he died. Before this people just remembered them and told them to others.
There is more than one kind of Buddhism. All Buddhis follow the teachings of Buddha but they are not always the same. Buddhism in Japan is a little different from Thai Buddhism. People understand the teachings of Buddha in different ways.

Qustion Buddhism:
1. Buddha lived
a. five hundred years ago
b.one thousand years ago
c. two thousand years ago
d. more than two thousand years ago.

2. When he was a child, Buddha was
a. Very poor
b. rich
c. happy
d. very ill

3. Buddha left his home because
a. he did not like his parents
b. he wanted answers for his questions
c. he wanted to travel
d. he wanted to meet people

4. After Buddha left home, he first
a. went to Thailand
b. lived in the forest
c. studied with teachers
d. sat and thought

5. Buddha did not eat and he hurt himselft because
a. he wanted die
b. he was very unhappy
c. he wanted to learn something
d. he was angry at himself

6. Buddha learned this. Man is unhappy because
a. he wants things
b. he is poor
c. he does not believe in God
d. he does not think about tomorrow

7. A Buddhist monk
a. Works
b. asks for his food
c. has long hair
d. does not have money

8. The clothes of the monk are
a. grey
b. white
c. yellow
d. many colours

9. In Thailand most men become monks for
a. one month
b. three months
c. a year
d. two years

10. We still know Buddha's teachings because
a. people always told them to each other
b. Buddha wrote them in three books
c. they were written in stone before Buddha died
d. Buddha still teaches them

the answers:
1. d; 2. b; 3. b; 4. c; 5. c; 6. a; 7. d; 8. c; 9. b; 10. a

Demikianlah ringkasan kebhaktian remaja tanggal 31 Oktober 2009. Semoga ringkasan ini bermanfaat. Selain itu saya juga ucapkan terima kasih kepada Samanera Abhassaro yang telah mengrimkan suatu artikel dan TTS untuk digunakan dalam kebhaktian kami. Selamat berjuang Samanera dan Semoga Samanera segera mencapai pencerahan. Sadhu...! Sadhu...! Sadhu...!

Readmore..

Tuesday, January 17, 2012

KALAYA-MUTTHI-JATAKA No. 176

| Tuesday, January 17, 2012 | 0 comments

“seekor monyet yang bodoh”. Kisah ini diceritakan Sang Bhagava di jetavana, mengenai raja di Kosala.
Pada suatu musim penghujan, kekecewaan terjadi di perbatasan. Pasukan yang ditempatkan disana, setelah dua atau tiga pertenpuran mereka gagal menaklukan musuh, mereka mengirimkan suatu pesan kepada raja menyangkut musim, menyangkut hujan ketika memulai petempuran, dan berkemah ditaman Jetavana. Kemudian raja mulai mempertimbangkanmusim ini tidak baik untuk suatu ekspedisi, tiap lubang dan cekungan penuh dengan air, jalan berat, aku akan pergi mengunjungi Sang Bhagava. Ia yakin akan bertanya “jauh kemana”, ketika saya bercerita kepadanya ia pasti akan menceritakan kepada dia. Itu adalah tidak hanya didalam hal-hal yang menyangut hidup masa depan yang master (kita/kami) melindungi aku, tapi ia melindungi hal yang mana kita sekarang melihat. Maka perjalananku adalah tidak berhasil bai, ia akan say’ adalah sustu waktu tidak baik untuk pergi, tuan “; tetapi jika aku adalah untuk berhasil baik, ia akan tidak katakan apapun. “maka kedalam taman yang ia datang memberi hormat Sang Bhagava, dan setelah sambuta master duduk pada satu sisi.

Readmore..

Monday, January 16, 2012

4 hal untuk merubah pola hidup kita

| Monday, January 16, 2012 | 1 comments

Protokol : Romo Pannajayo
Pembaca Dhammapada : Ibu Encun Sukanta (Gatha 176 dan 177)
Dhammadesana : Y. M. Bhante Suddhasano
penulis: Grace Chandra

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhasa (3x)
Namo Sang Yang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya…!

Saat ini orang sibuk membicarakan masalah kiamat 2012. Isu seperti ini sebenarnya mengingatkan kita untuk segera mungkin memupuk kebajikan. Kita harus semakin bersemangat memanfaatkan apa yang kita miliki untuk berbuat baik.

Hidup dengan selalu membina diri agar selalu menjadi manusia yang lebih mulia sangatlah sulit. Malam ini Y. M. Bhante memberikan dhammadesana tentang empat hal yang harus kita lakukan untuk merubah pola hidup kita. Keempat hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mencegah hal-hal buruk yang belum ada diri kita
Contohnya yaitu jika diri kita yang bukan tipe suka marah-marah jangan sampai berubah menjadi suka marah-marah. Kita harus menjauhkan diri hal-hal yang buruk. Hal ini dapat dicapai dengan meditasi dan fangshen. Meditasi membuat diri kita selalu sadar dan mawas diri sehingga jika ada hal-hal buruk yang mendatangi diri kita maka kita akan tersadar untuk segera menjauhinya, Sedangkan fangshen membuat diri kita akan dipenuhi oleh cinta kasih sehingga kita dapat terbebas dari rasa memmbenci. Fangshen juga membuat diri kita selalu terlindung oleh kebajikan yang kita perbuat. Semakin banyak kita menolong orang maka akan semakin banyak kita terlindung oleh kebajikan.

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

Mengenai Nibbana

| Thursday, January 12, 2012 | 0 comments

(1) Ada kelompok Buddhis yang menyatakan bahwa Nibbana adalah pemusnahan diri, namun mereka juga menolak bahwa Sang Buddha mengajarkan " Kemusnahan diri ". Mereka mencoba menjelaskan kontradiksi ini dengan berkata : " Pemusnahan Diri hanya mungkin terjadi, bila ada pribadi yang akan dimusnahkan. Namun pada kebenaran akhir, tidak ada suatu yang disebut "Pribadi". Lalu, bagaimana mungkin Nibbana adalah " Pemusnahan Diri ", bila tidak ada pribadi yang akan musnah ?"
Dibalik permainan kata diatas, mereka juga tetap mengatakan Nibbana adalah kekosongan, dimana pribadi tidak ada lagi dalam bentuk apapun.

Banyak kesempatan bagi Sang buddha untuk dapat menyatakan bahwa mereka yang mencapai Nibbana telah hilang keberadaannya, tapi Beliau tidak pernah mengatakan demikian.
Sekali waktu, Upasiva bertanya kepada Sang Buddha :
Mereka yang telah pergi (ke Nibbana),
Apakah mereka musnah keberadaannya,
Atau mereka tetap tak lekang selamanya ?
Jelaskan pada saya, O, Guru bijaksana
Sebab Kaulah yang mengetahui sejelasnya.
Lalu, Sang Buddha menjawab :
Tak dapat dinilai mereka yang telah pergi.Yang oleh seseorang mungkin dikatakan sebagaiKetika semua fenomena telah tiada,Semua cara untuk menggambarkannya juga tiada.

(2) Sekali waktu, seorang pengembara bernama Vacchagota bertanya pada Sang Buddha, tentang keberadaan mereka yang telah mencapai Nibbana, mereka timbul ( dengan kata lain, tetap keberadaannya) atau tidak timbul ( dengan kata lain, hilang keberadaannya).
Sang Buddha menolak untuk memberi jawaban, dan menerangkan pada kita bahwa Beliau menolak, karena Nibbana adalah keadaan yang tak dapat diterangkan dengan kata-kata.
" Tapi, Gotama yang bijaksana, dimana timbulnya para siswa yang batinnya telah terbebaskan itu ?"
"Istilah 'Timbul' tidak dapat terpakai."
" Bila demikian, bagaimana kalau dikatakan "Tidak timbul".
" 'Tidak timbul', juga tidak terpakai."
" Bila demikian, apakah mereka 'Timbul dan juga tidak Timbul'?"
" 'Timbul dan juga tidak Timbul', juga tidak terpakai ".
" Bila demikian, mereka 'tidak timbul dan juga tidak tidak timbul' ?".
" 'Tidak timbul dan juga tidak 'tidak timbul', juga tidak terpakai."
" Dengan demikian, saya kehilangan jejak dalam hal ini, Gotama yang baik, saya bingung, dan kepuasan yang saya dapati pada pembahasan kita yang lalu, sekarang telah tiada lagi...."
" Kesadaran Tathagata terbebas dari pengungkapan-pengungkapan; dia begitu dalam, tak terukur, tak diketahui dalamnya seperti lautan.'timbul dan juga tidak timbul' tak terpakai,'tidak timbul dan juga tidak tidak timbul' juga tidak terpakai."

(3). Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seorang yang telah mencapai Nibbana, keberadaannya tidak ada lagi, adalah bahwa semua ciri-ciri yang dihubungkan dengan keberadaan- lahir, mati, jasmaniah, bergerak dalam ruang dan waktu, dan berperasaan sebagai suatu pribadi sendiri - tidak lagi dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan Nibbana.
Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seorang yang telah mencapai Nibbana, keberadaannya tidak musnah, adalah tepat seperti itu.
Dimensi Nibbana tak dapat digambarkan secara tepat dengan bahasa duniawi, pula keberadaan Nibbana tak dapat dibayangkan oleh pikiran duniawi.

(4). Walaupun sulit digambarkan, namun Sang Buddha memberi pada kita gambaran umum tentang keberadaan Nibbana. Dengan menggambarkan batin manusia, Sang Buddha berkata ;
namun dia ternodai oleh kekotoran batin Orang awam tidak menyadarinya, oleh karenanya mereka tidak menjaga batinnya. dan dapat dimurnikan dari kekotoran batin yang sebelumnya memang tidak ada. Siswa yang agung mengerti hal itu, oleh karenanya mereka menjaga batin mereka.
(Kalau kita melihat Sabda Sang buddha yang ini, maka sebenarnya terjemahan didalam Dhammapada XIV ; 183 yaitu : “Janganlah berbuat kejahatan, Perbanyaklah perbuatan baik, Sucikan hati dan pikiran , Inilah ajaran semua Buddha”, semestinya diterjemahkan sebagai Sucikan Batin....)

Dengan kata lain, batin adalah suci pada awalnya (pabhassaram idam cittam), kemudian dinodai kotoran batin yang sebenarnya adalah sesuatu yang asing bagi batin. Bila kotoran batin dibersihkan, maka batin kembali suci lagi. Sang Buddha bersabda :
Dimana tanah, air, api dan udara tak berpijak ? Dimanakah yang panjang dan pendek , kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa, akhirnya musnah?

Jawabnya adalah : Itu adalah kesadaran dari seorang Yang Agung – tak tertandai, tak terikat, dan bercahaya. Disana tak ada tempat tanah, air, api dan udara itu berpijak. Disana yang panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa akhirnya musnah. Bila kesadaran telah musnah, maka demikian pula semuanya itu. (Digha Nikaya I : 223)
Nibbana adalah “alam” dimana jasmaniah dan semua keberadaan berlawanan-pasang-panjang dan pendek, besar dan kecil, murni dan tidak murni- tidak ada lagi serta batin tak tertandai lagi (anidassanam), tak terikat(anatam) dan bercahaya(sabbo pabham). Bercirikan sebagai keadaan kekal (nibbanapadam accutam) dari kemurnian (suddhi), kebebasan (vimitti) dan kebahagiaan tertinggi (nibbanam paramam sukham).

