Showing posts with label sangha agung indonesia. Show all posts
Showing posts with label sangha agung indonesia. Show all posts

Sunday, February 5, 2012

Bpk. Hemartha : Perjuangan dan Proses

| Sunday, February 5, 2012 | 0 comments

Protokol : Romo pannajayo
Lilin ALtar : Bp.hasan
Dhammapada : Ibu Vina
Dhammadesana : Bp.Hemartha
Penulis : Yessica F.S. & Nanda Devi Nur

Pada hari jumat ini malam yang berbahagia untuk kita semua.
seperti yang kita tahu pada setiap hari jumat minggu ketiga kita kedatangan bhikku sanggha dari vihara Dhammacakkha jaya jakarta, tetapi pada malam hari ini bhante berhalangan hadir karena dikhawatirkan macet karena arus mudik. Walau pun demikian umat Vihara Surya Adhi Guna tetap bersemangat untuk datang datang ke vihara, walau pun memang tidak sebanyak seperti minggu-minggu sebelumnya, ini mungkin karena banyaknya kesibukan karena beberapa hari lagi akan lebaran. Dalam kesempatan ini, Bapak Hemartha yang diberikan kesempatan untuk mengisi dhammadesana. Beliau menjelaskan mengenai perjuangan dan proses dalam hidup ini. Di dalam agama buddha terutama di Vihara Surya Adhi Guna pasti ada yang namanya organisasi seperti ketua dan sejajarnya. Baik dalam kebaktian sekolah minggu (GABI), Remaja, maupun kebaktian ini tidak lepas dari sebuah kepengurusan, mulai dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, dan lain-lain yang berkecimpung ini seyogyanya kita ikut berperan aktif dalam sebuah kepengurusan. Jika kita terlibat dalam suatu organisasi kita mau tidak mau akan berusaha untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan dan pelayanan untuk banyak orang. Dalam pengertian kepengurusan tidak penting tertulis jabatan-jabatannya tapi yang penting adalah bagaimana kita dapat selalu mengembangkan Buddha dhamma dengan baik dan melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat untuk diri kita dan semua orang.
Kita tidak akan tahu berapa lama kita hidup di dunia ini, sadarilah hidup ini tidak kekal. Kadang kita di atas, suatu saat bisa saja berada di bawah. Oleh karna itu banyak-banyak lah untuk melakukan sesuatu hal yang terbaik! baik bagi diri sendiri dan juga orang banyak. "Saya pernah melihat dhammadesana dari samanera Abhasaro yang tidak lain kita kenal adalah saudara Mirad. Di dalam dhammadesanya itu diputarkan sebuah video. Didalam video itu digambarkan seorang ibu yang sedang melahirkan, lalu bayinya yang masih merah tersebut pun meluncur di udara berproses menjadi remaja, berproses lagi menjadi dewasa, lalu tua dan kemudian masuk ke dalam liang kubur. Begitu cepatnya kehdupan kita ini. Namun ketika kita renungkan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, sepertinya baru saja kemarin. Mengingatkan kita kalau kehidupan itu hanya sekejap mata.
lalu Bpk. Hemartha bercerita kalau dulu beliau sering melakukan latihan meditasi. "Yang saya alami pada saat saya masih sering melakukan meditasi, ketika tidur pun nyenyak tidak ada gangguan apapun. Kita pun sering kali mengalami kesusahan pada saat meditasi. Dalam tahap belajar kita bisa melakukan tahap yang lebih mudah dahulu seperti menyadari keluar masuknya udara".Yang jelas, untuk melakukan perbuatan baik banyak sekali hambatannya dan halanganya, secara jujur untuk bisa datang ke vihara pun kita masih merasa sukar apalagi ketika kita dalam keadaan tidak sehat pasti kita akan menjadi malas untuk berangkat ke vihara. Tetapi biasanya untuk berbuat sesuatu yang tidak baik terasa begitu mudah dan gampang unuk dilakukan.
Berbahagialah ibu-bapak serta saudara-saudari yang masih sempat datang ke vihara. Kehidupan kita sendiri ini tergantung pada karma sekarang dan karma yang masa lampau, dan kehidupan kita nanti juga ditentukan oleh perbuatan kita yang sekarang. Alam kehidupan berumah tangga kita tidak terbebas dari sila-sila yang harus kita jalan kan untuk melatih diri agar menjadi lebih baik oleh karna itu jalankan sila dengan sebaik-baiknya.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia...
Sadhu 3x

Readmore..