(5). Sang Buddha juga memberitahu, bahwa Nibbana dicapai dalam dua tingkatan atau cara. Pertama, mereka yang mencapai Nibbana, dengan batin yang telah bebas, tapi karena jasmani-nya masih ada, maka dia masih menjadi obyek penderitaan jasmaniah. Ini disebut Nibbana dengan sisa dasar (saupadisesa nibbana). Lalu, setelah mereka mati, batin juga dibebaskan dari penderitaan jasmaniah dan seorang mencapai Nibbana sempurna. Ini disebut sebagai Nibbana tanpa sisa dasar (anupadisesa nibbana), atau sering pula disebut sebagai Nibbana Sempurna (parinibbana).
(6). Walau kita hanya dapat mengerti sepenuhnya keadaan Nibbana setelah kita mengalaminya sendiri, namun kita tetap dapat mengetahui keberadaan keadaan itu. Pertama, kita dapat menyimpulkan keberadaannya. Apabila ada dimensi disertai kelahiran, kematian, kekotoran batin dan kejadian, maka dapat disimpulkan bahwa ada dimensi tanpa itu. Naskah Buddhis kuno menyebutkan :

Disitu pasti pula ada Nibbana.Disitu pasti pula ada kebajikan.Keadaan”tak terlahir”, dengan demikian juga ada.


Kedua, kita dapat mengetahui adanya keadaan seperti Nibbana, karena Sang Buddha mencapainya, dan Beliau dengan tegas menjelaskan keberadaannya. Beliau bersabda : Ada sesuatu yang Tak Terlahirkan, Tak Terjadi, Tak Terbuat, Tak Tergabung. Bila tidak ada yang Tak Terlahirkan, Tak Terjadi, Tak Terbuat, Tak Tergabung, maka tidak akan ada jalan untuk bebas dari Terlahir, Terjadi, Terbuat dan Tergabung. Tetapi karena adanya Yang Tak Terlahir, Tak Terjadi, Tak Terbuat, Tak Tergabung, maka ada jalan untuk terbebas dari Terlahir,

Sekali lagi Beliau menegaskan keberadaannya, sebagai berikut : dimana tidak ada tanah, air, api dan udara, dimana tidak ada Lingkup ruang tak terbatas, Kesadaran Tak terbatas, Kehampaan, di bumi seberang ataupun keduanya, tidak ada matahari, tidak ada bulan, dimana tidak ada yang datang untuk dilahirkan,tidak ada yang pergi ke kematian, tidak ada yang terjatuh dan timbul. Inilah sebenarnya akhir penderitaan

(7). Dapatkah setiap orang mencapai kebahagiaan dan kebebasan Nibbana ? Bila dapat, apakah setiap orang pada akhirnya akan mencapainya?
Jawaban untuk hal yang pertama adalah jelas, yakni bahwa setiap orang dapat mencapai Nibbana, dan justeru Sang Buddha senantiasa mendorong setiap orang untuk menjadikan Nibbana tujuan hidupnya serta agar berupaya sekuatnya untuk mencapainya. Senandung para wanita yang telah mencapai Nibbana, terdengar lantang dan jelas, dalam menjawab pertanyaan ini.
Keadaan abadi ini telah banyak yang mencapainya,
Dan tetap dapat dicapai saat inipun,
bagi siapa yang menjalankannya sendiri,
Tapi tidak bagi yang tidak berusaha sekuatnya.
(Therigattha : 513)

Apakah setiap orang dapat mencapai Nibbana atau tidak? Jawaban dari pertanyaan ini tak dapat diramalkan, karena setiap orang mempunyai minat dan cita-cita masing-masing. Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma dan dengan segala macam cara, menganjurkan orang untuk melaksanakannya; namun tentu saja pelaksanaannya tergantung pada orang itu sendiri-sendiri.
“ Gotama Yang Baik, setelah diajar dan diarahkan oleh-Mu, apakah semua Siswa-Mu akan mencapai cita-cita murni itu, atau sebagian tidak akan berhasil?”
“ Sebagian akan mencapainya dan sebagian tidak.”
“Apa alasannya, Gotama Yang Baik? Apa penyebabnya ?”
“ Aku akan bertanya padamu, brahmin ; jawablah bila berkenan. Bagaimana pikiranmu? Apakah engkau mengetahui jalan ke Rajagaha?”
“ Ya, Gotama yang baik, saya mengetahuinya.”
“ Baik, andaikan seorang datang padamu, dan berkata bahwa dia ingin ke Rajagaha dan bertanya arahnya. lalu, engkau berkata : ‘ Jalan ini menuju ke Rajagaha; berjalanlah terus sampai ke suatu desa, berjalanlah terus sampai engkau tiba di pasar, lalu bila engkau berjalan terus, engkau akan sampai di Rajagaha dengan kebun-kebunnya yang indah, hutan-hutan yang indah, lapangan-lapangan yang indah dan kolam-kolam yang indah.

Namun ,walau telah ditunjukkan dan diarahkan olehmu jalan itu, tapi orang tadi mengambil jalan lain yang menuju ke Barat. Dan, oleh karenanya dia tidak sampai ke Rajagaha. Lalu, andaikan seorang lagi datang padamu, dan dia juga berkeinginan ke Rajagaha, lalu karena dia mengikuti petunjukmu, maka akhirnya dia tiba dengan selamat. Jadi oleh karena ada Rajagaha, oleh karena ada jalan menuju kesana dan juga ada engkau sebagai peunjuk jalan, mengapa orang yang pertama tidak sampai, sedangkan orang yang satunya lagi sampai ke Rajagaha?”
“ Gotama yang baik, apa yang harus saya kerjakan dalam hal ini ? Saya tiada lain hanyalah seorang penunjuk jalan.”

“ Demikian pula, Brahmin; ada Nibbana, ada jalan menuju ke Nibbana, dan ada aku sebagai penunjuk jalan ke Nibbana. Tapi hanya sebagian siswa yang diajar dan diarahkan oleh-Ku yang mencapai Nibbana, sebagian lainnya tidak. Apa yang dapat aku perbuat dalam hal ini? Sang Tathagata hanyalah penunjuk jalan.”
(Majjhima Nikaya II ;5 )
Tapi satu hal yang pasti, siapapun yang mencapai Nibbana adalah sebagai hasil menjalankan ajaran Sang Buddha.

“ Bila, dengan pengertian penuh Gotama Yang Baik telah mengajarkan Dhamma pada Siswanya untuk pemurnian makhluk hidup, untuk mengatasi penyesalan dan keputusasaan, untuk mengakhiri kesedihan dan kemurungan, untuk mencapai tatacara-Nya, untuk mencapai Nibbana; lalu apakah seluruh dunia akan mencapainya, atau seperduanya, atau sepertiganya?”
Sampai disitu, Sang Buddha berdiam diri. Lalu Ananda berpikir:” Orang ini hendaknya jangan sampai berpikir bahwa Sang Buddha tidak dapat menjawab pertanyannya yang penting ini.”
Jadi Ananda berkata :” Saya akan memberitahu suatu perumpamaan.”
Bayangkan ada suatu kota dikelilingi oleh tembok dengan dasar pondasi yang sangat kuat, bermenara dan hanya berpintu gerbang hanya satu, pintu gerbang dijaga ketat, hanya orang yang dikenal diperbolehkan melewatinya dan orang asing tak diperbolehkan melewatinya. Lalu, ketika seseorang berjaga di sekeliling tembok, dia tidak menemukan satupun lobang yang dapat dilewati walau oleh seekor kucing pun. 

Dengan demikian dia tahu, bahwa semua makhluk, besar ataupun kecil, hanya dapat masuk ke kota atau keluar dari kota dengan melewati gerbang tersebut. Sama halnya dengan pertanyaanmu, tidaklah penting bagi Sang Buddha. Apa yang disabdakan Beliau adalah, bahwa : Siapapun yang telah terbebas, sedang terbebas ataupun akan terbebas dari dunia ini, dia akan terbebas dengan cara melepaskan kelima rintangan, melepaskan kesesatan batin yang melemahkan kebijaksanaan, dia akan tebebas dengan cara mengembangkan batin dalam empat dasar kesadaran, dan dengan mengembangkan tujuh unsur pencerahan.” (Anguttara Nikaya V : 194).


Setelah Sang Buddha mencapai Nibbana, Beliau “ mengajak” semua umat manusia untuk mengikuti Jalan agar umat manusia juga dapat menikmati kedamaian, kebahagiaan dan kebebasan. “Ajakan” beliau masih berlaku sampai saat ini.
Pintu-pintu ke Abadian telah terbuka,Marilah, mereka yang dapat mendengar,
Demikianlah adanya dan semoga bermanfaat.
Sadhu...Sadhu...Sadhu.
Sumber Tulisan: http://tanhadi.blogspot.com/2010/01/tentang-nibbana.html

Readmore..

Sati dan Meditasi Vipassana

| | 0 comments

Apabila seorang meditator mengamati emosi atau sensasi fisiknya,maka pada saat itu dia akan merasakan emosi dan sensasi fisiknya sekaligus..Sati bukanlah merupakan kesadaran intelektual,tetapi sati hanya semata-mata "kesadaran"[sering disebut perhatian murni,kesadaran murni,dan seterusnya,terserah Anda melabelinya sebagai apa..],kiasannya adalah "pikiran berhenti disini"

Sati memang bersifat objektif,tetapi bukan berati orang yang mengalami sati itu adalah robot,mumi,sati tidak dingin dan bukannya tanpa perasaan!!Sati adalah pengalaman yang sadar akan kehidupan,suatu pengamatan yang waspada dalam proses kehidupan yang terus berlangsung..

Sati melihat hal-hal sebagaimana adanya,sati juga melihat sifat segala fenomena secara mendalam..Mari kita mencoba untuk mendefinisikan sati itu secara terperinci..

Didalam sati,tidak ada dialog di dalam diri,karena sati bukan berpikir..Mereka yang bermeditasi mungkin harus bekerja keras selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun untuk menuju ke sana...Karena sudah sangat lama kita terbiasa terbelenggu dalam buah pikir,dan kebiasaan itu "kuat sekali bertahan"..
Bila ada Sati,Anda dapat melihat "diri anda yang terbelenggu didalam buah pikir",kesadaran seperti itu lah yang membuat Anda dapat "mundur"[tidak turut campur] dari proses berpikir untuk kemudian "terbebas darinya"..

Sati mempunyai rasa khasnya sendiri didalam kesadaran,Sati memiliki rasa yang ringan,jernih,dan penuh energi..Sebaliknya ,pikiran ini bersifat berat,merenung,dan memilih milih..Tetapi sekali lagi semua itu "hanya kata-kata",pengalaman Anda sendiri yang akan menunjukan "perbedaanya"..Mungkin saja Anda juga memiliki kata-kata sendiri,sehingga tulisan saya ini tidak ada artinya bagi Anda,Ingat lah bahwa prakteklah yang merupakan hal terpenting!!

Sati melihat segalanya sebagaimana adanya,tanpa adanya persepsi didalamnya,juga tidak ada penyelewengan apapun didalam Sati,Sati hanya merupakan perhatian murni yang hanya melihat pada apa yang muncul..Bertolak belakang dengan "pikiran" yang menempelkan hal-hal pada pengalaman kita,membebani kita dengan konsep,ide,opini,menenggelamkan kita kepada pusaran rencana,kecemasan,takut,delusi,ilusi,dan fantasi..

Tetapi bila ada Sati,Anda tidak memainkan permainan itu[pikiran yang melekat dan memberikan respon dengan berbagai emosi],Anda hanya melihat apa yang muncul persis seperti apa yang muncul di pikiran,kemudian Anda akan mengamati "ah ini...dan sekarang ini...ini...",itu lah kesederhanaan dari sati..
Sesungguhnya hanya Sati yang dapat memahami 3 sifat utama yang diajarkan oleh Buddha,yang merupakan kebenaran yang paling mendalam..3 sifat ini dikenal sebagai Anicca,Anatta dan Dukkha..Didalam Ajaran Buddha,ketiga sifat[kebenaran] ini tidak disajikan sebagai dogma yang menuntut pada imam yang buta..

Umat Buddhist sering merasa bahwa kebenaran ini bersifat universal,dan tampak jelas bagi siapapun yang sungguh-sungguh mau menyelidikinya..Satilah satu-satunya metode yang ada untuk menyelediki hal tersebut..

Sati melihat bahwa semua hal-hal yang terkondisi pada intinya bersifat sementara,setiap hal duniawi pada akhirnya memang tidak memuaskan,dan sebenarnya tidak ada "aku" / "jiwa"[atau terserah Anda mau melabelinya apa] yang tidak berubah atau yang kekal,yang ada hanyalah "proses-proses" belaka..
Sati sebenarnya melihat sifat setiap pemikiran/persepsi yang tidak kekal,ia melihat bahwa sifat segala sesuatu yang "dilihatnya" sebagai sesuatu yang hanya bersifat sementara dan berlalu[timbul dan tenggelam],ia juga melihat bahwa tidak ada gunanya melekati/memegang pada pertunjukan-pertunjukan[pengalaman] yang terus berlalu itu.

Kedamaian tidak dapat ditemukan dengan cara seperti itu,akhirnya setelah melihat kedua hal tersebut,sati melihat bahwa sifat dasar semua fenomena itu tanpa inti,ia melihat bagaimana kita secara acak memilih kumpulan persepsi tertentu,memisahkannya dari keseluruhan "arus pengalaman" ,dan kemudian mengkonsepkan "potongan-potongan itu" sebagai substansi yang terpisah dan bertahan..Sati akan melihat hal tersebut terjadi,tetapi ia tidak berpikir tentang hal-hal itu,melainkan hanya "melihat"nya secara langsung..

Masalahnya adalah sesungguhnya ketiga sifat dasar tersebut tidak benar-benar ada sebagai hal-hal yang terpisah,hal-hal itu hanya merupakan hasil usaha kita untuk melihat proses sederhana yang disebut sati ini..Kemudian kita mengungkapkannya melalui simbol-simbil,konsep,kata dari pikiran yang tidak cocok..
Sati adalah suatu proses,tetapi proses ini tidak terjadi secara bertahap,melainkan suatu proses menyeluruh yang muncul sebagai suatu "kesatuan",sati mengetahui hal-hal persis sebagaimana adanya tanpa penyelewengan..Walau Anda mengalami hal tersebut,tidak berati bahwa Anda serta merta akan mencapai pembebasan[bebas dari segala hal] sebagai hasil sati Anda yang pertama kali..Bagaimanapun sati ini harus dikembangkan menjadi "kesadaran penuh tanpa jeda"..

Sati merupakan pusat dari meditasi Vipassana dan inti dari segala proses itu.Sati merupakan tujuan meditasi dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut[sekali lagi,jari menunjuk ke bulan,bahwa jari itu bukanlah bulan!!!]..Jika orang-orang memperhatikan/mengamati apa yang benar-benar sedang terjadi didalam pikirannya sendiri akan mencapai "kewaspadaan tertinggi"[Appamadena]

Sati juga memiliki arti sebagai "mengingat",tetapi bukan kenangan dengan pengertian ide-ide dan gambaran masa lalu,melainkan merupakan proses mengetahui yang langsung,jernih dan tanpa kata/konsep,tentang apa sebenarnya sesuatu itu,dan apa yang bukan,mengenai apa yang benar dan apa yang tidak benar,tentang apa yang sedang kita lakukan dan bagaimana kita harus melakukannya..
Sati yang sudah berkembang secara penuh merupakan suatu keadaan tanpa adanya kemelekatan sama sekali terhadap apapun yang ada didunia ini,jika kita dapat "mempertahankan" keadaan ini,kita tidak lagi membutuhkan "alat" atau "cara" apapun untuk membebaskan diri kita dari rintangan-rintangan,kita dapat mencapai pembebasan dari semuanya..Sati tidak bersifat permukaan belaka,tetapi ia melihat secara mendalam,mengamati setiap hal yang paling mendalam,pengamatan ini membimbing menuju pada "kemutlakkan"[sama sekali tidak ada keraguan]

Sati tidak hanya menaklukkan rintangan-rintangan mental[yang ada tercatat dalam Tipitaka seperti nafsu keinginan,rasa malas,kesenangan seksual,kebencian,kegelisahan,dstnya],tetapi juga menelanjangi semua "rintangan" tersebut serta menghancurkannya..Hasilnya adalah pikiran ini tidak ternoda dan tidak goyah,sepenuhnya tidak terseret oleh pasang surutnya kehidupan ini..
Semoga kita selalu dapat memahami Dhamma ini!!



Sadhu..Sadhu..Sadhu...
Sumber: Riky Liau

Readmore..

Monday, January 9, 2012

Tips Menikmati Kemacetan

| Monday, January 9, 2012 | 0 comments

Tips Menikmati Kemacetan
Madiyono
Menikmati suasana perjalanan di kota besar seperti Jakarta ternyata bukan hal yang mudah. Apalagi saat pagi hari dan sore hari. Di pagi hari, sekitar pukul 06.00 – 08.30 WIB, saat orang–orang pergi ke tempat kerja, semua jalanan di Jakarta dipadati ribuan kendaraan bermotor, angkutan umum dan ratusan mobil pribadi. Jalanan penuh sesak oleh kendaraan. Bahu jalan yang merupakan hak bagi pejalan kaki juga dirampas oleh beberapa motor yang tidak sabar. Beberapa motor naik ke bahu jalan yang biasanya juga diikuti oleh puluhan motor lainnya yang ada di belakangnya. Akhirnya suasana di jalanan semakin semrawut, tak terkendali. Tak ada yang mau mengalah. Semua kendaran ingin jalan duluan. Polisi yang ada, meskipun melihat kejadian tersebut cenderung membiarkan karena ketidakberdayaannya mengatur ribuan kendaraan yang ada di jalan. Dan akhirnya, macet total

Suasana seperti itu adalah keseharian yang dialami warga Jakarta saat pagi hari dan sore hari, saat orang – orang berangkat dan pulang kerja. Bagi mereka yang naik motor mungkin tidak mengalami stress yang berlebihan karena motor lebih leluasa memanfaatkan setiap celah sempit di antara mobil-mobil. Tetapi bagi mereka yang naik angkutan umum atau mobil pribadi, maka akan mengalami stress yang amat sangat saat jalanan macet total. Ditambah lagi jika banyak tugas kerja yang belum selesai dan sedang ada janji dengan seseorang. Sulit sekali menikmati perjalanan di Jakarta saat seperti itu, jika kita tidak tahu kuncinya.

Memang bukan hal yang mudah untuk menikmati perjalanan di Jakarta saat macet, tetapi sebagai umat Buddha kita sudah diajari oleh Buddha untuk menyikapi apapun secara bijak. Ajaran tentang cattari arya saccani mengajarkan kita untuk berpikir logis, runtut dan sistematis. Dalam menghadapi masalah yang kompleks sekalipun kita harus selalu bersikap tenang, tidak emosional. Misalnya, saat kena macet total. Meski jenuh di jalan tetapi paling tidak kita harus berusaha membuat diri kita nyaman dan pikiran selalu terkendali. Kita seharusnya berpikir logis bahwa macet terjadi karena ada penyebabnya, dan macet juga akan berakhir saat penyebabnya lenyap. Oleh karena itu, pasti ada jalan untuk mengakhiri kemacetan.
Saat macet, memang banyak juga orang yang mengungkapkan kekesalannya dengan mengomel, mencaci kendaraan yang ada di sekitarnya. Sebagian pengendara motor sering menyalahkan angkutan umum yang sering ngetem sembarangan sebagaii biang kerok kemacetan. Sebaliknya, sopir angkutan juga tidak mau mengalah dan menyalahkan banyaknya motor dan mobil pribadi yang ada saat ini sebagai akar masalah kemacetan. Wah…jadi lingkaran setan! Tetapi apakah dengan seperti itu, masalah selesai? Yang terjadi justru masalah makin melebar. Hati juga semakin tidak tenang. Energi yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan, sebagian besar justru hilang di jalan. Ditambah lagi jika kita terus mengomel dan mencaci maka kita terus menumpuk karma buruk yang akibatnya mau tidak mau juga kembali ke diri kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa menikmati perjalanan yang menjemukan seperti itu? Sebagai umat Buddha tentu kita harus bersabar. Jika kita tidak bisa merubah keadaan menjadi lebih baik, paling tidak kita tidak menambah masalah menjadi semakin rumit. Seperti yang dikutip dalam Dhammapada bagian Buddha Vagga ayat 184, Buddha menjelaskan bahwa kesabaran adalah cara bertapa yang paling baik (kanti paramam tapo titikkha). Sabar adalah solusi paling tepat. Saat mecet total, jangan memaksakan diri berlebihan untuk terus menjalankan mobil kita jika memang tak memungkinkan.

Jika karena kondisi, kita sulit menambah perbuatan baik, paling tidak kita tidak melakukan kejahatan, seperti yang dipesankan Buddha dalam Dhammapada bagian Buddha Vagga ayat 183 yaitu jangan berbuat jahat (sabbapapasa akaranam). Saat kita tidak bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk merubah keadaan, lebih baik kita bersikap diam. Menenangkan pikiran diri kita sendiri adalah jauh lebih baik dari pada mengomel, apalagi mencaci orang lain. Semua hal kan mengalami hukum perubahan (anicca). Dengan menyadari hal semacam ini maka kita lebih bisa menikmati perjalanan, meskipun banyak hal yang bisa membuat kita kurang nyaman. Tentu dengan berpikir apa adanya dilandasi pengertian yang benar (samma ditthi) maka kita bisa bersikap bijak, hingga akhirnya kita tidak melakukan banyak hal yang merugikan diri kita dan orang lain. Akhirnya kita bisa menikmati perjalanan dengan lebih menyenangkan dan bahagia. Semoga bermanfaat!

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Pengaruh Agama Buddha Terhadap Sendi-Sendi Kehidupan

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

Pengaruh Agama Buddha Terhadap Sendi-Sendi Kehidupan Masyarakat Sri Lanka
Samanera Dhammasiri
Pengantar
Tentu Sri Lanka adalah negara yang tidak asing di telinga kita, orang Indonesia. Nama Sri Lanka sendiri digunakan sejak tahun 1972. Sebelumnya negara ini lebih terkenal dengan sebutan Ceylon. Di dalam buku-buku kuno, negara ini dikenal sebagai Tambapani, Siha?adipa dan bahkan saya pernah mendapat informasi bahwa Svarnadipa yang hingga saat ini masih menjadi kontroversi di antara para sarjana Buddhist, juga dianggap sebagai sebutan untuk Sri Lanka. Secara official, negara ini disebut Sri Lanka Prajathanthrika Samajavadi Janarajaya.

Sri Lanka terletak di sebuah pulau kecil yang luasnya 65,610 km2 atau kurang lebih dua kali Provinsi Jawa Tengah. Sensus tahun 1999 menunjukkan bahwa negeri ini dihuni oleh 18.552.000 jiwa. Program keluarga berencana yang telah dilaksanakan secara traditional sejak ribuan tahun yang lalu membuat Sri Lanka memiliki rata-rata pertumbuhan penduduk cukup rendah—1.3% per tahun.

Di mata dunia, Sri Lanka terkenal sebagai negara yang paling ortodoks dalam mempertahankan tradisi agama Buddha. Oleh karenanya, sejak awal hingga sekarang, agama Buddha mazhab Theravada tetap mendominasi negara ini dan tetap mempertahankan Bahasa Pali sebagai bahasa agama Buddha. Karena alasan tersebut, kita pun cukup sulit untuk menemukan vihara dari mazhab lain. Saya pernah menemukan sebuah vihara yang dibangun oleh bhikkhu dari Jepang tapi tetap dihuni oleh bhikkhu Sri Lanka.