Thursday, January 12, 2012

MOTIVASI

| Thursday, January 12, 2012 | 0 comments

Menjalani Hidup Dengan Berani
Hidup ini dapat menjadi petualangan yang menantang atau tidak berarti sama sekali. Demikaian bunyi kata bijak dari seorang yang luar biasa dengan cacat buta dan tuli bernama Helen Keller. Apa yang dikatakan bener adanya. Berapa banyak dari kita selama ini takut untuk mencoba, takut untuk melangkah, takut untuk melakukan sesuatu yang menurut kita bahwa kalau itu tercapai akan membuat kita bahagia, membuat kita berhasil dan bangga? Kita sudah membayangkan dulu hal-hal yang belum tentu terjadi, yang akhirnya mematikan semua potensi, energi, keinginan,kepuasan dan kebesaran yang kita inginkan.

Membangun Hidup yang lebih baik di awali dari SIKAP

Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita menjadi lebih baik dari yang lain, padahal mereka tidak lebih baik dulunya dalam pendidikan atau status sosialnya bahkan miskin melarat? Bahkan dalam sebuah Negara pun sama. Mengapa ada Negara-negara yang miskin sumber daya alamnya tetapi mampu menjadi Negara maju? Kita bisa lihat contoh dari beberapa Negara seperti Singapura, Jepang, Korea dll. Mereka menjadi Negara maju meskipun tidak memiliki sumber daya alam. Apa yang membuat perbedaan semua itu? Itu adalah SIKAP. Benar, sikaplah yang membuat seseorang berbeda satu dengan yang lain, termasuk Negara. Bahkan seseorang yang memiliki bakat hebatpun belum tentu mencapai keberhasilan dalam hidupnya.Orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka memiliki sikap untuk tidak menerima apapun yang diberikan oleh nasib. Mereka mampu merespon setiap hal yang tidak baik yang terjadi dalam hidup nya untuk melakukan sesuatu agar mereka menjadi orang yang mereka inginkan. Sementara orang yang gagal menerima segala yang terjadi dengan mengatakan itulah nasib mereka, mereka pantas menerimanya.
Hidup Adalah Pilihan

Saudara-saudara se Dhamma, Pernahkah terlintas dalam pikiran kita mengapa kita melihat ada orang lain di sekeliling kita hidup berkecukupan dan lebih bahagia dari yang lain? Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita hidup dengan lebih mudah tanpa harus bersusah payah? Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita mendapatkan apa yang mereka inginkan sementara yang lain tidak? Kita memang hidup sesuai dengan karma yang kita warisi. Apapun yang sudah kita lakukan, itulah karma sebagai buahnya. Kita berhubungan dengan orang lain adalah akibat karma kita. Sayangnya kata ‘karma’ itu membuat kita akhirnya ‘berlindung’ di atas ketidakmampuan dan ketidakberdayaan kita. Kita dengan mudah menyerahkan nasib hidup kita karena memang sudah di gariskan seperti itu, karena karma nya sudah begitu.

Readmore..

Sunday, January 8, 2012

Tidak ada by Ajahn Chah | Kelahiran dan Kematian

| Sunday, January 8, 2012 | 0 comments

 Kumpulan Kata2 Bijak Y.A.  Ajahn Chah mengenai Kelahiran dan Kematian:
 
1. Latihan yang baik adalah : bertanya kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh, “Mengapa saya dilahirkan?” Tanyakan diri Anda sendiri dengan pertanyaan ini pada pagi hari,siang hari, dan malam hari....... setiap hari. 

2. Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini? 