Sejarah Singkat Agama Buddha
Secara tradisi, masyarakat Sri Lanka percaya bahwa agama Buddha telah ada di Sri Lanka sejak zaman Sang Buddha bahkan seawal 2 bulan sejak Sang Buddha mencapai pencerahan. Tapussa dan Bhalluka adalah dua pedagang yang pertama kali bertemu dengan Sang Buddha pada minggu ketujuh setelah Sang Buddha mencapai pencerahan. Mereka mendapatkan relik rambut dari Sang Buddha. Setelah mereka pulang ke negerinya, mereka membangun stupa untuk menyimpan relik tersebut. Masyarakat Sri Lanka percaya bahwa Tapussa dan Bhalluka berasal dari Sri Lanka.

Di kalangan masyarakat luas, juga ada kepercayaan bahwa Sang Buddha pernah mengunjungi Sri Lanka. Dipercaya Sang Buddha mengunjungi Sri Lanka sebanyak 3 kali. Selama dalam kunjungan itu, Sang Buddha sempat mengunjungi 16 tempat yang berbeda. Di antara tempat-tempat yang pernah Beliau kunjungi adalah Kelaniya Rajamaha Vihara, Siripada, Mahiyangana, dan sebagainya.

Tentu cukup sulit untuk membuktikan kebenaran kepercayaan tersebut. Akan tetapi, kita pun patut mempertimbangkannya karena sumber yang ada di Tibet dan China juga mendukung kepercayaan tersebut. Dulva, nama Vinaya dalam tradisi Tibet, menyebutkan bahwa beberapa pedagang tanpa sengaja berlabuh di Sri Lanka karena dihempaskan oleh badai. Di Sri Lanka mereka bertemu dengan Putri Ratnavali. Dari para pedagang tersebut, sang putri mendapatkan banyak cerita tentang kehidupan spiritual Sang Buddha. Akhirnya ia mengirim utusan kepada Sang Buddha untuk meminta obat kekekalan. Sang Buddha minta utusan tersebut mengambil sebuah kain dan membentangkannya di antara Sang Buddha dan lampu. Utusan tersebut mewarnai bayangan Sang Buddha dengan berbagai warna.
Cerita dari China mengatakan bahwa ketika Sang Buddha mengunjungi Sri Lanka, masyarakat Sri Lanka, khususnya Ratnapura, sangat miskin dan pada umumnya menjadi pencuri. Karena kasih sayang dan untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar, Sang Buddha memercikkan embun manis (sweet dew). Embun tersebut mengkristal menjadi batu-baru permata. Karenanya, Ratnapura menjadi tambang batu permata yang cukup terkenal di dunia. Batu-batu permata seperti merah delima (ruby), ratna cempaka (topaz), batu akik (garnet), mata kucing (cat eye), batu nilam (sapphire) dan lainya dapat ditemukan di daerah ini.

Secara historis dan bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa agama Buddha berkembang di Sri Lanka sejak abad ketiga Sebelum Masehi. Hal ini ditandai dengan pengiriman misionaris ke Sri Lanka yang dipimpin oleh Y.M. Mahinda dan belakangan oleh adiknya Y.M. Sanghamitta Theri. Sejak saat itu hingga sekarang, boleh dikatakan bahwa agama Buddha tidak pernah putus di Sri Lanka. Namun karena berbagai alasan, pasang surut dan ketidakstabilan dalam agama Buddha tetap tidak dapat dihindari.
Karena agama Buddha telah mengakar kuat di Sri Lanka, hampir semua aspek-aspek kehidupan masyarakat Sri Lanka dihubungkan dengan agama Buddha. Sejauh manakah pengaruh agama Buddha terhadap kehidupan masyarakat Sri Lanka? Atau seberapa kuatkah agama Buddha mengakar dalam kehidupan masyarakat? Marilah kita lihat dan kita telusuri kehidupan mereka satu persatu sehingga hal itu akan menjadi jelas.

Kedermawanan
Kedermawanan adalah salah satu ajaran yang paling mendasar dalam agama Buddha. Sebagai buktinya, setiap ajaran-ajaran yang penting diawali dengan kedermawanan. Jiwa kedermawanan ini telah mengakar kuat dalam berbagai lini kehidupan masyarakat. Banyak fakta yang dapat kita gunakan untuk membuktikan hal ini.

Pada setiap perayaan Waisak, masyarakat membuat torana atau lampion untuk dijadikan objek pertunjukan selama masa Waisak. Pada malam hari, masyarakat berduyun-duyun untuk menyaksikan torana dan lampion ini. Untuk mengantisipasi umat yang lapar dan haus, banyak umat-umat yang dermawan menyediakan makanan dan minuman secara gratis bagi para pengunjung. Kemudian kalau kita mendaki Sripada, di kaki gunung kita akan menemukan orang-orang yang dermawan memberikan obat-obatan dan minuman serta makanan secara gratis.

Tidak hanya materi yang kita dapatkan yang bisa kita danakan untuk kesejahteraan orang lain. Badan jasmani yang kita miliki juga bisa didanakan. Dilandasi oleh semangat upaparamita, umat-umat Sri Lanka mendanakan bagian-bagian fisik yang masih dapat dimanfaatkan seperti ginjal, jantung, mata atau bahkan seluruh tubuhnya ketika mereka meninggal agar dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Oleh karena perbuatan luhur tersebut, Sri Lanka menjadi bank mata terbesar di dunia.

Kondektur dan sopir Sri Lanka adalah orang yang baik hati. Kalau kita ingin bepergian ke suatu tempat dan kita tidak mengetahuinya, kita bisa tanya dan mereka akan menunjukkan secara pasti tempat itu tanpa embel-embel apapun. Kendaraan-kendaraan angkutan umum di Sri Lanka mempunyai tradisi yang cukup baik. Kursi di belakang supir adalah untuk para biarawan. Di barisan kedua tepat di belakang kursi para biarawan adalah untuk ibu hamil. Kursi di dekat pintu adalah untuk orang cacat. Oleh sebab itu, kalau ada bhikkhu, ibu hamil atau membawa anak kecil atau orang cacat masuk dan kursi yang dikhususkan untuk mereka sedang ditempati, sopir akan minta penumpang itu untuk pindah. Kalau mereka tidak mau pindah, sopir akan menegur atau bahkan marah sambil mengatakan, “Kamu ini orang bermoral atau tidak, ngerti ia masuk kamu tetap duduk di situ.”

Karena telah menjadi budaya, para penumpang pun akan langsung memberikan tempat duduknya kalau mereka melihat ada bhikkhu, ibu hamil, membawa anak, orang cacat atau orang yang sudah tua. Namun di Indonesia, menurut Pak Cornelis Wowor, jauh lebih baik dari penumpang di Sri Lanka. Begitu ada orang tua yang masuk, semua penumpang langsung meditasi. Maksudnya, langsung tutup mata pura-pura tidak tahu.

Kalau ada penumpang yang berdiri dan ia membawa barang yang cukup berat, penumpang yang duduk akan meminta barang tersebut untuk dibawakan. Setelah penumpang itu mau turun ia akan meminta barang itu kembali. Mereka juga saling bahu membahu kalau ada yang berniat untuk melakukan kejahatan. Pernah ada suatu kasus seorang remaja menggangu wanita di sebelahnya. Wanita itu langsung menjerit dan bus pun dihentikan. Remaja itu langsung dihajar babak belur oleh seluruh penumpang bus.

Kesederhanaan
Sang Buddha mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana—namun tidak berarti tidak harus bekerja keras atau bermalas-malasan. Ajaran ini telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat Sri Lanka. Mereka tetap hidup dalam kesederhanaan meskipun mereka memiliki materi yang boleh dibilang lebih dari cukup.

Suatu ketika ada seorang wanita ke vihara dan sambil menunggu kepala vihara datang ia menyempatkan diri berbincang-bincang dengan kami. Penampilannya sangat sederhana dan dalam pandangan kami dia adalah orang biasa saja—maksudnya tidak punya kedudukan apa-apa. Setelah ia pergi, salah seorang bhikkhu lokal mengatakan bahwa dia adalah dosen di Universitas Kolombo, sungguh tidak kami sangka.
Prof. Galmagoda Sumanapala adalah salah satu professor terkenal di Sri Lanka bahkan masyarakat memberikan gelar the gem of Sri Lanka kepadanya. Akan tepapi, beliau adalah orang yang sangat sederhana dan bersahaja. Sangat sulit untuk mengidentifikasi bahwa beliau adalah professor terkenal karena penampilannya tampak seperti orang biasa. Karena jiwa kesederhanaannya, Prof. Jayasuriya, dosen ekonomi, pernah diusir oleh kondektur bus karena dianggap pengemis jalanan. Penampilan-penampilan para professor terkenal yang lainnya pun tidak ada bedanya. Mereka tampak sederhana. Mereka sangat sulit diidentifikasi bahwa mereka adalah para professor.

Beberapa kali ketika saya sedang pergi ke Maitri Dhamma School, beberapa kendaraan cukup mewah berhenti dan minta saya naik. Sesampainya di dalam, sopirnya bertanya “Apakah Samanera tahu saya?” Tidak ada jawaban lain selain “I do not know, sir.” Ia pun minta saya tidak perlu kuatir karena anaknya juga berada di Maitri Dhamma School. Sesampainya di sekolah saya berusaha untuk mencari tahu yang mana anaknya. Aduh, aduh saya tidak menyangka anak sesederhana itu adalah anak dari orang-orang yang kehidupannya dapat dikatakan mapan secara ekonomi. Sebut saja Thiloma Dissanayake, teman mengajar, dan adiknya Thamali Dissanayake, keduanya adalah murid kami yang paling pandai, hari-hari ke sekolah pakai pakaian seragam sekolah, buku di tangan dan pakai sandal jepit seharga Rp. 3.000. Padahal mereka adalah anak dari orang yang saya ceritakan di atas. Saat saya berkunjungung ke rumahnya, rumahnya juga sangat sederhana walaupun ayahnya punya perusahaan tas.

Kesederhanaan juga dimanifestasikan dalam makanan. Dalam makanan Sri Lanka, menunya tidak terlalu banyak karena mereka menyadari fungsi makanan yaitu untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Banyak pula makanan yang tidak lagi kita makan, masih tetap dimakan oleh orang Sri Lanka. Ambil contohnya singkong rebus. Justru, singkong rebus biasanya dipersembahkan oleh keluarga mapan. Banyak sayuran dan umbi-umbian yang telah kita lupakan masih tetap dikonsumsi oleh masyarakat Sri Lanka.

Kadang ketika kami mahasiswa luar negeri sedang berkumpul kami pun geguyon “Wuah orang Sri Lanka ini mau mentang ajaran Sang Buddha.” “Emangnya kenapa?” begitu tanya yang lain. “Masa dari dulu ketika pertama kali saya datang sampai sekarang makanan tidak pernah berubah.” Ya, kami pun hanya tertawa mendengar geguyon semacam itu.

Banyak di antara kita yang terseret arus globalisasi sehingga apa pun trend yang ada selalu kita ikuti dan meninggalkan tradisi lama. Hal ini tidaklah begitu tampak dalam kehidupan masyarakat Sri Lanka. Mereka, walaupun mengikuti perkembangan zaman, tetap berusaha mempertahan budaya meraka. Contohnya, adalah pakaian tradisional, obat-obatan tradisional dan sebagainya. Wanita tetap menggunakan pakaian tradisional dipandu dengan sari. Mereka masih senang memelihara rambut mereka tumbuh panjang dan mengepang rambut adalah hal yang biasa. Di Indonesia, pemandangan seperti itu sudah sangat sulit ditemukan karena pada umumnya wanita merasa malu melakukan hal itu. Alasannya kuatir rambutnya dianggap seperti buntut kuda.