3. Anda akan berpikir bahwa : orang mengerti apa yg akan terjadi jika hidup di dalam kandungan seseorang? Betapa tidak nyaman! Bayangkan saja, bila diam di dalam gubuk hanya sehari saja, rasanya sudah sulit. Kunci semua pintu dan jendela, Anda sudah merasa tertekan. Jadi bagaimana rasanya tinggal di dalam kandungan seseorang, selama sembilan bulan? Tapi Anda tetap mau dilahirkan kembali! Anda tahu ketidak-nyamannya dalam kandungan, dan Anda masih mau menempelkan kepala di sana, untuk menaruh leher Anda di dalam jerat itu sekali lagi. 

4. Mengapa kita dilahirkan? Kita dilahirkan agar kita tidak akan dilahirkan kembali. 

5. Ketika seseorang tidak mengerti tentang kematian, hidup dapat menjadi sangat membingungkan. 

6. Sang Buddha memberitahukan muridnya, Ananda, untuk melihat ketidak-kekalan, untuk melihat kematian dalam setiap nafas. Kita harus memahami kematian; kita harus mati agar dapat hidup. Apa artinya ini? Mati adalah jalan menuju akhir dari semua keraguan, semua pertanyaan kita, dan ada di sini dengan kenyataan saat ini. Anda tidak akan pernah mati besok. Anda harus mati sekarang. Dapatkah Anda melakukannya? Bila Anda dapat melakukannya, Anda akan tahu kedamaian tanpa pertanyaan lagi.


7. Kematian itu sedekat nafas kita. 

8. Kalau Anda telah terlatih dengan benar, Anda tidak akan merasa ketakutan ketika jatuh sakit, juga tidak sedih jika seseorang meninggal. Ketika Anda pergi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan, tanamkan di dalam pikiran jika Anda menjadi lebih sehat, itu bagus; dan jika Anda meninggal, itu juga bagus. Saya menjamin Anda, bahwa bila dokter berkata kepada saya, bahwa saya mengidap kanker dan akan mati beberapa bulan lagi, saya akan mengingatkan dokter itu, “Hati-hati, karena kematian juga akan datang menjemputmu. Ini hanya masalah siapa yang pergi duluan dan siapa yang pergi belakangan.” Dokter tidak dapat menyembuhkan kematian dan tidak dapat mencegah kematian. Hanya Buddha yang dapat disebut dokter, jadi kenapa tidak pergi dan menggunakan obat dari Buddha? 

9. Jika Anda takut sakit, jika Anda takut mati, sebaiknya Anda merenungkan : dari mana mereka berasal. Dari mana mereka datang? Mereka muncul dari kelahiran. Jadi jangan sedih bila seseorang meninggal. Itu adalah hal yang alami, dan penderitaanya dalam kehidupan ini berakhir. Jika Anda mau bersedih, bersedihlah pada saat orang dilahirkan: “Oh tidak, mereka datang lagi. Mereka akan menderita dan mati lagi!” 

10. “Dia yang mengetahui” dengan jelas tahu bahwa semua keadaan yang berkondisi adalah tidak kekal. Jadi “Dia yang mengetahui” tidak akan menjadi senang atau sedih, karena tidak mengikuti perubahan kondisi. Untuk menjadi senang, adalah untuk dilahirkan; untuk menjadi kesal, adalah untuk mati. Setelah mati, kita lahir kembali; setelah dilahirkan, kita mati lagi. Kelahiran dan kematian dari satu momen ke momen berikutnya adalah putaran roda samsara yang tidak pernah berakhir.

Readmore..

Kisah Radha Jataka

| | 0 comments

Cerita ini diceritakan Sang Buddha ketika berada di Jetavana berkenaan dengan seorang isteri perumah tangga yang keras kepala. Kejadian ini seperti penggalan cerita diatas akan dibicarakan di indriya Jataka.
Sang Buddha berbicara demikian kepada Ananda "Adalah tidak mungkin untuk menjaga, melindungi wanita;tidak ada penjaga yang dapat menjaga agar wanita tetap berada dijalan yang benar. Kamu sendiri menemukan di beberapa kehidupan sebelumnya semua perlindunganmu itu tidak ada artinya; dan bagaimana kamu sekarang mengharapkan mendapatkan keberuntungan?".