Hubungan Orangtua dan Anak
Sungguh saya sangat terkesan melihat dan mendengarkan cerita tentang hubungan orangtua dan anak dalam kehidupan masyarakat Sri Lanka. Saya melihat dan merasakan ada hubungan kasih sayang yang sangat luar biasa antara orangtua dan anak. Orangtua sangat mencintai anak-anaknya. Demikian pula anak-anak, mereka juga sangat mencintai orangtuanya. Dengan demikian, anak-anak mendapatkan kasih sayang yang cukup dan orangtua pun tidak kekurangan perhatian.

Meskipun sibuk, orangtua Sri Lanka tetap berusaha memberikan kasih sayangnya kepada anak-anak. Sebagai contohnya, mereka akan berangkat kerja setelah anak-anak berangkat sekolah sehingga memungkinkan bagi anak-anak untuk bernamaskara (sujud) kepadanya. Kalau memang sempat, mereka akan mengantarkan anaknya ke sekolah dan menjemputnya saat pulang walaupun mereka kadang sudah duduk di bangku SMU. Pada malam hari, mereka akan tidur setelah anak-anak bernamaskara (bersujud). Dengan demikian, setiap hari orangtua memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bernamaskara (sujud) sebanyak dua kali.

Prof. Galmagoda Sumanapala adalah professor, juga guru besar yang luar biasa sibuknya. Beliau adalah dosen di S1, S2, S3, direktur fakultas ayurvedik (dulu saat article ini saya tulis. Sekarang beliau menjabat sebagai Directur Post-Graduate Institute of Pali and Buddhist Studies) dan juga mahasiswa ayurvedik, penceramah di radio maupun televisi, dan banyak lagi tugas-tugas yang harus beliau jalankan. Akan tetapi, kepada kami beliau mengatakan, “Kalau anak saya bilang, “Pak ayo kita nonton ke bioskop” saya pun akan temani mereka karena itu adalah tugas saya sebagai orangtua.”

Orangtua Sri Lanka sangat memperhatikan kesejahteraan anak-anaknya baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, ketika mereka punya uang mereka akan langsung buka tabungan atas nama anak mereka agar anaknya tidak mendapatkan kesulitan di kemudian hari. Mereka juga akan menyediakan perlengkapan untuk anaknya ketika mereka menjalani kehidupan rumah tangga dan mereka mempersiapkan semua itu sejak dini.

Karena tingginya rasa kasih sayang dan perhatian terhadap anak-anak dan orangtua, wanita Sri Lanka banyak dicari untuk menjadi pembantu rumah tangga. Salah satu faktor yang membuat meraka dapat memperpanjang visa di Siprus sehingga saat ini ada 80.000 penduduk Sri Lanka di negara yang luasnya hanya 9.251 km2 tersebut adalah karena alasan itu dan karena kecerdasan anak-anak mereka. Pernah juga ada seorang wanita Sri Lanka menjadi pembantu rumah tangga di Inggris. Ia melaksanakan tugas dengan baik sehingga majikannya puas atas pelayanan yang ia berikan. Pada saat detik-detik terakhir menjelang kematiannya, majikannya yang statusnya unmarried millionaire, menulis surat wasiat. Surat itu berbunyi, “Seluruh harta kekayaan yang saya miliki, saya wariskan kepada pembantu saya.” Akhirnya, pembantu itu pun jadi milioner dadakan.

Semangat Belajar
Karena pengaruh agama Buddha, Sri Lanka telah memulai kegiatan literaturnya sejak abad kesatu Sebelum Masehi. Hal ini ditandai dengan ditulisnya Tipitaka ke dalam daun lontar. Semenjak saat itu, kegiatan akademik seperti belajar dan menulis terus mewarnai kehidupan masyarakat Sri Lanka. Sebagai imbasnya, kita pun bisa menemukan karya-karya sastra hasil kreasi masyarakat Sri Lanka seperti Dipava?sa, Mahava?sa, Rasavahini, Balavatara dan masih banyak yang lainya. Di abad modern ini, Sri Lanka dikenal sebagai negara yang paling produktif di Asia dalam memproduksi buku. Mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek pada umumnya pandai menulis. Selain itu, Sri Lanka juga telah melahirkan sarjana-sarjana Buddhist tingkat dunia. Sebut saja, K.N. Jayatilleke, G.P. Malalasekera, D.J. Kalupahana, K. Sri Dhammananda dan yang lainnya.

Masyarakat Sri Lanka mempunyai minat belajar yang cukup tinggi. Mereka tidak pernah merasa bahwa umur menjadi halangan dalam belajar. Bhante Belangoda Ananda Maitreya mengenal komputer pada usia 94 tahun. Tanpa menyia-nyiakan waktu atau merasa terlalu tua, beliau pun mempelajari komputer. Padahal banyak di antara kita yang masih muda dan memiliki ingatan yang masih kuat, merasa malas untuk belajar—sungguh luar biasa!!!

Secara global, masyarakat Sri Lanka memiliki semangat belajar yang tinggi karena dipicu oleh ide bahwa mereka merasa mempunyai tanggung jawab untuk tetap mempertahankan ajaran Sang Buddha. Dengan sendirinya, mempelajari bahasa menjadi salah satu favorit di kalangan masyarakat luas. Mereka senang mempelajari bahasa asing. Pali, Sanskrit, Inggris, Jepang, Mandarin adalah bahasa favorit. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau kita menemukan banyak orang yang mampu berbahasa Inggris dengan baik di negeri ini. Tidak hanya orang-orang yang berdasi yang mampu berbahasa Inggris. Pengamen dan pengemis meski jumlahnya cukup sedikit, juga pandai berbahasa Inggris. Saat mereka sedang mengamen atau mengemis, mereka menggunakan Bahasa Inggris dengan fasih. Kadang saya pikir Bahasa Inggris mereka jauh lebih baik dari sarjana-sarjana yang kita miliki.

Toleransi Beragama
Ada empat agama yang diakui secara resmi di Sri Lanka yaitu Buddha, Kristen, Hindu dan Islam. Agama Buddha dianut 69% penduduk Sri Lanka, Hindu 15%, Kristen 8% dan Islam 7%. Semua agama hidup dengan rukun dan saling bahu membahu.

Walaupun agama Buddha menjadai agama mayoritas di Sri Lanka semanjak awal hingga sekarang, tidak ada larangan bagi agama lain untuk berkembang di negara ini. Semuanya diberi kebebasan untuk menganut suatu agama berdasarkan kepercayaan mereka masing-masing.

Pernahkah Anda mendengar atau melihat semua agama yang ada di negara tersebut duduk bersama menghormati satu objek? Saya tidak saja hanya mendengar tapi melihat sendiri hal itu dan hal semacam itu hanya saya temukan di Sri Lanka yaitu Siripada. Semua agama yang ada di Sri Lanka percaya bahwa Siripada adalah tempat yang bersejarah bagi agama mereka. Agama Buddha percaya bahwa Siripada adalah replica telapak kaki Sang Buddha. Umat Hindu percaya bahwa itu adalah replica telapak kaki Vishnu. Sementara agama Islam dan Kristen meyakini bahwa itu adalah telapak kaki nabi Adam. Sebagai akibatnya penganut agama-agama dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia berduyun-duyun mengunjungi Siripada untuk memberikan penghormatan. (untuk lebih lengkapnya silakah baca artikel berjudul Sripada: Buddhism’s Most Sacret Mountain di www.buddhanet.net/e-learning/buddhistworld/sri-pada.htm)

Dalam sejarah memang agama Kristen pernah menghancurkan agama Buddha. Mereka memaksa orang-orang Sri Lanka untuk menganut agama Kristen dan bahkan membunuh anak-anak mereka dengan cara yang tragis bila mereka tidak mau pindah agama. Juga ada isu bahwa kelompok sparatis Macan Tamil Elam (LTTE) disponsori oleh orang Kristen. Namun demikian, umat Buddha tetap tenang dan tampak tidak ada dendam atas apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Kristen. Justru sebaliknya, banyak umat Kristen yang menaruh simpati kepada agama Buddha. Banyak juga yang karena tidak puas beragama Kristen, kemudian pindah ke agama Buddha. Prof. Galmagoda Sumanapala memperkenalkan saya kepada seorang psikiater Kristen yang menikah gara-gara ingin merealisasi Nibbana dalam kehidupan sekarang ini juga.

Penghargaan Terhadap Kehidupan
Sri Lanka is the paradise of animals (Sri Lanka adalah surganya para binatang) adalah salah satu komentar yang dilontarkan menanggapi kondisi kehidupan binatang di Sri Lanka. Mengapa julukan semacam itu diberikan? Jawabannya ternyata sangat gampang yaitu karena semua binatang bisa hidup dengan bebas tanpa merasa terganggu.

Sri Lanka berbeda dari Indonesia. Di Indonesia, kita tidka bisa membiarkan begitu saja binatang peliharaan kita. Kita harus menjaga dan merawatnya dengan baik. Kalau tidak, mungkin dalam hitungan jam habis dijarah pencuri. Di Sri Lanka binatang peliharaan dibiarkan begitu saja. Oleh karena itu, seperti di sekitar Kota Kolombo atau di tempat-tempat lain, kita bisa menyaksikan kambing, sapi, atau kerbau berkeliaran begitu saja. Yang lebih menakjubkan lagi, mereka juga diberi hak yang sama dalam menggunakan jalan raya. Kalau ada sapi, kambing, kerbau atau binatang yang lain sedang menyebrang jalan, dengan bersabar para supir menunggu hingga binatang itu menyebrang jalan.
Mungkin karena kuatnya kasih sayang umat Sri Lanka kepada binatang, kita dapat menyaksikan berbagai jenis burung atau binatang lain yang sudah sulit kita jumpai di Indonesia. Meskipun vihara kami ada di tengah kota, suasananya tidak ada bedanya dengan di tengah hutan di Indonesia. Setiap saat kita bisa mendengarkan burung-burung berkicau menyanyikan lagu dengan penuh kebahagiaan. Selain itu, mereka juga tidak takut dengan manusia.

Ketika kami masih tinggal di Vihara Bellanwila, ada burung kutilang yang bersarang di dekat kuti kami. Anda boleh percaya juga bolah tidak, walaupun burung itu adalah burung liar tidak ada bedanya dengan burung peliharaan. Setiap pagi, Samanera Santacitto rajin memberikan pisang dan dengan santai tanpa perasaan takut, burung itu makan pisang sambil hinggap di tangan Samanera Santacitto.

Karena kuatnya pengejawantahan sila pertama yaitu menghindari pembunuhan, umat-umat Buddha sangat jarang bahkan boleh dibilang sama sekali tidak melakukan pembunuhan. Namun demikain, umat Buddha Sri Lanka bukanlah umat vegetarian. Mereka juga makan daging dan ikan. Lalu dari manakah ikan dan daging tersebut didapatkan? Begitulah pertanyaan yang mungkin muncul di benak Anda.
Umat Buddha Sri Lanka sangat jarang makan daging. Kalau pun toh mereka makan paling banter hanya daging ayam. Oleh karena itu, ayam adalah binatang yang paling sial di Sri Lanka. Daging ini pada umumnya disediakan oleh umat agama lain yaitu Islam, Kristen atau Hindu. Umat Islam adalah yang mendominasi daging ayam sementara umat Kristen dan Hindu yang mendominasi untuk menyediakan daging babi atau sapi. Karena umat Buddha Sri Lanka sangat jarang atau boleh dikatakan menghindari makan daging, harga daging relatif murah. Daging ayam, sebagai contohnya, di super market seperti Food City hanya sekitar Rs 15,00 hingga 30,00 atau setara dengan Rp. 1.500.00 hingga 3.000,00 di Indonesia. Harga daging relatif murah karena pengkonsumsinya hanyalah 31% dari penduduk Sri Lanka.
Masyarakat Sri Lanka lebih senang makan ikan. Ikan disediakan oleh penduduk lokal dan juga hasil impor. Ikan asin, misalnya, lebih banyak diimpor dari Indonesia. Sementara masyarakat lokal yang menjadi nelayan adalah penganut agama lain. Karena dikonsumsi secara luas, harga ikan cukup tinggi setara dengan harga sayur.

Selain mempraktikkan sisi pasif sila pertama, masyarakat Sri Lanka juga aktif menjalankan sisi aktik sila tersebut. Sebagai buktinya, mereka menyediakan makanan kepada burung-burung, tupai dan binatang-binatang lainnya. Juga telah menjadi budaya di Sri Lanka untuk menyelamatkan binatang dari pembunuhan. Biasanya kalau ada sapi atau kambing yang akan disembelih, umat-umat langsung akan membeli binatang itu dan menyerahkannya ke vihara. Vihara kemudian akan menyerahkan binatang itu kepada umat yang kurang mampu.

Penghargaan terhadap alam, perlindungan terhadap binatang telah menempatkan Sri Lanka untuk mendapatkan pengakuan internasional. Baru-baru ini, Sri Lanka menduduki posisi kedua dari top-20 best nature in the world. Secara pribadi, saya memang memang layak mendapatkan penghargaan tersebut, mengingat proteksi yang begitu kuat terhadap alam.

Pelaksanaan Nilai-Nilai Moral
Agama Buddha yang telah berakar kuat dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Sri Lanka, membuat masyarakat bangsa ini mengamalkan nilai-nilai moral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan kata lain, mereka mempraktikkan nilai-nilai moral dengan baik. Banyak contoh yang bisa kita ambil.
Tingkat kejahatan di Sri Lanka boleh dikatakan cukup rendah. Berita-berita seperti perampokan, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan dan sebagainya sangat jarang kita saksikan. Radio, televisi maupun media cetak juga sangat jarang menyiarkan berita-berita tersebut. Selama berada di Sri Lanka, hanya beberapa kali saya mendengar berita criminal, itu pun lewat teman yang kebetulan menyaksikannya lewat media massa.

Prostitusi yang merupakan penyakit masyarakat sebagai akibat dari kemiskinan, juga sangat jarang. Beberapa dosen kami yang memang telah memahami kehidupan Sri Lanka dengan baik mengatakan bahwa bila dibandingkan dengan negara-negara lain tingkat prostitusi di Sri Lanka sangat rendah. Dampak nyata dari praktik moral ini adalah rendahnya tingkat penderita HIV/AIDS. Prosentase prenderita HIV/AIDS menunjukkan bahwa Sri Lanka berada di urutan terendah bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Penghargaan Terhadap Ekologi
Ketika pertama kali sampai di Kolombo, kita mendapatkan cerita dari staf KBRI bahwa udara Sri Lanka adalah yang paling bersih untuk kawasan Asia Selatan. Hal ini dapat dimaklumi karena masyarakat Sri Lanka senang memelihara pohon terutama pohon Bodhi. Mereka tidak pernah memotong pohon Bodhi atau merusaknya. Bahkan, kalau ada bhikkhu yang berkeinginan membangun vihara di mana terdapat pohon Bodhi usaha itu akan didukung sepenuhnya oleh umat Buddha. Karena alasan tersebut, kita akan menemukan vihara-vihara kecil di sekitar pohon-pohon Bodhi yang ada di pertigaan atau perempatan jalan. Dalam pandangan umat Buddha Sri Lanka, suatu vihara tidak akan dianggap lengkap kalau tidak ada pohon bodhinya.

Karena umat Buddha menghormati, menjaga dan merawat pohon Bodhi bahkan seperti Sri Mahabodhi memiliki team khusus yang terdiri dari para professor dan pakar terkenal, pohon Bodhi dapat berusia panjang. Sebagai akibatnya, di negeri inilah kita bisa menemukan pohon tertua di dunia. Bukti-bukti arkeologis maupun bukti-bukti literatur menunjukkan bahwa Sri Mahabodhi di Kota Anuradhapura ditanam pada abad ketiga Sebelum Masehi yaitu bertepatan dengan kedatangan Y.M. Sanghamitta Theri ke negeri ini. Hingga kini, pohon bersejarah tersebut masih tetap tumbuh dengan baik. Dengan demikian, Sri Mahabodhi telah berusia lebih dari 2200 tahun. Konon, para penjajah pernah berusaha untuk memusnahkan pohon ini tapi tak ada satu alat pun yang dapat digunakan untuk merusaknya.
Menyusul pohon Bodhi adalah pohon nangka. Belakangan pemerintah melarang masyarakat menebang pohon nangka. Kalau mereka mau menebang, harus mendapatkan izin dari pemerintah. Peraturan ini ditetapkan karena pohon nangka dianggap sebagai sumber makanan yang berharga.
Masyarakat Sri Lanka juga tidak terlalu merusak hutan seperti masyarakat kita. Kalau mereka ingin membangun di kawasan hutan, kelestarian lingkungan tetap dijaga dengan baik. Oleh karena itu, negera ini kita bisa menemukan ribuan vihara hutan yang sangat natural. Khusus untuk Yogasrama Sa?stava—kelompok bhikkhu yang paling ketat dalam menjalankan Dhamma-Vinaya—memiliki lebih dari 120 vihara hutan. Vihara-vihara tersebut menjadi “surga” kami selama kami tinggal di Sri Lanka. Meskipun kuti-kuti dan bangunan lain dibangun, pohon-pohon besar tetap dipertahankan.

Hantu, Setan, Makhluk Gentayangan
Di negara kita, kita sering mendengar cerita tentang hantu, setan, pocongan atau makhluk gentayangan. Selama di Sri Lanka secara pribadi saya tidak pernah mendengar cerita soal hantu, setan, atau makhluk gentayangan dari masyarakat Sri Lanka. Kalau pun pernah, itupun dari teman-teman manca negara. Karena penasaran, kami pun menanyakan hal ini kepada Prof. Galmagoda Sumanapala, seorang professor yang cukup akrab dengan kami dan tidak alergi mendengarkan hal-hal yang tampak mistik.
“Pak, mengapa di Sri Lanka ini kita tidak pernah mendengar cerita soal hantu, setan atau makhluk gentayangan? Apakah tidak ada makhluk-makhluk semacam itu?” begitu tanya kami. Prof. Sumanapala mengatakan bahwa makhluk-makhluk semacam itu ada tapi tidak sampai seperti di negara-negara lain. Ketika kami tanya lebih jauh mengapa hal itu bisa terjadi, Prof. Sumanapala mengatakan, “Karena orang Sri Lanka rajin melakukan patidana.”

Dalam tradisi umat Buddha Sri Lanka, setelah ada sanak famili yang meninggal mereka akan melakukan patidana, mengajak makhluk lain yang telah meninggal turut berbahagia atas kebajikan yang telah dilakukan oleh keluarganya. Sama seperti masyarakat kita yang melakukan patidana pada waktu-waktu tertentu, masyarakat Sri Lanka khususnya umat Buddha juga melakukan patidana pada waktu-waktu tertentu. Hanya saja saya tidak tahu secara pasti. Seingat saya, mereka akan melakukan patidana setelah tujuh hari, satu bulan, tiga bulan setelah meninggal dan seterusnya.

Pada saat melakukan patidana, mereka akan mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan. Mereka akan mengundang minimal lima bhikkhu atau samanera. Hanya saja mereka tidak membedakan antara bhikkhu dan samanera. Yang terpenting bagi mereka adalah ada orang yang pakai jubah kuning untuk menerima dana makanan.

Tidak hanya manusia yang dipatidanai. Binatang-binatang yang mati juga sering mendapatkan perlakuan yang sama; apalagi kalau binatang itu mati secara tidak wajar, contohnya keracunan. Dalam kasus-kasus semacam itu, mereka akan dengan segera melakukan patidana dan juga mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan.

Mungkin karena alasan kesibukan, pada umumnya umat mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan pada hari Sabtu dan Minggu. Oleh karena itu, pada hari tersebut kita sering kelabakan mencari bhikkhu karena sering kali ada undangan lebih dari satu tempat dan mereka minta bhikkhu lebih dari lima kadang sepuluh atau dua puluh.

Perhatian Pemerintah terhadap kesejahteraan rakyatnya
Banyak orang mengannggap bahwa Sri Lanka adalah Negara miskin, Negara yang masih belum maju. Akan tetapi, negeri ini adalah negeri yang berorientasi pada kesejahteraan rakyatnya. Ini merupakan implementasi ajaran Sang Buddha, di mana pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Rakyat yang tidak mampu perlu dibantu; rakyat yang hidup dalam kekurangan perlu disuplai. Sejauh apakah ajaran itu diimplementasikan oleh pemerintah Sri Lanka?

Memiliki rakyat yang berpendidikan baik adalah orientasi pemerintah Sri Lanka. Karena itu, pendidikan di Sri Lanka dari tingkat Sekolah Dasar hingga S1 bebas biaya. Tidak sekedar itu, mahasiswa dari tempat jauh disediakan asrama. Kebutuhan mereka sehari-hari diperhatikan. Mereka juga diberi beasiswa tiap bulan.

Kesehatan adalah kebutuhan masyarakat yang sangat penting. Kalau kita tidak sehat, sulit bagi kita untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Karena itu, pemerintah sangat memperhatikan kesehatan rakyatnya. Di Sri Lanka, rakyat tidak dipungut biaya perawatan kalau mereka berobat ke rumah sakit umum. Kadang, saya berpikir entah bagaimana pemerintah menangani hal ini. Ambil saja contohnya, di Colombo National Hospital, setiap harinya ada 800 pasien baru. Padahal, rumah sakit pun tersebar di berbagai tempat.
Saya sering mendengar cerita dari teman-teman di Indonesia yang mengeluh karena sering terjadi pemadaman aliran listrik. Terkadang mereka perlu mendapatkan jatah bergilir. Selama tinggal di Sri Lanka, jarang sekali saya merasakan adanya pemadaman aliran listrik. Pemadaman aliran listrik terjadi hanya pada saat terjadi perbaikan jaringan atau saat karyawan PLN, mogok kerja.
Hampir semua jalan di Sri Lanka telah diaspal. Ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar tetapi juga terjadi di desa-desa terpencil. Bus sebagai sarana transportasi juga disediakan. Biaya bus juga terhitung murah bila dibandingkan dengan biaya bus di Indonesia.

Pendidikan harus gratis; kesehatan harus gratis dan listrik pun harus tetap diperhatikan kelangsungannya. Seandainya pemerintah gagal menyediakan kebutuhan-kebutuhan itu, jangan pernah berharap untuk bisa duduk lama di kursi pemerintahan.

Kesimpulan
Demikianlah agama Buddha yang berdasarkan tradisi telah ada sejak abad keenam Sebelum Masehi namun secara resmi sejak abad ketiga Sebelum Masehi telah memberikan kontrubusi yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat Sri Lanka. Dari apa yang telah kita saksikan bersama, kita pun bisa menyimpulkan bahwa agama tidak hanya menjadi simbol kehidupan tetapi juga mewarnai setiap lini kehidupan masyarakat Sri Lanka. Kondisi yang begitu menyenangkan itu, membuat saya jauh lebih kerasan tinggal di Sri Lanka daripada di Indonesia.

Sebagai umat Buddha yang baik dan sama-sama sebagai penganut ajaran Sang Buddha sudah selayaknya kita mengikuti jejak langkah saudara tua kita. Sudah selayaknya kita pun mengaplikasikan nilai-nilai agama Buddha dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita pun bisa hidup lebih bahagia, aman, tentram, sejahtera dan pada akhirnya mampu merealisasi Nibbana.

Readmore..