Demikian yang saya dengar. Beliau menceritakan kisah yang terjadi pada kehidupan yang lampau.
Pada suatu waktu yang lampau ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta lahir sebagai seekor burung beo. Seorang Brahmin di kota kasi seperti ayah baginya dan saudaranya, memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Potthapada adalah nama Bodhisatta dan Radha adalah nama saudaranya.
Sekarang Brahmin memiliki seorang isteri, tetapi sangat buruk perilakunya. Setiap akan meninggalkan rumah untuk menyelesaikan pekerjaannya, ia berkata kepada kedua saudara tersebut "Jika, ibu kalian, isteriku, melakukan hal-hal yang tidak berguna, cegahlah ia". "akan kami lakukan ayah", kata Bodhisatta "Jika kami bisa; tetapi jika kami tidak bisa, kami tidak bisa berbuat apa-apa'.

Dengan demikian setelah ia mempercayakan isterinya pada pengawasan burung beonya, Brahmin tersebut pergi untuk mengerjakan urusannya. Setiap hari sejak itu isterinya melakukan tindakan yang tidak senonoh; sering melakukan perselingkuhan baik didalam maupun diluar rumah. Melihat hal itu, Radha berkata kepada Boddhisatta "kakak, salah satu dari perintah ayah adalah mencegah tindakan tidak senonoh dari isterinya dan sekarang ia tidak melakukan apa-apa tetapi menjual dirinya sendiri. Mari kita hentikan ia kakak" kata Bodhisatta, usulmu adalah usul yang bodoh kamu akan menghentikan tindakan-tindakannya sebelum itu tentu saja ia akan menyingkirkanmu. Jadi itu adalah tindakan yang sia-sia.
Dan demikian yang saya dengar ia mengucapkan satu syair berikut ini:

Berapa banyak malam berlalu? Rencanamu
Adalah percuma. Sia-sia sebagai seorang isteri cintanya bisa diobral
Nafsunya; dan sebagai seorang isteri cintanya tidak cukup hanya satu.
Karena itulah Bodhiatta tidak mengizinkan saudaranya untuk mencegah tindakan isteri Brahmin, yang selalu keluyuran, bicara mengenai isi hatinya selama suaminya tidak ada. Pada saat pulang, Brahmin menanyai Potthapada tentang tingkah laku isterinya pada saat ia tidak ada dirumah dan Bodhisatta langsung menceritakan semuanya.

"Sekarang, ayah!! Katanya "Apa yang bisa engkau perbuat terhadap wanita yang sangat jahat itu?". Dan ia menambahkan,_"Ayahu, sekarang, setelah saya melaporkan semua tentang ibu jahat saya, kami tidak bisa tinggal lama lagi di sini". Seperti yang saya dengar, ia bersimpuh dikaki Brahmin tersebut dan pergi terbang bersama Radha menuju ke hutan.

Akhir khotbahnya, Sang Buddha mengajarkan empat kebenaran, yang pada akhir Ananda mengerti tentang seorang isteri yang memiliki keinginan yang sangat kuat akan keinginan-keinginan dunia adaklah hal yang tidak bisa dipungkiri merupakan hasil dari jalan kecil pertama.
"Suami dan isteri ini" kata Sang Buddha "adalah Brahmin dan isterinya pada waktu itu, Ananda adalah Radha dan saya sendiri adalah Potthapada.

Readmore..

Buddha dan Semangat Berani Gagal

| | 0 comments

Buddha dan Semangat Berani Gagal
Chuang

Setiap kali saya menengok ke dalam sejarah kehidupan Buddha, selalu ada saja teladan yang dapat saya temukan, dan temukan, dan temukan lagi. Kehidupan-Nya—yang meskipun cukup singkat untuk masa itu—bagaikan sumur dari mata air kebijaksanaan yang tak pernah kering sepanjang masa.
Dalam kaitannya dengan semangat pantang menyerah, kehidupan Buddha telah memberikan kita suatu teladan mengenai keteguhan dan ketabahan yang sempurna dari seorang manusia yang mempunyai impian besar, suatu impian yang bukan melulu demi kemuliaan diri-Nya sendiri, tetapi juga untuk kebahagiaan segenap makhluk di seluruh alam kehidupan: KEBEBASAN SEJATI.