Kisah Radha Jataka

| | 0 comments

Cerita ini diceritakan Sang Buddha ketika berada di Jetavana berkenaan dengan seorang isteri perumah tangga yang keras kepala. Kejadian ini seperti penggalan cerita diatas akan dibicarakan di indriya Jataka.
Sang Buddha berbicara demikian kepada Ananda "Adalah tidak mungkin untuk menjaga, melindungi wanita;tidak ada penjaga yang dapat menjaga agar wanita tetap berada dijalan yang benar. Kamu sendiri menemukan di beberapa kehidupan sebelumnya semua perlindunganmu itu tidak ada artinya; dan bagaimana kamu sekarang mengharapkan mendapatkan keberuntungan?".

Demikian yang saya dengar. Beliau menceritakan kisah yang terjadi pada kehidupan yang lampau.
Pada suatu waktu yang lampau ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta lahir sebagai seekor burung beo. Seorang Brahmin di kota kasi seperti ayah baginya dan saudaranya, memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Potthapada adalah nama Bodhisatta dan Radha adalah nama saudaranya.
Sekarang Brahmin memiliki seorang isteri, tetapi sangat buruk perilakunya. Setiap akan meninggalkan rumah untuk menyelesaikan pekerjaannya, ia berkata kepada kedua saudara tersebut "Jika, ibu kalian, isteriku, melakukan hal-hal yang tidak berguna, cegahlah ia". "akan kami lakukan ayah", kata Bodhisatta "Jika kami bisa; tetapi jika kami tidak bisa, kami tidak bisa berbuat apa-apa'.

Dengan demikian setelah ia mempercayakan isterinya pada pengawasan burung beonya, Brahmin tersebut pergi untuk mengerjakan urusannya. Setiap hari sejak itu isterinya melakukan tindakan yang tidak senonoh; sering melakukan perselingkuhan baik didalam maupun diluar rumah. Melihat hal itu, Radha berkata kepada Boddhisatta "kakak, salah satu dari perintah ayah adalah mencegah tindakan tidak senonoh dari isterinya dan sekarang ia tidak melakukan apa-apa tetapi menjual dirinya sendiri. Mari kita hentikan ia kakak" kata Bodhisatta, usulmu adalah usul yang bodoh kamu akan menghentikan tindakan-tindakannya sebelum itu tentu saja ia akan menyingkirkanmu. Jadi itu adalah tindakan yang sia-sia.
Dan demikian yang saya dengar ia mengucapkan satu syair berikut ini:

Berapa banyak malam berlalu? Rencanamu
Adalah percuma. Sia-sia sebagai seorang isteri cintanya bisa diobral
Nafsunya; dan sebagai seorang isteri cintanya tidak cukup hanya satu.
Karena itulah Bodhiatta tidak mengizinkan saudaranya untuk mencegah tindakan isteri Brahmin, yang selalu keluyuran, bicara mengenai isi hatinya selama suaminya tidak ada. Pada saat pulang, Brahmin menanyai Potthapada tentang tingkah laku isterinya pada saat ia tidak ada dirumah dan Bodhisatta langsung menceritakan semuanya.

"Sekarang, ayah!! Katanya "Apa yang bisa engkau perbuat terhadap wanita yang sangat jahat itu?". Dan ia menambahkan,_"Ayahu, sekarang, setelah saya melaporkan semua tentang ibu jahat saya, kami tidak bisa tinggal lama lagi di sini". Seperti yang saya dengar, ia bersimpuh dikaki Brahmin tersebut dan pergi terbang bersama Radha menuju ke hutan.

Akhir khotbahnya, Sang Buddha mengajarkan empat kebenaran, yang pada akhir Ananda mengerti tentang seorang isteri yang memiliki keinginan yang sangat kuat akan keinginan-keinginan dunia adaklah hal yang tidak bisa dipungkiri merupakan hasil dari jalan kecil pertama.
"Suami dan isteri ini" kata Sang Buddha "adalah Brahmin dan isterinya pada waktu itu, Ananda adalah Radha dan saya sendiri adalah Potthapada.

Readmore..

Dua Ekor Kera Bersaudara

| | 0 comments

Chullanandiya Jataka Jataka Pali No.222
Suatu ketika, Bodhisattva terlahir di lingkungan Himalaya sebagai seekor kera bernama Nandaka. Adiknya bernama Chullanandaka. Mereka berdua memimpin sekelompok kera yang terdiri dari 84.000 ekor kera. Mereka juga mempunyai ibu tua yang telah buta untuk dirawat.

Pada suatu saat, ketika mereka sedang menikmati buah-buahan di hutan tanpa terasa mereka telah jauh dari tempat tinggalnya. Oleh karena itu, mereka mengirimkan makanan kepada ibunya melalui teman-temannya. Namun, kiriman makanan itu jarang disampaikan kepada ibunya. Tersiksa karena kelaparan, sang ibu jatuh sakit.

Ketika pulang, mereka sangat terkejut dengan keadaan ibunya yang sakit parah.
Selanjutnya, ketika mereka mengetahui bahwa buah-buahan yang dikirimkan melalui kawan-kawannya tidak diterima oleh sang ibu, mereka kemudian meninggalkan kelompoknya dan tinggal bersama ibunya di sebatang pohon banyan.
Pada suatu hari datanglah seorang brahmana yang jahat masuk ke dalam hutan itu. Brahmana ini telah dikeluarkan dari sekolah terkenal di Taxila dan telah meninggalkan guru yang paling terkenal yaitu Parasariya. Brahmana ini telah alih professi menjadi seorang pemburu dan pembunuh.

Melihat seorang pemburu datang mendekati, kedua kera bersaudara itu segera bersembunyi di belakang dedaunan. Namun, sang induk kera terlambat menyembunyikan diri. Kemudian, sang pemburu menarik busur untuk membunuhnya. Nandaka, si kera sulung melompat di depan pemburu dan memohonnya untuk membebaskan sang ibu dari kematian dan menjadikan dirinya sebagai gantinya. Si pemburu sepakat dan membunuh Nandaka.

Akan tetapi, sang pemburu tidak menaati janjinya dan sekali lagi ia mengarahkan anak panahnya kepada induk kera. Kali ini, Chullanandiya, si kera bungsu segera melompat di hadapan sang pemburu dan memohon kebebasan induknya. Ia juga bersedia dibunuh sebagai ganti kehidupan ibunya. Sang pemburu sekali lagi menyetujuinya. Karena itu, ia membunuh si kera bungsu.

Namun, ia tetap juga melanggar janjinya dengan membunuh sang induk kera. Ia mencabut anak panah ketiga dan mengarahkannya ke induk kera yang telah buta matanya tersebut. 
Ia kemudian mengumpulkan ketiga jasad kera dan dengan bahagia dibawanya pulang. Selama perjalanan ia merasa bahagia karena berpikir bahwa ia telah dapat memberikan keluarganya tiga jasad kera dalam satu hari.

Ketika ia akan tiba di rumah, ia mendengar berita bahwa rumahnya telah disambar petir dan seluruh anggota keluarganya hancur. Kehilangan seluruh anggota keluarganya membuatnya sedih luar biasa dan berubah pikiran. Ia melemparkan pakaiannya dan berlari menuju ke rumah dengan dua tangan terbuka seolah akan memeluk anak dan istrinya. Ketika ia tiba di rumah dan mencari anggota keluarganya di antara puing-puing, kepalanya kejatuhan tiang bambu rumah yang sedang terbakar. Dikatakan oleh para saksi mata bahwa ia telah hilang dalam kepulan asap dan api yang timbul dari neraka bersamaan dengan terbukanya bumi untuk menelan tubuhnya. Para saksi mata juga mendengar bahwa pria yang sekarat itu mengulang pelajaran yang telah diberikan oleh guru tuanya di Taxila dengan menyebutkan kalimat berikut ini:

Sekarang saya teringat akan ajaran guru saya,
Dan sekarang saya mengerti maksudnya,
Ketika ia mengajarkan padaku untuk berhati-hati;
Dan jangan melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan penyesalan.
(Keterangan:

Pada waktu itu Nandiya adalah Bodhisattva, Parasariya adalah Sariputta, induk kera adalah Gotami; Chullanandiya adalah Ananda dan Devadatta adalah si pemburu)
Demikianlah salah satu kisah Jataka yang menguraikan tokoh-tokoh penting di sekitar Bodhisattva di kehidupan yang lampau maupun ketika Beliau terlahir sebagai Buddha Gotama di kehidupan yang terakhirnya.

Readmore..

Bentangan Cakrawala Dukkha

| | 0 comments

Kemajuan sains dan teknologi telah membawa implikasi yang luas terhadap bentuk-bentuk kehidupan. Banyak kemudahan dan manfaat yang telah dirasakan oleh umat manusia. Tersedianya media hiburan, kemudahan mobilitas, peningkatan akses komunikasi dan informasi telah membentuk fase yang sangat berbeda secara signifikan dengan keadaan beberapa dekade lalu.

Di balik gegap gempita kemajuan tersebut, banyak juga kemerosotan yang terjadi. Perusakan lingkungan merajalela, penyimpangan-penyimpangan sosial hingga hal-hal yang pada dasarnya dirasakan hampir setiap orang yaitu kian jauhnya kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman batin. Manusia telah mencapai tingkat pemahaman yang tinggi mengenai “matter” (zat, materi) tercermin dari pencapaian luar biasa dalam fisika, biologi, kimia dan berbagai disiplin ilmu yang lain. Hal ini sangat kontras dengan pemahaman mengenai “non-matter” (batiniah) tercermin dari ilmu psikologi saat ini yang belum memiliki fondasi dan kerangka yang utuh dan jelas.

Begitu banyak orang yang terhimpit oleh penderitaan saat ini. Bacalah koran; kriminalitas merajalela dimana-mana yang menimbulkan kekhawatiran, depresi dan kasus bunuh diri semakin meningkat, penyalahgunaan narkoba hingga tindak kekerasan dalam keluarga. Dunia ini membutuhkan siraman rohani yang kuat; butuh kesejukan yang menentramkan. Dunia ini juga butuh pancaran hangat sinar kasih kebajikan yang menerangi relung-relung gelap di dalam batin.

Cakrawala Dukkha (penderitaan) ini sangat luas. Kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, putus asa, kegundahan dan kekhawatiran adalah bentuk-bentuk derita. Fenomena-fenomena batin dan pikiran di atas telah mencengkram banyak bagian kehidupan manusia.

Jika ditelusuri, ada dua penyebab dukkha yaitu sebab intern dan ekstern. Sebab intern adalah karena adanya keinginan. Keinginan ini kemudian menjelma menjadi keterikatan. Keterikatan ini menimbulkan lagi keinginan-keinginan. Akhirnya lahir siklus (rantai) kemelekatan. Keinginan-keinginan ini terkadang sangat “gila”. Shih Huang Ti, kaisar Cina, pernah mengerahkan ribuan personelnya untuk menemukan obat abadi. Dia ingin hidup abadi dan berkuasa selamanya. Namun, hasil yang didapat adalah kegagalan. Seandainya saja dia berhasil menemukannya dan mencapai keinginannya untuk hidup abadi; benarkah dia akan bahagia selamanya? Seiring waktu, perlahan-lahan dia akan mulai merasa bosan dan lama kelamaan dia akan merindukan penuaan dan kematian. Ini problem dukkha manusia; rasa tidak puas yang tidak henti-hentinya dan keterikatan terhadap kesenangan dan kesedihan duniawi.