Seperti yang kita semua ketahui, pada malam menjelang pelepasan agung, Pangeran Sidharta meninggalkan istana dan segala kemewahannya sebagai seorang putra mahkota tanpa sedikit pun keragu-raguan, tanpa sedikit pun ketakutan akan kegagalan, dan tanpa sedikit pun kecengengan seorang pangeran yang terbiasa hidup nikmat nyaman dan mewah.

Dan bayangkanlah, andaikata pada detik-detik yang sangat menentukan itu, seorang Pangeran Sidharta–yang meskipun telah diramalkan akan menjadi Buddha, tetapi bagaimana pun Beliau barulah hanya seorang Bodhisatta–menjadi kecil hati, takut akan kegagalan dan enggan meninggalkan segala kemewahan dan kenyamanan hidupnya, kita saat ini pasti tak kan mengenal apa itu Ajaran Buddha, apa makna sejati dari kehidupan ini dan bagaimana cara mencapai kebahagiaan sejati dan sebagainya. Dan nama Sidharta, barangkali hanya kita ketahui sebagai nama seorang raja yang bijaksana yang memerintah suatu kerajaan di masa India Kuno. Tidak lebih dari itu.

Tetapi Pangeran Sidharta, untunglah, bukan seorang pengecut yang takut gagal, bukan seorang pangeran cengeng yang melekati segenap kenyamanan dan kenikmatan hidupnya. Dia adalah seorang manusia yang berani memiliki cita-cita, berani memimpikan suatu impian, dan yang terpenting berani mewujudkan cita-citanya sehingga hari ini kita memujanya sebagai seorang Buddha, yang sadar, yang telah menaklukan musuh yang seharusnya ditaklukkan.

Buddha dengan demikian menjadi salah seorang manusia yang paling sukses dan bahagia di dalam sejarah dunia kita. Dan itu semua tidak Ia dapatkan dengan begitu saja dari pemberian para dewa atau makhluk brahma, meskipun pada kenyataannya Ia seorang Bodhisatta yang dicintai, dijaga dan dipuja oleh para dewa dan brahma.

Sebab, seperti yang ktia ketahui pula, pangeran harus melalui masa enam tahun pencarian yang melelahkan dan menyiksa, yang bahkan dalam satu masa hampir saja merengut nyawanya. Pangeran benar-benar harus berjuang keras dari satu kegagalan menuju kegagalan lain, dari satu siksaan menuju siksaan lain, dari satu godaan menuju godaan lain sebelum ia pada akhirnya menemukan jalan yang dicarinya, obat penyembuh penderitaan semua makhluk yang hidup, menjadi Buddha.

Lalu terpikirlah oleh saya, bila seorang Bodhisatta yang dipuja dan dicintai segenap makhluk pun harus mengalami kegagalan dan penderitaan sebelum ia pada akhirnya menjadi Buddha, mengapa kita yang bukan siapa-siapa ini, yang begitu kerdil dan hina bila dibandingkan dengan diri-Nya, begitu cengeng dan penakut manakala dihadapkan pada satu pilihan untuk melangkah atau tidak, untuk memiliki impian dan mewujudkannya?
Mengapa kita seringkali bersedih hati dalam kegagalan dan tetap diam berkumbang didalamnya, bukannya meneladani semangat Buddha yang pantang menyerah, yang tak takut gagal dan berani mengambil resiko pada saat Ia sebenarnya bisa saja duduk tenang dan nikmat sebagai pangeran mahkota yang hidupnya luar biasa mewah dan nyaman?

Buddha telah menunjukkan jalan-Nya, Ia telah memberikan teladan-Nya. Lalu mengapa kita masih saja gentar untuk memiliki impian dan mewujudkannya menjadi nyata?

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com