Sebab ekstern dibagi tiga yaitu Dukkha-Dukkha, Viparinama Dukkha, dan Sankhara Dukkha. Dukkha-Dukkha adalah bentuk penderitaan umum seperti lahir, tua, sakit, mati, berpisah dengan orang yang dikasihi. Viparinama Dukkha berkenaan dengan Dukkha akibat perubahan; dari pintar menjadi bodoh, dari kaya menjadi miskin. Viparinama Dukkha ini sangat erat kaitannya dengan Anicca, corak pertama dari Tilakkhana, yaitu bahwa segala yang berkondisi tidaklah tetap, kekal ataupun permanen. Sankhara Dukkha berhubungan dengan Anatta; bahwa segala sesuatu adalah tanpa inti; bahwa esensi dari kondisi adalah Dukkha. Pada dasarnya, suatu sebab ekstern Dukkha adalah kesatuan dari tiga fenomena di atas. Misalkan berpisah dari orang yang dicintai adalah Dukkha-Dukkha, namun hal ini juga merupakan Viparinama Dukkha; perubahan dari kondisi kebersamaan menjadi perpisahan. Hal ini juga Sankhara Dukkha; bahwa dalam fenomena perpisahan (hal ini tentunya ‘berkondisi’) esensinya memang Dukkha. Bahkan kegembiraan juga Dukkha karena tidak kekal. Itulah esensi integral dari Anicca, Dukkha dan Anatta.

Apakah agama Buddha sepesimis ini? Ya, seandainya Buddha tidak menunjukkan jalan mengatasi Dukkha. Para Buddha ‘ada’ di dunia karena adanya Dukkha ini. Agama-agama lahir di dunia sebenarnya karena adanya Dukkha. Ada banyak metode untuk mengatasi dukkha (penderitaan).

Selesaikanlah masalah yang menimbulkan dukkha tersebut. Misalkan kita khawatir tidak dapat mengerjakan soal-soal ujian; belajarlah dengan tekun dan baik. Kita diusik oleh masalah utang-piutang, bereskan masalah tersebut. Namun bagaimana jika masalah tersebut bukan masalah fisis yang dapat segera dibereskan? Misalnya, berpisah dengan orang yang dikasihi?

Carilah stimulus luar, lakukan pelampiasan dengan pengalihan pikiran. Cari hiburan dengan jalan-jalan, main game, dan sebagainya atau membaca buku, majalah atau belajar dengan mengerjakan soal-soal matematika, fisika dan sebagainya. Pikirkan hal-hal lain yang mengalihkan pikiran kita dari hal penyebab derita. Stimulus luar ini bisa juga berupa pergi ke vihara, melakukan kebaktian dan doa, maupun pasrah dan berserah diri; ekspresikan seluruh kegundahan dan kesedihan kita, menangislah sepuasnya. Sang Buddha tidak akan menertawakan hal ini. Sebelum Parinibbana, Buddha telah mengetahui bahwa akan banyak umat yang memujanya, memohon berkah maupun pertolongannya. Sang Buddha tidaklah mengharapkan pujaan yang berlebihan. Beliau hanya berharap para siswanya akan melaksanakan Dhamma dengan baik, memahami hukum-hukum kesunyataan (kebenaran) dan mencapai kebahagiaan tertinggi (Nibbana). Meskipun demikian, Buddha tidak melarang pemujaan terhadap dirinya karena Beliau mengetahui akan begitu banyak umat yang batinnya menjadi lebih ringan setelah menumpahkan segala uneg-uneg kepada Sang Tathagata. Sang Buddha rela mendengarkan keluh kesah dan penderitaan umatnya seperti halnya yang Beliau gambarkan mengenai Bodhisattva Avalokitesvara yang penuh welas asih yang mendengarkan ratap dan jeritan tangis dunia. Sang Buddha mengetahui meskipun manusia kelihatan kuat tetapi sebenarnya lemah. Manusia bagaikan lapisan email gigi yang sangat keras namun dapat hancur bahkan hanya oleh mikroba-mikroba kecil.
Setelah itu, kurangilah keinginan atau keterikatan kita terhadap sesuatu hal. Misalkan Anda takut masalah yang ditimbulkan oleh mobil, hilangkan keinginan memiliki mobil. Ini adalah aspek komplemen yang nyata: banyak keinginan, banyak keterikatan. Banyak keterikatan, maka banyak penderitaan. Mereka yang menjadi bhikkhu/ni atau samanera/ri mengimplementasikan aspek ini. Membatasi dan mengurangi keinginan dapat juga dilakukan dengan menjalankan sila seperti Atthasila. Bisa juga dengan melatih Khanti Viriya (semangat untuk bersabar). Ketika badai derita melanda, teguhkanlah hati dan pikiran dengan kesabaran. Kesabaran memberikan kekuatan untuk menghadapi dukkha. Kesabaran meredakan gejolak kesedihan. Kekuatan Khanti Viriya akan memberikan ketentraman dan rasa tenang. Bersabarlah hingga Anda tidak sabar lagi untuk bersabar.

Lakukanlah meditasi, kurangilah ego, banyaklah berbuat amal dan membantu orang lain, mengasihi satwa dengan berbagai cara salah satunya dengan melepaskannya, menanam kepedulian terhadap penderitaan orang lain juga merupakan bentuk-bentuk penanaman kusala kamma (kamma baik) yang dapat mengurangi penderitaan. Melakukan kebajikan ibarat menuangkan air terus menerus ke dalam larutan garam, yang pada akhirnya dapat mengurangi keasinan. Dengan kata lain garam tersebut ibarat kamma buruk dan kebaikan terus menerus ibarat air yang pada akhirnya jika dituangkan terus menerus dapat mengurangi penderitaan akibat kamma buruk yang telah diperbuat.

Belajarlah dan capailah tingkat pemahaman bijaksana (pañña), latihlah juga Sati Sampajjhana (kesadaran utuh dan kewaspadaan). Dengan memiliki pañña (pemahaman/ kebijaksanaan), ketika kita menghadapi dukkha kita mengerti bahwa esensi atau makna dari kondisi adalah dukkha. Kita juga mengerti bahwa dukkha juga tidaklah kekal dan pasti berlalu. Dalam Vajracchedika Prajna Paramita 32 telah diungkapkan:
Seperti bintang yang melintas, kegulitaan, seperti sebuah pelita,
tipuan sulap, seperti embun jatuh, atau bulat buih,
seperti mimpi, cahaya kilat, atau awan kelabu,
seperti itu pula kita seharusnya memandang semua yang berkondisi.
Semua yang berkondisi tidaklah permanen, milikilah pemahaman mengenai hal itu, termasuk juga penderitaan.

Bintang yang melintas akan berlalu, embun jatuh akan mengering, mimpi akan berakhir pula dan kebahagiaan maupun kesedihan juga akan berlalu. Terkadang kita telah tahu, telah mengerti bahwa suatu hal membawa dukkha tapi masih juga kita terbawa oleh pusaran dukkha tersebut. Sama seperti orang yang sudah tahu bahwa (maaf) kotoran ayam berbau busuk, ketika terinjak masih juga mencoba untuk menciumnya. Untuk itulah diperlukan Sati Sampajhana (kesadaran penuh). Dengan memiliki pañña dan sati sampajhana, pikiran kita akan terbuka. Ketika kita melihat orang lain, merekapun pada hakikatnya berada dalam selubung dukkha. Cobalah Anda amati makhluk-makhluk di sekeliling Anda jika Anda tidak percaya.

Jadi, metode mana yang terbaik? Jawabannya tidak ada yang terbaik. Pada dasarnya relatif. Dalam beberapa kasus, sebagai contoh mengalihkan pikiran dengan mencari stimulus luar mudah dilakukan, namun mungkin hanya bertahan sebentar, setelah itu magnet pikiran akan menarik lagi bahan-bahan feromagnetik berupa rangkaian-rangkaian dukkha. Melatih pañña dan sati sampajhana memberikan efek yang luar biasa, tapi tidak semua individu dapat mencapainya dengan baik. Metode-metode di atas melengkapi satu sama lain, mereka memiliki goal setting yang sama yaitu melenyapkan dukkha. Dengan mengkombinasikan dan mengaplikasikan metode-metode yang paling sesuai dengan diri kita, dukkha yang kita alami akan dapat tereduksi dan berkurang jauh.
Sebenarnya Dhamma tidak perlu ada jika tiada lagi dukkha di Triloka ini. Ajaran para Buddha ada karena harus menjadi rakit untuk menyeberangkan para makhluk dari samudera kelam dukkha. Sejak awal, “impian” para Buddha dan Bodhisattva adalah membuat “Sang Ajaran” menjadi rakit usang koleksi museum. Dan melalui kontribusi kita semualah, “museum kesunyataan” dapat menambah item terakhir untuk memperkaya koleksinya melampaui jaring-jaring batas alam semesta.

Kicauan merdu para burung, derikan meriah para jangkrik, berkas-berkas hangat sang mentari, kesejukan para embun, semuanya melebur menjadi sunya dan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari diri kita semua.

Penulis: Willy Yanto Wijaya

Readmore..

Kisah Citta, Seorang Perumah Tangga

| | 0 comments

Citta, seorang perumah tangga, suatu hari berjumpa dengan Mahanama Thera, salah seorang dari lima bhikkhu pertama (pancavaggiya), yang sedang berpindapatta, dan mengundang thera tersebut ke rumahnya.

Di sana, ia mendanakan makanan kepada thera tersebut dan setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Mahanama Thera, Citta mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian, Citta membangun sebuah vihara di kebun mangganya. Di sana, ia memenuhi kebutuhan semua bhikkhu yang datang ke viharanya dan bhikkhu Sudhamma tinggal di tempat itu.
Suatu hari, dua orang murid utama Sang Buddha, Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Moggallana, datang ke vihara tersebut. Setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Y.A. Sariputta, Citta mencapai tingkat kesucian anagami.

Kemudian, ia mengundang dua murid utama sang Buddha tersebut ke rumahnya untuk menerima dana makan esok hari. Ia juga mengundang bhikkhu Sudhamma, tetapi beliau menolak dengan marah dan berkata, “Kamu mengundangku setelah mengundang dua bhikkhu tersebut.”

Citta mengulang kembali undangannya, tetapi undangan tersebut ditolak. Walaupun demikian bhikkhu Sudhamma pergi ke rumah Citta pagi-pagi keesokan harinya. Ketika dipersilahkan masuk, Sudhamma menolak dan berkata bahwa dia tidak akan duduk karena dia sedang berpindapatta.

Ketika dia melihat makanan yang didanakan kepada dua orang murid utama Sang Buddha, dia sangat iri dan tidak dapat menahan kemarahannya. Dia mencaci Citta dan berkata, “Aku tidak ingin tinggal lebih lama di viharamu!” dan meninggalkan rumah tersebut dengan penuh kemarahan.

Dari sana, dia mengunjungi Sang Buddha dan melaporkan segala yang telah terjadi. Kepadanya, Sang Buddha berkata, “Kamu telah menghina seorang umat awam yang berdana dengan penuh keyakinan dan kemurahan hati. Kamu lebih baik kembali ke sana dan mengakui kesalahanmu.” Sudhamma melakukan apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, tetapi Citta tidak menghiraukan; maka dia kembali menghadap Sang Buddha untuk ke dua kalinya. Sang Buddha, mengetahui bahwa kesombongan Sudhamma telah berkurang pada waktu itu. Kemudian Beliau berkata, “Anakku, seorang bhikkhu yang baik seharusnya tidak terikat dengan berkata, “ini adalah viharaku, ini tempatku, dan ini adalah muridku,” dan sebagainya, dengan berpikir demikian keterikatan dan kesombongan akan bertambah.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 73 dan 74 berikut ini:

Seorang bhikkhu yang bodoh,
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin menonjol di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan ingin dihormati oleh semua keluarga.
“Biarlah umat awam dan para bhikkhu berpikir bahwa hal ini hanya dilakukan olehku,
dalam semua pekerjaan besar atau kecil mereka menunjuk diriku,”
demikianlah ambisi bhikkhu yang bodoh itu,
dan keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.

Setelah khotbah dhamma itu berakhir, Sudhamma pergi ke rumah Citta, dan pada saat itu mereka dapat berdamai. Dalam waktu tidak beberapa lama, Sudhamma mencapai tingkat kesucian arahat.
Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (73, 74)

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com